RISIKO CEDERA (D.0136)

RISIKO CEDERA (D.0136)

by

in

DIAGNOSA RISIKO CEDERA (D.0136)

A. DEFINISI

  1. PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) Beresiko mengalami bahaya atau kerusakan fisik yang menyebabkan seseorang tidak lagi sepenuhnya sehat atau berada dalam kondisi baik. Diagnosis ini berfokus pada kondisi rentan yang memungkinkan terjadinya cedera fisik akibat faktor eksternal maupun internal.
  2. NANDA International (North American Nursing Diagnosis Association) Rentan mengalami cedera fisik akibat kondisi lingkungan yang berinteraksi dengan sumber adaptif dan defensif individu, yang dapat mengganggu kesehatan. NANDA menekankan bahwa risiko ini bersifat antisipatif dan memerlukan intervensi preventif sebelum gangguan integritas terjadi.
  3. Potter & Perry Suatu kondisi di mana individu memiliki risiko mengalami bahaya fisik karena kurangnya kesadaran terhadap bahaya lingkungan atau adanya defisit sensorik-motorik. Mereka menekankan bahwa keamanan adalah kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi untuk mempertahankan kehidupan.
  4. Kozier & Erb Keadaan klinis di mana seorang individu berisiko tinggi mengalami trauma jaringan atau kerusakan fisik yang tidak disengaja. Pakar ini menyoroti bahwa risiko cedera sering kali berkaitan dengan perubahan dalam mobilitas, persepsi sensorik, dan tingkat kesadaran.
  5. World Health Organization (WHO) Risiko cedera dalam konteks keselamatan pasien dipandang sebagai kerentanan terhadap kejadian tidak diharapkan (KTD) yang timbul dari interaksi antara faktor manusia, sistem pelayanan kesehatan, dan lingkungan fisik yang tidak aman.

B. FAKTOR RISIKO

Identifikasi faktor risiko sangat krusial untuk menentukan intervensi pencegahan yang tepat. Faktor-faktor ini dikategorikan menjadi dua dimensi utama:

  1. Faktor Risiko Eksternal (Lingkungan)
  • Pemaparan terhadap agen patogen biologis.
  • Kontak dengan zat kimia toksik atau bahan berbahaya.
  • Pemaparan agen nosokomial di lingkungan fasilitas kesehatan. d) Ketidakamanan sarana transportasi.

2. Faktor Risiko Internal (Individu)

  • Gangguan Fisiologis: Ketidaknormalan profil darah, hipoksia jaringan, dan disfungsi sistem imun.
  • Gangguan Sensorik-Motorik: Perubahan sensasi, disfungsi psikomotor, dan perubahan fungsi kognitif.
  • Status Nutrisi & Psikologis: Malnutrisi dan perubahan orientasi afektif.

C. KONDISI KLINIS TERKAIT

  1. Kejang 
  2. Sinkop 
  3. Vertigo 
  4. Gangguan penglihatan
  5. Gangguan pendengaran
  6. Penyakit parkinson
  7. Hipotensi
  8. Kelainan nervus vestibularis
  9. Retardasi mental

D. LUARAN KEPERAWATAN (SLKI)

Target utama dari manajemen keperawatan adalah Tingkat Cedera Menurun (L.14136). Keberhasilan intervensi dievaluasi berdasarkan indikator berikut:

  1. Kejadian cedera klinis tidak ditemukan.
  2. Luka atau lecet akibat trauma fisik menurun/hilang.
  3. Pasien mampu mengidentifikasi bahaya di lingkungannya.

E. INTERVENSI KEPERAWATAN (SIKI)

Rencana tindakan keperawatan berfokus pada pengendalian lingkungan dan penguatan kapasitas individu:

1. Manajemen Keselamatan Lingkungan (I.14513)

Observasi:

  • Melakukan skrining kebutuhan keselamatan berdasarkan kondisi fisik dan fungsi kognitif pasien.

Terapeutik:

  • Memodifikasi lingkungan untuk meminimalkan bahaya (misalnya: pemasangan pegangan tangan/handrail, memastikan pencahayaan adekuat).

Edukasi:

  • Mengajarkan strategi mitigasi bahaya lingkungan kepada individu dan keluarga.

2. Pencegahan Cedera (I.14537)

Observasi:

  • Mengidentifikasi obat-obatan yang dapat meningkatkan risiko jatuh atau cedera (seperti sedatif atau antihipertensi).

Terapeutik:

  • Memastikan posisi tempat tidur serendah mungkin, roda terkunci, dan bel panggil dalam jangkauan. Menyediakan alas kaki antislip untuk mobilitas.

Kolaborasi:

  • Mendiskusikan dengan tim rehabilitasi mengenai alat bantu jalan yang sesuai.

F. TINJAUAN PAKAR: KEAMANAN PASIEN

Menurut pakar keperawatan klinis, keselamatan pasien (patient safety) bukan sekadar menghindari kesalahan, melainkan membangun sistem yang mencegah cedera. Penggunaan Fall Risk Assessment (seperti Skala Morse) menjadi standar operasional yang tidak terpisahkan dari diagnosis risiko cedera untuk memvalidasi tingkat kerentanan pasien secara objektif.

DAFTAR PUSTAKA

Berman, A., Snyder, S. J., & Frandsen, G. (2016). Kozier & Erb’s Fundamentals of Nursing: Concepts, Process, and Practice. New Jersey: Pearson Education.

Herdman, T. H., & Kamitsuru, S. (2021). NANDA International Nursing Diagnoses: Definitions & Classification 2021-2023. Oxford: Wiley Blackwell.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

Potter, P. A., & Perry, A. G. (2021). Fundamentals of Nursing (10th ed.). St. Louis, Missouri: Elsevier.

World Health Organization (WHO). (2021). Global Patient Safety Action Plan 2021–2030: Towards Eliminating Avoidable Harm in Health Care. Geneva: World Health Organization.