Konsep Medis Pada Gastritis

Gastritis merupakan peradangan pada mukosa lambung yang bersifat akut atau kronis, memicu nyeri epigastrium, mual, serta berisiko menyebabkan perdarahan saluran cerna.

A. Konsep Medis Gastritis

1. Definisi Gastritis

Definisi dari Pakar Internasional

Secara global, The American Gastroenterological Association (2022) menjelaskan bahwa gangguan ini menggambarkan suatu kondisi histologis berupa inflamasi pada mukosa lambung yang timbul akibat infiltrasi sel-sel radang, baik akut maupun kronis, setelah mukosa mengalami cedera epitel. (American Gastroenterological Association, 2022)

Selanjutnya, The World Gastroenterology Organisation(2021) mengartikan kelainan tersebut sebagai cedera mikroskopis pada dinding lambung yang bermanifestasi secara klinis melalui sindrom dispepsia, yang mana infeksi bakteri Helicobacter pylori menjadi agen kausatif utama pada sebagian besar populasi dunia. (World Gastroenterology Organisation, 2021)

Sementara itu, Mayo Clinic Staff (2023) mendefinisikan patologi ini sebagai sekelompok kondisi klinis dengan satu karakteristik utama, yaitu proses peradangan pada lapisan pelindung dinding dalam perut yang kerap terjadi akibat faktor infeksi mikroorganisme serupa pemicu ulkus peptikum. (Mayo Clinic, 2023)

Selain itu, Cleveland Clinic Medical Reference(2024) menyebutkan penyakit ini sebagai bentuk iritasi, erosi, atau pembengkakan lokal pada jaringan pelapis internal organ pencernaan atas yang dapat berkembang secara mendadak atau berlangsung menahun dalam jangka panjang. (Cleveland Clinic, 2024)

Terakhir, Robbins dan Cotran (2021) dalam literatur patologinya menegaskan kondisi tersebut sebagai reaksi inflamasi mukosa lambung yang spektrumnya berkisar dari infiltrasi sel neutrofil ringan hingga kerusakan struktural superfisial yang parah serta perdarahan erosif akut. (Robbins & Cotran, 2021)

Definisi dari Pakar Asia

Berdasarkan perspektif regional, The Asian Pacific Association of Gastroenterology(2020) mengonseptualisasikan kelainan ini sebagai penyakit mukosa pencernaan atas yang sangat dipengaruhi oleh variasi diet lokal, paparan zat iritan masif, serta tingginya angka prevalensi infeksi bakteri endemis pada wilayah Asia. (Asian Pacific Association of Gastroenterology, 2020)

Kemudian, The Japanese Gastric Cancer Association (2021) memaparkan kondisi tersebut khususnya tipe atrofik kronis sebagai perubahan arsitektur mukosa lambung yang memicu hilangnya kelenjar sekresi gastrik secara progresif dan meningkatkan risiko transformasi ke arah keganasan seluler. (Japanese Gastric Cancer Association, 2021)

Sejalan dengan hal tersebut, Al-Malki et al. (2022) melalui penelitiannya pada kawasan Timur Tengah mengidentifikasi gangguan ini sebagai kerusakan barier protektif pencernaan atas, yang mana tingkat stres psikologis populasi dan tingginya konsumsi obat antiinflamasi nonsteroid mempercepat keparahan sindrom tersebut. (Al-Malki et al., 2022)

Oleh karena itu, Park dan Kim (2023) selaku pakar pencernaan dari Korea Selatan merumuskan kelainan ini sebagai proses inflamasi mukosa yang terkonfirmasi secara objektif melalui visualisasi endoskopi, sehingga menimbulkan keluhan subjektif berupa rasa penuh pada ulu hati pascamakan. (Park & Kim, 2023)

Akhirnya, Chinese Society of Gastroenterology (2022) menetapkan penyakit ini sebagai kelainan makroskopis dan mikroskopis terintegrasi pada organ lambung yang membutuhkan kombinasi evaluasi klinis serta analisis histopatologi guna menentukan derajat keparahan inflamasi jaringan. (Chinese Society of Gastroenterology, 2022)

Definisi dari Pakar Indonesia

Di Indonesia, Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PGI) bersama Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) (2021) menyatakan patologi tersebut sebagai proses inflamasi mukosa lambung yang mutlak memerlukan pemeriksaan endoskopi guna membedakan kategori erosif dan non-erosif pada pasien dispepsia. (PGI & PPHI, 2021)

Lebih lanjut, Muttaqin dan Sari (2020) mendeskripsikan kelainan tersebut sebagai gangguan inflamasi pada lapisan mukosa serta submukosa organ pencernaan atas yang berkembang akibat ketidakseimbangan akut antara faktor agresif cairan asam lambung dan faktor defensif barier mukus. (Muttaqin & Sari, 2020)

Selain itu, Tarigan (2022) merumuskan fenomena ini sebagai masalah kesehatan pencernaan yang sangat umum ditemukan di masyarakat domestik, ditandai oleh peradangan lokal akibat ketidakteraturan jadwal pemenuhan nutrisi dan konsumsi zat iritan secara kontinu. (Tarigan, 2022)

Secara fisiologis, Suyono et al. (2023) dalam konsensus klinis mengartikan penyakit ini sebagai manifestasi kerusakan integritas lapisan lambung yang memicu pelepasan zat mediator kimia inflamasi, sehingga merangsang serabut saraf reseptor nyeri pada area epigastrium tubuh. (Suyono et al., 2023)

Sebagai kesimpulan, Wijaya dan Putri (2021) merangkum patologi tersebut sebagai gangguan fungsional organ pencernaan atas yang memicu penurunan drastis kemauan makan serta sensasi mual akibat peningkatan tekanan intraabdomen serta gangguan fungsi sekresi asam lambung. (Wijaya & Putri, 2021)

2. Etiologi Gastritis

Secara umum, faktor penyebab gangguan pencernaan ini dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori utama, yaitu faktor luar tubuh (eksogen) dan faktor dari dalam tubuh (endogen).

Faktor eksogen yang mendominasi meliputi infeksi agen mikroorganisme Helicobacter pylori, penggunaan sediaan obat antiinflamasi nonsteroid secara bebas tanpa pengawasan, konsumsi minuman beralkohol secara rutin, kebiasaan merokok zat nikotin aktif, hingga paparan zat kimia korosif.

Selain itu, faktor endogen mencakup kondisi hipersekresi cairan asam lambung akibat peningkatan aktivitas saraf vagal saat stres, aliran balik cairan empedu dan sekresi pankreas menuju lambung, serta adanya mekanisme proses autoimun yang merusak fungsi sel parietal. (Syam et al., 2021)

3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM Gastritis

Mekanisme Patofisiologi

Secara fisiologis, mempertahankan lapisan dalam organ lambung senantiasa melalui keseimbangan dinamis antara unsur agresif berupa cairan asam klorida serta enzim pepsin dengan unsur defensif yang terdiri atas lapisan mukus bikarbonat, kelancaran sirkulasi aliran darah kapiler mukosa, serta kemampuan pembaharuan sel epitel lambung.

Akibatnya, ketika faktor pemicu eksogen seperti penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid menghambat aktivitas jalur enzim siklooksigenase, produksi prostaglandin yang berfungsi merangsang pembentukan barier mukus protektif akan mengalami penurunan drastis.

Oleh karena itu, ketiadaan sistem perlindungan yang adekuat menyebabkan molekul asam klorida berdifusi kembali ke dalam jaringan terdalam mukosa, merusak struktur sel epitel lambung, memicu degranulasi sel mast untuk melepaskan zat histamin, serta menstimulasi respons peradangan vaskular lokal. (Robbins & Cotran, 2021)

Alur Penyimpangan KDM (Pathway)

Faktor Eksogen (OAINS, Alkohol) & Endogen (Stres)

                         │

                         ▼

        Kegagalan Barrier Mukus Lambung

                         │

                         ▼

      Difusi Balik Asam Lambung (HCl) ke Jaringan

                         │

        ┌────────────────┴────────────────┐

        ▼                                 ▼

   Iritasi Sel Epitel                Pelepasan Histamin

        │                                 │

        ▼                                 ▼

Stimulasi Reseptor Nyeri          Peningkatan HCl & 

 (Nervus Vagus ke Otak)          Permeabilitas Kapiler

        │                                 │

        ▼                                 ┌┴────────────────┐

 [Nyeri Akut]                             ▼                 ▼

                                    Erosi Mukosa         Vasodilatasi

                                          │                 │

                  ┌───────────────────────┴─┐               ▼

                  ▼                         ▼             Edema Mukosa

            Perdarahan Lambung       Mual & Muntah          │

                  │                         │               ▼

                  ▼                         ▼         Rasa Penuh pada Perut

          Hematemesis/Melena      [Defisit Nutrisi]         │

                  │                                         ▼

                  ▼                                    [Nausea]

          [Risiko Hipovolemia]

(Muttaqin & Sari, 2020)

4. Manifestasi Klinis Gastritis

a. Data Subjektif

Berdasarkan anamnesis penuturan pasien, data subjektif yang paling sering dikeluhkan adalah sensasi nyeri tajam atau rasa terbakar pada ulu hati.

Selain itu, individu kerap mengeluhkan perasaan mual yang konstan, dorongan untuk muntah setelah mengonsumsi makanan, sensasi perut kembung atau cepat penuh, serta penurunan nafsu makan akibat ketakutan terhadap onset nyeri pascamakan. (PGI & PPHI, 2021)

b. Data Objektif

Melalui pemeriksaan fisik klinis, perawat dapat mengidentifikasi data objektif berupa adanya respons nyeri tekan yang nyata pada regio epigastrium abdomen saat dipalpasi.

Di samping itu, tampak muntahan berisi cairan asam lambung berwarna jernih, kehijauan, atau kecokelatan, serta penemuan feses berwarna hitam legam apabila telah terjadi kondisi komplikasi berupa perdarahan hebat pada saluran pencernaan bagian atas. (Syam et al., 2021)

5. Pemeriksaan Penunjang Gastritis

Pemeriksaan Laboratorium, Radiologi, dan Endoskopi

Guna menegakkan diagnosis secara akurat, klinisi dapat melakukan serangkaian pemeriksaan penunjang yang meliputi pemeriksaan laboratorium, radiologi, serta tindakan penunjang invasif lainnya.

Pemeriksaan spesimen darah lengkap diaplikasikan untuk menilai status kadar hemoglobin dan hematokrit guna mendeteksi komplikasi anemia sekunder, sementara tes penunjang Urea Breath Test atau pemeriksaan antigen feses digunakan untuk mengidentifikasi keberadaan paparan infeksi bakteri pencernaan.

Selanjutnya, pemeriksaan radiologi berupa foto polos abdomen dengan kontras sediaan barium dapat memperlihatkan abnormalitas struktural makro lambung, meskipun tindakan diagnostik esofagogastroduodenoskopi yang disertai pengambilan jaringan biopsi histopatologi tetap menjadi standar utama dalam menilai derajat peradangan mukosa lambung. (American Gastroenterological Association, 2022; Cleveland Clinic, 2024)

6. Penatalaksanaan Medis Gastritis

Terapi Farmakologis dan Non-Farmakologis

Tujuan utama penatalaksanaan medis pada kondisi ini adalah mengeliminasi agen pemicu iritasi mukosa lambung, menurunkan tingkat keasaman lambung, serta mempercepat proses pemulihan struktur barier mukosa.

Secara farmakologis, kombinasi sediaan antasida, obat penghambat reseptor H2, sediaan Proton Pump Inhibitors, zat sitoprotektif mukosa, serta regimen terapi eradikasi antibiotik triple dapat diberikan sesuai dengan indikasi faktor etiologi pasien.

Sementara itu, pendekatan non-farmakologis diimplementasikan melalui modifikasi pola diet berupa pemberian porsi makanan kecil namun frekuensinya sering, penghindaran konsumsi zat iritan lambung, serta aplikasi teknik manajemen stres emosional secara konsisten. (Syam et al., 2021; Tarigan, 2022)

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Keperawatan

a. Identitas Pasien dan Riwayat Kesehatan

Proses pengkajian keperawatan diawali dengan pengumpulan data identitas pasien, riwayat keluhan utama nyeri ulu hati, serta eksplorasi riwayat penyakit terdahulu secara sistematis. Perawat harus mengkaji karakteristik nyeri secara mendalam menggunakan instrumen PQRST, termasuk mengidentifikasi adanya kebiasaan mengonsumsi jamu tradisional, riwayat ketergantungan obat antiinflamasi nonsteroid, kebiasaan merokok, hingga pola keteraturan konsumsi nutrisi harian pasien. (Muttaqin & Sari, 2020)

b. Pemeriksaan Fisik Sistem Pencernaan dan Kardiovaskular

Pemeriksaan fisik difokuskan secara mendalam pada sistem tubuh yang berkaitan langsung dengan patologi organ lambung tanpa mengabaikan kondisi integritas sistem tubuh lainnya.

Pada sistem pencernaan, langkah inspeksi dapat menunjukkan tanda perut kembung, tindakan auskultasi mengidentifikasi frekuensi bising usus, proses perkusi mendeteksi bunyi hipertimpani, dan tindakan palpasi menunjukkan adanya titik nyeri tekan pada epigastrium.

Sementara itu, evaluasi sistem kardiovaskular dilakukan melalui inspeksi konjungtiva dan palpasi frekuensi nadi untuk mendeteksi tanda dehidrasi atau kehilangan volume darah akibat perdarahan erosif lambung. (Muttaqin & Sari, 2020)

c. Pemeriksaan Fisik Sistem Respirasi dan Pengkajian Pola Gordon

Selanjutnya, pada sistem pernapasan, perawat menginspeksi frekuensi napas pasien untuk mengidentifikasi adanya kompensasi takipnea akibat respons nyeri hebat, serta mengauskultasi kebersihan suara paru di seluruh lapang dada.

Langkah pengkajian kemudian dilengkapi dengan analisis pola fungsi kesehatan menurut model fungsional Gordon, yang berfokus pada penilaian perubahan status nutrisi metabolik, pola eliminasi alvi, tingkat kemandirian aktivitas, hingga gangguan pada pemenuhan kebutuhan istirahat tidur malam hari pasien. (Wijaya & Putri, 2021)

2. Diagnosis Keperawatan (Urutan Prioritas)

Kelompok Diagnosis Prioritas Utama (1-5)

Kelompok Diagnosis Prioritas Tambahan (6-10)

3. Perencanaan (Intervensi)

Intervensi Nyeri Akut dan Nausea (Diagnosis 1-2)

Diagnosis 1: Nyeri Akut (D.0077)

  • Luaran Utama (SLKI – L.08066): Setelah tindakan keperawatan 3×24 jam, Tingkat Nyeri Menurun dengan kriteria hasil: keluhan nyeri menurun (skala <3), meringis menurun, gelisah menurun, frekuensi nadi membaik (60-100 x/mnt).
  • Intervensi Utama (SIKI – I.08238 Manajemen Nyeri):
    • Observasi: Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan intensitas nyeri; Identifikasi skala nyeri pasien secara berkala.
    • Terapeutik: Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (misal kompres hangat pada area epigastrium, panduan teknik relaksasi napas dalam); Fasilitasi istirahat dan tidur yang adekuat.
    • Edukasi: Jelaskan penyebab, periode, dan strategi pemicu nyeri; Ajarkan teknik nonfarmakologis secara mandiri saat nyeri timbul.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian analgetik atau agen antisekresi lambung golongan PPI, jika diindikasikan.

Diagnosis 2: Nausea (D.0076)

  • Luaran Utama (SLKI – L.05041): Setelah tindakan keperawatan 3×24 jam, Tingkat Nausea Menurun dengan kriteria hasil: keluhan mual menurun, perasaan ingin muntah menurun, frekuensi muntah menurun, nafsu makan membaik.
  • Intervensi Utama (SIKI – I.03117 Manajemen Mual):
    • Observasi: Identifikasi dampak mual terhadap kualitas hidup pasien; Monitor asupan nutrisi cairan dan jumlah kalori harian.
    • Terapeutik: Kendalikan faktor lingkungan penyebab mual (misal bau tidak sedap, polusi udara, kebisingan); Berikan makanan dalam jumlah kecil namun frekuensinya sering.
    • Edukasi: Anjurkan istirahat dan tidur yang cukup sebelum makan; Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengelola sensasi mual (misal relaksasi guided imagery).
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat antiemetik golongan antagonis reseptor 5-HT3, jika diperlukan.

Intervensi Defisit Nutrisi dan Hipovolemia (Diagnosis 3-4)

Diagnosis 3: Defisit Nutrisi (D.0019)

  • Luaran Utama (SLKI – L.03030): Setelah tindakan keperawatan 5×24 jam, Status Nutrisi Membaik dengan kriteria hasil: porsi makanan yang dihabiskan meningkat, nafsu makan membaik, indeks massa tubuh membaik, kadar albumin serum normal.
  • Intervensi Utama (SIKI – I.03119 Manajemen Nutrisi):
    • Observasi: Identifikasi status nutrisi harian; Monitor asupan makanan; Monitor berat badan pasien secara berkala.
    • Terapeutik: Sajikan makanan secara menarik dan pada suhu yang sesuai; Lakukan kebersihan mulut sebelum makan jika perlu.
    • Edukasi: Ajarkan kepatuhan program diet lambung lunak yang telah diprogramkan oleh tim gizi.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah ketetapan kalori dan jenis nutrien yang dibutuhkan pasien.

Diagnosis 4: Hipovolemia (D.0023)

  • Luaran Utama (SLKI – L.03028): Setelah tindakan keperawatan 3×24 jam, Status Cairan Membaik dengan kriteria hasil: turgor kulit meningkat, output urin meningkat (0.5-1 cc/kgBB/jam), membran mukosa bibir lembap, tekanan darah membaik.
  • Intervensi Utama (SIKI – I.03116 Manajemen Hipovolemia):
    • Observasi: Periksa tanda dan gejala hipovolemia (misal frekuensi nadi meningkat, turgor menurun, TD menurun); Monitor intake dan output cairan tubuh.
    • Terapeutik: Hitung kebutuhan balance cairan harian pasien; Berikan posisi modified Trendelenburg jika ada indikasi syok.
    • Edukasi: Anjurkan pasien memperbanyak asupan cairan oral sesuai toleransi lambung.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian cairan intravena isotonis kristaloid (misal NaCl 0.9%, Ringer Laktat).

Intervensi Risiko Elektrolit dan Intoleransi Aktivitas (Diagnosis 5-6)

Diagnosis 5: Risiko Ketidakseimbangan Elektrolit (D.0037)

  • Luaran Utama (SLKI – L.03021): Setelah tindakan keperawatan 3×24 jam, Keseimbangan Elektrolit Meningkat dengan kriteria hasil: kadar kalium serum membaik (3.5-5.0 mEq/L), natrium serum membaik (135-145 mEq/L), klorida serum membaik (98-108 mEq/L).
  • Intervensi Utama (SIKI – I.03102 Pemantauan Elektrolit):
    • Observasi: Monitor kadar elektrolit serum berkala; Monitor adanya tanda klinis ketidakseimbangan elektrolit (misal kelemahan otot ekstremitas, aritmia jantung).
    • Terapeutik: Atur interval pemantauan laboratorium sesuai dengan kondisi klinis pasien; Dokumentasikan hasil pemantauan.
    • Edukasi: Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan parameter elektrolit darah kepada pasien dan keluarga.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan tim medis untuk koreksi elektrolit via jalur intravena jika terjadi gangguan nilai kritis.

Diagnosis 6: Intoleransi Aktivitas (D.0056)

  • Luaran Utama (SLKI – L.05047): Setelah tindakan keperawatan 3×24 jam, Toleransi Aktivitas Meningkat dengan kriteria hasil: kemudahan dalam melakukan aktivitas harian meningkat, keluhan lelah menurun, dispnea setelah aktivitas menurun.
  • Intervensi Utama (SIKI – I.05178 Manajemen Energi):
    • Observasi: Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan kronis; Monitor pola dan jam tidur pasien.
    • Terapeutik: Sediakan lingkungan ruangan yang nyaman dan rendah stimulus; Fasilitasi aktivitas mobilisasi fisik secara bertahap.
    • Edukasi: Anjurkan melakukan aktivitas harian secara bertahap; Ajarkan strategi koping adaptif untuk mengurangi kelelahan fisik.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan energi melalui makanan diet lambung.

Intervensi Ansietas dan Gangguan Pola Tidur (Diagnosis 7-8)

Diagnosis 7: Ansietas (D.0080)

  • Luaran Utama (SLKI – L.09093): Setelah tindakan keperawatan 2×24 jam, Tingkat Ansietas Menurun dengan kriteria hasil: verbalisasi khawatir akibat kondisi penyakit menurun, perilaku gelisah menurun, ketegangan otot menurun.
  • Intervensi Utama (SIKI – I.09314 Reduksi Ansietas):
    • Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas pasien berubah; Monitor tanda-tanda objektif ansietas.
    • Terapeutik: Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan rasa percaya; Temani pasien untuk mengurangi kecemasan jika memungkinkan.
    • Edukasi: Jelaskan semua prosedur tindakan medis secara jelas; Informasikan secara faktual mengenai diagnosis penyakit dan rencana pengobatan.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat antiansietas dosis rendah jika diindikasikan secara ketat oleh tim medis.

Diagnosis 8: Gangguan Pola Tidur (D.0055)

  • Luaran Utama (SLKI – L.05045): Setelah tindakan keperawatan 3×24 jam, Pola Tidur Membaik dengan kriteria hasil: keluhan sulit tidur menurun, keluhan sering terjaga menurun, keluhan istirahat tidak cukup menurun.
  • Intervensi Utama (SIKI – I.05174 Dukungan Tidur):
    • Observasi: Identifikasi pola aktivitas dan siklus tidur harian pasien; Identifikasi faktor pengganggu tidur fisik maupun psikologis.
    • Terapeutik: Modifikasi faktor lingkungan (misal pencahayaan lampu, kebisingan suara, suhu ruangan); Tetapkan jadwal tidur rutin harian.
    • Edukasi: Jelaskan pentingnya pemenuhan tidur cukup selama fase sakit; Anjurkan menghindari konsumsi minuman kafein sebelum waktu tidur.

Intervensi Defisit Pengetahuan dan Risiko Syok (Diagnosis 9-10)

Diagnosis 9: Defisit Pengetahuan (D.0111)

  • Luaran Utama (SLKI – L.12111): Setelah tindakan keperawatan 1×24 jam, Tingkat Pengetahuan Meningkat dengan kriteria hasil: perilaku sesuai anjuran meningkat, verbalisasi minat dalam belajar meningkat, kekeliruan terhadap masalah penyakit menurun.
  • Intervensi Utama (SIKI – I.12383 Edukasi Kesehatan):
    • Observasi: Identifikasi kesiapan dan tingkat kemampuan menerima informasi kesehatan; Identifikasi faktor yang mempengaruhi motivasi PHBS.
    • Terapeutik: Sediakan materi edukasi dan media pendidikan kesehatan terstruktur; Jadwalkan pelaksanaan penkes sesuai kesepakatan bersama.
    • Edukasi: Jelaskan faktor risiko kesehatan yang dapat mempengaruhi kekambuhan lambung; Ajarkan strategi modifikasi gaya hidup sehat.

Diagnosis 10: Risiko Syok (D.0039)

  • Luaran Utama (SLKI – L.03032): Setelah tindakan keperawatan 3×24 jam, Tingkat Syok Menurun dengan kriteria hasil: output urin membaik, saturasi oksigen normal (>95%), tekanan darah sistolik-diastolik dalam rentang normal.
  • Intervensi Utama (SIKI – I.02075 Pencegahan Syok):
    • Observasi: Monitor status kardiopulmonal secara ketat (frekuensi nadi, TD, pernapasan); Monitor tanda klinis perdarahan saluran cerna aktif.
    • Terapeutik: Berikan terapi oksigenasi untuk mempertahankan saturasi seluler; Pertahankan kepatenan akses jalur intravena ukuran besar.
    • Edukasi: Jelaskan tanda dan gejala awal terjadinya kondisi syok; Anjurkan pasien segera melapor jika melihat feses atau muntahan berwarna hitam.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian transfusi produk darah atau cairan koloid jika terjadi syok hipovolemik hemoragik masif. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)

4. Implementasi

Pelaksanaan tindakan implementasi keperawatan didasarkan secara konsisten pada rencana intervensi tertulis yang telah ditetapkan sebelumnya. Aktivitas ini dilaksanakan oleh perawat secara profesional dengan mengintegrasikan tindakan observasional, terapeutik, edukatif, serta kolaboratif. Seluruh respons fisik dan psikologis pasien selama fase implementasi didokumentasikan secara legal dalam catatan perkembangan klinis. (Muttaqin & Sari, 2020)

5. Evaluasi

Fase evaluasi keperawatan dilaksanakan menggunakan pendekatan format SOAP pada setiap akhir giliran dinas pelayanan perawat. Komponen penilaian membandingkan pencapaian data objektif dan subjektif pasien terkini terhadap indikator kriteria hasil luaran keperawatan nasional. Hasil analisis menentukan kelanjutan status perencanaan intervensi, apakah masalah teratasi sepenuhnya atau memerlukan modifikasi tindakan lanjutan. (Wijaya & Putri, 2021)

DAFTAR PUSTAKA

Al-Malki, A. S., et al. (2022). Epidemiological and clinical profiles of gastritis among patients presenting with upper gastrointestinal symptoms. Journal of Gastroenterology and Hepatology Research, 11(3), 3652–3659. [journalghr.com/index.php/jghr/article/view/3652]

American Gastroenterological Association. (2022). Clinical practice updates on the management of acute and chronic gastritis. Gastroenterology, 162(4), 1322–1334. [gastrojournal.org/article/S0016-5085(22)00115-X/fulltext]

Asian Pacific Association of Gastroenterology. (2020). Guidelines for the management of Helicobacter pylori infection and gastritis in the Asian-Pacific region. The Lancet Gastroenterology & Hepatology, 5(8), 772–785. [thelancet.com/journals/langas/article/PIIS2468-1253(20)30081-3/fulltext]

Chinese Society of Gastroenterology. (2022). Chinese consensus on chronic gastritis (2022, Shanghai). Journal of Digestive Diseases, 23(11), 601–618. [onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/1751-2980.13155]

Cleveland Clinic. (2024). Gastritis: Symptoms, causes, diagnosis & treatment. Cleveland Clinic Medical Reference. [my.clevelandclinic.org/health/diseases/10349-gastritis]

Japanese Gastric Cancer Association. (2021). Gastric cancer treatment guidelines 2021 (6th edition). Gastric Cancer, 24(1), 1–21. [link.springer.com/article/10.1007/s10120-020-01142-2]

Mayo Clinic. (2023). Gastritis: Diagnosis and treatment. Mayo Foundation for Medical Education and Research. [mayoclinic.org/diseases-conditions/gastritis/diagnosis-treatment/drc-20355813]

Muttaqin, A., & Sari, K. (2020). Gangguan Gastrointestinal: Aplikasi Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: Salemba Medika.

Park, J. Y., & Kim, N. (2023). Endoscopic and histological features of gastritis. The Korean Journal of Gastroenterology, 81(2), 55–67. [kjg.or.kr/journal/view.html?doi=10.4166/kjg.2023.81.2.55]

Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia & Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia. (2021). Konsensus Nasional Penatalaksanaan Dispepsia dan Infeksi Helicobacter pylori di Indonesia. Jakarta: PGI-PPHI.

PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI): Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI): Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI): Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

Robbins, S. L., & Cotran, R. S. (2021). Robbins and Cotran Pathologic Basis of Disease (10th ed.). Philadelphia: Elsevier Saunders.

Syam, A. F., et al. (2021). Profiles of gastritis and gastric mucosal damage in Indonesian patients. Acta Medica Indonesiana, 53(2), 145–154. [actamedindones.org/index.php/ami/article/view/1785]


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *