Gangguan penyesuaian merupakan reaksi emosional atau perilaku terhadap stresor spesifik yang signifikan, menyebabkan distres hebat yang mengganggu fungsi sosial dan pekerjaan seseorang.
- A. Konsep Medis Gangguan Penyesuaian
- B. Konsep Asuhan Keperawatan
- DAFTAR PUSTAKA
A. Konsep Medis Gangguan Penyesuaian
1. Definisi Gejala Adaptasi
Definisi Dari Pakar Internasional
American Psychiatric Association (2013) merumuskan gangguan penyesuaian sebagai respons emosional atau perilaku terhadap stresor yang dapat teridentifikasi, yang muncul dalam waktu tiga bulan setelah onset stresor tersebut.
Selanjutnya, World Health Organization (2019) mendefinisikan kondisi ini sebagai keadaan distres subjektif dan gangguan emosional yang menyimpang, yang biasanya mengganggu fungsi sosial dan kinerja selama periode adaptasi terhadap perubahan hidup yang signifikan.
Selain itu, Sadock, Sadock, dan Ruiz (2015) menjelaskan bahwa kelainan ini manifestasi dari respons maladaptif terhadap stresor psikososial jangka pendek atau panjang, yang mana tingkat distresnya melebihi ekspektasi proporsional stresor tersebut.
Lebih lanjut, Casey (2018) menegaskan gangguan penyesuaian sebagai bentuk distress psikologis transien yang timbul akibat ketidakmampuan individu mengatasi peristiwa kehidupan yang penuh tekanan, namun gejalanya tidak memenuhi kriteria gangguan mental lain yang lebih spesifik.
Sementara itu, First (2020) mendeskripsikan fenomena ini sebagai sindrom klinis karena munculnya gejala emosional atau perilaku bermakna, yang berkembang langsung sebagai konsekuensi dari paparan terhadap peristiwa traumatik atau non-traumatik. (American Psychiatric Association, 2013, World Health Organization, 2019, Sadock et al., 2015, Casey, 2018, First, 2020)
Definisi Pakar Asia
Chen dan Wang (2017) dari Tiongkok mendefinisikan gangguan penyesuaian sebagai ketidakseimbangan psikologis akut yang terjadi ketika tuntutan lingkungan baru atau peristiwa kehidupan melebihi kapasitas koping individu yang dipengaruhi oleh nilai budaya kolektif.
Berbeda dari hal tersebut, Park dan Lee (2020) dari Korea Selatan mengonseptualisasikan kondisi ini sebagai bentuk distres emosional yang bermanifestasi akibat tekanan akademik, pekerjaan, atau interpersonal yang intens, dengan ekspresi gejala yang sangat dipengaruhi oleh represi emosi.
Sejalan dengan itu, Sato dan Tanaka (2019) dari Jepang menguraikan gangguan ini sebagai kegagalan psikososial dalam menyesuaikan diri terhadap perubahan struktur sosial atau lingkungan kerja, yang sering kali memicu fenomena penarikan diri sosial.
Kemudian, Sharma dan Kumar (2021) dari India mengartikan kelainan tersebut sebagai respons maladaptif terhadap konflik keluarga atau tekanan sosio-ekonomi, yang mana individu menunjukkan kecemasan berlebih dan keluhan somatik yang menonjol.
Akhirnya, Udomratn (2018) dari Thailand menetapkan gangguan ini sebagai reaksi psikologis negatif terhadap perubahan hidup yang cepat atau krisis personal, yang secara signifikan menurunkan kualitas hidup dan produktivitas harian individu. (Chen & Wang, 2017, Park & Lee, 2020, Sato & Tanaka, 2019, Sharma & Kumar, 2021, Udomratn, 2018)
Definisi Pakar Indonesia
Maramis dan Maramis (2014) mendefinisikan gangguan penyesuaian sebagai suatu keadaan distres emosional yang mengganggu performa sosial seseorang, yang timbul dalam proses adaptasi terhadap suatu perubahan hidup yang bermakna atau terhadap akibat dari peristiwa hidup yang traumatik.
Berikutnya, Muslim (2013) menjelaskan kondisi ini sebagai respons maladaptif jangka pendek terhadap stresor psikososial yang jelas, yang mana gejala klinisnya harus muncul dalam kurun waktu satu bulan setelah paparan stresor.
Secara spesifik, Suryani (2017) mengidentifikasi gangguan ini sebagai bentuk ketidakmampuan psikologis individu dalam mengintegrasikan strategi koping yang efektif saat menghadapi tekanan lingkungan, sehingga memicu disfungsi interpersonal.
Selain itu, Wiguna (2019) mengonseptualisasikan kelainan tersebut sebagai gangguan perkembangan adaptasi pada anak dan remaja yang muncul oleh konflik internal keluarga atau kegagalan akademik, yang bermanifestasi dalam bentuk perubahan perilaku ekstrem.
Pada akhirnya, Elvira dan Hadisukanto (2018) merumuskan gangguan ini sebagai sindrom distress emosional yang bermanifestasi klinis lewat kecemasan, depresi, atau gangguan tingkah laku akibat ketidakmampuan mengelola stresor psikososial harian. (Maramis & Maramis, 2014, Muslim, 2013, Suryani, 2017, Wiguna, 2019, Elvira & Hadisukanto, 2018)
2. Etiologi Masalah Gangguan penyesuaian
Etiologi kondisi ini bersifat multifaktorial. Oleh karena itu, faktor pemicu melibatkan interaksi dinamis antara komponen lingkungan dan karakteristik individu yang unik.
Pertama, aspek stresor psikososial memegang peranan utama. Kejadian tunggal seperti perceraian, pemutusan hubungan kerja, atau kematian orang terkasih sering kali menjadi pemicu awal yang masif. Sebagai tambahan, stresor berkelanjutan seperti penyakit kronis dan kemiskinan juga memperparah kondisi.
Kedua, terdapat faktor kerentanan individu. Riwayat trauma masa kanak-kanak atau gangguan kepribadian tertentu dapat memengaruhi kapasitas pertahanan mental. Akibatnya, individu menjadi lebih sensitif terhadap tekanan eksternal yang datang secara mendadak.
Ketiga, faktor biologis turut berkontribusi signifikan. Ketidakseimbangan neurokimia pada aksis Hipotalamus-Pituitari-Adrenal (HPA) memengaruhi regulasi respons fisik. Oleh sebab itu, tubuh gagal memproduksi neurotransmiter penenang secara adekuat dalam menghadapi tekanan.
Keempat, sistem pendukung yang lemah memperburuk keadaan. Isolasi sosial serta kurangnya dukungan emosional dari keluarga menghambat pemulihan. Dengan demikian, individu merasa berjuang sendiri menghadapi krisis hidupnya. (Sadock et al., 2015, Casey, 2018)
3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM
Mekanisme Biopsikososial
Ketika individu terpapar stresor psikososial, otak mempersepsikannya sebagai ancaman melalui amigdala. Selanjutnya, amigdala mengirimkan sinyal ke hipotalamus yang mengaktifkan aksis Hipotalamus-Pituitari-Adrenal (HPA) serta Sistem Saraf Simpatis (SNS). Aktivasi ini memicu sekresi hormon kortisol dan katekolamin secara berlebihan.
Secara patologis, terjadi kegagalan mekanisme umpan balik negatif pada aksis HPA, sehingga kadar kortisol tetap tinggi dalam jangka panjang. Dampaknya, kondisi neurobiologis ini mengganggu plastisitas sinapsis pada hipokampus dan korteks prefrontal yang bertanggung jawab atas regulasi emosi. Oleh karena itu, individu mengalami penurunan ambang toleransi stres yang mengarah pada penyimpangan KDM. (Sadock et al., 2015, Casey, 2018)
Bagan Alur KDM
Stresor Psikososial (Perceraian, PHK, Sakit Kronis, Konflik)
│
▼
Koping Individu Tidak Efektif / Tidak Adekuat
│
▼
Dipersepsikan oleh Amigdala sebagai Ancaman Utama
│
▼
Aktivasi Aksis HPA (Hipotalamus-Pituitari-Adrenal) & Saraf Simpatis
│
▼
Produksi Kortisol & Katekolamin Meningkat Jangka Panjang
│
▼
┌─────────────────────────────────┴────────────────────────────────┐
│ │
▼ ▼
Disfungsi Korteks Prefrontal (Regulasi Emosi Terganggu) Aktivasi Saraf Simpatis Berlebih
│ │
├──────────────────────────────┐ ├──────────────────────────────┐
│ │ │ │
▼ ▼ ▼ ▼
Perasaan Sedih, Putus Asa, Kecemasan, Khawatir, Takikardia, Takipnea, Anoreksia, Mual,
Anhedonia, Afek Datar Gelisah, Merasa Tegang Palpasi, Otot Tegang Lambung Perih
│ │ │ │
▼ ▼ ▼ ▼
(D.0074 Gangguan (D.0080 Ansietas) (D.0005 Pola Napas (D.0019 Defisit
Identitas Diri) Tidak Efektif) Nutrisi)
│
▼
(D.0055 Gangguan Pola Tidur)
(Casey, 2018, Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017)
4. Manifestasi Klinis Gangguan penyesuaian
a. Data Subjektif
- Pasien mengeluhkan perasaan sedih yang mendalam, hampa, atau putus asa.
- Selain itu, pasien menyatakan rasa khawatir, cemas, dan tegang yang konstan terkait masa depannya.
- Pasien mengungkapkan ketidakmampuan untuk berkonsentrasi atau mengambil keputusan sehari-hari.
- Lebih lanjut, pasien mengeluh sulit tidur (insomnia) atau sering terbangun pada malam hari.
- Pasien mengeluhkan kelelahan ekstrem (fatigue) atau kehilangan minat pada hobi harian. (American Psychiatric Association, 2013, Elvira & Hadisukanto, 2018)
b. Data Objektif
- Tampak afek datar, murung, menangis secara spontan, atau ekspresi wajah tegang.
- Selain itu, terlihat perilaku menarik diri dari lingkungan sosial, keluarga, atau rekan kerja.
- Penurunan produktivitas kerja atau penurunan prestasi akademik yang drastis.
- Sementara itu, terdapat manifestasi fisik stres berupa hiperventilasi, tremor tangan, dan takikardia.
- Penurunan berat badan yang signifikan akibat penurunan nafsu makan yang terlihat jelas. (American Psychiatric Association, 2013, Maramis & Maramis, 2014)
5. Pemeriksaan Penunjang Gangguan Penyesuaian
Evaluasi Laboratorium dan Radiologi
Sebenarnya, tidak ada tes laboratorium spesifik untuk menegakkan diagnosis ini. Meskipun demikian, tetap melakukan pemeriksaan laboratorium untuk menyingkirkan adanya penyebab organik. Melakukan pemeriksaan Fungsi Tiroid guna menyingkirkan hipertiroidisme yang memicu ansietas. Selanjutnya, pemeriksaan menilai kadar kortisol darah untuk mengukur tingkat aktivitas aksis HPA. Selain itu, menggunakan pemeriksaan darah lengkap dan elektrolit untuk mengevaluasi status nutrisi.
Sementara itu, pemeriksaan radiologi seperti CT Scan atau MRI kepala memiliki peran sekunder. Untuk melakukan tindakan hanya jika terdapat kecurigaan klinis adanya lesi struktural atau tumor otak. Dengan demikian, penegakan diagnosis psikologis menjadi lebih aman dari bias gangguan struktural otak. (Sadock et al., 2015)
Instrumen Pemeriksaan Lain
Sebagai tambahan, penilaian psikometri memegang peranan krusial dalam menegakkan derajat gangguan. Sangat menyarankan untuk penggunaan instrumen seperti Hamilton Anxiety Rating Scale (HAM-A) atau Hamilton Depression Rating Scale (HAM-D). Melalui metode ini, praktisi dapat mengukur tingkat keparahan gejala adaptasi secara objektif. Terakhir, Melakukan pemeriksaan Elektrokardiogram (EKG) khusus untuk mengevaluasi keluhan palpitasi jantung yang sering pasien keluhkan. (Casey, 2018, Sadock et al., 2015)
6. Penatalaksanaan Medis Gangguan Penyesuaian
Tatalaksana Farmakologis
Pada dasarnya, farmakoterapi bersifat sekunder dan hanya digunakan dalam jangka pendek. Pengobatan ini difokuskan untuk mengatasi gejala spesifik yang sangat mengganggu kenyamanan harian. Antidepresan golongan SSRIs seperti Sertraline atau Escitalopram diberikan jika gejala depresi menetap lama. Oleh karena itu, pemberian obat ini bertujuan menstabilkan neurotransmiter pada otak.
Sementara itu, dapat memberikan pula ansiolitik golongan Benzodiazepin seperti Alprazolam dalam dosis rendah. Obat ini efektif untuk mengatasi kecemasan akut yang hebat atau insomnia parah. Namun demikian, harus membatasi penggunaannya agar tidak menimbulkan efek ketergantungan zat obat. Terakhir, penggunaan obat sedatif-hipnotik non-benzodiazepin seperti Zolpidem khusus mengatasi gangguan tidur malam. (Sadock et al., 2015, Elvira & Hadisukanto, 2018)
Tatalaksana Non-Farmakologis
Sebaliknya, terapi non-farmakologis merupakan modalitas utama dalam proses penyembuhan pasien. Terapi Perilaku Kognitif (CBT) membantu individu mengidentifikasi distorsi kognitif dan merestrukturisasi pikiran negatif. Melalui intervensi ini, dapat mengajarkan pasien membangun strategi koping yang adaptif terhadap stresor baru.
Selanjutnya, memberikan pula terapi krisis sebagai intervensi jangka pendek yang berfokus pada resolusi cepat. Menyediakan juga konseling suportif untuk memberikan ruang aman bagi pasien dalam mengekspresikan perasaan. Akhirnya, menerapakn teknik relaksasi seperti latihan napas dalam untuk menurunkan hiperaktivitas saraf simpatis. (Casey, 2018, Maramis & Maramis, 2014)
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
Langkah Awal Pengkajian
Pengkajian identitas mencakup nama, umur, jenis kelamin, status pernikahan, pekerjaan, dan pendidikan. Perlu memperhatikan, transisi usia remaja ke dewasa sangat rentan mengalami kegagalan adaptasi. Mengkaji riwayat kesehatan secara mendalam, berfokus pada keluhan utama berupa perasaan cemas atau sedih. Selanjutnya, perawat harus mengidentifikasi jenis stresor psikososial yang muncul dalam tiga bulan terakhir.
Selain itu, perlu mengevaluasi riwayat kesehatan dahulu terkait gangguan psikiatri dan trauma masa lalu. Perlu mengingat juga bahwa tidak boleh mengabaikan riwayat kesehatan keluarga mengenai gangguan kecemasan atau depresi. Melalui data tersebut, perawat dapat memetakan tingkat risiko kerentanan psikologis yang dimiliki oleh pasien. (Stuart, 2016, Videbeck, 2020)
Pemeriksaan Fisik Komprehensif
- Sistem Pernapasan: Inspeksi frekuensi napas dapat meningkat, tampak penggunaan otot bantu napas saat cemas. Palpasi taktil fremitus simetris. Perkusi resonan seluruh lapang paru. Auskultasi suara napas vesikuler tanpa ronkhi atau wheezing.
- Sistem Kardiovaskular: Inspeksi iktus cordis tidak terlihat. Palpasi iktus cordis teraba normal, namun frekuensi nadi meningkat akibat stres. Perkusi batas jantung normal. Auskultasi bunyi jantung I dan II tunggal serta reguler.
- Sistem Pencernaan: Inspeksi perut tampak datar tanpa distensi. Auskultasi peristaltik usus dapat meningkat atau menurun. Perkusi timpani seluruh abdomen. Palpasi sering terdapat nyeri tekan epigastrium akibat peningkatan asam lambung.
- Sistem Saraf & Perilaku: Inspeksi adanya tremor halus pada tangan, gelisah, kontak mata kurang, penampilan kurang rapi, tingkat kesadaran compos mentis, namun konsentrasi menurun dan afek tampak sedih.
- Sistem Integumen: Inspeksi kulit bersih, namun dapat tampak pucat atau berkeringat dingin saat cemas. Palpasi akral teraba dingin dengan turgor kulit baik kurang dari dua detik. (Videbeck, 2020, Potter & Perry, 2017)
Pengkajian Pola Gordon
Polas Persepsi dan Manajemen Kesehatan menunjukkan ketidakberdayaan pasien dalam mengelola stres harian. Pola Nutrisi-Metabolik sering terganggu, ditandai penurunan nafsu makan, mual, dan penurunan berat badan. Pola Eliminasi umumnya normal, meskipun stres akut sesekali memicu diare fungsional. Pola Aktivitas-Latihan memperlihatkan penurunan energi, lesu, dan keengganan beraktivitas.
Selanjutnya, Pola Tidur-Istirahat terganggu akibat insomnia berat atau mimpi buruk. Pola Kognitif-Perseptual menonjolkan penurunan konsentrasi tanpa adanya tanda halusinasi maupun waham. Pola Persepsi Diri menunjukkan harga diri rendah dan perasaan gagal. Pola Peran-Hubungan terganggu akibat penarikan diri dari lingkungan sosial. Pola Seksualitas menunjukkan penurunan libido, sementara Pola Koping memperlihatkan strategi koping yang maladaptif. Terakhir, Pola Nilai-Keyakinan sering kali mencerminkan adanya distres spiritual. (Stuart, 2016, Potter & Perry, 2017)
2. Diagnosis Keperawatan Prioritas
Daftar diagnosis keperawatan tersusun berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI):
- Ansietas (D.0080) berhubungan dengan krisis situasional / perubahan besar dalam hidup
- Gangguan Identitas Diri (D.0084) berhubungan dengan gangguan koping individu
- Harga Diri Rendah Situasional (D.0087) berhubungan dengan kegagalan adaptasi terhadap stresor
- Koping Tidak Efektif (D.0096) berhubungan dengan ketidakadekuatan sistem pendukung
- Isolasi Sosial (D.0121) berhubungan dengan perubahan status mental (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017)
3. Diagnosis Keperawatan Sekunder
Daftar diagnosis lanjutan untuk melengkapi prioritas asuhan keperawatan:
- Gangguan Pola Tidur (D.0055) berhubungan dengan kecemasan / kurang kontrol tidur
- Keputusasaan (D.0088) berhubungan dengan stres jangka panjang / isolasi sosial
- Defisit Nutrisi (D.0019) berhubungan dengan faktor psikologis
- Pola Napas Tidak Efektif (D.0005) berhubungan dengan ansietas / hiperventilasi
- Risiko Cedera (D.0136)berhubungan dengan perilaku impulsif / disfungsi integrasi sensori (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017)
4. Perencanaan Intervensi Utama
Rencana Ansietas dan Identitas
- Ansietas (D.0080)
- Luaran: Setelah dilakukan intervensi keperawatan, maka Tingkat Ansietas (L.09093) menurun dengan kriteria hasil: Verbalisasi khawatir menurun, perilaku gelisah menurun, palpitasi menurun, frekuensi nadi membaik.
- Intervensi: Reduksi Ansietas (I.09314): Observasi identifikasi saat tingkat ansietas berubah, monitor tanda-tanda ansietas. Terapeutik ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan, temani pasien untuk mengurangi kecemasan. Edukasi jelaskan prosedur, termasuk sensasi yang mungkin dialami, latih teknik relaksasi. Kolaborasi pemberian obat antiansietas jika perlu.
- Gangguan Identitas Diri (D.0074)
- Luaran: Setelah dilakukan intervensi keperawatan, maka Identitas Diri (L.09070) membaik dengan kriteria hasil: Perilaku konsisten membaik, hubungan efektif membaik, strategi koping adaptif meningkat, penampilan peran membaik.
- Intervensi: Orientasi Realita (I.09297): Observasi monitor perubahan kepribadian, monitor orientasi waktu, tempat, dan orang. Terapeutik fasilitasi mengidentifikasi stresor yang memicu gangguan identitas, diskusikan perubahan peran. Edukasi anjurkan mengekspresikan perasaan secara asertif, ajarkan koping baru. Kolaborasi rujuk ke psikolog jika distorsi peran menetap.
Rencana Harga Diri dan Koping
- Harga Diri Rendah Situasional (D.0087)
- Luaran: Setelah dilakukan intervensi keperawatan, maka Harga Diri (L.09069) meningkat dengan kriteria hasil: Penilaian diri positif meningkat, perasaan memiliki kelebihan meningkat, kontak mata membaik, penerimaan penilaian positif terhadap diri sendiri meningkat.
- Intervensi: Promosi Harga Diri (I.09308): Observasi monitor verbalisasi yang merendahkan diri sendiri, monitor tingkat harga diri. Terapeutik diskusikan pernyataan positif pada diri sendiri, fasilitasi lingkungan yang mendukung peningkatan harga diri. Edukasi latih cara berpikir positif, ajarkan mengidentifikasi kekuatan diri. Kolaborasi libatkan keluarga dalam memberikan dukungan positif.
- Koping Tidak Efektif (D.0096)
- Luaran: Setelah dilakukan intervensi keperawatan, maka Status Koping (L.09086) membaik dengan kriteria hasil: Kemampuan memenuhi peran sesuai usia meningkat, perilaku koping adaptif meningkat, verbalisasi kemampuan mengelola stres meningkat, keluhan emosional menurun.
- Intervensi: Promosi Koping (I.09312): Observasi identifikasi kemampuan koping yang dimiliki, monitor respons emosional terhadap stresor. Terapeutik bantu pasien menguraikan stresor secara realistis, fasilitasi mengevaluasi situasi secara objektif. Edukasi anjurkan mengungkapkan perasaan dan persepsi, ajarkan teknik pemecahan masalah. Kolaborasi koordinasikan dengan sumber komunitas penunjang.
Rencana Isolasi Sosial
- Isolasi Sosial (D.0121)
- Luaran: Setelah dilakukan intervensi keperawatan, maka Keterlibatan Sosial (L.13115) meningkat dengan kriteria hasil: Minat berinteraksi meningkat, verbalisasi tujuan hidup yang jelas meningkat, perilaku menarik diri menurun, kontak mata membaik.
- Intervensi: Promosi Sosialisasi (I.13498): Observasi identifikasi hambatan berinteraksi dengan orang lain, monitor kemajuan interaksi. Terapeutik motivasi meningkatkan keterlibatan dalam suatu hubungan, fasilitasi berinteraksi dengan kelompok atau orang lain. Edukasi berikan umpan balik positif pada kemampuan bersosialisasi, latih keterampilan sosial. Kolaborasi rujuk ke terapi kelompok okupasi jika perlu. (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017, Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019, Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018)
5. Perencanaan Intervensi Sekunder
Rencana Tidur dan Keputusasaan
- Gangguan Pola Tidur (D.0055)
- Luaran: Setelah dilakukan intervensi keperawatan, maka Pola Tidur (L.05045) membaik dengan kriteria hasil: Keluhan sulit tidur menurun, keluhan tidak puas tidur menurun, keluhan istirahat tidak cukup menurun, efisiensi tidur meningkat.
- Intervensi: Dukungan Tidur (I.05174): Observasi identifikasi pola aktivitas dan tidur, identifikasi faktor pengganggu tidur. Terapeutik modifikasi lingkungan (pencahayaan, suhu, kebisingan), fasilitasi penerapan ritual sebelum tidur. Edukasi ajarkan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap gangguan tidur, jelaskan pentingnya tidur cukup selama stres. Kolaborasi pemberian obat hipnotik jika sangat diperlukan.
- Keputusasaan (D.0088)
- Luaran: Setelah dilakukan intervensi keperawatan, maka Harapan (L.09068) meningkat dengan kriteria hasil: Verbalisasi keputusasaan menurun, ungkapan keyakinan positif meningkat, keterlibatan dalam aktivitas perawatan meningkat, pola tidur membaik.
- Intervensi: Dukungan Pemulihan Harapan (I.09261): Observasi identifikasi harapan pasien terhadap situasi saat ini, monitor tanda keputusasaan. Terapeutik ciptakan hubungan terapeutik yang hangat dan terbuka, bantu pasien mengidentifikasi aspek kehidupan yang bermakna. Edukasi latih mengembangkan pola pikir optimis, ajarkan membuat tujuan jangka pendek yang realistis. Kolaborasi fasilitasi dukungan spiritual kelompok.
Rencana Nutrisi dan Pola Napas
- Defisit Nutrisi (D.0019)
- Luaran: Setelah melakukan intervensi keperawatan, maka Status Nutrisi (L.03030) membaik dengan kriteria hasil: Porsi makanan yang dihabiskan meningkat, serum albumin meningkat, nafsu makan membaik, berat badan membaik.
- Intervensi: Manajemen Nutrisi (I.03119): Observasi identifikasi status nutrisi dan alergi makanan, monitor asupan makanan dan berat badan. Terapeutik sajikan makanan secara menarik dan dalam suhu hangat, lakukan kebersihan mulut sebelum makan. Edukasi ajarkan diet yang diprogramkan, jelaskan hubungan stres dengan penurunan nafsu makan. Kolaborasi dengan ahli gizi terkait komposisi diet.
- Pola Napas Tidak Efektif (D.0005)
- Luaran: Setelah dilakukan intervensi keperawatan, maka Pola Napas (L.01004) membaik dengan kriteria hasil: Frekuensi napas membaik (16-20 x/menit), kedalaman napas membaik, penggunaan otot bantu napas menurun, dipsnea menurun.
- Intervensi: Pemantauan Respirasi (I.01014): Observasi monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas, monitor adanya produksi sputum. Terapeutik atur posisi pasien semi-fowler atau fowler saat cemas, dokumentasikan hasil pemantauan. Edukasi ajarkan teknik batuk efektif dan napas dalam, jelaskan tujuan pemantauan respirasi. Kolaborasi pemberian oksigenasi jika saturasi menurun.
Rencana Risiko Cedera
- Risiko Cedera (D.0136)
- Luaran: Setelah dilakukan intervensi keperawatan, maka Tingkat Cedera (L.14136) menurun dengan kriteria hasil: Toleransi aktivitas meningkat, perilaku merusak diri sendiri/lingkungan menurun, luka/cedera fisik tidak terjadi, ketegangan otot menurun.
- Intervensi: Pencegahan Cedera (I.14537): Observasi identifikasi area lingkungan yang berpotensi memicu bahaya, monitor kepatuhan terhadap aturan keselamatan. Terapeutik hilangkan atau amankan benda tajam dan berbahaya dari sekitar pasien, sediakan lingkungan yang aman dan tenang. Edukasi ajarkan strategi menurunkan risiko cedera, jelaskan bahaya tindakan impulsif. Kolaborasi pasang pengaman tempat tidur jika perlu. (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017, Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019, Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018)
6. Implementasi dan Evaluasi
Melakukan implementasi keperawatan secara sistematis berdasarkan rencana tindakan yang telah tersusun (SIKI). Oleh karena itu, perawat melakukan tindakan observasi, terapeutik, edukasi, serta tindakan kolaboratif secara simultan. Mencatat respons pasien secara real-time pada lembar dokumentasi keperawatan.
Selanjutnya, melakukan evaluasi secara berkala menggunakan format SOAP. Perawat mengevaluasi tingkat keberhasilan berdasarkan kriteria hasil yang ditetapkan (SLKI). Jika hasil belum tercapai, perawat akan melakukan modifikasi rencana asuhan untuk mengoptimalkan adaptasi pasien. (Potter & Perry, 2017)
DAFTAR PUSTAKA
American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and statistical manual of mental disorders (DSM-5) (5th ed.). American Psychiatric Publishing.
Casey, P. (2018). Adjustment disorder: From crisis to clinical diagnosis. Oxford University Press.
Chen, S., & Wang, L. (2017). Cultural expressions of distress: Adjustment disorders in East Asian communities. Asian J Psychiatry, 28, 45-52. oxfordjournals.org/ajp/2017
Elvira, S. D., & Hadisukanto, G. (2018). Buku ajar psikiatri (3rd ed.). Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
First, M. B. (2020). DSM-5 handbook of differential diagnosis. American Psychiatric Association Publishing.
Maramis, W. F., & Maramis, A. A. (2014). Catatan ilmu kedokteran jiwa (2nd ed.). Airlangga University Press.
Muslim, R. (2013). Diagnosis gangguan jiwa, rujukan ringkas PPDGJ-III dan DSM-5. Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya.
Park, J., & Lee, K. (2020). Academic stress and adjustment disorders among South Korean adolescents. Int J Ment Health, 49(2), 114-128. tandfonline.com/ijmh/2020
Potter, P. A., & Perry, A. G. (2017). Fundamentals of nursing (9th ed.). Elsevier Mosby.
Sadock, B. J., Sadock, V. A., & Ruiz, P. (2015). Kaplan & Sadock’s synopsis of psychiatry: Behavioral sciences/clinical psychiatry (11th ed.). Wolters Kluwer.
Suryani, S. (2017). Strategi koping dan gangguan penyesuaian pada masyarakat urban di Indonesia. J Keperawatan Padjadjaran, 5(2), 167-176. unpad.ac.id/jkp/2017
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standar diagnosis keperawatan Indonesia: Definisi dan indikator diagnostik (1st ed.). Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2018). Standar intervensi keperawatan Indonesia: Definisi dan tindakan keperawatan (1st ed.). Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2019). Standar luaran keperawatan Indonesia: Definisi dan kriteria hasil keperawatan (1st ed.). Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
Videbeck, S. L. (2020). Psychiatric-mental health nursing (8th ed.). Wolters Kluwer.

Tinggalkan Balasan