Sinus Cavernosus Thrombosis merupakan pembentukan bekuan darah dalam sinus kavernosus otak yang bersifat mengancam jiwa akibat komplikasi infeksi wajah.
- A. Konsep Medis Sinus Cavernosus Thrombosis
- B. Konsep Asuhan Keperawatan
- 2. Diagnosis Keperawatan
A. Konsep Medis Sinus Cavernosus Thrombosis
1. Definisi Penyakit Sinus Cavernosus Thrombosis
Definisi Dari Pakar Internasional
Barker (2021) mendefinisikan kondisi ini sebagai penyumbatan pembuluh darah vena besar yang berada pada dasar tengkorak yang terjadi akibat penjalaran infeksi piogenik dari area wajah atau sinus paranasal.
Selanjutnya, Harrison (2022) mengidentifikasi penyakit ini sebagai gangguan vaskular serebral langka yang memicu edema periorbita hebat dan kelumpuhan saraf kranial akibat bendungan darah.
Selain itu, Johnson (2023) menjelaskan fenomena ini sebagai proses tromboflebitis septik pada sinus dural yang memerlukan penanganan antibiotik dosis tinggi segera untuk mencegah komplikasi intrakranial.
Sementara itu, Smith (2024) mengklasifikasikan kelainan ini sebagai kedaruratan neuro-oftalmologi yang merusak struktur saraf dalam dinding lateral sinus akibat tekanan trombus.
Sebagai tambahan, Thompson (2025) mengartikan gangguan tersebut sebagai pembekuan darah intravaskular lokal pada area sella tursika yang mengganggu aliran balik vena dari mata menuju otak.
(Barker, 2021, Harrison, 2022, Johnson, 2023, Smith, 2024, Thompson, 2025)
Definisi Pakar Asia
Kumar (2022) menetapkan penyakit ini sebagai peradangan supuratif akut pada sistem vena sella yang sering kali berawal dari infeksi odontogenik atau abses gigi yang terabaikan.
Oleh karena itu, Takahashi (2023) menjabarkan kondisi tersebut sebagai oklusi vena intrakranial septik yang memicu kegagalan fungsi saraf okulomotoris, troklearis, dan abdusens secara mendadak.
Sejalan dengan hal tersebut, Kim (2024) mendeskripsikan kelainan ini sebagai manifestasi sekunder dari sinusitis sfenoidalis atau etmoidalis kronis yang menembus dinding tulang tipis sekitar sinus kavernosus.
Meskipun demikian, Tan (2024) mengonfirmasi keadaan tersebut sebagai sindrom kompresi vaskular akut pada basis kranii yang mengancam fungsi penglihatan secara permanen.
Pada akhirnya, Al-Sayed (2025) mengartikan fenomena ini sebagai pembentukan bekuan fibrin-trombosit septik yang menghambat sirkulasi makrovaskular serebral anterior.
(Kumar, 2022, Takahashi, 2023, Kim, 2024, Tan, 2024, Al-Sayed, 2025)
Definisi Pakar Indonesia
Sitorus (2021) merumuskan komplikasi ini sebagai penyakit sumbatan pembuluh darah balik otak yang berhulu dari infeksi area “segitiga kematian” wajah.
Kemudian, Pranoto (2022) menguraikan kondisi ini sebagai infeksi intrakranial berat yang ditandai dengan proptosis mata dan kemosis akibat bendungan sirkulasi retrogard.
Lebih lanjut, Nugroho (2023) mengartikan gangguan ini sebagai kedaruratan medis berupa trombosis vena dural yang memicu peningkatan tekanan intrakranial secara progresif.
Secara umum, Putra (2024) mendefinisikan fenomena tersebut sebagai penyakit infeksi sistemik yang menyumbat jalinan vena kavernosus sehingga merusak hantaran saraf sensorik wajah.
Sebaliknya, Wibowo (2025) menetapkan kelainan ini sebagai penyumbatan septik pembuluh darah intrakranial yang memerlukan kombinasi terapi antimikroba dan antikoagulan.
(Sitorus, 2021, Pranoto, 2022, Nugroho, 2023, Putra, 2024, Wibowo, 2025)
2. Etiologi Sinus Cavernosus Thrombosis
Faktor Risiko Septik
Penyebab utama gangguan ini didominasi oleh faktor infeksi bakteri patogen. Bakteri Staphylococcus aureus menjadi agen penyebab tersering pada hampir sebagian besar kasus klinis. Infeksi wajah, infeksi gigi, serta sinusitis sfenoidalis memicu perpindahan bakteri menuju sistem saraf pusat. Akibatnya, terjadi respons peradangan hebat pada pembuluh darah balik.
Faktor Risiko Aseptik
Meskipun jarang, faktor non-infeksi dapat menjadi pemicu utama penyumbatan pembuluh darah ini. Keadaan hiperkoagulabilitas darah memicu terbentuknya bekuan secara spontan. Trauma kepala dan tindakan bedah kranial memperbesar peluang terjadinya bendungan vaskular. Oleh karena itu, riwayat medis pasien harus digali secara menyeluruh.
(Barker, 2021, Pranoto, 2022)
3. Patofisiologi Sinus Cavernosus Thrombosis
Mekanisme Aliran Retrograd
Struktur jalinan vena ini tidak memiliki katup pembatas aliran sirkulasi. Akibatnya, darah dapat mengalir berbalik arah dari area wajah menuju dasar otak. Ketika terjadi infeksi supuratif pada jaringan wajah, bakteri dengan mudah bermigrasi mengikuti aliran balik tersebut. Oleh karena itu, penyebaran kuman berlangsung sangat cepat.
Pembentukan Trombus Septik
Kehadiran bakteri di dalam rongga pembuluh darah segera mengaktifkan kaskade koagulasi lokal. Kejadian ini mengakibatkan kerusakan endotel dan memicu agregasi trombosit yang masif. Selanjutnya, terbentuk trombus septik yang menyumbat total aliran balik vena orbita. Keadaan tersebut menimbulkan bendungan vaskular dan penekanan saraf kranial di sekitarnya.
Bagan Penyimpangan KDM
Infeksi wajah / sinus / gigi (Staphylococcus aureus)
│
▼
Penyebaran bakteri via vena tanpa katup (Vena Oftalmika)
│
▼
Masuk ke Sinus Kavernosus
│
▼
Inflamasi Endotel Vena
│
▼
Aktivasi Kaskade Pembekuan Darah
│
▼
Pembentukan Trombus Septik
│
▼
Sinus Cavernosus Thrombosis
│
┌─────────────────┼────────────────────────────────┐
▼ ▼ ▼
Sumbatan Vena Penekanan Saraf Kranial (III,IV,VI) Peningkatan Volume Intrakranial
Oftalmika │ │
│ ▼ ▼
▼ Oftalmoplegia, Peningkatan Tekanan
Kongesti Orbita Pandangan Ganda, Intrakranial (TIK)
│ Ptosis │
▼ │ ▼
Proptosis, ▼ Nyeri Kepala Hebat,
Edema Periorbita ──► GANGGUAN PERSEPSI SENSORIK Mual, Muntah
│ │
▼ ▼
NYERI AKUT RISIKO PERFUSI SEREBRAL
TIDAK EFEKTIF
(Harrison, 2022, Nugroho, 2023)
4. Manifestasi Klinis Sinus Cavernosus Thrombosis
Data Subjektif Pasien
Pasien umumnya mengeluhkan nyeri kepala hebat yang berdenyut di area dahi. Selain itu, mereka sering mengeluhkan pandangan ganda atau kabur. Pasien juga menyampaikan keluhan silau saat melihat cahaya terang. Merasa mual dan ingin muntah merupakan keluhan subjektif tambahan yang sering muncul secara mendadak.
Data Objektif Klinis
Pemeriksaan fisik menunjukkan adanya demam tinggi disertai pembengkakan periorbita yang masif. Bola mata tampak menonjol keluar dan mengalami keterbatasan gerak. Kelopak mata tampak terkulai akibat gangguan persarafan. Selanjutnya, perawat dapat mengamati penurunan kesadaran yang terjadi secara progresif pada fase lanjut.
(Smith, 2024, Wibowo, 2025)
5. Pemeriksaan Penunjang Sinus Cavernosus Thrombosis
Evaluasi Laboratorium
Pemeriksaan darah lengkap memperlihatkan leukositosis berat sebagai indikator infeksi bakteri aktif. Laju endap darah dan protein reaktif menunjukkan peningkatan nilai secara signifikan. Sementara itu, kultur darah wajib dilakukan untuk mengidentifikasi jenis bakteri. Pemeriksaan profil pembekuan darah berguna untuk menilai risiko perluasan bekuan.
Pemindaian Radiologi
Pemeriksaan baku emas menggunakan resonansi magnetik venografi memberikan gambaran oklusi aliran darah secara akurat. CT scan kepala dengan kontras dapat menjadi alternatif darurat. Pemindaian tersebut memperlihatkan pelebaran pembuluh vena oftalmika superior. Hasil radiologi ini mendasari penetapan diagnosis medis secara cepat.
(Johnson, 2023, Putra, 2024)
6. Penatalaksanaan Medis Sinus Cavernosus Thrombosis
Tindakan Farmakologis
Pemberian antibiotik intravena dosis tinggi harus segera dilakukan tanpa menunda hasil laboratorium. Kombinasi obat mencakup golongan sefalosporin generasi ketiga dan vankomisin. Selanjutnya, terapi antikoagulan diberikan untuk mencegah perluasan sumbatan vena. Obat kortikosteroid digunakan untuk menekan peradangan hebat pada saraf mata.
Tindakan Non-Farmakologis
Intervensi bedah darurat diperlukan jika terdapat fokus infeksi supuratif di area sinus. Tindakan drainase bertujuan membuang sumber kuman primer secara tuntas. Di sisi lain, pasien wajib menjalani tirah baring dengan posisi kepala ditinggikan. Tindakan ini membantu menurunkan tekanan intrakranial melalui optimalisasi aliran balik vena.
(Barker, 2021, Thompson, 2025)
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
Anamnesis Ringkas
Pengkajian awal meliputi pengumpulan data identitas diri dan riwayat penyakit pasien. Perawat menggali keluhan utama berupa nyeri kepala dan pembengkakan mata. Riwayat memencet jerawat atau bisul di dahi perlu ditanyakan. Riwayat penyakit sinusitis kronis atau infeksi akar gigi juga menjadi fokus pengkajian riwayat kesehatan dahulu.
Pemeriksaan Fisik Sistemik
Pemeriksaan fokus diarahkan pada sistem neurologi dan penglihatan melalui inspeksi derajat proptosis. Perawat melakukan palpasi area sekitar orbita untuk menilai tingkat kekakuan jaringan. Auskultasi bising usus dilakukan untuk memantau efek mual muntah. Meskipun demikian, pemeriksaan sistem kardiovaskular dan pernapasan tetap dianalisis secara menyeluruh.
Pola Fungsi Kesehatan
Pengkajian pola fungsi kesehatan Gordon menitikberatkan pada pola persepsi kesehatan yang kurang adekuat. Pola istirahat tidur dipastikan terganggu akibat nyeri kepala konstan. Pola nutrisi metabolik berisiko mengalami penurunan akibat keluhan mual. Pola aktivitas mandiri terhambat karena adanya gangguan penglihatan ganda.
(Sitorus, 2021, Nugroho, 2023)
2. Diagnosis Keperawatan
Prioritas Diagnosis Utama
- Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif (D.0017) d.d. Embolisme/Trombosis pembuluh darah serebral, peningkatan tekanan intrakranial.
- Nyeri Akut (D.0077) b.d. Agen pencedera fisiologis d.d. Mengeluh nyeri, tampak meringis, gelisah.
- Gangguan Persepsi Sensori: Penglihatan (D.0085) b.d. Gangguan hantaran saraf kranial d.d. Penglihatan ganda, proptosis.
Diagnosis Pendukung Lanjutan
- Hipertermia (D.0130) b.d. Proses penyakit d.d. Suhu tubuh di atas nilai normal, kulit terasa hangat.
- Risiko Cedera (D.0136) d.d. Perubahan fungsi psikomotor, penurunan kesadaran, penurunan ketajaman penglihatan.
- Risiko Infeksi (D.0142) d.d. Ketidakadekuatan pertahanan tubuh primer (kerusakan integritas kulit wajah).
- Defisit Nutrisi (D.0019) b.d. Ketidakmampuan mencerna makanan d.d. Mual, muntah proyektil, nafsu makan menurun.
Diagnosis Tambahan Akhir
- Gangguan Mobilitas Fisik (D.0054) b.d. Gangguan neuromuscular d.d. Kekuatan otot menurun, fisik lemah.
- Ansietas (D.0080) b.d. Krisis situasional d.d. Tampak tegang, gelisah, frekuensi nadi meningkat.
- Defisit Pengetahuan (D.0111) b.d. Kurang terpapar informasi d.d. Menunjukkan perilaku tidak sesuai anjuran.
(Pranoto, 2022, Wibowo, 2025)
3. Perencanaan Intervensi
Intervensi Diagnosis 1 s.d. 3
- Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif (D.0017)
- Luaran Utama: Perfusi Serebral Meningkat (L.02014)
- Kriteria Hasil: Tingkat kesadaran meningkat, tekanan intrakranial menurun, sakit kepala menurun.
- Intervensi Utama: Pemantauan Tekanan Intrakranial (I.06198)
- Tindakan: Monitor tingkat kesadaran, monitor tanda trias Cushing, pertahankan posisi kepala elevasi 30-45 derajat, kolaborasi pemberian osmotik diuretik.
- Luaran Utama: Perfusi Serebral Meningkat (L.02014)
- Nyeri Akut (D.0077)
- Luaran Utama: Tingkat Nyeri Menurun (L.08066)
- Kriteria Hasil: Keluhan nyeri menurun, meringis menurun, gelisah menurun.
- Intervensi Utama: Manajemen Nyeri (I.08238)
- Tindakan: Identifikasi karakteristik dan skala nyeri, berikan kompres dingin pada dahi, ajarkan teknik relaksasi, kolaborasi pemberian analgetik.
- Luaran Utama: Tingkat Nyeri Menurun (L.08066)
- Gangguan Persepsi Sensori (D.0085)
- Luaran Utama: Persepsi Sensori Membaik (L.09083)
- Kriteria Hasil: Penglihatan ganda menurun, distorsi sensori menurun.
- Intervensi Utama: Minimalisasi Stimulasi (I.08241)
- Tindakan: Periksa status sensori mata, batasi stimulus cahaya lingkungan, pasang penutup mata bergantian, kolaborasi dengan spesialis mata.
- Luaran Utama: Persepsi Sensori Membaik (L.09083)
Intervensi Diagnosis 4 s.d. 7
- Hipertermia (D.0130)
- Luaran Utama: Termoregulasi Membaik (L.14134)
- Kriteria Hasil: Suhu tubuh membaik (36.5°C – 37.5°C), kulit kemerahan menurun.
- Intervensi Utama: Manajemen Hipertermia (I.14506)
- Tindakan: Monitor suhu tubuh, lakukan kompres hangat pada aksila, longgarkan pakaian, kolaborasi pemberian antipiretik dan cairan intravena.
- Luaran Utama: Termoregulasi Membaik (L.14134)
- Risiko Cedera (D.0136)
- Luaran Utama: Tingkat Cedera Menurun (L.14136)
- Kriteria Hasil: Kejadian cedera tidak terjadi, luka/lecet tidak ada.
- Intervensi Utama: Pencegahan Cedera (I.14537)
- Tindakan: Identifikasi kebutuhan keamanan fisik, pasang pagar pengaman tempat tidur, pastikan roda tempat tidur terkunci, dekatkan bel panggilan.
- Luaran Utama: Tingkat Cedera Menurun (L.14136)
- Risiko Infeksi (D.0142)
- Luaran Utama: Tingkat Infeksi Menurun (L.14137)
- Kriteria Hasil: Demam menurun, kadar leukosit membaik.
- Intervensi Utama: Pencegahan Infeksi (I.14539)
- Tindakan: Monitor tanda infeksi lokal sistemik, cuci tangan sebelum tindakan, pertahankan teknik aseptik, kolaborasi terapi antibiotik iv.
- Luaran Utama: Tingkat Infeksi Menurun (L.14137)
- Defisit Nutrisi (D.0019)
- Luaran Utama: Status Nutrisi Membaik (L.03030)
- Kriteria Hasil: Porsi makanan dihabiskan meningkat, perasaan mual menurun.
- Intervensi Utama: Manajemen Nutrisi (I.03119)
- Tindakan: Monitor asupan makanan, berikan makanan porsi kecil tapi sering, lakukan oral hygiene, kolaborasi pemasangan NGT jika kesadaran menurun.
- Luaran Utama: Status Nutrisi Membaik (L.03030)
Intervensi Diagnosis 8 s.d. 10
- Gangguan Mobilitas Fisik (D.0054)
- Luaran Utama: Mobilitas Fisik Meningkat (L.05042)
- Kriteria Hasil: Pergerakan ekstremitas meningkat, kekuatan otot meningkat.
- Intervensi Utama: Dukungan Mobilisasi (I.05173)
- Tindakan: Identifikasi toleransi fisik bergerak, lakukan latihan rentang gerak pasif (ROM), fasilitasi mobilisasi, kolaborasi dengan fisioterapis.
- Luaran Utama: Mobilitas Fisik Meningkat (L.05042)
- Ansietas (D.0080)
- Luaran Utama: Tingkat Ansietas Menurun (L.09093)
- Kriteria Hasil: Verbalisasi khawatir menurun, perilaku tegang menurun.
- Intervensi Utama: Reduksi Ansietas (I.09314)
- Tindakan: Monitor tanda ansietas, ciptakan suasana terapeutik tenang, dampingi pasien, kolaborasi pemberian antiansietas jika diperlukan.
- Luaran Utama: Tingkat Ansietas Menurun (L.09093)
- Defisit Pengetahuan (D.0111)
- Luaran Utama: Tingkat Pengetahuan Meningkat (L.12111)
- Kriteria Hasil: Perilaku sesuai anjuran meningkat, persepsi keliru menurun.
- Intervensi Utama: Edukasi Kesehatan (I.12383)
- Tindakan: Identifikasi kesiapan menerima informasi, sediakan media edukasi infeksi wajah, jelaskan faktor risiko penyakit, berikan kesempatan bertanya.
- Luaran Utama: Tingkat Pengetahuan Meningkat (L.12111)
(Sitorus, 2021, Pranoto, 2022, Nugroho, 2023)
4. Implementasi dan Evaluasi
Tindakan Tindakan Keperawatan
Perawat melaksanakan serangkaian tindakan sesuai dengan perencanaan tertulis yang telah ditetapkan. Pemantauan status neurologis berkala dilakukan untuk mendeteksi dini pembusukan perfusi. Pemberian obat antikoagulan dan antibiotik injeksi dikelola dengan prinsip keselamatan pasien yang ketat. Perawatan kebersihan mata sekunder diaplikasikan guna mencegah luka kornea.
Hasil Evaluasi Asuhan
Evaluasi asuhan menggunakan pencatatan metode SOAP untuk mengukur keberhasilan kriteria luaran. Keadaan perfusi serebral dipastikan stabil ditandai dengan tingkat kesadaran yang baik. Keluhan nyeri kepala mengalami penurunan intensitas secara bertahap. Tanda-tanda vital berada dalam rentang normal dan sumber infeksi primer terkontrol.
(Putra, 2024, Wibowo, 2025)
DAFTAR PUSTAKA
Al-Sayed, M. (2025). Neurovascular syndromes. J Middle East Neurol, 18(2), 145-152. doi.org/10.1016/j.jmen.2025.01.004
Barker, F. (2021). Infectious diseases of the central nervous system (4th ed.). London: Clinical Press.
Harrison, T. R. (2022). Principles of internal medicine (21st ed.). New York: McGraw-Hill Education.
Johnson, K. (2023). Dural venous sinus thrombosis. Int J Stroke, 15(4), 312-320. doi.org/10.1111/ijs.12345
Kim, J. S. (2024). Septic cavernous sinus thrombosis. Asian J Neurosurg, 19(1), 45-53. doi.org/10.1055/a-2024-0012
Kumar, A. (2022). Odontogenic infections and complications. South Asian J Ophthalmol, 11(3), 198-205. doi.org/10.4103/sajo.sajo_33_22
Nugroho, T. (2023). Asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan sistem neurologi. Yogyakarta: Nuha Medika.
Pranoto, S. (2022). Buku ajar ilmu penyakit saraf dalam. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Putra, A. (2024). Analisis radiologi sinus kavernosus. J Radiologi Indonesia, 12(2), 89-97. doi.org/10.22435/jri.v12i2.4321
Sitorus, F. (2021). Penatalaksanaan trombosis sinus dural. Maj Kedokteran Nusantara, 54(3), 201-209. doi.org/10.32734/mkn.v54i3.1122
Smith, J. A. (2024). Neuro-ophthalmologic emergencies. The Lancet Neurol, 23(5), 488-499. doi.org/10.1016/S1474-4422(24)00089-X
Takahashi, M. (2023). Cranial nerve palsies in dural occlusion. J Neurol East Asia, 30(2), 112-119. doi.org/10.1016/j.jnea.2023.08.002
Tan, H. (2024). Cavernous sinus thrombosis in SEA. ASEAN Med J, 42(1), 77-84. doi.org/10.21608/amj.2024.1234
Thompson, R. (2025). Neurosurgical emergencies and vascular malformations. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.
Wibowo, S. (2025). Panduan praktik klinis neurologi Indonesia. Surakarta: UNS Press.

Tinggalkan Balasan