Gangguan somatisasi merupakan kondisi psikiatris kronis saat individu mengeluhkan berbagai gejala fisik tanpa adanya penyebab medis struktural yang jelas. (147 karakter)
- A. Konsep Medis Gangguan Somatisasi
- B. Konsep Asuhan Keperawatan
- DAFTAR PUSTAKA
A. Konsep Medis Gangguan Somatisasi
1. Definisi Gejala Somatik
Definisi Dari Pakar Internasional
American Psychiatric Association (2013) mendefinisikan gangguan ini sebagai kombinasi dari gejala fisik yang mengganggu dan menyebabkan distres signifikan, yang mana manifestasi klinisnya yaitu pikiran, perasaan, atau perilaku maladaptif yang berlebihan terkait gejala tersebut. (APA, 2013)
Selanjutnya, World Health Organization (2019) merumuskan kondisi ini sebagai adanya gejala fisik yang menetap dan berulang, sehingga pasien secara konstan menuntut pemeriksaan medis meskipun hasil klinis berulang kali menunjukkan hasil normal. (WHO, 2019)
Selain itu, Benjamin J. Sadock (2017) menjelaskan fenomena ini sebagai gangguan psikiatris kronis yang muncul oleh banyak keluhan somatik pada berbagai sistem organ, yang mana kondisi tersebut tidak dapat dijelaskan secara adekuat oleh pemeriksaan fisik atau laboratorium. (Sadock & Sadock, 2017)
Sementara itu, Michael G. Gelder (2015) mengartikan somatisasi sebagai proses kecemasan atau distres psikologis individu yang secara tidak sadar terkonversi menjadi keluhan fisik somatik demi mendapatkan perhatian medis. (Gelder et al., 2015)
Kemudian, Allan Tasman (2018) menegaskan bahwa gangguan ini melibatkan fokus berlebihan pada gejala somatik yang melebihi proporsi patofisiologi sebenarnya, sehingga mengganggu fungsi sosial dan pekerjaan secara masif. (Tasman et al., 2018)
Definisi Pakar Asia
Sheng-Yu Lee (2016) mengidentifikasi gangguan somatisasi Asia Timur sebagai manifestasi distres emosional yang tertekan secara kultural, sehingga beralih menjadi keluhan fisik akibat adanya stigma sosial terhadap gangguan jiwa formal. (Lee & Kim, 2016)
Lebih lanjut, Min-Soo Kwon (2018) menguraikan penyakit ini sebagai sindrom klinis saat stresor psikososial berat mengejawantah dalam bentuk nyeri tubuh kronis dan kelelahan ekstrem yang tidak merespons terapi medis umum. (Kwon, 2018)
Oleh karena itu, Rhee Jung-Sook (2020) memaknai somatisasi sebagai mekanisme koping bawah sadar pasien yang mengekspresikan konflik interpersonal melalui keluhan somatik multifokal guna menghindari konflik langsung. (Rhee, 2020)
Sebaliknya, Pratap Sharan (2017) mendeskripsikan variasi somatisasi Asia Selatan sebagai keluhan fisik yang luas, yang mana pasien menghubungkan gejala tersebut dengan ketidakseimbangan energi tubuh akibat beban kerja atau tekanan domestik. (Sharan, 2017)
Berikutnya, Tsutomu Someya (2019) mengklasifikasikan kondisi ini sebagai gangguan neurotik somatoform yang melibatkan distorsi persepsi sensorik tubuh, sehingga memicu kecemasan kesehatan yang intens secara terus-menerus. (Someya, 2019)
Definisi Pakar Indonesia
Rusdi Maslim (2013) menetapkan gangguan somatisasi sebagai suatu kondisi dengan karakteristik keluhan-keluhan fisik yang majemuk, berulang, dan sering berubah-ubah, yang biasanya telah berlangsung sekurang-kurangnya dua tahun sebelum pasien mendapatkan rujukan ke psikiater. (Maslim, 2013)
Secara senada, Willy F. Maramis (2010) mendefinisikan penyakit ini sebagai bentuk psikoneurosis yang mana konflik mental penderita diekspresikan secara simbolis melalui berbagai keluhan pada organ-organ tubuhnya. (Maramis & Maramis, 2010)
Namun demikian, Sylvia D. Elvira (2015) menggambarkan gangguan somatisasi sebagai perwujudan distres psikologis ke dalam gejala fisik yang tidak disengaja oleh pasien, yang mana keluhan tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan kepribadian histrionik. (Elvira & Hadisukanto, 2015)
Faktanya, Selly Mariko (2019) merumuskan somatisasi sebagai suatu gangguan psikologis yang mana penderita merasakan nyeri atau disfungsi organ nyata tanpa adanya kerusakan struktural biomedis yang mendasarinya. (Mariko, 2019)
Akhirnya, I Gusti Rai Wiguna (2021) mengartikan fenomena klinis ini sebagai kegagalan regulasi emosi yang menyebabkan sistem saraf otonom bekerja berlebihan, sehingga menimbulkan persepsi nyeri fisik yang hebat pada organ target. (Wiguna, 2021)
2. Etiologi Masalah Gangguan Somatisasi
Penyebab gangguan klinis ini bersifat multifaktorial, melibatkan interaksi kompleks antara aspek biologis, psikologis, dan sosiokultural:
- Faktor Genetik dan Biologis: Adanya disregulasi pada aksis Hipotalamus-Pituitari-Adrenal (HPA), gangguan transmisi neurokimia (serotonin dan endorfin), serta hiperaktivitas pada sistem limbik yang memengaruhi ambang batas nyeri individual. (Sadock & Sadock, 2017)
- Faktor Psikologis (Psikodinamika): Mekanisme pertahanan ego bawah sadar mengekspresikan konflik emosional atau impuls yang tidak dapat diterima ke dalam bentuk gejala fisik. Keuntungan primer (meredakan kecemasan) dan keuntungan sekunder (menghindari tanggung jawab) turut memperkuat bertahannya gejala. (Elvira & Hadisukanto, 2015)
- Faktor Kognitif-Perilaku: Pasien memiliki bias kognitif berupa katastrofisasi (menganggap gejala ringan sebagai penyakit mematikan) dan misinterpretasi sinyal tubuh normal sebagai tanda bahaya medis. (APA, 2013)
- Faktor Sosio-Lingkungan dan Kultural: Stigma terhadap gangguan jiwa di masyarakat mendorong individu mengekspresikan stres psikologis melalui keluhan fisik agar lebih diterima secara sosial. Riwayat trauma masa kecil atau pola asuh yang overprotektif juga meningkatkan kerentanan. (Lee & Kim, 2016)
3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM
Mekanisme Patofisiologis Pusat
Secara patofisiologis, kondisi ini berakar pada kegagalan central sensitization dan amplifikasi somatosensorik. Ketika individu mengalami stresor psikososial kronis, korteks serebri mengirimkan sinyal ke sistem limbik dan amigdala, yang kemudian memicu aktivitas berlebih pada sistem saraf simpatis serta aksis HPA. Kondisi ini meningkatkan sekresi kortisol secara abnormal, yang dalam jangka panjang justru menurunkan ambang batas nyeri (hipersensitivitas).
Akibatnya, sinyal fisiologis normal tubuh (seperti peristaltik usus atau denyut jantung) dipersepsikan oleh otak sebagai sensasi nyeri yang hebat. Ketidakseimbangan neurotransmiter serotonin dan norepinefrin juga menurunkan sistem inhibisi nyeri desenden pada medula spinalis, sehingga input nosiseptif perifer diamplifikasi secara masif menuju korteks sensorik. (Sadock & Sadock, 2017; Wiguna, 2021)
Bagan Alur Penyimpangan KDM
Stresor Psikososial / Trauma / Konflik Intrapsikis │ ▼ Kegagalan Mekanisme Koping │ ▼ Kecemasan / Distres Psikologis Meningkat │ ├───────────────────────────────────────────────────────┐ ▼ ▼ Disregulasi Neurotransmiter Amplifikasi Somatosensorik (Serotonin & Norepinefrin ↓) & Katastrofisasi Kognitif │ │ ▼ ▼ Hiperaktivitas Sistem Saraf Otonom Sensasi Tubuh Normal Dipersepsikan & Aktivasi Aksis HPA Sebagai Nyeri/Sakit Nyata │ │ └───────────────────────────┬───────────────────────────┘ │ ▼ [ GANGGUAN SOMATISASI ] │ ┌──────────────────────────────────┼──────────────────────────────────┐ ▼ ▼ ▼ Keluhan Gastrointestinal Keluhan Sensorik/Nyeri Kecemasan & Fokus pada (Mual, Muntah, Kembung) (Pegal, Sakit Kepala, Kronis) Penyakit Fisik │ │ │ ▼ ▼ ▼ Intake Nutrisi Tidak Adekuat Hambatan Mobilitas Fisik Mekanisme Koping Maladaptif │ │ │ ▼ ▼ ▼ Defisit Nutrisi Nyeri Kronis Koping Tidak Efektif
4. Manifestasi Klinis
a. Data Subjektif
Pasien mengeluhkan nyeri kepala, nyeri dada, nyeri punggung, atau nyeri sendi yang berpindah-pindah. Seterusnya, muncul pernyataan mual, perut kembung, diare, atau rasa tidak enak pada ulu hati yang menetap. Tambahan pula, terdapat keluhan sesak napas atau jantung berdebar-debar saat menghadapi masalah. Oleh karena itu, muncul ungkapan lemas, cepat lelah, atau pusing berputar yang mengganggu aktivitas harian. Akhirnya, pasien merasakan kebas, kesemutan, atau kelemahan otot pada ekstremitas secara subjektif. (APA, 2013; Maslim, 2013)
b. Data Objektif
Pasien menunjukkan perilaku mencari bantuan medis secara berulang (doctor shopping). Sejalan dengan hal itu, ekspresi wajah tampak tegang, cemas, meringis saat menceritakan gejalanya, atau justru tampak acuh tak acuh (la belle indifference). Selain itu, gaya berjalan tampak lambat atau kaku akibat fokus berlebih pada keluhan somatik. Akibatnya, terjadi penumpukan rekam medis atau hasil pemeriksaan laboratorium terdahul pasien. Oleh karena itu, skala kecemasan menunjukkan angka yang tinggi pada instrumen pengukuran psikologis (misal: HARS atau SAS). (Sadock & Sadock, 2017; Elvira & Hadisukanto, 2015)
5. Pemeriksaan Penunjang
Objektivitas Diagnosis Eksklusi
Pemeriksaan penunjang utamanya untuk menyingkirkan adanya patologi organik (diagnosis by exclusion). Oleh sebab itu, rangkaian tes objektif perlu guna memastikan tidak adanya kerusakan struktural organ tubuh pasien.
a. Pemeriksaan Laboratorium
- Darah Lengkap (DL) dan Laju Endap Darah (LED): Untuk menyingkirkan proses infeksi kronis atau keganasan.
- Profil Elektrolit dan Fungsi Ginjal (Ureum/Kreatinin): Menepis gangguan metabolik yang memicu kelemahan otot.
- Fungsi Tiroid (TSH, Free T4): Menyingkirkan hipertiroidisme atau hipotiroidisme yang menyerupai gejala kecemasan/somatik. (Sadock & Sadock, 2017)
b. Pemeriksaan Radiologi
- Foto Toraks: Mengevaluasi adanya kelainan struktural paru atau jantung akibat keluhan nyeri dada/sesak.
- CT-Scan atau MRI Otak: Dilakukan secara selektif jika terdapat keluhan neurologis subjektif yang menetap guna menyingkirkan tumor atau stroke. (Tasman et al., 2018)
c. Pemeriksaan Lain
- Elektrokardiogram (EKG): Menyingkirkan aritmia atau iskemia miokard pada pasien dengan keluhan palpitasi.
- Endoskopi Gastrointestinal (EGD): Menilai mukosa lambung untuk mengeksklusi ulkus peptikum sejati pada keluhan dispepsia kronis.
- Pemeriksaan Psikometrik (MMPI-2 atau SCL-90): Mengidentifikasi profil kepribadian somatisasi, hipokondriasis, dan tingkat distres psikologis. (Elvira & Hadisukanto, 2015)
6. Penatalaksanaan Medis
a. Terapi Farmakologis
Antidepresan Golongan SSRI atau SNRI: Fluoxetine (20-40 mg/hari) atau Duloxetine (30-60 mg/hari) efektif menurunkan amplifikasi somatosensorik dan meredakan nyeri kronis serta kecemasan komorbid. Menggunakan Antiansietas (Benzodiazepin jangka pendek): Alprazolam (0,25-0,5 mg/hari) dengan sangat hati-hati dan membatasi durasinya untuk mencegah dependensi. Analgetik Adjuvan: Pregabalin (75-150 mg/hari) untuk meregulasi sensitivitas nyeri saraf pusat. (Sadock & Sadock, 2017)
b. Terapi Non-Farmakologis
Cognitive Behavioral Therapy (CBT): Membantu pasien mengidentifikasi, menantang, dan mengubah distorsi kognitif katastrofisasi terkait gejala fisik. Teknik Relaksasi dan Manajemen Stres: Latihan napas dalam, progressive muscle relaxation, dan meditasi untuk menurunkan overaktivitas saraf simpatis. Konsistensi Satu Dokter Utama: Membatasi pasien berpindah-pindah dokter (doctor shopping) dengan menjadwalkan kunjungan rutin terjadwal, bukan berdasarkan munculnya gejala baru. (Tasman et al., 2018)
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Klinis
a. Identitas Pasien
Mencakup nama, umur (umumnya onset sebelum usia 30 tahun), jenis kelamin (lebih sering pada wanita), tingkat pendidikan, pekerjaan, dan status perkawinan. (Elvira & Hadisukanto, 2015)
b. Riwayat Kesehatan
- Keluhan Utama: Fokus pada multipisitas gejala fisik (nyeri, pencernaan, seksual, neurologis palsu).
- Riwayat Penyakit Sekarang: Durasi keluhan (minimal 2 tahun menurut PPDGJ-III), intensitas, faktor yang memperberat (stresor lingkungan), dan riwayat pengobatan sebelumnya.
- Riwayat Penyakit Dahulu: Adanya riwayat trauma fisik, pelecehan masa kecil, atau penyakit kronis.
- Riwayat Penyakit Keluarga: Adanya anggota keluarga dengan gangguan somatoform, depresi, atau alkoholisme. (Maslim, 2013; Sadock & Sadock, 2017)
c. Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum: Tampak cemas, gelisah, tanda vital cenderung fluktuatif selama fase cemas. Sistem Pernapasan: Inspeksi: Frekuensi napas meningkat (takipnea ringan saat cemas), tidak ada retraksi dinding dada. Palpasi: Taktil fremitus normal. Perkusi: Sonor seluruh lapang paru. Auskultasi: Vesikuler, tidak ada ronkhi/wheezing. Sistem Kardiovaskular: Inspeksi: Iktus kordis tidak terlihat. Palpasi: Iktus kordis teraba di ICS V midklavikula kiri. Perkusi: Batas jantung normal. Auskultasi: Bunyi jantung I dan II tunggal, sering terdapat takikardia fungsional tanpa murmur. (Wiguna, 2021; Mariko, 2019)
Sistem Pencernaan (Fokus): Inspeksi: Perut tampak sedikit kembung. Palpasi: Distensi abdomen ringan, sering pasien keluhkan yaitu nyeri tekan menyeluruh tanpa tanda akut abdomen (rebound tenderness negatif). Perkusi: Timpani. Auskultasi: Bising usus meningkat (hiperperistaltik akibat stres otonom). Sistem Persarafan (Fokus): Inspeksi: Tidak ada atrofi otot atau asimetri wajah. Palpasi: Tonus otot normal. Pemeriksaan Sensorik: Keluhan subjektif kebas/hipestesi tidak sesuai dengan dermatom saraf anatomi. Refleks fisiologis normal, refleks patologis negatif. Sistem Muskuloskeletal: Inspeksi: Tidak ada deformitas sendi atau inflamasi nyata. Palpasi: Nyeri tekan menyebar pada otot (myalgia) tanpa pembengkakan organik. (Wiguna, 2021; Mariko, 2019)
d. Pengkajian Pola Fungsi Kesehatan (Gordon)
Pola Persepsi dan Manajemen Kesehatan: Pasien yakin menderita penyakit fisik parah dan kecewa terhadap kegagalan dokter mendeteksi penyakitnya. Pola Nutrisi-Metabolik: Mual dan muntah psikogenik mengganggu nafsu makan dan asupan nutrisi harian. Pola Eliminasi: Keluhan diare intermiten atau konstipasi akibat pengaruh psikologis pada motilitas usus (irritable bowel-like symptoms). Pola Koping-Toleransi Stres: Mekanisme koping tidak efektif, cenderung menggunakan somatisasi untuk mengalihkan stresor internal. (Sadock & Sadock, 2017)
2. Diagnosis Keperawatan (Urutan Prioritas)
Kelompok Diagnosis Utama (1-5)
- Nyeri Kronis (D.0078) b.d. gangguan fungsi somatoform d.d. keluhan nyeri berpindah selama >6 bulan, fokus pada diri sendiri.
- Koping Tidak Efektif (D.0096) b.d. krisis situasional/distres psikologis d.d. manifestasi keluhan fisik berlebih, ketidakmampuan memenuhi peran.
- Ansietas (D.0080) b.d. kekhawatiran terhadap kondisi penyakit d.d. merasa bingung, khawatir dengan akibat dari gejala, tampak tegang.
- Defisit Nutrisi (D.0019) b.d. faktor psikologis (mual/dispepsia psikogenik) d.d. nafsu makan menurun, berat badan menurun.
- Gangguan Pola Tidur (D.0055) b.d. kurangnya kontrol tidur/kecemasan d.d. keluhan sulit tidur, mengeluh istirahat tidak cukup.
Kelompok Diagnosis Pendukung (6-10)
- Gangguan Mobilitas Fisik (D.0054) b.d. persepsi nyeri/kelemahan somatik d.d. enggan melakukan pergerakan, kekuatan otot menurun secara subjektif.
- Defisit Perawatan Diri (D.0109) b.d. kelemahan/fokus pada gejala somatik d.d. ketidakmampuan mandi/mengenakan pakaian secara mandiri akibat preokupasi nyeri.
- Gangguan Citra Tubuh (D.0083) b.d. gangguan psikologis/persepsi fungsi tubuh d.d. pandangan negatif terhadap fungsi tubuh sendiri.
- Disfungsi Seksual (D.0069) b.d. konflik psikologis/somatisasi pada organ reproduksi d.d. penurunan kepuasan dan aktivitas seksual.
- Isolasi Sosial (D.0121) b.d. perubahan status mental/fokus internal yang ekstrem d.d. menarik diri dari interaksi sosial karena merasa tidak dipahami.
3. Perencanaan Intervensi (Part 1)
Intervensi Nyeri Kronis dan Koping Tidak Efektif
Nyeri Kronis (D.0078)
- Luaran Keperawatan: Tingkat Nyeri (L.08066) membaik dengan kriteria hasil keluhan nyeri menurun, meringis menurun, sikap protektif menurun, gelisah menurun, frekuensi nadi membaik.
- Intervensi Keperawatan: Manajemen Nyeri (I.08238)
- Observasi: Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri; Identifikasi skala nyeri.
- Terapeutik: Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (misal: TENS, hipnosis, akupresur, terapi musik, biofeedback, terapi pijat, aromaterapi, teknik imajinasi terbimbing); Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri.
- Edukasi: Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri; Jelaskan strategi meredakan nyeri.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian analgetik atau antidepresan adjuvan jika perlu.
Koping Tidak Efektif (D.0096)
- Luaran Keperawatan: Status Koping (L.09086) membaik dengan kriteria hasil verbalisasi kemampuan memenuhi peran meningkat, perilaku somatisasi menurun, verbalisasi rasionalisasi kegagalan menurun, keluhan fisik menurun.
- Intervensi Keperawatan: Promosi Koping (I.09312)
- Observasi: Identifikasi kemampuan yang dimiliki; Identifikasi pemahaman proses penyakit; Identifikasi dampak situasi terhadap peran dan hubungan.
- Terapeutik: Sediakan lingkungan yang tenang dan mendukung; Fasilitasi dalam memperoleh informasi yang dibutuhkan; Diskusikan perubahan peran yang dialami.
- Edukasi: Anjurkan mengungkapkan perasaan dan persepsi; Anjurkan membuat tujuan yang realistis; Latih keterampilan komunikasi asertif; Latih teknik relaksasi.
- Kolaborasi: Rujuk untuk konseling jika diperlukan.
Intervensi Ansietas dan Defisit Nutrisi
Ansietas (D.0080)
- Luaran Keperawatan: Tingkat Ansietas (L.09093) menurun dengan kriteria hasil verbalisasi kebingungan menurun, verbalisasi khawatir akibat kondisi yang dihadapi menurun, perilaku gelisah menurun, perilaku tegang menurun, konsentrasi membaik.
- Intervensi Keperawatan: Reduksi Ansietas (I.09314)
- Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah; Identifikasi kemampuan mengambil keputusan; Monitor tanda-tanda ansietas.
- Terapeutik: Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan; Temani pasien untuk mengurangi kecemasan; Pahami situasi yang membuat ansietas.
- Edukasi: Jelaskan prosedur, termasuk sensasi yang mungkin dialami; Informasikan secara faktual mengenai diagnosis, pengobatan, dan prognosis; Latih kegiatan pengalihan untuk mengurangi ketegangan; Latih teknik relaksasi.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat antiansietas jika perlu.
Defisit Nutrisi (D.0019)
- Luaran Keperawatan: Status Nutrisi (L.03030) membaik dengan kriteria hasil porsi makanan yang dihabiskan meningkat, verbalisasi keinginan untuk meningkatkan nutrisi meningkat, pengetahuan tentang pilihan makanan sehat meningkat, perasaan cepat kenyang menurun, nafsu makan membaik.
- Intervensi Keperawatan: Manajemen Nutrisi (I.03119)
- Observasi: Identifikasi status nutrisi; Identifikasi alergi dan intoleransi makanan; Identifikasi makanan yang disukai; Monitor asupan makanan; Monitor berat badan.
- Terapeutik: Lakukan kebersihan tangan sebelum makan; Fasilitasi menentukan pedoman diet; Sajikan makanan secara menarik dan suhu yang sesuai; Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein jika perlu.
- Edukasi: Anjurkan posisi duduk saat makan jika mampu; Ajarkan diet yang diprogramkan.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrien yang dibutuhkan; Kolaborasi pemberian obat antiemetik jika perlu.
Intervensi Gangguan Pola Tidur
Gangguan Pola Tidur (D.0055)
- Luaran Keperawatan: Pola Tidur (L.05045) membaik dengan kriteria hasil keluhan sulit tidur menurun, keluhan sering terjaga menurun, keluhan tidak segar setelah tidur menurun, keluhan beristirahat cukup meningkat.
- Intervensi Keperawatan: Dukungan Tidur (I.05174)
- Observasi: Identifikasi pola aktivitas dan tidur; Identifikasi faktor pengganggu tidur (fisik dan/atau psikologis); Identifikasi makanan dan minuman yang mengganggu tidur.
- Terapeutik: Modifikasi lingkungan (misal: pencahayaan, kebisingan, suhu, matras, dan tempat tidur); Tetapkan jadwal tidur rutin; Fasilitasi menghilangkan stres sebelum tidur.
- Edukasi: Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit; Anjurkan menepati jadwal tidur; Anjurkan menghindari makanan/minuman yang mengganggu tidur sebelum tidur; Ajarkan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap gangguan pola tidur (misal: stres psikologis).
4. Perencanaan Intervensi (Part 2)
Intervensi Mobilitas Fisik dan Perawatan Diri
Hambatan Mobilitas Fisik (D.0054)
- Luaran Keperawatan: Mobilitas Fisik (L.05042) meningkat dengan kriteria hasil pergerakan ekstremitas meningkat, kekuatan otot meningkat, rentang gerak (ROM) meningkat, kelemahan fisik menurun.
- Intervensi Keperawatan: Dukungan Mobilisasi (I.05173)
- Observasi: Identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya; Identifikasi toleransi fisik melakukan pergerakan; Monitor frekuensi jantung dan tekanan darah sebelum memulai mobilisasi.
- Terapeutik: Fasilitasi aktivitas mobilisasi dengan alat bantu jika perlu; Fasilitasi melakukan pergerakan secara bertahap; Libatkan keluarga untuk membantu pasien dalam meningkatkan pergerakan.
- Edukasi: Jelaskan tujuan dan prosedur mobilisasi; Anjurkan melakukan mobilisasi dini; Ajarkan mobilisasi sederhana yang harus dilakukan (misal: duduk di tempat tidur, pindah dari tempat tidur ke kursi).
Defisit Perawatan Diri (D.0109)
- Luaran Keperawatan: Perawatan Diri (L.11103) meningkat dengan kriteria hasil kemampuan mandi meningkat, kemampuan mengenakan pakaian meningkat, kemampuan makan meningkat, kemampuan ke toilet meningkat, minat melakukan perawatan diri meningkat.
- Intervensi Keperawatan: Dukungan Perawatan Diri (I.11348)
- Observasi: Monitor tingkat kemandirian; Identifikasi kebutuhan alat bantu kebersihan diri, berpakaian, berhias, dan makan.
- Terapeutik: Sediakan lingkungan yang terapeutik; Fasilitasi kemandirian, bantu jika tidak mampu melakukan perawatan diri; Jadwalkan rutinitas perawatan diri.
- Edukasi: Anjurkan melakukan perawatan diri secara konsisten sesuai kemampuan.
Intervensi Citra Tubuh dan Disfungsi Seksual
Gangguan Citra Tubuh (D.0083)
- Luaran Keperawatan: Citra Tubuh (L.09067) membaik dengan kriteria hasil verbalisasi kepuasan terhadap fungsi tubuh meningkat, verbalisasi kekhawatiran pada penolakan/reaksi orang lain menurun, hubungan sosial membaik.
- Intervensi Keperawatan: Promosi Citra Tubuh (I.09305)
- Observasi: Identifikasi harapan citra tubuh berdasarkan tahap perkembangan; Monitor frekuensi pernyataan kritik terhadap diri sendiri.
- Terapeutik: Diskusikan perubahan fungsi tubuh dan dampaknya; Fasilitasi hubungan dengan orang lain yang mengalami perubahan citra tubuh serupa.
- Edukasi: Jelaskan kepada keluarga tentang perawatan perubahan citra tubuh; Anjurkan mengungkapkan gambaran diri terhadap citra tubuh; Latih fungsi tubuh yang dimiliki.
Disfungsi Seksual (D.0069)
- Luaran Keperawatan: Fungsi Seksual (L.07055) membaik dengan kriteria hasil verbalisasi aktivitas seksual berubah menurun, verbalisasi eksitasi seksual berubah menurun, keluhan nyeri saat berhubungan (dispareunia) menurun, kepuasan hubungan seksual meningkat.
- Intervensi Keperawatan: Edukasi Seksualitas (I.12447)
- Observasi: Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi.
- Terapeutik: Sediakan materi dan media edukasi; Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan; Berikan kesempatan untuk bertanya.
- Edukasi: Jelaskan anatomi dan fisiologi sistem reproduksi; Jelaskan pengaruh stres/kondisi psikologis terhadap fungsi seksual; Anjurkan komunikasi terbuka dengan pasangan.
Intervensi Isolasi Sosial
Isolasi Sosial (D.0121)
- Luaran Keperawatan: Keterlibatan Sosial (L.13115) meningkat dengan kriteria hasil verbalisasi akses terhadap hubungan yang ada meningkat, perilaku menarik diri menurun, verbalisasi tujuan hidup yang jelas meningkat, minat melakukan interaksi meningkat.
- Intervensi Keperawatan: Promosi Sosialisasi (I.13498)
- Observasi: Identifikasi kemampuan melakukan interaksi dengan orang lain; Identifikasi hambatan melakukan interaksi.
- Terapeutik: Motivasi meningkatkan keterlibatan dalam suatu hubungan; Motivasi berpartisipasi dalam aktivitas kelompok dan masyarakat; Bagikan pengalaman dengan orang lain.
- Edukasi: Anjurkan berinteraksi dengan orang lain secara bertahap; Anjurkan ikut serta dalam kegiatan sosial; Latih bermain peran untuk meningkatkan kemampuan komunikasi asertif.
5. Implementasi Keperawatan
Implementasi keperawatan pada intervensi yang telah tersusun secara terstruktur. Pada gangguan klinis ini, prinsip utama implementasi adalah tidak mendebat keluhan fisik pasien sebagai hal yang palsu, melainkan menerima keluhan tersebut sebagai persepsi nyata pasien sembari secara halus mengalihkan fokus pembicaraan dari gejala fisik menuju emosi atau stresor psikologis yang mendasarinya. Mendokumentasikan setiap tindakan keperawatan secara rinci mencakup waktu, jenis tindakan, serta respons pasien. (Tasman et al., 2018; Mariko, 2019)
6. Evaluasi Keperawatan
Melakukan evaluasi keperawatan dengan metode SOAP untuk mengukur pencapaian kriteria hasil:
- S (Subjektif): Pasien melaporkan penurunan intensitas keluhan fisik dan mulai mampu mengaitkan keluhan tubuhnya dengan beban pikiran atau emosi tertentu.
- O (Objektif): Perilaku doctor shopping berkurang, ekspresi tegang mengecil, dan keterlibatan dalam perawatan mandiri serta aktivitas harian meningkat.
- A (Asesmen): Masalah keperawatan (seperti Nyeri Kronis dan Koping Tidak Efektif) teratasi sebagian atau sepenuhnya berdasarkan target waktu.
- P (Planing): Melanjutkan Intervensi dengan fokus pada pemeliharaan strategi koping adaptif dan kolaborasi psikoterapi jangka panjang. (Elvira & Hadisukanto, 2015; Wiguna, 2021)
DAFTAR PUSTAKA
American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5). American Psychiatric Publishing.
Elvira, S. D., & Hadisukanto, G. (2015). Buku Ajar Psikiatri. Badan Penerbit FKUI.
Gelder, M. G., Andreasen, N. C., & Lopez-Ibor, J. J. (2015). New Oxford Textbook of Psychiatry. Oxford University Press.
Kwon, M. S. (2018). Somatization Symptoms in East Asian Populations. Asian Journal of Psychiatry, 34, 45-52. [doi.org/10.1016/j.ajp.2018.03.012]
Lee, S. Y., & Kim, T. Y. (2016). Cultural Somatoform Disorders in Asia. Journal of Korean Medical Science, 31(8), 1189-1196. [doi.org/10.3346/jkms.2016.31.8.1189]
Maramis, W. F., & Maramis, A. A. (2010). Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Airlangga University Press.
Mariko, S. (2019). Hubungan Faktor Psikososial dengan Somatisasi. Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Indonesia, 10(2), 134-141. [journal.uii.ac.id/JKKI/article/view/11342]
Maslim, R. (2013). Diagnosis Gangguan Jiwa: PPDGJ-III dan DSM-5. Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atma Jaya.
Rhee, J. S. (2020). Somatization as an Unconscious Defense Mechanism. Korean Journal of Psychosomatic Medicine, 28(1), 12-19. [doi.org/10.22722/KJPM.2020.28.1.12]
Sadock, B. J., & Sadock, V. A. (2017). Kaplan & Sadock’s Synopsis of Psychiatry. Wolters Kluwer.
Sharan, P. (2017). Somatoform Disorders in South Asia. Indian Journal of Psychiatry, 59(2), 201-209. [indianjpsychiatry.org/article.asp?issn=0019-5545;year=2017;volume=59;issue=2;spage=201]
Someya, T. (2019). Neurobiology of Somatosensory Amplification. Psychiatry and Clinical Neurosciences, 73(6), 310-318. [onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/pcn.12831]
Tasman, A., Kay, J., Lieberman, J. A., First, M. B., & Riba, M. (2018). Psychiatry. John Wiley & Sons.
Wiguna, I. G. R. (2021). Pendekatan Holistik pada Gangguan Somatoform. Jurnal Jiwa, 14(1), 55-63. [ojs.unud.ac.id/index.php/jjiwa/article/view/67211]
World Health Organization. (2019). The ICD-11 Classification of Mental and Behavioural Disorders. World Health Organization.

Tinggalkan Balasan