Epilepsi merupakan gangguan saraf otak kronis akibat aktivitas listrik abnormal, yang memicu kejang berulang dan memengaruhi kesadaran serta motorik tubuh.
- A. Konsep Medis Epilepsi
- B. Konsep Asuhan Keperawatan
- DAFTAR PUSTAKA
A. Konsep Medis Epilepsi
1. Definisi Penyakit Epilepsi
Definisi Dari Pakar Internasional
International League Against Epilepsy (ILAE) mengonseptualisasikan kondisi ini sebagai penyakit otak yang memiliki karakteristik berupa predisposisi berkelanjutan untuk menghasilkan kejang epileptik (Fisher et al., 2014).
Selanjutnya,World Health Organization (WHO) mendefinisikan gangguan ini sebagai kelainan otak kronis non-komunikabel yang memengaruhi orang-orang dari segala usia seluruh dunia (WHO, 2019).
Selain itu,Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Menjelaskan penyakit tersebut sebagai kondisi otak yang menyebabkan seseorang mengalami kejang berulang secara spontan (CDC, 2020).
Kemudian, Mayo Clinic mengidentifikasi gangguan ini sebagai kondisi sistem saraf pusat ketika aktivitas otak menjadi tidak normal (Mayo Clinic, 2023).
Lebih lanjut,Johns Hopkins Medicine mendeskripsikan kelainan tersebut sebagai gangguan spektrum yang menghasilkan berbagai gejala akibat gangguan fungsi sel saraf pada otak (Johns Hopkins, 2024).
Definisi Pakar Asia
Asian & Oceanian Association of Neurology (AOAN) menetapkan penyakit ini sebagai salah satu gangguan neurologis serius yang paling umum terjadi pada kawasan Asia Pasifik (AOAN, 2015).
Sementara itu, Japan Epilepsy Society (JES) merumuskan kelainan ini sebagai sindrom klinis kronis dengan karakteristik pelepasan muatan listrik neuron serebral yang berlebihan (JES, 2018).
Sejalan dengan hal tersebut, Korean Epilepsy Society (KES) mengklasifikasikan gangguan tersebut sebagai penyakit otak organik yang bermanifestasi dalam bentuk serangan kejang berulang akibat sinkronisasi abnormal sel saraf (KES, 2021).
Oleh karena itu, Chinese Society of Neurology (CSN) menegaskan kondisi ini sebagai disfungsi otak kronis yang memerlukan tata laksana komprehensif jangka panjang guna mencegah disabilitas kognitif (CSN, 2022).
Tambahan pula, Indian Academy of Neurology (IAN) mendefinisikan fenomena tersebut sebagai manifestasi klinis dari aktivitas hipersinkron abnormal sekelompok neuron pada korteks serebri (IAN, 2023).
Definisi Pakar Indonesia
Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) menyatakan kondisi ini sebagai kelainan otak yang muncul karna adanya faktor predisposisi menetap untuk timbulnya kejang epileptik (PERDOSSI, 2019).
Lalu, Kelompok Studi Epilepsi PERDOSSI mengartikan manifestasi ini sebagai gangguan fungsi otak akibat pelepasan muatan listrik yang berlebihan pada neuron kortikal secara paroksismal (PERDOSSI, 2020).
Berikutnya, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menetapkan penyakit tersebut sebagai bangkitan kejang tanpa provokasi yang terjadi berulang dengan interval waktu lebih dari 24 jam (IDAI, 2022).
Maka dari itu, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) menggolongkan kelainan ini sebagai masalah kesehatan masyarakat global yang memerlukan penanganan khusus (Kemenkes RI, 2023).
Akhirnya, Soetomenggolo dan Ismael mendeskripsikan sindrom ini sebagai kedaruratan neurologis non-traumatik yang paling sering menyerang populasi anak akibat ketidakseimbangan neurotransmiter (Soetomenggolo & Ismael, 2020).
2. Sumber Etiologi Penyakit Epilepsi
Faktor struktural mencakup adanya kelainan makroskopis atau mikroskopis pada jaringan otak. Contoh nyata dari kondisi ini adalah stroke infark, perdarahan intrakranial, trauma kepala berat, tumor otak, atau malformasi perkembangan kortikal (Fisher et al., 2014).
Faktor genetik melibatkan mutasi spesifik yang ditunrunkan secara herediter atau terjadi secara de novo. Mutasi ini umumnya memengaruhi fungsi saluran ion atau reseptor neurotransmiter dalam otak (PERDOSSI, 2019).
Faktor infeksi memicu kerusakan jaringan otak sekunder akibat serangan mikroorganisme. Kondisi ini dapat berupa meningitis bakteri, ensefalitis virus, tuberkulosis serebral, atau neurosistiserkosis (Fisher et al., 2014).
Faktor metabolik timbul dari gangguan biokimia sistemik atau serebral yang memicu kejang. Beberapa meliputi ensefalopati uremikum, gangguan siklus urea, atau ensefalopati mitokondria (PERDOSSI, 2019).
Faktor imunologis berhubungan erat dengan peradangan otak yang dimediasi oleh autoantibodi. Manifestasi klinisnya sering muncul pada anti-NMDA receptor encephalitis atau limbic encephalitis (Fisher et al., 2014).
Faktor tidak diketahui mencakup kasus-kasus bangkitan kejang yang belum dapat ditemukan penyebab pastinya melalui pemeriksaan diagnostik kontemporer (PERDOSSI, 2019).
3. Patofisiologi Sistem Saraf Penyakit Epilepsi
Mekanisme Seluler Otak
Mekanisme dasar kelainan ini berpusat pada ketidakseimbangan transmisi sinaps. Akibatnya, terjadi peningkatan Glutamat eksitatorik dan penurunan GABA inhibitorik yang memicu pembukaan berlebihan saluran natrium dan kalsium (Johns Hopkins, 2024).
Oleh karena itu, terjadi influks ion positif ke dalam intrasel secara masif. Fenomena ini menyebabkan depolarisasi membran sel saraf yang sinkron dan menyebar luas ke area korteks sekitarnya (PERDOSSI, 2020).
Alur Penyimpangan KDM
Etiologi (Struktural, Genetik, Infeksi, Imunologis, Metabolik)
│
▼
Kerusakan / Gangguan Sel Neuron Otak
│
▼
Ketidakseimbangan Neurotransmiter (Glutamat ▲ / GABA ▼)
│
▼
Instabilitas Membran Sel Saraf & Depolarisasi Masif
│
▼
┌────────────────────────────────────────────────────────┐
│ Kejang Epileptik Berulang │
└───────────────────────┬────────────────────────────────┘
│
┌─────────────────┴─────────────────┐
▼ ▼
[Manifestasi Motorik & Sistemik] [Penurunan Kesadaran & Tonus]
│ │
├─► Spasme otot pernapasan ├─► Lidah jatuh ke belakang,
│ & hiperventilasi │ akumulasi mukus/sekret
│ (Risiko Asfiksia) │ (Bersihan Jalan Napas
│ (Pola Napas Tidak Efektif) │ Tidak Efektif)
│ │
├─► Kontraksi otot klonik-tonik ├─► Penurunan refleks protektif
│ (Risiko Cedera) │ & disfagia
│ │ (Risiko Aspirasi)
│ │
└─► Peningkatan metabolisme otot └─► Kelemahan pasca-kejang
(Hipertermia) (Intoleransi Aktivitas)
(Fisher et al., 2014, PERDOSSI, 2019, Tim Pokja SDKI PPNI, 2017)
4. Manifestasi Klinis Bangkitan Penyakit Epilepsi
Ragam Data Subjektif
Pasien atau keluarga melaporkan adanya aura berupa sensasi aneh pada lambung, pusing mendadak, atau halusinasi penciuman sebelum kejang (PERDOSSI, 2019).
Selanjutnya, pasien sering mengeluh sakit kepala hebat, nyeri otot seluruh tubuh, serta kelelahan ekstrem setelah kejang berakhir (Mayo Clinic, 2023).
Selain itu, keluarga menyatakan adanya periode bengong atau kehilangan kesadaran sesaat pada pasien anak (IDAI, 2022).
Kemudian, pasien merasakan kecemasan yang mendalam, kebingungan, atau disorientasi ruang pasca-serangan (Johns Hopkins, 2024).
Ragam Data Objektif
Petugas mengobservasi adanya kejang tonik berupa kaku otot atau klonik berupa sentakan ritmis ekstremitas (Fisher et al., 2014).
Sementara itu, tampak penurunan kesadaran yang nyata atau sinkop selama episode bangkitan berlangsung (WHO, 2019).
Lebih lanjut, ditemukan pengeluaran busa dari mulut akibat hipersalivasi serta inkontinensia urin saat kejang (PERDOSSI, 2020).
Terakhir, tampak deviasi bola mata ke atas disertai sianosis peri-oral akibat spasme otot pernapasan (IDAI, 2022).
5. Strategi Pemeriksaan Penunjang
Evaluasi Laboratorium Klinis
Pemeriksaan darah lengkap dilakukan guna menyingkirkan infeksi sistemik. Selain itu, kimia darah difokuskan pada kadar Natrium, Kalsium, dan Magnesium serum (Kemenkes RI, 2023).
Selanjutnya, pemantauan kadar terapeutik obat anti-epilepsi dalam darah dilaksanakan secara berkala. Hal ini bertujuan untuk menilai kepatuhan atau mendeteksi toksisitas obat (PERDOSSI,2019).
Kemudian, analisis cairan serebrospinal melalui lumbal pungsi dikerjakan jika dicurigai terdapat infeksi akut sistem saraf pusat (IDAI, 2022).
Evaluasi Radiologi dan Elektro fisiologi
Magnetic Resonance Imaging (MRI) otak menjadi baku emas radiologis. Pemeriksaan ini sangat efektif untuk mendeteksi lesi struktural epileptogenik (JES, 2018).
Sementara itu, Computed Tomography (CT) Scan dilakukan pada kondisi darurat. Langkah ini diambil terutama untuk menyingkirkan perdarahan intrakranial akut (PERDOSSI, 2020).
Di sisi lain, Elektroensefalografi (EEG) menjadi pemeriksaan penunjang paling esensial. Pemeriksaan ini berfungsi mendeteksi gelombang epileptiform dan menentukan fokus kejang (Fisher et al., 2014).
6. Modalitas Penatalaksanaan Medis
Metode Terapi Farmakologis
Terapi obat menggunakan prinsip monoterapi dengan dosis rendah yang dinaikkan bertahap.
Pilihan ini pertama kejang fokal adalah Karbamazepin atau Levetiracetam (PERDOSSI, 2019).
Selanjutnya, pilihan lini pertama untuk kejang umum meliputi Asam Valproat atau Lamotrigin (PERDOSSI, 2019).
Pada kondisi akut status epileptikus, dokter memberikan benzodiazepin intravena seperti Diazepam 5-10 mg atau Lorazepam 2-4 mg (Kemenkes RI, 2023).
Metode Terapi Non-Farmakologis
Reseksi bedah seperti lobektomi temporal dilakukan pada kasus farmakoresisten. Syarat utamanya adalah fokus epileptogenik harus tunggal dan jelas (JES, 2018).
Kemudian, diet ketogenik dengan komposisi tinggi lemak dan rendah karbohidrat diterapkan.
Terapi nutrisi ini direkomendasikan untuk populasi anak (IDAI, 2022).
Akhirnya, pemasangan Vagus Nerve Stimulation (VNS) dikerjakan pada saraf vagus kiri. Alat ini berfungsi mengirimkan stimulator listrik ke otak (Johns Hopkins, 2024).
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Struktur Pengkajian Keperawatan
Biodata dan Riwayat Kesehatan
Pengkajian identitas mencakup nama, jenis kelamin, dan usia pasien karena insiden bangkitan memuncak pada anak-anak serta lansia (PERDOSSI, 2019).
Selanjutnya, riwayat kesehatan sekarang menggali bentuk bangkitan, durasi serangan, keberadaan aura, serta faktor pencetus seperti kurang tidur (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017).
Berikutnya, riwayat kesehatan dahulu menelusuri adanya trauma kepala, kejang demam masa kecil, stroke, atau infeksi serebral (PERDOSSI, 2019).
Kemudian, riwayat kesehatan keluarga mencari tahu apakah ada anggota keluarga inti yang menderita penyakit saraf serupa (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017).
Pemeriksaan Fisik Persarafan
Pemeriksaan sistem persarafan menjadi fokus utama perawat. Tindakan ini meliputi penilaian tingkat kesadaran kuantitatif dengan Glasgow Coma Scale (GCS) (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017).
Selanjutnya, perawat menguji tanda rangsang meningeal dan memeriksa fungsi dua belas nervus kranial secara komprehensif (PERDOSSI, 2020).
Lalu, perawat melakukan inspeksi dan palpasi kekuatan otot ekstremitas untuk mengidentifikasi kelemahan unilateral pasca-kejang (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017).
Pemeriksaan Fisik Non-Persarafan
Inspeksi sistem pernapasan menilai frekuensi napas dan sianosis peri-oral. Auskultasi paru mendeteksi suara ronkhi akibat akumulasi sekret (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017).
Auskultasi sistem kardiovaskular menghitung denyut jantung untuk mendeteksi takikardia transien yang umum terjadi selama fase iktal (PERDOSSI, 2020).
Inspeksi rongga mulut menilai kebersihan serta mendeteksi adanya laserasi pada jaringan lidah akibat tergigit saat kejang (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017).
Inspeksi sistem muskuloskeletal dan integumen ditujukan untuk mencari jejas, abrasi, atau deformitas sekunder akibat jatuh saat kejang (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017).
Pengkajian Pola Fungsi
Pola persepsi kesehatan menilai pemahaman pasien tentang regimen pengobatan obat anti-epilepsi dan kesadaran menghindari faktor risiko pemicu serangan (PERDOSSI, 2019).
Pola eliminasi memantau ada tidaknya inkontinensia urin, sedangkan pola tidur mengkaji kualitas istirahat yang memengaruhi ambang kejang (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017).
2. Diagnosis Keperawatan Prioritas
Klaster Gangguan Fisiologis
- Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001)
- Pola Napas Tidak Efektif (D.0005)
- Risiko Cedera (D.0136)
- Risiko Aspirasi (D.0006)
- Hipertermia (D.0130)
Klaster Fungsional dan Psikologis
- Intoleransi Aktivitas (D.0056)
- Gangguan Memori (D.0062)
- Ansietas (D.0080)
- Risiko Ketidakpatuhan (D.0114)
- Defisit Pengetahuan (D.0111)
(Tim Pokja SDKI PPNI, 2017)
3. Perencanaan Intervensi Keperawatan
Rencana Intervensi Respirasi (Diagnosis 1-2)
- Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001)
- Luaran Utama: Bersihan Jalan Napas Meningkat (L.01001) dengan kriteria hasil batuk efektif meningkat, produksi sputum menurun, mengorok/stridor menurun, frekuensi napas membaik ($16-20 \text{ kali/menit}$).
- Intervensi Utama: Manajemen Jalan Napas (I.01011).
- Tindakan Observasi: Monitor pola napas; monitor bunyi napas tambahan; monitor sputum.
- Tindakan Terapeutik: Pertahankan kepatenan jalan napas dengan head-tilt dan chin-lift; posisikan miring (recovery position) saat post-iktal; lakukan penghisapan lendir (suctioning) kurang dari 15 detik jika sekret meningkat.
- Tindakan Edukasi: Ajarkan teknik batuk efektif jika pasien sudah sadar penuh.
- Tindakan Kolaborasi: Kolaborasi pemberian oksigen jika diperlukan.
- Pola Napas Tidak Efektif (D.0005)
- Luaran Utama: Pola Napas Membaik (L.01004) dengan kriteria hasil penggunaan otot bantu napas menurun, pemanjangan fase ekspirasi menurun, frekuensi napas membaik.
- Intervensi Utama: Pemantauan Respirasi (I.01014).
- Tindakan Observasi: Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas; monitor adanya sumbatan jalan napas.
- Tindakan Terapeutik: Atur interval pemantauan respirasi sesuai kondisi pasien; dokumentasikan hasil pemantauan.
- Tindakan Edukasi: Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan kepada keluarga.
Rencana Intervensi Proteksi (Diagnosis 3-5)
- Risiko Cedera (D.0136)
- Luaran Utama: Tingkat Cedera Menurun (L.14136) dengan kriteria hasil kejadian cedera menurun, luka/infeksi menurun, ketegangan otot menurun.
- Intervensi Utama: Manajemen Keselamatan Lingkungan (I.14513) dan Pencegahan Kejang (I.14542).
- Tindakan Observasi: Monitor terjadinya kejang berulang; monitor status neurologis; monitor tanda-tanda vital.
- Tindakan Terapeutik: Pasang bantalan pengaman pada pagar tempat tidur; singkirkan benda tajam dari sekitar pasien; jangan memasukkan benda apa pun ke dalam mulut saat kejang; longgarkan pakaian ketat di area leher.
- Tindakan Edukasi: Edukasi keluarga untuk tidak menahan gerakan ekstremitas pasien secara paksa saat terjadi kejang.
- Tindakan Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat anti-konvulsan intravena jika kejang berlangsung lebih dari 5 menit.
- Risiko Aspirasi (D.0006)
- Luaran Utama: Tingkat Aspirasi Menurun (L.01006) dengan kriteria hasil tingkat kesadaran meningkat, kemampuan menelan meningkat, tidak ada dyspnea atau ronkhi.
- Intervensi Utama: Pencegahan Aspirasi (I.01018).
- Tindakan Observasi: Monitor tingkat kesadaran, refleks menelan, dan kemampuan batuk.
- Tindakan Terapeutik: Posisikan kepala tempat tidur ditinggikan $30-45^\circ$ jika pasien mulai sadar; pertahankan posisi miring jika kesadaran masih menurun; bersihkan residu busa dari area mulut.
- Tindakan Edukasi: Instruksikan keluarga untuk menunda pemberian makan/minum oral hingga pasien sadar penuh dan refleks menelan pulih.
- Hipertermia (D.0130)
- Luaran Utama: Termoregulasi Membaik (L.14134) dengan kriteria hasil mengorok menurun, kulit kemerahan menurun, suhu tubuh membaik ($36,5^\circ\text{C} – 37,5^\circ\text{C}$).
- Intervensi Utama: Manajemen Hipertermia (I.15506).
- Tindakan Observasi: Monitor suhu tubuh secara berkala; monitor haluaran urin.
- Tindakan Terapeutik: Longgarkan atau lepaskan pakaian; berikan kompres hangat pada aksila atau lipat paha.
- Tindakan Edukasi: Anjurkan tirah baring total guna meminimalkan produksi panas tubuh.
- Tindakan Kolaborasi: Kolaborasi pemberian cairan intravena dan antipiretik jika diindikasikan.
Rencana Intervensi Kognitif dan Perilaku (Diagnosis 6-10)
- Intoleransi Aktivitas (D.0056)
- Luaran Utama: Toleransi Aktivitas Meningkat (L.05047) dengan kriteria hasil keluhan lelah menurun, dispnea setelah aktivitas menurun, tekanan darah membaik.
- Intervensi Utama: Manajemen Energi (I.05178).
- Tindakan Observasi: Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan; monitor kelelahan fisik.
- Tindakan Terapeutik: Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus; lakukan latihan rentang gerak pasif jika diperlukan pada fase post-iktal.
- Tindakan Edukasi: Anjurkan tirah baring dan melakukan aktivitas secara bertahap.
- Gangguan Memori (D.0062)
- Luaran Utama: Memori Meningkat (L.09079) dengan kriteria hasil kemampuan mengingat peristiwa meningkat, verbalisasi kemampuan mempelajari hal baru meningkat.
- Intervensi Utama: Latihan Memori (I.06188).
- Tindakan Observasi: Identifikasi masalah memori yang dialami.
- Tindakan Terapeutik: Stimulasi memori dengan mengulang informasi; fasilitasi orientasi waktu, tempat, dan orang; gunakan alat bantu pengingat.
- Tindakan Edukasi: Ajarkan teknik memori yang tepat (misalnya asosiasi visual).
- Ansietas (D.0080)
- Luaran Utama: Tingkat Ansietas Menurun (L.09093) dengan kriteria hasil verbalisasi kebingungan menurun, verbalisasi khawatir menurun, perilaku gelisah menurun.
- Intervensi Utama: Reduksi Ansietas (I.09314).
- Tindakan Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah; monitor tanda-tanda ansietas.
- Tindakan Terapeutik: Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan; temani pasien untuk mengurangi kecemasan.
- Tindakan Edukasi: Jelaskan semua prosedur pengobatan termasuk sensasi yang mungkin dialami; latih teknik relaksasi napas dalam.
- Risiko Ketidakpatuhan (D.0114)
- Luaran Utama: Tingkat Kepatuhan Meningkat (L.12110) dengan kriteria hasil perilaku mengikuti program pengobatan membaik, tanda dan gejala penyakit membaik.
- Intervensi Utama: Fasilitasi Pemenuhan Program Pengobatan (I.12377).
- Tindakan Observasi: Identifikasi faktor penyebab ketidakpatuhan (misal: efek samping obat).
- Tindakan Terapeutik: Libatkan keluarga dalam perencanaan pengobatan; dokumentasikan kemajuan kepatuhan.
- Tindakan Edukasi: Informasikan manfaat pengobatan jangka panjang dan bahaya penghentian obat secara mendadak.
- Defisit Pengetahuan (D.0111)
- Luaran Utama: Tingkat Pengetahuan Meningkat (L.12111) dengan kriteria hasil perilaku sesuai anjuran meningkat, kemampuan menjelaskan pengetahuan tentang suatu topik meningkat.
- Intervensi Utama: Edukasi Kesehatan (I.12383).
- Tindakan Observasi: Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi.
- Tindakan Terapeutik: Sediakan materi dan media edukasi penanganan kejang mandiri.
- Tindakan Edukasi: Ajarkan strategi menghindari pemicu kejang; jelaskan pentingnya membawa kartu identitas penderita saat bepergian.
(Tim Pokja SLKI PPNI, 2019, Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)
4. Pelaksanaan Tindakan Nyata
Tindakan keperawatan atau implementasi dilakukan secara nyata di lapangan berdasarkan seluruh rencana intervensi yang telah ditetapkan sebelumnya. Hal ini mencakup pelaksanaan tindakan mandiri perawat serta tindakan kolaboratif dengan tim medis. Perawat wajib mendokumentasikan setiap tindakan secara tepat waktu, akurat, dan mencantumkan respons subjektif maupun objektif pasien (Tim Pokja SIKI PPNI, 2018).
5. Penilaian Keberhasilan Asuhan
Evaluasi keperawatan dilaksanakan untuk mengukur sejauh mana kriteria hasil pada luaran telah tercapai. Format dokumentasi menggunakan pendekatan deskriptif SOAP:
- S (Subjektif): Hasil wawancara mengenai keluhan pasien terkini setelah intervensi diberikan.
- O (Objektif): Hasil observasi klinis, pemeriksaan fisik, dan monitoring tanda-tanda vital terbaru.
- A (Asesmen): Kesimpulan klinis apakah masalah keperawatan teratasi, teratasi sebagian, atau belum teratasi sama切.
- P (Planing): Arahan rencana keperawatan selanjutnya; apakah intervensi harus dihentikan atau dilanjutkan.
(Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)
DAFTAR PUSTAKA
Fisher, R. S., et al. (2014). ILAE official report: A practical clinical definition of epilepsy. Epilepsia, 55(4), 475-482. onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/epi.12550
IAN. (2023). Guidelines for the management of epilepsy in India. Annals of Indian Academy of Neurology, 26(1), 12-25. lww.com/aian/Fulltext/2023/26010/Guidelines_for_the_management_of_epilepsy.aspx
IDAI. (2022). Rekomendasi Tata Laksana Kejang Demam dan Epilepsi pada Anak. Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Johns Hopkins. (2024). Epilepsy and Seizures: Diagnosis and Treatment. Johns Hopkins Medicine.
JES. (2018). Clinical guidelines for epilepsy 2018 by the Japan Epilepsy Society. Psychiatry and Clinical Neurosciences, 72(9), 650-672. onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/pcn.12689
Kemenkes RI. (2023). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/1922/2023 Tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Epilepsi. Kementerian Kesehatan RI.
KES. (2021). Clinical practice guidelines for epilepsy in Korea. Journal of Epilepsy Research, 11(2), 85-112. j-epilepsy.org/journal/view.html?doi=10.14581/jer.21012
Mayo Clinic. (2023). Epilepsy: Symptoms, Causes, and Risk Factors. Mayo Foundation for Medical Education and Research.
PERDOSSI. (2019). Pedoman Tata Laksana Epilepsi. Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia.
PERDOSSI. (2020). Panduan Praktis Klinis Neurologi. Kelompok Studi Epilepsi PERDOSSI.
Soetomenggolo, T. S., & Ismael, S. (2020). Buku Ajar Neurologi Anak. Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Tim Pokja SDKI PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
Tim Pokja SIKI PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
Tim Pokja SLKI PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan (Edisi 1). Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
WHO. (2019). Epilepsy: A Public Health Imperative. World Health Organization. WHO.int/publications/i/item/9789241516211

Tinggalkan Balasan