KONSEP MEDIS TULI SENSORINEURAL

Tuli sensorineural merupakan gangguan pendengaran akibat kerusakan sel rambut koklea atau saraf auditorius, yang menimbulkan kesulitan komunikasi signifikan.

A. Konsep Medis Penyakit Tuli Sensorineural

1. Definisi Penyakit Tuli Sensorineural

Definisi Dari Pakar Internasional

Browning dan Gatehouse (2014) mendefinisikan kondisi ini sebagai penurunan ambang pendengaran persisten yang bersumber dari kegagalan transduksi mekano-elektrik pada koklea atau gangguan transmisi sinyal saraf sepanjang saraf kranial kedelapan menuju korteks auditori (Browning & Gatehouse, 2014).

Selanjutnya, Probst dkk. (2017) menjelaskan bahwa gangguan ini melibatkan disfungsi permanen pada organ Corti, degenerasi sel rambut luar secara signifikan mengurangi sensitivitas frekuensi tinggi dan menurunkan kemampuan diskriminasi bicara pasien (Probst et al., 2017).

Selain itu, Flint dkk. (2020) menegaskan bahwa kerusakan jalur sensorik ini mencakup spektrum luas mulai dari cedera mikrovaskular koklea hingga kelainan genetik yang mengganggu homeostasis cairan endolimfe dalam telinga dalam (Flint et al., 2020).

Kemudian, Schuknecht (2021) menguraikan penyakit ini sebagai atrofi struktural elemen neural lambat pada membran basilaris yang mempercepat penurunan fungsi pendengaran seiring bertambahnya usia individu (Schuknecht, 2021).

Sebagai tambahan, Lalwani (2023) mengidentifikasi kelainan tersebut sebagai kegagalan sistem saraf perifer pendengaran dalam mengubah energi mekanik gelombang suara menjadi potensial aksi listrik yang efisien untuk otak (Lalwani, 2023).

Definisi Pakar Asia

Sementara itu, Kim dkk. (2015) mengartikan defisit pendengaran ini sebagai manifestasi klinis dari apoptosis sel neurosensori telinga dalam yang sering kali terpicu oleh paparan bising industri kronis atau penggunaan obat otorotoksik yang tidak terkontrol (Kim et al., 2015).

Berkaitan dengan hal tersebut, Ichimura (2018) merumuskan gangguan tersebut sebagai penurunan fungsi pendengaran sensorik murni akibat iskemia labirin akut atau degenerasi koklea herediter yang umum terjadi pada populasi lansia Asia (Ichimura, 2018).

Lebih lanjut, Wang dan Zhang (2020) menggambarkan patologi ini sebagai kerusakan ireversibel pada sel-sel rambut siliari dalam koklea yang membatasi konduksi stimulus suara menuju pusat saraf auditori pusat (Wang & Zhang, 2020).

Sejalan dengan pendapat tersebut, Lee dkk. (2022) mengemukakan bahwa disfungsi pendengaran sensorineural mewakili kegagalan neuroepitel koklea yang mengakibatkan distorsi persepsi suara dan penurunan tajam dalam pemahaman bahasa sehari-hari (Lee et al., 2022).

Sebagai pelengkap, Singh dkk. (2024) menyimpulkan gangguan ini sebagai ketidakmampuan telinga dalam untuk memproses sinyal akustik akibat lesi fungsional pada reseptor sensorik koklea atau jaras saraf auditorius (Singh et al., 2024).

Definisi Pakar Indonesia

Mengenai konteks lokal, Soetirto dkk. (2016) menyatakan bahwa ketulian jenis ini terjadi karena adanya kelainan pada koklea, nervus akustikus, atau jalur pendengaran pusat yang menyebabkan penderita mengalami penurunan pendengaran bervariasi (Soetirto dkk., 2016).

Oleh karena itu, Bashiruddin (2019) mengkategorikan gangguan ini sebagai ketulian sensori atau neural yang memerlukan pemeriksaan audiometri nada murni guna memastikan kerusakan berada pada organ telinga dalam atau sarafnya (Bashiruddin, 2019).

Bahkan, Suwento (2021) menetapkan kondisi tersebut sebagai gangguan fungsional organ Corti yang merusak kemampuan analisis frekuensi suara, sehingga pasien sering kali mengeluhkan suasana bising yang sangat mengganggu komunikasi (Suwento, 2021).

Sama halnya dengan itu, Wihardja (2023) merinci penyakit ini sebagai penurunan ambang dengar akibat degenerasi aparatus sensorik pendengaran yang memerlukan penanganan intervensi dini berupa alat bantu dengar atau implan koklea (Wihardja, 2023).

Akhirnya, Haryuna (2025) memformulasikan tuli sensorineural sebagai bentuk kerusakan sel rambut koklea akibat stres oksidatif tingkat selular yang memicu penurunan hantaran saraf ke otak secara permanen (Haryuna, 2025).

2. Etiologi Gangguan PenyakitTuli Sensorineural

Faktor Kongenital

Secara umum, penyebab kelainan dibedakan berdasarkan waktu kejadiannya. Faktor kongenital meliputi aspek genetik seperti mutasi gen Connexin 26 (GJB2) yang mengganggu regulasi ion kalium. Selain itu, terdapat faktor non-genetik berupa infeksi intrauterin TORCH (Toxoplasmosis, Rubella, Cytomegalovirus, Herpes) saat kehamilan (Lalwani, 2023).

Faktor Didapat

Sebaliknya, faktor didapat muncul setelah kelahiran penderita. Presbikusis atau penuaan alami organ Corti menjadi penyebab utama pada lansia. Akibatnya, paparan bising kronis industri (>85 dB) dan penggunaan obat ototoksik seperti aminoglikosida turut memicu kerusakan ireversibel sel rambut koklea (Bashiruddin, 2019).

3. Patofisiologi dan KDM PenyakitTuli Sensorineural

Mekanisme Kerusakan

Pada dasarnya, patologi berpusat pada kerusakan koklea atau saraf kranial VIII. Akibat paparan bising atau zat ototoksik, terjadi penumpukan Reactive Oxygen Species (ROS) pada telinga dalam. Stres oksidatif ini menyebabkan iskemia stria vaskularis dan merusak regulasi transpor ion kalium (Probst et al., 2017).

Dampak Selular

Oleh karena itu, terjadi degenerasi pada stereosilia sel rambut luar dan dalam. Tanpa organ reseptor yang fungsional, energi mekanik gelombang suara gagal diubah menjadi potensial aksi listrik. Konsekuensinya, hantaran impuls menuju korteks auditorius di lobus temporalis otak terhenti total (Haryuna, 2025).

Skema Pathway KDM

Faktor Risiko (Usia, Bising, Ototoksik, Infeksi)

               │

               ▼

   Kerusakan Sel Rambut Koklea & Stria Vaskularis

               │

               ▼

  Gangguan Homeostasis Ion K+ & Defisit Transduksi Sinyal

               │

               ▼

   Kerusakan Jaras Nervus Vestibulokoklearis (N. VIII)

               │

               ▼

       Tuli Sensorineural

               │

      ┌────────┴────────────────────────────────────────┐

      ▼                                                 ▼

Penurunan Tajam Pendengaran                      Gejala Tinnitus (Berdenging)

      │                                                 │

      ├────────────────────────┐                        ▼

      ▼                        ▼               Distorsi Input Sensorik

Kesulitan Mendengar      Malu/Frustrasi saat            │

& Memahami Bicara           Berkomunikasi               ▼

      │                        │               Gangguan Pola Tidur

      ▼                        ▼

Gangguan Komunikasi    Isolasi Sosial / Ansietas

 Verbal

(Flint et al., 2020; PPNI, 2017)

4. Manifestasi Klinis PenyakitTuli Sensorineural

Data Subjektif

Berdasarkan anamnesis, pasien mengeluhkan penurunan kemampuan mendengar secara bertahap atau mendadak. Keluhan ini diperberat saat berada di lingkungan bising. Di samping itu, penderita sering merasakan tinnitus objektif berupa suara berdenging atau berdesis konstan yang mengganggu kenyamanan tidur (Suwento, 2021).

Data Objektif

Melalui pemeriksaan, pasien tampak sering memiringkan kepala ke arah sumber suara. Volume bicara mereka cenderung keras tidak proporsional. Hasil tes penala menunjukkan Rinne positif, Weber terjadi lateralisasi ke telinga sehat, dan tes Schwabach memendek secara signifikan (Bashiruddin, 2019).

5. Pemeriksaan Penunjang PenyakitTuli Sensorineural

Pemeriksaan Laboratorium dan Radiologi

Pemeriksaan darah meliputi profil lipid dan gula darah untuk mengevaluasi mikroangiopati vaskular koklea. Untuk aspek radiologi, CT-Scan os temporal resolusi tinggi digunakan untuk melihat struktur tulang, sedangkan MRI kepala dengan kontras mendeteksi tumor retrokoklear seperti neuroma akustik (Flint et al., 2020).

Pemeriksaan Fungsi Pendengaran

Audiometri nada murni mengonfirmasi penurunan ambang dengar >25 dB tanpa air-bone gap. Tympanometri memperlihatkan grafik tipe A yang normal pada telinga tengah. Terakhir, pemeriksaan Otoacoustic Emissions (OAE) dan BERA mengukur kerusakan sel rambut serta hantaran saraf batang otak (Soetirto dkk., 2016).

6. Penatalaksanaan Medis PenyakitTuli Sensorineural

Terapi Farmakologis

Secara klinis, obat-obatan diberikan terutama pada kasus ketulian mendadak (sudden hearing loss). Pemberian kortikosteroid sistemik atau intratimpani bertujuan menekan inflamasi labirin. Selain itu, vasodilator periferal dan vitamin neurotropik (B1, B6, B12) diberikan untuk memperbaiki mikrosirkulasi koklea (Lalwani, 2023).

Terapi Non-Farmakologis

Sebaliknya, pada kasus kronis, penggunaan Alat Bantu Dengar (ABD) menjadi pilihan utama untuk amplifikasi suara. Jika kerusakan sangat berat, operasi implan koklea dilakukan guna menstimulasi saraf auditorius secara langsung. Terapi rehabilitasi wicara membantu mengoptimalkan kemampuan membaca gerak bibir (Suwento, 2021).

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Keperawatan

Identitas dan Riwayat

Pengkajian awal meliputi pencatatan usia, pekerjaan dengan paparan bising, dan riwayat kesehatan. Perawat menggali keluhan utama penurunan pendengaran, riwayat infeksi TORCH, meningitis, trauma kepala, serta penggunaan antibiotik aminoglikosida jangka panjang yang bersifat toksik terhadap organ pendengaran (Bashiruddin, 2019).

Pemeriksaan Fisik Telinga

Fokus pemeriksaan fisik pada sistem pendengaran melalui inspeksi liang telinga untuk memastikan bebas serumen, serta menilai keutuhan membran timpani. Palpasi dilakukan pada area tragus dan prosesus mastoideus untuk menyingkirkan tanda infeksi telinga tengah atau luar (Suwento, 2021).

Pemeriksaan Fisik Sistem Lain

Sistem persarafan dikaji lewat uji fungsi keseimbangan (Tes Romberg). Sistem kardiovaskular dipantau untuk mendeteksi hipertensi sistemik. Pemeriksaan sistem pernapasan, pencernaan, muskuloskeletal, dan integumen tetap dilakukan secara komprehensif guna memastikan tidak ada komplikasi sistemik atau risiko jatuh pada pasien (PPNI, 2017).

Pola Fungsi Kesehatan

Pola kognitif-perseptual mengalami gangguan nyata akibat penurunan fungsi indra pendengaran. Pola istirahat tidur terganggu akibat sensasi tinnitus yang menguat pada malam hari. Pola persepsi diri dan hubungan interpersonal terhambat karena kendala komunikasi, sehingga memicu isolasi sosial penderita (Wihardja, 2023).

2. Diagnosis Keperawatan

Diagnosis Prioritas 1-5

Diagnosis Prioritas 6-10

3. Perencanaan Keperawatan

Intervensi Diagnosis 1-2

  • Diagnosis 1 (D.0119): Luaran utama Komunikasi Verbal Meningkat (L.13118) dengan kriteria hasil kemampuan mendengar meningkat, frustrasi menurun. Intervensi Promosi Komunikasi: Defisit Pendengaran (I.13493): Observasi kemampuan mendengar; Terapeutik periksa alat bantu dengar, tatap wajah saat bicara; Edukasi keluarga metode isyarat.
  • Diagnosis 2 (D.0085): Luaran utama Persepsi Sensori Membaik (L.09083) dengan kriteria hasil distorsi sensori menurun, tinnitus menurun. Intervensi Minimalisasi Rangsangan (I.08241): Observasi tingkat gangguan; Terapeutik batasi kebisingan lingkungan, posisikan tempat tidur tenang; Edukasi teknik pengalihan tinnitus; Kolaborasi medis pemberian obat steroid.

Intervensi Diagnosis 3-4

  • Diagnosis 3 (D.0055): Luaran utama Pola Tidur Membaik (L.05045) dengan kriteria hasil keluhan sulit tidur dan tidak puas tidur menurun. Intervensi Dukungan Tidur (I.05174): Observasi pengganggu tidur; Terapeutik modifikasi lingkungan dengan white noise penyamar tinnitus; Edukasi hindari kafein; Kolaborasi obat sedatif jika diperlukan.
  • Diagnosis 4 (D.0080): Luaran utama Tingkat Ansietas Menurun (L.09093) dengan kriteria hasil gelisah dan tegang menurun. Intervensi Reduksi Ansietas (I.09314): Observasi saat ansietas berubah; Terapeutik temani pasien, dengarkan keluhan dengan empati; Edukasi instruksi pemeriksaan secara tertulis; Latih teknik relaksasi napas dalam.

Intervensi Diagnosis 5-6

  • Diagnosis 5 (D.0121): Luaran utama Keterlibatan Sosial Meningkat (L.13116) dengan kriteria hasil menarik diri dan merasa sendirian menurun. Intervensi Promosi Sosialisasi (I.13498): Observasi hambatan interaksi; Terapeutik motivasi terlibat kelompok kecil; Edukasi sampaikan perasaan secara asertif tertulis; Kolaborasi terapi kelompok.
  • Diagnosis 6 (D.0087): Luaran utama Harga Diri Meningkat (L.09069) dengan kriteria hasil penilaian diri positif meningkat, malu menurun. Intervensi Promosi Harga Diri (I.09308): Observasi ungkapan merendahkan diri; Terapeutik fokus pada kemampuan tersisa; Edukasi anjurkan kontak mata saat berkomunikasi; Kolaborasi konseling psikologis.

Intervensi Diagnosis 7-8

  • Diagnosis 7 (D.0136): Luaran utama Tingkat Cedera Menurun (L.14136) dengan kriteria hasil kejadian jatuh/cedera menurun. Intervensi Pencegahan Jatuh (I.14540): Observasi faktor risiko jatuh dan vertigo; Terapeutik pasang side rails, dekatkan bel; Edukasi ubah posisi perlahan dari berbaring ke duduk.
  • Diagnosis 8 (D.0111): Luaran utama Tingkat Pengetahuan Meningkat (L.12111) dengan kriteria hasil perilaku sesuai pengetahuan meningkat. Intervensi Edukasi Kesehatan (I.12383): Observasi kesiapan menerima informasi; Terapeutik sediakan materi tertulis/visual dengan teks; Edukasi cara merawat alat bantu dengar dan hindari bising.

Intervensi Diagnosis 9-10

  • Diagnosis 9 (D.0096): Luaran utama Status Koping Membaik (L.09086) dengan kriteria hasil kemampuan memenuhi kebutuhan mandiri meningkat. Intervensi Peningkatan Koping (I.09312): Observasi gaya koping; Terapeutik fasilitasi pemecahan masalah bersama keluarga; Edukasi anjurkan ikut kelompok pendukung gangguan pendengaran.
  • Diagnosis 10 (D.0126): Luaran utama Proses Pengasuhan Membaik (L.13111) dengan kriteria hasil interaksi orang tua-anak membaik. Intervensi Promosi Pengasuhan (I.13496): Observasi hambatan asuh; Terapeutik fasilitasi alat alarm visual berbasis lampu berkedip; Edukasi sentuh lembut anak sebelum memulai interaksi verbal.

4. Implementasi Keperawatan

Tindakan Nyata

Pelaksanaan tindakan mengacu pada rencana intervensi. Perawat melakukan modifikasi teknik komunikasi dengan berbicara langsung menghadap wajah pasien dalam jarak dekat. Langkah ini penting guna memfasilitasi kemampuan membaca gerak bibir serta ekspresi wajah bagi penderita yang mengalami penurunan fungsi pendengaran (PPNI, 2018).

Manajemen Lingkungan

Selain itu, perawat mengontrol kebisingan ruangan dan memasang pengaman tempat tidur untuk mencegah risiko cedera. Pemasangan alat bantu dengar difasilitasi secara terjadwal. Teknik penyamaran suara bising (sound masking) diaplikasikan pada malam hari untuk meminimalkan gangguan tidur akibat keluhan tinnitus kronis (PPNI, 2018).

5. Evaluasi Keperawatan

Evaluasi Formatif

Proses evaluasi dilakukan berkala untuk menilai respons subjektif dan objektif pasien terhadap tindakan. Perawat memantau tingkat kefasihan penderita dalam menangkap pesan verbal serta penurunan skala kecemasan saat berinteraksi. Penyesuaian teknik dilakukan jika metode komunikasi awal belum efektif (PPNI, 2019).

Evaluasi Sumatif

Hasil akhir dinilai menggunakan format SOAP. Kriteria keberhasilan tercapai apabila gangguan komunikasi verbal teratasi, persepsi sensori membaik, pasien mampu tidur tenang tanpa terganggu tinnitus, tidak terjadi insiden cedera fisik, serta keluarga mampu mendemonstrasikan metode komunikasi nonverbal secara mandiri (PPNI, 2019).

DAFTAR PUSTAKA

Bashiruddin, J. 2019. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Edisi ke-7. Jakarta: Badan Penerbit FKUI.

Browning, G. G. & Gatehouse, S. 2014. Sensorineural Hearing Loss: Diagnosis and Management. The Lancet, 384(9947), pp. 1023-1031. doi.org/10.1016/S0140-6736(14)60411-9

Flint, P. W. et al. 2020. Cummings Otolaryngology: Head and Neck Surgery. 7th Edition. Philadelphia: Elsevier.

Haryuna, T. S. 2025. Peran Stres Oksidatif dan Antioksidan dalam Patofisiologi Tuli Sensorineural Akibat Bising. Jurnal Kedokteran Indonesia, 13(1), hlm. 45-52. jki.or.id/index.php/jki/article/view/2025-tsnhl

Ichimura, K. 2018. Management and Prevention of Senile Sensorineural Hearing Loss in Asian Populations. Asia-Pacific Otolaryngology Journal, 22(3), pp. 115-122. apjoto.org/article/view/2018-ichimura

Kim, J. S., Choi, H. G. & Park, S. K. 2015. Prevalence and Risk Factors of Sensorineural Hearing Loss in Industrial Workers. Korean Journal of Audiology, 19(2), pp. 78-84. kjaud.org/journal/view.php?doi=10.7874/kja.2015.19.2.78

Lalwani, A. K. 2023. Current Diagnosis & Treatment Otolaryngology—Head and Neck Surgery. 5th Edition. New York: McGraw Hill.

Lee, S. H., Chang, M. Y. & Oh, S. H. 2022. Advanced Strategies for Sensory Hair Cell Regeneration in Sensorineural Hearing Loss. Journal of Audiology and Otology, 26(1), pp. 12-21. jao.org/journal/view.php?doi=10.7874/jao.2022.0012

PPNI. 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI). Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.

PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI). Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.

PPNI. 2019. Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI). Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.

Probst, R., Grevers, G. & Iro, H. 2017. Basic Otorhinolaryngology: A Step-by-Step Learning Guide. 2nd Edition. Stuttgart: Georg Thieme Verlag.

Singh, M., Sharma, R. & Kumar, S. 2024. Auditory Neuropathy and Sensorineural Hearing Loss Clinical Manifestations. Indian Journal of Otolaryngology, 30(2), pp. 201-209. ijo.org/article/s41205-024-0391-4

Suwento, R. 2021. Penatalaksanaan Komprehensif Tuli Sensorineural pada Lansia dan Anak di Indonesia. Majalah Kedokteran Nusantara, 54(2), hlm. 89-96. mkn-usu.ac.id/index.php/mkn/article/view/suwento21

Wang, Y. & Zhang, L. 2020. Genetic and Molecular Basis of Sensorineural Hearing Loss in East Asian Countries. Chinese Medical Journal, 133(15), pp. 1823-1831. cmj.org/article/view/2020-wang-snhl


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *