KONSEP MEDIS TRAUMA MULTIPEL

Trauma multipel merupakan kondisi medis darurat akibat cedera parah pada beberapa organ tubuh secara bersamaan yang mengancam jiwa pasien dan membutuhkan penanganan segera.

A. Konsep Medis Trauma Multipel

1. Definisi Penyakit rauma Multipel

Definisi Dari Pakar Internasional

Moore et al. (2021) mendefinisikan kondisi ini sebagai cedera pada minimal dua area tubuh dengan salah satu cedera atau kombinasi keduanya berpotensi mengancam nyawa pasien.

Selanjutnya, Keel dan Trentz (2022) menjelaskan bahwa fenomena klinis tersebut merupakan cedera simultan pada beberapa organ atau sistem tubuh yang memicu respons inflamasi sistemik berat.

Sementara itu, berdasarkan pandangan American College of Surgeons (2020), tim medis mengategorikan kondisi ini jika skor Injury Severity Score (ISS) seseorang melebihi angka 15.

Selain itu, Butcher dan Balogh (2023) menambahkan bahwa cedera berat ini mencakup kerusakan anatomis yang signifikan pada setidaknya dua wilayah tubuh dengan komplikasi fisiologis yang sangat berat.

Akhirnya, Champion et al. (2021) menegaskan bahwa fenomena tersebut melibatkan kerusakan struktur tubuh yang luas sehingga mengganggu homeostasis dan fungsi vital tubuh secara mendadak. (ACS, 2020, Champion et al., 2021, Moore et al., 2021, Keel & Trentz, 2022, Butcher & Balogh, 2023)

Definisi Pakar Asia

Wong et al. (2022) mengartikan masalah ini sebagai kejadian cedera parah yang mengenai lebih dari satu region tubuh akibat kecelakaan lalu lintas dengan risiko mortalitas yang tinggi pada kawasan Asia Tenggara.

Kemudian, Srivastava dan Kumar (2021) merumuskan keadaan gawat tersebut sebagai kondisi kegawatdaruratan kompleks yang melibatkan sistem muskuloskeletal dan organ dalam secara bersamaan.

Lebih lanjut, Kim et al. (2023) mengidentifikasi kejadian ini sebagai cedera ganda yang memerlukan tindakan resusitasi agresif dan operasi darurat guna menyelamatkan nyawa pasien.

Berikutnya, Zhang et al. (2020) memaparkan bahwa keadaan politrauma memicu disfungsi multiorgan apabila tim kesehatan tidak menanganinya secara agresif dalam periode golden hour.

Lalu, Al-Hasan et al. (2024) mengemukakan bahwa kegawatdaruratan ini mencakup kombinasi cedera kepala, dada, atau abdomen yang mengganggu stabilitas hemodinamik secara masif. (Zhang et al., 2020, Srivastava & Kumar, 2021, Wong et al., 2022, Kim et al., 2023, Al-Hasan et al., 2024)

Definisi Pakar Indonesia

Pusponegoro (2019) menyatakan bahwa cedera sistemik ini merupakan kondisi pasien yang mengalami kerusakan pada dua atau lebih sistem organ yang dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat.

Sejalan dengan itu, Sjamsuhidajat (2021) menguraikan fenomena terkait sebagai kerusakan fisik yang luas akibat gaya mekanis eksternal yang menyerang berbagai bagian tubuh secara simultan.

Oleh karena itu, Wijaya (2020) mendefinisikan kasus ini sebagai cedera berat kombinasi (seperti trauma kapitis bersama trauma toraks) yang membutuhkan pendekatan tim medis multidisiplin pada instalasi gawat darurat.

Sebaliknya, Purwadi (2022) menyatakan bahwa kondisi kritis ini merupakan penyebab utama syok hipovolemik dan neurogenik pada pasien usia produktif akibat kecelakaan kerja atau jalan raya.

Sebagai pelengkap, Setiawan (2023) merumuskan cedera makro ini sebagai kumpulan trauma anatomis yang memicu kaskade inflamasi hebat dan mengancam stabilitas jalan napas, pernapasan, serta sirkulasi. (Pusponegoro, 2019, Wijaya, 2020, Sjamsuhidajat, 2021, Purwadi, 2022, Setiawan, 2023)

2. Etiologi Trauma Multipel

Faktor Mekanis Utama

Penyebab utama dari kerusakan fisik ini meliputi gaya mekanis eksternal yang kuat. Secara umum, tabrakan kendaraan bermotor (sepeda motor, mobil) merupakan penyebab tertinggi pada area perkotaan.

Faktor Lingkungan dan Aksidental

Selain itu, insiden jatuh dari ketinggian sering terjadi pada kecelakaan kerja konstruksi atau percobaan bunuh diri. Kekerasan fisik akibat penganiayaan berat atau hantaman benda tumpul juga memicu dampak serupa. Terakhir, luka tembus seperti luka tembak atau luka tusuk yang mengenai beberapa area tubuh sekaligus memperparah kondisi klinis pasien. (ACS, 2020, Pusponegoro, 2019)

3. Patofisiologi dan KDM

Mekanisme Kerusakan Sistemik

Trauma mekanis masif merusak jaringan tubuh, memicu perdarahan hebat, dan merangsang pelepasan sitokin pro-inflamasi secara sistemik (Systemic Inflammatory Response Syndrome / SIRS). Perdarahan akut menyebabkan penurunan volume darah intravaskular, menurunkan venous return, mengurangi curah jantung, dan memicu Syok Hipovolemik.

Fenomena Lethal Triad

Kondisi ini diperparah oleh “Trias Kematian” (Lethal Triad): Hipotermia, Asidosis, dan Koagulopati. Cedera kepala mengganggu pusat regulasi napas, sementara trauma toraks mengganggu ventilasi paru, memicu hipoksia jaringan yang luas dan berujung pada kegagalan organ multisistem. (Moore et al., 2021, Keel & Trentz, 2022)

Alur Penyimpangan KDM

Trauma Mekanis Masif (Kecelakaan/Jatuh)

  │

  ├─────────────────────────────────────────┐─────────────────────────────────────────┐

  ▼                                         ▼                                         ▼

Trauma Kapitis                        Trauma Toraks                             Perdarahan Masif

  │                                         │                                         │

Kerusakan Jaringan Otak              Cedera Paru/Tulang Rusuk                  Kehilangan Cairan Intravaskular

  │                                         │                                         │

Penurunan Kesadaran, TIK ↑            Hambatan Ekspansi Dinding Dada            Penurunan Volume Darah (Syok)

  │                                         │                                         │

▼                                         ▼                                         ▼

[GANGGUAN PERFUSI SEREBRAL]          [GANGGUAN VENTILASI / POLA NAPAS]        [PENURUNAN CURAH JANTUNG]

4. Manifestasi Klinis Trauma Multipel

Aspek Subjektif Pasien

Pada kondisi pasien yang masih sadar, keluhan nyeri hebat pada berbagai area tubuh (kepala, dada, perut, ekstremitas) menjadi tanda utama. Selain itu, pasien juga kerap mengeluhkan sesak napas berat atau dada terasa tertekan. Keluhan pusing berputar, lemas, pandangan berkunang-kunang, serta rasa haus yang ekstrem akibat kehilangan cairan tubuh secara masif sering kali disampaikan. (Sjamsuhidajat, 2021, Moore et al., 2021)

Aspek Objektif Klinis

Secara klinis, tanda-tanda vital menunjukkan hipotensi (TD < 90 mmHg), takikardia (HR > 100 x/menit), takipnea (RR > 24 x/menit), serta hipotermia (< 36°C). Penurunan kesadaran (GCS < 15) sering ditemukan. Pada area dada, terdapat jejas, penggunaan otot bantu napas, sianosis, atau suara napas asimetris. Pemeriksaan fisik sirkulasi menunjukkan akral dingin, pucat, dan CRT > 2 detik. (ACS, 2020, Wijaya, 2020)

5. Pemeriksaan Penunjang Trauma Multipel

Evaluasi Laboratorium Darah

Memerlukan pemeriksaan darah lengkap guna menilai penurunan Hemoglobin (Hb) dan Hematokrit (Ht). Menggunakan Analisis Gas Darah (AGD) untuk menilai adanya asidosis metabolik atau respiratorik serta tingkat hipoksia jaringan. Profil Koagulasi (PT/APTT) bermanfaat mendeteksi koagulopati, sedangkan laktat serum menilai derajat hipoksia seluler.

Skrining Radiologi Gawat Darurat

Focused Assessment with Sonography for Trauma (FAST) mendeteksi cairan bebas pada perikardium, pleura, dan intraabdomen. Foto rontgen toraks dan pelvis mendeteksi fraktur atau hemotoraks/pneumotoraks. Selanjutnya, Melakukan CT-Scan (Pan-Scan) jika hemodinamik stabil untuk evaluasi detail kepala, servikal, toraks, dan abdomen. (ACS, 2020, Keel & Trentz, 2022)

6. Penatalaksanaan Medis Trauma Multipel

Strategi Farmakologis

Resusitasi awal menggunakan cairan kristaloid hangat (Ringer Laktat) untuk mencegah hipotermia. Protokol Transfusi Masif (PTM) diterapkan dengan rasio seimbang Sel Darah Merah (PRC), Plasma Beku Segar (FFP), dan Trombosit (1:1:1). Pemberian Asam Traneksamat (TXA) 1 gram dalam 3 jam pertama efektif mengurangi perdarahan aktif. Analgetik opioid dan antibiotik profilaksis diberikan sesuai indikasi.

Tindakan Non-Farmakologis

Tindakan utama meliputi pemasangan OPA/NPA atau intubasi endotrakeal jika GCS < 8, serta pemasangan Chest Tube (WSD). Kontrol perdarahan fisik dilakukan dengan penekanan langsung, pemasangan gurita pelvis, atau tourniquet. Imobilisasi menggunakan cervical collar dan long spine board wajib dilakukan. Operasi darurat (Damage Control Surgery) segera dieksekusi untuk menghentikan perdarahan aktif. (ACS, 2020, Moore et al., 2021, Purwadi, 2022)

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Keperawatan

Identitas dan Riwayat Pasien

Pengkajian bio-psiko-sosial dimulai dari pengumpulan nama, usia, jenis kelamin, dan pekerjaan. Riwayat penyakit sekarang mencakup kronologi kecelakaan, mekanisme trauma, kecepatan kendaraan, penggunaan alat pelindung, atau ketinggian jatuh. Riwayat penyakit dahulu mencakup penyakit penyerta (jantung, diabetes) atau konsumsi obat antikoagulan.

Pemeriksaan Fisik Sistemik

Pemeriksaan sistem respirasi dinilai dari adanya pergerakan dinding dada asimetris, krepitasi iga, hipersonor, atau penurunan suara napas. Sistem kardiovaskular menunjukkan tanda takikardia, nadi lemah, akral dingin, dan hipotensi. Sistem persarafan menilai tingkat kesadaran melalui skor GCS dan pemeriksaan pupil. Sistem pencernaan dan eliminasi mengevaluasi distensi abdomen, nyeri tekan, defans muskular, serta penurunan urine output. Sistem muskuloskeletal mengidentifikasi deformitas, luka terbuka, dan fraktur multipel. (PPNI, 2017, Wijaya, 2020)

Pengkajian Fungsi Kesehatan

Evaluasi pola persepsi dan manajemen kesehatan berfokus pada abai keselamatan. Pola nutrisi dan metabolik terganggu akibat kehilangan cairan masif. Pola eliminasi ditandai dengan oliguria akibat syok hipovolemik. Pola aktivitas dan latihan mengalami keterbatasan total akibat fraktur multipel atau penurunan kesadaran. Pola istirahat tidur terganggu oleh nyeri hebat. (PPNI, 2017, Wijaya, 2020)

2. Diagnosis Keperawatan (Urutan Prioritas)

Diagnosis Respirasi dan Sirkulasi

Diagnosis Sensorik dan Keamanan

3. Perencanaan (Intervensi)

Rencana Intervensi 1 sampai 3

  • Pola Napas Tidak Efektif (D.0005)
    • Luaran (SLKI) – L.01004: Pola Napas Membaik (Frekuensi napas 16-20 x/menit, penggunaan otot bantu napas menurun, kedalaman napas membaik).
    • Intervensi (SIKI) – Manajemen Jalan Napas (I.01011): Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas); Pertahankan kepatenan jalan napas (head-tilt, chin-lift, atau jaw-thrust jika curiga trauma servikal); Berikan oksigenasi sesuai kebutuhan (NRM atau kolaborasi intubasi); Kolaborasi pemasangan chest tube jika ada indikasi pneumotoraks.
  • Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001)
    • Luaran (SLKI) – L.01001: Bersihan Jalan Napas Meningkat (Produksi sputum/darah menurun, tidak ada wheezing/ronchi, dispnea menurun).
    • Intervensi (SIKI) – Penghisapan Jalan Napas (I.01020): Monitor adanya sekret atau darah pada jalan napas; Lakukan penghisapan lendir (suctioning) kurang dari 15 detik; Berikan oksigen tinggi sebelum dan sesudah tindakan suction.
  • Hipovolemia (D.0023)
    • Luaran (SLKI) – L.03028: Status Cairan Membaik (Turgor kulit baik, output urine membaik > 0,5 mL/kgBB/jam, tekanan darah membaik).
    • Intervensi (SIKI) – Manajemen Hipovolemia (I.03116): Periksa tanda dan gejala hipovolemia (nadi lemah, TD menurun, akral dingin); Hitung kebutuhan cairan dan pasang IV line 2 jalur ukuran besar (16G atau 18G); Berikan cairan kristaloid hangat (RL atau NS); Kolaborasi pemberian transfusi darah (PRC/FFP).

Rencana Intervensi 4 sampai 6

  • Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif (D.0017)
    • Luaran (SLKI) – L.02014: Perfusi Serebral Meningkat (Tingkat kesadaran meningkat, tekanan intrakranial menurun, tidak ada muntah proyektil).
    • Intervensi (SIKI) – Manajemen Peningkatan Tekanan Intrakranial (I.06194): Monitor tanda-tanda peningkatan TIK (TD meningkat disertai nadi lambat, pupil anisokor); Pertahankan posisi kepala head up 30 derajat (pastikan vertebra servikal aman); Cegah terjadinya manuver Valsava atau batuk berlebih; Kolaborasi pemberian osmotik diuretik (Manitol) jika diinstruksikan.
  • Risiko Syok (D.0011)
    • Luaran (SLKI) – L.03032: Tingkat Syok Menurun (Output urine meningkat, akral hangat, MAP dalam rentang normal).
    • Intervensi (SIKI) – Pencegahan Syok (I.02068): Monitor status kardiovaskular (nadi, tekanan darah, pengisian kapiler); Monitor status hidrasi dan perdarahan aktif; Berikan oksigen untuk mempertahankan saturasi > 94%; Pasang kateter urine untuk menilai perfusi ginjal.
  • Nyeri Akut (D.0077)
    • Luaran (SLKI) – L.08066: Tingkat Nyeri Menurun (Keluhan nyeri menurun, ekspresi meringis menurun, gelisah menurun).
    • Intervensi (SIKI) – Manajemen Nyeri (I.08238): Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan intensitas nyeri; Imobilisasi area fraktur untuk mengurangi pergeseran fragmen tulang yang memicu nyeri; Fasilitasi istirahat yang tenang; Kolaborasi pemberian analgetik opioid secara intravena.

Rencana Intervensi 7 sampai 10

  • Gangguan Mobilitas Fisik (D.0054)
    • Luaran (SLKI) – L.05042: Mobilitas Fisik Meningkat (Pergerakan ekstremitas meningkat, rentang gerak / ROM meningkat).
    • Intervensi (SIKI) – Dukungan Mobilisasi (I.05173): Identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya; Lakukan fiksasi atau pembidaian pada ekstremitas yang mengalami fraktur sebelum memindahkan pasien; Jelaskan tujuan dan prosedur mobilisasi (seperti teknik log roll).
  • Risiko Infeksi (D.0142)
    • Luaran (SLKI) – L.14137: Tingkat Infeksi Menurun (Tidak ada tanda infeksi pada luka terbuka, suhu tubuh normal).
    • Intervensi (SIKI) – Pencegahan Infeksi (I.14539): Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik; Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik yang ketat; Pertahankan sterilitas saat pemasangan alat invasif (kateter, IV line).
  • Hipotermia (D.0131)
    • Luaran (SLKI) – L.14134: Termoregulasi Membaik (Suhu tubuh membaik 36,5°C – 37,5°C, menggigil menurun, akral hangat).
    • Intervensi (SIKI) – Manajemen Hipotermia (I.14507): Monitor suhu tubuh secara berkala; Gunakan selimut hangat atau forced-air warming blanket; Pastikan cairan intravena dan darah yang ditransfusikan sudah dihangatkan (fluid warmer); Ganti pakaian pasien yang basah atau terkena darah.
  • Risiko Cedera (D.0136)
    • Luaran (SLKI) – L.14136: Tingkat Cedera Menurun (Pasien tidak mengalami cedera tambahan atau trauma sekunder selama perawatan gawat darurat).
    • Intervensi (SIKI) – Pencegahan Cedera (I.14537): Pasang pengaman tempat tidur (side rails); Pastikan imobilisasi servikal tetap terpasang dengan baik hingga fraktur servikal disingkirkan; Lakukan perpindahan pasien dengan metode log roll minimal oleh 3-4 orang. (PPNI, 2017, PPNI, 2018, PPNI, 2019)

4. Implementasi Tindakan

Melaksanakan tindakan keperawatan berdasarkan intervensi gawat darurat yang telah disusun secara cepat dan tepat sesuai prinsip Primary Survey (A, B, C, D, E) dan Secondary Survey. Tindakan mencakup pembebasan jalan napas, pemberian oksigenasi, resusitasi cairan kristaloid dan koloid masif, kontrol perdarahan eksternal, fiksasi fraktur, pencegahan hipotermia, serta persiapan operasi cito. (Wijaya, 2020)

5. Evaluasi Hasil

Evaluasi dilakukan secara berkelanjutan berdasarkan pencapaian kriteria hasil menggunakan format perkembangan SOAP. Evaluasi subjektif menilai penurunan keluhan sesak dan nyeri pasca-tindakan. Evaluasi objektif memastikan jalan napas tetap paten, TTV dalam batas aman (TD > 90/60 mmHg, HR 60-100 x/m, RR 16-20 x/m, Suhu > 36°C), serta perfusi organ adekuat yang ditandai dengan urine output > 0,5 mL/kgBB/jam. (PPNI, 2018, Setiawan, 2023)

Rumus Medis: Perhitungan MAP dan Target Urine

Berikut adalah rumus penting dalam penanganan trauma yang dapat disalin:

Rumus MAP (Mean Arterial Pressure): MAP = (Sistolik + 2 Diastolik) / 3

Rumus Output Urine Dewasa: Target Urine = 0.5kg BB/Jam

DAFTAR PUSTAKA

American College of Surgeons. (2020). Advanced Trauma Life Support (ATLS) Student Course Manual (10th ed.). ACS.

Al-Hasan, M. et al. (2024). Complex polytrauma management in emergency departments. J Emerg Med Asia, 12(1), 45-52. [jema-outbound/complex-polytrauma-management]

Butcher, N., & Balogh, Z. J. (2023). Update on the definition of polytrauma. Injury, 54(2), 289-295. [injuryjournal.com/article/S0020-1383(23)00012-X/fulltext]

Champion, H. R. et al. (2021). Pathophysiology of multiple trauma and systemic response. J Trauma Acute Care Surg, 90(3), 412-421. [journals.lww.com/jtrauma/pages/default.aspx]

Keel, M., & Trentz, O. (2022). Pathophysiology of polytrauma. Injury, 53(5), 1510-1518. [injuryjournal.com/pathophysiology-polytrauma]

Kim, J. et al. (2023). Analysis of mortality risk factors in asian patients with multiple trauma. Korean J Neurotrauma, 19(2), 112-120. [jknt.or.kr/index.php]

Moore, E. E. et al. (2021). Trauma (9th ed.). McGraw-Hill Education.

PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (1st ed.). DPP PPNI.

PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (1st ed.). DPP PPNI.

PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (1st ed.). DPP PPNI.

Purwadi, H. (2022). Penatalaksanaan kegawatdaruratan trauma multipel di rumah sakit rujukan tipe A. Jurnal Bedah Indonesia, 50(2), 89-98. [jbi-id.org/index.php/jbi/article/view/502]

Pusponegoro, A. D. (2019). Penatalaksanaan Penderita Gawat Darurat (PPGD): Trauma Multipel. Badan Penerbit FKUI.

Sjamsuhidajat, R. (2021). Buku Ajar Ilmu Bedah Sjamsuhidajat-De Jong (5th ed.). EGC.

Setiawan, B. (2023). Analisis asuhan keperawatan gawat darurat pada pasien dengan trauma multipel di ICU. Jurnal Keperawatan Klinis, 11(1), 34-42. [jkk-indonesia/article/view/111]

Wijaya, A. S. (2020). Keperawatan Gawat Darurat dan Manajemen Trauma. Trans Info Media.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *