Diabetes melitus tidak terkontrol adalah gangguan metabolik kronis yang ditandai oleh kadar glukosa darah yang terus-menerus tinggi melebihi rentang target normal.
- A. Konsep Medis Diabetes melitus tidak terkontrol
- B. Konsep Asuhan Keperawatan
- Penghitungan Kebutuhan Kalori Basal Berdasarkan Metode Harris-Benedict
- DAFTAR PUSTAKA
A. Konsep Medis Diabetes melitus tidak terkontrol
1. Definisi Diabetes melitus tidak terkontrol
Definisi Dari Pakar Internasional
American Diabetes Association (ADA) merumuskan kondisi metabolik ini sebagai gangguan persisten yang memicu hiperglikemia kronis akibat defek pada sekresi insulin, kerja insulin, atau bahkan kombinasi keduanya (2024).
Selanjutnya, World Health Organization (WHO) menjelaskan kelainan endokrin sistemik ini sebagai penyakit metabolik serius yang bermanifestasi melalui peningkatan kadar glukosa darah secara progresif dan merusak struktur vaskular tubuh dalam jangka panjang (2023).
Selain itu, International Diabetes Federation (IDF). Mengartikan keadaan tidak terkontrol ini sebagai kegagalan pencapaian target glikemik ideal (kadar HbA1c lebih besar dari 7%) yang mempercepat komplikasi makrovaskular maupun mikrovaskular (2023).
Kemudian, Harrison’s Principles of Internal Medicine memaparkan sindrom patologis ini sebagai konsekuensi dari disregulasi metabolik kompleks yang merusak metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein akibat resistensi insulin berat (2022).
Sementara itu, Mayo Clinic menegaskan bahwa gangguan regulasi glukosa ini mencakup ketidakmampuan tubuh dalam merespons atau memproduksi insulin secara adekuat, sehingga memicu fluktuasi glukosa darah ekstrem yang mengancam jiwa (2023). (ADA, 2024, WHO, 2023, IDF, 2023, Harrison, 2022, Mayo Clinic, 2023)
Definisi Pakar Asia
Asian Association for the Study of Diabetes (AASD) mengategorikan kondisi ini sebagai disfungsi metabolik agresif pada populasi Asia yang ditandai oleh penurunan fungsi sel beta pankreas lebih awal meskipun indeks massa tubuh pasien relatif rendah (2023).
Sejalan dengan itu, Japanese Diabetes Society (JDS). Mendefinisikan kegagalan glikemik ini sebagai status hiperglikemia persisten pascaprandial maupun puasa yang melampaui ambang batas klirens ginjal akibat kombinasi faktor genetik dan gaya hidup modern (2022).
Lebih lanjut, Korean Diabetes Association (KDA) mendeskripsikan sindrom klinis ini sebagai ketidakmampuan mempertahankan homeostasis glukosa dalam batas aman yang berkorelasi kuat dengan peningkatan risiko nefropati dan penyakit kardiovaskular dini (2023).
Berkaitan dengan hal tersebut, Endocrine Society of India (ESI) mengulas dysglycemia kronis ini sebagai kondisi kegagalan terapi akibat resistensi insulin yang tinggi pada jaringan adiposa visceral, sehingga memicu sindrom hiperosmoler (2022).
Terakhir, Chinese Medical Association (CMA) menyatakan bahwa gangguan metabolik tidak terkontrol ini mencakup kegagalan manajemen glukosa jangka panjang yang ditunjukkan oleh nilai hemoglobin terglikasi yang terus melonjak tinggi (2023). (AASD, 2023, JDS, 2022, KDA, 2023, ESI, 2022, CMA, 2023)
Definisi Pakar Indonesia
Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) menetapkan penyakit metabolik ini sebagai suatu keadaan hiperglikemia kronis yang tidak mencapai target kendali glukosa darah berdasarkan panduan klinis, sehingga memerlukan intensifikasi terapi atau insulin (2021).
Berikutan dengan itu, Djuanda menjelaskan gangguan endokrin kronis ini sebagai penyakit yang merusak sistem pembuluh darah perifer dan kulit, serta memperlihatkan manifestasi dermatopati diabetik akibat kadar gula darah yang menetap tinggi (2019).
Sementara itu, Sularsito mengidentifikasi kondisi metabolik tidak terkontrol ini sebagai pemicu utama disfungsi imun seluler yang menekan kemampuan tubuh dalam melawan infeksi bakteri dan jamur pada jaringan kutaneus (2020).
Ditambahkan pula oleh Siregar, beliau menggambarkan kelainan sistemik ini sebagai penyakit defisiensi insulin relatif maupun absolut yang mengakibatkan gangguan pasokan energi seluler dan memicu luka gangren yang sulit sembuh (2018).
Akhirnya, Harahap menekankan bahwa penyakit metabolisme karbohidrat ini merupakan kondisi rentan yang merusak integritas kapiler dermis dan mempercepat nekrobiosis lipoidika akibat glikasi protein struktural kulit yang masif (2020). (PERKENI, 2021, Djuanda, 2019, Sularsito, 2020, Siregar, 2018, Harahap, 2020)
2. Etiologi Diabetes melitus tidak terkontrol
Penyebab utama dari penyakit metabolik tidak stabil melibatkan interaksi kompleks antara faktor internal tubuh dan eksternal.
Pertama, ketidakpatuhan pasien terhadap regimen terapi medis, seperti melewatkan dosis obat antihiperglikemi oral atau keliru dalam menghitung dosis injeksi insulin, menjadi pemicu utama melonjaknya kadar glukosa darah.
Kedua, disfungsi progresif sel beta pankreas dalam memproduksi insulin secara kuantitatif serta peningkatan resistensi insulin pada jaringan otot dan hati menyebabkan glukosa gagal masuk ke dalam sel.
Ketiga, faktor gaya hidup yang buruk seperti konsumsi karbohidrat sederhana secara berlebihan, kurangnya aktivitas fisik (sedentary lifestyle), stres psikologis kronis, serta adanya infeksi akut atau penyakit penyerta (comorbidity) mempercepat kegagalan kontrol glikemik. (PERKENI, 2021, ADA, 2024)
3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM
Patofisiologi Gangguan Glikemik
Proses penyakit berawal dari penurunan sekresi insulin oleh sel beta pankreas atau adanya resistensi insulin pada jaringan perifer. Akibatnya, glukosa yang berasal dari makanan tidak dapat ditranspor masuk ke dalam sel-sel target seperti otot dan jaringan adiposa, sehingga menumpuk di dalam sirkulasi darah dan menimbulkan hiperglikemia.
Sebaliknya, karena sel-sel tubuh mengalami kelaparan energi (starvasi seluler), tubuh mengaktifkan jalur kompensasi berupa glikogenolisis (pemecahan glikogen) dan glukoneogenesis (pembentukan glukosa baru dari non-karbohidrat) dari dalam organ hati. Proses ini justru semakin memperparah kadar hiperglikemia dari dalam pembuluh darah.
Berikutnya, kadar glukosa darah yang melebihi ambang batas ginjal (180 mg/dL) mengakibatkan terjadinya diuresis osmotik, yang mana glukosa menarik air dan elektrolit ke dalam urin (glukosuria), memicu gejala poliuria (sering berkemih) dan dehidrasi seluler yang menstimulasi rasa haus ekstrem atau polidipsia. Sel yang kekurangan energi juga memicu pemecahan protein dan lemak (lipolisis), menyebabkan penurunan berat badan drastis serta merangsang pusat lapar pada otak (polifagia).
Selanjutnya, peningkatan viskositas darah akibat dehidrasi dan hiperglikemia kronis merusak lapisan endotel pembuluh darah, memicu makroangiopati dan mikroangiopati. Kerusakan integritas struktural pembuluh darah serta penurunan perfusi jaringan perifer memicu masalah keperawatan berupa ketidakstabilan kadar glukosa darah, perfusi perifer tidak efektif, gangguan integritas kulit akibat luka yang sukar sembuh, serta defisit nutrisi. (Harrison, 2022, Price & Wilson, 2015)
Penyimpangan KDM (Pathway)
Regimen Terapi Inadekuat / Resistensi Insulin
|
Penurunan Efektivitas Kerja Insulin
|
Glukosa Gagal Masuk ke Dalam Sel
|
————————————————————-
| |
Glukosa Menumpuk dalam Darah Starvasi Seluler
| |
Hiperglikemia Lipolisis & Proteolisis
| |
Ambang Ginjal Terlampaui (>180 mg/dL) | Asam Lemak Bebas
| | Meningkat
Glukosuria & Diuresis Osmotik v
| Defisit Nutrisi
——————————- |
| | v
Kehilangan Cairan & Viskositas Darah Ketogenesis
Elektrolit via Urin Meningkat |
| | v
v v Ketoasidosis
Poliuria & Dehidrasi Mikro & Makroangiopati |
| | v
v v Napas Kussmaul
Polidipsia Aliran Darah Perifer |
| Menurun v
v | Pola Napas
Ketidakstabilan Gula v Tidak Efektif
Darah Perfusi Perifer
Tidak Efektif -> Iskemia Jaringan
|
v
Gangguan Integritas Kulit / Luka Gangren
(Price & Wilson, 2015)
4. Gejala Klinis Diabetes melitus tidak terkontrol
a. Data Subjektif
Secara umum, pasien mengeluhkan triad klasik diabetes yaitu rasa haus yang terus-menerus (polidipsia), sering buang air kecil terutama pada malam hari (poliuria), dan rasa lapar yang berlebihan tetapi berat badan terus menurun (polifagia).
Kemudian, penderita sering mengeksplorasikan keluhan badan terasa sangat lemas, cepat lelah (fatigue), pandangan mata kabur secara mendadak, serta rasa kesemutan, baal, atau mati rasa pada ujung jari-jari kaki dan tangan (parestesia).
Seterusnya, pasien mengeluhkan adanya luka pada kulit yang tidak kunjung sembuh meskipun sudah berlangsung berminggu-minggu, serta gatal yang mengganggu pada area lipatan kulit atau daerah genital (pruritus). (ADA, 2024)
b. Data Objektif
Berdasarkan pemeriksaan fisik dan tanda vital, tampak pasien mengalami penurunan berat badan yang signifikan dalam waktu singkat, turgor kulit menurun, dan mukosa bibir tampak kering akibat dehidrasi osmotik.
Selanjutnya, ciri fisik yang dapat diobservasi mencakup adanya luka borok (ulkus diabetik) yang mengeluarkan bau khas, nekrosis jaringan kaki, atau adanya tanda kulit bersisik dan hiperpigmentasi pada area leher (akantosis nigrikans).
Tambahan pula, pada kondisi ketoasidosis diabetik (KAD) yang merupakan komplikasi akut, terdapat pola napas cepat dan dalam (Kussmaul) serta tercium bau napas aroma buah atau aseton dari mulut pasien.
Akhirnya, pemeriksaan tanda-tanda vital dapat menunjukkan adanya hipotensi ortostatik dan takikardia akibat penurunan volume cairan intravaskular yang masif. (Harrison, 2022)
5. Penunjang Diagnostik Diabetes melitus tidak terkontrol
a. Pemeriksaan Laboratorium
Langkah awal melibatkan pemeriksaan Glukosa Darah Sewaktu (GDS) atau Glukosa Darah Puasa (GDP) yang menunjukkan kadar sangat tinggi (GDS lebih besar dari 200 mg/dL, GDP lebih besar dari 126 mg/dL) sebagai indikator utama dysglycemia.
Selanjutnya, pemeriksaan Hemoglobin A1c (HbA1c) memberikan gambaran kontrol gula darah selama tiga bulan terakhir, yang mana pada kondisi metabolik kronis nilainya akan melonjak tinggi melebihi target terapeutik (lebih besar dari 7% atau bahkan lebih besar dari 9%).
Sebagai tambahan, melakukan urinalisis untuk mendeteksi adanya glukosuria, mikroalbuminuria (tanda awal nefropati), serta benda keton dari dalam urin yang menandakan terjadinya komplikasi akut ketoasidosis. (ADA, 2024, PERKENI, 2021)
b. Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan foto polos pedis (X-ray kaki) memiliki indikasi kuat pada pasien dengan ulkus diabetik guna mengevaluasi adanya keterlibatan destruksi tulang atau tanda-tanda osteomielitis dari bawah jaringan nekrotik.
Selanjutnya, dapat memanfaatkan ultrasonografi (USG) Doppler vaskular perifer untuk menilai derajat sumbatan aliran darah arteri (insufisiensi arterial) pada ekstremitas bawah akibat komplikasi makroangiopati. (Harrison, 2022)
c. Pemeriksaan Lain
Melakukan pemeriksaan elektrokardiografi (EKG) secara berkala untuk mendeteksi adanya iskemia miokard atau infark miokard tanpa gejala nyeri dada (silent myocardial infarction) akibat komplikasi neuropati otonom jantung. (PERKENI, 2021)
6. Manajemen Medis
a. Terapi Farmakologis
Pemberian Injeksi Insulin dosis optimal merupakan lini utama penatalaksanaan, baik berupa insulin kerja cepat (rapid-acting) untuk mengontrol lonjakan glukosa pascaprandial, maupun insulin kerja panjang (long-acting/basal) untuk mengontrol glukosa basal tubuh.
Selanjutnya, penggunaan Obat Antihiperglikemia Oral (OHO) kombinasi, seperti Metformin (golongan biguanid) untuk meningkatkan sensitivitas insulin, menambahkan pula Empagliflozin (golongan SGLT-2 inhibitor) untuk meningkatkan ekskresi glukosa via urin.
Untuk modalitas darurat pada komplikasi akut seperti Ketoasidosis Diabetik (KAD), tim medis memberikan rehidrasi cairan intravena secara masif menggunakan cairan NaCl 0,9% dengan tetesan insulin reguler kontinu (intravenous insulin infusion).
Terakhir, jika terdapat adanya infeksi sekunder pada ulkus kaki, dokter meresepkan antibiotik sistemik spektrum luas berdasarkan hasil kultur kuman dan uji sensitivitas obat. (ADA, 2024, PERKENI, 2021)
b. Terapi Non-Farmakologis
Tindakan Terapi Nutrisi Medis (TNM) melibatkan pengaturan diet ketat dengan menghitung kebutuhan kalori harian pasien, membatasi karbohidrat sederhana, meningkatkan asupan serat, serta menerapkan jadwal makan “3J” (Jumlah, Jadwal, Jenis).
Berikutnya, program aktivitas fisik terstruktur berupa olahraga aerobik intensitas sedang seperti jalan cepat atau bersepeda selama 150 menit per minggu, dengan syarat kadar gula darah di bawah 250 mg/dL dan tidak ada ketonuria.
Pasien juga mendapatkan edukasi perawatan kaki mandiri (diabetic foot care) setiap hari untuk mencegah terjadinya luka, menghentikan kebiasaan merokok, serta melakukan pemantauan glukosa darah mandiri (PGDM) secara berkala dari rumah. (PERKENI, 2021)
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
a. Identitas Pasien
Mencakup nama, umur (risiko meningkat pada usia di atas 45 tahun), jenis kelamin, alamat, tingkat pendidikan, pekerjaan, suku bangsa, tanggal masuk rumah sakit, serta nomor rekam medis penderita. (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017)
b. Riwayat Kesehatan
- Keluhan Utama: Badan terasa sangat lemas disertai rasa haus yang ekstrem, sering berkemih pada malam hari, atau adanya luka borok di kaki yang membusuk dan tidak kunjung sembuh.
- Riwayat Kesehatan Sekarang: Menganalisis kronologi peningkatan kadar gula darah, pola kepatuhan minum obat di rumah, adanya riwayat penghentian obat sepihak, fluktuasi berat badan, serta keluhan penyerta seperti mual, muntah, atau pandangan kabur.
- Riwayat Kesehatan Dahulu: Menanyakan durasi menderita kelainan endokrin, riwayat rawat inap dengan komplikasi serupa, riwayat penyakit hipertensi, dislipidemia, atau penyakit jantung koroner.
- Riwayat Kesehatan Keluarga: Mengkaji adanya faktor risiko genetik, seperti orang tua atau saudara kandung yang juga menderita diabetes melitus atau penyakit kardiovaskular. (Potter & Perry, 2020)
c. Pemeriksaan Fisik
Sistem Endokrin dan Metabolik
- Sistem Endokrin dan Metabolik (Fokus Utama):
- Inspeksi: Mengamati bentuk tubuh (obesitas sentral atau kurus kering akibat proteolisis masif), adanya pembesaran kelenjar tiroid (jika ada komplikasi autoimun), adanya lesi hiperpigmentasi seperti beludru di leher atau ketiak (akantosis nigrikans).
- Palpasi: Menguji kelembaban kulit (teraba sangat kering akibat dehidrasi seluler), memeriksa suhu akral ekstremitas.
Sistem Kardiovaskular dan Perfusi Perifer
- Sistem Kardiovaskular dan Perfusi Perifer (Fokus Utama):
- Inspeksi: Mengamati warna kulit pada ekstremitas bawah (tampak pucat, sianosis, atau kehitaman menandakan nekrosis), adanya ulkus diabetik, rambut kaki yang menipis akibat sirkulasi darah yang buruk.
- Palpasi: Meraba denyut arteri perifer (arteri dorsalis pedis dan arteri tibialis posterior) yang teraba lemah atau bahkan menghilang, menilai waktu pengisian kapiler (capillary refill time) yang memanjang lebih dari 3 detik, mendeteksi adanya edema perifer.
- Auskultasi: Mendengarkan bunyi jantung S1 dan S2 reguler, mengukur tekanan darah untuk mengidentifikasi adanya hipertensi atau hipotensi ortostatik.
Tinjauan Sistem Fisik Lainnya
- Sistem Respirasi:
- Inspeksi: Mengamati pengembangan dada simetris, menghitung frekuensi napas (takipnea jika terjadi ketoasidosis), memantau adanya pola napas cepat dan dalam (Kussmaul).
- Palpasi: Taktil fremitus teraba merata di seluruh lapang paru.
- Perkusi: Bunyi sonor pada seluruh area lapang paru.
- Auskultasi: Suara napas vesikuler, tidak terdengar suara napas tambahan seperti ronkhi atau wheezing.
- Sistem Pencernaan:
- Inspeksi: Abdomen tampak datar atau cembung, tidak ada asites atau pelebaran vena.
- Auskultasi: Bising usus dapat menurun jika terjadi komplikasi gastroparesis diabetik.
- Perkusi: Bunyi timpani pada sebagian besar kuadran abdomen.
- Palpasi: Abdomen teraba supel, tidak ada nyeri tekan yang bermakna atau hepatomegali.
- Sistem Persarafan:
- Inspeksi: Menilai tingkat kesadaran (bisa apatis hingga koma pada status hiperosmolar), mengamati adanya tremor.
- Palpasi: Menguji sensasi protektif kulit menggunakan monofilamen 10g (menurun atau hilang pada pasien neuropati perifer), menguji refleks tendon dalam (refleks patella sering menurun).
- Sistem Eliminasi Uri:
- Inspeksi: Mengamati karakteristik urin (warna kuning jernih, berjumlah sangat banyak/poliuria), memantau distensi kandung kemih (neurogenic bladder).
- Palpasi: Tidak teraba massa atau distensi pada area suprapubik. (Potter & Perry, 2020, Tim Pokja SDKI PPNI, 2017)
d. Pengkajian Pola Fungsi Kesehatan
- Pola Persepsi & Pemeliharaan Kesehatan: Pasien sering kali mengabaikan kepatuhan minum obat karena menganggap penyakitnya sudah sembuh saat gejala mereda, atau kurang memahami komplikasi jangka panjang.
- Pola Nutrisi & Metabolik: Terjadi ketidakseimbangan diet di mana pasien sering mengonsumsi makanan tinggi indeks glikemik, mengalami polifagia, namun berat badan justru menyusut drastis.
- Pola Eliminasi: Pasien mengalami peningkatan frekuensi berkemih (poliuria) terutama pada malam hari (nokturia), yang mengganggu kenyamanan istirahat.
- Pola Aktivitas & Latihan: Mengalami kelemahan otot umum (fatigue) dan intoleransi aktivitas akibat ketiadaan glukosa intramuskular yang dapat diubah menjadi energi.
- Pola Istirahat & Tidur: Kualitas tidur pasien menurun karena sering terbangun di malam hari untuk berkemih atau akibat nyeri neuropati yang menghebat pada malam hari.
- Pola Kognitif & Konseptual: Adanya keluhan pandangan kabur dan parestesia (kesemutan) pada tangan dan kaki yang membatasi kemampuan koordinasi sensorik.
- Pola Persepsi Diri & Citra Tubuh: Pasien merasa cemas, minder, atau putus asa akibat luka gangren yang berbau dan bentuk tubuh yang semakin kurus.
- Pola Hubungan Sosial & Peran: Mengalami hambatan dalam menjalankan peran pekerjaan atau sosial akibat kelemahan fisik atau keharusan menjalani rawat inap berulang.
- Pola Hubungan Seksual & Reproduksi: Penderita dewasa sering mengeluhkan disfungsi ereksi (pada pria) atau penurunan libido serta kekeringan vagina (pada wanita) akibat neuropati otonom.
- Pola Koping & Toleransi Stres: Munculnya stres atau distres diabetes (diabetes distress) akibat kejenuhan mengonsumsi obat-obatan dan menyuntik insulin seumur hidup. (Potter & Perry, 2020)
2. Diagnosis Keperawatan
- D.0027 Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah berhubungan dengan resistensi insulin, disfungsi pankreas, kurang kepatuhan pada rencana manajemen remedial.
- D.0009 Perfusi Perifer Tidak Efektif berhubungan dengan hiperglikemia, gangguan aliran darah sekunder akibat makroangiopati dan mikroangiopati.
- D.0129 Gangguan Integritas Kulit/Jaringan berhubungan dengan perubahan sirkulasi perifer, neuropati perifer, gangguan metabolik.
- D.0019 Defisit Nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan mencerna/mengabsorpsi nutrien akibat insufisiensi insulin (starvasi seluler).
- D.0050 Retensi Urin berhubungan dengan gangguan neurovaskular (neuropati otonom kandung kemih / neurogenic bladder).
- D.0005 Pola Napas Tidak Efektif berhubungan dengan gangguan neurologis/metabolik (kompensasi asidosis metabolik pada ketoasidosis).
- D.0142 Risiko Infeksi ditandai dengan faktor risiko penyakit kronis (hiperglikemia yang menekan imunitas seluler), peningkatan paparan organisme patogen lingkungan.
- D.0111 Defisit Pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi mengenai manajemen diabetes melitus jangka panjang.
- D.0083 Gangguan Citra Tubuh berhubungan dengan perubahan struktur/bentuk tubuh sekunder akibat luka ulkus nekrotik yang berbau.
- D.0130 Hypertermia berhubungan dengan proses penyakit (infeksi bakteri sekunder pada jaringan lunak / selulitis / gangren). (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017)
3. Perencanaan (Intervensi)
Perencanaan Intervensi D.0027, D.0009, D.0129, dan D.0019
Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah (D.0027)
- SLKI (L.03022): Kestabilan Kadar Glukosa Darah Meningkat (Kadar glukosa dalam darah membaik, kadar glukosa dalam urin membaik, mengantuk menurun, pusing menurun).
- SIKI (I.03115 Manajemen Hiperglikemia): Observasi identifikasi kemungkinan penyebab hiperglikemia, monitor kadar glukosa darah, monitor tanda dan gejala hiperglikemia; terapeutik fasilitasi ambulasi jika ada, berikan cairan oral jika dibutuhkan; edukasi anjurkan kepatuhan terhadap diet dan olahraga, ajarkan pengelolaan diabetes (mis. penggunaan insulin); kolaborasi kolaborasi pemberian insulin atau obat antihiperglikemia oral.
Perfusi Perifer Tidak Efektif (D.0009)
- SLKI (L.02011): Perfusi Perifer Meningkat (Denyut nadi perifer meningkat, penyembuhan luka meningkat, sensasi meningkat, warna kulit pucat menurun, edema perifer menurun).
- SIKI (I.02079 Perawatan Sirkulasi): Observasi periksa sirkulasi perifer (mis. nadi perifer, edema, pengisian kapiler, warna, suhu), identifikasi faktor risiko gangguan sirkulasi; terapeutik hindari pemasangan infus atau pengambilan darah di area keterbatasan sirkulasi, lakukan hidrasi; edukasi anjurkan menggunakan obat penurun tekanan darah atau kolesterol jika perlu, anjurkan melakukan perawatan kaki mandiri.
Gangguan Integritas Kulit/Jaringan (D.0129)
- SLKI (L.14125): Integritas Kulit dan Jaringan Meningkat (Penyembuhan jaringan meningkat, kerusakan jaringan menurun, kerusakan lapisan kulit menurun, nekrosis menurun, bau tidak sedap menurun).
- SIKI (I.11356 Perawatan Luka): Observasi monitor karakteristik luka (mis. drainase, warna, ukuran, bau), monitor tanda-tanda infeksi; terapeutik lepaskan balutan dan plester secara perlahan, bersihkan dengan cairan NaCl, bersihkan jaringan nekrotik (debridement), pasang balutan sesuai jenis luka (modern dressing); edukasi jelaskan tanda dan gejala infeksi, ajarkan prosedur perawatan luka mandiri; kolaborasi kolaborasi pemberian antibiotik jika perlu.
Defisit Nutrisi (D.0019)
- SLKI (L.03030): Status Nutrisi Membaik (Porsi makanan yang dihabiskan meningkat, berat badan membaik, indeks massa tubuh membaik, serum albumin membaik).
- SIKI (I.03119 Manajemen Nutrisi): Observasi identifikasi status nutrisi, identifikasi kebutuhan kalori dan jenis nutrien, monitor asupan makanan, monitor berat badan; terapeutik lakukan oral hygiene sebelum makan jika perlu, sajikan makanan secara menarik; edukasi ajarkan diet yang diprogramkan (diet DM); kolaborasi kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrien yang dibutuhkan.
Perencanaan Intervensi D.0050, D.0005, D.0142, dan D.0111
Retensi Urin (D.0050)
- SLKI (L.04037): Eliminasi Urine Membaik (Sensasi berkemih meningkat, volume residu urine menurun, distensi kandung kemih menurun, berkemih tidak tuntas menurun).
- SIKI (I.04150 Manajemen Retensi Urine): Observasi monitor eliminasi urine (mis. frekuensi, konsistensi, aroma, volume, dan warna), monitor tanda dan gejala retensi urine; terapeutik sediakan privasi untuk eliminasi, lakukan kateterisasi urine jika perlu sesuai indikasi medis; edukasi jelaskan penyebab retensi urine, ajarkan teknik memicu kontraksi kandung kemih (mis. stimulasi dingin atau kompres air hangat).
Pola Napas Tidak Efektif (D.0005)
- SLKI (L.01004): Pola Napas Membaik (Frekuensi napas membaik, kedalaman napas membaik, penggunaan otot bantu napas menurun, pemanjangan fase ekspirasi menurun).
- SIKI (I.01011 Manajemen Jalan Napas): Observasi monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas), monitor bunyi napas tambahan; terapeutik posisikan semi-Fowler atau Fowler, berikan oksigen jika perlu; edukasi ajarkan teknik batuk efektif jika ada penumpukan sekret; kolaborasi kolaborasi pemberian bronkodilator atau koreksi bikarbonat natrium intravena jika terjadi asidosis berat.
Risiko Infeksi (D.0142)
- SLKI (L.14137): Tingkat Infeksi Menurun (Demam menurun, kemerahan menurun, kultur area luka membaik, kadar sel darah putih membaik).
- SIKI (I.14539 Pencegahan Infeksi): Observasi monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik; terapeutik batasi jumlah pengunjung, cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan lingkungan pasien, pertahankan teknik aseptik pada pasien berisiko tinggi; edukasi jelaskan tanda dan gejala infeksi, ajarkan cara mencuci tangan dengan benar, ajarkan etika batuk; kolaborasi kolaborasi pemberian imunisasi jika perlu.
Defisit Pengetahuan (D.0111)
- SLKI (L.12111): Tingkat Pengetahuan Meningkat (Perilaku sesuai anjuran meningkat, verbalisasi kemauan belajar meningkat, kemampuan menjelaskan pengetahuan tentang diabetes meningkat, persepsi yang keliru terhadap penyakit menurun).
- SIKI (I.12383 Edukasi Kesehatan): Observasi identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi, identifikasi faktor-faktor yang dapat meningkatkan atau menurunkan motivasi perilaku hidup bersih dan sehat; terapeutik sediakan materi dan media pendidikan kesehatan, jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan; edukasi jelaskan faktor risiko yang dapat mempengaruhi kesehatan, ajarkan strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat.
Perencanaan Intervensi D.0083 dan D.0130
Gangguan Citra Tubuh (D.0083)
- SLKI (L.09067): Citra Tubuh Meningkat (Verbalisasi kecacatan bagian tubuh membaik, perilaku menyembunyikan bagian tubuh menurun, hubungan sosial membaik, verbalisasi perasaan negatif tentang perubahan tubuh menurun).
- SIKI (I.09305 Promosi Citra Tubuh): Observasi monitor frekuensi pernyataan kritik terhadap diri sendiri, monitor apakah pasien dapat melihat bagian tubuh yang berubah; terapeutik diskusikan perubahan tubuh dan fungsinya, fasilitasi melihat penolakan terhadap perubahan tubuh; edukasi jelaskan kepada keluarga tentang perawatan perubahan tubuh, latih fungsi tubuh yang masih dapat digunakan.
Hipertermia (D.0130)
- SLKI (L.14134): Termoregulasi Membaik (Menggigil menurun, suhu tubuh membaik, suhu kulit membaik, takikardia menurun).
- SIKI (I.15506 Manajemen Hipertermia): Observasi identifikasi penyebab hipertermia (mis. dehidrasi, infeksi), monitor suhu tubuh, monitor kadar elektrolit, monitor haluaran urine; terapeutik sediakan lingkungan yang dingin, longgarkan atau lepaskan pakaian, berikan kompres hangat pada aksila dan groin, berikan cairan oral; edukasi anjurkan tirah baring; kolaborasi kolaborasi pemberian cairan dan elektrolit intravena, kolaborasi pemberian antipiretik atau antibiotik. (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019, Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)
4. Implementasi
Pelaksanaan tindakan keperawatan secara kronologis sesuai intervensi yang telah terencana, meliputi tindakan memonitor kadar glukosa darah sewaktu (GDS) setiap 4 atau 6 jam sekali, menyuntikkan insulin kerja cepat (insulin reguler) secara subkutan sesuai dosis resep dokter 30 menit sebelum makan, memeriksa denyut arteri dorsalis pedis serta menilai capillary refill time kaki kanan dan kiri, melakukan perawatan luka gangren secara steril menggunakan teknik debridement mekanis dan menutup luka dengan modern dressing hydrogel, menghitung total kebutuhan kalori harian bersama ahli gizi dan menyajikan diet diabetes 2100 kalori yang terbagi dalam porsi kecil tapi sering, memasang kateter urine menetap (folley catheter) secara aseptik untuk mengatasi retensi urine, memantau tanda-tanda vital serta kedalaman pernapasan Kussmaul, memberikan kompres hangat pada area aksila saat suhu tubuh melonjak akibat infeksi sekunder, mengedukasi pasien dan keluarga mengenai teknik pemantauan gula darah mandiri di rumah, serta mendampingi pasien berdiskusi guna memulihkan rasa percaya diri akibat perubahan citra tubuhnya. (Potter & Perry, 2020)
5. Evaluasi
Menilai hasil evaluasi asuhan keperawatan menggunakan metode dokumentasi subyektif, obyektif, analisis, dan perencanaan (SOAP):
- S: Pasien melaporkan lemas berkurang, rasa haus dan frekuensi berkemih pada malam hari mulai berkurang, serta menyatakan paham mengenai jadwal diet DM.
- O: Kadar glukosa darah sewaktu stabil dalam rentang 140-180 mg/dL, tanda vital stabil (TD 120/80 mmHg, Nadi 84x/menit, RR 18x/menit, Suhu 36,7 °C), jaringan granulasi baru mulai tumbuh pada ulkus pedis tanpa adanya pus atau bau, dan produksi urine lancar via kateter.
- A: Masalah keperawatan ketidakstabilan kadar glukosa darah, perfusi perifer tidak efektif, gangguan integritas jaringan, defisit nutrisi, dan defisit pengetahuan teratasi sebagian.
- P: Lanjutkan intervensi keperawatan utama meliputi monitoring glukosa berkala, perawatan luka steril dua hari sekali, pertahankan diet kalori teratur, dan persiapkan rencana pemulangan pasien (discharge planning) dengan fokus edukasi perawatan mandiri dari rumah. (Potter & Perry, 2020)
Penghitungan Kebutuhan Kalori Basal Berdasarkan Metode Harris-Benedict
Apabila merencanakan Terapi Nutrisi Medis (diet) bagi penderita gangguan glikemik, penentuan Angka Metabolisme Basal (AMB) atau Basal Metabolic Rate (BMR) menggunakan rumus baku Harris-Benedict yang dapat disalin sebagai berikut:
Untuk Pria: BMR = 66,5 + (13,755 x Berat Badan dalam kg) + (5,003 x Tinggi Badan dalam cm) – (6,755 x Umur dalam tahun)
Untuk Wanita: BMR = 655,1 + (9,563 x Berat Badan dalam kg) + (1,850 x Tinggi Badan dalam cm) – (4,676 x Umur dalam tahun)
Kebutuhan Energi Total = BMR x Faktor Aktivitas Fisik x Faktor Stres / Infeksi
DAFTAR PUSTAKA
American Diabetes Association. (2024). Standards of Care in Diabetes—2024. Diabetes Care, 47(Suppl. 1), S1-S321. diabetesjournals.org/care/issue/47/Supplement_1
Asian Association for the Study of Diabetes. (2023). Report on the Management of Type 2 Diabetes in Asian Populations. Journal of Diabetes Investigation, 14(4), 512-526. onlinelibrary.wiley.com/journal/20401124
Chinese Medical Association. (2023). Guidelines for the Prevention and Treatment of Type 2 Diabetes in China. Chinese Medical Journal, 136(8), 911-932. journals.lww.com/cmj/pages/default.aspx
Djuanda, A. (2019). Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi Kedelapan. Jakarta: Badan Penerbit FKUI.
Endocrine Society of India. (2022). Clinical Practice Guidelines for Uncontrolled Hyperglycemia. Indian Journal of Endocrinology and Metabolism, 26(3), 205-218. ijemonline.org
Harahap, M. (2020). Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta: Hipokrates.
International Diabetes Federation. (2023). IDF Diabetes Atlas 11th Edition. Brussels: International Diabetes Federation. diabetesatlas.org
Japanese Diabetes Society. (2022). Treatment Guide for Diabetes. Journal of the Japan Diabetes Society, 65(2), 85-101. jds.or.jp/modules/en/
Korean Diabetes Association. (2023). Clinical Practice Guidelines for Diabetes Mellitus. Diabetes & Metabolism Journal, 47(1), 1-15. e-dmj.org
Mayo Clinic. (2023). Diabetes Management and Uncontrolled Blood Sugar Risks. Mayo Clinic Proceedings, 98(5), 711-725. mayoclinicproceedings.org
Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. (2021). Pedoman Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2021. Jakarta: PB PERKENI.
Potter, P. A., & Perry, A. G. (2020). Fundamentals of Nursing 10th Edition. St. Louis: Mosby Elsevier.
Price, S. A., & Wilson, L. M. (2015). Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6. Jakarta: EGC.
Siregar, R. S. (2018). Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit Edisi 3. Jakarta: EGC.
Sularsito, S. A. (2020). Dermatologi Praktis. Jakarta: Perkumpulan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia.
Tim Pokja SDKI PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik Edisi 1. Jakarta: Dewan Pengurus Pusat PPNI.
Tim Pokja SIKI PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan Edisi 1. Jakarta: Dewan Pengurus Pusat PPNI.
Tim Pokja SLKI PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan Edisi 1. Jakarta: Dewan Pengurus Pusat PPNI.
World Health Organization. (2023). Global Report on Diabetes and High Blood Glucose Control. Geneva: World Health Organization. who.int/publications/i

Tinggalkan Balasan