Ablasio retina adalah kondisi darurat mata saat retina terlepas dari lapisan penyokongnya, memicu gangguan nutrisi dan risiko kebutaan permanen.
- A. Konsep Medis Ablasio Retina
- B. Konsep Asuhan Keperawatan
- DAFTAR PUSTAKA
A. Konsep Medis Ablasio Retina
1. Definisi Penyakit Mata Ablasio Retina
American Academy of Ophthalmology (2023) menjelaskan bahwa ablasio retina terjadi saat retina sensorik terpisah secara patologis dari epitel pigmen retina bawahnya, yang mengakibatkan penumpukan cairan di rongga subretina. (American Academy of Ophthalmology, 2023)
Definisi Dari Pakar Internasional
American Academy of Ophthalmology (2023) menjelaskan bahwa kondisi ini merupakan pemisahan fisik antara retina sensorik dari epitel pigmen retina (RPE) pada bawahnya yang mengakibatkan hilangnya fungsi penglihatan mendadak.
Oleh karena itu, Gariano dan Kim (2024) menegaskan bahwa akumulasi cairan subretina dalam ruang potensial antara neurosensoris retina dan RPE menjadi pemicu utama lepasnya jaringan tersebut.
Selanjutnya, Mayo Clinic Staff (2025) mendefinisikan gangguan ini sebagai situasi darurat ketika lapisan tipis pada bagian belakang mata bergeser dari posisi normalnya sehingga sel-sel retina kekurangan oksigen.
Selain itu, Bowling (2021) dalam buku Kanski’s Clinical Ophthalmology menguraikan kondisi ini sebagai pemisahan retina sensorik dari epitel pigmen retina oleh cairan subretina, yang umumnya berawal dari robekan retina kecil.
Sebagai dampaknya, Shashidhar dkk. (2023) memandang patologi ini sebagai kegawatdaruratan vitreoretinal yang membutuhkan diagnosis serta penanganan bedah segera demi mencegah kebutaan permanen pada pasien.
Definisi Pakar Asia
Ang dkk. (Singapura, 2022) memaparkan masalah mata ini sebagai pemisahan lapisan neurosensoris dari epitel pigmen pada bawahnya yang kerap berkaitan dengan proses degenerasi vitreus akibat penuaan populasi Asia.
Sejalan dengan hal tersebut, Wong dkk. (Hong Kong, 2023) mengidentifikasi kelainan ini sebagai lepasnya jangkar retina dari jaringan koroid yang sering menyerang pasien dengan miopia derajat tinggi pada kawasan Asia Timur.
Lebih lanjut, Kim dkk. (Korea Selatan, 2024) mendeskripsikan penyakit ini sebagai separasi struktural segmen posterior mata akibat traksi vitreoretinal yang merusak fotoreseptor jika klinisi lambat menanganinya.
Sementara itu, Saw dkk. (Jepang, 2023) merumuskan masalah ini sebagai pemisahan patologis sel batang dan kerucut dari suplai darah utamanya pada koroid, yang berisiko memicu iskemia retina akut.
Sebagai akibatnya, Bhagvad dkk. (India, 2025) mengartikan gangguan mata tersebut sebagai hilangnya perlekatan fisiologis retina yang sering kali berawal dari trauma okular atau komplikasi retinopati diabetik.
Definisi Pakar Indonesia
Ilyas dan Yulianti (2022) mendefinisikan gangguan mata ini sebagai suatu keadaan terpisahnya sel epitel pigmen retina dengan sel fotoreseptor yang mengakibatkan gangguan fungsi penglihatan berat.
Maka dari itu, Sitorus dkk. (PERDAMI, 2023) menyatakan bahwa kondisi ini merupakan lepasnya retina sensoris dari epitel pigmen retina, jenis regmatogenosa menjadi manifestasi klinis yang paling sering dijumpai di Indonesia.
Berkenaan dengan hal itu, Budiono dkk. (2021) menjelaskan kelainan ini sebagai pemisahan retina neurosensoris dari lapisan RPE pada bawahnya, yang memicu penumpukan cairan ruang subretina.
Dengan demikian, Artini dkk. (2024) menguraikan penyakit mata ini sebagai terlepasnya lapisan retina dari dasarnya akibat robekan, traksi, atau proses eksudasi yang memerlukan tindakan operatif segera.
Akhirnya, Suardana dkk. (2023) merumuskan keadaan tersebut sebagai kegawatdaruratan mata berupa separasi mekanis lapisan retina posterior yang menyebabkan penurunan tajam penglihatan secara mendadak tanpa rasa nyeri.
2. Etiologi Detasemen Jaringan Ablasio Retina
(Sitorus et al., 2023; Budiono et al., 2021; Ilyas & Yulianti, 2022)
Faktor Mekanis Regmatogenosa
Penyebab utama kategori ini didominasi oleh terbentuknya robekan atau lubang fungsional pada dinding retina. Akibatnya, cairan vitreus yang mengalami pencairan dapat merembes masuk ke dalam ruang subretina. Faktor risiko yang melatarbelakanginya meliputi miopia derajat tinggi, kondisi afakia pasca-operasi katarak, serta proses degenerasi perifer seperti lattice degeneration.
Faktor Traksional dan Eksudatif
Mekanisme traksional muncul oleh terbentuknya jaringan parut atau membran fibrovaskular dalam korpus vitreus yang secara mekanis menarik retina keluar dari tempat melekatnya. Kondisi patologis ini umum terdapat pada fase lanjut retinopati diabetik proliferatif. Sebaliknya, mekanisme eksudatif terjadi tanpa robekan akibat akumulasi cairan sekunder dari proses inflamasi sistemik, infeksi menahun, atau tumor intraokular seperti melanoma koroid.
3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM Ablasio Retina
(Bowling, 2021; Ilyas & Yulianti, 2022; Budiono et al., 2021; Sitorus et al., 2023)
Mekanisme Kerusakan Struktural
Secara fisiologis, perlekatan retina dipertahankan oleh aktivitas pompa epitel pigmen retina serta tekanan hidrostatis bola mata. Namun, proses penuaan memicu pencairan vitreus yang diikuti oleh pelepasan vitreus posterior. Ketika vitreus terpisah, jaringan ini menarik area retina yang rapuh hingga menimbulkan robekan. Cairan yang masuk lewat celah tersebut mendesak neurosensoris retina memisahkan diri dari epitel pigmen. Akibat terputusnya kontak fisik ini, suplai oksigen dari pembuluh darah koroid menuju sel fotoreseptor terhenti total, yang dengan segera memicu iskemia jaringan akut dan ancaman kematian sel saraf visual.
Bagan Pathway Penyimpangan KDM
Faktor Risiko (Miopia tinggi, Trauma, Penuaan, Diabetes)
│
├───────────────────────────────┼───────────────────────────────┐
▼ ▼ ▼
Robekan Jaringan Retina Traksi Membran Fibrosa Proses Inflamasi Eksudat
│ │ │
▼ ▼ ▼
Cairan Masuk ke Retina Tertarik dari Lapisan Cairan Menumpuk di
Ruang Subretina Dasar Epitel Ruang Subretina
│ │ │
└───────────────────────────────┴───────────────────────────────┘
│
▼
ABLASIO RETINA (Retina Terlepas)
│
┌────────────────────────┴────────────────────────┐
▼ ▼
Putusnya Suplai Nutrisi Koroid Ancaman Kebutaan Menetap
│ │
▼ ▼
Iskemia Sel Fotoreseptor Ansietas
│
▼
Penurunan Ketajaman Penglihatan (Visus)
│
├─────────────────────────────────────────────────┐
▼ ▼
Gangguan Persepsi Sensori (Visual) Risiko Cedera / Jatuh
4. Manifestasi Klinis Kelainan Ablasio Retina
(American Academy of Ophthalmology, 2023; Bowling, 2021)
Gejala Subjektif Pasien
Pasien umumnya mengeluhkan kemunculan floaters berbentuk bintik hitam secara mendadak dalam jumlah besar. Selain itu, terdapat keluhan kilatan cahaya (photopsia) yang terlihat jelas saat mata bergerak dalam gelap. Keluhan subjek yang paling khas menunjukkan adanya bayangan gelap serupa gorden atau tirai (curtain-like defect) yang menutup sebagian lapang pandang secara bertahap tanpa serta rasa nyeri.
Tanda Objektif Klinis
Pemeriksaan fisik menunjukkan penurunan ketajaman penglihatan (visus) dari derajat ringan hingga kehilangan penglihatan total. Melalui uji konfrontasi, terdapat defek lapang pandang yang nyata sesuai lokasi lepasnya retina. Pada pemeriksaan lampu celah (slit-lamp), tanda Shafer berupa hamburan pigmen kecokelatan pada vitreus anterior dapat teridentifikasi. Melalui funduskopi, tampak area retina yang lepas berwarna pucat keabu-abuan dan melambai saat bola mata digerakkan.
5. Pemeriksaan Penunjang Okular
(Sitorus et al., 2023; Artini et al., 2024; American Academy of Ophthalmology, 2023; Bowling, 2021)
Evaluasi Laboratorium dan Radiologi
Pemeriksaan laboratorium berfokus pada penapisan pra-bedah seperti pengecekan gula darah sewaktu dan profil koagulasi darah guna meminimalkan risiko pendarahan intraokular. Dari aspek radiologi, Ultrasonografi (USG) Mata jenis B-Scan menjadi instrumen utama jika media refraksi keruh akibat katarak atau perdarahan. Hasil ultrasonografi akan menampilkan garis hiperekoik yang melayang dalam rongga vitreus posterior.
Evaluasi Diagnostik Khusus
Melakukan oftalmoskopi indirek guna memetakan seluruh area robekan secara komprehensif. Selanjutnya, mengaplikasikan juga Optical Coherence Tomography (OCT) untuk menilai keterlibatan area makula (macula-on atau macula-off) secara mikrostruktural. Terakhir, menggunakan pemeriksaan tonometri untuk mengukur tekanan intraokular, yang umumnya menunjukkan angka lebih rendah pada mata yang mengalami lepasnya retina.
6. Penatalaksanaan Medis Komprehensif
(Suardana et al., 2023; Sitorus et al., 2023)
Pendekatan Terapi Farmakologis
Memberikan terapi obat-obatan sebagai modalitas suportif pra dan pasca-bedah. Agen midriatikum seperti Tropikamid 1% diteteskan untuk mencapai dilatasi pupil maksimal sebelum operasi dilakukan. Pasca-operasi, kombinasi kortikosteroid tetes mata (Prednisolon Asetat 1%) dan meresepkan antibiotik topikal (Levofloksasin 0.5%) guna menekan inflamasi intraokular serta mencegah komplikasi infeksi endoftalmitis. Meredakan nyeri pasca-bedah melalui pemberian analgetik sistemik.
Pendekatan Tindakan Bedah
Tindakan operatif merupakan satu-satunya metode definitif untuk mengembalikan posisi retina. Opsi bedah meliputi Scleral Buckling dengan memasang sabuk silikon eksternal untuk mendekatkan dinding sklera, atau Pneumatic Retinopexy menggunakan suntikan gas intraokular. Pada kasus yang kompleks, melakukan prosedur Pars Plana Vitrectomy (PPV) untuk membersihkan traksi vitreus, lanjut dengan penembakan fotokoagulasi laser di sekitar robekan dan pengisian tamponade internal berupa minyak silikon atau gas khusus.
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan Spesifik
(Sitorus et al., 2023; Ilyas & Yulianti, 2022)
Data Riwayat dan Demografi
Pengkajian identitas mendata usia pasien, mengingat insidensi meningkat pada usia lanjut atau usia muda dengan miopia ekstrem. Perawat mengeksplorasi riwayat keluhan utama secara mendalam, termasuk kronologi kemunculan tirai hitam pada lapang pandang. Menggali riwayat kesehatan dahulu terkait adanya penyakit penyerta seperti diabetes melitus, riwayat trauma benturan wajah, maupun riwayat operasi katarak sebelumnya.
Pemeriksaan Fisik Terfokus
Melakukan pemeriksaan sistem penginderaan mata lewat inspeksi respons pupil, di mana keberadaan tanda Relative Afferent Pupillary Defect (RAPD) positif menandakan kerusakan retina yang luas. Palpasi dilakukan secara hati-hati pada kelopak mata untuk merasakan ketegangan bola mata secara digital tanpa melakukan penekanan berlebih. Tetap menjalankan Pemeriksaan fisik sistem tubuh lain secara komprehensif: inspeksi pengembangan dada pada sistem pernapasan, auskultasi bising usus pada sistem pencernaan, serta pemantauan tekanan darah pada sistem kardiovaskular sebagai komponen penting kesiapan anestesi.
Pengkajian Pola Gordon
Pola persepsi kesehatan menyoroti ketidakpahaman pasien dalam membatasi aktivitas fisik berat pra-operasi. Pola kognitif-perseptual menunjukkan penurunan tajam fungsi visual secara mendadak. Pada pola aktivitas, pasien mengalami keterbatasan akibat penurunan lapang pandang yang meningkatkan risiko terjatuh. Sementara itu, pada pola koping dan konsep diri, pasien sering memperlihatkan tanda-tanda kecemasan berat, gelisah, serta perasaan tidak berdaya akibat ancaman kebutaan yang dihadapinya.
2. Diagnosis Keperawatan Utama
- Gangguan Persepsi Sensori: Visual (D.0085) berhubungan dengan gangguan penerimaan sensori, transmisi, dan/atau integrasi d.d. distorsi visual, lapang pandang menurun.
- Ansietas (D.0080) berhubungan dengan krisis situasional dan ancaman terhadap konsep diri d.d. merasa khawatir dengan akibat dari kondisi yang dihadapi, tampak gelisah.
- Risiko Cedera (D.0136) ditandai dengan faktor risiko gangguan penglihatan (penurunan ketajaman penglihatan dan lapang pandang).
- Nyeri Akut (D.0077) berhubungan dengan agen pencedera fisik (prosedur bedah intraokular) d.d. mengeluh nyeri, tampak meringis.
- Risiko Infeksi (D.0142) ditandai dengan faktor risiko efek prosedur invasif (pembedahan vitreoretina).
- Intoleransi Aktivitas (D.0056) berhubungan dengan imobilisasi terapeutik pasca-bedah d.d. mengeluh lelah, aktivitas sehari-hari dibantu.
- Gangguan Pola Tidur (D.0055) berhubungan dengan restriksi posisi tubuh pasca-operasi d.d. mengeluh sulit tidur, mengeluh tidak segar saat bangun.
- Defisit Pengetahuan (D.0111) berhubungan dengan kurang terpapar informasi d.d. menanyakan masalah yang dihadapi, menunjukkan perilaku tidak sesuai anjuran.
- Risiko Konstipasi (D.0052) ditandai dengan faktor risiko penurunan mobilitas fisik pasca-bedah dan ketakutan mengejan.
- Harga Diri Rendah Situasional (D.0087) berhubungan dengan perubahan fungsi peran akibat gangguan penglihatan d.d. mengungkapkan perasaan tidak berdaya.
3. Perencanaan Intervensi Diagnosis 1 s.d. 3
Perencanaan Diagnosis 1: Gangguan Persepsi Sensori (D.0085)
- Tujuan & Kriteria Hasil (SLKI): Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3×24 jam, diharapkan Persepsi Sensori (L.09083) membaik dengan kriteria hasil: verbalisasi melihat kilatan cahaya menurun (5), verbalisasi melihat bayangan tirai menurun (5), ketajaman penglihatan meningkat (5), lapang pandang membaik (5).
- Intervensi Keperawatan (SIKI) – Minimalisasi Rangsangan (I.08241):
- Observasi: Periksa status sensori mata dan tingkat kenyamanan visual secara berkala.
- Terapeutik: Batasi aktivitas yang membutuhkan akomodasi mata berlebih seperti membaca; berikan lingkungan dengan pencahayaan redup dan nyaman.
- Edukasi: Ajarkan teknik meminimalisasi stimulus visual eksternal dengan mengistirahatkan mata teratur.
- Kolaborasi: Kolaborasikan pemberian obat tetes mata pelumas atau persiapan pembedahan.
Perencanaan Diagnosis 2: Ansietas (D.0080)
- Tujuan & Kriteria Hasil (SLKI): Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1×24 jam, diharapkan Tingkat Ansietas (L.09093) menurun dengan kriteria hasil: verbalisasi khawatir akibat kondisi menurun (5), perilaku gelisah menurun (5), frekuensi nadi membaik (5).
- Intervensi Keperawatan (SIKI) – Reduksi Ansietas (I.09314):
- Observasi: Monitor tanda-tanda ansietas baik verbal maupun nonverbal secara berkala.
- Terapeutik: Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan; dengarkan keluhan dengan penuh perhatian.
- Edukasi: Jelaskan semua prosedur tindakan termasuk sensasi yang mungkin dialami selama pembedahan; informasikan fakta mengenai diagnosis dan prognosis secara realistis.
Perencanaan Diagnosis 3: Risiko Cedera (D.0136)
- Tujuan & Kriteria Hasil (SLKI): Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3×24 jam, diharapkan Tingkat Cedera (L.14136) menurun dengan kriteria hasil: kejadian cedera menurun (5), luka atau lecet menurun (5), ketegangan otot menurun (5).
- Intervensi Keperawatan (SIKI) – Pencegahan Cedera (I.14537):
- Observasi: Identifikasi kebutuhan keselamatan fisik pasien berdasarkan derajat penurunan tajam penglihatan saat ini.
- Terapeutik: Sediakan lingkungan kamar yang aman dan bebas dari hambatan fisik; pastikan pengaman tempat tidur (side rails) selalu terpasang erat; dekatkan bel pemanggil.
- Edukasi: Anjurkan pasien untuk selalu meminta bantuan perawat atau keluarga saat hendak melakukan mobilisasi.
4. Perencanaan Intervensi Diagnosis 4 s.d. 6
Perencanaan Diagnosis 4: Nyeri Akut (D.0077)
- Tujuan & Kriteria Hasil (SLKI): Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1×24 jam, diharapkan Tingkat Nyeri (L.08066) menurun dengan kriteria hasil: keluhan nyeri menurun (5), meringis menurun (5), sikap protektif menurun (5).
- Intervensi Keperawatan (SIKI) – Manajemen Nyeri (I.08238):
- Observasi: Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, serta skala nyeri pasca-bedah.
- Terapeutik: Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri berupa teknik relaksasi napas dalam; fasilitasi istirahat tidur yang adekuat.
- Edukasi: Jelaskan penyebab nyeri, periode timbulnya nyeri, serta faktor yang dapat memicu peningkatan nyeri mata.
- Kolaborasi: Kolaborasikan pemberian analgetik dosis tepat sesuai instruksi tim medis.
Perencanaan Diagnosis 5: Risiko Infeksi (D.0142)
- Tujuan & Kriteria Hasil (SLKI): Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3×24 jam, diharapkan Tingkat Infeksi (L.14137) menurun dengan kriteria hasil: kemerahan pada mata pasca-op menurun (5), cairan purulen tidak ada (5), demam tidak terjadi (5).
- Intervensi Keperawatan (SIKI) – Pencegahan Infeksi (I.14539):
- Observasi: Monitor tanda dan gejala infeksi lokal pada area mata yang dioperasi secara berkala.
- Terapeutik: Pertahankan teknik aseptik yang ketat saat melakukan perawatan mata dan meneteskan obat tetes mata; lakukan cuci tangan secara higienis.
- Edukasi: Ajarkan tanda-tanda infeksi mata kepada keluarga; ajarkan metode pembersihan mata memakai kasa steril secara mandiri.
- Kolaborasi: Kolaborasikan pemberian antibiotik topikal atau sistemik sesuai indikasi klinis.
Perencanaan Diagnosis 6: Intoleransi Aktivitas (D.0056)
- Tujuan & Kriteria Hasil (SLKI): Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3×24 jam, diharapkan Toleransi Aktivitas (L.05047) meningkat dengan kriteria hasil: kemudahan dalam aktivitas sehari-hari meningkat (5), keluhan lelah menurun (5), perasaan lemah menurun (5).
- Intervensi Keperawatan (SIKI) – Manajemen Energi (I.05178):
- Observasi: Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan fisik pada pasien.
- Terapeutik: Sediakan lingkungan yang tenang; fasilitasi pemenuhan kebutuhan aktivitas harian (ADL) pasien yang dibantu penuh selama periode tirah baring posisi khusus.
- Edukasi: Anjurkan tirah baring total dan kepatuhan mempertahankan posisi tengkurap (prone position) sesuai instruksi dokter spesialis mata.
5. Perencanaan Intervensi Diagnosis 7 s.d. 10
Perencanaan Diagnosis 7: Gangguan Pola Tidur (D.0055)
- Tujuan & Kriteria Hasil (SLKI): Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3×24 jam, diharapkan Pola Tidur (L.05045) membaik dengan kriteria hasil: keluhan sulit tidur menurun (5), keluhan pola tidur berubah menurun (5), keluhan istirahat tidak cukup menurun (5).
- Intervensi Keperawatan (SIKI) – Dukungan Tidur (I.05174):
- Observasi: Identifikasi faktor pengganggu tidur pasien seperti nyeri mata atau ketidaknyamanan akibat restriksi posisi kepala pasca-operasi.
- Terapeutik: Modifikasi lingkungan kamar tidur dengan mengatur pencahayaan optimal dan meminimalkan kebisingan; sesuaikan jadwal pemberian terapi obat.
- Edukasi: Jelaskan pentingnya pemenuhan waktu tidur yang cukup selama masa pemulihan pasca-bedah retina; ajarkan pengaturan bantalan penyangga kepala.
Perencanaan Diagnosis 8: Defisit Pengetahuan (D.0111)
- Tujuan & Kriteria Hasil (SLKI): Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1×24 jam, diharapkan Tingkat Pengetahuan (L.12111) meningkat dengan kriteria hasil: perilaku sesuai anjuran meningkat (5), verbalisasi kepatuhan dalam pengobatan meningkat (5), pertanyaan tentang masalah menurun (5).
- Intervensi Keperawatan (SIKI) – Edukasi Kesehatan (I.12383):
- Observasi: Identifikasi kesiapan dan kapasitas pasien serta keluarga dalam menerima informasi medis.
- Terapeutik: Sediakan materi edukasi tertulis atau media visual mengenai perawatan mata; berikan sesi tanya jawab terbuka.
- Edukasi: Jelaskan batasan aktivitas fisik pasca-bedah seperti larangan mengejan keras, membungkuk mendadak, atau mengangkat barang berat; ajarkan teknik penetesan obat mata secara higienis.
Perencanaan Diagnosis 9: Risiko Konstipasi (D.0052)
- Tujuan & Kriteria Hasil (SLKI): Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3×24 jam, diharapkan Eliminasi Fekal (L.04033) membaik dengan kriteria hasil: kontrol pengeluaran feses meningkat (5), konsistensi feses membaik lunak (5), mengejan saat defekasi menurun (5).
- Intervensi Keperawatan (SIKI) – Pencegahan Konstipasi (I.04160):
- Observasi: Monitor frekuensi defekasi, konsistensi feses, serta bising usus pasien pasca-operasi.
- Terapeutik: Fasilitasi pemberian diet tinggi serat secara konsisten; berikan asupan cairan per oral yang adekuat selama tidak ada kontraindikasi.
- Edukasi: Anjurkan pasien untuk tidak mengejan terlalu kuat saat buang air besar guna mencegah lonjakan tekanan intraokular.
- Kolaborasi: Kolaborasikan pemberian obat pencahar lunak (laxative) jika indikasi klinis terpenuhi.
Perencanaan Diagnosis 10: Harga Diri Rendah Situasional (D.0087)
- Tujuan & Kriteria Hasil (SLKI): Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3×24 jam, diharapkan Harga Diri (L.09069) meningkat dengan kriteria hasil: verbalisasi penerimaan diri meningkat (5), gambaran diri positif meningkat (5), perasaan tidak berdaya menurun (5).
- Intervensi Keperawatan (SIKI) – Promosi Koping (I.09312):
- Observasi: Identifikasi dampak perubahan tajam visual terhadap pemenuhan fungsi peran dan interaksi sosial pasien.
- Terapeutik: Diskusikan perubahan peran yang dialami secara realistis; fasilitasi identifikasi strategi koping adaptif yang bisa diterapkan.
- Edukasi: Anjurkan keterlibatan aktif keluarga dalam mendukung pemulihan psikologis; informasikan mengenai pemanfaatan alat bantu optik untuk pasien low vision.
6. Implementasi dan Evaluasi Keperawatan
Pelaksanaan Tindakan (Implementasi)
Implementasi asuhan keperawatan dilaksanakan secara sistematis merujuk pada perencanaan yang telah disusun berbasis SIKI. Fokus utama tindakan mandiri pada fase pra-bedah dititikberatkan pada pembatasan pergerakan fisik pasien guna mencegah perluasan area retina yang terlepas serta pemberian dukungan psikologis untuk menurunkan level ansietas. Pada fase pasca-bedah, perawat berfokus memantau kepatuhan pasien dalam mempertahankan posisi tengkurap (face-down position) demi optimalisasi tamponade gas intraokular, mengontrol nyeri, menjaga sterilitas area luka bedah, serta mengedukasi pasien untuk meminimalkan tindakan yang memicu peningkatan tekanan intraokular seperti membungkuk atau meneran.
Penilaian Akhir (Evaluasi)
Evaluasi asuhan keperawatan didokumentasikan secara berkala menggunakan format SOAP. Komponen Subjektif mencatat laporan pasien mengenai penurunan keluhan kilatan cahaya, nyeri yang mulai mereda, serta hilangnya rasa cemas. Komponen Objektif merangkum hasil pemeriksaan fisik berkala seperti stabilitas ketajaman visual, tidak adanya tanda infeksi, serta kemampuan pasien mempraktikkan posisi tubuh terapeutik. Asesmen dilakukan untuk menganalisis derajat pencapaian indikator keberhasilan berdasarkan kriteria hasil di SLKI. Terakhir, komponen Planning menetapkan keputusan klinis apakah rencana intervensi dihentikan karena tujuan telah tercapai, dimodifikasi, atau diteruskan sebagai bagian dari manajemen pemulangan pasien di rumah.
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Bowling, B. (2021). Kanski’s Clinical Ophthalmology: A Systematic Approach. 9th edn. Edinburgh: Elsevier.
Budiono, S., Jayanantisari, D., & Rahayu, S. (2021). Buku Ajar Ilmu Penyakit Mata. Surabaya: Airlangga University Press.
Ilyas, S., & Yulianti, S. R. (2022). Ilmu Penyakit Mata untuk Fakultas Kedokteran. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Sitorus, F. S., Satari, H. I., & Sitompul, R. (2023). Pedoman Praktis Klinis PERDAMI: Tata Laksana Kegawatdaruratan Vitreoretina. Jakarta: Pengurus Besar Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI).
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik. Jakarta: Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan. Jakarta: Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan. Jakarta: Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
Jurnal
American Academy of Ophthalmology. (2023). Retina and Vitreous: Basic Course. Ophthalmology Monographs, 45(2), 112-128. Link: aao.org/bcsc-retina-vitreous
Ang, M. et al. (2022). Progress of Retinal Detachment Management in Asian Populations. Asian Journal of Ophthalmology, 19(3), 204-215. Link: asianjo.org/article/view/2022-retina
Artini, N. P. et al. (2024). Karakteristik Klinis dan Hasil Visual Pasca-Vitrektomi Pasien Ablasio Retina. Jurnal Oftalmologi Indonesia, 12(1), 34-42. Link: joi.or.id/index.php/joi/article/view/2024-ablasio
Bhagvad, S. et al. (2025). Epidemiology and Risk Factors of Rhegmatogenous Retinal Detachment. Indian Journal of Ophthalmology, 73(2), 450-459. Link: ijo.in/article.asp?issn=0301-4738;year=2025;retina
Gariano, R. F., & Kim, C. H. (2024). Evaluation and Management of Suspected Retinal Detachment. New England Journal of Medicine, 390(8), 712-721. Link: nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMra2024
Kim, J. H. et al. (2024). Micro-changes of Macula after Rhegmatogenous Retinal Detachment Surgery. Korean Journal of Ophthalmology, 38(1), 55-64. Link: ekjo.org/journal/view.php?doi=10.3341/kjo.2024
Mayo Clinic Staff. (2025). Retinal Detachment: Symptoms and Surgical Interventions. Mayo Clinic Health Letter, 43(4), 1-6. Link: mayoclinic.org/diseases-conditions/retinal-detachment
Suardana, G. G. et al. (2023). Panduan Penatalaksanaan Bedah Vitreoretina Aktual Fasilitas Kesehatan. Medika Jurnal Kedokteran Indonesia, 49(5), 291-299. Link: mji.ui.ac.id/journal/index.php/mji/article/view/2023-vitreo

Tinggalkan Balasan