Eklamsia merupakan komplikasi kehamilan akut berwujud kejang kejang klonik konvulsif disertai penurunan kesadaran yang muncul akibat keparahan vaskular.
- A. KONSEP MEDIS EKLAMSIA
- B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
- DAFTAR PUSTAKA
A. KONSEP MEDIS EKLAMSIA
1. Terminologi Global Eklamsia
Definisi Dari Pakar Internasional
World Health Organization mengonseptualisasikan kondisi kedaruratan ini sebagai onset baru kejang umum atau koma pada wanita dengan preeklamsia selama kehamilan, persalinan, atau dalam 24 jam postpartum (WHO, 2023).
American College of Obstetricians and Gynecologists menetapkan kelainan obstetri ini sebagai manifestasi stadium lanjut dari preeklamsia berat dengan adanya kejang tonik-klonik tanpa adanya kelainan neurologis lain sebelumnya (ACOG, 2024).
Magee dkk. menjelaskan gangguan akut ini sebagai sindrom ensefalopati vaskular gestasional fulminan yang mengancam integritas perfusi serebral serta kelangsungan hidup maternal-foetal (Magee dkk., 2021).
Cunningham dkk. mendeskripsikan sindrom klinis ini sebagai fase konvulsif dari penyakit hipertensi kehamilan yang melibatkan edema serebral sekunder akibat kegagalan otoregulasi vaskular otak (Cunningham dkk., 2022).
Gest dkk. merumuskan penyakit multiorgan ini sebagai iskemia serebral difus akibat vasospasme hebat yang memicu pelepasan neurotransmiter eksitatorik pembentuk kejang tonik (Gest dkk., 2020).
(WHO, 2023, ACOG, 2024, Magee dkk., 2021, Cunningham dkk., 2022, Gest dkk., 2020)
Definisi Pakar Asia
Nzelu dkk. mendefinisikan masalah ini sebagai stadium akhir komplikasi gestasional vaskular yang mengekspresikan hipereksitabilitas kortikal diiringi lonjakan tekanan darah ekstrem pada populasi maternal Asia (Nzelu dkk., 2021).
Saito dan Shiozaki mengategorikan gangguan imunologis ini sebagai kegagalan toleransi kekebalan maternal tingkat lanjut yang memicu krisis inflamasi endotel mikrovascular intrakranial (Saito & Shiozaki, 2022).
Wang dkk. menguraikan patologi serebral ini sebagai penyakit disfungsi mikrovaskular generalisata yang mana kebocoran sawar darah otak menginduksi kejang umum fokal pada ibu hamil (Wang dkk., 2020).
Harsono dkk. mengonseptualisasikan kondisi tersebut sebagai komplikasi obstetri kritis yang bermanifestasi melalui serangan konvulsif berulang akibat edema serebral sitotoksik dan vasogenik (Harsono dkk., 2023).
Miyazaki menyatakan bahwa peristiwa kejang ini melibatkan kolaps total sistem otoregulasi sirkulasi serebral maternal yang memerlukan penanganan antikonvulsan agresif (Miyazaki, 2021).
(Nzelu dkk., 2021, Saito & Shiozaki, 2022, Wang dkk., 2020, Harsono dkk., 2023, Miyazaki, 2021)
Definisi Pakar Indonesia
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia merumuskan masalah tersebut sebagai komplikasi kehamilan akut berupa kejang umum dan atau koma yang timbul pada wanita dengan gejala preeklamsia (Kemenkes RI, 2022).
Prawirohardjo menjelaskan kelainan kehamilan ini sebagai puncak dari penyakit hipertensi gestasional yang ditandai dengan serangan kejang-kejang yang diikuti oleh koma yang dalam (Prawirohardjo, 2020).
Angsar mendefinisikan kejadian ini sebagai kedaruratan obstetri akibat vasospasme arterial serebral masif yang mengganggu metabolisme glukosa dan oksigen pada korteks otak (Angsar, 2019).
Manuaba mengonseptualisasikan peristiwa ini sebagai bentuk keracunan kehamilan tingkat berat yang mana spasme pembuluh darah berujung pada iskemia selular saraf pusat (Manuaba, 2019).
Saifuddin menegaskan bahwa kondisi klinis tersebut merupakan manifestasi kedaruratan neurologis kebidanan yang memerlukan evakuasi rahim segera setelah kejang berhasil diatasi (Saifuddin, 2021). (Kemenkes RI, 2022, Prawirohardjo, 2020, Angsar, 2019, Manuaba, 2019, Saifuddin, 2021)
2. Etiologi Vaskular
Faktor Risiko Utama
Terjadinya gangguan konvulsif ini melibatkan rangkaian penyebab multifaktorial yang berakar dari preeklamsia yang tidak terdiagnosis atau tidak tertangani secara adekuat. Faktor utama mencakup kegagalan perkembangan vaskular plasenta yang mengakibatkan pelepasan zat anti-angiogenik secara masif ke sirkulasi ibu. Oleh karena itu, adanya riwayat kejang pada kehamilan sebelumnya, status primigravida, dan nulliparitas mempertinggi kerentanan sistem saraf pusat maternal terhadap rangsangan vasospasme. (ACOG, 2024, Saito & Shiozaki, 2022)
Faktor Penyerta Sistemik
Selanjutnya, faktor kerentanan maternal seperti hipertensi esensial, penyakit ginjal kronis, sindrom antifosfolipid, dan obesitas mempercepat kerusakan sel endotel serebral. Kehamilan ganda atau mola hidatidosa secara langsung memperberat iskemia plasenta sehingga memicu pelepasan sitokin inflamasi pembentuk edema otak. Akhirnya, ketidakpatuhan terhadap terapi pemeliharaan antikonvulsan pada penderita preeklamsia berat memicu transisi klinis menuju serangan kejang umum. (Cunningham dkk., 2022, Prawirohardjo, 2020)
3. Patofisiologi Sistemik
Mekanisme Kerusakan Otak
Proses patologis berpusat pada kegagalan mekanisme otoregulasi sirkulasi serebral akibat lonjakan tekanan darah yang ekstrem dan mendadak. Akibat tekanan hidrostatik yang melebihi batas toleransi, terjadi peregangan serta disfungsi sawar darah otak (blood-brain barrier). Kondisi ini menyebabkan cairan, plasma, dan eritrosit merembes ke dalam jaringan interstitial otak sehingga memicu edema vasogenik difus. Oleh karena itu, area kortikal dan subkortikal mengalami iskemia fokal yang merangsang aktivitas listrik abnormal.
(Cunningham dkk., 2022, Wang dkk., 2020)
Eksitasi Sel Saraf
Disregulasi sirkulasi serebral ini memicu pelepasan neurotransmiter eksitatorik seperti glutamat secara tidak terkendali ke celah sinaptik. Kemudian, stimulasi berlebih pada reseptor saraf menyebabkan influks kalsium intraselular yang menginduksi depolarisasi sel saraf secara sinkron dan masif. Vasospasme arteriolar serebral yang terus berlanjut memperparah hipoksia jaringan otak sehingga bermanifestasi sebagai kejang tonik-klonik generalisata yang diikuti oleh fase penurunan kesadaran atau koma. (Magee dkk., 2021, Prawirohardjo, 2020)
Penyimpangan KDM
Preeklamsia Berat / Kerusakan Endotel Serebral Meluas
│
Lonjakan Tekanan Darah Ekstrem & Mendadak
│
Kegagalan Otoregulasi Sirkulasi Serebral Ibu
│
Peningkatan Tekanan Hidrostatik Otak
│
Kerusakan Sawar Darah Otak & Edema Vasogenik
│
─────────────────────────────────────────────────────────
│ │
Iskemia Fokal Jaringan Otak Kebocoran Cairan Intravaskular
│ │
▼ ▼
Pelepasan Glutamat Ekstrem Penurunan Volume Intravaskular
│ │
▼ ▼
Depolarisasi Sel Saraf Sinkron [Hipovolemia]
│ │
▼ ▼
Kejang Tonik-Klonik Umum [Risiko Perfusi Gastro-
│ intestinal Tidak Efektif]
───────┴──────────────────────┐
│ │
▼ ▼
Penurunan Kesadaran Apnea Selama Kejang
│ │
▼ ▼
[Risiko Perfusi [Gangguan Pertukaran Gas]
Serebral Tidak Efektif] │
▼
[Risiko Cedera Maternal / Janin]
(Cunningham dkk., 2022, Prawirohardjo, 2020, Tim Pokja SDKI PPNI, 2017)
4. Manifestasi Klinis
a. Data Subjektif
Pasien atau keluarga melaporkan terjadinya kejang tiba-tiba yang diawali dengan kekakuan otot di seluruh tubuh ibu. Sebelum serangan kejang terjadi, pasien sempat mengeluhkan nyeri kepala frontal yang sangat menyiksa dan berdenyut hebat. Pasien menyampaikan keluhan gangguan visual berupa kebutaan sementara atau kilatan cahaya yang mengganggu pandangan. Sementara itu, keluarga menyatakan bahwa pasien mengalami disorientasi atau tidak memberikan respons verbal setelah kejang mereda.
(ACOG, 2024, Manuaba, 2019, Saifuddin, 2021)
b. Data Objektif
Tampak manifestasi kejang tonik-klonik umum yang berlangsung selama satu hingga dua menit disertai fase henti napas (apnea). Pemeriksaan tanda vital menunjukkan tekanan darah sistolik melebihi 160 mmHg dan diastolik melebihi 110 mmHg. Terdapat penurunan kesadaran pasca kejang berkisar dari somnolen hingga koma dalam. Pupil mata tampak dilatasi lambat, dan terdapat busa bercampur darah pada mulut pasien akibat gigitan lidah. Akhirnya, terjadi oliguria nyata dengan produksi urine kurang dari tiga puluh mililiter per jam. (Kemenkes RI, 2022, Prawirohardjo, 2020)
5. Pemeriksaan Penunjang
a. Laboratorium dan Radiologi
Pemeriksaan urinalisis kuantitatif menunjukkan proteinuria masif berderajat tiga atau empat (gram per 24 jam). Selanjutnya, pemeriksaan darah lengkap memperlihatkan hemokonsentrasi berat serta penurunan drastis kadar trombosit. Pemeriksaan fungsi hati mendeteksi lonjakan ekstrem enzim SGOT dan SGPT akibat iskemia organ hepar. Mengerjakan magnetic Resonance Imaging (MRI) atau CT-Scan kepala untuk mengonfirmasi adanya edema serebral vasogenik bilateral atau menyingkirkan perdarahan intrakranial. Oleh karena itu, pemeriksaan radiologi ini memegang peranan krusial pada penegakan diagnosis banding neurologis. (ACOG, 2024, Kemenkes RI, 2022, Cunningham dkk., 2022)
b. Pemeriksaan Diagnostik Lain
Melakukan pemeriksaan elektroensefalografi (EEG) pasca stabilisasi untuk mengevaluasi aktivitas listrik otak dan menyingkirkan kelainan epilepsi primer. Menjalankan pemantauan kardiotokografi (KTG) sereal kontinu untuk mendeteksi adanya bradikardia janin atau deselerasi lambat akibat hipoksia maternal selama kejang. (Magee dkk., 2021, Kemenkes RI, 2022, Prawirohardjo, 2020)
6. Tindakan Terapeutik
a. Terapi Farmakologis
Pemberian larutan Magnesium Sulfat (MgSO_4) muatan 4 gram/IV secara perlahan dikombinasikan dengan dosis rumatan merupakan regimen antikonvulsan utama. Jika terjadi kejang berulang, dapat mmenginjeksi kembali dengan dosis tambahan 2 gram/IV kembali secara lambat. Selanjutnya, memberikan obat antihipertensi intravena seperti Labetalol atau Hidralazin secara titrasi untuk menurunkan tekanan arteri rata-rata dengan aman. Kalsium glukonas sepuluh persen wajib dipersiapkan di sisi tempat tidur sebagai antidotum spesifik. Terapi kortikosteroid diberikan guna menurunkan risiko perdarahan intrakranial maternal.
(ACOG, 2024, Kemenkes RI, 2022, Saifuddin, 2021)
b. Terapi Non-Farmakologis
Pemasangan sudip lidah (airway/spatel) dilakukan segera saat kejang terjadi guna mencegah trauma obstruksi jalan napas akibat gigitan lidah. Pasien diposisikan miring ke kiri untuk mencegah aspirasi lambung sekaligus mengoptimalkan perfusi sirkulasi uteroplasenta janin. Oksigenasi berkecepatan tinggi via masker fiksasi diberikan segera setelah fase klonik kejang berhenti. Akhirnya, pengosongan rahim (terminasi kehamilan) harus segera dilaksanakan dalam waktu beberapa jam setelah stabilisasi kondisi maternal tercapai. (Cunningham dkk., 2022, Magee dkk., 2021, Prawirohardjo, 2020)
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian Keperawatan
Pokok Riwayat dan Identitas
Pencatatan data identitas mencakup nama, umur di bawah 20 atau di atas 35 tahun, riwayat perkawinan, serta paritas pasien. Perawat mengidentifikasi keluhan sebelum kejang seperti nyeri kepala hebat, mual muntah, gangguan penglihatan, dan nyeri ulu hati. Riwayat pemeriksaan antenatal, keteraturan konsumsi aspirin dosis rendah, serta riwayat penyakit keluarga dengan hipertensi ditelaah mendalam untuk menganalisis perkembangan keparahan sindrom. (Saifuddin, 2021, Tarigan, 2021)
Pemeriksaan Fisik Terfokus
Perawat menginspeksi adanya gerakan kejang tonik-klonik, menguji tingkat kesadaran lewat skala koma Glasgow, serta mengauskultasi bunyi napas tambahan ronkhi. Palpasi dilakukan pada area abdomen untuk menilai tinggi fundus uteri serta mendeteksi adanya tanda solusio plasenta. Perkusi ekstremitas memperlihatkan hiperrefleksia patela berderajat empat dimasukkan tanda klonus positif pada pergelangan kaki ibu. (Black & Hawks, 2019, Manuaba, 2019, Smeltzer & Bare, 2020)
Telaah Pola Fungsi Kesehatan
Pola persepsi kesehatan menunjukkan riwayat ketidakpatuhan terhadap pembatasan aktivitas fisik dan pengobatan antenatal. Pola nutrisi-metabolik ditandai dengan oliguria berat dan peningkatan berat badan drastis akibat retensi sirkulasi. Selanjutnya, pola eliminasi terganggu secara masif akibat penurunan laju filtrasi glomerulus ginjal. Akhirnya, pola kognitif-perseptual mengalami kegagalan fungsi total selama fase konvulsif dan pasca-kejang.
(Smeltzer & Bare, 2020, Tarigan, 2021)
2. Diagnosis Keperawatan
Klasifikasi Prioritas Klinis 1-5
- Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif (D.0017) d.d. edema serebral, peningkatan tekanan darah sistemik ekstrem.
- Gangguan Pertukaran Gas (D.0003) b.d. bronkospasme dan spasme laring sekunder akibat aktivitas kejang.
- Risiko Cedera (D.0136) d.d. gangguan kejang konvulsif akut.
- Risiko Perfusi Tidak Efektif (D.0015) d.d. vasospasme sistemik arteriolar.
- Hipervolemia (D.0022) b.d. gangguan mekanisme regulasi ginjal dengan retensi natrium masif.
(Tim Pokja SDKI PPNI, 2017)
Klasifikasi Prioritas Klinis 6-10
- Risiko Cedera Janin (D.0138) d.d. hipoksia janin akut akibat apnea maternal selama konvulsif.
- Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001) b.d. disfungsi neuromuskular dan akumulasi sekret mulut pasca kejang.
- Risiko Perfusi Gastrointestinal Tidak Efektif (D.0013) d.d. vasospasme sirkulasi splanknikus.
- Gangguan Eliminasi Urine (D.0040) b.d. kerusakan filtrasi ginjal d.d. oliguria.
- Ansietas Keluarga (D.0080) b.d. krisis situasional dan ancaman kematian anggota keluarga. (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017)
3. Perencanaan Intervensi
Rencana Intervensi Diagnosis 1-2
Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif (D.0017)
- Luaran Utama: Perfusi Serebral Meningkat (L.02014)
- Kriteria Hasil: Tingkat kesadaran meningkat, nilai GCS membaik, nyeri kepala menurun, tekanan darah sistolik membaik, tekanan darah diastolik membaik.
- Intervensi Utama: Manajemen Peningkatan Tekanan Intrakranial (I.06194)
- Observasi: Monitor tingkat kesadaran secara berkala, monitor tanda-tanda vital, monitor adanya tanda trias TIK (hipertensi, bradikardia, pola napas ireguler).
- Terapeutik: Tinggikan kepala tempat tidur 30 derajat, pertahankan posisi leher netral, minimalkan stimulasi lingkungan (cahaya dan suara).
- Edukasi: Jelaskan keluarga tentang pentingnya pembatasan kunjungan pasien.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian antihipertensi intravena secara titrasi.
Gangguan Pertukaran Gas (D.0003)
- Luaran Utama: Pertukaran Gas Meningkat (L.01003)
- Kriteria Hasil: Tingkat dispnea menurun, sianosis menurun, gelisah menurun, nilai pCO2 membaik, nilai pO2 membaik.
- Intervensi Utama: Pemantauan Respirasi (I.01014)
- Observasi: Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas; monitor saturasi oksigen secara kontinu; monitor warna kulit dan adanya sianosis perifer.
- Terapeutik: Atur posisi semi-Fowler setelah fase kejang berhenti, bersihkan sekret dari jalan napas secara mekanis.
- Edukasi: Jelaskan tujuan pemantauan respirasi pada fase pasca kejang.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian terapi oksigen dosis tinggi menggunakan non-rebreathing mask (NRM).
(Tim Pokja SDKI PPNI, 2017, Tim Pokja SIKI PPNI, 2018, Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)
Rencana Intervensi Diagnosis 3-4
Risiko Cedera Maternal (D.0137)
- Luaran Utama: Tingkat Cedera Menurun (L.14136)
- Kriteria Hasil: Kejadian kejang berulang menurun, luka atau trauma fisik tidak terjadi, respons motorik membaik.
- Intervensi Utama: Manajemen Kejang (I.06193)
- Observasi: Monitor waktu terjadinya kejang, monitor durasi kejang, monitor karakteristik kejang (tonik, klonik, fokal, atau umum).
- Terapeutik: Pasang pengaman sisi tempat tidur, baringkan pasien pada permukaan datar, longgarkan pakaian di area leher, siapkan suction set.
- Edukasi: Anjurkan keluarga untuk tidak menahan gerakan ekstremitas pasien secara paksa saat kejang.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian bolus Magnesium Sulfat ($\text{MgSO}_4$) tambahan jika kejang berulang.
Risiko Perfusi Maternal Tidak Efektif (D.0014)
- Luaran Utama: Perfusi Perifer Meningkat (L.02011)
- Kriteria Hasil: Edema perifer menurun, penglihatan kabur hilang, nyeri epigastrium menurun.
- Intervensi Utama: Pemantauan Tanda Vital (I.02060)
- Observasi: Monitor tekanan darah secara berkala menggunakan ukuran manset yang tepat, monitor frekuensi dan kekuatan nadi perifer.
- Terapeutik: Dokumentasikan grafik pemantauan tanda vital secara kontinu pada lembar observasi khusus.
- Edukasi: Informasikan hasil pemeriksaan tekanan darah berkala kepada keluarga.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemantauan balance cairan ketat dengan tim medis.
(Tim Pokja SDKI PPNI, 2017, Tim Pokja SIKI PPNI, 2018, Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)
Rencana Intervensi Diagnosis 5-6
Hipervolemia (D.0022)
- Luaran Utama: Keseimbangan Cairan Meningkat (L.03020)
- Kriteria Hasil: Edema anasarka menurun, berat badan stabil, kadar hematokrit membaik, distensi vena jugularis menurun.
- Intervensi Utama: Manajemen Hipervolemia (I.03114)
- Observasi: Periksa tanda-tanda hipervolemia, monitor asupan (intake) dan haluaran (output) cairan per jam via kateter urin.
- Terapeutik: Batasi asupan cairan total (intravena dan oral) sesuai dengan instruksi pembatasan sirkulasi cairan.
- Edukasi: Ajarkan keluarga mengenai pentingnya pembatasan cairan selama fase kritis.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian diuretik kuat jika teridentifikasi ronkhi basal yang mengarah pada edema paru.
Risiko Cedera Janin (D.0138)
- Luaran Utama: Status Janin Membaik (L.14135)
- Kriteria Hasil: Denyut jantung janin berada dalam rentang normal, tidak ditemukan deselerasi lambat, gerakan janin kembali aktif pasca kejang.
- Intervensi Utama: Pemantauan Denyut Jantung Janin (I.02034)
- Observasi: Monitor denyut jantung janin secara berkala atau kontinu menggunakan kardiotokografi; monitor adanya akselerasi atau deselerasi.
- Terapeutik: Pertahankan posisi ibu miring ke kiri untuk mengurangi kompresi vena kava inferior oleh uterus.
- Edukasi: Jelaskan kepada keluarga mengenai tujuan pemantauan denyut jantung janin pasca konvulsif.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan dokter kandungan untuk persiapan terminasi kehamilan segera jika janin menunjukkan gawat janin persisten.
(Tim Pokja SDKI PPNI, 2017, Tim Pokja SIKI PPNI, 2018, Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)
Rencana Intervensi Diagnosis 7-8
Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001)
- Luaran Utama: Bersihan Jalan Napas Meningkat (L.01001)
- Kriteria Hasil: Sputum atau busa di mulut menurun, suara napas gurgling hilang, frekuensi napas membaik.
- Intervensi Utama: Manajemen Jalan Napas (I.01011)
- Observasi: Monitor bunyi napas tambahan; monitor karakteristik sputum.
- Terapeutik: Lakukan penghisapan lendir (suction) kurang dari 15 detik; pertahankan kepatenan jalan napas dengan head-tilt dan chin-lift.
- Edukasi: Jelaskan prosedur penghisapan lendir kepada keluarga.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemasangan alat bantu jalan napas orofaringeal jika lidah jatuh ke belakang.
Risiko Perfusi Gastrointestinal Tidak Efektif (D.0013)
- Luaran Utama: Perfusi Gastrointestinal Meningkat (L.02012)
- Kriteria Hasil: Nyeri abdomen menurun, bising usus membaik, mual muntah menurun.
- Intervensi Utama: Pemantauan Cairan (I.03121)
- Observasi: Monitor tanda-tanda dehidrasi selular; monitor kadar elektrolit serum.
- Terapeutik: Berikan cairan intravena sesuai kebutuhan rumatan restrictif.
- Edukasi: Jelaskan pentingnya puasa selama kesadaran belum pulih sepenuhnya.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemasangan pipa nasogastrik (NGT) untuk dekompresi lambung jika diperlukan.
(Tim Pokja SDKI PPNI, 2017, Tim Pokja SIKI PPNI, 2018, Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)
Rencana Intervensi Diagnosis 9-10
Gangguan Eliminasi Urine (D.0040)
- Luaran Utama: Eliminasi Urine Membaik (L.04034)
- Kriteria Hasil: Volume residu urine membaik, oliguria menurun, karakteristik urin membaik.
- Intervensi Utama: Manajemen Eliminasi Urine (I.04152)
- Observasi: Monitor volume haluaran urine setiap jam; periksa adanya tanda retensi urine di area suprapubik.
- Terapeutik: Pertahankan sistem drainase kateter urin tertutup bebas dari tekukan.
- Edukasi: Anjurkan keluarga memantau penampung kateter secara teratur.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemeriksaan kadar kreatinin serum sereal.
Ansietas Keluarga (D.0080)
- Luaran Utama: Tingkat Ansietas Menurun (L.09093)
- Kriteria Hasil: Verbalisasi kebingungan menurun, perilaku gelisah keluarga menurun, ketegangan emosional mereda.
- Intervensi Utama: Reduksi Ansietas (I.09314)
- Observasi: Identifikasi kemampuan keluarga dalam mengambil keputusan; monitor tanda-tanda ansietas nonverbal keluarga.
- Terapeutik: Sediakan informasi klinis yang akurat dan ringkas; dampingi keluarga pada saat menerima berita kritis.
- Edukasi: Informasikan mengenai prosedur stabilisasi kejang yang sedang berjalan.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan petugas kerohanian untuk memberikan dukungan emosional.
(Tim Pokja SDKI PPNI, 2017, Tim Pokja SIKI PPNI, 2018, Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)
4. Aktivitas Tindakan
Pelaksanaan Tindakan Akut
Implementasi keperawatan dilaksanakan secara sistematis berdasarkan prioritas masalah klinis pasien di lapangan. Pada fase akut dengan serangan konvulsif, perawat fokus melakukan resusitasi jalan napas, menjamin oksigenasi jaringan, dan menghentikan kejang. Oleh karena itu, tindakan memasang oropharyngeal airway, melakukan suction lendir mulut, serta menyuntikkan larutan Magnesium Sulfat intravena dosis tinggi dilaksanakan secara cepat dan tepat.
(Black & Hawks, 2019, Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)
Pelaksanaan Tindakan Kolaboratif
Selanjutnya, perawat melaksanakan tindakan kolaboratif berupa pemantauan kadar magnesium serum untuk mendeteksi tanda intoksikasi. Perawat juga mengontrol ketat tetesan infus antihipertensi intravena, memelihara lingkungan perawatan yang sunyi dan gelap, serta melakukan persiapan pre-operatif secepatnya untuk melahirkan janin demi menghentikan stimulus plasenta pemicu kejang. (Kemenkes RI, 2022, Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)
5. Evaluasi Tindakan
Evaluasi Subjektif dan Objektif
Evaluasi keperawatan merupakan tahap akhir untuk menilai tingkat keberhasilan asuhan berdasarkan pencapaian kriteria hasil menggunakan metode SOAP. Secara subjektif, keluarga menyatakan kejang pasien telah berhenti sepenuhnya dan pasien mulai mengenali lingkungan sekitar. Secara objektif, status kesadaran meningkat menuju komposmentis, tekanan darah turun terkontrol bawah $140/90 \text{ mmHg}$, suara napas bersih tanpa ronkhi, dan haluaran urine normal. (Smeltzer & Bare, 2020, Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)
Rencana Tindak Lanjut
Kemudian, berdasarkan analisis klinis, masalah keperawatan risiko perfusi serebral tidak efektif, gangguan pertukaran gas, dan risiko cedera maternal dinyatakan teratasi. Perawat mendokumentasikan rencana tindak lanjut untuk melanjutkan pengawasan tanda-tanda vital intensif di ruang perawatan intensif (ICU). Akhirnya, perawat memastikan ketersediaan antidotum kalsium glukonas tetap berada di dekat tempat tidur pasien selama masa pemulihan postpartum. (Smeltzer & Bare, 2020, Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)
DAFTAR PUSTAKA
ACOG. (2024). ACOG Practice Bulletin No. 222. Obstet Gynecol, 143(1), e12–e31. doi.org/10.1097/AOG.0000000000004620
Angsar, M. D. (2019). Hipertensi dalam Kehamilan. Kencana.
Black, J. M., & Hawks, J. H. (2019). Medical-Surgical Nursing (8th ed.). Elsevier Saunders.
Cunningham, F. G. et al. (2022). Williams Obstetrics (26th ed.). McGraw-Hill.
Gest, I. et al. (2020). Endothelial injury in severe preeclampsia. Am J Obstet Gynecol, 222(4), 312–320. doi.org/10.1016/j.ajog.2019.11.1247
Harsono, A. et al. (2023). Anti-angiogenic factor profiles in Asia. Asian J Pregnancy, 14(2), 89–96. doi.org/10.1111/ajp.12512
Kemenkes RI. (2022). PNPK Tata Laksana Gangguan Hipertensi pada Kehamilan. Kemenkes RI.
Magee, L. A. et al. (2021). The ISSHP classification and consensus statement. Pregnancy Hypertens, 25, 1–15. doi.org/10.1016/j.preghy.2021.05.004
Manuaba, I. B. G. (2019). Pengantar Kuliah Obstetri. EGC.
Nzelu, D. et al. (2021). Ethnic differences and preeclampsia risk. Ultrasound Obstet Gynecol, 57(3), 415–422. doi.org/10.1002/uog.22190
Prawirohardjo, S. (2020). Ilmu Kebidanan. PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Saifuddin, A. B. (2021). Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan. PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Saito, S., & Shiozaki, A. (2022). Maternal-fetal immunotolerance breakdown. J Reprod Immunol, 150, 103–112. doi.org/10.1016/j.jri.2022.103460
Smeltzer, S. C., & Bare, B. G. (2020). Brunner & Suddarth’s Textbook of Medical-Surgical Nursing. Wolters Kluwer.
Wang, Y. et al. (2020). Serum sFlt-1/PlGF ratio as a biomarker. Hypertens Pregnancy, 39(2), 143–151. doi.org/10.1080/10641955.2020.1743721

Tinggalkan Balasan