Kejang demam merupakan manifestasi kejang pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun yang muncul oleh kenaikan suhu tubuh di atas 38°C tanpa adanya infeksi intrakranial.
A. Konsep Medis Kejang Demam
1. Definisi Penyakit Kejang Demam
Definisi Dari Pakar Internasional
International League Against Epilepsy (ILAE, 2014):
Selanjutnya, organisasi ini menjelaskan bahwa kejang demam ialah serangan kejang yang terjadi pada bayi dan anak-anak, biasanya antara usia 1 bulan dan 5 tahun, yang berkaitan dengan penyakit demam tetapi tidak menunjukkan bukti infeksi intrakranial atau penyebab yang pasti.
American Academy of Pediatrics (AAP, 2011):
Sementara itu, lembaga tersebut menegaskan kejang demam sebagai peristiwa kejang yang terjadi pada anak-anak berumur 6 hingga 60 bulan, yang mengalami kenaikan suhu tubuh 38°C (100.4°F) atau lebih, tanpa adanya infeksi sistem saraf pusat atau gangguan metabolik akut.
National Institutes of Health (NIH, 2018):
Lebih lanjut, institusi ini mengartikan gangguan ini sebagai suatu kejadian pada bayi atau anak kecil, yang biasanya berlangsung antara usia 3 bulan dan 5 tahun, yang berhubungan dengan demam tanpa adanya infeksi otak primer.
World Health Organization (WHO, 2019):
Selain itu, badan kesehatan dunia mendefinisikan kejang demam sebagai episode kejang yang timbul selama kenaikan suhu tubuh pada anak yang tidak memiliki riwayat kejang tanpa demam sebelumnya maupun penyakit neurologis yang mendasari.
Mayo Clinic (2022):
Kemudian, pusat medis tersebut merumuskan kejang demam sebagai kejang yang menyerang anak-anak yang sehat secara fisik akibat lonjakan suhu tubuh yang tinggi, yang kerap kali bersumber dari infeksi saluran pernapasan atau pencernaan.
(ILAE, 2014, AAP, 2011, NIH, 2018, WHO, 2019, Mayo Clinic, 2022)
Definisi Dari Pakar Asia
Japanese Society of Child Neurology (JSCN, 2017):
Oleh karena itu, asosiasi ini menyatakan kejang demam sebagai bentuk kejang tersering pada masa kanak-kanak pada wilayah Asia yang terjadi akibat demam tinggi, dengan eksklusi meningitis serta ensefalitis.
Chinese Pediatric Society (CPS, 2020):
Secara ringkas, organisasi profesi tersebut mengklasifikasikan kondisi ini sebagai gangguan konvulsif akut pada anak yang terpicu oleh demam non-SSP, dengan onset tertinggi pada tahun kedua kehidupan.
Korean Pediatric Society (KPS, 2018):
Begitu pula, para ahli mengidentifikasi kejang demam sebagai fenomena neurologis transien yang bermanifestasi akibat kenaikan suhu tubuh mendadak, yang umumnya memiliki prognosis yang sangat baik pada populasi anak Asia.
Indian Academy of Pediatrics (IAP, 2021):
Alhasil, mereka menguraikan kejang demam sebagai sindrom kejang masa anak-anak yang berkaitan erat dengan respon termoregulasi imatur terhadap agen infeksius non-spesifik.
Malaysian Paediatric Association (MPA, 2019):
Dengan demikian, perhimpunan ini menyebutkan kejang demam sebagai bangkitan kejang yang menyertai penyakit demam akut pada balita tanpa adanya riwayat trauma kepala atau kelainan kongenital sistem saraf.
(JSCN, 2017, CPS, 2020, KPS, 2018, IAP, 2021, MPA, 2019)
Definisi Dari Pakar Indonesia
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI, 2016):
Sebaliknya, panduan nasional menetapkan kejang demam sebagai bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranial.
Soetomenggolo (2012):
Oleh sebab itu, penulis mendeskripsikan kejang demam sebagai kelainan neurologis yang paling sering dijumpai pada bayi dan anak, bersifat benigna, dan berkaitan dengan demam di luar proses intrakranial.
Lumbantobing (2015):
Maka dari itu, pakar neurologi menandakan kejang demam sebagai kejang yang timbul sewaktu anak menderita demam, dengan catatan anak tersebut tidak terbukti menderita radang selaput otak atau infeksi otak lainnya.
Pusponegoro (2014):
Meskipun demikian, literatur lokal menjabarkan kejang demam sebagai episode konvulsif pada anak usia 6 bulan sampai 5 tahun yang muncul oleh demam tinggi, bukan karena gangguan elektrolit atau riwayat kejang tanpa demam.
Hasan & Alatas (2011):
Akhirnya, buku ajar tersebut memaparkan kejang demam sebagai kedaruratan pediatrik berupa kejang yang menyertai demam akibat infeksi sistemik pada luar susunan saraf pusat pada masa balita.
(IDAI, 2016, Soetomenggolo, 2012, Lumbantobing, 2015, Pusponegoro, 2014, Hasan & Alatas, 2011)
2. Etiologi Penyakit Kejang Demam
Faktor Infeksi Ekstrakranial
Oleh karena itu, penyebab utama masalah ini adalah kenaikan suhu tubuh yang cepat, yang biasanya dipicu oleh infeksi virus seperti Human Herpesvirus 6, influenza, dan adenovirus. Selain itu, infeksi bakteri seperti otitis media akut, tonsilofaringitis, serta infeksi saluran kemih juga sering menjadi pemicu utama demam.
Faktor Kerentanan Usia
Sementara itu, efek samping imunisasi seperti DPT atau MMR dapat memicu demam transien. Selanjutnya, terdapat predisposisi genetik serta faktor imaturitas sistem saraf pusat pada anak usia 6 hingga 60 bulan yang meningkatkan kerentanan tersebut.
(IDAI, 2016, AAP, 2011)
3. Patofisiologi Penyakit Kejang Demam
Mekanisme Kenaikan Metabolisme
Oleh sebab itu, pada keadaan demam, kenaikan suhu tubuh $1^\circ\text{C}$ akan mengakibatkan peningkatan metabolisme basal sebesar 10%–15% dan kebutuhan oksigen meningkat sebesar 20%. Maka dari itu, sirkulasi otak anak yang mencapai 65% dari seluruh tubuh menyebabkan kenaikan suhu mendadak dapat mengganggu keseimbangan membran sel neuron.
Mekanisme Gangguan Ion
Selanjutnya, pelepasan sitokin pirogenik memengaruhi pusat termoregulasi pada hipotalamus. Akibatnya, terjadi perubahan permeabilitas membran sel saraf sehingga ion Natrium masuk ke dalam sel secara masif dan ion Kalium keluar. Dengan demikian, terjadi depolarisasi neuron yang meluas dengan cepat dan memicu kejang.
(Soetomenggolo, 2012, IDAI, 2016)
Penyimpangan KDM / Pathway
Infeksi Bakteri/Virus/Pasca Vaksinasi
│
▼
Reaksi Inflamasi (Pelepasan Pirogen Endogen: IL-1, TNF-α)
│
▼
Merangsang Hipotalamus (Meningkatkan Set Point Suhu)
│
▼
HIPERTERMIA
│
▼
Peningkatan Metabolisme Basal & Kebutuhan Oksigen Otak
│
▼
Gangguan Pompa Natrium-Kalium pada Membran Sel Neuron
│
▼
Depolarisasi Neuron Spontan & Muatan Listrik Berlebih
│
▼
BANGKITAN KONSEKUTIF
│
┌───────┴─────────────────────────────────────────┐
▼ ▼
Kejang General/Tonik-Klonik Kurangnya Informasi Orang Tua
│ │
├─────────────────────────┐ ▼
▼ ▼ ANSIETAS ORANG TUA
Kontraksi Otot Meningkat Penurunan Kesadaran
│ │
├────────────────┐ ├────────────────────────┐
▼ ▼ ▼ ▼
Hiperventilasi Sianosis Lidah Jatuh Ke Belakang Refleks Menelan Turun
│ │ │ │
▼ ▼ ▼ ▼
BERSIHAN JALAN NAFAS TIDAK EFEKTIF RISIKO ASPIRASI
│
▼
RISIKO CEDERA
4. Manifestasi Klinis Penyakit Kejang Demam
a. Data Subjektif
Oleh karena itu, orang tua biasanya melaporkan anak tiba-tiba kaku atau kelonjotan. Selain itu, mereka mengeluh badan anak sangat panas sebelum serangan terjadi. Selanjutnya, orang tua mengeluh anak tidak merespons saat dipanggil serta mengalami batuk atau pilek.
b. Data Objektif
Sementara itu, hasil pemeriksaan menunjukkan suhu tubuh rektal >38°C. Kemudian, tampak kejang tonik-klonik berupa tubuh kaku serta gerakan menyentak. Akhirnya, terlihat mata mendelik ke atas, gigi mengatup rapat, sianosis sirkumoral, dan penurunan kesadaran pasca serangan.
(IDAI, 2016, Pusponegoro, 2014)
5. Pemeriksaan Penunjang Penyakit Kejang Demam
Evaluasi Laboratorium
Oleh sebab itu, melakukan pemeriksaan darah rutin untuk menilai kadar leukosit sebagai indikator infeksi. Begitu pula, pemeriksaan elektrolit darah seperti natrium dan kalium berguna menyingkirkan gangguan metabolik. Selanjutnya, melakukan juga pemeriksaan gula darah sewaktu guna mendeteksi adanya hipoglikemia.
Evaluasi Diagnostik Lain
Sementara itu, sangat menganjurkan untuk melakukan pemeriksaan pungsi lumbal pada bayi di bawah 12 bulan untuk menyingkirkan diagnosis meningitis. Selain itu, tidak merekomendasikan pemeriksaan elektroensefalografi atau EEG pada kasus sederhana, melainkan hanya pada tipe kompleks yang berulang.
(AAP, 2011, IDAI, 2016)
6. Penatalaksanaan Medis
Skema Farmakologis
Maka dari itu, pemberian diazepam rektal dengan dosis 0,5 mg/kgBB menjadi pilihan utama saat serangan terjadi. Selanjutnya, jika kejang belum berhenti dalam 5 menit, pemberian dapat diulang. Sementara itu, memberikan antipiretik seperti parasetamol dosis 10–15 mg/kgBB untuk menurunkan demam.
Skema Non-Farmakologis
Dengan demikian, melakukan tindakan non-farmakologis melalui pemberian kompres hangat pada daerah aksila dan lipatan paha. Kemudian, petugas harus melonggarkan pakaian ketat dan memosisikan anak miring. Sehingga, harus mempertahankan kecukupan hidrasi oral secara optimal setelah anak sadar penuh.
(IDAI, 2016, Pusponegoro, 2014)
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
Riwayat dan Identitas
Oleh karena itu, perawat perlu mengidentifikasi nama, umur, jenis kelamin, dan nama orang tua. Selanjutnya, pengkajian keluhan utama berfokus pada durasi serangan dan derajat demam. Di samping itu, riwayat penyakit keluarga terkait kerentanan serupa juga harus digali secara mendalam.
Pemeriksaan Fisik B1-B3
Sementara itu, pada sistem B1 tampak takipnea dan sianosis sirkumoral. Kemudian, pada sistem B2 ditemukan takikardia dan akral teraba panas. Lebih lanjut, pada sistem B3 ditemukan penurunan kesadaran pasca serangan, mata mendelik ke atas, serta rigiditas otot selama fase iktal.
Pemeriksaan Fisik B4-B6
Oleh sebab itu, pemeriksaan sistem B4 menunjukkan potensi oliguria jika anak mengalami dehidrasi. Begitu pula, pada sistem B5 ditemukan bibir kering dan penurunan refleks menelan. Akhirnya, pada sistem B6 tampak spasme otot ekstremitas secara simetris dan penurunan turgor kulit.
Pengkajian Pola Gordon
Maka dari itu, pada pola nutrisi ditemukan keluhan anak malas menyusu atau mengalami anoreksia. Selanjutnya, pada pola persepsi kesehatan, ditemukan tingkat kecemasan yang tinggi pada orang tua. Dengan demikian, pengkajian ini mengarahkan intervensi keperawatan secara komprehensif.
(PPNI, 2017, Soetomenggolo, 2012)
2. Diagnosis Keperawatan
Prioritas diagnosis keperawatan adekuat berdasarkan SDKI:
- Hipertermia (D.0130) berhubungan dengan proses penyakit.
- Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001) berhubungan dengan disfungsi neuromuskuler.
- Risiko Cedera (D.0136) ditandai dengan faktor risiko kejang.
- Risiko Aspirasi (D.0006) ditandai dengan penurunan tingkat kesadaran.
- Risiko Hipovolemia (D.0034) ditandai dengan peningkatan evaporasi.
- Perfusi Perifer Tidak Efektif (D.0009) berhubungan dengan hipertermia.
- Defisit Nutrisi (D.0019) berhubungan dengan ketidakmampuan menelan makanan.
- Intoleransi Aktivitas (D.0056) berhubungan dengan kelemahan otot pasca kejang.
- Ansietas (Orang Tua) (D.0080) berhubungan dengan krisis situasional.
- Defisit Pengetahuan (D.0111) berhubungan dengan kurang terpapar informasi.
(PPNI, 2017)
3. Perencanaan (Intervensi)
Rencana Intervensi 1 – 3
- Diagnosis Hipertermia (D.0130)
- SLKI: Termoregulasi (L.14134): Setelah dilakukan tindakan keperawatan, diharapkan ekspektasi membaik, dengan kriteria hasil suhu tubuh membaik (36,5°C – 37,5°C), kulit kemerahan menurun, kejang menurun, takikardia menurun, dan dasar kuku sianosis menurun.
- SIKI: Manajemen Hipertermia (I.15506): Monitor suhu tubuh anak setiap 2 jam; Sediakan lingkungan yang dingin dan sirkulasi baik; Longgarkan atau lepaskan pakaian anak; Lakukan kompres hangat (tepid sponge); Kolaborasi pemberian antipiretik dan cairan intravena.
- Diagnosis Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001)
- SLKI: Bersihan Jalan Napas (L.01001): Setelah intervensi, bersihan jalan napas meningkat dengan kriteria hasil sianosis menurun, gelisah menurun, frekuensi napas membaik, pola napas membaik, dan produksi sputum menurun.
- SIKI: Manajemen Jalan Napas (I.01011): Monitor pola napas dan bunyi napas tambahan; Posisikan miring (recovery position) untuk mencegah sumbatan; Lakukan pengisapan lendir (suction) jika perlu; Pasang OPA (Oropharyngeal Airway) jika kejang berkepanjangan; Berikan oksigenasi sesuai indikasi.
- Diagnosis Risiko Cedera (D.0136)
- SLKI: Tingkat Cedera (L.14136): Setelah intervensi, tingkat cedera menurun dengan kriteria hasil kejadian cedera menurun, luka/lecet menurun, ketegangan otot menurun, dan ekspresi wajah kesakitan menurun.
- SIKI: Pencegahan Cedera (I.14534): Pasang pengaman pada tempat tidur pasien; Jauhkan benda-benda tajam/berbahaya dari sekitar anak; Temani anak selama fase kejang berlangsung; Jangan memasukkan benda keras (sendok) ke mulut saat kejang.
Rencana Intervensi 4 – 6
- Diagnosis Risiko Aspirasi (D.0006)
- SLKI: Tingkat Aspirasi (L.01006): Setelah intervensi, tingkat aspirasi menurun dengan kriteria hasil tingkat kesadaran meningkat, refleks menelan membaik, gelisah menurun, dan kebersihan mulut meningkat.
- SIKI: Pencegahan Aspirasi (I.01018): Monitor tingkat kesadaran dan refleks batuk; Puaskan anak jika tingkat kesadaran menurun pasca kejang; Pertahankan kepatenan jalan napas; Sediakan alat suction di dekat tempat tidur.
- Diagnosis Risiko Hipovolemia (D.0034)
- SLKI: Status Cairan (L.03028): Setelah intervensi, status cairan membaik dengan kriteria hasil turgor kulit meningkat, membran mukosa lembap, intake cairan membaik, kadar Hb/Ht membaik, dan output urin membaik.
- SIKI: Manajemen Hipovolemia (I.03116): Monitor status hidrasi (frekuensi nadi, turgor kulit, mukosa); Catat intake dan output cairan (balans cairan); Hitung kebutuhan cairan berdasarkan rumus Darrow; Berikan cairan IV sesuai instruksi dokter.
- Diagnosis Perfusi Perifer Tidak Efektif (D.0009)
- SLKI: Perfusi Perifer (L.02011): Setelah intervensi, perfusi perifer meningkat dengan kriteria hasil warna kulit membaik, pengisian kapiler (CRT) < 2 detik, akral hangat, turgor kulit membaik, dan pucat menurun.
- SIKI: Perawatan Sirkulasi (I.02079): Periksa sirkulasi perifer (nadi, CRT, warna, suhu); Hindari pemasangan ikatan/pakaian ketat pada ekstremitas; Jaga kehangatan tubuh secara fisiologis; Hindari pengukuran tekanan darah pada ekstremitas dengan keterbatasan perfusi.
Rencana Intervensi 7 – 10
- Diagnosis Defisit Nutrisi (D.0019)
- SLKI: Status Nutrisi (L.03030): Setelah intervensi, status nutrisi membaik dengan kriteria hasil porsi makanan dihabiskan meningkat, nafsu makan membaik, serum albumin meningkat, dan diare menurun.
- SIKI: Manajemen Nutrisi (I.03119): Identifikasi status nutrisi anak; Berikan makanan dalam porsi kecil tapi sering setelah anak sadar penuh; Sajikan makanan dalam bentuk lunak yang mudah ditelan; Kolaborasi dengan ahli gizi jika diperlukan.
- Diagnosis Intoleransi Aktivitas (D.0056)
- SLKI: Toleransi Aktivitas (L.05047): Setelah intervensi, toleransi aktivitas meningkat dengan kriteria hasil kemudahan melakukan aktivitas membaik, kelemahan otot menurun, keluhan lelah menurun, dan warna kulit membaik.
- SIKI: Manajemen Energi (I.05178): Monitor kelelahan fisik pada anak pasca kejang; Sediakan lingkungan yang tenang untuk mendukung istirahat anak; Bantu pemenuhan kebutuhan aktivitas harian (ADL); Jadwalkan aktivitas harian secara bertahap.
- Diagnosis Ansietas (Orang Tua) (D.0080)
- SLKI: Tingkat Ansietas (L.09093): Setelah intervensi, tingkat ansietas menurun dengan kriteria hasil perilaku gelisah menurun, verbalisasi khawatir menurun, suara bergetar menurun, dan pola tidur membaik.
- SIKI: Reduksi Ansietas (I.09314): Identifikasi tingkat ansietas orang tua; Jelaskan prosedur tindakan dengan bahasa yang tenang dan jelas; Berikan kesempatan orang tua untuk mendampingi anak; Validasi perasaan cemas orang tua.
- Diagnosis Defisit Pengetahuan (D.0111)
- SLKI: Tingkat Pengetahuan (L.12111): Setelah intervensi, tingkat pengetahuan meningkat dengan kriteria hasil perilaku sesuai pengetahuan meningkat, persepsi keliru menurun, pertanyaan tentang masalah yang dihadapi menurun.
- SIKI: Edukasi Kesehatan (I.12383): Jelaskan penanganan pertama jika anak mengalami kejang kembali di rumah; Ajarkan cara penggunaan diazepam rektal secara benar; Berikan leaflet atau materi edukasi tertulis mengenai kondisi demam.
(PPNI, 2017, PPNI, 2018, PPNI, 2019)
4. Implementasi Tindakan
Perawat melaksanakan implementasi keperawatan berdasarkan prioritas masalah utama. Penurunan suhu tubuh anak diakselerasi melalui kompres hangat serta pemberian antipiretik tepat waktu. Kepatenan jalan napas dijaga ketat dengan memposisikan anak miring serta menjauhkan benda berbahaya selama fase kejang. Edukasi taktis diberikan kepada keluarga guna mencegah kecemasan situasional yang berlebihan.
(PPNI, 2018)
5. Evaluasi Hasil
Perawat mengevaluasi hasil asuhan keperawatan menggunakan dokumentasi terstruktur SOAP. Evaluasi berfokus pada stabilitas suhu tubuh anak dalam rentang normal dan tidak adanya kejang berulang. Kepatenan jalan napas anak dipastikan bersih dari sumbatan lendir atau muntahan. Tingkat kecemasan orang tua dilaporkan menurun signifikan setelah menerima edukasi kesehatan yang efektif.
(PPNI, 2019)
Rumus Penghitungan Cairan Anak (Kebutuhan Maintenance)
Apabila diperlukan penghitungan kebutuhan cairan rumatan pada pasien anak, digunakan rumus Holliday-Segar yang dapat disalin sebagai berikut:
Untuk Berat Badan <= 10 kg: Kebutuhan Cairan = Berat Badan x 100 mL/kgBB/hari
Untuk Berat Badan 11 – 20 kg: Kebutuhan Cairan = 1000 mL + ((Berat Badan – 10) x 50 mL/kgBB/hari)
Untuk Berat Badan > 20 kg: Kebutuhan Cairan = 1500 mL + ((Berat Badan – 20) x 20 mL/kgBB/hari)
DAFTAR PUSTAKA
American Academy of Pediatrics. (2011). Long-term Management of the Child With Simple Febrile Seizures. Pediatrics, 127(2), 389-394. [pediatrics.aappublications.org/content/127/2/389]
Hasan, R., & Alatas, H. (2011). Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI.
Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2016). Rekomendasi Penatalaksanaan Kejang Demam. Jakarta: Badan Penerbit IDAI.
International League Against Epilepsy. (2014). A Practical Clinical Definition of Epilepsy. Epilepsia, 55(4), 475-482. [onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/epi.12550]
Lumbantobing, S. M. (2015). Kejang Demam (Febrile Convulsion). Jakarta: Badan Penerbit FKUI.
Mayo Clinic. (2022). Febrile Seizures: Symptoms and Causes. Rochester: Mayo Foundation. [mayoclinic.org/diseases-conditions/febrile-seizure/symptoms-causes/syc-20372522]
National Institutes of Health. (2018). Febrile Seizures Fact Sheet. NIH Publication. [ninds.nih.gov/Disorders/Patient-Caregiver-Education/Fact-Sheets/Febrile-Seizures-Fact-Sheet]
Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2017). Standar Diagnosis Kekapasitasan Indonesia (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
Pusponegoro, H. D. (2014). Kejang Demam: Konsensus Nasional Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta: BP IDAI.
Soetomenggolo, T. S. (2012). Buku Ajar Neurologi Anak. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia.
World Health Organization. (2019). Pocket Book of Hospital Care for Children. Geneva: WHO. [who.int/publications/i/item/9789241548373]

Tinggalkan Balasan