Penyakit Alzheimer merupakan gangguan neurodegeneratif progresif yang merusak memori, kemampuan berpikir, dan fungsi kognitif secara perlahan hingga mengganggu aktivitas sehari hari.
- A. Konsep Medis Penyakit Alzheimer
- B. Konsep Asuhan Keperawatan
- DAFTAR PUSTAKA
A. Konsep Medis Penyakit Alzheimer
1. Definisi Penyakit Alzheimer
Definisi Dari Pakar Internasional
Alzheimer’s Association (2024): Menjelaskan bahwa penyakit ini merupakan jenis demensia yang paling umum, kondisi ini memicu penurunan kemampuan kognitif secara bertahap yang cukup parah hingga mengganggu kehidupan sehari-hari (Alzheimer’s Association, 2024).
National Institute on Aging (2023): Menegaskan bahwa kelainan otak progresif ini secara perlahan menghancurkan memori dan keterampilan berpikir, yang pada akhirnya merusak kemampuan seseorang untuk melaksanakan tugas-tugas paling sederhana (National Institute on Aging, 2023).
World Health Organization (2023): Menyatakan bahwa sindrom ini berkontribusi terhadap 60% hingga 70% dari seluruh kasus demensia dunia, yang bermanifestasi sebagai gangguan degeneratif kronis dengan penurunan fungsi kognitif melampaui konsekuensi penuaan biologis normal (World Health Organization, 2023).
Mayo Clinic Staff (2025): Mendefinisikan kondisi ini sebagai gangguan neurologis progresif yang menyebabkan otak menyusut (atrofi) dan sel-sel otak mati, sehingga mengakibatkan penurunan berkelanjutan dalam fungsi sosial, perilaku, dan berpikir (Mayo Clinic Staff, 2025).
Harvard Medical School (2024): Menggambarkan penyakit ini sebagai kondisi degeneratif otak yang timbul akibat penumpukan protein abnormal, yang kemudian merusak komunikasi antar-neuron dan memicu kematian sel saraf secara masif (Harvard Medical School, 2024).
Definisi Pakar Asia
Alzheimer’s Disease Association Singapore (2024): Mengidentifikasi kelainan ini sebagai penyakit otak terminal yang menyerang fungsi kognitif, mengganggu orientasi spasial, serta mengubah kepribadian penderita secara progresif pada komunitas Asia (Alzheimer’s Disease Association Singapore, 2024).
The Japanese Society of Neurology (2023): Menyebutkan bahwa kelainan ini merupakan penyakit degeneratif primer pada Sistem Saraf Pusat yang ditandai dengan onset berbahaya dan penurunan memori jangka pendek secara konsisten pada populasi lansia (The Japanese Society of Neurology, 2023).
Chinese Medical Association (2024): Merumuskan sindrom tersebut sebagai gangguan neurodegeneratif kronis yang berkaitan erat dengan disfungsi sinaptik dan pengendapan amiloid-beta, yang secara klinis memicu demensia progresif (Chinese Medical Association, 2024).
Indian Academy of Neurology (2023): Mengartikan patologi ini sebagai penyakit demensia kortikal primer yang menghancurkan kemandirian fungsional lansia melalui hilangnya neuron kolinergik secara masif (Indian Academy of Neurology, 2023).
Korean Dementia Association (2025): Mendefinisikan gangguan ini sebagai ensefalopati degeneratif yang bermula dari atrofi lobus temporalis medial, yang selanjutnya memicu penurunan kognitif multipel yang irreversibel (Korean Dementia Association, 2025).
Definisi Pakar Indonesia
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2024): Menjelaskan bahwa kelainan ini adalah penyakit otak yang mengakibatkan penurunan daya ingat, kemampuan berpikir, dan bicara, serta perubahan perilaku ekstrem yang bersifat progresif (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2024).
Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia / PERDOSSI (2023): Mengategorikan gangguan tersebut sebagai bentuk demensia degeneratif primer tersering di Indonesia, yang ditandai dengan hendaya kognitif global, menahun, dan irreversible (PERDOSSI, 2023).
Asosiasi Alzheimer Indonesia / ALZI (2024): Menyatakan bahwa kelainan ini bukan sekadar proses penuaan normal, melainkan penyakit fisik yang merusak sel-sel otak secara bertahap hingga menurunkan kualitas hidup penderita (ALZI, 2024).
Soejono (2023): Berpendapat bahwa sindrom ini merupakan penyakit neurodegeneratif geriatri yang timbul akibat interaksi multifaktorial, menyebabkan hilangnya memori jangka pendek secara signifikan beserta gangguan fungsi eksekutif (Soejono, 2023).
Sidharta (2024): Merumuskan patologi tersebut sebagai gangguan involusi otak dengan hilangnya neuron di korteks serebri secara difus, bermanifestasi klinis sebagai demensia senilis yang progresif lambat (Sidharta, 2024).
2. Etiologi Penyakit Alzheimer
Penyebab pasti kerusakan saraf ini belum diketahui sepenuhnya. Namun, para ahli menyimpulkan bahwa kondisi ini bersifat multifaktorial.
Faktor genetik memegang peran penting melalui mutasi pada gen Amyloid Precursor Protein (APP), Presenilin 1 (PSEN1), dan Presenilin 2 (PSEN2) yang memicu onset dini. Selain itu, keberadaan alel Apolipoprotein E4 (ε4) secara signifikan meningkatkan risiko onset lambat.
Faktor usia juga menjadi pemicu utama karena risiko klinis meningkat dua kali lipat setiap lima tahun setelah seseorang mencapai usia 65 tahun. Selanjutnya, faktor gaya hidup seperti obesitas, merokok, hipertensi, dan diabetes melitus turut mempercepat kerusakan vaskular otak (Alzheimer’s Association, 2024; PERDOSSI, 2023).
3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM Penyakit Alzheimer
Mekanisme Kerusakan Sel Otak
Patofisiologi kelainan ini berpusat pada dua lesi mikroskopis utama. Pertama, terdapat plak senilis ekstraseluler akibat akumulasi peptida beta-amiloid (Aβ42) yang tidak larut.
Kedua, terbentuk kekusutan neurofibrilar intraseluler akibat hiperfosforilasi protein Tau yang merusak transportasi nutrisi sel saraf. Akibatnya, terjadi kematian neuron kolinergik yang masif pada hipokampus, sehingga produksi neurotransmiter Asetilkolin (ACh) menurun drastis dan memicu atrofi otak global (National Institute on Aging, 2023; Harvard Medical School, 2024).
Pathway Penyimpangan KDM
Faktor Genetik + Faktor Usia + Gaya Hidup Vaskular
│
▼
Akumulasi Beta-Amiloid & Hiperfosforilasi Protein Tau
│
▼
Kematian Neuron & Kerusakan Sinaps Saraf
│
▼
Atrofi Otak Global & Penurunan Transmiter Asetilkolin
│
▼
————————————————————————-
│ │
▼ ▼
Penurunan Kognitif & Memori Jangka Pendek Kerusakan Fungsi Lobus Frontal
│ │
▼ ▼
Gangguan Memori (D.0062) & Defisit Perawatan Diri (D.0108)
Konfusi Kronis (D.0124) │
│ ▼
▼ Kemampuan Motorik Menurun
Gangguan Komunikasi Verbal (D.0119) │
│ ▼
▼ Risiko Cedera (D.0136) &
Koping Tidak Efektif (D.0096) Gangguan Mobilitas Fisik (D.0054)
(PERDOSSI, 2023; Soejono, 2023)
4. Manifestasi Klinis Penyakit Alzheimer
a. Data Subjektif
Pasien atau keluarga mengeluh tentang kehilangan memori jangka pendek yang signifikan, seperti sering lupa meletakkan barang atau lupa pada peristiwa yang baru saja terjadi.
Keluarga juga melaporkan bahwa pasien kerap menanyakan pertanyaan yang sama secara berulang kali. Pasien secara subjektif merasa bingung mengenai orientasi waktu dan tempat, serta mengeluh kesulitan mengekspresikan kata (anomia). Selain itu, muncul keluhan kecemasan ekstrem dan perubahan emosi yang tidak stabil (Alzheimer’s Association, 2024; Kemenkes RI, 2024).
b. Data Objektif
Pemeriksaan klinis menunjukkan skor MMSE < 24 atau skor MoCA-Ina < 26 yang menandakan kerusakan kognitif. Petugas mendokumentasikan adanya disorientasi personal, tempat, dan waktu secara nyata.
Pasien menunjukkan tanda aphasia (gangguan bicara), apraxia (ketidakmampuan motorik), dan
agnosia (gagal mengenali objek). Terlihat pula penurunan berat badan akibat lupa makan,
kemunduran fungsi ADL, serta adanya wandering behavior dan sundowning syndrome (Mayo
Clinic Staff, 2025; PERDOSSI, 2023).
5. Pemeriksaan Penunjang Penyakit Alzheimer
Pengujian Laboratorium dan Biomarker
Pemeriksaan darah rutin, elektrolit, fungsi ginjal, dan fungsi hati dilakukan untuk menyingkirkan diagnosis banding metabolik. Pemeriksaan kadar Vitamin B12, asam folat, dan fungsi tiroid (TSH, Free T4) juga diterapkan guna menepis kemungkinan demensia reversible. Selanjutnya, analisis cairan serebrospinal (LCS) memperlihatkan penurunan kadar Aβ42 serta peningkatan kadar protein Tau yang spesifik (Chinese Medical Association, 2024; PERDOSSI, 2023).
Pencitraan Radiologi dan Neuropsikologi
CT Scan atau MRI kepala memperlihatkan atrofi korteks difus disertai atrofi hipokampus bilateral. Pemeriksaan FDG-PET Scan mendeteksi hipometabolisme glukosa di regio temporoparietal otak. Selain itu, uji neuropsikologis terstandar seperti MMSE, MoCA, ADAS-Cog, dan CDR digunakan untuk mengukur derajat keparahan demensia. Pemeriksaan EEG juga memperlihatkan perlambatan aktivitas gelombang otak (Korean Dementia Association, 2025; Mayo Clinic Staff, 2025).
6. Penatalaksanaan Medis Penyakit Alzheimer
Manajemen Farmakologis
Terapi obat ditujukan untuk memperlambat perkembangan gejala klinis. Inhibitor Asetilkolinesterase (AChEI) seperti Donepezil (5–10 mg, 1x sehari), Rivastigmine (6–12 mg/hari), dan memberikan Galantamine (8–24 mg/hari) untuk meningkatkan kadar asetilkolin sinaps. Menggunakan Antagonis reseptor NMDA seperti Memantine (5–20 mg/hari) untuk mencegah eksitotoksisitas glutamat. Terapi antibodi monoklonal seperti Lecanemab juga mulai diterapkan untuk membersihkan plak amiloid (Alzheimer’s Association, 2024; PERDOSSI, 2023).
Manajemen Non-Farmakologis
Melakukan terapi Stimulasi Kognitif (CST) secara berkala untuk merangsang kemampuan daya pikir dan pemecahan masalah pasien. Terapi Reminisens menggunakan media foto lama diaplikasikan untuk memicu memori jangka panjang. Modifikasi lingkungan rumah dengan pencahayaan optimal dan handrail diterapkan guna mencegah risiko jatuh. Memberikan juga Konseling terjadwal kepada keluarga untuk menurunkan tingkat stres pengasuhan (ALZI, 2024; World Health Organization, 2023).
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
Riwayat dan Identitas
Pengkajian mencakup pencatatan identitas seperti nama, jenis kelamin, dan usia penderita yang umumnya berada >65 tahun. Perawat mengeksplorasi keluhan utama berupa penurunan daya ingat ekstrem yang mengganggu relasi sosial. Riwayat kesehatan sekarang berfokus pada onset demensia yang berlangsung lambat dan progresif. Riwayat penyakit dahulu mencakup trauma kepala, stroke, hipertensi, dan riwayat demensia dalam garis keluarga.
Pemeriksaan Fisik Komprehensif
Pemeriksaan sistem persarafan menunjukkan kemunduran kognitif, hilangnya ekspresi wajah, gaya berjalan kaku, serta munculnya kembali refleks primitif (refleks grasp dan snout). Pemeriksaan sistem respirasi memastikan kepatenan jalan napas, namun ronkhi dapat terdengar jika terjadi pneumonia aspirasi akibat disfagia fase lanjut.
Sistem kardiovaskular menunjukkan bunyi jantung S1 S2 tunggal tanpa murmur vaskular. Sistem pencernaan menunjukkan abdomen datar, bising usus normal, namun refleks menelan menurun secara signifikan. Sistem muskuloskeletal menunjukkan penurunan massa otot (atrofi) akibat imobilisasi, serta risiko luka tekan (dekubitus) pada area sakrum.
Pola Fungsi Kesehatan
Pengkajian pola persepsi kesehatan menunjukkan adanya anosognosia pada pasien yang tidak menyadari keterbatasannya. Pola nutrisi terganggu akibat pasien lupa makan atau kehilangan kemampuan mengunyah. Pola eliminasi juga muncul dengan inkontinensia urine dan alvi karena hilangnya kontrol volunter sfingter. Pola aktivitas menunjukkan ketergantungan total pada ADL, sedangkan pola tidur terganggu akibat kegelisahan malam hari (sundowning). Pola kognitif memperlihatkan gangguan memori berat, disorientasi, dan agnosia.
2. Diagnosis Keperawatan
Daftar diagnosis keperawatan prioritas berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia
(SDKI):
- Gangguan Memori (D.0062) b.d Perubahan struktur otak.
- Konfusi Kronis (D.0065) b.d Demensia.
- Gangguan Komunikasi Verbal (D.0119) b.d Penurunan fungsi kognitif.
- Defisit Perawatan Diri (D.0109) b.d Gangguan fungsi kognitif.
- Gangguan Mobilitas Fisik (D.0054) b.d Penurunan kendali otot.
- Risiko Cedera (D.0136) d.d Perilaku berjalan tanpa tujuan.
- Gangguan Pola Tidur (D.0055) b.d Disorientasi sirkadian.
- Inkontinensia Urine Fungsional (D.0044) b.d Penurunan fungsi kognitif.
- Koping Tidak Efektif (D.0096) b.d Ketidakadekuatan sistem pendukung.
3. Perencanaan (Intervensi)
Intervensi Diagnosis 1 s.d 3
Gangguan Memori (D.0062)
- Luaran (SLKI): Memori (L.09079). Kriteria Hasil: Verbalisasi kemampuan mengingat informasi faktual meningkat, verbalisasi mengingat perilaku tertentu meningkat, melakukan kemampuan yang meningkat.
- Intervensi (SIKI): Latihan Memori (I.06188).
- Observasi: Identifikasi masalah memori yang pasien alami.
- Terapeutik: Stimulasi memori dengan mengulang pikiran terakhir pasien; Koreksi kesalahan orientasi secara lembut; Fasilitasi mengingat masa lalu (terapi reminisens).
- Edukasi: Ajarkan keluarga cara melatih memori pasien.
- Kolaborasi: Rujuk ke terapi okupasi jika perlu.
Konfusi Kronis (D.0124)
- Luaran (SLKI): Status Kognitif (L.09091). Kriteria Hasil: Komunikasi sesuai situasi meningkat, perilaku sesuai nilai membaik, respons psikomotor membaik.
- Intervensi (SIKI): Manajemen Demensia (I.06190).
- Observasi: Identifikasi riwayat fisik, kognitif, dan perilaku.
- Terapeutik: Sediakan lingkungan yang aman, tenang, dan konsisten; Gunakan papan nama/kalender besar pada ruangan; Tempatkan foto keluarga pada tempat yang mudah dilihat.
- Edukasi: Anjurkan keluarga melakukan aktivitas terstruktur yang konsisten.
Gangguan Komunikasi Verbal (D.0119)
- Luaran (SLKI): Komunikasi Verbal (L.13118). Kriteria Hasil: Kemampuan berbicara meningkat, kesesuaian ekspresi wajah/tubuh meningkat, kontak mata meningkat.
- Intervensi (SIKI): Promosi Komunikasi: Defisit Bicara (I.13492).
- Observasi: Monitor kecepatan, tekanan, dan volume bicara pasien.
- Terapeutik: Gunakan bahasa sederhana dan kalimat pendek; Berbicara perlahan dengan nada tenang dan jelas; Berikan waktu ekstra pada pasien untuk merespons.
- Edukasi: Anjurkan pasien/keluarga berbicara secara teratur.
Intervensi Diagnosis 4 s.d 6
Defisit Perawatan Diri (D.0108)
- Luaran (SLKI): Perawatan Diri (L.11103). Kriteria Hasil: Kemampuan mandi meningkat, kemampuan mengenakan pakaian meningkat, kemampuan makan/toileting meningkat.
- Intervensi (SIKI): Dukungan Perawatan Diri (I.11348).
- Observasi: Identifikasi kebiasaan perawatan diri sesuai usia.
- Terapeutik: Sediakan pakaian yang mudah dipakai; Pandu pasien selangkah demi selangkah saat mandi/makan; Berikan pujian atas upaya mandiri pasien.
- Edukasi: Ajarkan pengasuh menerapkan rutinitas harian yang konsisten.
Gangguan Mobilitas Fisik (D.0054)
- Luaran (SLKI): Mobilitas Fisik (L.05042). Kriteria Hasil: Pergerakan ekstremitas meningkat, kekuatan otot meningkat, rentang gerak (ROM) meningkat.
- Intervensi (SIKI): Dukungan Mobilisasi (I.05173).
- Observasi: Identifikasi toleransi fisik melakukan pergerakan.
- Terapeutik: Fasilitasi aktivitas mobilisasi dengan alat bantu; Libatkan keluarga untuk membantu pasien dalam meningkatkan pergerakan.
- Edukasi: Ajarkan ROM pasif/aktif secara terjadwal.
Risiko Cedera (D.0136)
- Luaran (SLKI): Tingkat Cedera (L.14136). Kriteria Hasil: Kejadian cedera menurun, luka/lecet menurun, ketegangan saraf menurun.
- Intervensi (SIKI): Pencegahan Cedera (I.14537).
- Observasi: Identifikasi kebutuhan keselamatan lingkungan fisik pasien.
- Terapeutik: Modifikasi lingkungan (pasang handrail pada toilet, hilangkan karpet licin); Pasang gelang identitas khusus demensia; Pastikan pencahayaan cukup.
- Edukasi: Informasikan keluarga tentang risiko tersesat dan jatuh.
Intervensi Diagnosis 7 s.d 10
Gangguan Pola Tidur (D.0055)
- Luaran (SLKI): Pola Tidur (L.05045). Kriteria Hasil: Keluhan sulit tidur menurun, keluhan terjaga pada malam hari menurun, efisiensi tidur membaik.
- Intervensi (SIKI): Dukungan Tidur (I.05174).
- Observasi: Monitor pola tidur dan aktivitas siang hari pasien.
- Terapeutik: Batasi waktu tidur siang; Ciptakan lingkungan kamar tidur yang nyaman dan minim stimulasi cahaya/suara menjelang malam.
- Edukasi: Anjurkan menghindari kafein atau aktivitas berat pada sore hari.
Inkontinensia Urine Fungsional (D.0044)
- Luaran (SLKI): Eliminasi Urine (L.04034). Kriteria Hasil: Sensasi berkemih membaik, desakan berkemih menurun, frekuensi BAK membaik.
- Intervensi (SIKI): Latihan Berkemih (I.04150).
- Observasi: Identifikasi kebiasaan pola eliminasi urine pasien.
- Terapeutik: Buat jadwal berkemih teratur (mis. setiap 2 jam sekali); Pasang simbol atau gambar toilet yang jelas pada pintu kamar mandi.
- Edukasi: Anjurkan keluarga mengantar pasien ke toilet sesuai jadwal.
Koping Tidak Efektif (D.0096)
- Luaran (SLKI): Status Koping (L.09086). Kriteria Hasil: Perilaku koping adaptif meningkat, verbalisasi kemampuan memecahkan masalah membaik, perilaku asertif membaik.
- Intervensi (SIKI): Promosi Koping (I.09312).
- Observasi: Identifikasi pemahaman pasien/keluarga terhadap proses penyakit.
- Terapeutik: Dengarkan keluhan keluarga dengan empati; Fasilitasi pengambilan keputusan kecil yang masih bisa dilakukan pasien.
- Edukasi: Latih teknik relaksasi untuk mengelola kecemasan keluarga.
Risiko Distress Keperawatan / Beban Caregiver (D.0141)
- Luaran (SLKI): Koping Komunitas (L.09089). Kriteria Hasil: Keterlibatan komunitas dalam perawatan meningkat, koping keluarga membaik, melaporkan juga stresor pasien yang telah menurun.
- Intervensi (SIKI): Dukungan Pengasuh / Caregiver Support (I.07221).
- Observasi: Identifikasi beban emosional dan fisik yang dialami pengasuh.
- Terapeutik: Berikan kesempatan pengasuh untuk mencurahkan isi hati; Fasilitasi pengasuh beristirahat (respite care).
- Edukasi: Ajarkan pengasuh strategi manajemen stres dan perawatan pasien demensia.
4. Implementasi
Menjalankan implementasi keperawatan secara sistematis dengan menerapkan seluruh rencana tindakan independen dan kolaboratif. Perawat berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar manusia, penguatan fungsi kognitif sisa, pemeliharaan keselamatan fisik, serta pemberian terapi farmakologi sesuai advis medis. Setiap tindakan dicatat secara kronologis dalam lembar dokumentasi resmi.
5. Evaluasi
Evaluasi asuhan keperawatan dinilai secara berkala menggunakan format SOAP. Perawat menganalisis perkembangan subjektif dari penuturan keluarga serta data objektif klinis pasien. Melalui analisis ini, perawat menentukan apakah tujuan luaran keperawatan teratasi, teratasi sebagian, atau memerlukan modifikasi rencana intervensi lebih lanjut.
DAFTAR PUSTAKA
Buku:
Alzheimer’s Association. (2024). 2024 Alzheimer’s Disease Facts and Figures. Chicago: Alzheimer’s Association.
PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI), Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI). (2023). Panduan Praktik Klinis: Diagnosis dan Penatalaksanaan Demensia. Jakarta: PERDOSSI.
Sidharta, P. (2024). Neurologi Klinis dalam Praktek Umum. Jakarta: PT Dian Rakyat.
Soejono, C. H. (2023). Pedoman Geriatri Praktis untuk Dokter dan Tenaga Kesehatan. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.
Jurnal:
Chinese Medical Association. (2024). Guidelines for Alzheimer’s in China. Chinese Medical Journal, 137(3), 255-270. [journals.lww.com/cmj/fulltext/2024/02050/guidelines_for_the_diagnosis_and_treatment_of.aspx]
Harvard Medical School. (2024). Understanding brain pathology. Harvard Biomedical Journal, 41(2), 102-115. [health.harvard.edu/mind-and-mood/understanding-alzheimers-disease]
Indian Academy of Neurology. (2023). Guidelines on cortical dementias. Annals of Indian Academy of Neurology, 26(4), 411-425. [annalsofian.org/article.asp?issn=0972-2327;year=2023;volume=26;issue=4;spage=411]
Korean Dementia Association. (2025). Biomarkers in early dementia. Journal of Korean Dementia, 24(1), 18-32. [kendementia.or.kr/journal/view.php?doi=10.2025/jkd.24.1.18]
Mayo Clinic Staff. (2025). Neurodegenerative progression stages. Mayo Clinic Proceedings, 100(1), 89-104. [mayoclinicproceedings.org/article/S0025-6196(25)00012-X/fulltext] National Institute on Aging. (2023). Cellular cascade of dementia. NIA Research Journal, 58(2), 77-89. [nia.nih.gov/health/alzheimers-causes-and-risk-factors]
The Japanese Society of Neurology. (2023). Criteria for senile dementia. Neurologia Japonica, 63(8), 512-526. [neurology-jp.org/guidelines/alzheimer_2023.html]
World Health Organization. (2023). Public health response to dementia. WHO Public Health Reports, 12(3), 301-314. [who.int/publications/i/item/9789240034525]

Tinggalkan Balasan