Penyakit Parkinson merupakan gangguan degeneratif sistem saraf pusat yang progresif dengan hilangnya neuron dopaminergik pada substansia nigra sehingga mengganggu kontrol gerakan tubuh.
- A. Konsep Medis Penyakit Parkinson
- B. Konsep Asuhan Keperawatan
- DAFTAR PUSTAKA
A. Konsep Medis Penyakit Parkinson
1. Definisi Penyakit Parkinson
Penyakit Parkinson (Parkinson’s Disease). Muncul sebagai gangguan neurologis kronis dan progresif yang memengaruhi sistem motorik secara bertahap akibat penurunan neurotransmiter dopamin.
Definisi Dari Pakar Internasional
James Parkinson mendeskripsikan kondisi ini sebagai “shaking palsy” yang melibatkan gerakan tremulans yang tidak disengaja dengan kekuatan otot yang berkurang saat melakukan pemeriksaan fisik (1817).
Selanjutnya, Movement Disorder Society (MDS) mendefinisikan gangguan ini sebagai penyakit multisistem yang melibatkan degenerasi neuron dopaminergik pada substansia nigra pars compacta serta akumulasi alfa-sinuklein (2015).
Sementara itu, Mayo Clinic menjelaskan bahwa kondisi tersebut adalah gangguan progresif pada sistem saraf yang memengaruhi gerakan, sering muncul dengan tremor yang nyaris tidak terlihat pada satu tangan (2023).
Selain itu, World Health Organization (WHO) mengategorikan fenomena ini sebagai kondisi degeneratif otak yang menyebabkan gangguan fungsi motorik, disfungsi kognitif, dan gejala non-motorik yang signifikan (2022).
Sebagai pelengkap, National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS). Mengartikan kelainan ini sebagai gangguan sistem motorik akibat hilangnya sel-sel otak penghasil dopamin secara kronis (2023). (Parkinson, 1817, Postuma et al., 2015, Mayo Clinic, 2023, WHO, 2022, NINDS, 2023)
Definisi Pakar Asia
Japanese Society of Neurology menyatakan bahwa kondisi patologis tersebut adalah penyakit neurodegeneratif yang secara spesifik oleh adanya badan Lewy dan hilangnya neuron dopaminergik secara selektif (2018).
Kemudian, Chinese Society of Neurosurgery mendefinisikan penyakit ini sebagai sindrom klinis neurodegeneratif kompleks yang mencakup bradikinesia, tremor istirahat, rigiditas, dan instabilitas postural (2020).
Sejalan dengan hal tersebut, Asian Pacific-Parkinson’s Disease and Movement Disorders(APPMDS). Memandang kelainan ini sebagai tantangan kesehatan masyarakat regional progresif yang memerlukan pendekatan diagnosis berbasis gejala motorik klasik dan non-motorik (2021).
Oleh karena itu, Korean Movement Disorder Society. Merumuskan fenomena ini sebagai gangguan involusi sistem ekstrapiramidal kronis yang menyerang populasi lansia dengan manifestasi gangguan gaya berjalan (2019).
Akhirnya, SingHealth Academy mendefinisikan gangguan saraf ini sebagai kondisi neurologis jangka panjang yang menyebabkan bagian-bagian otak tertentu mengalami kerusakan dan degenerasi secara bertahap selama bertahun-tahun (2022). (Japanese Society of Neurology, 2018, Chen et al., 2020, AP-PMDS, 2021, Korean Movement Disorder Society, 2019, SingHealth, 2022)
Definisi Pakar Indonesia
Kelompok Studi (Pokdi) Gangguan Gerak PERDOSSI mendefinisikan kelainan saraf ini sebagai penyakit degeneratif saraf tersering kedua setelah Alzheimer yang ditandai dengan kombinasi gejala motorik utama dan manifestasi non-motorik (2019).
Lebih lanjut, I Gusti Ngurah Ngurah menjelaskan bahwa gangguan kesehatan ini terjadi karena kekurangan dopamin pada striatum akibat degenerasi neuron di substansia nigra pars compacta (2015).
Bahkan, Sjahrir mengartikan patologi ini sebagai sindrom klinis yang ditandai oleh komponen utama berupa tremor waktu istirahat, rigiditas, bradikinesia, dan hilangnya refleks postural (2012).
Dengan demikian, Ginsberg dalam edisi terjemahan Indonesia menekankan bahwa kondisi neurologis ini adalah gangguan kronis progresif dengan karakteristik hilangnya pigmentasi pada substansia nigra yang memicu gangguan sirkuit ganglia basalis (2011).
Oleh sebab itu, Sumarno dkk. mendefinisikan kelainan fisik ini sebagai bagian dari Parkinsonisme yang penyebab utamanya bersifat idiopatik dan melibatkan proses penuaan sel saraf (2017). (PERDOSSI, 2019, Ngurah, 2015, Sjahrir, 2012, Ginsberg, 2011, Sumarno et al., 2017)
2. Etiologi Gangguan Penyakit Parkinson
Penyebab pasti kerusakan saraf ini bersifat multifaktorial (idiopatik). Namun, interaksi antara faktor-faktor pemicu berikut berkontribusi secara nyata terhadap perkembangan penyakit:
- Faktor Genetik: Keberadaan mutasi pada gen spesifik seperti gen SNCA (alfa-sinuklein), LRRK2, PRKN, dan PINK1 mempercepat kerentanan selular.
- Faktor Lingkungan: Dampak paparan jangka panjang terhadap pestisida (seperti paraquat dan rotenone), herbisida, air sumur yang terkontaminasi, serta logam berat (mangan, besi) merusak stabilitas neuron.
- Proses Penuaan: Terjadinya penurunan fisiologis jumlah neuron dopaminergik yang mengalami akselerasi seiring bertambahnya usia (>50 tahun) memperparah defisit neurotransmiter.
- Stres Oksidatif: Kegagalan netralisasi radikal bebas merusak lipid dan protein dalam neuron substansia nigra secara destruktif. (Pankratz & Foroud, 2017, Kemenkes RI, 2022)
3. Patofisiologi dan KDM Penyakit Parkinson
Patofisiologi berpusat pada proses degenerasi progresif neuron berpigmen neuromelanin pada Substansia Nigra pars compacta (SNc). Akibatnya, terjadi penurunan drastis produksi neurotransmiter dopamin ke wilayah Korpus Striatum. Akibat ketidakseimbangan sirkuit motorik ganglia basalis, jalur tidak langsung (indirect pathway) menjadi terlalu aktif dan menekan korteks motorik, sehingga memicu kekakuan otot dan hilangnya gerakan volunter.
Penyimpangan KDM / Pathway
Faktor Risiko (Genetik, Usia, Lingkungan, Toksin)
│
▼
Disfungsi Mitokondria & Stres Oksidatif
│
▼
Degenerasi Neuron Dopaminergik pada Substansia Nigra
│
▼
Produksi & Sekresi Dopamin Progresif Menurun
│
▼
Ketidakseimbangan Neurotransmiter (Dopamin ↓ , Asetilkolin ↑)
│
▼
Eksitasi Berlebih pada Ganglia Basalis
│
┌─────────────┼─────────────┐
▼ ▼ ▼
Tremor Rigiditas Bradikinesia
Istirahat (Kekakuan) (Gerakan Lambat)
│ │ │
│ ├─────────────┴───────────────┐
▼ ▼ ▼
Instabilitas Kekakuan Otot Kekakuan Otot
Postural Ekstremitas & Wajah Mengunyah & Menelan
│ │ │
▼ ▼ ▼
Risiko Jatuh Hambatan Mobilitas Fisik Disfagia (Sulit Menelan)
│ │
▼ ▼
Defisit Perawatan Diri Defisit Nutrisi
(Dauer & Przedborski, 2013, Price & Wilson, 2016)
4. Manifestasi Klinis Penyakit Parkinson
Data Subjektif Pasien
Oleh karena adanya gangguan kontrol motorik, pasien mengeluhkan tangan gemetar secara tidak sadar saat sedang beristirahat atau rileks. Selain itu, pasien mengeluh persendian dan anggota gerak terasa kaku serta sulit menekuk saat beraktivitas. Akibatnya, pasien merasa badannya terasa sangat berat dan lambat saat hendak memulai berjalan (freezing). Selain itu, pasien mengeluh sering kehilangan keseimbangan dan takut terjatuh saat berdiri. Akhirnya, pasien mengeluhkan kesulitan menelan makanan atau air ludah sendiri.
Data Objektif Pemeriksaan
Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik, terdapat Resting Tremor berupa tremor ritmis berfrekuensi
4–6 Hz, khas menyerupai gerakan memutar pil (pill-rolling tremor) pada jari tangan saat istirahat. Selanjutnya, teridentifikasi Cogwheel Rigidity berupa kekakuan otot rangka yang memberikan tahanan intermiten seperti roda gigi saat ekstremitas saat menggerakkan secara pasif. Muncul pula Bradikinesia atau perlambatan gerakan motorik volunter, hilangnya gerakan asosiatif (seperti ayunan lengan saat berjalan). Kemudian tampak Mask-like face berupa ekspresi wajah datar, berkurangnya frekuensi kedipan mata, dan mulut yang cenderung sedikit terbuka. Terakhir, teramati Festinating gait berupa gaya berjalan dengan postur tubuh membungkuk ke depan, langkah kaki pendek-pendek, cepat, dan tergesa-gesa, serta Sialore berupa produksi air liur berlebih akibat penurunan frekuensi menelan spontan. (Bickley, 2021, PERDOSSI, 2019)
5. Pemeriksaan Penunjang Penyakit Parkinson
Pemeriksaan Laboratorium
Oleh karena diagnosis ditegakkan secara klinis, tidak terdapat parameter laboratorium darah yang spesifik untuk menegakkan diagnosis. Meskipun demikian, pemeriksaan fungsi tiroid, kadar ceruloplasmin serum, dan kadar toksikologi logam berat dilakukan murni untuk menyingkirkan diagnosis banding (secondary parkinsonism).
Pemeriksaan Radiologi
Melalui pendekatan struktural, Magnetic Resonance Imaging (MRI) Otak digunakan untuk menyingkirkan stroke, hidrosefalus tekanan normal, atau lesi struktural lain meskipun hasil umumnya menunjukkan struktur otak normal pada kasus idiopatik. Sebaliknya, Positron Emission Tomography (PET) atau DaTscan (Dopamine Transporter Scan) secara fungsional menunjukkan visualisasi penurunan densitas transporter dopamin presinaptik secara bermakna di daerah striatum.
Pemeriksaan Lain
Sebagai langkah konfirmasi, Tes Tantangan Levodopa (Levodopa Challenge Test) dilakukan melalui penilaian klinis motorik sebelum dan sesudah pemberian dosis levodopa akut. Hasilnya, perbaikan gejala motorik minimal 30% pada skor UPDRS III mengonfirmasi diagnosis klinis penyakit ini. (NICE Guidelines, 2017)
6. Penatalaksanaan Medis Penyakit Parkinson
Terapi Farmakologis
Sebagai pilar utama, memberikan Prekursor Dopamin (Levodopa + Carbidopa) sebagai lini utama pengobatan karena levodopa menembus sawar darah otak untuk diubah menjadi dopamin, sementara carbidopa menghambat degradasi levodopa pada perifer. Selanjutnya, menggunakan Agonis Dopamin (Pramipexole, Ropinirole, Rotigotine) untuk menstimulasi reseptor dopamin pascasinaps secara langsung di striatum. Selain itu, Penghambat Monoamine Oxidase-B / MAO-B Inhibitors (Selegiline, Rasagiline) berfungsi menghambat enzim pembongkar dopamin pada otak guna memperpanjang durasi kerja dopamin. Terakhir, Antikolinergik (Trihexyphenidyl) membantu mengoreksi kelebihan aktivitas asetilkolin untuk mengurangi gejala tremor yang dominan.
Terapi Non-Farmakologis
Untuk mempertahankan kemandirian, Fisioterapi dan Latihan Fisik dapat menerapkan kedalam bentuk program latihan berjalan, latihan keseimbangan, dan latihan penguatan otot demi mempertahankan mobilitas fungsional dan mencegah kontraktur. Kemudian, Terapi Wicara (Speech Therapy) diintegrasikan menggunakan metode seperti Lee Silverman Voice Treatment (LSVT) untuk mengatasi disartria dan hipofonia. Akhirnya, Deep Brain Stimulation (DBS) sebagai prosedur neurobedah fungsional penanaman elektroda pada subthalamic nucleus (STN) dilakukan bagi pasien yang mengalami fluktuasi motorik berat dan tidak lagi responsif terhadap obat-obatan konvensional. (Armstrong & Okun, 2020)
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
Identitas dan Riwayat
Oleh karena faktor degeneratif, gangguan ini umumnya menyerang pasien usia lanjut (di atas 50-60 tahun), dengan prevalensi sedikit lebih tinggi pada laki-laki dibanding perempuan. Berdasarkan anamnesis, riwayat penyakit sekarang menunjukkan kronologis kemunculan gejala awal yang bersifat unilateral hingga menyebar bilateral, respons terhadap pengobatan dopaminergik. Sementara itu, riwayat penyakit dahulu berfokus pada adanya cedera kepala berulang, paparan herbisida/pestisida, atau penggunaan obat antipsikotik jangka panjang.
Pemeriksaan Fisik Sistemik (B1-B3)
Pada pemeriksaan Sistem Pernapasan (B1), ekspansi dada dapat menurun akibat rigiditas otot interkostal, vocal fremitus teraba simetris, suara napas vesikuler tanpa ronkhi/wheezing, serta terdapat risiko aspirasi karena adanya gangguan menelan. Selanjutnya, pada Sistem Kardiovaskular (B2), iktus kordis teraba di ICS V midklavikula kiri, bunyi jantung S1 dan S2 tunggal tanpa murmur, serta perlu pemantauan tekanan darah posisi berbaring dan berdiri untuk mendeteksi hipotensi ortostatik. Kemudian, pada Sistem Persarafan (B3) sebagai fokus utama, ditemukan resting tremor, mask-like face, berkedip jarang, disartria, festinating gait, serta rigiditas saat sendi digerakkan (cogwheel phenomenon).
Pemeriksaan Fisik Sistemik (B4-B6)
Pada pemeriksaan Sistem Perkemihan (B4), area suprapubik datar, tidak ada nyeri tekan, kandung kemih kosong, dengan pantauan khusus terhadap keluhan inkontinensia urin urgen atau retensi akibat disfungsi otonom. Di samping itu, pada Sistem Pencernaan (B5), abdomen tampak datar, tidak ada massa atau nyeri tekan, namun bising usus menurun (<5x/menit) karena konstipasi kronis akibat perlambatan motilitas saluran cerna. Akhirnya, pada Sistem Muskuloskeletal dan Integumen (B6), teramati postur tubuh membungkuk (stooped posture), hambatan aktivitas perawatan diri, kulit tampak berminyak (seborrhea), peningkatan tonus otot ekstremitas, serta gerakan sangat lambat (bradikinesia).
Pengkajian Pola Gordon
Melalui pendekatan fungsional, Pola Aktivitas dan Latihan menunjukkan ketergantungan sedang hingga total akibat tremor dan kekakuan otot. Selain itu, Pola Nutrisi dan Metabolik mengindikasikan penurunan berat badan akibat kesulitan mengunyah dan menelan (disfagia). Terakhir, Pola Eliminasi menandakan terjadi penurunan frekuensi defekasi (konstipasi) dan gangguan berkemih otonom.
2. Diagnosis Keperawatan
- Gangguan Mobilitas Fisik (D.0054)
- Risiko Cedera (D.0136)
- Defisit Nutrisi (D.0019)
- Gangguan Komunikasi Verbal (D.0119)
- Defisit Perawatan Diri (D.0109)
- Konstipasi (D.0049)
- Gangguan Pola Tidur (D.0055)
- Gangguan Interaksi Sosial (D.0118)
- Harga Diri Rendah Situasional (D.0087)
- Ansietas (D.0080)
3. Perencanaan Intervensi
Perencanaan Intervensi Diagnosis 1 s.d 3
Gangguan Mobilitas Fisik (D.0054)
- Luaran Utama (SLKI): Mobilitas Fisik Meningkat (L.05042)
- Kriteria Hasil: Pergerakan ekstremitas meningkat, kekuatan otot meningkat, rentang gerak (ROM) meningkat, kaku sendi menurun, gerakan lambat (bradikinesia) menurun.
- Intervensi Utama (SIKI): Dukungan Mobilisasi (I.05173)
- Tindakan Observasi: Identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya; Identifikasi toleransi fisik melakukan pergerakan; Monitor frekuensi jantung dan tekanan darah sebelum memulai mobilisasi; Monitor kondisi umum selama melakukan mobilisasi.
- Tindakan Terapeutik: Fasilitasi aktivitas mobilisasi dengan alat bantu; Fasilitasi melakukan pergerakan fisik, jika perlu; Libatkan keluarga untuk membantu pasien dalam meningkatkan pergerakan.
- Tindakan Edukasi: Jelaskan tujuan dan prosedur mobilisasi; Anjurkan melakukan mobilisasi diri; Ajarkan mobilisasi sederhana yang harus dilakukan (latihan rentang gerak aktif/pasif pada sendi secara mandiri).
- Tindakan Kolaborasi: Kolaborasi dengan tim fisioterapi untuk program latihan motorik dan gaya berjalan yang terstruktur.
Risiko Cedera (D.0136)
- Luaran Utama (SLKI): Tingkat Cedera Menurun (L.14136)
- Kriteria Hasil: Kejadian cedera menurun, luka/lecet menurun, ketegangan otot menurun, kemampuan memodifikasi lingkungan untuk meminimalkan risiko meningkat.
- Intervensi Utama (SIKI): Pencegahan Cedera (I.14537)
- Tindakan Observasi: Identifikasi area lingkungan yang berpotensi menyebabkan cedera; Monitor perubahan status keselamatan lingkungan.
- Tindakan Terapeutik: Sediakan pencahayaan yang memadai; Gunakan lampu tidur malam hari; Pastikan lantai ruangan selalu kering dan tidak licin; Pasang handrail (pegangan tangan) di kamar mandi dan koridor jalan; Pastikan posisi tempat tidur dalam posisi terendah dengan pengaman samping terpasang.
- Tindakan Edukasi: Anjurkan pasien untuk tidak terburu-buru saat bangun dari tempat tidur (duduk sejenak mencegah vertigo/hipotensi ortostatik); Ajarkan metode berjalan dengan tumit menyentuh lantai terlebih dahulu (heel-to-toe gait).
Defisit Nutrisi (D.0019)
- Luaran Utama (SLKI): Status Nutrisi Membaik (L.03030)
- Kriteria Hasil: Porsi makanan yang dihabiskan meningkat, berat badan membaik, indeks massa tubuh (IMT) membaik, kemampuan menelan meningkat.
- Intervensi Utama (SIKI): Manajemen Nutrisi (I.03119) & Pencegahan Aspirasi (I.01018)
- Tindakan Observasi: Monitor status nutrisi dan berat badan pasien secara berkala; Monitor kemampuan menelan dan refleks batuk; Monitor adanya sisa makanan di mulut setelah makan.
- Tindakan Terapeutik: Sajikan makanan dalam bentuk lunak atau semi-padat yang mudah ditelan; Berikan makanan dalam porsi kecil tapi sering; Posisikan pasien duduk tegak 90 derajat selama makan dan pertahankan posisi tersebut selama 30 menit setelah makan.
- Tindakan Edukasi: Ajarkan pasien untuk berkonsentrasi saat mengunyah dan menelan tanpa berbicara.
- Tindakan Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemenuhan kalori tinggi protein tinggi; Kolaborasi pemberian obat anti-parkinson (Levodopa) tepat 30-60 menit sebelum jam makan untuk mengoptimalkan fungsi otot menelan.
Perencanaan Intervensi Diagnosis 4 s.d 7
Gangguan Komunikasi Verbal (D.0119)
- Luaran Utama (SLKI): Komunikasi Verbal Meningkat (L.13118)
- Kriteria Hasil: Kemampuan berbicara meningkat, kesesuaian ekspresi wajah/tubuh meningkat, suara serak/monoton menurun, frustrasi pasien menurun.
- Intervensi Utama (SIKI): Promosi Komunikasi: Defisit Bicara (I.13492)
- Tindakan Observasi: Monitor kecepatan, volume, tekanan, dan kelancaran bicara pasien.
- Tindakan Terapeutik: Dengarkan dengan penuh perhatian saat pasien berbicara; Berikan waktu ekstra bagi pasien untuk merespons pembicaraan, jangan memotong pembicaraannya; Gunakan pertanyaan tertutup (jawaban Ya/Tidak) jika diperlukan; Sediakan papan tulis kecil atau kartu gambar jika komunikasi verbal sangat terganggu.
- Tindakan Edukasi: Anjurkan pasien berbicara dengan perlahan dan mengambil napas dalam di setiap jeda kalimat; Ajarkan latihan otot wajah di depan cermin (tersenyum, bersiul, melafalkan huruf vokal dengan jelas).
- Tindakan Kolaborasi: Rujuk ke terapis wicara (speech therapist) untuk penanganan disartria lanjut.
Defisit Perawatan Diri (D.0109)
- Luaran Utama (SLKI): Perawatan Diri Meningkat (L.05040)
- Kriteria Hasil: Kemampuan mandi meningkat, kemampuan mengenakan pakaian meningkat, kemampuan makan secara mandiri meningkat, kemampuan ke toilet meningkat.
- Intervensi Utama (SIKI): Dukungan Perawatan Diri (I.11348)
- Tindakan Observasi: Identifikasi kebiasaan aktivitas perawatan diri sesuai usia; Monitor tingkat kemandirian pasien.
- Tindakan Terapeutik: Sediakan pakaian yang longgar dan mudah dikenakan (menggunakan ritsleting besar atau velcro sebagai pengganti kancing baju); Gunakan peralatan makan yang dimodifikasi (misal: sendok berpegangan besar dan berat untuk meredam tremor); Fasilitasi kemandirian, bantu hanya jika pasien benar-benar tidak mampu melakukannya sendiri.
- Tindakan Edukasi: Anjurkan melakukan perawatan diri secara konsisten sesuai kemampuan demi melatih sirkuit motorik mandiri.
Konstipasi (D.0149)
- Luaran Utama (SLKI): Eliminasi Fekal Membaik (L.04033)
- Kriteria Hasil: Kontrol pengeluaran feses meningkat, konsistensi feses membaik (lembut), frekuensi defekasi membaik, peristaltik usus membaik.
- Intervensi Utama (SIKI): Manajemen Konstipasi (I.04155)
- Tindakan Observasi: Monitor tanda dan gejala konstipasi (frekuensi, konsistensi, volume); Monitor bising usus.
- Tindakan Terapeutik: Fasilitasi pemenuhan asupan cairan minimal 2 liter per hari (jika tidak ada kontraindikasi); Sediakan makanan tinggi serat (buah dan sayuran).
- Tindakan Edukasi: Anjurkan mobilisasi aktif atau jalan santai sesuai toleransi untuk merangsang peristaltik; Ajarkan pijat abdomen arah jarum jam secara mandiri atau dibantu keluarga.
- Tindakan Kolaborasi: Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian laksatif/pencahar jika tindakan non-farmakologis tidak efektif.
Gangguan Pola Tidur (D.0055)
- Luaran Utama (SLKI): Pola Tidur Membaik (L.05045)
- Kriteria Hasil: Kemampuan tidur nyenyak meningkat, keluhan sering terjaga menurun, keluhan tidak segar saat bangun tidur menurun.
- Intervensi Utama (SIKI): Dukungan Tidur (I.05174)
- Tindakan Observasi: Identifikasi pola aktivitas dan tidur pasien; Identifikasi faktor pengganggu tidur (tremor hebat, nyeri otot, inkontinensia urin).
- Tindakan Terapeutik: Batasi waktu tidur siang jika berlebihan; Kondisikan lingkungan yang nyaman (suhu ideal, minim cahaya, tenang); Atur posisi tubuh senyaman mungkin untuk meredam kekakuan otot malam hari.
- Tindakan Edukasi: Ajarkan relaksasi otot autogenik atau latihan napas dalam sebelum tidur; Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit.
Perencanaan Intervensi Diagnosis 8 s.d 10
Gangguan Interaksi Sosial (D.0118)
- Luaran Utama (SLKI): Interaksi Sosial Meningkat (L.13115)
- Kriteria Hasil: Perasaan nyaman dalam situasi sosial meningkat, keterlibatan sosial meningkat, perilaku responsif meningkat.
- Intervensi Utama (SIKI): Modifikasi Perilaku Keterampilan Sosial (I.13484)
- Tindakan Observasi: Identifikasi hambatan dalam berinteraksi dengan orang lain (misal: malu karena wajah topeng atau air liur menetes).
- Tindakan Terapeutik: Berikan umpan balik positif pada setiap keberhasilan interaksi sosial; Motivasi pasien untuk tetap bergabung dalam aktivitas keluarga atau kelompok pendukung (support group).
- Tindakan Edukasi: Anjurkan pasien untuk mengekspresikan perasaan secara verbal bila ekspresi wajah terhambat.
Harga Diri Rendah Situasional (D.0087)
- Luaran Utama (SLKI): Harga Diri Meningkat (L.09069)
- Kriteria Hasil: Penilaian diri positif meningkat, penerimaan terhadap keterbatasan diri meningkat, perasaan malu menurun.
- Intervensi Utama (SIKI): Promosi Koping (I.09312)
- Tindakan Observasi: Identifikasi persepsi pasien terhadap citra tubuh dan kondisinya.
- Tindakan Terapeutik: Diskusikan perubahan peran yang terjadi; Hargai keputusan pasien; Bantu pasien mengenali kemampuan dan potensi terpendam yang masih dimiliki.
- Tindakan Edukasi: Anjurkan mengevaluasi perilaku diri sendiri; Ajarkan penggunaan strategi koping yang adaptif.
Ansietas (D.0080)
- Luaran Utama (SLKI): Tingkat Ansietas Menurun (L.09093)
- Kriteria Hasil: Verbalisasi khawatir akibat kondisi yang dihadapi menurun, perilaku gelisah menurun, ketegangan otot menurun.
- Intervensi Utama (SIKI): Reduksi Ansietas (I.09314)
- Tindakan Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah; Monitor tanda-tanda ansietas.
- Tindakan Terapeutik: Temani pasien untuk memberikan rasa aman dan mengurangi rasa takut; Sediakan informasi faktual mengenai diagnosis, pengobatan, dan prognosis penyakit secara realistis namun tetap optimis.
- Tindakan Edukasi: Informasikan bahwa fluktuasi emosi dapat dipengaruhi oleh ketidakmampuan fisik dan sirkuit dopamin; Ajarkan teknik distraksi visual atau auditori.
4. Pelaksanaan Tindakan
Oleh karena kompleksitas gejala motorik, pelaksanaan tindakan keperawatan dilaksanakan secara sistemitas berdasarkan prioritas rencana intervensi. Pemenuhan aspek ketepatan waktu (timing) dalam pemberian terapi farmakologis menjadi prioritas utama untuk meminimalkan fenomena on-off. Di samping itu, koordinasi keamanan fisik pasien selama mobilisasi serta modifikasi cara pemenuhan nutrisi harian dilakukan secara ketat untuk mencegah bahaya cidera fisik dan aspirasi ke saluran napas.
5. Evaluasi Hasil
Untuk mengukur keberhasilan, evaluasi dirumuskan menggunakan pendekatan metode SOAP (Subjective, Objective, Assessment, Plan) pada setiap akhir siklus tindakan. Evaluasi berfokus pada peningkatan kemampuan mobilitas fisik secara mandiri, pemenuhan status nutrisi yang adekuat tanpa insiden tersedak, pencegahan cedera lingkungan, serta peningkatan efektivitas komunikasi verbal. Rencana asuhan akan terus dipertahankan atau dimodifikasi berdasarkan respon fungsional pasien.
DAFTAR PUSTAKA
Buku:
Bickley, L. S. (2021). Bates’ Guide to Physical Examination and History Taking (13th ed.). Lippincott Williams & Wilkins.
Ginsberg, L. (2011). Lecture Notes: Neurologi (Edisi Ketiga). Erlangga.
PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) (Edisi 1). DPP PPNI.
PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) (Edisi 1). DPP PPNI.
PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) (Edisi 1). DPP PPNI.
Price, S. A., & Wilson, L. M. (2016). Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit (Edisi 6). EGC.
Jurnal:
Armstrong, M. J., & Okun, M. S. (2020). Diagnosis and Treatment of Parkinson Disease. JAMA. jamanetwork.com/journals/jama/article-abstract/2760773
Chen, S., et al. (2020). Chinese guidelines for the treatment of Parkinson’s disease. Translational Neurodegenerations. translationalneurodegeneration.biomedcentral.com/articles/10.1186/s40035-020-00212-7
Kemenkes RI. (2022). Mengenal Penyakit Parkinson. Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan. yankes.kemkes.go.id/view_artikel/1018/mengenal-penyakit-parkinson
Postuma, R. B., et al. (2015). MDS clinical diagnostic criteria for Parkinson’s disease. Movement Disorders Journal. onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1002/mds.26424

Tinggalkan Balasan