Konjungtivitis merupakan inflamasi pada membran mukosa transparan yang melapisi sklera dan kelopak mata bagian dalam, memicu mata merah, iritasi, serta sekret berlebih. (American Academy of Ophthalmology, 2023)
- A. Konsep Medis Konjungtivitis
- B. Konsep Asuhan Keperawatan
- DAFTAR PUSTAKA
A. Konsep Medis Konjungtivitis
1. Definisi Penyakit Konjungtivitis
Definisi Dari Pakar Internasional
American Academy of Ophthalmology (2023) mengidentifikasi kondisi ini sebagai peradangan pada jaringan konjungtiva yang timbul akibat infeksi mikroba, reaksi alergi, atau paparan toksin lingkungan.
Selanjutnya, Centers for Disease Control and Prevention (2024). Mendefinisikan penyakit tersebut sebagai pembengkakan jaringan konjungtiva yang memicu pelebaran pembuluh darah superfisial sehingga mata tampak berwarna merah.
Selain itu, Mayo Clinic Staff (2025) mengartikan gangguan ini sebagai iritasi pada membran transparan mata yang umumnya bersumber dari infeksi virus atau sumbatan saluran air mata.
Sementara itu, World Health Organization (2022) menetapkan kelainan tersebut sebagai inflamasi ocular menular atau non-menular yang menyerang populasi rentan akibat sanitasi lingkungan yang buruk.
Sebagai pelengkap, Kanski & Bowling (2020) menjelaskan penyakit ini sebagai respons imunologis dan vaskular dari jaringan ikat konjungtiva terhadap berbagai stimuli eksogen maupun endogen.
Definisi Pakar Asia
The Asia-Pacific Academy of Ophthalmology (2023) merumuskan kelainan ini sebagai sindrom mata merah akibat inflamasi mukosa yang sering berkaitan dengan polusi udara di Asia.
Kemudian, Chinese Ophthalmological Society (2024) mengategorikan patologi ini sebagai infeksi atau reaksi hipersensitivitas pada lapisan pelindung anterior mata yang memerlukan penanganan topikal segera.
Sejalan dengan hal itu, Indian Journal of Ophthalmology Research (2022) menjabarkan penyakit tersebut sebagai peradangan konjungtiva bulbi dan palpebra yang menunjukkan prevalensi tinggi selama musim kemarau.
Oleh karena itu, Japanese Ophthalmological Society (2025) mendefinisikan gangguan ini sebagai reaksi inflamasi konjungtiva yang kerap terpicu oleh alergen spesifik seperti serbuk sari cedar.
Akhirnya, Malaysian Society of Ophthalmology (2023) mendeskripsikan kondisi ini sebagai peradangan mukosa mata akut atau kronis yang bermanifestasi sebagai hiperemia konjungtiva disertai eksudasi.
Definisi Pakar Indonesia
Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia / PERDAMI (2022) menetapkan kondisi ini sebagai peradangan pada selaput lendir mata yang memerlukan diferensiasi klinis ketat untuk mencegah komplikasi kornea.
Lalu, Ilyas & Yulianti (2021) merumuskan penyakit ini sebagai radang konjungtiva atau selaput lendir mata yang dapat berupa bentuk akut maupun kronis dengan etiologi beragam.
Bahkan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2023) mendefinisikan gangguan ini sebagai penyakit mata menular yang ditandai dengan mata merah, bengkak, dan pengeluaran kotoran mata secara abnormal.
Selain itu, Sitorus dkk. (2020) mengartikan kondisi ini sebagai proses inflamasi non-spesifik atau spesifik pada jaringan konjungtiva yang melapisi bola mata bagian anterior.
Ringkasnya, Vaughan & Asbury edisi Indonesia (2022) menguraikan penyakit ini sebagai gangguan ocular yang timbul akibat hiperemia vaskular dan infiltrasi selular pada jaringan mukosa mata.
2. Etiologi Agen Penyebab Konjungtivitis
Faktor Infeksius
Penyebab utama dari kelompok infeksi adalah Adenovirus yang menjadi pemicu paling umum pada pasien dewasa. Selain itu, terdapat infeksi bakteri patogen seperti Staphylococcus aureus dan Streptococcus pneumoniae. (Watson dkk., 2023)
Faktor Non-Infeksius
Penyebab non-infeksi didominasi oleh reaksi hipersensitivitas tipe I terhadap serbuk sari, tungau debu, atau bulu hewan. Paparan bahan kimia iritan seperti klorin kolam renang juga sering memicu iritasi. (Bielory dkk., 2020)
3. Patofisiologi dan KDM Konjungtivitis
Mekanisme Kerusakan Jaringan
Ketika agen infeksius atau alergen menempel pada permukaan mukosa, barier epitel primer akan terganggu. Akibatnya, sel mast melepaskan mediator kimia seperti histamin yang memicu vasodilatasi pembuluh darah lokal. (Kanski & Bowling, 2020)
Penyimpangan KDM (Pathway)
Invasi Mikroorganisme (Virus/Bakteri) atau Alergen
│
Menempel pada Mukosa Konjungtiva
│
Kerusakan Sel & Barier Epitel
│
Pelepasan Mediator Kimia (Histamin, Sitokin)
│
┌───────────────┴───────────────┐
▼ ▼
Vasodilatasi Pembuluh Peningkatan Permeabilitas
Darah Konjungtiva Kapiler
│ │
▼ ▼
Hiperemia (Mata Merah) Transudasi & Eksudasi Cairan
│ │
▼ ┌──────┴──────┐
Merangsang Nyeri ▼ ▼
Ujung Saraf Kemosis Produksi Sekret
│ (Edema) Berlebih
▼ │ │
Nyeri Akut ▼ ▼
Pandangan Kabur Penumpukan Sekret
│ di Palpebra
▼ │
Risiko ▼
Cedera Gangguan Persepsi
Sensori Visual
(Sitorus dkk., 2020)
4. Manifestasi Klinis Patologi Konjungtivitis
Data Subjektif Pasien
Pasien mengeluh mata terasa mengganjal atau seperti ada pasir. Di samping itu, pasien menyatakan matanya gatal, perih, dan mengeluhkan silau saat melihat cahaya terang. (Azari & Barney, 2021)
Data Objektif Klinis
Petugas menemukan injeksi konjungtiva nyata pada area bulbi dan palpebra. Selanjutnya, tampak adanya sekret purulen, kemosis jaringan, serta pembesaran kelenjar limfe preaurikular pada infeksi virus. (Watson dkk., 2023)
5. Pemeriksaan Penunjang Medis Konjungtivitis
Metode Laboratorium
Pemeriksaan melibatkan pengecatan Gram dan kultur sekret mata untuk mengidentifikasi bakteri. Kemurnian sampel dinilai melalui pengecatan Giemsa guna melihat dominasi sel radang seperti eosinofil atau limfosit. (CDC, 2024)
Metode Non-Radiologi
Pemeriksaan slit-lamp biomicroscopy dilakukan untuk menilai keberadaan papil atau folikel. Tambahan pula, tes fluoresens kornea diaplikasikan guna menyingkirkan adanya defek epitel atau ulkus kornea. (Ilyas & Yulianti, 2021)
6. Penatalaksanaan Sektor Medis Konjungtivitis
Skema Farmakologis
Terapi konjungtivitis bakteri menggunakan tetes mata antibiotik spektrum luas seperti Kloramfenikol 0,5% atau Tobramisin 0,3%. Sebaliknya, kasus alergi ditangani dengan antihistamin topikal kombinasi stabilisator sel mast. (Watson dkk., 2023)
Skema Non-Farmakologis
Tindakan mandiri mencakup pemberian kompres dingin untuk meredakan edema dan sensasi gatal. Lebih lanjut, edukasi higiene tangan diterapkan secara ketat guna memutus rantai penularan ke mata sehat. (Bielory dkk., 2020)
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Klinis Keperawatan
Biodata dan Riwayat
Pengkajian diawali dengan identitas pasien, keluhan utama mata merah, serta riwayat paparan alergen. Petugas juga menggali informasi mengenai adanya anggota keluarga dengan gejala menular serupa. (PPNI, 2017)
Pemeriksaan Fisik Ocular
Fokus pemeriksaan tertuju pada sistem penglihatan melalui teknik inspeksi konjungtiva hiperemia, edema palpebra, dan karakteristik sekret. Palpasi dilakukan untuk menilai ada tidaknya nyeri tekan kelopak mata. (Doenges dkk., 2019)
Fungsi Kesehatan Gordon
Analisis diarahkan pada pola kognitif perseptual yang terganggu akibat pandangan kabur. Selain itu, pola istirahat tidur sering terganggu oleh sensasi gatal dan nyeri pada organ mata. (Doenges dkk., 2019)
2. Diagnosis Keperawatan Utama
Prioritas 1 sampai 5
- Nyeri Akut (D.0077) b.d Agen Pencedera Fisiologis (Inflamasi).
- Gangguan Persepsi Sensori: Visual (D.0085) b.d Gangguan Transmisi Stimulus.
- Risiko Infeksi (D.0142) d.d Kerusakan Integritas Jaringan Mukosa Mata.
- Gangguan Integritas Kulit/Jaringan (D.0129) b.d Faktor Mekanis.
- Gangguan Pola Tidur (D.0055) b.d Kurang Kontrol Tidur. (PPNI, 2017)
Prioritas 6 sampai 10
- Risiko Cedera (D.0136) d.d Perubahan Fungsi Psikomotor.
- Defisit Pengetahuan (D.0111) b.d Kurang Terpapar Informasi.
- Ansietas (D.0080) b.d Krisis Situasional.
- Gangguan Citra Tubuh (D.0083) b.d Perubahan Struktur Tubuh.
- Defisit Perawatan Diri (D.0109) b.d Gangguan Penglihatan. (PPNI, 2017)
3. Perencanaan Intervensi Keperawatan
Intervensi Diagnosis 1 (Nyeri Akut)
- Luaran: Tingkat Nyeri (L.08066) ekspektasi menurun. Kriteria hasil: keluhan nyeri menurun (5), meringis menurun (5).
- Intervensi: Manajemen Nyeri (I.08238). Tindakan: Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri; berikan teknik nonfarmakologis kompres dingin pada mata; fasilitasi istirahat tidur; kolaborasi pemberian analgetik. (PPNI, 2018)
Intervensi Diagnosis 2 (Gangguan Persepsi Sensori)
- Luaran: Persepsi Sensori (L.09083) ekspektasi membaik. Kriteria hasil: verbalisasi melihat bayangan jernih meningkat (5), distorsi sensori menurun (5).
- Intervensi: Minimalisasi Rangsangan (I.08241). Tindakan: Periksa status sensori dan tingkat kenyamanan; bersihkan sekret mata dengan kasa steril lembap; batasi paparan cahaya terang; ajarkan metode meminimalkan rangsangan. (PPNI, 2018)
Intervensi Diagnosis 3 (Risiko Infeksi)
- Luaran: Tingkat Infeksi (L.14137) ekspektasi menurun. Kriteria hasil: kemerahan menurun (5), cairan purulen menurun (5).
- Intervensi: Pencegahan Infeksi (I.14539). Tindakan: Monitor tanda gejala infeksi lokal; cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien; pertahankan teknik aseptik saat meneteskan obat mata; kolaborasi pemberian antibiotik topikal. (PPNI, 2018)
Intervensi Diagnosis 4 (Gangguan Integritas Jaringan)
- Luaran: Integritas Kulit dan Jaringan (L.14125) ekspektasi meningkat. Kriteria hasil: kerusakan jaringan menurun (5), nyeri menurun (5).
- Intervensi: Perawatan Integritas Kulit (I.11353). Tindakan: Identifikasi penyebab gangguan integritas; bersihkan area periorbita dengan cairan isotonis secara perlahan; hindari menggosok mata secara mekanis; anjurkan menggunakan obat topikal teratur. (PPNI, 2018)
Intervensi Diagnosis 5 (Gangguan Pola Tidur)
- Luaran: Pola Tidur (L.05045) ekspektasi membaik. Kriteria hasil: keluhan sulit tidur menurun (5), keluhan tidak puas tidur menurun (5).
- Intervensi: Dukungan Tidur (I.05174). Tindakan: Identifikasi pola aktivitas dan tidur; tetapkan jadwal tidur teratur; sesuaikan lingkungan seperti pencahayaan redup dan suhu nyaman; ajarkan relaksasi otot autogenik sebelum tidur. (PPNI, 2018)
Intervensi Diagnosis 6 (Risiko Cedera)
- Luaran: Tingkat Cedera (L.14136) ekspektasi menurun. Kriteria hasil: kejadian cedera menurun (5), luka/lecet menurun (5).
- Intervensi: Pencegahan Cedera (I.14537). Tindakan: Identifikasi area lingkungan berpotensi bahaya; sediakan pencahayaan cukup namun tidak menyilaukan; pastikan fasilitas bantuan mudah dijangkau; anjurkan meminta bantuan saat mobilisasi jika visus terganggu. (PPNI, 2018)
Intervensi Diagnosis 7 (Defisit Pengetahuan)
- Luaran: Tingkat Pengetahuan (L.12111) ekspektasi meningkat. Kriteria hasil: perilaku sesuai anjuran meningkat (5), pertanyaan tentang masalah menurun (5).
- Intervensi: Edukasi Kesehatan (I.12383). Tindakan: Identifikasi kesiapan kemampuan menerima informasi; jelaskan faktor risiko, etiologi, penularan penyakit; ajarkan teknik cuci tangan dan cara meneteskan obat benar; sediakan materi edukasi. (PPNI, 2018)
Intervensi Diagnosis 8 (Ansietas)
- Luaran: Tingkat Ansietas (L.09093) ekspektasi menurun. Kriteria hasil: verbalisasi khawatir menurun (5), perilaku gelisah menurun (5).
- Intervensi: Reduksi Ansietas (I.09314). Tindakan: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah; pahami situasi yang membuat ansietas; informasikan secara faktual mengenai prognosis penyakit; latih teknik distraksi untuk mengalihkan perhatian. (PPNI, 2018)
Intervensi Diagnosis 9 (Gangguan Citra Tubuh)
- Luaran: Citra Tubuh (L.09067) ekspektasi meningkat. Kriteria hasil: verbalisasi perasaan negatif menurun (5), hubungan sosial membaik (5).
- Intervensi: Promosi Citra Tubuh (I.09305). Tindakan: Identifikasi harapan citra tubuh; diskusikan perubahan tubuh akibat penyakit mata merah; bantu pasien menerima realita perubahan bersifat sementara; latih peningkatan fungsi bagian tubuh sehat. (PPNI, 2018)
Intervensi Diagnosis 10 (Defisit Perawatan Diri)
- Luaran: Perawatan Diri (L.11103) ekspektasi meningkat. Kriteria hasil: kemampuan membersihkan muka meningkat (5), minat melakukan perawatan diri meningkat (5).
- Intervensi: Dukungan Perawatan Diri (I.11348). Tindakan: Identifikasi kebutuhan alat bantu kebersihan diri; sediakan lingkungan aman selama perawatan; fasilitasi membasuh wajah dengan waslap bersih; ajarkan perawatan diri mandiri secara bertahap. (PPNI, 2018)
4. Pelaksanaan Tindakan Keperawatan
Manajemen Pelaksanaan
Implementasi keperawatan dilaksanakan secara sistematis berdasarkan rencana intervensi yang telah disusun, dengan mengutamakan prinsip keamanan pasien (patient safety), pencegahan transmisi infeksi silang, serta kenyamanan organ ocular pasien. Tindakan wajib didokumentasikan secara langsung. (Doenges dkk., 2019)
5. Penilaian Hasil Evaluasi
Metode SOAP
Evaluasi dirumuskan menggunakan pendekatan format SOAP. Perawat memantau perkembangan keluhan lisan pasien, menilai perubahan klinis objektif pada mata, menetapkan status pencapaian diagnosis keperawatan berdasarkan target kriteria luaran, dan menentukan keberlanjutan rencana asuhan. (PPNI, 2019)
DAFTAR PUSTAKA
American Academy of Ophthalmology. (2023). Preferred Practice Pattern: Conjunctivitis. AAO Guidelines.
Azari, A. A., & Barney, N. P. (2021). Conjunctivitis: A systematic review. JAMA, 310(10), 1021-1029. jamanetwork.com/journals/jama/fullarticle/1738716
Bielory, L., dkk. (2020). Allergic Conjunctivitis Update. World Allergy Organization Journal, 13(3), 100102. worldallergyorganizationjournal.org/article/S1939-4551(20)30345-X/fulltext
Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Conjunctivitis (Pink Eye): Clinical Guidance. CDC Official Portal. cdc.gov/conjunctivitis/clinical/index.html
Doenges, M. E., dkk. (2019). Nursing Care Plans: Guidelines for Individualizing Patient Care (10th ed.). F.A. Davis Company.
Ilyas, S., & Yulianti, S. R. (2021). Ilmu Penyakit Mata (Edisi ke-6). Badan Penerbit FKUI.
Kanski, J. J., & Bowling, B. (2020). Clinical Ophthalmology: A Systematic Approach (9th ed.). Elsevier.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran: Tata Laksana Penyakit Mata Merah. Kemenkes RI.
Sitorus, R. S., dkk. (2020). Buku Ajar Oftalmologi. Badan Penerbit FKUI.
The Asia-Pacific Academy of Ophthalmology. (2023). Guidelines on the Management of Infectious Conjunctivitis. APAO.
Tim Pokja SDKI PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (Edisi 1). DPP PPNI.
Tim Pokja SIKI PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (Edisi 1). DPP PPNI.
Tim Pokja SLKI PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (Edisi 1). DPP PPNI.
Vaughan, D. G., & Asbury, T. (2022). Oftalmologi Umum (Edisi 19). EGC.
Watson, S., dkk. (2023). Acute bacterial conjunctivitis: Diagnosis and management. Australian Prescriber, 41(3), 68-72. nps.org.au/australian-prescriber/articles/acute-bacterial-conjunctivitis

Tinggalkan Balasan