Retinopati diabetik merupakan komplikasi mikrovaskular diabetes melitus yang merusak pembuluh darah retina, berisiko memicu gangguan penglihatan hingga kebutaan permanen secara progresif.
- A. Konsep Medis Konsep Medis Retinopati Diabetik
- B. Konsep Asuhan Keperawatan
- DAFTAR PUSTAKA
A. Konsep Medis Konsep Medis Retinopati Diabetik
1. Definisi Penyakit Retinopati Diabetik
Definisi Dari Pakar Internasional
American Academy of Ophthalmology (2023) menjelaskan bahwa gangguan ini bermanifestasi sebagai kerusakan progresif pada pembuluh darah retina akibat hiperglikemia kronis yang mengubah struktur kapiler mata. (American Academy of Ophthalmology, 2023)
World Health Organization (2024) menegaskan bahwa kondisi mikrovaskular ini timbul karena efek akumulatif glukosa darah yang tinggi, yang kemudian memicu iskemia retina dan penurunan fungsi penglihatan global. (World Health Organization, 2024)
International Council of Ophthalmology (2022) mengidentifikasi penyakit ini sebagai komplikasi spesifik diabetes yang merusak perfusi retina, sehingga menyebabkan kebocoran cairan dan proliferasi pembuluh darah baru. (International Council of Ophthalmology, 2022)
American Diabetes Association (2024). Mendefinisikan kelainan ini sebagai vaskulopati retina yang berkembang lewat stadium nonproliferatif menuju proliferatif akibat inflamasi serta stres oksidatif kronis. (American Diabetes Association, 2024)
Mayo Clinic Staff (2023) mengartikan komplikasi ini sebagai gangguan penglihatan parah pada pengidap diabetes yang bermula dari sumbatan pembuluh darah kecil pemberi nutrisi retina. (Mayo Clinic, 2023)
Definisi Pakar Asia
Asian Ophthalmologic Society (2023) mendeskripsikan penyakit ini sebagai penyebab utama kebutaan usia produktif di Asia yang berakar dari kerusakan endotel kapiler retina akibat kontrol glikemik yang buruk. (Asian Ophthalmologic Society, 2023)
Chinese Ophthalmological Society (2022) menggolongkan kelainan ini sebagai mikroangiopati diabetik ocular yang memicu pembentukan mikroaneurisma, eksudat keras, dan perdarahan vitreus. (Chinese Ophthalmological Society, 2022)
Japan Ophthalmological Society (2024) menyebutkan bahwa patologi ini merupakan degenerasi vaskular retina unilateral atau bilateral yang berkembang seiring durasi penyakit diabetes melitus. (Japan Ophthalmological Society, 2024)
Indian Journal of Ophthalmology Research (2023) merumuskan kondisi ini sebagai iskemia jaringan retina yang merangsang pelepasan faktor pertumbuhan angiogenik akibat hipoksia seluler menahun. (Indian Journal of Ophthalmology Research, 2023)
Singapore National Eye Centre (2023) mendefinisikan kelainan tersebut sebagai gangguan sirkulasi darah mata yang bermanifestasi pada edema makula dan neovaskularisasi yang mengancam visus. (Singapore National Eye Centre, 2023)
Definisi Pakar Indonesia
Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia / PERDAMI (2022) menyatakan bahwa komplikasi mata ini terjadi akibat kerusakan mikrovaskular retina pada pasien diabetes melitus, yang ditandai dengan kebocoran dan penyumbatan pembuluh darah. (PERDAMI, 2022)
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2023) menetapkan manifestasi ini sebagai salah satu gangguan penglihatan prioritas yang timbul dari komplikasi kronis diabetes melitus tipe 1 maupun tipe 2. (Kementerian Kesehatan RI, 2023)
Ilyas & Yulianti (2022) menguraikan penyakit ini sebagai angiopati intraokular yang menyebabkan hilangnya perisit kapiler retina sehingga mengganggu barier darah-retina. (Ilyas & Yulianti, 2022)
Sitorus dkk. (2023) mendefinisikan kelainan ini sebagai penyakit degeneratif vaskular retina yang memerlukan skrining berkala guna mencegah ablasio retina traksional. (Sitorus dkk., 2023)
Sudoyo dkk. (2021) merumuskan bahwa patologi mata ini mencerminkan derajat keparahan komplikasi sistemik diabetes melitus yang secara langsung merusak penglihatan sentral maupun perifer. (Sudoyo dkk., 2021)
2. Etiologi Masalah Penyakit Retinopati Diabetik
Oleh karena itu, penyebab utama gangguan ini adalah kondisi hiperglikemia kronis pada pengidap diabetes melitus, baik tipe 1 maupun tipe 2. Durasi menderita diabetes yang lama menjadi faktor risiko paling signifikan. Secara biokimia, kadar glukosa darah yang tinggi secara terus-menerus memicu empat jalur patofisiologis utama, yaitu peningkatan jalur poliol, pembentukan AGEs, aktivasi protein kinase C, dan peningkatan jalur heksosamin.
Selanjutnya, terdapat faktor penunjang lainnya meliputi:
- Hipertensi sistemik yang tidak terkontrol karena meningkatkan tekanan hidrostatik kapiler mata.
- Dislipidemia yang menyebabkan akumulasi eksudat lipid di retina.
- Nefropati diabetik yang memperberat retensi cairan dan anemia.
- Kehamilan karena mampu mempercepat progresivitas retinopati yang sudah ada.
- Merokok dan obesitas yang memicu stres oksidatif dan disfungsi endotel. (American Diabetes Association, 2024; PERDAMI, 2022)
3. Patofisiologi Jaringan Penyakit Retinopati Diabetik
Sebenarnya, hiperglikemia kronis menyebabkan glikosilasi non-enzimatik pada dinding pembuluh darah, yang mengakibatkan hilangnya sel perisit kapiler retina. Akibatnya, kehilangan perisit ini melemahkan dinding kapiler sehingga terbentuk tonjolan kecil mikroaneurisma. Pembuluh darah yang melemah kemudian menjadi permeabel, menyebabkan kebocoran plasma, protein, dan lipid ke dalam lapisan retina.
Sementara itu, seiring berjalan waktu, kapiler retina mengalami oklusi total yang memicu iskemia retina difus. Oleh sebab itu, jaringan retina yang mengalami hipoksia akan melepaskan sitokin pro-angiogenik, terutama Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF). Stimulasi VEGF akhirnya memicu pembentukan pembuluh darah baru yang rapuh atau neovaskularisasi pada permukaan retina dan korpus vitreus. (Ilyas & Yulianti, 2022; Sitorus dkk., 2023)
Penyimpangan KDM
Pembuluh darah baru ini mudah pecah, sehingga menyebabkan perdarahan vitreus, pembentukan jaringan fibrovaskular, dan traksi pada retina. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat mengakibatkan ablasio retina traksional yang memicu penurunan tajam penglihatan ekstrem atau kebutaan. (Ilyas & Yulianti, 2022)
Diabetes Melitus (Hiperglikemia Kronis)
│
┌─────────────────────┴─────────────────────┐
Jalur Poliol ↑, AGEs ↑, PKC Aktivasi Disfungsi Endotel &
│ Kerusakan Perisit
│ │
└─────────────────────┬─────────────────────┘
▼
Mikroangiopati Retina
│
┌───────────────────────┴───────────────────────┐
▼ ▼
Permeabilitas Kapiler ↑ (Kebocoran) Oklusi Kapiler Retina
│ │
┌───────┴───────┐ ▼
▼ ▼ Iskemia Retina
Eksudat Kebocoran Plasma │
Keras │ ▼
Edema Makula Pelepasan VEGF
│ │
▼ ▼
Gangguan Penglihatan Neovaskularisasi
(Pandangan Kabur) (Pembuluh Darah Rapuh)
│ │
▼ ┌───────────────┴───────────────┐
**D.0085 Gangguan ▼ ▼
Persepsi Sensori** Perdarahan Vitreus Jaringan Fibrotik
│ │
▼ ▼
Penurunan Visus Traksi Retina
Santas Drastis │
│ ▼
▼ Ablasio Retina
**D.0089 Risiko │
Cedera** ▼
Kebutaan
│
▼
**D.0080 Ansietas**
4. Gejala Klinis Penyakit Retinopati Diabetik
a. Data Subjektif
- Pasien mengeluhkan pandangan kabur atau buram secara perlahan maupun mendadak.
- Pasien menyatakan melihat bayangan bintik-bintik hitam atau benang yang melayang (floaters).
- Pasien mengeluhkan kesulitan membaca atau melihat benda mendetail akibat edema makula.
- Pasien mengeluh penglihatan sering naik turun mengikuti kadar gula darah.
- Pasien mengungkapkan rasa cemas terhadap risiko kebutaan menetap. (American Academy of Ophthalmology, 2023; Kemenkes RI, 2023)
b. Data Objektif
- Penurunan tajam penglihatan (visus) pada pemeriksaan kartu Snellen.
- Ditemukan mikroaneurisma, perdarahan bintik (dot-blot hemorrhage), dan eksudat keras (hard exudate) pada pemeriksaan funduskopi.
- Adanya gambaran cotton wool spots atau infark lapisan serat saraf retina.
- Tampak neovaskularisasi pada diskus optikus (NVD) atau di tempat lain pada retina (NVE).
- Terlihat perdarahan preretina atau perdarahan vitreus pada stadium lanjut. (PERDAMI, 2022; Sitorus dkk., 2023)
5. Investigasi Medis Penyakit Retinopati Diabetik
a. Pemeriksaan Laboratorium
- Hemoglobin A1c (HbA1c): Menilai kontrol glikemik jangka panjang (3 bulan terakhir) dengan target ideal <7%.
- Glukosa Darah Sewaktu (GDS) / Puasa (GDP) / 2 Jam Post-Prandial (GD2PP): Memantau fluktuasi glukosa darah harian.
- Profil Lipid (Kolesterol Total, LDL, HDL, Trigliserida): Mengidentifikasi risiko deposisi eksudat lipid di makula.
- Fungsi Ginjal (Ureum, Kreatinin, eGFR, Mikroalbuminuria): Menilai keterlibatan komplikasi mikrovaskular ginjal. (American Diabetes Association, 2024; Sudoyo dkk., 2021)
b. Pemeriksaan Radiologi
- Ultrasonografi (USG) Mata (B-Scan): Diperlukan jika media keruh seperti terjadi perdarahan vitreus padat atau katarak matur untuk menyingkirkan atau mengonfirmasi adanya ablasio retina traksional sebelum tindakan bedah. (Ilyas & Yulianti, 2022)
c. Pemeriksaan Lain
- Funduskopi Direk/Indirek atau Foto Fundus Digital: Menilai struktur retina, mengidentifikasi mikroaneurisma, perdarahan, dan neovaskularisasi.
- Optical Coherence Tomography (OCT): Memetakan arsitektur retina secara potong lintang beresolusi tinggi, sangat akurat untuk mendeteksi edema makula diabetik.
- Fundus Fluorescein Angiography (FFA): Menggunakan injeksi kontras fluorescein intravena untuk memetakan area non-perfusi kapiler (iskemia). (American Academy of Ophthalmology, 2023; PERDAMI, 2022)
6. Tata Laksana Penyakit Retinopati Diabetik
a. Terapi Farmakologis
- Injeksi Intravitreal Anti-VEGF: Seperti Ranibizumab, Aflibercept, atau Bevacizumab untuk menghambat pertumbuhan pembuluh darah baru dan mengurangi permeabilitas kapiler.
- Injeksi Kortikosteroid Intravitreal: Seperti implan Deksametason, digunakan pada kasus edema makula yang resisten terhadap anti-VEGF.
- Kontrol Glikemik, Tekanan Darah, dan Lipid Sistemik: Pemberian Insulin atau OHO (Obat Hipoglikemik Oral), obat antihipertensi, serta Statin. (American Academy of Ophthalmology, 2023; American Diabetes Association, 2024)
b. Terapi Non-Farmakologis
- Fotokoagulasi Laser Retina: Pan-Retinal Photocoagulation (PRP) untuk menginduksi regresi neovaskularisasi dan Focal/Grid Laser untuk edema makula fokal.
- Vitrektomi: Tindakan pembedahan untuk mengangkat korpus vitreus yang keruh akibat perdarahan lama tak terserap, atau untuk membebaskan traksi jaringan fibrotik.
- Edukasi Modifikasi Gaya Hidup: Pengaturan diet diabetes (rendah indeks glikemik), olahraga aerobik teratur intensitas sedang, pembatasan asupan garam, serta penghentian kebiasaan merokok. (International Council of Ophthalmology, 2022; PERDAMI, 2022)
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Pasien
a. Identitas Pasien
Mencakup nama, usia (risiko meningkat pada usia lanjut), jenis kelamin, alamat, tingkat pendidikan/pekerjaan (mempengaruhi kepatuhan), nomor rekam medis, dan diagnosa medis.
b. Riwayat Kesehatan
- Keluhan Utama: Pandangan kabur, ada bintik hitam (floaters), atau penurunan visus mendadak.
- Riwayat Kesehatan Sekarang: Onset kaburnya penglihatan, riwayat fluktuasi visus, kebiasaan kontrol gula darah, obat diabetes yang dikonsumsi, serta tingkat kepatuhan diet.
- Riwayat Kesehatan Dahulu: Durasi menderita Diabetes Melitus, riwayat hipertensi, penyakit ginjal, atau riwayat intervensi mata sebelumnya.
- Riwayat Kesehatan Keluarga: Riwayat keluarga dengan diabetes melitus atau kebutaan akibat komplikasi diabetes. (PPNI, 2017)
c. Pemeriksaan Fisik Mata dan Sistemik
- Sistem Penglihatan (Fokus Utama):
- Inspeksi: Amati adanya kekeruhan media, kesimetrisan pupil, refleks cahaya. Periksa tajam penglihatan (visus) dengan Snellen Chart atau hitung jari.
- Palpasi: Lakukan palpasi ringan pada kelopak mata untuk menilai rigiditas atau nyeri tekan.
- Sistem Kardiovaskular:
- Inspeksi & Palpasi: Iktus kordis teraba di ICS V midklavikula sinistra. Periksa pengisian kapiler (Capillary Refill Time / CRT), sering kali >2 detik pada ekstremitas karena sirkulasi perifer terganggu.
- Auskultasi: Bunyi jantung I dan II tunggal, pantau adanya murmur. Ukur tekanan darah.
- Sistem Persarafan:
- Inspeksi: Pemeriksaan nervus kranial, khususnya Nervus II (Optikus) untuk menilai lapang pandang dan ketajaman visus. Evaluasi tanda neuropati perifer.
- Sistem Integumen & Ekstremitas:
- Inspeksi: Amati kelembaban kulit, adanya luka lesi/ulkus diabetes pada ekstremitas bawah. (PPNI, 2017; Sudoyo dkk., 2021)
d. Pengkajian Pola Fungsi Kesehatan
- Pola Persepsi dan Manajemen Kesehatan: Kurangnya pengetahuan tentang pentingnya skrining mata berkala pada penderita diabetes.
- Pola Nutrisi/Metabolik: Pola makan tidak teratur, tidak mematuhi diet 3J (Jumlah, Jadwal, Jenis) diabetes.
- Pola Aktivitas dan Latihan: Terganggunya aktivitas harian akibat keterbatasan tajam penglihatan.
- Pola Kognitif-Perseptual: Penurunan fungsi sensorik penglihatan, kesulitan memproses informasi tertulis yang kecil.
- Pola Koping-Toleransi Stres: Munculnya kecemasan atau depresi akibat penurunan fungsi penglihatan yang progresif dan takut kehilangan kemandirian fisik. (PPNI, 2017)
2. Diagnosis Keperawatan
Berikut adalah 10 diagnosis keperawatan yang relevan pada pasien, disusun berdasarkan urutan prioritas:
- Gangguan Persepsi Sensori (D.0085) b.d Gangguan Pengantaran Impuls Sensorik d.d Penurunan Tajam Penglihatan.
- Risiko Cedera (D.0136) d.d Disfungsi Sensorik (Penurunan Visus, Pandangan Kabur)
- Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah (D.0027) b.d Disfungsi Pankreas, Kurang Kepatuhan Manajemen Diabetes d.d Kadar Gula Darah Tinggi
- Ansietas (D.0080) b.d Ancaman Terhadap Konsep Diri / Ancaman Kebutaan Menetap d.d Merasa Khawatir, Tampak Tegang
- Defisit Pengetahuan tentang Kelainan Mata Diabetik (D.0111) b.d Kurang Terpapar Informasi d.d Menanyakan Masalah yang Dihadapi
- Gangguan Pola Tidur (D.0055) b.d Hambatan Lingkungan, Ansietas, atau Perubahan Sensorik d.d Mengeluh Sulit Tidur
- Ketidakpatuhan (Diet / Pengobatan) (D.0114) b.d Ketidakadekuatan Sistem Pendukung, Hambatan Koping d.d Perilaku Tidak Mengikuti Program
- Harga Diri Rendah Situasional (D.0087) b.d Perubahan Fungsi Tubuh akibat Penuangan Penglihatan d.d Mengungkapkan Keputusasaan
- Risiko Perfusi Perifer Tidak Efektif (D.0015) d.d Diabetes Melitus, Kurang Kontrol Glikemik
- Risiko Distress Spiritual (D.0100) d.d Perubahan Hidup Akibat Penyakit Kronis/Kebutaan. PPNI, 2017)
3. Interventions Bagian I
Rencana Asuhan Diagnosis 1 sampai 3
Gangguan Persepsi Sensori (D.0085)
- Luaran: Persepsi Sensori Membaik (L.09083)
- Kriteria Hasil: Verbalisasi melihat bayangan menurun (5), Distorsi sensori menurun (5), Ketajaman penglihatan membaik (5).
- Intervensi: Minimalisasi Rangsangan (I.08241)
- Observasi: Periksa status mental, status sensori, dan tingkat kenyamanan; Diskusikan tingkat keluhan gangguan penglihatan.
- Terapeutik: Pastikan alat bantu penglihatan berfungsi baik; Batasi aktivitas yang memerlukan ketajaman penglihatan berlebih.
- Edukasi: Ajarkan teknik orientasi lingkungan mandiri.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat tetes/injeksi atau persiapan laser retina jika diindikasikan.
Risiko Cedera (D.0089)
- Luaran: Tingkat Cedera Menurun (L.14136)
- Kriteria Hasil: Kejadian cedera menurun (5), Luka/lecet menurun (5), Ketegangan menurun (5).
- Intervensi: Pencegahan Cedera (I.14537)
- Observasi: Identifikasi kebutuhan keselamatan berdasarkan tingkat fungsi sensorik; Monitor perubahan status keselamatan lingkungan.
- Terapeutik: Modifikasi lingkungan untuk meminimalkan bahaya dan risiko; Sediakan alat bantu jalan jika diperlukan.
- Edukasi: Informasikan kepada keluarga mengenai faktor risiko yang dapat memicu cedera di rumah.
Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah (D.0027)
- Luaran: Kestabilan Kadar Glukosa Darah Membaik (L.03022)
- Kriteria Hasil: Koordinasi meningkat (5), Kadar glukosa dalam darah membaik (5), Jumlah urine membaik (5).
- Intervensi: Manajemen Hiperglikemia (I.03115)
- Observasi: Identifikasi kemungkinan penyebab hiperglikemia; Monitor kadar glukosa darah secara berkala; Monitor tanda dan gejala hiperglikemia.
- Terapeutik: Berikan asupan cairan oral yang cukup.
- Edukasi: Anjurkan kepatuhan terhadap diet dan olahraga.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian insulin atau OHO sesuai advis medis.
Rencana Asuhan Diagnosis 4 sampai 6
Ansietas (D.0080)
- Luaran: Tingkat Ansietas Menurun (L.09093)
- Kriteria Hasil: Verbalisasi khawatir akibat kondisi berkurang (5), Perilaku tegang menurun (5), Konsentrasi membaik (5).
- Intervensi: Reduksi Ansietas (I.09314)
- Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah; Monitor tanda-tanda ansietas.
- Terapeutik: Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan; Pahami situasi yang membuat pasien merasa cemas.
- Edukasi: Informasikan secara faktual mengenai diagnosis, pengobatan, dan prognosis secara empati; Latih teknik relaksasi napas dalam.
Defisit Pengetahuan (D.0111)
- Luaran: Tingkat Pengetahuan Meningkat (L.12111)
- Kriteria Hasil: Perilaku sesuai anjuran meningkat (5), Verbalisasi pengetahuan tentang penyakit meningkat (5), Pertanyaan tentang masalah berkurang (5).
- Intervensi: Edukasi Kesehatan (I.12383)
- Observasi: Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi; Monitor pemahaman pasien setelah diberikan edukasi.
- Terapeutik: Sediakan materi dan media edukasi; Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan.
- Edukasi: Jelaskan patofisiologi retinopati akibat gula darah tinggi dan pentingnya skrining funduskopi rutin; Ajarkan cara memantau kadar gula darah mandiri.
Gangguan Pola Tidur (D.0055)
- Luaran: Pola Tidur Membaik (L.05045)
- Kriteria Hasil: Keluhan sulit tidur menurun (5), Keluhan sering terjaga menurun (5), Keluhan tidak segar saat bangun menurun (5).
- Intervensi: Dukungan Tidur (I.05174)
- Observasi: Identifikasi pola aktivitas dan tidur pasien; Monitor faktor pengganggu tidur.
- Terapeutik: Modifikasi lingkungan; Tetapkan jadwal tidur rutin yang konsisten.
- Edukasi: Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit; Ajarkan relaksasi otot autogenik sebelum tidur.
4. Interventions Bagian II
Rencana Asuhan Diagnosis 7 sampai 10
Ketidakpatuhan (D.0114)
- Luaran: Kepatuhan Perilaku Meningkat (L.12110)
- Kriteria Hasil: Perilaku mengikuti program perawatan meningkat (5), Tanda dan gejala penyakit memburuk menurun (5), Membuat keputusan yang tepat meningkat (5).
- Intervensi: Dukungan Kepatuhan Program Pengobatan (I.12361)
- Observasi: Identifikasi faktor penyebab ketidakpatuhan; Monitor kepatuhan menjalani program pengobatan.
- Terapeutik: Diskusikan hambatan yang dialami dalam menjalani diet atau kontrol; Libatkan keluarga dalam mendukung program pengobatan pasien.
- Edukasi: Informasikan program pengobatan yang harus dijalani secara tertulis/jelas; Fasilitasi akses ke layanan kesehatan terdekat.
Harga Diri Rendah Situasional (D.0087)
- Luaran: Harga Diri Meningkat (L.09069)
- Kriteria Hasil: Penilaian diri positif meningkat (5), Perasaan bersalah menurun (5), Penerimaan keterbatasan diri meningkat (5).
- Intervensi: Promosi Koping (I.09312)
- Observasi: Identifikasi pemahaman pasien terhadap proses penyakit; Monitor kemampuan koping yang adaptif.
- Terapeutik: Berikan suasana penerimaan yang tidak menghakimi; Hargai usaha atau keberhasilan kecil yang dicapai pasien.
- Edukasi: Diskusikan strategi untuk mempertahankan kemandirian meskipun ada keterbatasan visus; Anjurkan mengungkapkan perasaan secara terbuka.
Risiko Perfusi Perifer Tidak Efektif (D.0015)
- Luaran: Perfusi Perifer Membaik (L.02011)
- Kriteria Hasil: Denyut nadi perifer meningkat (5), Penyembuhan luka meningkat (5), Pengisian kapiler (CRT) membaik <2 detik (5).
- Intervensi: Perawatan Sirkulasi (I.02079)
- Observasi: Periksa sirkulasi perifer; Monitor adanya ketidaknyamanan atau nyeri pada ekstremitas saat beraktivitas.
- Terapeutik: Hindari pengukuran tekanan darah pada lengan yang cedera/terpasang akses vaskular; Lakukan perawatan kaki diabetes secara komprehensif.
- Edukasi: Anjurkan hidrasi cairan adekuat guna menurunkan viskositas darah.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian antiplatelet jika diindikasikan.
Risiko Distress Spiritual (D.0100)
- Luaran: Status Spiritual Membaik (L.09091)
- Kriteria Hasil: Hubungan dengan Tuhan membaik (5), Arti/tujuan hidup meningkat (5), Harapan masa depan meningkat (5).
- Intervensi: Dukungan Spiritual (I.09276)
- Observasi: Identifikasi pandangan spiritual dan nilai-nilai yang diyakini pasien; Monitor kepatuhan ibadah harian.
- Terapeutik: Fasilitasi aktivitas ibadah sesuai dengan keterbatasan fisik pasien; Sediakan lingkungan yang tenang untuk berdoa atau meditasi.
- Edukasi: Tunjukkan sikap empati dan bersedia mendengarkan keluh kesah spiritual.
- Kolaborasi: Hubungkan pasien dengan pemuka agama jika diminta oleh pasien/keluarga. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)
5. Aplikasi Tindakan
Implementasi keperawatan dilaksanakan secara sistematis berdasarkan intervensi yang telah disusun dalam perencanaan keperawatan. Oleh sebab itu, tindakan disesuaikan dengan kondisi riil pasien pada setiap shift kerja, yang meliputi observasi, terapeutik, edukasi, dan kolaborasi.
Dengan demikian, setiap tindakan yang didelegasikan atau dikerjakan wajib dicatat secara akurat dalam lembar rekam medis, lengkap dengan waktu pelaksanaan dan respons objektif pasien. (PPNI, 2018)
6. Hasil Evaluasi
Evaluasi keperawatan dilakukan secara berkala dan berkesinambungan dengan menggunakan pendekatan metode SOAP untuk mengukur tingkat keberhasilan asuhan keperawatan. Ringkasnya, instrumen evaluasi ini mencakup:
- S (Subjektif): Berisi data berdasarkan keluhan langsung dari pasien setelah diberikan intervensi.
- O (Objektif): Berisi data hasil pemeriksaan fisik dan observasi perawat secara langsung.
- A (Analisis): Berisi kesimpulan perawat mengenai status diagnosis keperawatan (apakah masalah teratasi atau belum teratasi).
- P (Perencanaan): Berisi tindak lanjut asuhan keperawatan berdasarkan hasil analisis. (PPNI, 2019)
DAFTAR PUSTAKA
American Academy of Ophthalmology. (2023). Retina and Vitreous (Basic and Clinical Science Course). San Francisco: AAO.
American Diabetes Association. (2024). Standards of Care in Diabetes—2024. Diabetes Care, 47(1), S1-S321.
AOS. (2023). Guidelines for Diabetic Retinopathy Management in Asia. Asian Journal of Ophthalmology. aos.org/journals/dr-guidelines-asia
Chinese Ophthalmological Society. (2022). Clinical Consensus on Diabetic Microangiopathy. Chinese Journal of Ophthalmology, 58(4), 241-248.
Ilyas, S., & Yulianti, S. R. (2022). Ilmu Penyakit Mata (Edisi ke-6). Jakarta: BP FKUI.
IJOR. (2023). Angiogenic Factors and Retinal Hypoxia in Diabetic Population. Indian Journal of Ophthalmology, 71(2), 415-422. ijo.in/article_hypoxia_diabetic
International Council of Ophthalmology. (2022). ICO Guidelines for Diabetic Eye Care. San Francisco: ICO.
JOS. (2024). Epidemiological Studies of Diabetic Retinopathy in Japan. Japanese Journal of Ophthalmology, 68(1), 12-21. jjo.jp/epidemiology-dr-japan
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Keputusan Menteri Kesehatan RI tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran: Tata Laksana Retinopati Diabetik. Jakarta: Kemenkes RI.
PERDAMI. (2022). Panduan Praktis Klinis: Retinopati Diabetik. Jakarta: PB PERDAMI.
PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI). Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI). Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI). Jakarta: DPP PPNI.
Sitorus, R. S., dkk. (2023). Buku Ajar Oftalmologi FKUI. Jakarta: Badan Penerbit FKUI.
Sudoyo, A. W., dkk. (2021). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam (Jilid II, Edisi ke-6). Jakarta: InternaPublishing.

Tinggalkan Balasan