Penyakit jantung koroner berulang merupakan iskemia miokard akut akibat revaskularisasi abnormal atau destabilisasi plak aterosklerosis proksimal pembuluh darah.
A. Konsep Medis Penyakit Jantung Koroner
1. Definisi Penyakit Jantung Koroner
Definisi Dari Pakar Internasional
World Health Organization (WHO) mengonseptualisasikan kondisi klinis ini sebagai gangguan fungsi miokardium yang timbul kembali akibat ketidakseimbangan sirkulasi antara pasokan oksigen dan kebutuhan metabolik otot jantung yang terulang pasca-serangan primer (WHO, 2022).
Selanjutnya, American Heart Association (AHA) menegaskan bahwa kelainan vaskular kardiak tersebut merepresentasikan suatu sindrom koroner akut baru atau berulang yang memicu iskemia miokardial transmural maupun subendokardial akibat trombosis koroner progresif (AHA, 2023).
Selain itu, European Society of Cardiology (ESC) mendefinisikan gangguan sirkulasi koroner ini sebagai manifestasi klinis iskemia miokard berulang dengan perubahan segmen ST bermakna atau elevasi biomarker jantung pasca-prosedur intervensi perkutan (ESC, 2021).
Kemudian, Braunwald merumuskan kelainan biokimia kardiak tersebut berupa kegagalan perfusi sirkulasi koroner jangka panjang yang bermanifestasi sebagai nekrosis miosit fokal akibat restenosasis stent atau progresi cepat lesi aterosklerosis non-culprit (Braunwald, 2020).
Sementara itu, Topol menjelaskan fenomena medis ini sebagai hilangnya cadangan aliran darah koroner fungsional akibat deplesi mikrovaskular kardiak yang memicu disfungsi ventrikel kiri serta menurunkan indeks curah jantung pejamu (Topol, 2021). (WHO, 2022, AHA, 2023, ESC, 2021, Braunwald, 2020, Topol, 2021)
Definisi Pakar Asia
Asian Pacific Society of Cardiology (APSC) mengategorikan penyakit ini sebagai rekurensi penyumbatan arteri koroner fokal akibat disfungsi endotel progresif yang meningkatkan lama rawat inap serta memperparah angka mortalitas kardiovaskular (APSC, 2023).
Sejalan dengan hal tersebut, Japanese Circulation Society (JCS) mendeskripsikan patologi sirkulasi akut ini berupa spasme koroner difus atau trombosis stent lanjut yang terulang kembali, sehingga memicu infark miokard akut sekunder (JCS, 2022).
Lebih lanjut, Chinese Society of Cardiology (CSC) mengonfirmasikan keadaan kritis tersebut sebagai konsekuensi langsung dari kegagalan stabilisasi plak ateromatus yang memicu rupture vaskular fokal pembuluh darah koroner utama (CSC, 2023).
Oleh karena itu, Korean Society of Cardiology (KSC) mengartikan kegagalan homeostasis perfusi jantung ini sebagai kondisi defisit oksigenasi miokard sistemik yang mengganggu kontraktilitas ventrikel serta mempercepat kegagalan fungsi sirkulasi (KSC, 2021).
Sebagai tambahan, Gulf Heart Association (GHA) menetapkan keluhan defisit perfusi koroner kronis ini sebagai krisis kardiometabolik akut yang memicu atrofi jaringan miosit, aritmia maligna, dan krisis hemodinamik terminal (GHA, 2022). (APSC, 2023, JCS, 2022, CSC, 2023, KSC, 2021, GHA, 2022)
Definisi Pakar Indonesia
Anwar mengidentifikasi kelainan sirkulasi koroner ini sebagai keadaan patologis akibat kekurangan pasokan darah oksigenasi ke miokardium dalam jangka waktu lama yang merusak seluruh sistem pompa jantung (Anwar, 2021).
Sama halnya dengan pendapat sebelumnya, Santoso menguraikan gangguan ini sebagai sindrom klinik kompleks dengan nyeri dada iskemik berulang akibat kegagalan mempertahankan patensi arteri koroner pasca-terapi revaskularisasi (Santoso, 2022).
Meskipun demikian, Soeharto mengartikan gangguan fungsi miokard akibat defisiensi zat oksigen ini sebagai ekspresi dari ketidakseimbangan antara beban kerja ventrikel dengan kemampuan perfusi pembuluh darah koroner penderita (Soeharto, 2020).
Oleh sebab itu, Dharma menyatakan kondisi patologis ini sebagai kegagalan mempertahankan stabilitas plak koroner yang memerlukan intervensi farmakologi pencegahan sekunder terstruktur berbasis kombinasi antiplatelet poten (Dharma, 2023).
Akhirnya, Sukalu mendedikasikan definisi keluhan nyeri dada ulangan ini sebagai kegawatdaruratan kardiovaskular progresif yang membutuhkan pemantauan biomarker jantung secara berkala demi mencegah gagal jantung kongestif akut (Sukalu, 2021). (Anwar, 2021, Santoso, 2022, Soeharto, 2020, Dharma, 2023, Sukalu, 2021)
2. Etiologi Penyakit Jantung Koroner
Faktor Internal Pasien
Penyebab utama dari timbulnya kondisi defisit perfusi miokard sekunder ini bersifat multifaktorial, yang secara garis besar bersumber dari progresi lesi aterosklerosis de novo, restenosasis stent (in-stent restenosis), dan trombosis stent akut maupun lambat. Faktor internal penderita mencakup kondisi komorbid kronis seperti hipertensi maligna tidak terkontrol, diabetes melitus tipe 2 dengan resistensi insulin berat, dan dislipidemia refrakter yang memicu pembentukan inti lipid tebal pada dinding pembuluh darah koroner (AHA, 2023, Santoso, 2022). Kelainan anatomi koroner seperti kalsifikasi arteri berat atau diameter pembuluh darah yang kecil mengganggu patensi mekanis stent, sehingga memicu oklusi vasoklusif berulang (ESC, 2021).
Faktor Eksternal dan Perilaku
Sementara itu, kondisi hiperkoagulabilitas darah sistemik atau peningkatan reaktivitas trombosit memicu pembentukan trombus mural dari atas plak yang ruptur. Faktor eksternal berupa ketidakpatuhan penderita terhadap terapi antiplatelet ganda (dual antiplatelet therapy), kebiasaan merokok aktif yang menginduksi disfungsi endotel berat, pola makan tinggi lemak jenuh, obesitas morbid, serta tingginya stres psikososial berkontribusi signifikan terhadap timbulnya rekurensi iskemia miokard akut pada komunitas (WHO, 2022, Dharma, 2023). (AHA, 2023, Santoso, 2022, ESC, 2021, WHO, 2022, Dharma, 2023)
3. Patofisiologi dan KDM
Mekanisme Iskemik Jaringan dan Penumbra Miokard
Mekanisme kerusakan sistemik dengan ruptur atau erosi plak aterosklerosis yang tidak stabil dari dalam lumen arteri koroner, yang memicu paparan kolagen subendotel terhadap sirkulasi darah. Kondisi ini menstimulasi adhesi, aktivasi, dan agregasi trombosit secara masif, yang diikuti dengan aktivasi kaskade koagulasi untuk membentuk trombus kaya fibrin (AHA, 2023, Anwar, 2021). Oklusi pembuluh darah koroner yang terjadi menurunkan aliran darah miokard fokal secara drastis, sehingga memaksa miosit beralih ke metabolisme anaerob yang tidak efisien (ESC, 2021). Penurunan produksi ATP seluler mengacaukan fungsi pompa natrium-kalium ATPase, memicu akumulasi asam laktat intraseluler, menurunkan pH jaringan, serta merangsang ujung saraf aferen simpatis C7-T4 untuk mentransmisikan sinyal nyeri dada iskemik (Braunwald, 2020).
Disfungsi Miokardium dan Penurunan Curah Jantung
Kemudian, deplesi energi kronis memicu disfungsi kontraktilitas miokardium yang bermanifestasi sebagai gangguan gerakan dinding ventrikel regional (hipokinesia atau akinesia). Penurunan volume sekuncup kardiak mengaktivasi sistem saraf simpatis dan sistem renin-angiotensin-aldosteron (RAAS) sebagai kompensasi mempertahankan tekanan darah sistemik (WHO, 2022). Namun, vasokonstriksi sistemik dan retensi cairan yang dihasilkan justru meningkatkan beban akhir (afterload) dan beban awal (preload) jantung, memperberat beban kerja miokardium, mengeksaserbasi iskemia meluas, serta memicu kongesti paru akut yang bermanifestasi sebagai sesak napas berat dan edema alveolar (Topol, 2021, Sukalu, 2021). (AHA, 2023, Anwar, 2021, ESC, 2021, Braunwald, 2020, WHO, 2022, Topol, 2021, Sukalu, 2021)
Pathway
Ruptur Plak Aterosklerosis Koroner Berulang
│
Trombosis Intralumen & Oklusi Vasoklusif
│
┌────────────────────────────────┼────────────────────────────────┐
▼ ▼ ▼
Metabolisme Anaerob Miosit Hipokinesia Ventrikel Kiri Disfungsi Kontraktilitas Miokard
│ │ │
▼ ▼ ▼
Akumulasi Asam Laktat & Ion H+ Penurunan Volume Sekuncup Peningkatan Tekanan Atrium Kiri
│ │ │
▼ ▼ ▼
Merangsang Saraf Simpatis C7-T4 Penurunan Curah Jantung Kongesti Pembuluh Darah Pulmonal
│ │ │
▼ ▼ ▼
[Nyeri Akut] (D.0077) [Penurunan Curah Jantung] [Gangguan Pertukaran Gas]
(D.0008) (D.0003)
(AHA, 2023; PPNI, 2017)
4. Manifestasi Klinis Penyakit Jantung Koroner
a. Data Subjektif
Pasien mengekspresikan keluhan berupa nyeri dada khas infark (angina pectoris) yang pasien rasakan seperti tertindih beban berat, diremas, atau terbakar pada daerah retrosternal. Sementara itu, pasien melaporkan adanya penjalaran nyeri yang menjalar ke bahu kiri, leher, rahang bawah, hingga ke lengan kiri bagian dalam, dengan durasi serangan > 20 menit yang tidak berkurang dengan istirahat atau pemberian nitrat sublingual. Pasien juga mengeluhkan sesak napas yang memberat saat berbaring (ortopnea), lemas ekstrem, jantung berdebar-debar, keringat dingin membanjiri seluruh tubuh (diaphoresis), serta rasa mual yang serta muntah (WHO, 2022, Santoso, 2022). (WHO, 2022, Santoso, 2022)
b. Data Objektif
Pemeriksaan fisik menunjukkan manifestasi objektif berupa wajah tampak pucat, gelisah menahan nyeri, serta pengeluaran keringat dingin yang masif pada area dahi dan ekstremitas. Perawat mengamati adanya takipnea (> 24 kali/menit), penggunaan otot bantu napas interkostal, serta tanda-tanda overload cairan seperti distensi vena jugularis (JVP meningkat) dan edema pitting bilateral pada ekstremitas bawah. Auskultasi kardiak mendeteksi adanya murmur atau gallop S3/S4, sedangkan auskultasi paru menemukan ronkhi basah halus pada kedua basal lapang paru sebagai tanda kongesti pulmonal (Anwar, 2021, Dharma, 2023). (Anwar, 2021, Dharma, 2023)
5. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
Mengkorfimasi diagnosis nekrosis miokard melalui analisis biokimia darah yang menunjukkan peningkatan kadar biomarker kardiak secara serial, mencakup Troponin I atau Troponin T tinggi:
Kadar Troponin Jantung} > \text{99th persentil batas atas normal
serta peningkatan nilai Creatine Kinase-MB (CK-MB) pasca-serangan akut. Selanjutnya, pemeriksaan darah menunjukkan dislipidemia berat dengan nilai LDL-C > 130 mmg/dL, peningkatan kadar C-Reactive Protein (hs-CRP) yang mengonfirmasi inflamasi vaskular aktif, serta peningkatan kadar serum kreatinin akibat penurunan perfusi ginjal sekunder (ESC, 2021, Santoso, 2022). (ESC, 2021, Santoso, 2022)
b. Pemeriksaan Radiologi
Melakukan foto toraks proyeksi Posterior-Anterior (PA) guna mengidentifikasi adanya tanda-tanda pembesaran jantung (kardiomegali) dengan nilai Cardiothoracic Ratio (CTR) > 50% serta mendeteksi tanda kongesti vaskular pulmonal seperti garis Kerley B dan sefalisasi. Mengerjakan kateterisasi jantung (Angiografi Koroner) sebagai baku emas untuk mengamati lokasi, persentase stenosis lumen (> 70%), atau adanya oklusi total pada pembuluh darah koroner culprit lama maupun baru (Braunwald, 2020, Dharma, 2023). (Braunwald, 2020, Dharma, 2023)
c. Pemeriksaan Lain
Memenfaatkan Elektrokardiografi (EKG) 12-lead secara real-time untuk mendeteksi adanya elevasi segmen ST (> 1 mm pada dua sadapan berdekatan), depresi segmen ST, atau inversi gelombang T fokal yang mengonfirmasi lokasi iskemia miokard akut. Melakukan pemeriksaan ekokardiografi trans-torakal untuk mengukur penurunan kapasitas fraksi ejeksi ventrikel kiri:
Fraksi Ejeksi Ventrikel Kiri (LVEF)} < 40%
serta penilaian adanya gangguan gerakan dinding jantung regional (regional wall motion abnormality) akibat infark jaringan koroner lama dan baru (WHO, 2022, Topol, 2021). (WHO, 2022, Topol, 2021)
6. Penatalaksanaan Medis
a. Terapi Farmakologis
Melaksanakan penatalaksanaan farmakologis secara agresif melalui pemberian antiplatelet kombinasi ganda berupa Aspirin 160-320 mg loading dose diikuti Klopidogrel 300-600 mg loading dose oral. Selanjutnya, intervensi mengintegrasikan terapi fibrinolitik atau antikoagulan intravena seperti Unfractionated Heparin (UFH) atau Enoxaparin subkutan, serta pemberian vasodilator koroner:
Kecepatan Infus Nitrogleserin (NTG)} = 5 – 10 mcg/menit (titrasi sesuai tekanan darah)
Melakukan pemberian Morfin IV 2-4 mg guna mengendalikan nyeri dada refrakter, serta penggunaan penyekat beta (Beta-blocker) oral, ACE-inhibitor, dan Atorvastatin 40-80 mg dosis tinggi malam hari untuk menstabilkan endotel vaskular (AHA, 2023, ESC, 2021). (AHA, 2023, ESC, 2021)
b. Terapi Non-Farmakologis
Menyelenggarakan intervensi non-farmakologis melalui tindakan Intervensi Koroner Perkutan Primer (Primary Percutaneous Coronary Intervention) berupa pemasangan Drug-Eluting Stent (DES) pada arteri culprit dalam waktu < 90 menit sejak pasien tiba dari rumah sakit (door-to-balloon time). Memberikan pasien terapi oksigenasi via nasal kanul 2-4 L/menit untuk mengoptimalkan saturasi oksigen arteri:
Target Saturasi Oksigen (SpO2) 94%
Perawat membatasi aktivitas fisik total (bed rest) pada fase akut serta menerapkan program rehabilitasi jantung fase 1 terstruktur guna melatih toleransi aktivitas kardiak secara bertahap tanpa memicu iskemia ulangan (Braunwald, 2020, Anwar, 2021). (Braunwald, 2020, Anwar, 2021)
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
a. Identitas Pasien
Pencatatan data identitas mencakup nama, umur (usia di atas 45 tahun pada laki-laki dan 55 tahun pada perempuan memiliki risiko kerentanan tertinggi terhadap keparahan infark miokard), jenis kelamin, status pernikahan, pekerjaan, tingkat pendidikan, serta nomor rekam medis. Perawat mendokumentasikan data awal ini secara teliti untuk mengidentifikasi profil risiko kardiovaskular demografis penderita (Santoso, 2022). (Santoso, 2022)
b. Riwayat Kesehatan
Keluhan utama biasanya berupa nyeri dada substernal hebat yang tidak hilang dengan istirahat atau sesak napas mendadak. Perawat menggali riwayat penyakit sekarang mengenai karakteristik nyeri PQRST, riwayat penyakit dahulu mencakup riwayat serangan jantung pertama, kepatuhan minum obat pencahar lipid dan antiplatelet harian, serta adanya riwayat diabetes melitus dan hipertensi (Anwar, 2021). (Anwar, 2021)
c. Pemeriksaan Fisik
Sistem Kardiovaskular dan Respirasi
Inspeksi sirkulasi perifer memperlihatkan sianosis ujung kuku, akral dingin, dan CRT melambat (> 2 detik) akibat penurunan perfusi jaringan sekunder dari penurunan curah jantung. Palpasi denyut nadi perifer teraba cepat dan lemah (takikardia), serta apeks jantung bergeser ke lateral kiri pada kardiomegali kronis. Auskultasi bunyi jantung menemukan suara S1 dan S2 normal yang serta dengan munculnya suara jantung tambahan gallop S3 atau S4, bising murmur holosistolik pada apeks, serta nilai tekanan darah sistemik yang fluktuatif antara hipertensi emergensi atau syok kardiogenik (Sujayatmo, 2021).
Inspeksi respirasi memperlihatkan pergerakan dinding dada yang cepat dan dangkal (takipnea), simetris, serta adanya retraksi otot bantu napas suprasternal akibat beban edema paru. Palpasi vokal fremitus teraba sama kuat pada kedua lapang paru. Perkusi menghasilkan bunyi sonor, namun dapat beralih menjadi redup pada area basal paru posterior jika serta efusi pleura sekunder. Auskultasi menemukan suara napas vesikuler yang serta dengan suara ronkhi basah halus hingga kasar pada sepertiga hingga seluruh lapang paru bawah akibat transudasi cairan ke alveoli (Sujayatmo, 2021).
Sistem Persarafan, Pencernaan, Perkemihan, Integumen, dan Muskuloskeletal
Inspeksi persarafan menunjukkan status mental gelisah (ansietas berat) akibat hipoksia serebral fokal ringan atau persepsi nyeri dada yang ekstrem. Palpasi kesadaran komposmentis penuh hingga somnolen jika terjadi syok kardiogenik terminal. Auskultasi fungsi bicara menunjukkan artikulasi jelas namun terputus-putus akibat keluhan sesak napas yang mengganggu pola ventilasi spontan (Dharma, 2023).
Inspeksi oral menunjukkan mukosa bibir pucat dan kering tanpa stomatitis. Inspeksi abdomen tampak datar, simetris, tanpa sirkulasi kolateral. Palpasi perut supel, tidak ada nyeri tekan, namun dapat teraba hepatomegali jika terjadi gagal jantung kanan sekunder akibat kongesti sistemik. Perkusi timpani pada area gaster. Auskultasi menemukan bising usus hipoaktif (5-6 kali/menit) akibat penurunan perfusi splanknikus sekunder (Santoso, 2022).
Inspeksi sistem perkemihan memperlihatkan produksi urin yang pekat melalui indwelling catheter. Palpasi area suprapubik tidak teraba distensi kandung kemih. Pengukuran output urin menunjukkan kondisi oliguria fungsional (< 0.5 mL/kgBB/jam) akibat penurunan laju filtrasi glomerulus sekunder dari kegagalan fungsi pompa jantung ventrikel kiri (Anwar, 2021).
Inspeksi kulit memperlihatkan warna kulit pucat, kusam, serta kehitaman minimal pada area perifer kuku. Palpasi integumen menegaskan suhu akral dingin, diaphoresis masif, turgor kulit masih baik (kembali < 2 detik), serta adanya edema pitting non-imun derajat +2 hingga +3 pada area dorsum pedis dan pretibial akibat retensi cairan sistemik kronis (Sukalu, 2021).
Inspeksi sistem motorik menunjukkan hambatan pergerakan fisik total dari atas tempat tidur akibat kelemahan umum dan pembatasan aktivitas medis (bed rest). Palpasi tonus otot normal pada keempat ekstremitas tanpa atrofi disuse akut. Pengukuran kekuatan otot menunjukkan nilai penuh (skala 5) pada seluruh ekstremitas, namun kapasitas fungsional untuk beraktivitas menurun drastis akibat iskemia kardiak (Sudoyo, 2021). (Sujayatmo, 2021, Dharma, 2023, Santoso, 2022, Anwar, 2021, Sukalu, 2021, Sudoyo, 2021)
d. Pengkajian Pola Fungsi Kesehatan
Analisis Pola Fungsi 1-3
Pasien mengalami gangguan pola nutrisi metabolik dengan anoreksia, mual, dan muntah akibat distensi lambung sekunder dari kongesti viseral simpatis. Pola eliminasi fekal terganggu berupa konstipasi kronis akibat penurunan motilitas usus sekunder imobilisasi total, sedangkan pola eliminasi urin mengalami gangguan berupa oliguria akibat penurunan perfusi ginjal (Santoso, 2022).
Pola aktivitas dan latihan mengalami kelumpuhan fungsional akibat ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen; penderita mengalami intoleransi aktivitas ekstrem yang memicu serangan nyeri dada jika melakukan pergerakan ringan. Pola tidur dan istirahat penderita rusak total akibat gangguan nyeri dada iskemik yang memuncak pada malam hari serta ortopnea yang memaksa pasien tidur dengan 3-4 bantal (Anwar, 2021). (Santoso, 2022, Anwar, 2021)
Analisis Pola Fungsi 4-5
Pola kognitif perseptual memperlihatkan ketajaman sensorik yang utuh namun penderita mengalami distorsi fokus perhatian akibat intensitas nyeri dada skala berat (skala 7-9). Pola konsep diri dan mekanisme koping keluarga mengalami krisis emosional, dengan rasa takut mati mendadak (death anxiety), kecemasan finansial, serta keputusasaan menghadapi rekurensi penyakit yang mengancam jiwa (Dharma, 2023). (Dharma, 2023)
2. Diagnosis Keperawatan
Urutan Prioritas Diagnosis 1-5
- Nyeri Akut (D.0077) b.d agen pencedera fisiologis d.d mengeluh nyeri dada khas iskemik, tampak meringis, gelisah, diaphoresis, frekuensi nadi meningkat.
- Penurunan Curah Jantung (D.0008) b.d perubahan kontraktilitas miokardium d.d perubahan irama jantung, murmur/gallop, fraksi ejeksi menurun, oliguria, akral dingin.
- Gangguan Pertukaran Gas (D.0003) b.d perubahan membran alveolus-kapiler d.d tingkat kesadaran menurun, dispnea, ronkhi basah, takikardia, PCO2/PO2 abnormal.
- Intoleransi Aktivitas (D.0056) b.d ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen d.d mengeluh lelah, dispnea saat/setelah aktivitas, EKG menunjukkan iskemia.
- Hipervolemia (D.0022) b.d gangguan mekanisme regulasi d.d ortopnea, dispnea, edema pitting, JVP meningkat, ronkhi basah, refleks hepatojugular positif.
Urutan Prioritas Diagnosis 6-10
- Risiko Perfusi Miokard Tidak Efektif (D.0014) d.d faktor risiko hipertensi, hiperlipidemia, ketidakpatuhan agen antiplatelet, riwayat infark miokard akut.
- Ansietas (D.0080) b.d ancaman terhadap kematian d.d merasa bingung, tampak gelisah, tegang, sulit tidur, frekuensi nadi meningkat.
- Defisit Pengetahuan (D.0111) b.d kurang terpapar informasi d.d menunjukkan perilaku tidak sesuai anjuran, mengungkapkan masalah regimen pencegahan sekunder koroner secara verbal.
- Konstipasi (D.0049) b.d penurunan motilitas gastrointestinal d.d defekasi kurang dari 2 kali seminggu, feses keras, mengejan berlebihan saat buang air besar.
- Risiko Ketidakseimbangan Elektrolit (D.0037) d.d faktor risiko gangguan fungsi pompa jantung dan efek samping terapi diuretik kuat.
(PPNI, 2017)
3. Perencanaan (Intervensi)
Perencanaan Intervensi Diagnosis 1-3
Nyeri Akut (D.0077)
Luaran Utama: Tingkat Nyeri (L.08066)
Keluhan nyeri menurun, meringis menurun, gelisah menurun, diaforesis menurun, frekuensi nadi membaik.
Intervensi Utama: Manajemen Nyeri (I.08238)
Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri; Identifikasi skala nyeri; Identifikasi respon nyeri non verbal; Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri; Monitor keberhasilan terapi komplementer yang sudah diberikan; Monitor efek samping penggunaan analgetik; Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri; Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri; Fasilitasi istirahat dan tidur; Jelaskan strategi meredakan nyeri; Ajarkan teknik nonfarmakologis secara mandiri; Kolaborasi pemberian analgetik atau antiangina, jika perlu.
Penurunan Curah Jantung (D.0008)
Luaran Utama: Curah Jantung (L.02008)
Fraksi ejeksi meningkat, gambaran EKG iskemia/aritmia menurun, lelah menurun, edema menurun, oliguria menurun.
Intervensi Utama: Perawatan Jantung (I.02075)
Identifikasi tanda/gejala primer Penurunan Curah Jantung; Identifikasi tanda/gejala sekunder Penurunan Curah Jantung; Monitor tekanan darah; Monitor intake dan output cairan; Monitor saturasi oksigen; Monitor EKG 12 sadapan; Monitor nilai laboratorium jantung; Posisikan pasien semi-Fowler atau Fowler dengan kaki kebawah; Diet jantung yang sesuai; Berikan terapi oksigen untuk mempertahankan saturasi oksigen; Sediakan lingkungan yang kondusif untuk istirahat; Anjurkan beraktivitas fisik sesuai toleransi; Anjurkan meredakan stres; Kolaborasi pemberian antiaritmia atau inotropik, jika perlu.
Gangguan Pertukaran Gas (D.0003)
Luaran Utama: Pertukaran Gas (L.01003)
Dispnea menurun, gelisah menurun, PCO2 membaik, PO2 membaik, takikardia menurun, warna kulit membaik.
Intervensi Utama: Pemantauan Respirasi (I.01014)
Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas; Monitor pola napas; Monitor kemampuan batuk efektif; Monitor adanya produksi sputum; Monitor adanya sumbatan jalan napas; Palpasi kesimetrisan ekspansi paru; Auskultasi bunyi napas; Monitor nilai AGD; Monitor hasil x-ray toraks; Atur interval pemantauan respirasi sesuai kondisi pasien; Dokumentasikan hasil pemantauan; Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan; Kolaborasi pemberian diuretik kuat intravena dan oksigenasi tekanan tinggi.
Perencanaan Intervensi Diagnosis 4-6
Intoleransi Aktivitas (D.0056)
Luaran Utama: Toleransi Aktivitas (L.05047)
Kemudahan melakukan aktivitas sehari-hari meningkat, dispnea saat aktivitas menurun, keluhan lelah menurun.
Intervensi Utama: Manajemen Energi (I.05178)
Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan; Monitor kelelahan fisik dan emosional; Monitor pola dan jam tidur; Monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama melakukan aktivitas; Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus; Lakukan rentang gerak pasif dan/atau aktif; Fasilitasi duduk pada sisi tempat tidur, jika dapat tertoleransi; Anjurkan tirah baring; Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap; Ajarkan strategi koping untuk mengurangi kelelahan; Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan.
Hipervolemia (D.0022)
Luaran Utama: Keseimbangan Cairan (L.03020)
Edema perifer menurun, distensi vena jugularis menurun, ronkhi basah menurun, turgor kulit membaik.
Intervensi Utama: Manajemen Hipervolemia (I.03114)
Periksa tanda dan gejala hipervolemia; Identifikasi penyebab hipervolemia; Monitor status hemodinamik; Monitor intake dan output cairan; Monitor berat badan harian pada waktu yang sama; Monitor efek samping diuretik; Batasi asupan cairan dan garam; Tinggikan kepala tempat tidur 30-40 derajat; Jelaskan tujuan pembatasan cairan; Ajarkan cara mengukur dan mencatat asupan serta haluaran cairan secara mandiri; Kolaborasi pemberian diuretik loop.
Risiko Perfusi Miokard Tidak Efektif (D.0014)
Luaran Utama: Perfusi Miokard (L.02011)
Nyeri dada iskemik menurun, gambaran EKG iskemia menurun, biomarker jantung membaik, tekanan darah membaik.
Intervensi Utama: Perawatan Jantung Akut (I.02076)
Identifikasi karakteristik nyeri dada; Monitor EKG 12-lead serial; Monitor enzim jantung secara serial; Pertahankan akses intravena paten; Berikan obat antiplatelet dan antikoagulan sesuai protokol; Hindari aktivitas yang memicu manuver valsava; Jelaskan pentingnya segera melaporkan jika merasakan nyeri dada baru; Kolaborasi tindakan revaskularisasi koroner darurat.
Perencanaan Intervensi Diagnosis 7-10
Ansietas (D.0080)
Luaran Utama: Tingkat Ansietas (L.09093)
Verbalisasi kebingungan menurun, gelisah menurun, tegang menurun, konsentrasi membaik, pola tidur membaik.
Intervensi Utama: Reduksi Ansietas (I.09314)
Identifikasi saat tingkat ansietas berubah; Monitor tanda-tanda ansietas; Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan; Temani pasien untuk mengurangi kecemasan; Pahami situasi yang membuat ansietas; Dengarkan dengan penuh perhatian; Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan; Jelaskan semua prosedur tindakan medis; Latih teknik relaksasi napas dalam; Kolaborasi pemberian obat antiansietas dosis rendah jika perlu.
Defisit Pengetahuan (D.0111)
Luaran Utama: Tingkat Pengetahuan (L.12111)
Perilaku sesuai anjuran meningkat, kemampuan menjelaskan tentang penyakit meningkat, perilaku keliru menurun.
Intervensi Utama: Edukasi Kesehatan (I.12383)
Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi; Sediakan materi dan media edukasi; Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan; Berikan kesempatan untuk bertanya; Jelaskan faktor risiko koroner yang dapat dimodifikasi; Ajarkan penggunaan obat kardiovaskular secara teratur; Informasikan tanda bahaya yang memerlukan pertolongan medis segera.
Konstipasi (D.0049)
Luaran Utama: Eliminasi Fekal (L.04033)
Kontrol pengeluaran feses meningkat, konsistensi feses membaik, frekuensi BAB membaik, mengejan menurun.
Intervensi Utama: Manajemen Konstipasi (I.04155)
Monitor tanda dan gejala konstipasi; Monitor buang air besar; Identifikasi faktor risiko konstipasi; Berikan diet tinggi serat jika toleransi kardiak membaik; Berikan asupan cairan oral yang dibatasi sesuai target pembatasan cairan; Anjurkan menghindari mengejan kuat; Kolaborasi pemberian laksatif pelembut feses (laxative).
Risiko Ketidakseimbangan Elektrolit (D.0037)
Luaran Utama: Keseimbangan Elektrolit (L.03021)
Serum kalium membaik, serum natrium membaik, serum klorida membaik, osmolaritas serum membaik.
Intervensi Utama: Pemantauan Elektrolit (I.03122)
Monitor kadar elektrolit serum; Monitor tanda klinis hipokalemia/hiperkalemia; Monitor tanda dehidrasi seluler; Identifikasi kemungkinan penyebab ketidakseimbangan elektrolit; Atur interval pemeriksaan biokimia darah; Jelaskan tujuan pemantauan; Kolaborasi koreksi elektrolit intravena jika kadar kalium serum kritis.
(PPNI, 2017; PPNI, 2018; PPNI, 2019)
4. Implementasi
Prosedur Restorasi Perfusi Koroner dan Manajemen Nyeri Dada
Menyelenggarakan pelaksanaan tindakan keperawatan secara sistematis dan responsif berdasarkan SIKI untuk memulihkan perfusi miokardium serta meminimalkan risiko kematian mendadak penderita. Perawat memposisikan pasien semi-Fowler 30 derajat guna menurunkan arus balik vena ke jantung, mengelola pemberian oksigenasi nasal kanul, merekam EKG 12 sadapan sesegera mungkin saat serangan nyeri dada ulangan muncul, serta mengadministrasikan obat antiangina Isosorbid Dinitrat sublingual dan Morfin IV secara titrasi lambat sambil memantau status hemodinamik ketat (Sujayatmo, 2021).
Manajemen Keseimbangan Cairan dan Edukasi Kepatuhan Terapi
Mengelola pemberian infus diuretik kuat Furosemid intravena secara lambat pada kasus overload cairan, mendokumentasikan lembar balans cairan ketat per jam via kateter urin, memberikan pencahar pelembut feses guna mencegah manuver Valsava saat defekasi yang berisiko memicu ruptur kardiak, serta mengedukasi keluarga mengenai pentingnya kepatuhan minum obat antiplatelet ganda secara kronis demi mencegah restenosasis stent koroner (PPNI, 2018; Dharma, 2023). (Sujayatmo, 2021, PPNI, 2018, Dharma, 2023)
5. Evaluasi
Parameter Stabilitas Hemodinamik dan Resolusi Iskemia
Mendokumentasikan evaluasi asuhan keperawatan menggunakan metode SOAP secara berkala guna mengukur keberhasilan kriteria hasil. Indikator keberhasilan kardiak mencakup hilangnya keluhan nyeri dada iskemik (skala 0), kembalinya gambaran EKG ke pola normal tanpa elevasi atau depresi segmen ST baru, pemulihan nilai curah jantung dengan tekanan darah stabil (110/70 – 130/80 mmHg), akral hangat, serta produksi urin normal > 0.5 mL/kgBB/jam (PPNI, 2019).
Parameter Klirens Paru dan Adaptasi Perilaku Mandiri
Pola respirasi membaik dengan penurunan frekuensi napas (16-20 kali/menit), hilangnya suara ronkhi basah fokal pada kedua lapang paru, nilai Analisis Gas Darah (AGD) berada dalam rentang normal, tingkat ansietas penderita menurun ke level ringan, serta pasien bersama keluarga mampu mendemonstrasikan pemahaman mengenai diet jantung rendah garam dan pembatasan cairan mandiri dari rumah (Braunwald, 2020; Santoso, 2022). (PPNI, 2019, Braunwald, 2020, Santoso, 2022)
DAFTAR PUSTAKA
AHA. (2023). Management of acute coronary syndromes. Circulation, 147(12). ahajournals.org/journal/circ
Anwar, T. B. (2021). Kardiologi Klinis: Tata Laksana Komprehensif Sindrom Koroner Berulang dan Gagal Jantung. Medan: Penerbit Universitas Sumatera Utara.
APSC. (2023). Secondary prevention in Asian ischemic heart disease patients. Journal of Asian Pacific Society of Cardiology, 2(1). japsc.org
Braunwald, E. (2020). Heart Disease: A Textbook of Cardiovascular Medicine (11th ed.). Philadelphia: Elsevier Saunders.
CSC. (2023). Chinese consensus on coronary artery restenosis management. Chinese Medical Journal, 136(4). cmj.org
Dharma, S. (2023). Sistematika Interpretasi EKG Klinis dan Strategi Revaskularisasi pada Rekurensi Infark Miokard. Jakarta: Badan Penerbit FKUI.
ESC. (2021). Secondary prevention in cardiovascular diseases. European Heart Journal, 42(34). academic.oup.com/eurheartj
GHA. (2022). Risk factor modification in recurrent acute myocardial infarction. Gulf Heart Journal, 19(2). gulfheartjournal.org
JCS. (2022). Cardiovascular rehabilitation guidelines. Circulation Journal, 86(8). jstage.jst.go.jp/browse/circj
KSC. (2021). Impact of multi-vessel CAD on long-term recurrence. Korean Circulation Journal, 51(3). e-kcj.org
PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (1st ed.). Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (1st ed.). Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (1st ed.). Jakarta: DPP PPNI.
Santoso, M. (2022). Aterosklerosis Progresif: Kegagalan Patensi Stent dan Manajemen Komorbid Kardiovaskular. Surabaya: Airlangga University Press.
Soeharto, I. (2020). Penyakit Jantung Koroner: Faktor Risiko, Patofisiologi, dan Pencegahan Sekunder. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Tinggalkan Balasan