FIBROSIS PARU KONSEP MEDIS

Fibrosis paru merupakan penyakit paru kronis dengan pembentukan jaringan parut pada dinding alveolus, sehingga mengganggu pertukaran gas oksigen.

A. Konsep Medis Fibrosis Paru

1. Definisi Penyakit Fibrosis Paru

Definisi Dari Pakar Internasional

Oleh karena itu, American Thoracic Society (ATS) mendeskripsikan fibrosis paru sebagai bentuk spesifik dari pneumonia interstisial fibrosing kronis yang progresif, yang membatasi fungsi paru secara ireversibel (ATS, 2022).

Selaras dengan hal tersebut, World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa kondisi ini melibatkan penggantian jaringan parenkim paru normal dengan matriks ekstraseluler yang tebal, yang menghambat transfer oksigen ke dalam aliran darah (WHO, 2023).

SElain itu, National Institutes of Health (NIH) mendefinisikan penyakit ini sebagai gangguan pernapasan karna jaringan paru-paru menjadi tebal, kaku, dan berparut dari waktu ke waktu (NIH, 2024).

Sebagai akibatnya, European Respiratory Society (ERS) menegaskan bahwa penyakit ini merusak arsitektur alveolus secara progresif melalui deposisi kolagen yang berlebihan oleh fibroblas yang terlalu aktif (ERS, 2023).

Selain itu, Mayo Clinic menguraikan gangguan ini sebagai penyakit paru-paru yang terjadi ketika jaringan paru-paru rusak dan berparut, sehingga jaringan yang tebal dan kaku ini menyulitkan paru-paru untuk bekerja dengan benar (Mayo Clinic, 2025).

Definisi Pakar Asia

Sehubungan dengan hal itu, Asian Pacific Society of Respirology (APSR) mengidentifikasi kelainan ini sebagai kelainan intersisial paru kronis yang fatal dengan karakteristik remodeling jaringan ikat yang progresif (APSR, 2023).

Selanjutnya, Japanese Respiratory Society (JRS) mengategorikan patologi ini sebagai fibrosis interstisial difus yang menunjukkan gambaran honeycombing pada pemindaian tomografi komputer (JRS, 2022).

Sementara itu, Chinese Thoracic Society (CTS) mengartikan kondisi ini sebagai penyakit pneumonitis intersisial idiopatik yang paling umum, yang memicu penurunan fungsi ventilasi restriktif secara bertahap (CTS, 2024).

Dengan demikian, Saudi Thoracic Society (STS) merumuskan kelainan ini sebagai proses inflamasi kronis yang berlanjut menjadi fibrogeneis destruktif pada ruang udara distal (STS,2023).

Alhasil, Korean Academy of Tuberculosis and Respiratory Diseases (KATRD) menandai penyakit ini sebagai pneumonia intersisial kronis dengan prognosis buruk yang menyerang populasi usia lanjut (KATRD, 2024).

Definisi Pakar Indonesia

Mengenai variasi ini, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) menetapkan patologi tersebut sebagai penyakit paru interstisial kronik, progresif, dan fibrosing yang penyebabnya tidak diketahui, dengan gambaran histopatologi yang khas (PDPI, 2022).

Selain itu, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) merumuskan penyakit ini sebagai kondisi restriktif paru akibat pembentukan jaringan ikat berlebih yang menurunkan kelenturan organ paru (Kemenkes RI, 2023).

Berdasarkan sudut pandang klinis, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengartikan kelainan ini sebagai proses sikatrisasi abnormal pada parenkim paru yang menimbulkan gejala sesak napas progresif dan batuk kering kronis (IDI, 2024).

Maka dari itu, Rumah Sakit Persahabatan mendefinisikan gangguan ini sebagai tahap akhir dari berbagai penyakit paru interstisial dengan kerusakan arsitektural veolus secara meluas (RS Persahabatan, 2023).

Akhirnya, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) memaparkan kondisi ini sebagai bentuk kegagalan perbaikan luka parenkim paru yang memicu penumpukan matriks kolagen patologis pada sela-sela pembuluh darah dan alveolus (FKUI, 2025).

2. Etiologi Penyakit Fibrosis Paru

Faktor Idiopatik dan Lingkungan

Pada dasarnya, penyebab tersering dari patologi ini dikategorikan sebagai idiopatik (Idiopathic Pulmonary Fibrosis), pencetus kerusakan jaringan parenkim tidak dapat diidentifikasi secara pasti oleh tim medis (ATS, 2022; PDPI, 2022).

selain itu, paparan jangka panjang lingkungan kerja juga sering terhadap debu silika, asbes, debu batu bara, serat biji-bijian, serta kotoran hewan ternak terbukti memicu kerusakan epitel (WHO, 2023; Kemenkes RI, 2023).

Faktor Sistemik dan iatrogenic

Sementara itu, kondisi autoimun seperti Rheumatoid Arthritis dan Lupus Eritematosus Sistemik dapat menyebabkan sistem imun menyerang jaringan tubuh sendiri (NIH, 2024; IDI, 2024).

Tambahan pula, penggunaan obat kemoterapi tertentu, obat jantung amiodaron, serta efek samping radioterapi pada area dada berisiko tinggi merusak struktur alveolus (ERS, 2023; FKUI, 2025).

Oleh karena itu, mutasi pada gen pengatur surfaktan turut meningkatkan kerentanan genetic keluarga (Mayo Clinic, 2025; APSR, 2023).

3. Patofisiologi Penyakit Fibrosis Paru

Mekanisme Kerusakan Selular

Secara umum, proses patologis berawal dari cedera mikroalveolar yang berulang pada sel epitel alveolus tipe I. Akibatnya, terjadi kegagalan regenerasi epitel normal dan aktivasi sel epitel alveolus tipe II secara abnormal (ERS, 2023; PDPI, 2022).

Oleh karena itu, sel yang teraktivasi melepaskan berbagai mediator fibrogenik, terutama Transforming Growth Factor-Beta 1 (JRS, 2022).

Akumulasi Matriks Ekstraseluler

Selanjutnya, mediator tersebut memicu migrasi, proliferasi, dan diferensiasi fibroblast menjadi miofibroblas yang resisten terhadap apoptosis.

Sebagai dampaknya, miofibroblas memproduksi matriks ekstraseluler seperti kolagen dalam jumlah berlebih ke dalam intersisium paru.

Maka dari itu, dinding alveolus menjadi menebal dan kaku, memanjangkan jarak difusi gas, serta menyumbat aliran kapiler (ERS, 2023; PDPI, 2022).

4. Penyimpangan KDM Penyakit Fibrosis Paru

Skema Pathway Sistemik

Penyimpangan KDM digambarkan melalui skema klinis berikut ini:

[Faktor Risiko: Idiopatik, Lingkungan, Autoimun, Obat/Radiasi]

                           │

                           ▼

             Cedera Sel Epitel Alveolus (AEC)

                           │

                           ▼

          Pelepasan Mediator Fibrogenik (TGF-β1)

                           │

                           ▼

        Proliferasi & Diferensiasi Miofibroblas

                           │

                           ▼

          Deposisi Kolagen & Jaringan Parut

                           │

                           ▼

                 ── FIBROSIS PARU ──

                           │

        ┌──────────────────┴──────────────────┐

        ▼                                     ▼

Kelenturan Paru ↓ (Restriktif)         Kerusakan Dinding Alveolus

        │                                     │

        ├─────────────────────────────────────┘

        ▼

 Gangguan Difusi Gas Oksigen & Karbondioksida

        │

        ├───────────────────────────────────────────────────────┐

        ▼                                                       ▼

  Hipoksemia Organ                                        Kompensasi Jantung

        │                                                       │

  ┌─────┴─────────────────────┐                                 ▼

  ▼                           ▼                        Vasokontriksi Pulmonal

Kelemahan Fisik       Metabolisme Anaerob                       │

  │                           │                                 ▼

  ▼                           ▼                        Hipertensi Pulmonal

Intoleransi Aktivitas   Produksi Asam Laktat ↑                  │

                              │                                 ▼

                              ▼                         Gagal Jantung Kanan

                        Fatigue kronis                   (Kor Pulmonal)

5. Manifestasi Klinis Penyakit Fibrosis Paru

Data Subjektif Pasien

Berkenaan dengan gejala, pasien mengeluhkan sesak napas yang awalnya muncul saat beraktivitas berat dan perlahan memburuk bahkan saat istirahat (ATS, 2022; PDPI, 2022).

Selain itu, pasien sering mengeluhkan batuk kering kronis yang tidak kunjung sembuh dan tidak menghasilkan dahak (WHO, 2023; IDI, 2024).

Sebagai akibatnya, pasien merasa cepat lelah dan mengeluhkan rasa tidak nyaman pada dada saat menarik napas dalam (NIH, 2024; ERS, 2023).

Data Objektif Klinis

Mengenai tanda klinis, pemeriksaan menunjukkan takipne pada frekuensi pernapasan melebihi 20 kali per menit (APSR, 2023; PDPI, 2022).

Selain itu, terdapat sianosis akibat penurunan saturasi oksigen periferal di bawah 95% serta tanda clubbing fingers pada ujung jari kuku (Mayo Clinic, 2025; CTS, 2024).

Terakhir, auskultasi menunjukkan suara napas tambahan berupa ronki basah halus (velcro crackles) pada akhir inspirasi (JRS, 2022; RS Persahabatan, 2023).

6. Pemeriksaan Penunjang

Evaluasi Laboratorium dan Radiologi

Melalui pemeriksaan Analisa Gas Darah, terdapat indikasi hipoksemia (PaO_2 < 80mmHg) dan hipokapnia (PaCO_2 < 35 mmHg) akibat hiperventilasi (ATS, 2022; PDPI, 2022).

Sementara itu, High-Resolution Computed Tomography (HRCT) dada sebagai baku emas menunjukkan gambaran retikulasi perifer dan honeycombing (JRS, 2022).

Oleh karena itu, rontgen dada biasa hanya memperlihatkan penurunan volume paru dan peninggian diafragma (CTS, 2024).

Evaluasi Fungsional Paru

Selain itu, uji spirometri mendeteksi gangguan restriktif melalui penurunan Forced Vital Capacity (FVC) dan penurunan kapasitas difusi karbon monoksida (ATS, 2022; APSR,2023).

Selanjutnya, menggunakan uji enam menit berjala untuk menilai tingkat desaturasi fungsional (ERS, 2023).

Sebagai langkah akhir, biopsi paru dilakukan jika hasil pemindaian HRCT belum memberikan kesimpulan histopatologi yang konklusif (Mayo Clinic, 2025).

7. Penatalaksanaan Medis

Metode Terapi Farmakologis

Terkait pengobatan, pemberian obat antifibrotik seperti Nintedanib atau Pirfenidon berfungsi secara klinis untuk memperlambat laju penurunan fungsi volume paru (ATS, 2022; PDPI,2022).

Namun demikian, pemberian kortikosteroid dan imunosupresan hanya efektif jika penyakit didasari oleh faktor autoimun (NIH, 2024).

Maka dari itu, perlu menambahkan antitusif dosis rendah untuk mengendalikan keluhan batuk kering refrakter yang parah (ERS, 2023).

Metode Terapi Non-Farmakologis

Untuk mendukung kesembuhan, terapi oksigen jangka panjang diindikasikan bagi pasien dengan tingkat saturasi oksigen di bawah 88% guna mencegah komplikasi sirkulasi (WHO,2023; Kemenkes RI, 2023).

Selain itu, program rehabilitasi paru terstruktur membantu meningkatkan toleransi aktivitas fisik harian (APSR, 2023).

Pada akhirnya, tindakan transplantasi paru menjadi satu-satunya pilihan kuratif definitive untuk kasus stadium lanjut (Mayo Clinic, 2025).

B. Konsep Asuhan Keperawatan Penyakit Fibrosis Paru

1. Pengkajian Keperawatan

Biodata dan Riwayat Kesehatan

Terkait proses asuhan, perawat mengumpulkan data demografi seperti nama, usia > 50 tahun, jenis kelamin laki-laki, dan riwayat pekerjaan (PPNI, 2017).

Selanjutnya, pengkajian riwayat penyakit sekarang berfokus pada durasi onset sesak napas serta karakteristik batuk kering.

Oleh karena itu, sangat penting untuk melakukan investigasi mendalam mengenai riwayat merokok dan paparan debu Industry di masa lalu (PDPI, 2022; Kemenkes RI, 2023).

Pemeriksaan Fisik Respirasi

Berdasarkan inspeksi sistem pernapasan, tampak penggunaan otot bantu napas, takipnea, pola napas dangkal, sianosis, dan clubbing fingers.

Sementara itu, palpasi menunjukkan penurunan ekspansi dinding dada dan peningkatan takik fremitus pada area fibrosis terpadat.

Dengan demikian, perkusi menghasilkan suara redup pada basal paru, diikuti hasil auskultasi berupa suara ronki basah halus pada akhir inspirasi (PPNI, 2017; JRS, 2022).

Pemeriksaan Fisik Sistemik

Mengenai sistem kardiovaskular, terlihat peningkatan vena jugularis jika terjadi kompensasi  gagal jantung kanan, disertai bunyi jantung S2 yang mengeras pada area pulmonal. Pada sistem nutrisi, tampak penurunan massa otot akibat peningkatan beban kerja pernapasan.

Sealain itu, pemeriksaan integumen menunjukkan akral dingin dan penurunan turgor kulit akibat hipoksia jaringan perifer kronis (PPNI, 2017; Kemenkes RI, 2023).

Evaluasi Pola Fungsional

Dalam pola eliminasi, dapat ditemukan oliguria jika perfusi ginjal menurun akibat penurunan curah jantung.

Sementara itu, pola aktivitas mengalami keterbatasan ekstrem dalam pemenuhan ADL dengan penurunan skor Barthel Index.

Sebagai dampaknya, pola istirahat pasien terganggu akibat batuk kering pada malam hari, yang memicu munculnya ansietas dan kekhawatiran terhadap ancaman kematian (PPNI, 2017; PPNI, 2018).

2. Diagnosis Keperawatan

Prioritas Diagnosis Oksigenasi

  • Gangguan Pertukaran Gas (D.0003) b.d Perubahan membran alveolus-kapiler d.d PaO2 menurun, PCO2 abnormal, takikardia, takipnea, sianosis, warna kulit pucat, bunyi napas tambahan.
  • Pola Napas Tidak Efektif (D.0005) b.d Hambatan upaya napas (kekakuan jaringan paru) d.d Dispnea, penggunaan otot bantu napas, fase ekspirasi memanjang, pola napas abnormal (takipnea), kapasitas vital menurun.

Prioritas Diagnosis Airway dan Aktivitas

  • Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001) b.d Hipersekresi jalan napas d.d Batuk tidak efektif, tidak mampu batuk, sputum berlebih atau kering kental, ronkhi basah, gelisah.
  • Intoleransi Aktivitas (D.0056) b.d Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen d.d Mengeluh lelah, dispnea saat/setelah beraktivitas, frekuensi jantung meningkat >20% saat aktivitas.

Prioritas Diagnosis Nutrisi dan Istirahat

  •  Defisit Nutrisi (D.0019) b.d Peningkatan kebutuhan metabolisme (kerja napas) d.d Berat badan menurun minimal 10% di bawah rentang ideal, IMT kurang dari normal, bising usus hiperaktif.
  • Gangguan Pola Tidur (D.0055) b.d Gejala penyakit (batuk kronis dan sesak) d.d Mengeluh sulit tidur, mengeluh sering terjaga, mengeluh istirahat tidak cukup, kemampuan beraktivitas menurun.

Prioritas Diagnosis Psikologis dan Perfusi

  • Anxietas (D.0080) b.d Ancaman terhadap kematian d.d Merasa bingung, merasa khawatir dengan kondisi yang dihadapi, tampak gelisah, tampak tegang, frekuensi napas meningkat.
  • Perfusi Perifer Tidak Efektif (D.0009) b.d Hipoksia jaringan d.d Pengisian kapiler (CRT) >2 detik, akral teraba dingin, warna kulit pucat, turgor kulit menurun.

Prioritas Diagnosis Kognitif dan Kardiovaskular

3. Perencanaan Intervensi Keperawatan

Intervensi Diagnosis 1 dan 2

Perencanaan Gangguan Pertukaran Gas

  • Luaran: L.01003 Pertukaran Gas (Tingkat kesadaran meningkat, dispnea menurun, bunyi napas tambahan menurun, PaO2 membaik, PCO2 membaik, saturasi oksigen membaik >95%).
  • Intervensi Pemantauan Respirasi (I.01014):
    • Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas.
    • Monitor pola napas dan nilai AGD serta saturasi oksigen secara berkala.
    • Dokumentasikan hasil pemantauan.
  • Intervensi Terapi Oksigen (I.01026):
  • Bersihkan sekret pada mulut dan hidung.
  • Berikan oksigen tambahan sesuai kebutuhan (nasal kanul atau masker).
  • Kolaborasi penentuan dosis oksigen.

Perencanaan Pola Napas Tidak Efektif

  • Luaran: L.01004 Pola Napas (Ventilasi semenit meningkat, kapasitas vital meningkat, dispnea menurun, penggunaan otot bantu napas menurun, frekuensi napas membaik 12-20 x/menit).
  • Intervensi Manajemen Jalan Napas (I.01011):
    • Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas).
    • Posisikan pasien Semi-Fowler atau Fowler.
    • Berikan minum hangat.
    • Ajarkan teknik batuk efektif.
    • Kolaborasi pemberian bronkodilator atau kortikosteroid.

Intervensi Diagnosis 3 dan 4

Perencanaan Bersihan Jalan Napas

  • Luaran: L.01001 Bersihan Jalan Napas (Batuk efektif meningkat, produksi sputum menurun, ronkhi menurun, mekanisme batuk membaik).
  • Intervensi Latihan Batuk Efektif (I.01006):
    • Identifikasi kemampuan batuk pasien.
    • Monitor adanya retensi sputum di jalan napas.
    • Atur posisi fowler tinggi.
    • Jelaskan tujuan dan prosedur batuk efektif.
    • Ajarkan tarik napas dalam melalui hidung selama 4 detik, ditahan 2 detik, kemudian keluarkan dari mulut dengan bibir mencucu selama 4 detik (lakukan 3-4 kali).
    • Instruksikan batuk kuat segera setelah tarikan napas dalam yang terakhir.

Perencanaan Intoleransi Aktivitas

  •    Luaran: L.05047 Toleransi Aktivitas (Kemudahan melakukan ADL meningkat, keluhan

    lelah menurun, dispnea saat aktivitas menurun, frekuensi nadi membaik).

  •     Intervensi Manajemen Energi (I.05178):
    • Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan.
    • Monitor kelelahan fisik dan emosional.
    • Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus.
    • Lakukan latihan rentang gerak pasif/aktif secara bertahap.
    • Fasilitasi duduk di tempat tidur atau ambulasi bertahap.
    • Anjurkan menghubungi perawat jika tanda kelelahan tidak berkurang.

Intervensi Diagnosis 5 dan 6

Perencanaan Defisit Nutrisi

  • Luaran: L.03030 Status Nutrisi (Porsi makan dihabiskan meningkat, Indeks Massa Tubuh membaik, nafsu makan membaik, berat badan membaik).
  • Intervensi Manajemen Nutrisi (I.03119):
    • Identifikasi status nutrisi dan alergi makanan.
    • Monitor asupan makanan dan berat badan harian.
    • Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein (TKTP).
    • Sajikan makanan dalam porsi kecil tapi sering.
    • Kolaborasi dengan ahli gizi mengenai kebutuhan kalori spesifik.

Perencanaan Gangguan Pola Tidur

  • Luaran: L.05045 Pola Tidur (Jam tidur sesuai kebutuhan meningkat, keluhan sulit tidur menurun, keluhan sering terjaga menurun, keluhan tidak segar menurun).
  • Intervensi Dukungan Tidur (I.05174):
    • Identifikasi pola aktivitas dan faktor pengganggu tidur.
    • Modifikasi lingkungan (pencahayaan, suhu ruangan, kebisingan).
    • Fasilitasi mempertahankan posisi tidur fowler/semi-fowler yang nyaman.
    • Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit.
    • Kolaborasi pemberian obat penekan batuk sebelum tidur.

Intervensi Diagnosis 7 dan 8

Perencanaan Ansietas

  • Luaran: L.09093 Tingkat Ansietas (Verbalisasi khawatir menurun, perilaku gelisah menurun, tampak tegang menurun, frekuensi napas dan nadi membaik).
  • Intervensi Reduksi Ansietas (I.09314):
    • Identifikasi saat tingkat ansietas berubah.
    • Pahami situasi yang membuat ansietas.
    • Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan.
    • Latih teknik relaksasi napas dalam atau distraksi.
    • Informasikan prognosis penyakit secara faktual.

Perencanaan Perfusi Perifer Tidak Efektif

  • Luaran: L.02011 Perfusi Perifer (Denyut nadi perifer meningkat, akral dingin menurun, pucat/sianosis menurun, pengisian kapiler membaik <2 detik).
  • Intervensi Perawatan Sirkulasi (I.02079):
    • Periksa sirkulasi perifer (nadi, CRT, warna, suhu).
    • Monitor adanya ketidaknyamanan atau nyeri pada ekstremitas.
    • Hindari pengukuran tekanan darah pada ekstremitas dengan keterbatasan sirkulasi.
    • Anjurkan melakukan hidrasi cairan yang adekuat.
    • Kolaborasi transfusi atau terapi oksigen agresif.

Intervensi Diagnosis 9 dan 10

Perencanaan Defisit Pengetahuan

  • Luaran: L.12111 Tingkat Pengetahuan (Perilaku sesuai anjuran meningkat, verbalisasi menerangkan masalah meningkat, persepsi keliru menurun).
  • Intervensi Edukasi Proses Penyakit (I.12383):
    • Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi.
    • Sediakan materi dan media edukasi formal.
    • Jelaskan penyebab, tanda, dan gejala penyakit.
    • Jelaskan rencana penatalaksanaan dan kegunaan terapi jangka panjang.
    • Ajarkan cara memantau perburukan gejala mandiri di rumah.

Perencanaan Risiko Penurunan Curah Jantung

  • Luaran: L.02008 Curah Jantung (Kekuatan nadi perifer meningkat, lelah/fatigue menurun, edema perifer menurun, tekanan darah membaik).
  • Intervensi Perawatan Jantung (I.02075):
    • Monitor tekanan darah, nadi, dan tanda overload cairan.
    • Monitor toleransi aktivitas fisik pasien.
    • Tempatkan pada posisi semi-fowler untuk mengurangi beban preload.
    • Berikan diet rendah garam jika tanda edema muncul.
    • Kolaborasi pemberian diuretik jika terjadi retensi cairan.

4. Implementasi Tindakan Keperawatan

Pelaksanaan Rencana Klinis

Terkait tahap pelaksanaan, tindakan nyata dilakukan dengan memasang alat terapi oksigen fungsional, mengatur posisi semifowler, serta mengajarkan teknik batuk efektif secara berkala (PPNI, 2018).

Selanjutnya, perawat memantau nilai saturasi oksigen menggunakan pulse oximetry secara kontinu.

Oleh karena itu, penyajian makanan hangat porsi kecil tapi sering diimplementasikan guna mempertahankan status nutrisi tubuh.

Terakhir, kolaborasi pemberian obat antifibrotik dijalankan sesuai dengan instruksi tim medis.

5. Evaluasi Asuhan Keperawatan

Penilaian Formatif SOAP

  • S (Subjektif): Pasien melaporkan keluhan sesak napas berkurang saat beristirahat dan batuk kering lebih terkontrol.
  • O (Objektif): Frekuensi pernapasan stabil pada rentang normal (16-20 x/menit), nilai saturasi oksigen berada di atas 95% dengan terapi, dan suara ronki basah berkurang.
  • A (Analisis): Penilaian kriteria luaran menunjukkan masalah gangguan pertukaran gas dan pola napas teratasi sebagian.
  • P (Planning): Perawat memutuskan untuk melanjutkan rencana tindakan manajemen respirasi dan pemantauan saturasi mandiri.

DAFTAR PUSTAKA

Buku

American Thoracic Society. (2022). Official ATS/ERS/JRS/ALAT Clinical Practice Guideline: Treatment of Idiopathic Pulmonary Fibrosis. New York: ATS Peer Review Press.

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. (2022). Panduan Praktik Klinis: Diagnosis dan Penatalaksanaan Fibrosis Paru Idiopatik. Jakarta: UI Publishing.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

Jurnal

APSR. (2023). Management of Interstitial Lung Diseases. APSR Journal of Respirology, 28(4), 312-325.

ERS. (2023). Pathophysiological Mechanisms of Interstitial Lung Diseases. European Respiratory Review, 32(168), 220-234.

Kemenkes RI. (2023). Profil Klinis Penyakit Paru Restriktif. Jurnal Kesehatan Respirasi Indonesia, 11(2), 89-98.

KATRD. (2024). Prognostic Factors in Idiopathic Pulmonary Fibrosis. Tuberculosis and Respiratory Diseases, 87(1), 45-56.

WHO. (2023). Global Burden of Chronic Respiratory Diseases. WHO Bulletin of Respiratory Health, 101(7), 480-492.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *