Dampak psikologis dan fisik akibat intimidasi berulang yang mengganggu kesejahteraan jiwa serta pola fungsi kehidupan pasien secara signifikan.
- A. Konsep Medis Bullying Trauma
- B. Konsep Asuhan Keperawatan
- Daftar Pustaka
A. Konsep Medis Bullying Trauma
1. Definisi Bullying Trauma
Definisi Pakar Internasional
Olweus menjelaskan bahwa luka psikologis mendalam timbul akibat paparan tindakan negatif berulang dari individu atau kelompok yang berkuasa. (Olweus, 1993)
Selanjutnya, Rigby menegaskan penderitaan akibat perundungan sebagai tekanan emosional berlanjut yang merusak rasa aman serta meruntuhkan harga diri korban. (Rigby, 2002)
Sementara itu, APA mengidentifikasi kondisi ini sebagai gangguan stres akut maupun kronis pasca kekerasan verbal, fisik, atau sosial secara terus-menerus. (APA, 2015)
Selanjutnya, WHO mendefinisikan masalah ini sebagai bentuk cedera psikososial berat akibat intimidasi yang mengancam kesehatan mental serta fisik penderitanya. (WHO, 2020)
Lebih lanjut, Hawker dan Boulton membuktikan bahwa perundungan memicu depresi mendalam dan kecemasan sosial akibat penolakan sebaya yang menetap. (Hawker & Boulton, 2000)
Definisi Pakar Asia
Uchida mengungkapkan bahwa trauma perundungan (ijime) dari Asia mencerminkan bentuk isolasi sosial terstruktur yang menghancurkan kesehatan mental korban. (Uchida, 2010)
Kemudian, Koo menekankan kondisi tersebut sebagai penderitaan mental berkepanjangan akibat tingginya tekanan konformitas kelompok dalam budaya timur. (Koo, 2012)
Sebaliknya, Takizawa dan tim membuktikan bahwa perundungan masa kecil menyisakan efek buruk pada kesehatan fisik serta mental hingga usia dewasa. (Takizawa et al., 2014)
Berikutnya, Sittichai serta Salmivalli menyatakan trauma ini sebagai disfungsi emosional berat akibat intimidasi siber maupun fisik pada lingkungan sekolah. (Sittichai & Salmivalli, 2014)
Akhirnya, Chan dan Wong mendefinisikan perundungan sebagai bentuk viktimisasi berulang yang merusak mekanisme koping adaptif anak. (Chan & Wong, 2015)
Definisi Pakar Indonesia
Yayasan Sejiwa mengemukakan bahwa kondisi ini merupakan penindasan sistematis yang merenggut rasa percaya diri dan ketenangan jiwa korban. (Sejiwa, 2007)
Selanjutnya, Soetjiningsih menggambarkan trauma akibat intimidasi sebagai stresor psikososial berat yang menghambat tumbuh kembang emosional remaja. (Soetjiningsih, 2012)
Sementara itu, Wiyani menyebutkan keadaan ini sebagai kekerasan psikologis yang meninggalkan bekas luka batin mendalam serta mengganggu konsentrasi belajar. (Wiyani, 2012)
Sementara itu, Borualogo dan Murniati menegaskan perundungan sebagai bentuk viktimisasi yang menurunkan tingkat kesejahteraan subjektif anak secara drastis. (Borualogo & Murniati, 2021)
Terakhir, Setyawan mengartikan trauma perundungan sebagai disintegrasi emosional akibat paparan kekerasan fisik, verbal, atau perundungan siber yang terabaikan. (Setyawan, 2019)
2. Etiologi Bullying Trauma
Etiologi kondisi ini melibatkan kombinasi kompleks dari faktor lingkungan, sosial, dan individu. Faktor lingkungan keluarga seperti pola asuh otoriter atau pembiaran (neglect), kekerasan dalam rumah tangga, serta minimnya pengawasan orang tua menjadi pemicu utama. (Coloroso, 2007)
Selain itu, lingkungan sekolah yang minim aturan tegas anti-bullying, normalisasi perilaku agresif oleh teman sebaya, serta dinamika kelompok toksik memperparah risiko. (Rigby, 2002)
Faktor individu korban mencakup keterbatasan keterampilan sosial, persepsi kelemahan fisik atau mental, dan perbedaan penampilan. (Olweus, 1993)
Terakhir, pesatnya media sosial memicu perundungan siber (cyberbullying) yang berlangsung anonim selama 24 jam nonstop. (Sittichai & Salmivalli, 2014)
3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM
Dinamika Patofisiologi
Pengalaman ditindas secara berulang mengaktifkan respons stres fisiologis sistem saraf pusat melalui sumbu Hypothalamic-Pituitary-Adrenal (HPA axis). Paparan stresor kronis memicu pelepasan kortisol berlebihan yang menyebabkan disregulasi neurobiologis. Hal ini merusak konektivitas amigdala dan hipokampus, serta menurunkan kadar serotonin dan norepinefrin pada otak. (APA, 2015)
Kondisi fisiologis ini memicu hiperarousal, emosi tidak stabil, kilas balik trauma (flashbacks), dan isolasi diri. Secara simultan, stres kronis bermanifestasi pada gangguan somatisasi fisik seperti sakit kepala dan dispepsia akibat hiperaktivitas sistem saraf simpatis. (Takizawa et al., 2014)
Penyimpangan KDM dan Pathway
Stresor Berulang (Kekerasan Fisik/Verbal/Siber)
$\rightarrow$ Aktivasi Sumbu HPA Kronis & Hiperaktivitas Amigdala
$\rightarrow$ Disfungsi Saraf & Disregulasi Neurotransmiter ($\text{Serotonin} \downarrow$, $\text{Kortisol} \uparrow$)
$\rightarrow$ Respon Psikologis: Hipervigilans, Harga Diri Rendah, Depresi
$\rightarrow$ Respon Fisik: Peningkatan Simpatis (Sakit Kepala, Takiaritmia, Nyeri Lambung)
$\rightarrow$ Masalah Keperawatan: Ansietas, Harga Diri Rendah Kronis, Koping Tidak Efektif. (APA, 2015)
4. Manifestasi Klinis Bullying Trauma
a. Data Subjektif
Pasien mengeluhkan ketakutan berlebih saat harus pergi ke sekolah atau bertemu orang asing. Pasien juga mengungkapkan perasaan tidak berguna, malu, dan bersalah. Selain itu, pasien mengeluhkan sulit tidur, sering terbangun karena mimpi buruk, pusing, serta nyeri perut tanpa kelainan organik yang jelas. (Rigby, 2002)
b. Data Objektif
Pasien tampak gelisah, sering menunduk, dan menghindari kontak mata. Tremor pada tangan, berkeringat dingin, dan peningkatan respirasi terlihat saat membahas topik perundungan. Terdapat luka lebam, memar, atau bekas garukan pada ekstremitas, serta penurunan prestasi akademik dan perubahan drastis berat badan. (Olweus, 1993)
5. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
Melakukan pemeriksaan kadar kortisol darah atau saliva untuk menilai adanya disregulasi hormon stres akibat respons HPA axis kronis. Pemeriksaan darah lengkap juga perlu guna menyingkirkan indikasi infeksi atau anemia akibat penurunan nafsu makan drastis. (Takizawa et al., 2014)
b. Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan Functional Magnetic Resonance Imaging (fMRI) memperlihatkan hiperaktivitas pada amigdala dan penurunan volume hipokampus pada kasus penelitian lanjut. (APA, 2015)
c. Pemeriksaan Lain
Penggunaan kuesioner psikologis terstandarisasi seperti Beck Depression Inventory (BDI), Hamilton Anxiety Rating Scale (HAM-A), atau PTSD Checklist (PCL-5) membantu mengukur tingkat keparahan. Melakukan pemeriksaan Tanda-Tanda Vital (TTV) untuk menilai hiperarousal simpatis. (APA, 2015)
6. Penatalaksanaan Medis
a. Terapi Farmakologis
Pemberian Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRI) seperti Fluoxetine atau Sertraline bertindak untuk mengatasi depresi berat dan ansietas. Obat ansiolitik golongan Benzodiazepine dosis rendah dapat diberikan dalam jangka pendek jika terjadi serangan panik akut bawah pengawasan ketat. (APA, 2015)
b. Terapi Non-Farmakologis
Menggunakan Cognitive Behavioral Therapy (CBT) untuk merestrukturisasi kognitif negatif pasien. Terapi Eye Movement Desensitization and Reprocessing (EMDR) membantu mengurangi desensitisasi ingatan traumatik mendalam. Selanjutnya, Support Group dan terapi keluarga mengembalikan sistem dukungan sosial. (Sejiwa, 2007)
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
a. Identitas dan Riwayat Kesehatan
Pengkajian mencakup nama, umur (dominan anak/remaja), jenis kelamin, pendidikan, alamat, serta identitas penanggung jawab. Keluhan utama meliputi ketakutan berbesar, cemas, mengurung diri, atau luka fisik. Riwayat kesehatan sekarang menjelaskan kronologi perundungan, durasi paparan, respons emosional, serta gejala somatik. Riwayat kesehatan dahulu dan keluarga mengkaji riwayat gangguan psikiatri atau kekerasan dalam rumah tangga. (Soetjiningsih, 2012)
b. Pemeriksaan Fisik Sistemik
Pemeriksaan sistem saraf pusat menunjukkan tingkat kesadaran compos mentis dengan ketegangan mental. Sistem kardiovaskuler menunjukkan takhikardia tanpa bunyi jantung tambahan. Sistem respirasi memperlihatkan pola nafas takipnea saat mendapat pemicu stres.
Sistem pencernaan menunjukkan nyeri tekan pada epigastrium akibat somatisasi. Sistem integumen sebagai fokus utama memperlihatkan memar, lecet, atau bekas luka mencederai diri. Sistem muskuloskeletal menunjukkan ketegangan otot pada area leher dan bahu. (Soetjiningsih, 2012)
c. Pengkajian Pola Fungsi Kesehatan
Pola persepsi kesehatan menunjukkan rasa diri tidak berharga. Pola nutrisi terganggu akibat anoreksia atau emotional eating. Pola eliminasi mengalami disfungsi sekunder akibat stres. Pola aktivitas memperlihatkan isolasi diri.
Pola tidur terganggu oleh insomnia dan mimpi buruk. Pola kognitif mengalami penurunan konsentrasi. Pola persepsi diri menunjukkan harga diri rendah kronis. Pola hubungan menunjukkan penarikan diri dari interaksi sosial. (Soetjiningsih, 2012)
2. Diagnosis Keperawatan (Urutan Prioritas)
- D.0080 Ansietas b.d Stresor Traumatik Lingkungan.
- D.0086 Harga Diri Rendah Kronis b.d Riwayat Perundungan Berulang.
- D.0088 Keputusasaan b.d Stresor Kronis Intimidasi.
- D.0121 Isolasi Sosial b.d Trauma Psikologis.
- D.0055 Gangguan Pola Tidur b.d Kecemasan Akut.
- D.0092 Berduka b.d Kehilangan Rasa Aman.
- D.0142 Risiko Perilaku Mencederai Diri Sendiri b.d Ketidakmampuan Koping.
- D.0097 Sindrom Trauma Kekerasan b.d Paparan Perundungan.
- D.0075 Risiko Mutilasi Diri b.d Distres Emosional.
- D.0105 Gangguan Tumbuh Kembang b.d Penganiayaan Psikologis. (PPNI, 2017)
3. Perencanaan Intervensi Keperawatan
Kelompok Diagnosis Prioritas 1-3
Ansietas (D.0080)
- Tujuan & Kriteria Hasil (SLKI – L.09093): Tingkat Ansietas Menurun. Kriteria: Verbalisasi khawatir menurun, perilaku gelisah menurun, konsentrasi membaik.
- Intervensi Utama (SIKI – I.09314): Reduksi Ansietas.
- Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah; monitor tanda-tanda ansietas fisik dan verbal.
- Terapeutik: Ciptakan suasana terapeutik; temani pasien untuk mengurangi kecemasan.
- Edukasi: Jelaskan prosedur intervensi; latih teknik relaksasi napas dalam.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat ansiolitik jika terindikasi. (PPNI, 2018, PPNI, 2019)
Harga Diri Rendah Kronis (D.0087)
- Tujuan & Kriteria Hasil (SLKI – L.09086): Harga Diri Meningkat. Kriteria: Penilaian diri positif meningkat, kontak mata meningkat, verbalisasi merendahkan diri menurun.
- Intervensi Utama (SIKI – I.09274): Promosi Harga Diri.
- Observasi: Monitor verbalisasi yang merendahkan diri sendiri.
- Terapeutik: Diskusikan alasan mengkritik diri; dukung dalam menegaskan kembali kekuatan diri.
- Edukasi: Anjurkan mengevaluasi perilaku diri; latih cara berpikir positif terhadap diri. (PPNI, 2018, PPNI, 2019)
Keputusasaan (D.0096)
- Tujuan & Kriteria Hasil (SLKI – L.09088): Harapan Meningkat. Kriteria: Keterlibatan dalam aktivitas perawatan meningkat, verbalisasi keputusasaan menurun.
- Intervensi Utama (SIKI – I.09260): Dukungan Emosional.
- Observasi: Identifikasi fungsi marah dan frustrasi bagi pasien.
- Terapeutik: Fasilitasi mengungkapkan perasaan cemas atau sedih; berikan sentuhan dukungan terapeutik.
- Edukasi: Anjurkan mengungkapkan perasaan secara verbal. (PPNI, 2018, PPNI, 2019)
Kelompok Diagnosis Prioritas 4-6
Isolasi Sosial (D.0121)
- Tujuan & Kriteria Hasil (SLKI – L.13116): Keterlibatan Sosial Meningkat. Kriteria: Minat interaksi meningkat, perilaku menarik diri menurun.
- Intervensi Utama (SIKI – I.13498): Promosi Sosialisasi.
- Observasi: Identifikasi hambatan melakukan interaksi dengan orang lain.
- Terapeutik: Motivasi meningkatkan keterlibatan dalam hubungan interpersonal.
- Edukasi: Anjurkan berinteraksi dengan orang lain secara bertahap. (PPNI, 2018, PPNI, 2019)
Gangguan Pola Tidur (D.0055)
- Tujuan & Kriteria Hasil (SLKI – L.05045): Pola Tidur Membaik. Kriteria: Keluhan sulit tidur menurun, keluhan sering terbangun menurun.
- Intervensi Utama (SIKI – I.05174): Dukungan Tidur.
- Observasi: Identifikasi pola aktivitas dan tidur.
- Terapeutik: Modifikasi lingkungan; tetapkan jadwal tidur rutin.
- Edukasi: Jelaskan pentingnya tidur cukup selama masa pemulihan. (PPNI, 2018, PPNI, 2019)
Berduka (D.0092)
- Tujuan & Kriteria Hasil (SLKI – L.09082): Tingkat Berduka Membaik. Kriteria: Verbalisasi menerima kehilangan meningkat, reaksi depresi menurun.
- Intervensi Utama (SIKI – I.09268): Dukungan Proses Berduka.
- Observasi: Identifikasi proses berduka yang dialami.
- Terapeutik: Tunjukkan sikap menerima dan empati; fasilitasi mengidentifikasi ketakutan.
- Edukasi: Ajarkan melewati proses berduka secara bertahap. (PPNI, 2018, PPNI, 2019)
Kelompok Diagnosis Prioritas 7-10
Risiko Perilaku Mencederai Diri Sendiri (D.0142)
- Tujuan & Kriteria Hasil (SLKI – L.14138): Kontrol Diri Meningkat. Kriteria: Perilaku mencederai diri menurun, dorongan mencederai diri menurun.
- Intervensi Utama (SIKI – I.14538): Pencegahan Perilaku Mencederai Diri.
- Observasi: Monitor dorongan mencederai diri sendiri; amati lingkungan sekitar.
- Terapeutik: Singkirkan benda berbahaya dari jangkauan pasien; berikan lingkungan aman.
- Edukasi: Ajarkan koping adaptif pengganti perilaku destruktif. (PPNI, 2018, PPNI, 2019)
Sindrom Trauma Kekerasan (D.0097)
- Tujuan & Kriteria Hasil (SLKI – L.09089): Pemulihan Trauma Meningkat. Kriteria: Pemulihan dari ingatan traumatik meningkat, kecemasan kilas balik menurun.
- Intervensi Utama (SIKI – I.09265): Manajemen Stress Pasca Trauma.
- Observasi: Identifikasi respons trauma mendalam.
- Terapeutik: Berikan rasa aman mutlak; bantu mengenali pemicu trauma.
- Edukasi: Ajarkan teknik reorientasi realita jika kilas balik terjadi. (PPNI, 2018, PPNI, 2019)
Risiko Mutilasi Diri (D.0075)
- Tujuan & Kriteria Hasil (SLKI – L.14138): Kontrol Diri Meningkat. Kriteria: Perilaku melukai anggota tubuh menurun.
- Intervensi Utama (SIKI – I.14539): Manajemen Perilaku Melukai Diri.
- Observasi: Identifikasi pemicu perilaku mutilasi diri.
- Terapeutik: Buat kontrak perilaku aman tanpa melukai diri.
- Edukasi: Latih penyaluran emosi negatif secara fisik yang aman. (PPNI, 2018, PPNI, 2019)
Gangguan Tumbuh Kembang (D.0105)
- Tujuan & Kriteria Hasil (SLKI – L.10101): Status Perkembangan Membaik. Kriteria: Keterampilan sesuai usia meningkat, kemandirian meningkat.
- Intervensi Utama (SIKI – I.10339): Promosi Perkembangan Anak/Remaja.
- Observasi: Identifikasi pencapaian tugas perkembangan.
- Terapeutik: Dukung interaksi dengan kelompok sebaya yang aman.
- Edukasi: Berikan edukasi pada orang tua mengenai fasilitasi tumbuh kembang tanpa intimidasi. (PPNI, 2018, PPNI, 2019)
4. Implementasi Keperawatan
Melaksanakan implementasi keperawatan secara berkesinambungan sesuai dengan rencana intervensi SIKI yang telah tetap. Tindakan berfokus pada pendekatan psikotherapeutik, pengamanan lingkungan fisik dan psikologis pasien dari pemicu perundungan, pemenuhan kebutuhan kognitif-emosional, serta kolaborasi pemberian terapi farmakologis jika terindikasi. (PPNI, 2019)
5. Evaluasi Keperawatan
Melakukan evaluasi keperawatan dengan metode SOAP untuk mengukur keberhasilan kriteria hasil SLKI:
- S (Subjektif): Pasien mengungkapkan penurunan tingkat kecemasan, hilangnya kilas balik trauma, dan berani mengekspresikan pikiran positif.
- O (Objektif): Kontak mata adekuat, tanda vital normal, perilaku gelisah hilang, serta tidak ada tanda mencederai diri.
- A (Analisis): Masalah keperawatan teratasi.
- P (Planning): Pertahankan koping adaptif dan jadwalkan sesi tindak lanjut. (PPNI, 2018)
Daftar Pustaka
American Psychological Association. (2015). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (5th ed.). Washington, DC: APA.
Borualogo, I. S., & Murniati, M. M. (2021). Perundungan dan Kesejahteraan Subjektif Anak di Indonesia. Jurnal Psikologi Sosial, 19(2), 115-125. journal.jps.or.id/index.php/jps/article/view/180
Chan, H. C., & Wong, D. S. (2015). Cyberbullying in Chinese Societies. International Journal of Offender Therapy and Comparative Criminology, 59(12), 1298-1317. journals.sagepub.com/doi/10.1177/0306624X14533657
Coloroso, B. (2007). Stop Bullying: Memutus Rantai Kekerasan Anak. Jakarta: Serambi Ilmu Manga.
Hawker, D. S., & Boulton, M. J. (2000). Peer Victimization and Psychosocial Maladjustment. Journal of Child Psychology and Psychiatry, 41(4), 441-455. bpspsychub.onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1111/1469-7610.00629
Koo, H. (2012). Bullying in South Korea and Australia. Educational Research, 54(4), 433-448. tandfonline.com/doi/abs/10.1080/00131881.2012.734731
Olweus, D. (1993). Bullying at School: What We Know and What We Can Do. Oxford: Blackwell Publishers.
PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. (2019). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
Rigby, K. (2002). New Perspectives on Bullying. London: Jessica Kingsley Publishers.
Setyawan, A. (2019). Dampak Cyberbullying pada Remaja. Jurnal Keperawatan Jiwa, 7(1), 45-52. jurnal.unimus.ac.id/index.php/JKJ/article/view/4512
Soetjiningsih. (2012). Tumbuh Kembang Anak dan Remaja. Jakarta: Sagung Seto.
Takizawa, R., Maughan, B., & Arsenault, L. (2014). Adult Health Outcomes of Childhood Bullying. American Journal of Psychiatry, 171(7), 777-784. ajp.psychiatryonline.org/doi/10.1176/appi.ajp.2014.13101401
WHO. (2020). Preventing Violence Through Schools. Geneva: World Health Organization.

Tinggalkan Balasan