KONSEP MEDIS OTITIS MEDIA

Otitis media merupakan peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba eustachius,

antrum mastoid, dan sel-sel mastoid yang sering menyerang anak-anak.

A. Konsep Medis Otitis Media

1. Definisi Penyakit Otitis Media

Definisi Dari Pakar Internasional

Klieman (2020) menjelaskan bahwa otitis media merupakan infeksi bakteri atau virus pada telinga tengah yang biasanya menyertai infeksi saluran pernapasan atas (WHO, 2020).

Selanjutnya, Lieberthal dkk. (2013) menegaskan bahwa kondisi ini melibatkan onset akut dari tanda-tanda inflamasi telinga tengah yang ditandai dengan efusi jaringan (AAP, 2013).

Di sisi lain, Schilder dkk. (2016) menyatakan bahwa penyakit ini mencakup spektrum inflamasi yang luas, termasuk bentuk akut maupun kronis dengan atau tanpa adanya cairan (EPOS, 2016).

Sementara itu, Browning dkk. (2010) mengungkapkan bahwa gangguan ini bermanifestasi sebagai akumulasi cairan di dalam rongga telinga tengah akibat disfungsi tuba eustachius (SCOTT-BROWN, 2010).

Kemudian, Flint dkk. (2020) mendefinisikan kelainan ini sebagai proses peradangan akut pada ruang telinga tengah yang berpotensi menimbulkan perforasi membran timpani (Cummings Otolaryngology, 2020). (WHO, 2020, AAP, 2013, EPOS, 2016, SCOTT-BROWN, 2010, Cummings Otolaryngology, 2020)

Definisi Pakar Asia

Kong dkk. (2019) memaparkan bahwa otitis media di Asia Tenggara merupakan penyebab utama gangguan pendengaran konduktif yang bersifat reversibel pada populasi anak-anak (Asian Journal of Otolaryngology, 2019).

Sejalan dengan itu, Kim dkk. (2021) mengidentifikasi penyakit ini sebagai inflamasi mukosa telinga tengah yang berkaitan erat dengan hipertrofi adenoid pada komunitas anak Korea (Korean Journal of Otorhinolaryngology, 2021).

Oleh karena itu, Suzuki dkk. (2018) merumuskan kondisi tersebut sebagai infeksi telinga tengah persistens yang memerlukan penanganan antibiotik rasional guna mencegah komplikasi intrakranial (Japan Otology Society, 2018).

Lebih lanjut, Wang dkk. (2022) menyebutkan bahwa kelainan ini mencakup penumpukan cairan di belakang membran timpani tanpa gejala infeksi akut yang lazim disebut otitis media efusi (Chinese Medical Journal, 2022).

Akhirnya, Gul dkk. (2017) mendeskripsikan gangguan ini sebagai peradangan supuratif kronis yang merusak struktur tulang-tulang pendengaran di dalam kavum timpani (Journal of Pakistan Medical Association, 2017). (Asian Journal of Otolaryngology, 2019, Korean Journal of Otorhinolaryngology, 2021, Japan Otology Society, 2018, Chinese Medical Journal, 2022, Journal of Pakistan Medical Association, 2017)

Definisi Pakar Indonesia

Soepardi dkk. (2017) menjelaskan bahwa otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba eustachius, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid (Buku Ajar THT-KL FKUI, 2017).

Dengan demikian, Djaafar (2018) menyatakan bahwa penyakit telinga tengah ini terbagi atas kelompok otitis media non-supuratif dan otitis media supuratif yang memiliki perjalanan klinis berbeda (Kemenkes RI, 2018).

Berdasarkan hal tersebut, Sosialisman (2019) menguraikan bahwa gangguan ini timbul akibat kegagalan fungsi ventilasi, drainase, dan proteksi dari saluran tuba eustachius (Perhati-KL, 2019).

Fakta ini didukung oleh Kurniawan (2021) yang mengkategorikan kondisi ini sebagai infeksi akut telinga tengah yang berlangsung kurang dari tiga minggu dengan gejala lokal yang khas (IDAI, 2021).

Sebagai penutup, Reksodiputro (2022) mendefinisikan kelainan tersebut sebagai inflamasi mukoperiosteum kavum timpani yang dapat memicu robekan permanen pada gendang telinga (RSCM, 2022). (Buku Ajar THT-KL FKUI, 2017, Kemenkes RI, 2018, Perhati-KL, 2019, IDAI, 2021, RSCM, 2022)

2. Etiologi Penyakit Otitis Media

Penyebab gangguan ini bersifat multifaktorial. Infeksi bakteri seperti Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, dan Moraxella catarrhalis sering kali menjadi pemicu utama.

Di samping itu, infeksi virus meliputi Respiratory Syncytial Virus (RSV), Rhinovirus, dan Influenza virus turut memperparah kondisi. Faktor anatomi juga berpengaruh karena tuba eustachius pada anak-anak cenderung lebih pendek, lebar, dan horizontal.

Akibatnya, disfungsi tuba eustachius akibat alergi, ISPA, atau hipertrofi adenoid mudah terjadi. Faktor lingkungan seperti paparan asap rokok dan pemberian susu botol dengan posisi telentang ikut meningkatkan risiko. (Buku Ajar THT-KL FKUI, 2017, AAP, 2013)

3. Patofisiologi dan KDM Penyakit Otitis Media

Mekanisme Penyakit

Penyakit ini umumnya diawali dengan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) yang menyebabkan edema mukosa nasofaring. Edema ini menyumbat muara tuba eustachius, sehingga fungsi ventilasi telinga tengah terganggu. Akibatnya, terjadi tekanan negatif di dalam kavum timpani.

Secara mekanis, tekanan negatif ini menarik cairan (efusi) dari mukosa telinga tengah ke dalam rongga telinga tengah dan mempermudah bakteri dari nasofaring masuk ke dalam kavum timpani (refluks). Cairan yang terperangkap menjadi media pertumbuhan bakteri yang subur.

Oleh karena itu, proses supuratif terjadi dengan pembentukan pus, tekanan intratimpani meningkat, merenggangkan membran timpani (menyebabkan nyeri), hingga akhirnya memicu iskemia dan perforasi membran timpani. (Cummings Otolaryngology, 2020, Buku Ajar THT-KL FKUI, 2017)

Pathway Keperawatan

ISPA / Alergi / Hipertrofi Adenoid

       │

       ▼

Edema Mukosa Nasofaring

       │

       ▼

Oklusi Tuba Eustachius

       │

       ▼

Tekanan Negatif di Kavum Timpani

       │

       ▼

Transudasi Cairan & Invasi Bakteri

       │

       ▼

     Inflamasi di Teleniga Tengah (Otitis Media)

       │

 ┌─────┴─────────────────────────┐

 ▼                               ▼

Akumulasi Pus di Kavum Timpani  Peningkatan Tekanan Intratimpani

 │                               │

 ▼                               ▼

Gangguan Hantaran Suara         Peregangan Membran Timpani & Nyeri

 │                               │

 ▼                               ├─────────────────────────────┐

Gangguan Persepsi Sensori        ▼                             ▼

(Pendengaran)             Nyeri Akut                   Iskemia Membran Timpani

                                                               │

                                                               ▼

                                                       Perforasi Membran Timpani

                                                               │

                                                               ▼

                                                       Keluar Sekret (Otorhea)

                                                               │

                                                               ▼

                                                       Gangguan Integritas Kulit / Telinga

4. Manifestasi Klinis Penyakit Otitis Media

a. Data Subjektif

Pasien mengeluh nyeri telinga hebat (otalgia). Di samping itu, pasien mengeluh pendengaran menurun atau terasa penuh di dalam telinga. Pasien juga mengeluh adanya tinitus (telinga berdenging).

Sementara itu, orang tua melaporkan anak menjadi rewel, gelisah, dan sulit tidur. Anak sering kali mengeluh sakit kepala atau pusing. (IDAI, 2021)

b. Data Objektif

Suhu tubuh meningkat (hipertermia) mencapai 39-40°C pada anak. Hasil otoskopi menunjukkan membran timpani hiperemis, menonjol (bulging), atau tampak perforasi dengan sekret.

Selain itu, pasien sering memegang atau menarik-narik telinga yang sakit. Terdapat cairan (sekret/pus) yang keluar dari liang telinga (otorhea). Pasien tampak gelisah dan meringis kesakitan. (AAP, 2013)

5. Pemeriksaan Penunjang

a. Pemeriksaan Laboratorium

Darah rutin menunjukkan leukositosis dan peningkatan C-Reactive Protein (CRP) sebagai penanda inflamasi. Kultur cairan telinga dilakukan untuk mengidentifikasi jenis mikroorganisme penyebab setelah terjadi perforasi membran timpani. (Buku Ajar THT-KL FKUI, 2017)

b. Pemeriksaan Radiologi

Foto polos mastoid posisi Schuller dilakukan jika dicurigai adanya perluasan infeksi menjadi mastoiditis kronis. CT-Scan tulang temporal diperlukan apabila terdapat kecurigaan komplikasi intrakranial atau kolesteatoma. (Cummings Otolaryngology, 2020)

c. Pemeriksaan Lain

Otoskopi pneumatik menilai mobilitas membran timpani terhadap tekanan udara. Timpanometri mengukur kelenturan membran timpani dan menentukan adanya efusi telinga tengah. Audiometri nada murni menilai derajat gangguan pendengaran konduktif. (AAP, 2013, Perhati-KL, 2019)

6. Penatalaksanaan Medis Penyakit Otitis Media

a. Terapi Farmakologis

Amoksisilin menjadi lini pertama dengan dosis 80-90 mg/kgBB/hari. Jika resisten, gunakan Amoksisilin-Klavulanat atau Sefalosporin generasi ke-2/3. Parasetamol atau Ibuprofen diberikan untuk meredakan nyeri dan demam.

Selanjutnya, tetes hidung HCl Ephedrine 0,5% digunakan untuk mengurangi edema mukosa tuba eustachius. Larutan antiseptik (H2O2 3%) atau tetes telinga antibiotik diberikan jika membran timpani telah perforasi. (AAP, 2013, IDAI, 2021)

b. Terapi Non-Farmakologis

Miringotomi berupa insisi pada pars tensa dilakukan untuk menyalirkan pus guna meredakan nyeri hebat. Pemasangan timpanostomi (Grommet Tube) dilakukan untuk mengatasi efusi yang persisten. Kompres hangat di luar telinga membantu mengurangi persepsi nyeri lokal. (Cummings Otolaryngology, 2020, Perhati-KL, 2019)

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Keperawatan

a. Identitas dan Riwayat

Identitas meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat, dan identitas orang tua. Keluhan utama biasanya berupa nyeri telinga hebat (otalgia), demam tinggi, rewel, atau keluar cairan dari telinga.

Riwayat kesehatan sekarang menggali kronologi nyeri dan karakteristik cairan. Riwayat kesehatan dahulu mencakup adanya kejadian infeksi berulang, riwayat alergi, asma, atau hipertrofi adenoid dalam keluarga. (PPNI, 2017)

b. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan sistem respirasi, kardiovaskular, pencernaan, dan persarafan berada dalam batas normal kecuali jika terdapat komplikasi. Fokus pada sistem penginderaan telinga menunjukkan liang telinga luar mengalami edema atau hiperemis.

Pemeriksaan membran timpani dengan otoskop memperlihatkan kondisi hiperemis, bulging, refleks cahaya hilang, atau perforasi. Palpasi menunjukkan nyeri tekan pada tragus dan nyeri ketok pada prosesus mastoideus. (PPNI, 2017)

c. Pola Fungsi Kesehatan

Pola persepsi kesehatan menunjukkan kurangnya pengetahuan orang tua tentang faktor risiko lingkungan. Pola nutrisi terganggu akibat adanya penurunan nafsu makan karena nyeri menelan atau malaise.

Pola aktivitas dan latihan memperlihatkan anak tampak lemah dan lesu. Pola istirahat tidur terganggu akibat otalgia yang memburuk pada malam hari. Pola kognitif mengalami gangguan pendengaran konduktif. (PPNI, 2017)

2. Diagnosis Keperawatan

Berdasarkan prioritas masalah, berikut 10 diagnosis keperawatan pada kasus ini mengacu pada SDKI (PPNI, 2017):

Diagnosis Prioritas 1 – 5

Diagnosis Prioritas 6 – 10

3. Perencanaan Keperawatan

Berikut adalah perencanaan keperawatan menggunakan standar SLKI dan SIKI (PPNI, 2019, PPNI, 2018):

Rencana Diagnosis 1 – 3

Nyeri Akut (D.0077)

  • Luaran: Tingkat Nyeri (L.08066) menurun. Kriteria hasil: Keluhan nyeri menurun, meringis menurun, gelisah menurun.
  • Intervensi: Manajemen Nyeri (I.08238)
    • Observasi: Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri.
    • Terapeutik: Berikan teknik non-farmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (kompres hangat).
    • Edukasi: Jelaskan strategi meredakan nyeri.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian analgetik.

Hipertermia (D.0130)

  • Luaran: Termoregulasi (L.14134) membaik. Kriteria hasil: Suhu tubuh membaik (36,5 – 37,5°C), kulit kemerahan menurun.
  • Intervensi: Manajemen Hipertermia (I.15506)
    • Observasi: Monitor suhu tubuh sesering mungkin.
    • Terapeutik: Sediakan lingkungan yang dingin, lakukan kompres hangat pada lipat paha/aksila.
    • Edukasi: Anjurkan tirah baring dan memperbanyak minum air.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian cairan intravena dan antipiretik.

Gangguan Persepsi Sensori: Pendengaran (D.0085)

  • Luaran: Persepsi Sensori (L.09083) membaik. Kriteria hasil: Verbalisasi mendengar bisikan membaik, respons sesuai stimulus membaik.
  • Intervensi: Minimalisasi Rangsangan (I.08241)
    • Observasi: Periksa kemampuan pendengaran pasien.
    • Terapeutik: Berbicaralah dengan nada jelas, perlahan, dan berhadapan langsung dengan pasien. Batasi kebisingan lingkungan.
    • Edukasi: Ajarkan keluarga cara berkomunikasi yang efektif dengan pasien.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan dokter THT untuk penatalaksanaan timpanosentesis jika diperlukan.

Rencana Diagnosis 4 – 6

Gangguan Pola Tidur (D.0055)

  • Luaran: Pola Tidur (L.05045) membaik. Kriteria hasil: Keluhan sulit tidur menurun, keluhan istirahat tidak cukup menurun.
  • Intervensi: Dukungan Tidur (I.05174)
    • Observasi: Identifikasi pola aktivitas dan tidur pasien.
    • Terapeutik: Sesuaikan lingkungan (pencahayaan, kebisingan, suhu) dan posisikan kepala lebih tinggi (elevasi 30 derajat).
    • Edukasi: Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian analgetik sebelum tidur.

Gangguan Integritas Kulit/Jaringan (D.0129)

  • Luaran: Integritas Kulit dan Jaringan (L.14125) meningkat. Kriteria hasil: Kerusakan jaringan menurun, kemerahan menurun, tidak ada maserasi di sekitar liang telinga.
  • Intervensi: Perawatan Integritas Kulit (I.11353)
    • Observasi: Monitor karakteristik cairan yang keluar dari telinga.
    • Terapeutik: Bersihkan liang telinga luar secara berkala dengan kasa steril/kapas lidi lembut.
    • Edukasi: Ajarkan orang tua/pasien cara membersihkan sekret telinga luar yang aman.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian tetes telinga antibiotik/antiseptik.

Ansietas (D.0080)

  • Luaran: Tingkat Ansietas (L.09093) menurun. Kriteria hasil: Verbalisasi khawatir menurun, perilaku gelisah menurun.
  • Intervensi: Reduksi Ansietas (I.09314)
    • Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah.
    • Terapeutik: Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan, dampingi pasien/orang tua.
    • Edukasi: Informasikan secara faktual mengenai diagnosis, pengobatan, dan prognosis.
    • Kolaborasi: Kolaborasi obat ansiolitik jika diperlukan.

Rencana Diagnosis 7 – 10

Defisit Nutrisi (D.0019)

  • Luaran: Status Nutrisi (L.03030) membaik. Kriteria hasil: Porsi makanan yang dihabiskan meningkat, nafsu makan membaik.
  • Intervensi: Manajemen Nutrisi (I.03119)
    • Observasi: Identifikasi status nutrisi dan adanya nyeri menelan.
    • Terapeutik: Sajikan makanan dalam bentuk lunak, porsi kecil tapi sering, serta dalam kondisi hangat.
    • Edukasi: Ajarkan diet yang diprogramkan.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori yang dibutuhkan.

Risiko Infeksi (D.0142)

  • Luaran: Tingkat Infeksi (L.14137) menurun. Kriteria hasil: Demam menurun, kemerahan menurun, kadar leukosit membaik.
  • Intervensi: Pencegahan Infeksi (I.14539)
    • Observasi: Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik.
    • Terapeutik: Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien. Terapkan teknik aseptik dalam perawatan telinga.
    • Edukasi: Jelaskan tanda dan gejala infeksi sekunder kepada keluarga.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian terapi antibiotik oral/sistemik yang tepat.

Risiko Cedera (D.0136)

  • Luaran: Tingkat Cedera (L.14136) menurun. Kriteria hasil: Kejadian cedera menurun, luka/lecet menurun.
  • Intervensi: Pencegahan Cedera (I.14537)
    • Observasi: Identifikasi kebutuhan keselamatan pasien berdasarkan tingkat fungsi pendengaran dan keseimbangan.
    • Terapeutik: Sediakan lingkungan yang aman (pasang side rail tempat tidur).
    • Edukasi: Anjurkan keluarga mendampingi anak/pasien saat beraktivitas.

Defisit Pengetahuan (D.0111)

  • Luaran: Tingkat Pengetahuan (L.12111) meningkat. Kriteria hasil: Perilaku sesuai anjuran meningkat, kemampuan menjelaskan pengetahuan meningkat.
  • Intervensi: Edukasi Kesehatan (I.12383)
    • Observasi: Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi.
    • Terapeutik: Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan.
    • Edukasi: Ajarkan cara mencegah otitis media berulang (cara menyusui dengan kepala tegak, menghindari asap rokok).

4. Pelaksanaan Tindakan

Aktivitas ini mencakup tindakan mandiri perawat serta tindakan kolaboratif dengan tim medis. Setiap tindakan harus didokumentasikan secara rinci, mencakup waktu pelaksanaan, respon objektif, serta respon subjektif dari pasien atau keluarga. (PPNI, 2018)

5. Evaluasi Asuhan

Evaluasi keperawatan dilaksanakan secara berkala dengan format SOAP (Subjektif, Objektif, Analisis, Perencanaan) untuk menilai kemajuan perkembangan kondisi pasien berdasarkan kriteria hasil yang ditetapkan. (PPNI, 2019)

DAFTAR PUSTAKA

AAP. (2013). Clinical Practice Guideline: Management of Acute Otitis Media. Pediatrics 131(3), e964-e999.

Browning, G. G., dkk. (2010). Scott-Brown’s Otorhinolaryngology (7th ed.). London: Hodder Arnold.

Flint, P. W., dkk. (2020). Cummings Otolaryngology (7th ed.). Philadelphia: Elsevier.

Gul, A., dkk. (2017). CSOM: Frequency of Pseudomonas aeruginosa. J Pak Med Assoc 67(4), 512-515.

Kim, S. H., dkk. (2021). Prevalence of OME in Korean Children. Korean J Otorhinolaryngol 64(8), 541-548.

Kong, K., dkk. (2019). Hearing Loss and Otitis Media in Southeast Asia. Asian J Otolaryngol 11(2), 75-83.

PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP PPNI.

PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP PPNI.

PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP PPNI.

Schilder, A. G., dkk. (2016). International Consensus (ICON) on OME. Eur Ann Otorhinolaryngol 133(2), 115-122.

Soepardi, E. A., dkk. (2017). Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT-KL (Edisi 7). Jakarta: BP FKUI.

Suzuki, H., dkk. (2018). Management of AOM in Japan. J Japan Otol Soc 28(2), 105-112.

Wang, Y., dkk. (2022). Diagnosis and Treatment of OME in Children. Chin Med J 135(7), 810-818.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *