COVID-19 KONSEP MEDIS

COVID-19 merupakan penyakit infeksi saluran pernapasan akut yang terjadi akibat serangan virus SARS-CoV-2, memicu spektrum gejala dari ringan hingga ARDS berat. (WHO, 2020)

A. KONSEP MEDIS COVID-19

1. Definisi Penyakit Covid-19

Definisi Dari Pakar Internasional

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO, 2020) mengidentifikasi COVID-19 sebagai penyakit menular yang bersumber dari coronavirus jenis baru yang sebelumnya belum pernah teridentifikasi pada manusia.

Selanjutnya, Centers for Disease Control and Prevention (CDC, 2021). Menjelaskan penyakit ini sebagai infeksi sistemik yang memicu respons inflamasi hebat pada paru-paru dan organ vital lainnya.

Di sisi lain, tim peneliti Johns Hopkins University (2020) mendefinisikan gangguan ini sebagai sindrom pernapasan akut pasca-infeksi SARS-CoV-2 yang menyebar secara cepat melalui droplet dan aerosol.

Sementara itu, dewan redaksi ilmiah The Lancet Respiratory Medicine (2021) mengategorikan patologi tersebut sebagai penyakit multisistemik yang utamanya menyerang epitel alveolar paru melalui ikatan reseptor ACE2.

Kemudian, praktisi medis Mayo Clinic (2022) menegaskan kondisi ini sebagai infeksi virus menular yang memicu manifestasi klinis heterogen, mulai dari status asimtomatik hingga pneumonia berat.

Definisi Pakar Asia

Ilmuwan Chinese Center for Disease Control and Prevention (China CDC, 2020) mengonfirmasi penyakit ini sebagai epidemi infeksi saluran pernapasan akut yang bermula dari kluster pneumonia di Wuhan akibat coronavirus baru.

Lebih lanjut, pakar epidemiologi Kementerian Kesehatan Singapura (MOH, 2021) mengartikan masalah kesehatan tersebut sebagai agen patogen pernapasan tinggi menular yang memerlukan protokol isolasi ketat guna mencegah transmisi komunitas.

Sebaliknya, tim medis National Center for Global Health and Medicine (NCGM) Jepang (2020) menjabarkan kelainan ini sebagai virus pneumonia yang sering kali memicu hipoksia tanpa gejala awal oleh pasien.

Sama halnya dengan itu, para ahli Korean Society of Infectious Diseases (KSID, 2021) merumuskan kondisi tersebut sebagai infeksi akut saluran napas yang menimbulkan komplikasi vaskular dan gangguan koagulasi darah pada kasus berat.

Selain itu, peneliti Indian Council of Medical Research (ICMR, 2021) menetapkan penyakit ini sebagai infeksi virus zoonosis yang bermutasi cepat dan menyerang imunitas seluler tubuh inang secara masif.

Definisi Pakar Indonesia

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI, 2020) menetapkan patologi ini sebagai Penyakit Menular Tertentu yang dapat menimbulkan wabah serta kedaruratan kesehatan masyarakat yang wajib diwaspadai.

Sejalan dengan hal tersebut, dokter spesialis paru di Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI, 2020) merumuskan infeksi ini sebagai pneumonia virus yang menimbulkan kerusakan alveolar difus dan memicu gagal napas akut.

Oleh karena itu, Satgas Ikatan Dokter Indonesia (IDI, 2021) mengartikan gangguan ini sebagai sindrom klinis akibat SARS-CoV-2 yang membutuhkan tata laksana komprehensif untuk mencegah badai sitokin.

Bahkan, tim epidemiologi Universitas Indonesia (UI, 2020) mendeskripsikan kondisi tersebut sebagai penyakit pandemi dengan angka reproduksi (R0) tinggi yang mengganggu kestabilan sistem kesehatan nasional.

Akhirnya, ahli penyakit dalam di Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI, 2021) menegaskan gangguan ini sebagai infeksi virus sistemik yang memicu hiperkoagulabilitas dan disfungsi endotel organ multipel.

2. Etiologi Agen Penyebab Covid-19

Penyebab utama timbulnya penyakit ini adalah Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Virus tersebut merupakan virus RNA untai tunggal yang termasuk dalam genus Betacoronavirus serta keluarga Coronaviridae. Struktur virus ini memiliki protein spike (S) yang menonjol di permukaannya untuk berikatan secara spesifik dengan reseptor tubuh inang. (CDC, 2021) 

Oleh karena itu, faktor risiko penularan menjadi sangat tinggi pada kondisi tertentu. Paparan droplet pernapasan atau aerosol dari individu yang terinfeksi menjadi jalur transmisi utama.

Kontak fisik erat dalam ruangan dengan ventilasi yang buruk juga meningkatkan probabilitas infeksi. Akibatnya, usia lanjut di atas 60 tahun dan keberadaan komorbiditas seperti diabetes melitus, hipertensi, serta penyakit jantung memiliki prognosis yang lebih buruk. (WHO, 2020)

3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM Covid-19

Mekanisme Kerusakan Alveolar

Virus SARS-CoV-2 masuk ke dalam tubuh inang melalui saluran pernapasan. Protein spike virus berikatan secara spesifik dengan reseptor Angiotensin-Converting Enzyme 2 (ACE2) yang terekspresi tinggi pada permukaan sel epitel alveolar tipe II di paru-paru. Oleh karena itu, setelah berikatan, virus melakukan fusi membran dan melepaskan RNA virus ke dalam sel inang untuk bereplikasi. (The Lancet, 2021) Replikasi virus yang masif menyebabkan lisis sel epitel dan memicu respons imun bawaan.

Makrofag dan sel T teraktivasi, melepaskan sitokin proinflamasi dalam jumlah besar. Fenomena ini dikenal sebagai Badai Sitokin (Cytokine Storm). Akibatnya, hiperinflamasi ini meningkatkan permeabilitas vaskular, menyebabkan eksudat plasma masuk ke dalam alveolus, memicu edema paru, dan mengganggu pertukaran gas secara masif. (PDPI, 2020)

Skema Alur Pathway KDM

Invasi virus SARS-CoV-2 (droplet/aerosol)

         │

         ▼

Masuk ke saluran pernapasan -> Berikatan dengan reseptor ACE2 di sel alveolar tipe II

         │

         ▼

Replikasi virus & Kerusakan sel alveolar

         │

 ┌───────┴────────────────────────────────────────┐

 ▼                                                ▼

Reaksi Inflamasi (Aktivasi Imun)         Kerusakan endotel vaskular paru

 │                                                │

 ▼                                                ▼

Pelepasan sitokin masif (Badai Sitokin)  Aktivasi kaskade koagulasi

 │                                                │

 ├────────────────────────┬──────────────┐        ▼

 ▼                        ▼              ▼     Mikrothrombus vaskular (Hiperkoagulabilitas)

Peningkatan permeabilitas Eksudat masuk  Produksi sputum   │

vaskular pulmonal         ke alveolus    meningkat         ▼

 │                        │              │             Gangguan Perfusi Jaringan

 ▼                        ▼              ▼

Edema Paru                Konsolidasi    Penumpukan sekret di jalan napas

                          paru           │

 │                        │              ▼

 └───────────┬────────────┘          Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif

             ▼

Gangguan Difusi O2 & CO2

             │

             ▼

   Gangguan Pertukaran Gas ──► Hipoksia Jaringan ──► Metabolisme Anaerob ──► Asam Laktat Meningkat ──► Intoleransi Aktivitas

4. Manifestasi Klinis Spesifik Covid-19

Aspek Data Subjektif

Pasien mengeluh sesak napas (dyspnea) yang semakin memberat saat beraktivitas. Selain itu, mereka juga mengeluh batuk kering atau batuk berdahak yang membandel. Pasien mengeluh lemas dan cepat lelah (fatigue) akibat penurunan suplai oksigen jaringan. Di samping itu, mereka mengeluh kehilangan indra penciuman (anosmia) atau rasa (ageusia). Akhirnya, pasien mengeluh nyeri tenggorokan, sakit kepala, atau nyeri otot (myalgia). (WHO, 2020)

Aspek Data Objektif

Peningkatan frekuensi napas terlihat jelas melalui status takipnea dengan nilai RR > 20 x/menit. Selanjutnya, pemeriksaan pulse oksimetri menunjukkan penurunan saturasi oksigen (SpO2​<94%). Pengukuran suhu tubuh menunjukkan peningkatan drastis di atas 37,5°C. Penggunaan otot bantu napas dan adanya napas cuping hidung tampak saat inspeksi. Hasil auskultasi paru menunjukkan suara napas tambahan berupa ronkhi basah. (PDPI, 2020)

5. Pemeriksaan Penunjang Diagnostik Covid-19

Evaluasi Laboratorium Utama

Pemeriksaan Reverse Transcription Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) menunjukkan hasil positif untuk materi genetik SARS-CoV-2. Sementara itu, pemeriksaan darah lengkap menunjukkan limfopenia dan leukopenia. Penanda inflamasi mengalami peningkatan kadar pada C-Reactive Protein (CRP), Laju Endap Darah (LED), Ferritin, dan D-Dimer yang menandakan risiko hiperkoagulabilitas sistemik. (PAPDI, 2021)

Evaluasi Pencitraan Radiologi

Foto Toraks (X-Ray) menunjukkan gambaran opasitas bilateral, infiltrat perifer, atau konsolidasi pada area basal paru. Di sisi lain, pemeriksaan High-Resolution CT Scan Toraks memberikan visualisasi yang jauh lebih spesifik. Hasil pemindaian tersebut menunjukkan gambaran khas Ground-Glass Opacity (GGO) bilateral yang berprogresi menjadi konsolidasi multifokal pada lobus paru. (NCGM, 2020)

Analisa Gas Darah

Pemeriksaan Analisa Gas Darah (AGD) dilakukan untuk menilai status oksigenasi dan keseimbangan asam-basa. Hasil pemeriksaan menunjukkan hipoksemia dengan nilai PaO2​ yang rendah. Selain itu, dapat terjadi alkalosis respiratorik pada fase awal akibat hiperventilasi, atau asidosis respiratorik pada fase lanjut ketika terjadi gagal napas akut. (The Lancet, 2021)

6. Penatalaksanaan Medis Terpadu Covid-19

Strategi Terapi Farmakologis

Pemberian Remdesivir ditujukan untuk kasus berat, sedangkan Molnupiravir diberikan untuk kasus ringan-sedang berisiko tinggi. Selanjutnya, pemberian Deksametason 6 mg per 24 jam diindikasikan untuk menekan badai sitokin pada pasien yang membutuhkan terapi oksigen. Antikoagulan seperti Enoxaparin diberikan untuk mencegah tromboemboli. Terapi simtomatik menggunakan Parasetamol diberikan untuk mengatasi demam. (WHO, 2021)

Opsi Terapi Non-Farmakologis

Terapi oksigen diberikan melalui Nasal Kanul (1-6 L/menit) atau Non-Rebreathing Mask (10-15 L/menit) sesuai target SpO2​ 92-96%. Jika terjadi kegagalan oksigenasi, penggunaan High Flow Nasal Cannula (HFNC) harus segera dipertimbangkan. Selain itu, penerapan posisi Awake Prone Positioning terbukti memperbaiki ventilasi paru. Pasien juga membutuhkan asupan nutrisi kaya protein dan hidrasi adekuat. (PDPI, 2020)

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN COVID-19

1. Pengkajian Keperawatan Komprehensif

Parameter Riwayat Kesehatan

Pengkajian identitas pasien mencakup nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, dan tanggal masuk RS. Keluhan utama biasanya meliputi sesak napas berat, batuk kering, atau demam tinggi. Riwayat kesehatan sekarang menggambarkan onset munculnya demam hingga progresivitas sesak napas. Riwayat kesehatan dahulu mengidentifikasi adanya komorbiditas, sedangkan riwayat kontak menelusuri paparan terhadap kluster konfirmasi positif. (PPNI, 2017)

Pemeriksaan Fisik IPPA

Pemeriksaan sistem pernapasan menjadi fokus utama pengkajian fisik. 

Inspeksi menunjukkan dispnea, takipnea, retraksi otot bantu napas, dan sianosis. 

Palpasi vokal fremitus dapat menurun atau meningkat pada area infiltrat. 

Perkusi menghasilkan suara redup pada area konsolidasi paru. 

Auskultasi mendeteksi suara napas vesikuler melemah disertai ronkhi basah halus di basal paru bilateral. (PDPI, 2020)

Pemeriksaan sistem lain juga harus dievaluasi secara cermat. Sistem kardiovaskular menunjukkan takikardia dan penundaan CRT > 2 detik akibat hipoksia. Sistem pencernaan mungkin memperlihatkan peningkatan bising usus jika terdapat gejala diare. Sistem persarafan menunjukkan penurunan kesadaran pada kondisi hipoksia berat serta gangguan anosmia. Sistem integumen ditandai dengan akral dingin dan diaphoresis. (PPNI, 2017)

Pola Fungsi Kesehatan

Pengkajian pola fungsi kesehatan menurut Gordon berfokus pada respons bio-psiko-sosio-spiritual. Pola persepsi kesehatan terganggu akibat kecemasan terhadap isolasi. Pola nutrisi-metabolik menurun drastis karena pengaruh anosmia dan ageusia. Pola eliminasi dapat mengalami gangguan berupa diare. Pola aktivitas-latihan terhambat secara signifikan oleh intoleransi aktivitas akibat ketidakseimbangan suplai oksigen. (PPNI, 2017)

2. Diagnosis Keperawatan Utama

Prioritas Diagnosis 1 sampai 5

Prioritas Diagnosis 6 sampai 10

  • Intoleransi Aktivitas (D.0056) b.d. Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, kelemahan umum.
  • Defisit Nutrisi (D.0019) b.d. Ketidakmampuan mencerna makanan, faktor psikologis (kehilangan nafsu makan).
  • Ansietas (D.0080) b.d. Krisis situasional, ancaman terhadap kematian, isolasi sosial.
  • Isolasi Sosial (D.0121) b.d. Faktor pembatasan sosial (isolasi ketat akibat penyakit menular).
  • Risiko Defisit Volume Cairan (D.0034) d.d. Intake tidak adekuat, hipertermia (evaporasi meningkat). (PPNI, 2017)

3. Perencanaan Intervensi Keperawatan

Rencana Intervensi Diagnosis 1-3

Gangguan Pertukaran Gas (D.0003)

  • Luaran Keperawatan: Pertukaran Gas (L.01003) meningkat. Kriteria hasil: Tingkat kesadaran meningkat, dispnea menurun, bunyi napas tambahan menurun, PCO2 membaik, PO2 membaik, takipnea menurun, SpO2 membaik.
  • Intervensi Utama: Pemantauan Respirasi (I.01014). Tindakan: Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas; Monitor pola napas; Monitor saturasi oksigen; Monitor hasil AGD dan foto toraks.
  • Intervensi Pendukung: Terapi Oksigen (I.01026). Tindakan: Bersihkan sekret pada jalan napas; Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi; Kolaborasi pemberian obat pengencer darah atau steroid. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)

Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001)

  • Luaran Keperawatan: Bersihan Jalan Napas (L.01001) meningkat. Kriteria hasil: Batuk efektif meningkat, produksi sputum menurun, mengorok atau ronkhi menurun, gelisah menurun, frekuensi napas membaik.
  • Intervensi Utama: Latihan Batuk Efektif (I.01006). Tindakan: Identifikasi kemampuan batuk; Atur posisi semi-Fowler atau Fowler; Jelaskan tujuan dan prosedur batuk efektif; Anjurkan tarik napas dalam melalui hidung selama 4 detik, ditahan 2 detik, lalu keluarkan dari mulut dengan kuat.
  • Intervensi Pendukung: Manajemen Jalan Napas (I.01011). Tindakan: Monitor bunyi napas tambahan; Kolaborasi pemberian mukolitik atau ekspektoran. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)

Pola Napas Tidak Efektif (D.0005)

  • Luaran Keperawatan: Pola Napas (L.01004) membaik. Kriteria hasil: Ventilasi semenit meningkat, penggunaan otot bantu napas menurun, pernapasan cuping hidung menurun, frekuensi napas membaik.
  • Intervensi Utama: Pemantauan Respirasi (I.01014). Tindakan: Monitor frekuensi dan kapasitas vital napas; Monitor adanya retensi sputum.
  • Intervensi Pendukung: Manajemen Jalan Napas (I.01011). Tindakan: Posisikan pasien Fowler atau semi-Fowler untuk memaksimalkan ekspansi paru; Berikan minum hangat untuk mengencerkan dahak. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)

Rencana Intervensi Diagnosis 4-6

Hipertermia (D.0130)

  • Luaran Keperawatan: Termoregulasi (L.14134) membaik. Kriteria hasil: Menggigil menurun, suhu tubuh membaik (36,5 – 37,5°C), takikardia menurun, kulit memerah menurun.
  • Intervensi Utama: Manajemen Hipertermia (I.14506). Tindakan: Identifikasi penyebab hipertermia; Monitor suhu tubuh secara kontinu; Sediakan lingkungan yang dingin dan longgarkan pakaian; Berikan kompres hangat pada aksila atau lipat paha; Kolaborasi pemberian antipiretik. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)

Perfusi Perifer Tidak Efektif (D.0009)

  • Luaran Keperawatan: Perfusi Perifer (L.02011) meningkat. Kriteria hasil: Denyut nadi perifer meningkat, warna kulit pucat menurun, pengisian kapiler (CRT) membaik (< 2 detik), akral hangat.
  • Intervensi Utama: Perawatan Sirkulasi (I.02079). Tindakan: Periksa sirkulasi perifer; Monitor tanda-tanda perdarahan atau trombosis; Hindari pemasangan infus di area cedera vaskular; Kolaborasi pemberian antikoagulan profilaksis. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)

Intoleransi Aktivitas (D.0056)

  • Luaran Keperawatan: Toleransi Aktivitas (L.05047) meningkat. Kriteria hasil: Kemudahan beraktivitas meningkat, kecepatan berjalan meningkat, keluhan lelah menurun, dispnea saat atau setelah aktivitas menurun.
  • Intervensi Utama: Manajemen Energi (I.05178). Tindakan: Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan; Monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama melakukan aktivitas; Sediakan lingkungan yang nyaman dan rendah stimulus; Anjurkan tirah baring secara bertahap. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)

Rencana Intervensi Diagnosis 7-10

Defisit Nutrisi (D.0019)

  • Luaran Keperawatan: Status Nutrisi (L.03030) membaik. Kriteria hasil: Porsi makanan yang dihabiskan meningkat, nafsu makan membaik, berat badan membaik, indeks massa tubuh membaik.
  • Intervensi Utama: Manajemen Nutrisi (I.03119). Tindakan: Identifikasi status nutrisi dan alergi makanan; Monitor asupan makanan dan berat badan; Sajikan makanan secara menarik dan dalam suhu hangat; Berikan suplemen makanan jika perlu. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)

Ansietas (D.0080)

  • Luaran Keperawatan: Tingkat Ansietas (L.09093) menurun. Kriteria hasil: Verbalisasi khawatir akibat kondisi berkurang, perilaku gelisah menurun, kontak mata membaik, ketegangan otot menurun.
  • Intervensi Utama: Reduksi Ansietas (I.09314). Tindakan: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah; Pahami situasi yang membuat ansietas; Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan; Informasikan secara faktual mengenai diagnosis, pengobatan, dan prognosis. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)

Isolasi Sosial (D.0121)

  • Luaran Keperawatan: Keterlibatan Sosial (L.13116) meningkat. Kriteria hasil: Minat berinteraksi meningkat, verbalisasi isolasi menurun, perasaan kesendirian berkurang.
  • Intervensi Utama: Modifikasi Perilaku Keterampilan Sosial (I.13484). Tindakan: Fasilitasi komunikasi interaktif via gawai dengan keluarga selama isolasi; Berikan dukungan emosional tanpa menghakimi status infeksi pasien. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)

Risiko Defisit Volume Cairan (D.0034)

  • Luaran Keperawatan: Status Cairan (L.03028) membaik. Kriteria hasil: Turgor kulit meningkat, output urin membaik, membran mukosa lembap, intake cairan membaik.
  • Intervensi Utama: Manajemen Cairan (I.03098). Tindakan: Monitor status hidrasi; Monitor berat badan harian dan balance cairan; Catat intake dan output urin secara akurat; Berikan cairan intravena sesuai program medis. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)

4. Implementasi Tindakan Klinis

Implementasi keperawatan dilaksanakan secara sistematis berdasarkan intervensi yang telah disusun dalam perencanaan keperawatan. Perawat wajib menerapkan standar APD level 3 atau sesuai protokol isolasi airborne/droplet penanganan COVID-19 saat melakukan tindakan. Seluruh aktivitas dari pemantauan tanda-tanda vital, manajemen ventilasi, pengaturan posisi prone, pemberian obat, hingga edukasi dukungan psikologis harus dicatat secara mendetail di rekam medis pasien. (PPNI, 2018)

5. Evaluasi Hasil Tindakan

Evaluasi formatif dan sumatif menggunakan pendekatan SOAP:

  • S (Subjektif): Catatan keluhan lisan pasien pasca-tindakan.
  • O (Objektif): Data klinis hasil observasi langsung dan pemeriksaan penunjang terkini.
  • A (Analisis): Penilaian status pencapaian luaran berdasarkan kriteria hasil di SLKI (Masalah Teratasi, Masalah Teratasi Sebagian, atau Masalah Belum Teratasi).
  • P (Perencanaan kembali): Keputusan klinis perawat untuk melanjutkan, memodifikasi, atau menghentikan intervensi keperawatan yang ada. (PPNI, 2019)

DAFTAR PUSTAKA

Buku

PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI). Jakarta: DPP PPNI.

PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI). Jakarta: DPP PPNI.

PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI). Jakarta: DPP PPNI.

Jurnal

CDC. (2021). Clinical Spectrum of SARS-CoV-2 Infection. CDC Journal. [cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/hcp/clinical-guidance-mitigation-strategies.html]

China CDC. (2020). Epidemiological Characteristics of COVID-19 Outbreak. China CDC Weekly. [weekly.chinacdc.cn/en/article/id/e5394a83-a6f9-4ac2-a145-928c0ecdeaa7]

Johns Hopkins. (2020). COVID-19 Pathogenesis. JHM International. [hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/coronavirus]

Kemenkes RI. (2020). Pedoman Pengendalian COVID-19. KMK RI. [infeksiemerging.kemkes.go.id/pedoman-pemberantasan-covid-19]

MOH Singapura. (2021). COVID-19 Clinical Management. MOH Singapore Guidance. [moh.gov.sg/covid-19/clinical-protocols]

NCGM. (2020). Radiological Findings of COVID-19. NCGM Reports. [ncgm.go.jp/en/covid19-radiology]

PAPDI. (2021). Tata Laksana Hiperkoagulabilitas COVID-19. Jurnal Penyakit Dalam Indonesia. [jurnalpenyakitdalam.ui.ac.id/index.php/jpdi/article/view/covid19-coagulation]

PDPI. (2020). Pneumonia COVID-19 di Indonesia. Jurnal Respirologi Indonesia. [jurnalrespirologi.org/index.php/jri/article/view/covid19-pneumonia]

The Lancet. (2021). Pathophysiology of COVID-19 ARDS. The Lancet Respiratory Medicine. [thelancet.com/journals/lanres/article/PIIS2213-2600(20)30518-4/fulltext]

WHO. (2020). Clinical management of COVID-19. World Health Organization. [who.int/publications/i/item/clinical-management-of-covid-19]


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *