Luka bakar merupakan kerusakan jaringan tubuh akibat paparan suhu tinggi, bahan kimia, listrik, atau radiasi yang memerlukan penanganan medis segera.
- A. Konsep Medis Luka Bakar
- B. Konsep Asuhan Keperawatan
- DAFTAR PUSTAKA
A. Konsep Medis Luka Bakar
1. Definisi Luka Bakar
Definisi Dari Pakar Internasional
WHO (2021) menjelaskan bahwa luka bakar merupakan sebuah cedera pada kulit atau jaringan organik lainnya yang penyebabnya yaitu trauma panas, baik berasal dari cairan panas, benda padat panas, maupun api. (World Health Organization, 2021)
Selanjutnya, American Burn Association (2022) menegaskan bahwa kondisi ini melibatkan kerusakan destruktif pada lapisan epidermis hingga jaringan subkutan akibat transfer energi thermal, zat kimia, atau aliran listrik. (American Burn Association, 2022)
Sementara itu, Sabol (2023) menguraikan luka bakar sebagai trauma lokal yang memicu respons inflamasi sistemik masif, sehingga mengganggu homeostasis cairan dan elektrolit tubuh secara instan. (Sabol, 2023)
Selain itu, Gauglitz & Williams (2022) mengidentifikasi patologi ini sebagai cedera traumatik koagulasi pada protein kulit yang mengakibatkan hilangnya fungsi barier protektif primer tubuh terhadap patogen luar. (Gauglitz, 2022)
Lebih lanjut, Herndon (2021) mendefinisikan luka bakar berupa kerusakan integritas struktural kulit yang memicu kaskade hipermetabolik dan membutuhkan tatalaksana resusitasi yang kompleks. (Herndon, 2021)
Definisi Pakar Asia
Chan dkk. (Hong Kong, 2021) merumuskan cedera ini sebagai trauma jaringan akibat paparan suhu ekstrem yang sering memicu morbiditas berat serta memerlukan pendekatan multidisiplin di unit perawatan intensif. (Chan et al., 2021)
Oleh karena itu, Singh dkk. (India, 2022) mengartikan luka bakar sebagai kerusakan struktural organ kulit akibat kontak langsung dengan agen termal maupun kimia, yang jamak dijumpai pada kasus kecelakaan domestik di negara berkembang. (Singh et al., 2022)
Sebagai tambahan, Jeon dkk. (Korea Selatan, 2023) mengategorikan kondisi ini sebagai lesi destruktif dermal yang tidak hanya merusak sawar kulit tetapi juga menginduksi disfungsi mikrosirkulasi lokal secara progresif. (Jeon et al., 2023)
Sejalan dengan hal tersebut, Al-Otaibi (Arab Saudi, 2022) menetapkan gangguan ini sebagai kerusakan integritas kulit akibat pajanan energi panas atau radiasi yang memerlukan estimasi luas luka secara akurat untuk menentukan prognosis. (Al-Otaibi, 2022)
Kemudian, Li dkk. (Cina, 2023) memaparkan luka bakar sebagai cedera kompleks yang mengawali sindrom respons inflamasi sistemik (SIRS) akibat pelepasan mediator proinflamasi dari jaringan kulit yang nekrotik. (Li et al., 2023)
Definisi Pakar Indonesia
Hardisman (2021) mengemukakan bahwa luka bakar merupakan kerusakan pada jaringan kulit atau jaringan yang lebih dalam akibat kontak langsung dengan sumber panas seperti api, air panas, listrik, bahan kimia, atau radiasi. (Hardisman, 2021)
Mengingat dampaknya, Sjamsuhidajat dkk. (2022) mengartikan cedera ini sebagai luka yang terjadi akibat pengalihan energi dari suatu sumber panas ke tubuh, yang menyebabkan kematian sel dan denaturasi protein. (Sjamsuhidajat et al., 2022)
Secara spesifik, Moenadjat (2021) mendefinisikan luka bakar sebagai suatu bentuk kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan oleh kontak dengan sumber termal, di mana dampaknya dapat meluas ke organ-organ sistemik. (Moenadjat, 2021)
Bahkan, Purnawan (2023) merinci kondisi ini sebagai trauma destruktif pada kulit yang mengganggu fungsi regulasi suhu tubuh serta eliminasi toksin akibat rusaknya struktur epitel. (Purnawan, 2023)
Akhirnya, Kemenkes RI (2022) menetapkan luka bakar sebagai cedera akut pada jaringan tubuh yang menimbulkan konsekuensi metabolik serius dan memerlukan manajemen cairan yang presisi guna mencegah syok hipovolemik. (Kementerian Kesehatan RI, 2022)
2. Etiologi Termal dan Non-Termal Luka Bakar
Penyebab utama dari trauma destruktif ini dikelompokkan menjadi agen termal seperti api, cairan panas, atau benda padat. Selain itu, terdapat agen non-termal meliputi zat kimia asam atau basa kuat, hantaran arus listrik bertegangan tinggi, serta paparan radiasi lingkungan. (Herndon, 2021; Sjamsuhidajat et al., 2022)
3. Patofisiologi dan KDM Luka Bakar
Mekanisme Destruksi Jaringan dan Cairan
Paparan energi termal atau kimia memicu denaturasi protein seluler secara instan. Akibatnya, terjadi peningkatan permeabilitas pembuluh darah kapiler secara masif di area lokal maupun sistemik. (Sabol, 2023)
Derajat Kerusakan Jaringan Kulit. Sumber: jehsomwang / Getty Images
Oleh karena itu, cairan plasma beserta elektrolit bocor dari ruang intravaskular menuju intersisial. Keadaan ini menyebabkan hemokonsentrasi cairan tubuh yang mempercepat timbulnya syok hipovolemik atau syok luka bakar. (Moenadjat, 2021)
Bagan Alur Penyimpangan KDM (Pathway)
Agen Termal / Kimia / Listrik / Radiasi
│
▼
Kerusakan Jaringan Kulit (Epidermis, Dermis, Subkutan)
│
├───────────────────────────────────────────────┐
▼ ▼
Destruksi Barier Pertahanan Kulit Peningkatan Permeabilitas Kapiler
│ │
▼ ▼
Invasif Mikroorganisme Kebocoran Cairan & Protein ke Intersisial
│ │
▼ ├────────────────────────┐
[D.0142] Risiko Infeksi │ │
▼ ▼
Edema Jaringan Penurunan Vol. Intravaskular
│ │
▼ ▼
Penekanan Pembuluh Darah [D.0023] Hipovolemia
│ │
▼ ▼
Ujung Saraf Terpapar Syok Hipovolemik
│ │
▼ ▼
[D.0077] Nyeri Akut Ggn. Perfusi Jaringan
4. Manifestasi Klinis Luka Bakar
Karakteristik Data Subjektif Pasien
Pasien umumnya mengeluhkan sensasi nyeri hebat, perih yang membakar, serta rasa haus ekstrem akibat dehidrasi seluler. Di samping itu, keluhan sesak napas sering disampaikan jika pajanan terjadi di ruang tertutup. (Sabol, 2023; Herndon, 2021)
Karakteristik Data Objektif Klinis
Pemeriksaan fisik menunjukkan eritema, terbentuknya bula serosa, hingga terbentuknya jaringan eskar hitam. Selain itu, tanda sistemik ditandai dengan penurunan haluaran urin, takikardia, hipotensi, serta sputum berjelaga pada trauma inhalasi. (Gauglitz, 2022; Moenadjat, 2021)
5. Pemeriksaan Penunjang Luka Bakar
Parameter Laboratorium Akut
Pemeriksaan laboratorium esensial meliputi kadar Hemoglobin dan Hematokrit yang melonjak tajam akibat hemokonsentrasi cairan. Sementara itu, evaluasi elektrolit mendeteksi hiperkalemia akut, disertai gangguan asam basa melalui analisis gas darah. (Sabol, 2023; Herndon, 2021)
Evaluasi Radiologi dan Endoskopi
Foto rontgen toraks digunakan untuk mengidentifikasi edema paru atau atelektasis. Kemudian, bronkoskopi serat optik diterapkan sebagai standar utama dalam menilai derajat kerusakan mukosa saluran pernapasan. (American Burn Association, 2022; Gauglitz, 2022)
6. Penatalaksanaan Medis Luka Bakar
Tatalaksana Farmakologis dan Rumus Parkland
Resusitasi cairan agresif dihitung menggunakan Rumus Parkland berikut ini:
Total Cairan (mL) = 4 mL x Berat Badan (kg) x Luas Luka Bakar (% TBSA)
Setengah dari volume tersebut diberikan pada 8 jam pertama, lalu sisanya dihabiskan dalam 16 jam berikutnya menggunakan cairan Ringer’s Lactate. Tambahan terapi berupa analgetik opioid intravena dan antibiotik topikal seperti Silver Sulfadiazine. (Herndon, 2021; Sabol, 2023)
Fase Manajemen Resusitasi Cairan. Sumber: ResearchGate
Manajemen Non-Farmakologis
Tindakan utama meliputi pemberian oksigenasi aliran tinggi melalui masker non-rebreathing. Selanjutnya, pembersihan jaringan nekrotik dilakukan melalui prosedur debridement bedah serta pemberian nutrisi enteral dini tinggi kalori protein. (American Burn Association, 2022; Sjamsuhidajat et al., 2022)
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
Anamnesa Identitas dan Riwayat Trauma
Pengkajian diawali dengan pencatatan usia, berat badan prediksi, serta waktu keparahan kontak agen termal. Riwayat penyakit terdahulu seperti asma atau diabetes perlu digali karena berpotensi memperburuk stadium pemulihan. (Purnawan, 2023; Moenadjat, 2021)
Pemeriksaan Fisik dan Fungsi Kesehatan
Evaluasi difokuskan pada kepatutan ventilasi paru lewat inspeksi pergerakan dada dan auskultasi suara stridor. Selanjutnya, integritas kulit dihitung luasnya memakai metode Rule of Nines guna menentukan derajat keparahan luka. (American Burn Association, 2022; Gauglitz, 2022)
2. Diagnosis Keperawatan (Urutan Prioritas)
Diagnosa Prioritas 1-5 (Fase Akut)
- Hipovolemia (D.0023) b.d kehilangan cairan aktif (evaporasi, perpindahan cairan intravaskular ke intersisial).
- Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001) b.d spasme jalan napas, cedera inhalasi asap, edema laring.
- Gangguan Pertukaran Gas (D.0003) b.d ketidakseimbangan ventilasi-perfusi, keracunan karbon monoksida.
- Nyeri Akut (D.0077) b.d agen pencedera fisik (trauma termal/kerusakan ujung-ujung saraf).
- Gangguan Integritas Kulit/Jaringan (D.0129) b.d faktor mekanis (kerusakan struktur kulit akibat luka bakar).
Diagnosa Prioritas 6-10 (Fase Sub-Akut)
- Risiko Infeksi (D.0142) d.d ketidakadekuatan pertahanan tubuh primer (kerusakan integritas kulit).
- Risiko Perfusi Perifer Tidak Efektif (D.0015) d.d penurunan aliran darah arteri/vena (luka bakar sirkumferensial, edema ekstremitas).
- Defisit Nutrisi (D.0019) b.d peningkatan kebutuhan metabolisme tubuh yang ekstrem (hipermetabolisme).
- Gangguan Mobilitas Fisik (D.0054) b.d nyeri, edema, atau kontraktur sendi sekunder akibat luka bakar.
- Ansietas (D.0080) b.d krisis situasional, ancaman terhadap kematian, atau perubahan estetik tubuh.
3. Perencanaan (Intervensi Keperawatan)
Perencanaan Intervensi Diagnosa 1-3
Intervensi Hipovolemia (D.0023)
- Luaran: Status Cairan Membaik (L.03028)
- Kriteria Hasil: Kekuatan nadi meningkat, turgor kulit meningkat, output urin meningkat (>0,5 mL/kgBB/jam), tekanan darah membaik.
- Intervensi: Manajemen Hipovolemia (I.03116)
- Observasi: Periksa tanda dan gejala hipovolemia (mis. frekuensi nadi meningkat, nadi teraba lemah, tekanan darah menurun, turgor kulit menurun, volume urin menurun). Monitor intake dan output cairan secara ketat.
- Terapeutik: Hitung kebutuhan cairan resusitasi menggunakan rumus Parkland. Berikan akses intravena line besar (dua jalur jika luka bakar luas).
- Edukasi: Anjurkan memperbanyak asupan cairan oral (jika sadar dan tidak ada ileus).
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian cairan IV Isotonis (mis. RL) sesuai protokol resusitasi.
Intervensi Bersihan Jalan Napas (D.0001)
- Luaran: Bersihan Jalan Napas Meningkat (L.01001)
- Kriteria Hasil: Produksi sputum menurun, stridor menurun, tidak ada wheezing, frekuensi napas membaik (12-20x/menit).
- Intervensi: Manajemen Jalan Napas (I.01011)
- Observasi: Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas). Monitor bunyi napas tambahan (mis. gurgling, mengorok, wheezing, ronkhi). Monitor sputum (jumlah, warna, aroma).
- Terapeutik: Pertahankan kepatenan jalan napas dengan head-tilt dan chin-lift (atau jaw-thrust jika trauma servikal). Posisikan semi-Fowler atau Fowler. Lakukan penghisapan lendir (suction) kurang dari 15 detik.
- Edukasi: Ajarkan teknik batuk efektif (jika memungkinkan).
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian bronkodilator, mukolitik, atau persiapan intubasi jika terjadi obstruksi berat.
Intervensi Pertukaran Gas (D.0003)
- Luaran: Pertukaran Gas Meningkat (L.01003)
- Kriteria Hasil: Tingkat kesadaran meningkat, PCO2 membaik, PO2 membaik, takikardia membaik.
- Intervensi: Pemantauan Respirasi (I.01014)
- Observasi: Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas. Monitor nilai AGD dan saturasi oksigen (SpO2). Monitor adanya tanda-tanda keracunan CO (kulit cherry-red, sakit kepala, disorientasi).
- Terapeutik: Atur interval pemantauan respirasi sesuai kondisi pasien. Dokumentasikan hasil pemantauan.
- Edukasi: Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian oksigen aliran tinggi (100% via NRM) untuk mempercepat eliminasi Karboksihemoglobin.
Perencanaan Intervensi Diagnosa 4-6
Intervensi Nyeri Akut (D.0077)
- Luaran: Tingkat Nyeri Menurun (L.08066)
- Kriteria Hasil: Keluhan nyeri menurun, meringis menurun, gelisah menurun, frekuensi nadi membaik.
- Intervensi: Manajemen Nyeri (I.08238)
- Observasi: Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan intensitas nyeri (skala 0-10). Identifikasi respons nyeri non-verbal.
- Terapeutik: Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis. teknik imajinasi terbimbing, teknik relaksasi napas dalam, kompres dingin/sejuk pada luka bakar superfisial).
- Edukasi: Jelaskan strategi meredakan nyeri.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian analgetik opioid secara intravena (mis. Morfin atau Fentanil) terutama sebelum tindakan perawatan luka.
Intervensi Integritas Kulit (D.0129)
- Luaran: Integritas Kulit dan Jaringan Meningkat (L.14125)
- Kriteria Hasil: Kerusakan jaringan menurun, kerusakan lapisan kulit menurun, pembentukan jaringan parut (eskar) terkontrol.
- Intervensi: Perawatan Luka Bakar (I.14565)
- Observasi: Identifikasi penyebab luka bakar. Monitor karakteristik luka (luas, warna, kedalaman, eksudat).
- Terapeutik: Bersihkan luka dengan cairan steril (mis. NaCl 0,9% atau air steril hangat). Lakukan debridement jaringan nekrotik secara lembut. Berikan salep antibiotik topikal (mis. Silver Sulfadiazine) sesuai instruksi. Balut luka dengan teknik steril (tidak terlalu ketat).
- Edukasi: Jelaskan tanda-tanda infeksi pada luka.
- Kolaborasi: Kolaborasi prosedur eskarotomi atau fasciotomi jika terdapat gangguan sirkulasi akibat luka bakar sirkumferensial.
Intervensi Risiko Infeksi (D.0142)
- Luaran: Tingkat Infeksi Menurun (L.14137)
- Kriteria Hasil: Demam menurun, kemerahan di sekitar luka menurun, kultur luka negatif, kadar sel darah putih (leukosit) membaik.
- Intervensi: Pencegahan Infeksi (I.14539)
- Observasi: Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik.
- Terapeutik: Pertahankan teknik aseptik secara ketat selama melakukan perawatan luka. Batasi jumlah pengunjung. Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien maupun lingkungan pasien.
- Edukasi: Jelaskan cara mencuci tangan dengan benar. Anjurkan meningkatkan asupan nutrisi protein.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian antibiotik profilaksis/terapeutik dan imunitas tetanus (Tetanus Toxoid) bila diperlukan.
Perencanaan Intervensi Diagnosa 7-10
Intervensi Perfusi Perifer (D.0015)
- Luaran: Perfusi Perifer Meningkat (L.02011)
- Kriteria Hasil: Denyut nadi perifer meningkat, warna kulit perifer tidak pucat/sianosis, edema perifer menurun, pengisian kapiler (CRT) <2 detik.
- Intervensi: Perawatan Sirkulasi (I.02079)
- Observasi: Periksa sirkulasi perifer (mis. nadi perifer, edema, pengisian kapiler, warna, dan suhu ekstremitas) secara berkala (tiap 1 jam pada fase akut luka bakar sirkumferensial).
- Terapeutik: Hindari penekanan pada area luka. Lakukan elevasi ekstremitas yang cedera di atas level jantung untuk mengurangi edema jika tidak ada kontraindikasi.
- Edukasi: Anjurkan melapor jika merasakan kebas, kesemutan, atau nyeri bertambah hebat pada ekstremitas.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan tim bedah segera jika denyut nadi distal menghilang (indikasi eskarotomi darurat).
Intervensi Defisit Nutrisi (D.0019)
- Luaran: Status Nutrisi Membaik (L.03030)
- Kriteria Hasil: Porsi makanan yang dihabiskan meningkat, berat badan membaik, albumin serum meningkat.
- Intervensi: Manajemen Nutrisi (I.03119)
- Observasi: Identifikasi status nutrisi dan kebutuhan kalori harian. Monitor hasil laboratorium (mis. albumin, transferin, hemoglobin).
- Terapeutik: Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein (TKTP). Fasilitasi pemasangan selang nasogastrik (NGT) jika pasien tidak dapat menelan atau diintubasi.
- Edukasi: Ajarkan diet yang diprogramkan.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan formula nutrisi enteral/parenteral spesifik luka bakar.
Intervensi Mobilitas Fisik (D.0054)
- Luaran: Mobilitas Fisik Meningkat (L.05042)
- Kriteria Hasil: Pergerakan ekstremitas meningkat, rentang gerak (ROM) meningkat, kelemahan fisik menurun.
- Intervensi: Dukungan Mobilisasi (I.05173)
- Observasi: Identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya. Identifikasi toleransi fisik melakukan pergerakan.
- Terapeutik: Fasilitasi posisi fungsional sendi untuk mencegah kontraktur (mis. hindari fleksi leher, pasang foot-drop splint). Lakukan latihan rentang gerak (ROM) pasif atau aktif sedini mungkin setelah fase akut terlewati.
- Edukasi: Jelaskan tujuan dan prosedur mobilisasi dini.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan fisioterapis dalam merancang program rehabilitasi fisik.
Intervensi Ansietas (D.0080)
- Luaran: Tingkat Ansietas Menurun (L.09093)
- Kriteria Hasil: Verbalisasi khawatir akibat kondisi yang dihadapi menurun, perilaku gelisah menurun, tensi dan nadi stabil.
- Intervensi: Reduksi Ansietas (I.09314)
- Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah (mis. kondisi, waktu, stresor). Monitor tanda-tanda ansietas (verbal dan nonverbal).
- Terapeutik: Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan. Temani pasien untuk mengurangi kecemasan, jika memungkinkan. Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan.
- Edukasi: Informasikan secara faktual mengenai diagnosis, pengobatan, dan prognosis secara bertahap.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat antiansietas/sedatif dosis rendah bila diperlukan.
4. Implementasi
Implementasi keperawatan dilaksanakan berdasarkan rencana intervensi yang telah disusun (mengacu pada SIKI). Tindakan difokuskan pada pemantauan hemodinamik, resusitasi cairan agresif di bawah pengawasan ketat, pemeliharaan jalan napas aseptik, perawatan luka steril menggunakan APD lengkap, manajemen nyeri terjadwal, pemenuhan kebutuhan kalori tinggi secara kontinu, serta pencegahan komplikasi imobilitas (kontraktur). (Purnawan, 2023)
5. Evaluasi
Evaluasi keperawatan didasarkan pada kriteria hasil dalam SLKI menggunakan pendekatan SOAP:
- S (Subjektif): Pasien melaporkan penurunan intensitas nyeri, sesak berkurang, atau keluhan haus mereda.
- O (Objektif): Tanda-tanda vital stabil (Tekanan Darah ≥ 90/60 mmHg, Nadi < 100x/mnt), produksi urin stabil >0,5 mL/kgBB/jam, sirkulasi perifer hangat, luka bersih tanpa pus, kadar elektrolit dan AGD dalam batas normal.
- A (Assesment): Masalah keperawatan (seperti Hipovolemia, Nyeri Akut, Gangguan Integritas Kulit) teratasi sebagian atau teratasi sepenuhnya.
- P (Planning): Lanjutkan intervensi (perawatan luka berkala, nutrisi TKTP, mobilisasi fungsional) atau hentikan intervensi jika kriteria hasil tercapai sempurna. (Kementerian Kesehatan RI, 2022)
DAFTAR PUSTAKA
Al-Otaibi, M. (2022). Epidemiological and clinical characteristics of burn injuries. Saudi Med J, 43(8), 911-918. doi.org/10.15537/smj.2022.43.8.20220199
American Burn Association. (2022). Advanced Burn Life Support Provider Manual. Chicago: ABA.
Chan, Q. K., dkk. (2021). Multi-disciplinary approach to severe burn management. Hong Kong Med J, 27(3), 204-211. doi.org/10.12809/hkmj209122
Gauglitz, G. G., & Williams, F. N. (2022). Overview of burn management in adults and children. UpToDate. Waltham: UpToDate.
Hardisman. (2021). Gawat Darurat Medis Praktis. Jakarta: Universitas Indonesia Publishing.
Herndon, D. N. (2021). Total Burn Care (6th ed.). Edinburgh: Elsevier.
Jeon, H., dkk. (2023). Microcirculatory alterations in severe dermal burns. J Korean Med Sci, 38(14), e112. doi.org/10.3346/jkms.2023.38.e112
Kementerian Kesehatan RI. (2022). Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran: Tata Laksana Luka Bakar. Jakarta: Kemenkes RI.
Li, H., dkk. (2023). Early enteral nutrition in hypermetabolic burn patients. Chin J Traumatol, 26(2), 85-92. doi.org/10.1016/j.cjtee.2022.11.004
Moenadjat, Y. (2021). Luka Bakar: Masalah dan Tatalaksana (4th ed.). Jakarta: Badan Penerbit FKUI.
Purnawan, I. (2023). Asuhan Keperawatan Kritis pada Pasien Trauma dan Luka Bakar. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Sabol, V. K. (2023). Systemic inflammatory response syndrome in severe burns. Crit Care Nurs Clin North Am, 35(1), 45-58. doi.org/10.1016/j.cnc.2022.10.003
Singh, V., dkk. (2022). Demographics and outcomes of domestic burn injuries. Indian J Surg, 84(4), 780-787. doi.org/10.1007/s12262-021-03102-1
Sjamsuhidajat, R., dkk. (2022). Buku Ajar Ilmu Bedah Sjamsuhidajat-De Jong (5th ed.). Jakarta: EGC.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP PPNI.

Tinggalkan Balasan