DIAGNOSA INTOLERANSI AKTIVITAS (D.0056)
A. Definisi Ilmiah
- Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Ketidakcukupan energi untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Definisi ini menitikberatkan pada aspek fungsional di mana tubuh tidak mampu merespons kebutuhan metabolisme saat bergerak.
- NANDA International (Herdman & Kamitsuru) Energi fisiologis atau psikologis yang tidak mencukupi untuk bertahan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau diinginkan. Fokus utama NANDA adalah pada keterbatasan kapasitas individu dalam durasi dan intensitas aktivitas.
- Lynda Juall Carpenito Suatu keadaan di mana seorang individu memiliki energi fisiologis atau psikologis yang tidak mencukupi untuk menanggung atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau diinginkan. Carpenito menekankan adanya respons abnormal terhadap aktivitas seperti perubahan tanda-tanda vital.
- Brunner & Suddarth (Hinkle & Cheever) Ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas pada tingkat yang diharapkan karena adanya kelemahan fisik, kelelahan, atau gangguan pada sistem transportasi oksigen (kardiovaskular dan pernapasan).
- Marilynn E. Doenges Kondisi di mana pasien melaporkan kelelahan dan menunjukkan tanda-tanda ketidaktoleranan terhadap aktivitas karena kekurangan cadangan energi atau adanya gangguan pada sistem pendukung kehidupan (seperti oksigenasi) yang membatasi kemampuan fisik.
B. Etiologi (Faktor Penyebab)
Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap munculnya intoleransi aktivitas meliputi:
- Ketidakseimbangan Suplai dan Kebutuhan Oksigen: Sering ditemukan pada gangguan sistem kardiovaskular (misalnya gagal jantung) atau pernapasan (misalnya PPOK).
- Imobilitas dan Tirah Baring: Penurunan massa otot dan dekondisi kardiovaskular akibat kurangnya mobilisasi.
- Kelemahan Umum: Penurunan cadangan energi akibat proses penyakit kronis, malnutrisi, atau anemia.
- Gaya Hidup Monoton: Penurunan kapasitas fungsional tubuh akibat kurangnya aktivitas fisik rutin.
C. Kriteria Diagnosis (Indikator Klinis)
Penegakan diagnosis ini didasarkan pada manifestasi klinis yang timbul saat atau setelah beraktivitas:
- Data Subjektif: Pasien mengeluh lelah, merasa lemah, atau merasa tidak nyaman setelah beraktivitas (dyspnea).
- Data Objektif:
- Frekuensi jantung meningkat secara signifikan (>20% dari kondisi istirahat).
- Perubahan tekanan darah (iskemia miokard atau hipotensi ortostatik).
- Gambaran EKG menunjukkan aritmia atau iskemia saat aktivitas.
- Sianosis atau pucat akibat hipoksia jaringan.
D. Luaran Keperawatan (SLKI)
Tujuan utama intervensi adalah mencapai Toleransi Aktivitas Meningkat (L.05047), dengan kriteria hasil:
- Frekuensi nadi saat beraktivitas kembali ke rentang normal.
- Keluhan lelah dan sesak napas (dyspnea) menurun.
- Kecepatan berjalan dan jarak tempuh aktivitas meningkat.
- Kemampuan melakukan aktivitas rutin mandiri membaik.
E. Intervensi Keperawatan (SIKI)
Strategi penatalaksanaan difokuskan pada penghematan energi dan pemulihan kapasitas fungsional:
Manajemen Energi (I.05178)
Observasi:
- Monitor pola tidur, lokasi ketidaknyamanan, dan tingkat kelelahan fisik/emosional.
Terapeutik:
- Sediakan lingkungan rendah stimulus, lakukan rentang gerak (ROM) pasif/aktif, dan fasilitasi duduk di sisi tempat tidur.
Edukasi:
- Ajarkan teknik koping, anjurkan aktivitas bertahap, dan pentingnya periode istirahat.
2. Terapi Aktivitas (I.01026)
Observasi:
- Identifikasi defisit kemampuan partisipasi dan respons emosional terhadap aktivitas fisik.
Terapeutik:
- Fasilitasi pemilihan aktivitas yang sesuai dengan kemampuan fisik, sosial, dan usia.
Kolaborasi:
- Melibatkan ahli gizi atau terapis okupasi untuk program rehabilitasi yang komprehensif.
F. Kondisi Klinis Terkait
Kondisi klinis yang sering menjadi penyebab atau menyertai Intoleransi Aktivitas, sesuai SDKI, adalah:
- Gagal jantung kongestif (Congestive Heart Failure/CHF)
- Penyakit jantung koroner
- Penyakit katup jantung
- Aritmia (gangguan irama jantung)
- Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK/COPD)
- Gangguan metabolik (misalnya, diabetes melitus, gangguan tiroid)
- Gangguan muskuloskeletal (misalnya, artritis, distrofi otot)
DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, L. J. (2017). Handbook of Nursing Diagnosis. Philadelphia: Wolters Kluwer.
Doenges, M. E., Moorhouse, M. F., & Murr, A. C. (2019). Nursing Care Plans: Guidelines for Individualizing Patient Care Across the Life Span. Philadelphia: F.A. Davis Company.
Herdman, T. H., & Kamitsuru, S. (2021). NANDA International Nursing Diagnoses: Definitions & Classification, 2021-2023. Oxford: Wiley-Blackwell.
Hinkle, J. L., & Cheever, K. H. (2018). Brunner & Suddarth’s Textbook of Medical-Surgical Nursing. Philadelphia: Wolters Kluwer.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
World Health Organization (WHO). (2020). WHO Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour. Geneva: World Health Organization.


Tinggalkan Balasan