KONSEP MEDIS PADA STUNTING

Stunting merupakan gangguan pertumbuhan pada anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, yang ditandai dengan panjang atau tinggi badan berada di bawah standar. (Kemenkes RI, 2023)

A. KONSEP MEDIS STUNTING

1. Ulasan Definisi Berdasarkan Perspektif Pakar

Definisi Dari Pakar Internasional

World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang anak-anak alami akibat gizi buruk, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai. (WHO, 2020)

Selanjutnya, UNICEF menegaskan bahwa kondisi ini mencerminkan kegagalan kronis dalam memenuhi kebutuhan gizi selama 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) anak. (UNICEF, 2021)

Selain itu, Black et al. mendefinisikan masalah ini sebagai indikator malnutrisi kronis yang mengakibatkan tinggi badan anak menurut umur berada di bawah minus dua standar deviasi (< -2 SD). (Black et al., 2013)

Sementara itu, Prendergast dan Humphrey menjelaskan bahwa patologi tersebut melibatkan disfungsi usus subklinis atau enteropati lingkungan yang menghambat penyerapan zat gizi secara optimal. (Prendergast & Humphrey, 2014)

Kemudian, Save the Children mengidentifikasi masalah tersebut sebagai wujud nyata dari kemiskinan multidimensi yang membatasi potensi fisik dan kognitif anak secara permanen sejak usia dini. (Save the Children, 2019)

Definisi Pakar Asia

Sutan et al. merumuskan masalah pertumbuhan pada kawasan Asia Tenggara sebagai manifestasi dari ketahanan pangan rumah tangga yang rendah dan pola asuh pemberian makan anak yang tidak tepat. (Sutan et al., 2018)

Oleh karena itu, Bhutta et al. menekankan bahwa masalah Asia Selatan bersumber dari tingginya prevalensi Ibu hamil dengan kekurangan energi kronis (KEK). (Bhutta et al., 2020)

Lalu, Angdembe et al. mengartikan kondisi ini sebagai dampak kumulatif dari rendahnya akses terhadap sanitasi lingkungan dan air bersih pada area rural Asia. (Angdembe et al., 2019)

Sebaliknya, Ahmed et al. mengkategorikan gangguan ini sebagai hambatan pertumbuhan linier menahun yang berkaitan erat dengan status sosial ekonomi rendah dan kurangnya edukasi maternal. (Ahmed et al., 2021)

Seterusnya, Torlesse et al. menyimpulkan bahwa kondisi pada wilayah berkembang Asia merepresentasikan kegagalan sistemik dalam intervensi gizi spesifik dan sensitif pada balita. (Torlesse et al., 2016)

Definisi Pakar Indonesia

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menetapkan kondisi ini sebagai status gizi balita yang memiliki nilai Z-score tinggi badan menurut umur (TB/U) kurang dari -2 SD. (Kemenkes RI, 2020)

Selain itu, Soetjiningsih menerangkan bahwa masalah ini merupakan bentuk kegagalan pertumbuhan linier akibat malnutrisi zat gizi mikro dan makro yang berlangsung lama. (Soetjiningsih, 2018)

Dengan demikian, Supariasa menguraikan gangguan tersebut sebagai masalah gizi institusional kronis yang timbul karena konsumsi makanan yang tidak seimbang dalam jangka waktu menahun. (Supariasa, 2019)

Bahkan, Atmarita menjelaskan bahwa kondisi ini mencerminkan situasi gizi kurang masa lalu yang berakibat pada penurunan produktivitas dan peningkatan risiko penyakit tidak menular saat dewasa. (Atmarita, 2017)

Akhirnya, Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI mengartikan gangguan ini sebagai sebuah kondisi retardasi pertumbuhan fisik yang serta dengan keterlambatan perkembangan motorik serta kognitif anak. (Puskesdatin Kemenkes RI, 2018)

2. Etiologi Terjadinya Gangguan Tumbuh Kembang

Faktor Penyebab Langsung

Secara umum, gangguan ini timbul melalui interaksi berbagai faktor. Faktor langsung yang pertama ialah asupan nutrisi yang tidak adekuat secara kuantitas maupun kualitas. Faktor langsung yang kedua adalah tingginya frekuensi penyakit infeksi menular seperti diare akut dan infeksi saluran pernapasan. (Kemenkes RI, 2020)

Faktor Penyebab Tidak Langsung

Seterusnya, faktor tidak langsung mencakup ketahanan pangan rumah tangga yang rendah. Hal ini diperberat oleh pola asuh asimetris seperti kegagalan pemberian air susu ibu eksklusif. Kondisi lingkungan yang kotor turut memicu paparan bakteri patogen secara masif pada pencernaan anak. (WHO, 2020)

Faktor Maternal

Selain itu, kondisi kesehatan ibu selama masa kehamilan memegang peranan krusial. Ibu hamil yang menderita kekurangan energi kronis cenderung melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah. Akibatnya, bayi tersebut memiliki kerentanan biologis yang tinggi terhadap hambatan pertumbuhan skeletal. (UNICEF, 2021)

3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM

Mekanisme Kerusakan Seluler

Pada awalnya, kekurangan asupan protein kronis menyebabkan penurunan kadar asam amino esensial dalam serum. Kondisi ini menekan poros somatotrof dan memicu resistensi hormon pertumbuhan. Akibatnya, sintesis Insulin-like Growth Factor 1 (IGF-1) dalam organ hati mengalami penurunan drastis. (Black et al., 2013)

Dampak Terhadap Skeletal anak

Oleh karena kadar IGF-1 rendah, proses proliferasi kondrosit pada lempeng epifisis tulang panjang menjadi terhambat. Fenomena ini secara langsung menghentikan laju pertumbuhan linier tulang skeletal anak. Sementara itu, enteropati lingkungan akibat bakteri fekal menyebabkan atrofi vili usus secara progresif. (Prendergast & Humphrey, 2014)

Alokasi Energi Maladaptif

Akibatnya, tubuh mengalami malabsorbsi berat serta inflamasi sistemik kronis. Sitokin pro-inflamasi kemudian mengalihkan penggunaan energi tubuh. Energi yang seharusnya terpakai untuk pertumbuhan skeletal teralokasikan untuk mempertahankan imunitas. Keadaan malnutrisi kronis ini memicu berbagai masalah keperawatan. (Bhutta et al., 2020)

Skema Pathway KDM

Malnutrisi Kronis & Infeksi Berulang │ ├──► Enteropati Lingkungan ──► Malabsorbsi Nutrisi ──► Defisit Nutrisi │ ├──► Penurunan Sintesis IGF-1 ──► Hambatan Epifisis ──► Gangguan Tumbuh Kembang │ └──► Atrofi Otot Skeletal ──► Penurunan Energi ──► Intoleransi Aktivitas

(Soetjiningsih, 2018)

4. Manifestasi Klinis dan Gejala Objektif

Tanda-Tanda Klinis Utama

Secara klinis, anak dengan gangguan ini menunjukkan tanda fisik yang khas. Pertumbuhan tinggi badan anak berada pada bawah grafik normal standar referensi internasional. Selain itu, proporsi tubuh anak cenderung tampak normal namun ukuran fisiknya lebih kecil daripada usianya. (Kemenkes RI, 2023)

Dampak Karakteristik Fisik

Selanjutnya, tanda yang dapat diamati adalah keterlambatan pertumbuhan gigi geligi anak. Wajah anak seringkali terlihat jauh lebih muda dibandingkan dengan anak seusianya. Anak juga menunjukkan tanda keterlambatan kemampuan fungsional seperti duduk, berdiri, dan berjalan sesuai milestone. (Soetjiningsih, 2018)

Dampak Kemampuan Kognitif

Kemudian, perkembangan kognitif anak mengalami hambatan nyata. Anak cenderung kurang responsif terhadap stimulus verbal pada lingkungannya. Kemampuan konsentrasi dan memori jangka pendek anak bernilai rendah saat pengujian aktivitas. Kondisi ini menurunkan performa motorik kasar dan halus. (UNICEF, 2021)

5. Pemeriksaan Penunjang Laboratorium dan Radiologi

Prosedur Pemeriksaan Laboratorium

Pertama-tama, penegakan diagnosis membutuhkan pemeriksaan antropometri secara berkala menggunakan parameter Z-score. Selanjutnya, melakukan pemeriksaan darah tepi untuk mengevaluasi kadar hemoglobin guna mendeteksi anemia. Pemeriksaan kadar albumin serum berguna untuk memetakan derajat defisiensi protein dalam tubuh. (Kemenkes RI, 2020)

Prosedur Pemeriksaan Radiologi

Sementara itu, pemeriksaan radiologi memegang peranan penting melalui foto rontgen pergelangan tangan. Tindakan ini bertujuan untuk menilai bone age atau usia biologis tulang anak. Hasil radiologi umumnya menunjukkan maturasi skeletal yang terlambat dibandingkan usia kronologis. (Prendergast & Humphrey, 2014)

Metode Pemeriksaan Perkembangan

Akhirnya, melakukan pemeriksaan perkembangan menggunakan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP). Instrumen ini mengevaluasi sektor motorik kasar, motorik halus, bicara, dan kemandirian anak. Mengerjakan juga Analisis feses rutin guna mengesampingkan adanya infeksi parasit saluran cerna. (Kemenkes RI, 2023)

6. Penatalaksanaan Medis Secara Komprehensif

Tindakan Terapi Farmakologis

Secasan medis, memfokuskan terapi farmakologis pada pemberian suplementasi mikronutrien esensial. Pemberian zat besi efektif untuk mengatasi anemia yang menghambat oksigenasi jaringan. Mengaplikasikan Pemberian zink elemental selama dua minggu untuk memperbaiki integritas mukosa usus dari kerusakan. (WHO, 2020)

Penggunaan Nutrisi Khusus

Selanjutnya, pada kasus dengan malnutrisi berat, dokter memberikan Pangan Olahan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK). Memberikan Formula nutrisi padat seperti F-75 dan F-100 secara bertahap. Pemberian obat cacing secara periodik setiap enam bulan juga wajib untuk memutus siklus malabsorbsi. (Kemenkes RI, 2020)

Tindakan Terapi Non-Farmakologis

Sementara itu, dapat memfokuskan terapi non-farmakologis pada modifikasi perilaku pemberian makan. Edukasi mengenai penerapan Pemberian Makanan Bayi dan Anak (PMBA) berbasis protein hewani massal. Menjalankan intervensi sanitasi total berbasis masyarakat guna menyediakan air bersih dan menghentikan infeksi usus. (UNICEF, 2021)

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian Keperawatan Secara Holistik

Komponen Identitas dan Riwayat

Langkah awal pengkajian meliputi pencatatan identitas anak secara detail, khususnya tanggal lahir. Selanjutnya, perawat menanyakan riwayat kehamilan ibu, berat badan lahir anak, serta riwayat pemberian ASI. Perawat juga mengeksplorasi riwayat penyakit infeksi yang pernah anak derita. (Supariasa, 2019)

Komponen Pemeriksaan Fisik Sistemik

Kemudian, pemeriksaan fisik dilakukan secara head-to-toe. Pada sistem pencernaan, dilakukan inspeksi perut tampak buncit, auskultasi bising usus meningkat, perkusi timpani, dan palpasi supel. Pada sistem muskuloskeletal, ditemukan atrofi otot ekstremitas dan penurunan kekuatan tonus otot. (Soetjiningsih, 2018)

Komponen Pola Fungsi Kesehatan

Berikutnya, pengkajian pola fungsi kesehatan difokuskan pada pola nutrisi dan eliminasi. Perawat menganalisis riwayat asupan kalori harian yang masuk ke tubuh anak. Pola eliminasi dikaji terkait frekuensi serta konsistensi feses. Pola aktivitas dipetakan berdasarkan tingkat keterbatasan pergerakan anak. (Supariasa, 2019)

2. Diagnosis Keperawatan Sesuai Standar Prioritas

Prioritas Diagnosis Satu Sampai Lima

Prioritas Diagnosis Enam Sampai Sepuluh

(PPNI, 2017)

3. Perencanaan Keperawatan Berdasarkan SLKI dan SIKI

Intervensi Diagnosis Defisit Nutrisi

  • Luaran Keperawatan: Status Nutrisi Membaik (L.03030) dengan kriteria hasil porsi makanan yang dihabiskan meningkat, berat badan membaik, indeks massa tubuh membaik.
  • Intervensi Utama: Manajemen Nutrisi (I.03119)
    • Observasi: Identifikasi status nutrisi; Monitor asupan makanan; Monitor berat badan.
    • Terapeutik: Sajikan makanan secara menarik dan suhu yang sesuai; Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein.
    • Edukasi: Ajarkan diet yang diprogramkan kepada orang tua anak.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori.

Intervensi Diagnosis Gangguan Tumbuh Kembang

  • Luaran Keperawatan: Status Perkembangan Membaik (L.10101) & Status Pertumbuhan Membaik (L.10102) dengan kriteria hasil tinggi badan membaik, keterampilan sesuai usia meningkat.
  • Intervensi Utama: Promosi Perkembangan Anak (I.10340)
    • Observasi: Identifikasi kebutuhan khusus dan kemampuan adaptasi anak.
    • Terapeutik: Fasilitasi anak berinteraksi dengan teman sebaya; Berikan mainan edukatif.
    • Edukasi: Jelaskan tanda perkembangan normal dan penyimpangan kepada orang tua.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan tim tumbuh kembang anak.

Intervensi Diagnosis Intoleransi Aktivitas

  • Luaran Keperawatan: Toleransi Aktivitas Meningkat (L.05047) dengan kriteria hasil kemudahan melakukan aktivitas sehari-hari meningkat, keluhan lelah menurun.
  • Intervensi Utama: Manajemen Energi (I.05178)
    • Observasi: Identifikasi gangguan fungsi tubuh; Monitor kelelahan fisik.
    • Terapeutik: Sediakan lingkungan nyaman; Lakukan latihan rentang gerak pasif/aktif.
    • Edukasi: Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap kepada keluarga.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan.

Intervensi Diagnosis Diare

  • Luaran Keperawatan: Eliminasi Feses Membaik (L.04033) dengan kriteria hasil konsistensi feses membaik, frekuensi buang air besar membaik.
  • Intervensi Utama: Manajemen Diare (I.03101)
    • Observasi: Identifikasi penyebab diare; Monitor warna, volume, dan frekuensi feses.
    • Terapeutik: Berikan sejumlah cairan oral; Berikan cairan intravena jika perlu.
    • Edukasi: Anjurkan melanjutkan pemberian air susu ibu dan makanan pendamping.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat antimikroba atau zink.

Intervensi Diagnosis Risiko Infeksi

  • Luaran Keperawatan: Tingkat Infeksi Menurun (L.14137) dengan kriteria hasil demam menurun, tidak ada tanda inflamasi lokal.
  • Intervensi Utama: Pencegahan Infeksi (I.14539)
    • Observasi: Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik.
    • Terapeutik: Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak; Pertahankan teknik aseptik.
    • Edukasi: Ajarkan cara mencuci tangan dengan benar kepada orang tua.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian imunisasi penunjang jika diperlukan.

Intervensi Diagnosis Defisit Pengetahuan

  • Luaran Keperawatan: Tingkat Pengetahuan Meningkat (L.12111) dengan kriteria hasil kemampuan menjelaskan pengetahuan tentang masalah gizi meningkat.
  • Intervensi Utama: Edukasi Kesehatan (I.12383)
    • Observasi: Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi gizi.
    • Terapeutik: Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan seperti lembar balik.
    • Edukasi: Jelaskan faktor risiko pertumbuhan; Ajarkan strategi gizi seimbang.

Intervensi Diagnosis Kesiapan Peningkatan Manajemen Kesehatan

  • Luaran Keperawatan: Manajemen Kesehatan Keluarga Meningkat (L.12105) dengan kriteria hasil tindakan mengurangi faktor risiko meningkat.
  • Intervensi Utama: Bimbingan Sistem Kesehatan (I.12460)
    • Observasi: Identifikasi masalah kesehatan utama yang dihadapi keluarga.
    • Terapeutik: Fasilitasi keluarga untuk mengidentifikasi sistem pendukung layanan.
    • Edukasi: Informasikan jenis pelayanan kesehatan yang dapat dimanfaatkan.

Intervensi Diagnosis Ikterik Neonatus

  • Luaran Keperawatan: Integritas Kulit dan Jaringan Membaik (L.14125) dengan kriteria hasil pigmentasi abnormal pada kulit bayi menurun.
  • Intervensi Utama: Fototerapi Neonatus (I.03091)
    • Observasi: Monitor ikterik pada sklera dan kulit bayi secara berkala.
    • Terapeutik: Siapkan lampu fototerapi; Lepaskan pakaian bayi kecuali popok.
    • Edukasi: Anjurkan ibu menyusui sesuai kebutuhan minimal setiap dua jam.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemeriksaan darah vena kadar bilirubin total.

Intervensi Diagnosis Gangguan Integritas Kulit/Jaringan

  • Luaran Keperawatan: Integritas Kulit dan Jaringan Meningkat (L.14125) dengan kriteria hasil kerusakan lapisan jaringan kulit menurun.
  • Intervensi Utama: Perawatan Integritas Kulit (I.14564)
    • Observasi: Identifikasi penyebab gangguan integritas kulit pada jaringan tubuh.
    • Terapeutik: Ubah posisi tiap dua jam; Gunakan pelembab pada kulit.
    • Edukasi: Anjurkan meningkatkan asupan nutrisi protein tinggi dan air.

Intervensi Diagnosis Risiko Gangguan Perkembangan

  • Luaran Keperawatan: Status Perkembangan Membaik (L.10101) dengan kriteria hasil kemampuan motorik dan bahasa meningkat sesuai usia.
  • Intervensi Utama: Skrining Perkembangan (I.10348)
    • Observasi: Deteksi dini perkembangan anak menggunakan instrumen baku KPSP.
    • Terapeutik: Sediakan lingkungan yang tenang dan nyaman selama skrining.
    • Edukasi: Jelaskan hasil skrining perkembangan kepada orang tua anak.

(PPNI, 2018; PPNI, 2019)

4. Implementasi Tindakan Keperawatan Nyata

Pelaksanaan Rencana Tindakan

Secara operasional, pelaksanaan rencana keperawatan dilakukan berdasarkan intervensi SIKI. Perawat mengukur tinggi badan menggunakan stadiometer secara presisi. Selanjutnya, perawat memberikan makanan tambahan kaya protein hewani kepada anak. Perawat juga memfasilitasi pemberian stimulasi tumbuh kembang edukatif. (PPNI, 2019)

Dokumentasi Tindakan Keperawatan

Di samping itu, perawat mendokumentasikan seluruh respon klinis anak. Edukasi kesehatan mengenai pola asuh dan kebersihan lingkungan diberikan secara konsisten. Pemberian suplemen vitamin A dan zink dipastikan masuk sesuai dosis. Tindakan pencegahan infeksi sekunder diterapkan melalui teknik aseptik. (PPNI, 2019)

5. Evaluasi Hasil Asuhan Keperawatan

Komponen Penilaian SOAP

Pada tahap akhir, perawat melakukan evaluasi asuhan menggunakan format SOAP. Komponen subjektif berisi laporan orang tua tentang kemajuan nafsu makan anak. Komponen objektif memuat hasil ukur tinggi badan dan plot ulang grafik. Komponen analisis menentukan tingkat keberhasilan target luaran. (PPNI, 2019)

Tindakan Tindak Lanjut

Oleh karena itu, rencana tindak lanjut disusun berdasarkan status pencapaian target. Jika kriteria hasil status nutrisi belum terpenuhi, intervensi manajemen gizi dilanjutkan. Sebaliknya, jika pertumbuhan mengalami akselerasi sesuai target, intervensi keperawatan dapat dihentikan. Rujukan ke fasilitas lanjut dipertimbangkan pada kasus stagnan. (PPNI, 2019)

Rumus Antropometri Z-Score (Dapat Disalin Langsung ke Word)

Z-Score = (Nilai Ukur Objektif Anak – Nilai Median Baku Rujukan) / Nilai Standar Deviasi Rujukan

Ketentuan Nilai Standar Deviasi Rujukan:

  1. Jika Nilai Ukur Objektif Anak lebih besar daripada Nilai Median Baku Rujukan, maka Nilai Standar Deviasi Rujukan yang digunakan adalah (Nilai +1 SD – Nilai Median).
  2. Jika Nilai Ukur Objektif Anak lebih kecil daripada Nilai Median Baku Rujukan, maka Nilai Standar Deviasi Rujukan yang digunakan adalah (Nilai Median – Nilai -1 SD).

DAFTAR PUSTAKA

Ahmed, T., et al. (2021). Childhood Stunting in South Asia. Lancet Global Health. ajtmh.org/content/journals/10.4269/ajtmh.20-1120

Angdembe, M. R., et al. (2019). Determinants of Growth Stunting in Nepal. International Journal for Equity in Health. equityhealthj.biomedcentral.com/articles/10.1186/s12939-019-0937-7

Atmarita. (2017). Analisis Situasi Gizi Menuju Sustainable Development Goals (SDGs). Jakarta: Gizi Indonesia.

Bhutta, Z. A., et al. (2020). Community-based Interventions for Improving Nutrition. Cochrane Database of Systematic Reviews. cochranelibrary.com/cdsr/doi/10.1002/14651858.CD010195.pub2/full

Black, R. E., et al. (2013). Maternal and Child Undernutrition. The Lancet. thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(13)60937-X/fulltext

Kementerian Kesehatan RI. (2020). Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak. Jakarta: Kemenkes RI.

Kementerian Kesehatan RI. (2023). Buku Saku Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022. Jakarta: BKPK Kemenkes RI.

Prendergast, A. J., & Humphrey, J. H. (2014). The Stunting Syndrome. Paediatrics and International Child Health. tandfonline.com/doi/full/10.1179/2046905514Y.0000000105

PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI). Jakarta: DPP PPNI.

PPNI. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI). Jakarta: DPP PPNI.

PPNI. (2019). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI). Jakarta: DPP PPNI.

Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI. (2018). Situasi Balita Pendek di Indonesia. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Soetjiningsih. (2018). Tumbuh Kembang Anak (Edisi 2). Jakarta: EGC.

Supariasa, I. D. N. (2019). Penilaian Status Gizi (Edisi 2). Jakarta: EGC.

Torlesse, H., et al. (2016). Determinants of Stunting in Indonesian Children. Public Health Nutrition. cambridge.org/core/journals/public-health-nutrition/article/determinants-of-stunting-in-indonesian-children-evidence-from-a-crosssectional-survey/93318D80FBAA630A77FA09C881F3D573


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *