TOLONG BUATLKAN SAYA GAMBAR MENGENAI DIAGNOSA KEPUTUSASAAN (D.0088)

KEPUTUSASAAN (D.0088)

by

in

DIAGNOSA KEPUTUSASAAN (D.0088)

A. DEFINISI

  1. PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) Kondisi subjektif individu yang melihat keterbatasan atau tidak tersedianya alternatif pemecahan masalah yang dihadapi, ditandai dengan hilangnya harapan dan motivasi diri.
  2. NANDA International Keadaan subjektif ketika individu melihat keterbatasan atau tidak adanya alternatif atau pilihan pribadi yang tersedia dan tidak dapat memobilisasi energi demi kepentingan sendiri.
  3. Marilynn E. Doenges Suatu status emosional di mana individu merasa bahwa tidak ada tindakan yang akan mengubah hasil yang dirasakan atau situasi saat ini, yang sering kali bermanifestasi sebagai sikap apatis dan penarikan diri.
  4. Lynda Juall Carpenito Suatu keadaan di mana individu mengalami atau berisiko mengalami perasaan bahwa tidak ada solusi atau jalan keluar dari masalah yang ada, serta hilangnya kontrol terhadap hasil akhir yang positif.
  5. Mary C. Townsend Respon kognitif dan emosional yang terjadi ketika individu percaya bahwa tujuan hidupnya tidak mungkin tercapai atau tidak ada bantuan yang tersedia, yang sering kali menjadi komponen inti dari depresi berat.

B. ETIOLOGI (FAKTOR PENYEBAB)

Berdasarkan tinjauan klinis, keputusasaan dapat dipicu oleh berbagai faktor multidimensi:

  1. Stresor Kronis: Paparan tekanan psikologis atau situasi sulit dalam jangka waktu panjang.
  2. Deteriorasi Kondisi Fisiologis: Penurunan fungsi tubuh akibat penyakit terminal atau kronis yang membatasi kemandirian.
  3. Krisis Spiritual: Kehilangan kepercayaan pada kekuatan transendental atau nilai-nilai dasar yang sebelumnya memberikan makna hidup.
  4. Isolasi Sosial: Pengasingan diri atau kurangnya sistem pendukung (support system) yang adekuat.
  5. Pembatasan Aktivitas: Kehilangan kemampuan untuk menjalankan peran atau hobi yang dianggap penting bagi identitas diri.

C. MANIFESTASI KLINIS (TANDA DAN GEJALA)

Penentuan diagnosa keputusasaan berdasarkan pada kehadiran kriteria subjektif dan obketif  terbagi dalam kategori mayor dan minor.

  1. Gejala Mayor 

Subjektif : mengungkapkan keputusasaan 

Objektif : perilaku pasif 

  1. Gejala minor 

Subjektif : Sulit tidur, selera makan menurun 

Objektif : Afek datar, kurang inisiatif, meninggalkan lawan bicara, kurang terlibat dalam aktivitas perawatan, mengagkat bahu sebagai respon pada lawan bicara.

D. LUARAN KEPERAWATAN (SLKI)

Tujuan utama intervensi adalah Harapan Meningkat (L.09068). Indikator keberhasilan yang diharapkan meliputi:

  1. Peningkatan keterlibatan aktif dalam aktivitas perawatan mandiri.
  2. Penurunan verbalisasi perasaan putus asa.
  3. Penurunan perilaku pasif dan peningkatan ekspresi optimisme yang realistis.

E. INTERVENSI KEPERAWATAN (SIKI)

Strategi terapeutik difokuskan pada pemulihan integritas ego melalui:

  1. Promosi Harapan (I.09307)
  • Membantu pasien mengidentifikasi harapan-harapan kecil yang masih realistis.
  • Melibatkan keluarga dalam memberikan dukungan emosional dan spiritual.
  • Memfasilitasi pasien untuk mengenang keberhasilan atau momen menyenangkan di masa lalu sebagai sumber kekuatan.

2. Dukungan Emosional (I.09256)

  • Menciptakan lingkungan yang aman bagi pasien untuk mengekspresikan kemarahan, kesedihan, atau kecemasan.
  • Memberikan respon empati dan validasi terhadap perasaan pasien tanpa memberikan penilaian.

3. Promosi Koping (I.09312)

  • Melatih keterampilan penyelesaian masalah (problem-solving) secara bertahap.
  • Mendorong penggunaan sumber daya spiritual dan sistem pendukung sosial.

F. TINJAUAN PAKAR

Menurut konsep keperawatan dari NANDA-I, keputusasaan seringkali berkaitan erat dengan “Ketidakberdayaan” (Powerlessness). Pakar keperawatan kesehatan jiwa menekankan pentingnya penggunaan teknik Therapeutic Use of Self oleh perawat untuk membangun kembali kepercayaan diri pasien dan membantu mereka menemukan makna di tengah penderitaan (Finding meaning in suffering).

G. KONDISI KLINIS TERKAIT 

  1. Penyakit terminal (stadium akhir).
  2. Penyakit kronis progresif (mis. kanker, gagal jantung kronis).
  3. Kelumpuhan atau cacat fisik permanen (mis. stroke, cedera medula spinalis).
  4. Nyeri kronis yang tidak kunjung reda.
  5. Penyakit degeneratif (mis. Penyakit Alzheimer, Parkinson).
  6. Gangguan depresi mayor.
  7. Riwayat kegagalan fungsi tubuh atau organ.
  8. Kondisi pengasingan atau isolasi sosial jangka panjang.
  9. Kehilangan orang yang sangat berarti secara berturut-turut.
  10. Penyalahgunaan zat atau ketergantungan obat.
  11. Infertilitas (ketidakmampuan memiliki keturunan).
  12. Diagnosis penyakit yang baru dan mengubah gaya hidup secara drastis (mis. HIV/AIDS).

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, L. J. (2017). Handbook of Nursing Diagnosis. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.

Doenges, M. E., Moorhouse, M. F., & Murr, A. C. (2019). Nursing Care Plans: Guidelines for Individualizing Patient Care Across the Life Span. Philadelphia: F.A. Davis Company.

Herdman, T. H., & Kamitsuru, S. (Eds.). (2021). NANDA International Nursing Diagnoses: Definitions & Classification, 2021–2023. Oxford: Wiley-Blackwell.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

Townsend, M. C., & Morgan, K. I. (2017). Psychiatric Mental Health Nursing: Concepts of Care in Evidence-Based Practice. Philadelphia: F.A. Davis Company.