KONSEP MEDIS GAGAL TUMBUH

Gagal tumbuh merupakan keadaan tertahannya pertumbuhan fisik anak akibat ketidakadekuatan asupan atau malabsorbsi nutrisi yang parah. (Soetjiningsih, 2018)

Daftar Isi
  1. A. KONSEP MEDIS GAGAL TUMBUH
    1. 1. Ulasan Definisi Berdasarkan Perspektif Pakar
    2. 2. Analisis Etiologi Kerusakan Fisik Anak
    3. 3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM
    4. 4. Manifestasi Klinis dan Gejala Objektif
    5. 5. Pemeriksaan Penunjang Laboratorium dan Radiologi
    6. 6. Penatalaksanaan Medis Secara Komprehensif
  2. B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
    1. 1. Pengkajian Keperawatan Secara Holistik
    2. 2. Diagnosis Keperawatan Sesuai Standar Prioritas
    3. 3. Perencanaan Keperawatan Berdasarkan SLKI dan SIKI
    4. 4. Implementasi Tindakan Keperawatan Nyata
    5. 5. Evaluasi Hasil Asuhan Keperawatan
  3. Rumus Antropometri Z-Score (Dapat Disalin Langsung ke Word)
  4. DAFTAR PUSTAKA

A. KONSEP MEDIS GAGAL TUMBUH

1. Ulasan Definisi Berdasarkan Perspektif Pakar

Definisi Dari Pakar Internasional

World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa gagal tumbuh (failure to thrive) merupakan sebuah kondisi klinis ketika pertumbuhan fisik anak berada secara signifikan di bawah rentang normal menurut usia dan jenis kelamin. (WHO, 2020)

Selanjutnya, American Academy of Pediatrics (AAP) menegaskan bahwa fenomena ini menggambarkan kegagalan anak dalam mempertahankan kecepatan pertumbuhan linier atau kenaikan berat badan yang adekuat. (AAP, 2021)

Sementara itu, Nelson et al. mendefinisikan masalah ini sebagai indikator malnutrisi kronis yang mengakibatkan berat badan anak berada pada bawah persentil ke-3 atau ke-5 pada grafik pertumbuhan standar. (Nelson et al., 2019)

Sementara itu, Krugman dan Dubowitz menjelaskan bahwa patologi tersebut melibatkan ketidakseimbangan energi yang kompleks ketika asupan kalori tidak mampu memenuhi tuntutan kebutuhan metabolik basal tubuh. (Krugman & Dubowitz, 2015)

Kemudian, Save the Children mengidentifikasi masalah tersebut sebagai manifestasi dari kemiskinan multidimensi yang membatasi akses pangan bergizi serta mengganggu pencapaian potensi fisik anak sejak usia dini. (Save the Children, 2019)

Definisi Pakar Asia

Sutan et al. merumuskan masalah kegagalan pertumbuhan pada kawasan Asia Tenggara sebagai dampak kumulatif dari rendahnya ketahanan pangan rumah tangga dan buruknya kualitas asuhan pemberian nutrisi. (Sutan et al., 2018)

Oleh karena itu, Bhutta et al. menekankan bahwa gangguan ini pada wilayah Asia Selatan bersumber dari tingginya prevalensi infeksi enterik kronis yang merusak kapasitas penyerapan mukosa usus anak. (Bhutta et al., 2020)

Lalu, Angdembe et al. mengartikan kondisi ini sebagai manifestasi klinis dari kegagalan tumbuh kembang akibat keterbatasan akses air bersih serta sanitasi lingkungan yang buruk pada area rural Asia. (Angdembe et al., 2019)

Sebaliknya, Ahmed et al. mengkategorikan gangguan ini sebagai hambatan kenaikan berat badan menahun yang berkaitan erat dengan status ekonomi rendah, tingkat pendidikan ibu yang minim, dan pengabaian psikososial. (Ahmed et al., 2021)

Seterusnya, Torlesse et al. menyimpulkan bahwa kondisi pada wilayah berkembang Asia merepresentasikan kerentanan biologis tinggi akibat interaksi antara gizi kurang menahun dan beban penyakit infeksi berulang. (Torlesse et al., 2016)

Definisi Pakar Indonesia

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menetapkan kondisi ini sebagai suatu keadaan ketika berat badan menurut umur anak berada di bawah minus dua standar deviasi (< -2 SD) yang berlangsung kronis. (Kemenkes RI, 2020)

Selain itu, Soetjiningsih menerangkan bahwa masalah ini merupakan bentuk kegagalan pertumbuhan fisik dengan penurunan berat badan melewati dua garis persentil utama pada grafik pertumbuhan. (Soetjiningsih, 2018)

Dengan demikian, Supariasa menguraikan gangguan tersebut sebagai masalah gizi institusional akibat ketidakseimbangan kronis antara konsumsi makanan dan kebutuhan biologis untuk proses metabolisme tubuh anak. (Supariasa, 2019)

Bahkan, Atmarita menjelaskan bahwa situasi ini mencerminkan dampak dari malnutrisi masa lalu dan kegagalan fungsi organ penyerapan yang berpotensi menurunkan kapasitas kognitif serta produktivitas anak pada masa depan. (Atmarita, 2017)

Akhirnya, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengartikan gangguan ini sebagai kondisi ketika kecepatan pertumbuhan anak tidak sesuai dengan potensi pertumbuhan genetik akibat faktor organik maupun non-organik. (IDAI, 2022)

2. Analisis Etiologi Kerusakan Fisik Anak

Faktor Penyebab Organik

Secara klinis, faktor penyebab organik melibatkan kelainan medis internal yang mendasari tubuh anak. Masalah gastrointestinal seperti penyakit celiac, inflammatory bowel disease (IBD), dan intoleransi protein susu sapi secara signifikan merusak vili usus sehingga memicu malabsorbsi nutrisi. Kelainan kongenital seperti penyakit jantung bawaan (cyanotic) dan penyakit paru kronis meningkatkan pengeluaran energi basal tubuh. Selain itu, penyakit metabolik endokrin seperti hipotiroidisme menghambat metabolisme seluler. (IDAI, 2022)

Faktor Penyebab Non-Organik

Seterusnya, faktor tidak langsung atau non-organik yang terdominasi oleh masalah psikososial lingkungan sekitar anak. Kesalahan teknik pembuatan susu formula atau ketidaksesuaian tekstur Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) memicu defisit asupan kalori. Masalah ekonomi keluarga yang ekstrem menyebabkan keterbatasan penyediaan bahan pangan tinggi protein. Sementara itu, penolakan emosional dari ibu (maternal deprivation) atau gangguan interaksi antara orang tua dan anak menyebabkan stres kronis yang menekan nafsu makan balita. (Nelson et al., 2019)

Faktor Campuran Maternal

Selain itu, kondisi kesehatan maternal dan beban infeksi berulang membentuk faktor campuran yang kompleks. Ibu yang menderita anemia atau kekurangan energi kronis (KEK) selama masa kehamilan melahirkan bayi berat lahir rendah (BBLR) yang rentan. Keadaan ini diperberat oleh infeksi kronis seperti Tuberkulosis (TB) anak, infeksi saluran kemih (ISK) yang tidak terdeteksi, serta diare persisten yang secara masif menguras cadangan energi dan protein dalam jaringan tubuh. (Bhutta et al., 2020)

3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM

Mekanisme Gangguan Somatotrof

Pada awalnya, penurunan drastis asupan makronutrien kronis menurunkan bioavailabilitas asam amino esensial dan glukosa darah. Kekurangan energi seluler ini langsung menekan fungsi poros somatotrof hipotalamus-hipofisis-hati. Akibatnya, tubuh mengalami resistensi terhadap hormon pertumbuhan (Growth Hormone) dan menurunkan sintesis Insulin-like Growth Factor 1 (IGF-1) oleh organ hati. Penurunan ekspresi IGF-1 menekan proliferasi seluler pada seluruh jaringan organ somatik. (Nelson et al., 2019)

Kegagalan Muskuloskeletal Seluler

Oleh karena kadar IGF-1 dan insulin intraseluler rendah, proses pembelahan kondrosit pada lempeng epifisis tulang panjang menjadi terhenti. Fenomena patologis ini secara langsung menghentikan laju pertumbuhan linier dan menyebabkan atrofi otot skeletal akibat katabolisme protein somatik. Pada tingkat pencernaan, enteropati lingkungan akibat paparan bakteri fekal memicu atrofi vili usus halus secara progresif yang memperburuk kondisi malabsorbsi nutrien. (Prendergast & Humphrey, 2014)

Keseimbangan Energi Maladaptif

Akibatnya, tubuh mengalami status hipoalbuminemia berat dan penurunan densitas massa otot rangka tubuh anak. Keadaan ini memicu pergeseran metabolisme ke arah katabolik guna mempertahankan fungsi organ vital seperti otak dan jantung. Penurunan simpanan glikogen otot dan lemak subkutan menyebabkan kelemahan fisik ekstrem. Seluruh proses deplesi nutrisi dan energi ini bermanifestasi pada timbulnya berbagai masalah keperawatan utama di klinik. (Bhutta et al., 2020)

Skema Pathway KDM

Ketidakadekuatan Intake / Kelainan Organik / Pengabaian Psikososial │ ├──► Kegagalan absorbsi makanan di usus ──► Defisit Energi Seluler ──► Defisit Nutrisi │ ├──► Penurunan sintesis IGF-1 di hati ──► Hambatan proliferasi jaringan ──► Gangguan Tumbuh Kembang │ └──► Katabolisme jaringan protein ──► Kelemahan otot somatik ──► Intoleransi Aktivitas

(Soetjiningsih, 2018)

4. Manifestasi Klinis dan Gejala Objektif

Tanda Karakteristik Fisik Utama

Secara klinis, anak dengan kegagalan pertumbuhan menunjukkan perlambatan fisik yang nyata. Berat badan anak berada di bawah persentil ke-5 pada grafik pertumbuhan WHO secara konsisten selama lebih dari tiga bulan. Selain itu, grafik pertumbuhan anak menunjukkan tren penurunan yang memotong dua garis persentil utama. Lapisan lemak subkutan pada area lengan, paha, dan abdomen tampak menipis secara ekstrem dengan atrofi massa otot skeletal. (Kemenkes RI, 2023)

Karakteristik Wajah Kulit

Selanjutnya, tanda fisik yang dapat diamati secara objektif adalah tampilan wajah anak yang menyerupai orang tua (old man face) pada kasus marasmus. Kulit anak tampak kering, bersisik, longgar, dan turgor jaringan mengalami penurunan bermakna. Pertumbuhan gigi geligi anak mengalami keterlambatan temporal yang jauh tertinggal dari usianya. Anak juga menunjukkan rambut yang rapuh, kusam, kemerahan, serta mudah dicabut akibat defisiensi protein sistemik. (Soetjiningsih, 2018)

Dampak Karakteristik Perilaku

Kemudian, respon perilaku anak mengalami perubahan psikologis akibat kelaparan seluler kronis. Anak seringkali menunjukkan sikap yang sangat apatis, lemas, cengeng, dan rewel secara konstan tanpa sebab yang jelas. Kemampuan motorik kasar seperti membalikkan badan, duduk, merangkak, dan berjalan mengalami keterlambatan bermakna. Anak juga menunjukkan penolakan aktif terhadap makanan (feeding refusal) atau kehilangan nafsu makan yang parah. (AAP, 2021)

5. Pemeriksaan Penunjang Laboratorium dan Radiologi

Prosedur Pemeriksaan Laboratorium

Pertama-tama, langkah utama evaluasi melibatkan pemeriksaan antropometri digital berkala untuk memetakan nilai Z-score berat badan menurut umur (BB/U), panjang badan menurut umur (PB/U), dan berat badan menurut panjang badan (BB/PB). Selanjutnya, mengerjakan pemeriksaan darah lengkap wajib guna mendeteksi anemia defisiensi besi. Pemeriksaan kimia darah mencakup kadar albumin serum, prealbumin, elektrolit serum, dan melakukan tes fungsi hati serta ginjal untuk menilai keparahan malnutrisi. (Kemenkes RI, 2020)

Prosedur Pemeriksaan Radiologi

Sementara itu, pemeriksaan radiologi memegang peranan penting melalui foto rontgen tangan dan pergelangan tangan nondominan. Tindakan ini bertujuan untuk menganalisis bone age (usia tulang) untuk melihat apakah terjadi keterlambatan maturasi skeletal dibanding usia kronologis anak. Pada kasus yang dicurigai mengalami gangguan mekanis atau refluks gastroesofageal, melakuka pemeriksaan barium meal atau ultrasonografi (USG) abdomen guna mendeteksi anomali struktur anatomi lambung. (Prendergast & Humphrey, 2014)

Prosedur Pemeriksaan Khusus

Akhirnya, wajib melakukan pengujian kultur urin dan analisis feses lengkap untuk mengeliminasi faktor infeksi saluran kemih tersembunyi serta infestasi cacing saluran cerna. Melakukan pemeriksaan uji tuberkulin (Mantoux test) secara rutin untuk menyingkirkan kemungkinan infeksi Mycobacterium tuberculosis kronis. Melakukan evaluasi perkembangan kognitif dan perilaku secara komprehensif menggunakan instrumen Denver Developmental Screening Test (DDST) atau Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP). (IDAI, 2022)

6. Penatalaksanaan Medis Secara Komprehensif

Tindakan Terapi Farmakologis

Secara medis, memfokuskan terapi farmakologis pada perbaikan mikronutrien dan penanganan penyakit infeksi yang mendasari. Mengaplikasikan pemberian preparat besi (zat besi) oral pada kasus dengan status anemia mikrositik hipokromik. Pemberian suplementasi zink elemental berkontribusi aktif merangsang nafsu makan dan memulihkan integritas mukosa pencernaan. Memberikan juga terapi antibiotik spektrum luas segera jika terdapat bukti infeksi bakteri sekunder seperti ISK atau pneumonia. (WHO, 2020)

Modifikasi Nutrisi Klinis

Selanjutnya, melakukan pemulihan status nutrisi melalui pemberian formula tinggi kalori secara bertahap melalui pendekatan tiga fase (stabilisasi, rehabilitasi, dan tindak lanjut). Mengaplikasikan pemberian cairan formula khusus F-75 pada fase awal untuk menstabilkan kondisi metabolik tanpa memicu refeeding syndrome. Setelah fase stabilisasi berhasil, memberikan juga formula F-100 atau pangan olahan untuk keperluan medis khusus (PKMK) tinggi kalori (1-1.5 kkal/ml) guna memicu pertumbuhan kejar (catch-up growth). (Kemenkes RI, 2020)

Tindakan Terapi Komunitas

Sementara itu, memfokuskan intervensi non-farmakologis pada pelaksanaan program terapi perilaku pemberian makan (feeding rules) yang ketat kepada orang tua. Mengatur jadwal makan anak secara konsisten (maksimal 30 menit per sesi) tanpa adanya distraksi lingkungan seperti gawai atau mainan. Memberikan Konseling psikososial kepada ibu untuk memperbaiki ikatan emosional (bonding) dengan anak. Pendampingan sanitasi lingkungan dilakukan guna memastikan ketersediaan akses air bersih di rumah tangga. (AAP, 2021)

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian Keperawatan Secara Holistik

Komponen Identitas dan Riwayat Kesehatan

Langkah awal pengkajian keperawatan meliputi pencatatan identitas anak secara detail, khususnya tanggal lahir presisi guna menghindari bias plot grafik. Selanjutnya, perawat mengeksplorasi riwayat antenatal ibu, status gizi masa kehamilan, berat lahir bayi, panjang badan lahir, serta usia gestasi. Perawat melakukan anamnesis mendalam mengenai riwayat pemberian ASI eksklusif, ketepatan waktu peluncuran MP-ASI, komposisi kalori harian, metode pembuatan susu formula, dan pola penolakan makanan oleh anak. (Supariasa, 2019)

Komponen Pemeriksaan Fisik Sistemik

Kemudian, pemeriksaan fisik dilakukan secara head-to-toe melalui empat pendekatan utama:

  • Sistem Integumen: Inspeksi: Kulit kering, longgar, keriput. Palpasi: Turgor kulit melambat, pitting edema pada dorsum pedis (jika tipe kwashiorkor).
  • Sistem Kepala dan Leher: Inspeksi: Mata cowong, konjungtiva pucat, mukosa bibir kering, penipisan bantalan lemak pipi (baggy cheeks). Palpasi: Fontanela anterior cekung, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid.
  • Sistem Pernapasan: Inspeksi: Bentuk dada simetris, ekspansi paru minimal. Palpasi: Taktil fremitus merata. Perkusi: Sonor seluruh lapang paru. Auskultasi: Vesikuler normal.
  • Sistem Kardiovaskular: Inspeksi: Iktus cordis tidak terlihat. Palpasi: Iktus cordis teraba di ICS V. Perkusi: Batas jantung normal. Auskultasi: Bunyi jantung I dan II murni reguler, pengisian kapiler (capillary refill time) melambat > 2 detik.
  • Sistem Pencernaan (Fokus): Inspeksi: Perut tampak membuncit (potbelly) atau tampak cekung ekstrim (scaphoid). Auskultasi: Bising usus hipoaktif atau hiperaktif (jika diare). Perkusi: Hipertimpani atau meteorismus. Palpasi: Perut teraba supel, hepar teraba lunak.
  • Sistem Muskuloskeletal (Fokus): Inspeksi: Ekstremitas kurus kering (skin and bone appearance), atrofi otot gluteus, pemendekan panjang tulang. Palpasi: Tonus otot menurun (hipotoni), rentang gerak terbatas.
  • Sistem Persarafan: Inspeksi: Letargi, apatis, penurunan respon motorik, tangisan lemah. Refleks fisiologis cenderung menurun. (Soetjiningsih, 2018; Supariasa, 2019)

Komponen Pola Fungsi Kesehatan

Berikutnya, pengkajian pola fungsi kesehatan difokuskan pada pola nutrisi-metabolik, eliminasi, dan aktivitas. Perawat menghitung secara kuantitatif asupan kalori harian menggunakan lembar food diary 24 jam. Pola eliminasi dikaji terkait riwayat diare kronis, konsistensi feses, dan tanda malabsorbsi lemak (feses berminyak/steatorea). Pola aktivitas dipetakan berdasarkan tingkat keparahan keterbatasan gerakan fisik anak, durasi tidur yang memanjang, dan ketidakmampuan anak berinteraksi aktif dengan teman sebaya. (Supariasa, 2019)

2. Diagnosis Keperawatan Sesuai Standar Prioritas

Prioritas Diagnosis Satu Sampai Lima

Prioritas Diagnosis Enam Sampai Sepuluh

  • Defisit Pengetahuan Orang Tua tentang Nutrisi dan Pola Asuh (D.0111) berhubungan dengan kurang terpapar informasi
  • Kesiapan Peningkatan Manajemen Kesehatan (D.0112) ditandai dengan keluarga mengekspresikan keinginan mengelola masalah
  • Ikterik Neonatus (D.0024) berhubungan dengan pola makan tidak tepat pada masa awal kehidupan
  • Gangguan Integritas Kulit/Jaringan (D.0129) berhubungan dengan perubahan status nutrisi, penurunan lemak subkutan
  • Risiko Gangguan Perkembangan (D.0107) ditandai dengan nutrisi tidak adekuat, pengabaian lingkungan

(PPNI, 2017)

3. Perencanaan Keperawatan Berdasarkan SLKI dan SIKI

Rencana Defisit Nutrisi dan Gangguan Pertumbuhan

  • Defisit Nutrisi (D.0019):
    • Luaran: Status Nutrisi Membaik (L.03030) [Kriteria: Porsi makanan yang dihabiskan meningkat, berat badan membaik, indeks massa tubuh (IMT) membaik, serum albumin meningkat].
    • Intervensi: Manajemen Nutrisi (I.03119)
      • Observasi: Identifikasi status nutrisi; Monitor asupan makanan; Monitor berat badan; Monitor hasil laboratorium.
      • Terapeutik: Sajikan makanan secara menarik, porsi kecil tapi sering; Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein (TKTP).
      • Edukasi: Ajarkan diet yang diprogramkan dan penerapan feeding rules kepada orang tua.
      • Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori, jenis nutrien, dan penggunaan PKMK.
  • Gangguan Tumbuh Kembang (D.0106):
    • Luaran: Status Perkembangan Membaik (L.10101) & Status Pertumbuhan Membaik (L.10102) [Kriteria: Keterampilan sesuai usia meningkat, tinggi badan membaik, berat badan membaik].
    • Intervensi: Promosi Perkembangan Anak (I.10340) & Promosi Pertumbuhan (I.10341)
      • Observasi: Identifikasi kebutuhan khusus anak dan kemampuan adaptasi anak terhadap stimulasi.
      • Terapeutik: Fasilitasi anak berinteraksi dengan orang tua; Berikan mainan edukatif sesuai usia; Plot berat badan pada grafik pertumbuhan.
      • Edukasi: Jelaskan tanda perkembangan normal dan penyimpangan pada orang tua; Ajarkan cara memberikan stimulasi di rumah.
      • Kolaborasi: Kolaborasi dengan tim tumbuh kembang anak di fasilitas kesehatan.

Rencana Intoleransi Aktivitas dan Kasus Diare

  • Intoleransi Aktivitas (D.0056):
    • Luaran: Toleransi Aktivitas Meningkat (L.05047) [Kriteria: Kemudahan melakukan aktivitas sehari-hari meningkat, keluhan lelah menurun].
    • Intervensi: Manajemen Energi (I.05178)
      • Observasi: Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan; Monitor kelelahan fisik.
      • Terapeutik: Sediakan lingkungan yang nyaman dan rendah stimulus; Fasilitasi kenyamanan posisi tidur anak.
      • Edukasi: Anjurkan tirah baring pada fase stabilisasi; Anjurkan keluarga membatasi aktivitas anak secara bertahap.
      • Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan padat energi.
  • Diare (D.0020):
    • Luaran: Eliminasi Feses Membaik (L.04033) [Kriteria: Konsistensi feses membaik, frekuensi buang air besar membaik].
    • Intervensi: Manajemen Diare (I.03101)
      • Observasi: Identifikasi penyebab diare; Monitor warna, volume, frekuensi, dan konsistensi feses; Monitor tanda gejala hipovolemia.
      • Terapeutik: Berikan cairan oral hidrasi; Berikan cairan intravena jika dehidrasi berat.
      • Edukasi: Anjurkan ibu melanjutkan pemberian ASI secara ad libitum dan makanan pendamping non-irritatif.
      • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat antiamuba, antimikroba, atau suplemen zink elemental.

Rencana Risiko Infeksi dan Defisit Pengetahuan

  • Risiko Infeksi (D.0142):
    • Luaran: Tingkat Infeksi Menurun (L.14137) [Kriteria: Demam menurun, kadar leukosit membaik].
    • Intervensi: Pencegahan Infeksi (I.14539)
      • Observasi: Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik.
      • Terapeutik: Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak; Pertahankan teknik aseptik; Batasi jumlah pengunjung.
      • Edukasi: Jelaskan tanda gejala infeksi pada orang tua; Ajarkan teknik mencuci tangan; Ajarkan cara pengolahan makanan higienis.
      • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian imunisasi penunjang atau terapi antibiotik jika ada indikasi.
  • Defisit Pengetahuan (D.0111):
    • Luaran: Tingkat Pengetahuan Meningkat (L.12111) [Kriteria: Perilaku sesuai anjuran meningkat, kemampuan menjelaskan pengetahuan gizi meningkat].
    • Intervensi: Edukasi Kesehatan (I.12383)
      • Observasi: Identifikasi kesiapan dan kemampuan orang tua dalam menerima informasi kesehatan.
      • Terapeutik: Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan; Jadwalkan sesuai kesepakatan; Berikan kesempatan bertanya.
      • Edukasi: Jelaskan faktor risiko yang mempengaruhi pertumbuhan; Ajarkan strategi pencegahan malnutrisi.

Rencana Kesiapan Manajemen dan Masalah Neonatus

  • Kesiapan Peningkatan Manajemen Kesehatan (D.0112):
    • Luaran: Manajemen Kesehatan Keluarga Meningkat (L.12105) [Kriteria: Tindakan mengurangi faktor risiko meningkat].
    • Intervensi: Bimbingan Sistem Kesehatan (I.12460)
      • Observasi: Identifikasi masalah kesehatan utama yang dihadapi keluarga.
      • Terapeutik: Fasilitasi keluarga mengidentifikasi sistem pendukung; Dampingi keluarga saat berinteraksi dengan layanan kesehatan.
      • Edukasi: Informasikan jenis pelayanan kesehatan yang dapat dimanfaatkan keluarga.
  • Ikterik Neonatus (D.0024):
    • Luaran: Integritas Kulit dan Jaringan Membaik (L.14125) [Kriteria: Pigmentasi abnormal menurun, kadar bilirubin membaik].
    • Intervensi: Fototerapi Neonatus (I.03091)
      • Observasi: Monitor ikterik pada sklera dan kulit bayi; Monitor suhu tubuh neonatus setiap 4 jam.
      • Terapeutik: Siapkan lampu fototerapi; Lepaskan pakaian bayi kecuali popok; Pasang penutup mata khusus.
      • Edukasi: Anjurkan ibu menyusui sesuai kebutuhan minimal setiap dua jam.
      • Kolaborasi: Kolaborasi pemeriksaan laboratorium berkala kadar bilirubin total.

Rencana Integritas Jaringan dan Risiko Perkembangan

  • Gangguan Integritas Kulit/Jaringan (D.0129):
    • Luaran: Integritas Kulit dan Jaringan Meningkat (L.14125) [Kriteria: Kerusakan jaringan menurun, tekstur membaik].
    • Intervensi: Perawatan Integritas Kulit (I.14564)
      • Observasi: Identifikasi penyebab gangguan integritas kulit.
      • Terapeutik: Ubah posisi tiap 2 jam jika tirah baring; Gunakan pelembab pada kulit; Hindari produk berbahan alkohol.
      • Edukasi: Anjurkan menggunakan pelembab kulit secara teratur; Anjurkan meningkatkan asupan cairan dan protein.
  • Risiko Gangguan Perkembangan (D.0107):
    • Luaran: Status Perkembangan Membaik (L.10101) [Kriteria: Kemampuan motorik kasar, motorik halus, kognitif, dan bahasa meningkat].
    • Intervensi: Skrining Perkembangan (I.10348)
      • Observasi: Deteksi dini pencapaian milestone perkembangan menggunakan instrumen baku.
      • Terapeutik: Sediakan lingkungan yang tenang, minim distraksi, dan nyaman selama proses pemeriksaan.
      • Edukasi: Jelaskan interpretasi hasil skrining kepada orang tua; Ajarkan latihan stimulasi taktil dan verbal.

(PPNI, 2018; PPNI, 2019)

4. Implementasi Tindakan Keperawatan Nyata

Pelaksanaan Fase Stabilisasi Rehabilitasi

Secara operasional, pelaksanaan rencana keperawatan didasarkan pada rincian tindakan SIKI. Perawat menimbang berat badan anak menggunakan timbangan digital terkalibrasi dan melakukan plot berkala pada kurva pertumbuhan CDC/WHO. Selanjutnya, perawat mengadministrasikan formula khusus nutrisi (F-75 atau F-100) secara presisi menggunakan cangkir atau pipa lambung (nasogastric tube) jika ada penolakan asupan. Perawat mengimplementasikan teknik aseptik yang ketat sebelum menyentuh anak untuk mencegah infeksi nosokomial. (PPNI, 2019)

Pelaksanaan Edukasi Stimulasi

Di samping itu, perawat menyelenggarakan sesi edukasi demonstratif mengenai panduan diet kaya protein dan penerapan jadwal makan teratur. Perawat memfasilitasi pelaksanaan stimulasi taktil, visual, dan auditori menggunakan alat permainan edukatif bersama orang tua. Pemberian terapi farmakologis penunjang berupa zink elemental, sediaan zat besi oral, dan vitamin A dilaksanakan sesuai instruksi dokter spesialis anak. Perawat secara konsisten mendokumentasikan volume asupan nutrisi masuk, haluaran eliminasi, serta tingkat toleransi aktivitas fisik anak. (PPNI, 2019)

5. Evaluasi Hasil Asuhan Keperawatan

Analisis Pencapaian Target SOAP

Pada tahap akhir, perawat melakukan evaluasi asuhan keperawatan menggunakan pendekatan format terstruktur SOAP. Komponen subjektif merangkum laporan lisan orang tua mengenai peningkatan nafsu makan anak dan hilangnya keluhan rewel. Komponen objektif memuat data kuantitatif berupa tren kenaikan berat badan harian (target 5-10 g/kgBB/hari pada fase rehabilitasi), perbaikan turgor kulit, dan peningkatan skor perkembangan KPSP anak. Komponen analisis menentukan sejauh mana kriteria hasil SLKI telah tercapai. (PPNI, 2019)

Penentuan Tindak Lanjut Asuhan

Oleh karena itu, keputusan klinis dibuat untuk menentukan kelanjutan manajemen keperawatan. Jika kriteria target peningkatan berat badan dan perbaikan parameter metabolik serum telah tercapai penuh, intervensi keperawatan dapat dihentikan dan anak dialihkan ke program pemantauan rawat jalan komunitas. Sebaliknya, apabila target pertumbuhan kejar masih belum terpenuhi atau timbul tanda komplikasi refeeding syndrome, rencana intervensi nutrisi dan stimulasi tumbuh kembang segera dimodifikasi serta diperpanjang waktunya. (PPNI, 2019)

Rumus Antropometri Z-Score (Dapat Disalin Langsung ke Word)

Z-Score = (Nilai Ukur Objektif Anak – Nilai Median Baku Rujukan) / Nilai Standar Deviasi Rujukan

Ketentuan Nilai Standar Deviasi Rujukan:

  1. Jika Nilai Ukur Objektif Anak lebih besar daripada Nilai Median Baku Rujukan, maka Nilai Standar Deviasi Rujukan yang digunakan adalah (Nilai +1 SD – Nilai Median).
  2. Jika Nilai Ukur Objektif Anak lebih kecil daripada Nilai Median Baku Rujukan, maka Nilai Standar Deviasi Rujukan yang digunakan adalah (Nilai Median – Nilai -1 SD).

DAFTAR PUSTAKA

Ahmed, T., et al. (2021). Childhood Failure to Thrive in South Asia. Lancet Global Health. ajtmh.org/content/journals/10.4269/ajtmh.20-1120

Angdembe, M. R., et al. (2019). Environmental Determinants of Growth Failure. International Journal for Equity in Health. equityhealthj.biomedcentral.com/articles/10.1186/s12939-019-0937-7

Atmarita. (2017). Analisis Situasi Gizi Menuju Sustainable Development Goals (SDGs). Jakarta: Gizi Indonesia.

Bhutta, Z. A., et al. (2020). Interventions for Improving Maternal and Child Nutrition. Cochrane Database of Systematic Reviews. cochranelibrary.com/cdsr/doi/10.1002/14651858.CD010195.pub2/full

IDAI. (2022). Asuhan Nutrisi Pediatrik dan Diagnosis Gagal Tumbuh. Jakarta: Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia.

Kementerian Kesehatan RI. (2020). Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak. Jakarta: Kemenkes RI.

Kementerian Kesehatan RI. (2023). Buku Saku Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022. Jakarta: BKPK Kemenkes RI.

Krugman, S. D., & Dubowitz, H. (2015). Failure to Thrive. American Family Physician. aafp.org/pubs/afp/issues/2015/0901/p360.html

Nelson, W. E., et al. (2019). Nelson Textbook of Pediatrics (Edisi 21). Philadelphia: Elsevier.

Prendergast, A. J., & Humphrey, J. H. (2014). The Growth Failure Syndrome. Paediatrics and International Child Health. tandfonline.com/doi/full/10.1179/2046905514Y.0000000105

PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI). Jakarta: DPP PPNI.

PPNI. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI). Jakarta: DPP PPNI.

PPNI. (2019). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI). Jakarta: DPP PPNI.

Soetjiningsih. (2018). Tumbuh Kembang Anak (Edisi 2). Jakarta: EGC.

Supariasa, I. D. N. (2019). Penilaian Status Gizi (Edisi 2). Jakarta: EGC.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *