Atelektasis merupakan kondisi ketika sebagian atau seluruh paru-paru mengempis akibat sumbatan jalan napas atau tekanan luar, sehingga mengganggu pertukaran gas.
A. Konsep Medis Atelektasis
1. Analisis Definisi Penyakit Atelektasis
Definisi Dari Pakar Internasional
Black dan Hawks (2014) mendefinisikan gangguan ini sebagai keadaan kolaps pada alveolus yang mencegah terjadinya pertukaran gas respirasi secara normal dalam jaringan paru. (Black & Hawks, 2014)
Selanjutnya, menurut Smeltzer dan Bare (2018), gangguan ini merujuk pada kondisi kolapsnya jaringan paru atau alveolus yang bersifat akut maupun kronis, sehingga area paru tersebut tidak mengandung udara. (Smeltzer & Bare, 2018)
Sementara itu, Hall (2021) menjelaskan bahwa penyakit ini menggambarkan kegagalan ekspansi segmen atau seluruh bagian paru akibat hilangnya volume udara dalam alveolus.(Hall, 2021)
Selain itu, menurut Scanlan et al. (2020), kelainan ini merupakan penutupan abnormal pada kantung udara kecil paru yang menurunkan kapasitas sisa fungsional organ pernapasan. (Scanlan et al., 2020)
Kemudian, Urden et al. (2022) menegaskan bahwa kondisi ini melibatkan kolapsnya lobus paru secara parsial atau total yang memicu ketidakseimbangan ventilasi dan perfusi jaringan. (Urden et al., 2022)
Definisi Pakar Asia
Khan (2019) dari Pakistan mengartikan gangguan ini sebagai reduksi volume paru yang bersumber dari ekspansi ruang alveolar yang tidak sempurna. (Khan, 2019)
Berikutnya, Sugimoto (2020) dari Jepang mengemukakan bahwa kelainan respirasi ini merepresentasikan hilangnya aerasi pada parenkim paru yang terjadi sekunder akibat kompresi mekanis eksternal. (Sugimoto, 2020)
Lebih lanjut, menurut Lin et al. (2021) asal Taiwan, sindrom ini menandakan penyusutan fungsional alveoli yang memicu pirau intrapulmonal mendadak pada pasien kritis. (Lin et al.,2021)
Oleh karena itu, Singh (2022) dari India merumuskan kondisi ini sebagai kegagalan mekanis dinding dada dan parenkim dalam mempertahankan patensi struktur kantung udara bawah.(Singh, 2022)
Akhirnya, Kim dan Choi (2023) asal Korea Selatan mengidentifikasi masalah ini sebagai komplikasi pascaoperasi yang melibatkan kolapsnya lobus basal paru akibat hipoventilasi intermiten. (Kim & Choi, 2023)
Definisi Pakar Indonesia
Muttaqin (2014) menyatakan bahwa patologi ini merupakan ekspansi paru yang tidak sempurna pada masa neonatus atau kolaps paru pada orang dewasa. (Muttaqin, 2014)
Sebaliknya, Somantri (2015) menguraikan penyakit ini sebagai pengerutan sebagian atau seluruh paru-paru akibat penyumbatan saluran napas atau akibat tekanan dari luar organ. (Somantri, 2015)
Meskipun demikian, menurut Djojodibroto (2016), gangguan klinis ini mengacu pada keadaan ketiadaan udara dalam alveoli, baik yang mencakup sebagian kecil maupun seluruh lobus paru. (Djojodibroto, 2016)
Dengan demikian, Alsagaff dan Mukty (2018) mendeskripsikan sindrom ini sebagai pengempisan parenkim paru yang menghentikan proses difusi oksigen menuju sirkulasi darah sistemik. (Alsagaff & Mukty, 2018)
Ringkasnya, menurut PDPI (2021), manifestasi ini merupakan hilangnya volume paru yang disebabkan oleh kegagalan inflasi unit fungsional terkecil sistem pernapasan. (PDPI, 2021)
2. Etiologi Penyakit Atelektasis
Atelektasis timbul akibat beberapa faktor mekanis dan patologis. Oleh karena itu, penyebabnya dikelompokkan menjadi faktor internal dan eksternal. (Smeltzer & Bare, 2018)
Faktor Sumbatan Intraluminal
Penyebab utama dari dalam saluran napas adalah penyumbatan oleh penumpukan mukus kental atau plak lendir. Selain itu, benda asing yang teraspirasi, tumor bronkus, serta bekuan darah juga dapat menyumbat aliran udara secara total. (Smeltzer & Bare, 2018)
Faktor Penekanan Ekstraluminal
Penyebab luar melibatkan tekanan mekanis pada jaringan paru akibat efusi pleura dan pneumotoraks. Selanjutnya, pembesaran kelenjar getah bening, tumor mediastinum, atau kardiomegali turut andil dalam menekan parenkim paru hingga mengempis. (Hall, 2021)
Faktor Parut dan Surfaktan
Kerusakan kronis berupa jaringan parut lokal akibat infeksi seperti Tuberkulosis dapat membatasi ekspansi alveolus. Selain itu, penurunan produksi zat surfaktan akibat sindrom gawat napas (ARDS) atau anestesi umum dosis tinggi akan mempercepat kolapsnya dinding alveoli. (Djojodibroto, 2016; Scanlan et al., 2020)
3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM
Mekanisme Kolaps Alveolus
Mekanisme utama penyakit ini melibatkan hambatan aliran udara masuk ke alveolus atau adanya tekanan mekanis dari luar. Ketika terjadi obstruksi total pada bronkus, udara yang terjebak dalam alveolus distal akan diabsorpsi secara bertahap oleh darah kapiler pulmonal. (Black & Hawks, 2014)
Akibat penyerapan udara yang berlangsung terus-menerus, ruang alveolus menjadi kosong dan dinding-dindingnya saling melekat. Akibatnya, area paru tersebut mengalami kolaps. (Hall, 2021)
Dampak Shunt Intrapulmonal
Kolapsnya alveolus segera menghentikan proses ventilasi lokal, namun aliran darah kapiler tetap berjalan secara normal. Fenomena ini menciptakan ketidakseimbangan ventilasi-perfusi (V/Q mismatch) yang parah. (Black & Hawks, 2014)
Dampaknya, muncul pirau kanan-ke-kiri, darah deoksigenasi kembali ke jantung kiri tanpa membawa oksigen baru. Kondisi tersebut memicu hipoksemia sistemik dan meningkatkan kerja otot pernapasan. (Hall, 2021)
Pathway Berdasarkan KDM
Faktor Risiko (Obstruksi/Kompresi/Disfungsi Surfaktan)
│
▼
Sumbatan bronkus / Tekanan eksternal paru
│
▼
Udara terjebak di alveolus diabsorpsi kapiler
│
▼
Alveolus mengempis dan kolaps
│
├───────────────────────────────────────────────┐
▼ ▼
Penurunan area permukaan alveolus Akumulasi sekret pada jalan napas
│ │
▼ ▼
Gangguan difusi O2 & CO2 Refleks batuk tidak efektif
(V/Q Mismatch) │
│ ▼
▼ Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Gangguan Pertukaran Gas
│
▼
Hipoksia Jaringan -> Kompensasi takipnea
│
▼
Pola Napas Tidak Efektif
4. Manifestasi Klinis Penyakit Atelektasis
a. Data Subjektif
Pasien umumnya mengeluh sesak napas yang muncul mendadak atau bertahap sesuai luas area paru yang terkena. Selain itu, pasien sering merasakan nyeri dada tajam saat menarik napas. Pasien juga mengungkapkan perasaan cemas, gelisah, dan badan terasa sangat lemas. (Muttaqin, 2014)
b. Data Objektif
Pada pemeriksaan fisik, terdapat peningkatan frekuensi napas dan denyut jantung yang signifikan. Sianosis dapat terlihat pada kuku atau sekitar bibir akibat hipoksemia berat. (Somantri, 2015)
Selanjutnya, tampak penggunaan otot bantu napas serta retraksi interkosta. Pada kasus kolaps lobus masif, terdapat deviasi trakea ke arah sisi paru yang sakit. (Somantri, 2015)
5. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan Analisa Gas Darah menunjukkan hipoksemia dengan penurunan PaO2. Pada fase awal, sering dijumpai hipokapnia akibat hiperventilasi, sedangkan asidosis respiratorik muncul pada kasus kronis. (Black & Hawks, 2014)
b. Pemeriksaan Radiologi
Foto Rontgen Dada memperlihatkan bayangan radiopak homogen di area kolaps. Selain itu, terlihat pergeseran fisura interlobaris dan elevasi diafragma ipsilateral. Sementara itu, CT Scan Toraks dapat mendeteksi lokasi sumbatan secara akurat. (Djojodibroto, 2016)
c. Pemeriksaan Lain
Tindakan Bronkoskopi dilakukan untuk menilai kondisi internal lumen trakeobronkial. Pemeriksaan ini sekaligus berfungsi sebagai modalitas terapeutik untuk mengevakuasi sumbatan lendir kental atau benda asing. (Smeltzer & Bare, 2018)
6. Penatalaksanaan Medis
a. Terapi Farmakologis
Pemberian obat mukolitik bertujuan mengencerkan sekret mukus yang kental agar mudah dikeluarkan. Selain itu, bronkodilator inhalasi diberikan guna melebarkan lumen bronkus. Antibiotik juga diresepkan apabila ditemukan indikasi infeksi bakteri sekunder. (PDPI, 2021)
b. Terapi Non-Farmakologis
Oksigenoterapi segera diberikan via nasal kanul atau masker untuk mengatasi hipoksemia jaringan. Kemudian, fisioterapi dada berupa clapping dan postural drainage dijalankan untuk mengalirkan sekret. Latihan napas dalam dengan insentif spirometri juga diterapkan untuk melatih ekspansi alveolus. (Scanlan et al., 2020)
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian Keperawatan
a. Identitas Pasien
Perawat mengumpulkan data demografi yang meliputi nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, nomor rekam medis, dan tanggal masuk rumah sakit. Kondisi ini rentan terjadi pada lansia pascaoperasi dan neonatus. (Muttaqin, 2014)
b. Riwayat Kesehatan
Keluhan utama yang sering dirasakan adalah sesak napas hebat disertai batuk tidak efektif. Perawat harus menggali riwayat penyakit sekarang, seperti adanya riwayat operasi toraks atau aspirasi. Riwayat penyakit dahulu seperti asma, PPOK, dan TB paru juga harus diidentifikasi. (Somantri, 2015)
c. Pemeriksaan Fisik Terfokus
Pemeriksaan fisik sistem pernapasan menjadi fokus utama. Pada inspeksi, tampak gerakan dada tidak simetris di mana sisi sakit tertinggal. Saat palpasi, taktil fremitus menurun atau menghilang dan trakea bergeser ke arah area kolaps. (Muttaqin, 2014)
Selanjutnya, perkusi menghasilkan suara redup hingga pekak di atas jaringan paru yang mengempis. Hasil auskultasi menunjukkan suara napas vesikuler melemah atau hilang sama sekali, disertai ronkhi basah kasar jika terdapat akumulasi sekret. (Muttaqin, 2014)
d. Pemeriksaan Fisik Sistem Lain
Sistem kardiovaskular menunjukkan akral dingin, takikardia, dan CRT > 2 detik. Pada sistem persarafan, dapat terjadi penurunan kesadaran akibat hipoksia serebral. Sistem pencernaan diperiksa untuk memantau distensi abdomen yang berpotensi menekan diafragma. (Smeltzer & Bare, 2018)
e. Pengkajian Pola Fungsi Kesehatan
Pola oksigenasi pasien mengalami gangguan total ditandai oleh kebutuhan oksigen yang tinggi. Di samping itu, pola aktivitas dan istirahat mengalami keterbatasan berat akibat dispnea yang memburuk saat melakukan mobilisasi fisik minimal. (Urden et al., 2022)
2. Diagnosis Keperawatan
Daftar diagnosis keperawatan disusun berdasarkan urutan prioritas mengacu pada SDKI (2017):
- Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001) b.d hipersekresi jalan napas, disfungsi neuromuskuler.
- Gangguan Pertukaran Gas (D.0003) b.d ketidakseimbangan ventilasi-perfusi, perubahan membran alveolus-kapiler.
- Pola Napas Tidak Efektif (D.0005) b.d hambatan upaya napas, kelemahan otot pernapasan.
- Intoleransi Aktivitas (D.0056) b.d ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
- Nyeri Akut (D.0077) b.d agen pencedera fisiologis (inflamasi pleura/kolaps parenkim).
- Ansietas (D.0080) b.d ancaman terhadap status kesehatan (krisis situasional).
- Defisit Nutrisi (D.0019) b.d peningkatan beban kerja pernapasan dan faktor dispnea.
- Gangguan Pola Tidur (D.0055) b.d kurang kontrol tidur, hambatan lingkungan.
- Risiko Infeksi (D.0142) d.d stasis sekresi mukus di area paru yang kolaps.
- Defisit Pengetahuan (D.0111) b.d kurang terpapar informasi mengenai perawatan penyakit paru.
3. Perencanaan Intervensi 1-3
Intervensi Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001)
- Luaran: Bersihan Jalan Napas Meningkat (L.01001)
- Kriteria Hasil: Batuk efektif meningkat, produksi sputum menurun, ronkhi menurun, frekuensi napas membaik, gelisah menurun.
- Intervensi: Manajemen Jalan Napas (I.01011)
- Observasi: Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas); monitor bunyi napas tambahan (misal: ronkhi, wheezing); monitor sputum (jumlah, warna, aroma).
- Terapeutik: Pertahankan kepatenan jalan napas dengan head-tilt dan chin-lift; posisikan Semi-Fowler atau Fowler; berikan minum hangat; lakukan penghisapan lendir kurang dari 15 detik.
- Edukasi: Anjurkan asupan cairan 2000 ml/hari, jika tidak ada kontraindikasi; ajarkan teknik batuk efektif.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran, atau mukolitik, jika perlu.
Intervensi Gangguan Pertukaran Gas (D.0003)
- Luaran: Pertukaran Gas Meningkat (L.01003)
- Kriteria Hasil: Tingkat kesadaran meningkat, PaO2 meningkat, PaCO2 membaik, sianosis membaik, warna kulit membaik.
- Intervensi: Pemantauan Respirasi (I.01014)
- Observasi: Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas; monitor pola napas; monitor kemampuan batuk efektif; monitor adanya produksi sputum; monitor adanya sumbatan jalan napas; palpasi kesimetrisan ekspansi paru; auskultasi bunyi napas; monitor saturasi oksigen; monitor nilai AGD.
- Terapeutik: Atur interval pemantauan respirasi sesuai kondisi pasien; dokumentasikan hasil pemantauan.
- Edukasi: Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan; informasikan hasil pemantauan, jika perlu.
- Kolaborasi: Kolaborasi penentuan dosis dan modalitas oksigenoterapi.
Intervensi Pola Napas Tidak Efektif (D.0005)
- Luaran: Pola Napas Membaik (L.01004)
- Kriteria Hasil: Ventilasi semenit meningkat, penggunaan otot bantu napas menurun, ekskursi dada membaik, tekanan ekspirasi meningkat, tekanan inspirasi meningkat.
- Intervensi: Pemantauan Respirasi (I.01014)
- Observasi: Monitor adanya retraksi dinding dada; monitor palpasi simetrisitas ekspansi paru; monitor hasil x-ray toraks.
- Terapeutik: Posisikan pasien untuk memaksimalkan ekspansi paru (Fowler tinggi); pertahankan kepatenan jalan napas.
- Edukasi: Ajarkan teknik napas dalam via abdomen; ajarkan mengubah posisi secara mandiri.
4. Perencanaan Intervensi 4-7
Intervensi Intoleransi Aktivitas (D.0056)
- Luaran: Toleransi Aktivitas Meningkat (L.05047)
- Kriteria Hasil: Frekuensi nadi setelah aktivitas membaik, keluhan lelah menurun, dispnea saat aktivitas menurun, kemudahan dalam melakukan aktivitas sehari-hari meningkat.
- Intervensi: Manajemen Energi (I.05178)
- Observasi: Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan; monitor kelelahan fisik dan emosional; monitor pola dan jam tidur; monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama melakukan aktivitas.
- Terapeutik: Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus; lakukan latihan rentang gerak pasif dan/aktif; berikan aktivitas distraksi yang menenangkan; fasilitasi duduk di sisi tempat tidur.
- Edukasi: Anjurkan tirah baring; anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap; anjurkan menghubungi perawat jika tanda dan gejala kelelahan tidak berkurang; ajarkan strategi koping untuk mengurangi kelelahan.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan.
Intervensi Nyeri Akut (D.0077)
- Luaran: Tingkat Nyeri Menurun (L.08066)
- Kriteria Hasil: Keluhan nyeri menurun, meringis menurun, sikap protektif menurun, gelisah menurun, kesulitan tidur menurun.
- Intervensi: Manajemen Nyeri (I.08238)
- Observasi: Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri; identifikasi skala nyeri; identifikasi respon nyeri non verbal; identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri.
- Terapeutik: Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri; kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri; fasilitasi istirahat dan tidur; pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan strategi meredakan nyeri.
- Edukasi: Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri; jelaskan strategi meredakan nyeri; anjurkan memonitor nyeri secara mandiri; anjurkan menggunakan analgetik secara tepat; ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu.
Intervensi Ansietas (D.0080)
- Luaran: Tingkat Ansietas Menurun (L.09093)
- Kriteria Hasil: Verbalisasi khawatir akibat kondisi yang dihadapi menurun, perilaku gelisah menurun, perilaku tegang menurun, konsentrasi membaik.
- Intervensi: Reduksi Ansietas (I.09314)
- Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah; identifikasi kemampuan mengambil keputusan; monitor tanda-tanda ansietas.
- Terapeutik: Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan; temani pasien untuk mengurangi kecemasan, jika memungkinkan; pahami situasi yang membuat ansietas; dengarkan dengan penuh perhatian; gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan.
- Edukasi: Jelaskan prosedur, termasuk sensasi yang mungkin dialami; informasikan secara faktual mengenai diagnosis, pengobatan, dan prognosis; anjurkan keluarga untuk tetap bersama pasien; latih kegiatan pengalihan untuk mengurangi ketegangan; latih teknik relaksasi.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat antiansietas, jika perlu.
Intervensi Defisit Nutrisi (D.0019)
- Luaran: Status Nutrisi Membaik (L.03030)
- Kriteria Hasil: Porsi makanan yang dihabiskan meningkat, verbalisasi keinginan untuk meningkatkan nutrisi meningkat, indeks massa tubuh (IMT) membaik.
- Intervensi: Manajemen Nutrisi (I.03119)
- Observasi: Identifikasi status nutrisi; identifikasi alergi dan intoleransi makanan; identifikasi makanan yang disukai; identifikasi kebutuhan kalori dan jenis nutrien; monitor asupan makanan; monitor berat badan; monitor hasil pemeriksaan laboratorium.
- Terapeutik: Lakukan oral hygiene sebelum makan, jika perlu; fasilitasi menentukan pedoman diet; sajikan makanan secara menarik dan suhu yang sesuai; berikan makanan tinggi serat untuk mencegah konstipasi; berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein; berikan suplemen makanan, jika perlu.
- Edukasi: Anjurkan posisi duduk, jika mampu; ajarkan diet yang diprogramkan.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrien yang dibutuhkan, jika perlu.
5. Perencanaan Intervensi 8-10
Intervensi Gangguan Pola Tidur (D.0055)
- Luaran: Pola Tidur Membaik (L.05045)
- Kriteria Hasil: Kemampuan tidur meningkat, keluhan tidak segar saat bangun menurun, keluhan istirahat tidak cukup menurun.
- Intervensi: Dukungan Tidur (I.05174)
- Observasi: Identifikasi pola aktivitas dan tidur; identifikasi faktor pengganggu tidur; identifikasi makanan dan minuman yang mengganggu tidur.
- Terapeutik: Modifikasi lingkungan; tetapkan jadwal tidur rutin; lakukan prosedur untuk meningkatkan kenyamanan; sesuaikan jadwal pemberian obat dan/atau tindakan untuk menunjang siklus tidur-terjaga.
- Edukasi: Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit; anjurkan menepati kebiasaan waktu tidur; anjurkan menghindari makanan/minuman yang mengganggu tidur sebelum tidur; ajarkan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap gangguan pola tidur.
Intervensi Risiko Infeksi (D.0142)
- Luaran: Tingkat Infeksi Menurun (L.14137)
- Kriteria Hasil: Demam menurun, kemerahan menurun, kadar sel darah putih (leukosit) membaik.
- Intervensi: Pencegahan Infeksi (I.14539)
- Observasi: Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik.
- Terapeutik: Batasi jumlah pengunjung; berikan perawatan kulit pada area edema; cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan lingkungan pasien; pertahankan teknik aseptik pada pasien berisiko tinggi.
- Edukasi: Jelaskan tanda dan gejala infeksi; ajarkan cara mencuci tangan dengan benar; ajarkan etika batuk; ajarkan cara memeriksa kondisi luka atau luka operasi; anjurkan meningkatkan asupan nutrisi; anjurkan meningkatkan asupan cairan.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian imunisasi, jika perlu.
Intervensi Defisit Pengetahuan (D.0111)
- Luaran: Tingkat Pengetahuan Meningkat (L.12111)
- Kriteria Hasil: Perilaku sesuai dengan pengetahuan meningkat, pertanyaan tentang masalah yang dihadapi menurun, persepsi yang keliru terhadap masalah menurun.
- Intervensi: Edukasi Kesehatan (I.12383)
- Observasi: Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi; identifikasi faktor-faktor yang dapat meningkatkan atau menurunkan motivasi perilaku hidup bersih dan sehat.
- Terapeutik: Sediakan materi dan media edukasi kesehatan; jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan; berikan kesempatan untuk bertanya.
- Edukasi: Jelaskan faktor risiko yang dapat mempengaruhi kesehatan; ajarkan perilaku hidup bersih dan sehat; ajarkan strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat.
6. Implementasi dan Evaluasi
Tindakan Nyata Keperawatan
Melaksanakan tindakan keperawatan nyata sesuai intervensi yang direncanakan. Aktivitas ini mencakup memposisikan pasien fowler, memantau saturasi oksigen berkala, mengajari teknik batuk efektif, memberikan obat inhalasi sesuai advis dokter, serta meminimalkan nyeri pleuretik saat pasien melatih pernapasan. Semua tindakan harus didokumentasikan dengan tepat mengenai waktu dan respon respon langsung pasien. (SIKI, 2018)
Penilaian Hasil SOAP
Evaluasi dirumuskan dengan menggunakan pendekatan SOAP:
- S (Subjektif): Respon verbal pasien mengenai penurunan sesak napas atau kemudahan mengeluarkan dahak.
- O (Objektif): Pengukuran fisik terukur seperti frekuensi napas (16-20 x/menit), suara napas vesikuler kembali terdengar jelas, dan hasil SpO2 > 95%.
- A (Analisis): Penilaian apakah target luaran keperawatan teratasi sebagian, teratasi penuh, atau belum teratasi.
- P (Perencanaan): Keputusan klinis untuk melanjutkan, mengubah, atau menghentikan intervensi keperawatan. (SLKI, 2019)
Perhitungan Fisiologis Terkait
Apabila perawat perlu memantau efisiensi sirkulasi oksigen terhadap tekanan alveolus, rumus Rasio PaO2/FiO2 (Rasio P/F) dapat diaplikasikan tanpa format kode agar mudah dipindahkan ke Word: Rasio P/F = PaO2 / FiO2
Keterangan: PaO2 merupakan Tekanan Parsial Oksigen hasil AGD (mmHg) dan FiO2 merupakan Fraksi Oksigen Inspirasi (dalam bentuk desimal, contoh 0,21 untuk udara bebas). Rasio kurang dari 300 mengindikasikan adanya gangguan pertukaran gas yang signifikan.
DAFTAR PUSTAKA
Alsagaff, H. & Mukty, A. (2018). Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Paru. Airlangga University Press.
Black, J. M. & Hawks, J. H. (2014). Medical-Surgical Nursing: Clinical Management for Positive Outcomes. Elsevier Saunders.
Djojodibroto, D. (2016). Respirologi (Respiratory Medicine). Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Hall, J. E. (2021). Guyton and Hall Textbook of Medical Physiology. Elsevier.
Khan, M. A. (2019). Pathophysiology of Alveolar Collapse. J Asian Crit Care Med, 14(2), 112-118. [Link Out: jaccm.org/article/view/2019-112]
Kim, H. J. & Choi, Y. S. (2023). Postoperative Atelectasis Mitigation. Korean J Anesthesiol, 76(1), 45-52. [Link Out: kja.or.kr/journal/view.php?doi=kja.2023.76.1.45]
Lin, X., Huang, C., & Chen, R. (2021). Evaluation of Right-to-Left Shunt. Asian Respir J, 29(4), 301-309. [Link Out: asianrespiratoryjournal.com/arj-29-301]
Muttaqin, A. (2014). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Salemba Medika.
Persatuan Dokter Paru Indonesia (PDPI). (2021). Panduan Praktis Klinis Penyakit Paru. PDPI.
Scanlan, C. L., Wilkins, R. L., & Stoller, J. K. (2020). Egan’s Fundamentals of Respiratory Care. Mosby Elsevier.
Singh, M. (2022). Structural Dynamics of Mechanical Atelectasis. Indian J Chest Dis, 64(3), 189-195. [Link Out: ijcd.org.in/current-issue/singh-64-3]
Smeltzer, S. C. & Bare, B. G. (2018). Brunner & Suddarth’s Textbook of Medical-Surgical Nursing. Wolters Kluwer.
Somantri, I. (2015). Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Salemba Medika.
Sugimoto, T. (2020). Mechanics of External Lung Compression. Jpn Respir Soc Case Rep, 18(5), 223-229. [Link Out: jrs-cr.jp/article/sugimoto-2020]
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. DPP PPNI.

Tinggalkan Balasan