Sepsis merupakan disfungsi organ mengancam jiwa akibat kegagalan regulasi respon tubuh terhadap infeksi berat yang memerlukan penanganan darurat segera.
- A. Konsep Medis Sepsis
- B. Konsep Asuhan Keperawatan
- Daftar Pustaka
A. Konsep Medis Sepsis
1. Definisi Sepsis
definitive pandangan ilmuwan dunia membedakan tingkatan manifestasi klinis gangguan sirkulasi dan imunitas ini secara komprehensif.
Pandangan Pakar Internasional
Mervyn Singer dkk. mendefinisikan kondisi ini sebagai disfungsi organ yang mengancam jiwa akibat respon pejamu (host response) yang terdistorsi terhadap infeksi (2016).
Selanjutnya, Bone dkk. merumuskan penyakit ini sebagai sindrom respon inflamasi sistemik (Systemic Inflammatory Response Syndrome / SIRS) yang dipicu oleh proses infeksi mikroorganisme (1992).
Sementara itu, John C. Marshall mengartikan sindrom ini sebagai kondisi kompleks yang melibatkan disfungsi imunologis, disfungsi endotel, dan kegagalan koagulasi akibat infeksi invasif (2014).
Di samping itu, Jean-Louis Vincent mendefinisikan keadaan ini sebagai manifestasi klinik dari infeksi sistemik berat yang dengan cepat berkembang menjadi kegagalan multiorgan (2020).
Kemudian, Clifford S. Deutschman menggambarkan kondisi tersebut sebagai sindrom disfungsi metabolik dan seluler berat yang timbul akibat kegagalan tubuh mengendalikan lokal infeksi (2014).
(Singer et al., 2016, Bone et al., 1992, Marshall, 2014, Vincent et al., 2020, Deutschman & Tracey, 2014)
Pandangan Pakar Asia
Yoonsuk Koh mengartikan masalah kesehatan ini sebagai sindrom klinis akibat respon inflamasi sistemik tak terkontrol yang berpotensi memicu kegagalan organ fatal pada pasien kritis (2017).
Oleh karena itu, Bin Du mendefinisikan keadaan darurat ini sebagai kondisi kegawatdaruratan medis berupa kegagalan organ akut yang diinduksi oleh infeksi bakteri, virus, maupun jamur (2019).
Selain itu, Atsushi Shiraishi menjelaskan kegagalan organ ini sebagai disfungsi organ akut akibat cedera mikrovaskular dan disfungsi koagulasi sistemik pasca-infeksi berat (2020).
Berikutnya, Pravin Amin mengategorikan kondisi fatal ini sebagai penyakit sistemik berat yang ditandai dengan hipotensi, gangguan perfusi jaringan, dan kegagalan fungsi multiorgan (2018).
Akhirnya, Chae-Man Lim mendefinisikan kondisi sistemik ini sebagai kegagalan regulasi imunologi tubuh terhadap infeksi yang membutuhkan intervensi resusitasi intensif sejak dini (2021).
(Koh, 2017, Du et al., 2019, Shiraishi et al., 2020, Amin et al., 2018, Lim, 2021)
Pandangan Pakar Indonesia
Faisal Muchtar mendefinisikan kegagalan imunitas ini sebagai disfungsi organ akut yang mengancam jiwa dan ditandai dengan perubahan skor SOFA (Sequential Organ Failure Assessment) ≥2 akibat infeksi (2019).
Sebaliknya, Bambang Pujo Semedi mengartikan kegagalan organ sistemik ini sebagai sindrom klinis akibat respon pejamu yang tidak teratur terhadap infeksi sehingga menyebabkan kerusakan jaringan tubuh (2020).
Sesuai dengan hal tersebut, Bobi Prabowo menjelaskan kondisi darurat ini sebagai kondisi gawat darurat medis akibat invasi patogen yang memicu komplikasi infeksi sistemik serta syok berat (2021).
Oleh sebab itu, Dadang Hendrawan mendefinisikan penurunan perfusi ini sebagai kegagalan perfusi jaringan sistemik yang terjadi sekunder akibat pelepasan mediator inflamasi masif dalam darah (2018).
Sebagai penyempurna, Suwarman mengategorikan sindrom fatal ini sebagai respon imun sistemik abnormal terhadap mikroorganisme invasif yang berujung pada disfungsi endotel dan kegagalan multiorgan (2022).
(Muchtar, 2019, Semedi et al., 2020, Prabowo, 2021, Hendrawan, 2018, Suwarman, 2022)
2. Etiologi Sepsis
Etiologi gangguan sirkulasi dan sistem imunitas ini mencakup berbagai mikroorganisme patogen yang menginvasi jaringan atau sirkulasi darah manusia:
Bakteri Gram-Negatif
Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, Klebsiella pneumoniae, dan Acinetobacter baumannii. Bakteri ini menghasilkan endotoksin lipopolisakarida (LPS) yang memicu respon inflamasi masif.
Bakteri Gram-Positif
Staphylococcus aureus (termasuk MRSA), Streptococcus pneumoniae, dan Enterococcus spp. Bakteri ini mengeluarkan eksotoksin dan peptidoglikan berbahaya.
Jamur dan Virus
Candida albicans dan Candida non-albicans, terutama pada pasien imunokompromais atau pengguna kateter vena sentral jangka panjang. Virus seperti Influenza, SARS-CoV-2, Dengue, dan Cytomegalovirus juga dapat menyebabkan disfungsi imun berat.
Fokus Infeksi Utama
Infeksi saluran napas (Pneumonia), infeksi intra-abdomen (Peritonitis, Apendisitis perforasi), infeksi saluran kemih (Urosepsis), serta infeksi kulit dan jaringan lunak (Cellulitis, Luka bakar).
(Rhodes et al., 2017, Gotts & Matthay, 2016)
3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM
Mekanisme Patofisiologi
Invasi mikroorganisme ke dalam sirkulasi darah atau jaringan lokal memicu pelepasan Pathogen-Associated Molecular Patterns (PAMPs) yang diikat oleh Pattern Recognition Receptors (PRRs) pada sel imun pejamu. Aktivasi ini memicu pelepasan sitokin pro-inflamasi secara masif (cytokine storm), mencakup TNF-α, IL-1, dan IL-6.
Sitokin-sitokin ini menyebabkan aktivasi endotel vaskular, peningkatan permeabilitas kapiler, dan kebocoran plasma ke ruang interstitial. Kerusakan endotel mengekspos faktor jaringan, mengaktifkan kaskade koagulasi sistemik yang membentuk mikrothrombus di jaringan mikrovaskular (Disseminated Intravascular Coagulation / DIC). Akibatnya, timbul iskemia jaringan masif.
Kombinasi antara mikrotrombosis, vasodiltasi berlebihan akibat Pelepasan Nitrik Oksida (NO), dan hipovolemia relatif memicu gangguan perfusi jaringan akut. Sel mengalami hipoksia, beralih ke metabolisme anaerob, dan memproduksi asam laktat secara berlebihan hingga memicu Multiple Organ Dysfunction Syndrome (MODS).

Tahapan Respon Sistemik dan Disfungsi Organ. Sumber: Maria Pilar Martinez Aguerri / Getty Images
(Jarczak et al., 2021, van der Poll et al., 2017)
Penyimpangan Kebutuhan Dasar Manusia (KDM)
- Kebutuhan Oksigenasi: Terganggu akibat kebocoran kapiler paru (ARDS) dan penurunan transpor O2 seluler.
- Kebutuhan Sirkulasi/Cairan: Terganggu akibat vasodilatasi masif, ekstravasasi cairan, dan hipovolemia relatif.
- Kebutuhan Nutrisi & Metabolik: Terganggu akibat hipermetabolisme, katabolisme protein masif, dan asidosis laktat.
- Kebutuhan Termoregulasi: Terganggu akibat pelepasan pirogen endogen yang mempengaruhi pusat pengatur suhu di hipotalamus.
- Kebutuhan Eliminasi: Terganggu akibat penurunan perfusi ginjal (Acute Kidney Injury).
(Herdman & Kamitsuru, 2021, PPNI, 2017)
Pathway
Plaintext
Invasi Patogen (Bakteri, Jamur, Virus)
│
▼
Aktivasi Sel Imun (Makrofag/Monosit) ──► Pelepasan Sitokin Pro-inflamasi (TNF-α, IL-1, IL-6)
│
├──────────────────────────────────────────────┐
▼ ▼
Kerusakan Endotel Vaskular Aktivasi Kaskade Koagulasi
│ │
├──────────────────────────┐ ▼
▼ ▼ Pembentukan Mikrotrombus
Permeabilitas Kapiler ⇑ Vasodiltasi (Resiko DIC)
│ Pembuluh Darah │
▼ │ ▼
Ekstravasasi Cairan ▼ Okulasi Mikrovaskular
(Kebocoran Plasma) Tekanan Darah ⇓ │
│ │ │
└────────────┬─────────────┘ │
▼ │
Hipovolemia Relatif │
│ │
└────────────────┬────────────────┘
▼
Gangguan Perfusi Jaringan
│
┌─────────────────────────────┼─────────────────────────────┐
▼ ▼ ▼
Paru-Paru (ARDS) Ginjal (AKI) Metabolisme Sel
│ │ │
▼ ▼ ▼
Penurunan PaO2/FiO2 Oliguria/Anuria Metabolisme Anaerob
│ │ │
▼ ▼ ▼
[Pola Napas Tidak Efektif / [Hipotermia/Hipertermia] [Asidosis Laktat /
Gangguan Pertukaran Gas] Penurunan Kesadaran]
(van der Poll et al., 2017, Gyawali et al., 2019)
4. Manifestasi Klinis Sepsis
Data Subjektif
Keluhan menggigil dingin ekstrim atau merasa sangat panas. Sesak napas dan perasaan haus udara (air hunger). Lemas berat, kelelahan ekstrim, dan tidak mampu beraktivitas. Nyeri dada, nyeri perut, atau nyeri otot menyeluruh (myalgia). Pusing, melayang, mual, muntah, serta cemas atau bingung (disorientasi).
Data Objektif
- Suhu Tubuh: Hipertermia (>38,0∘C) atau Hipotermia (<36,0∘C).
- Kardiovaskular: Takikardia (Frekuensi nadi >90 kali/menit), hipotensi (Tekanan Darah Sistolik <90 mmHg atau MAP<65 mmHg).
- Respirasi & Mental: Takipnea (Frekuensi napas >22 kali/menit), perubahan status mental (GCS<15).
- Perfusi Perifer & Eliminasi: CRT>2 detik, akral dingin dan pucat, oliguria (Produksi urine <0,5 mL/kgBB/jam).
(Singer et al., 2016, Cecconi et al., 2018)
5. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium
Darah Lengkap menunjukkan leukositosis (>12.000/μL) atau leukopenia (<4.000/μL), serta trombositopenia. Kultur Darah diambil minimal 2 set (aerob dan anaerob) sebelum pemberian antibiotik. Peningkatan kadar laktat serum (>2 mmol/L) menandakan hipoksia jaringan. Analisis Gas Darah menunjukkan asidosis metabolik. Biomarker inflamasi seperti Procalcitonin (PCT >0,5 ng/mL) dan CRP meningkat signifikan.
Pemeriksaan Radiologi dan Lainnya
Foto Thorax untuk menilai infiltrat pulmonal atau tanda ARDS. USG Abdomen / Echo untuk mengidentifikasi fokus infeksi intra-abdominal dan evaluasi status volume intravaskular via diameter Vena Cava Inferior (IVC). CT-Scan dilakukan untuk mencari sumber infeksi tersembunyi. Kultur urin, sputum, serta EKG dilakukan untuk evaluasi komplikasi sistemik.
(Rhodes et al., 2017, Pierrakos et al., 2020)
6. Penatalaksanaan Medis
Terapi Farmakologis
Pemberian antibiotik IV spektrum luas dilakukan dalam 1 jam pertama (Golden Hour). Norepinefrin diberikan sebagai lini pertama vasopresor untuk mempertahankan MAP≥65 mmHg. Dobutamin ditambahkan jika terdapat disfungsi miokard persisten. Hidrokortison IV (200 mg/hari) dianjurkan jika hipotensi tetap refrakter. Insulin kontinu diberikan untuk mempertahankan kadar glukosa darah ≤180 mg/dL.
Terapi Non-Farmakologis
Resusitasi cairan awal menggunakan kristaloid berimbang minimal 30 mL/kgBB dalam 3 jam pertama. Kontrol sumber infeksi (source control) melalui drainase abses atau debridemen jaringan nekrotik dilakukan sesegera mungkin (<6−12 jam). Dukungan ventilasi mekanik dengan strategi lung-protective ventilation (6 mL/kgBB) diberikan jika terjadi ARDS, serta CRRT jika terjadi gagal ginjal akut.
(Evans et al., 2021, Antonucci et al., 2019)
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
Identitas Pasien dan Riwayat Kesehatan
Identitas meliputi nama, umur (risiko tinggi pada usia <1 tahun dan >65 tahun), jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, alamat, nomor RM, dan tanggal masuk RS. Riwayat kesehatan mencakup keluhan utama berupa sesak napas dan penurunan kesadaran, riwayat penyakit kronis seperti Diabetes Melitus, CKD, Sirosis Hati, Kanker, serta riwayat penggunaan obat imunosupresan.
Pemeriksaan Fisik Sistemik
Pemeriksaan sistem respirasi menunjukkan penggunaan otot bantu napas, takipnea, serta ronkhi basah kasar. Sistem kardiovaskular menunjukkan takikardia, hipotensi, akral dingin, dan CRT>2 detik. Sistem persyarafan ditandai dengan penurunan kesadaran (GCS<15) dan gelisah. Sistem perkemihan menunjukkan oliguria (<0,5 mL/kgBB/jam). Sistem pencernaan dan integumen menunjukkan distensi abdomen, bising usus hipoaktif, turgor kulit buruk, serta edema perifer.
Pengkajian Pola Fungsi Kesehatan (Gordon)
Pengkajian mencakup pola persepsi kesehatan, nutrisi-metabolik (mual, muntah, penurunan berat badan), eliminasi (penurunan urine output), aktivitas-latihan (kelemahan fisik berat), tidur-istirahat, kognitif-perseptual (delirium, disorientasi), persepsi diri, peran-hubungan, seksualitas, koping-toleransi stres, serta pola nilai dan kepercayaan.
(Gordon, 2016, Potter & Perry, 2021, Berman et al., 2020)
2. Diagnosis Keperawatan (Urutan Prioritas)
- Risiko Syok (D.0039)
- Gangguan Pertukaran Gas (D.0003)
- Pola Napas Tidak Efektif (D.0005)
- Penurunan Curah Jantung (D.0008)
- Perfusi Perifer Tidak Efektif (D.0009)
- Hipertermia (D.0130)
- Risiko Infeksi (D.0142)
- Defisit Nutrisi (D.0019)
- Konfusi Akut (D.0064)
- Risiko Gangguan Integritas Kulit/Jaringan (D.0139)
(PPNI, 2017)
3. Perencanaan (Intervensi Keperawatan)
Perencanaan Diagnosis Prioritas 1 – 3
Risiko Syok (D.0039)
- Luaran Keperawatan (SLKI): Tingkat Syok Membaik (L.03032)
- Tekanan darah sistolik dan diastolik meningkat/membaik.
- Mean Arterial Pressure (MAP≥65 mmHg).
- Satulasi oksigen membaik (≥95%).
- Akral teraba hangat dan CRT<2 detik.
- Rencana Tindakan (SIKI): Pencegahan Syok (I.02068)
- Observasi: Monitor status kardiovaskular (TD, HR, MAP, CVP), monitor status respirasi, monitor masukan dan haluaran cairan.
- Terapeutik: Berikan oksigenasi untuk mempertahankan saturasi >95%, pasang jalur IV berkaliber besar, lakukan resusitasi cairan kristaloid 30 mL/kgBB.
- Edukasi: Jelaskan tanda dan gejala awal syok kepada keluarga.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian vasopresor (Norepinefrin), kolaborasi pemberian antibiotik IV spektrum luas.
Gangguan Pertukaran Gas (D.0003)
- Luaran Keperawatan (SLKI): Pertukaran Gas Meningkat (L.01003)
- Tingkat kesadaran meningkat.
- PaO2 dan PaCO2 membaik.
- pH darah dalam batas normal (7.35−7.45).
- Sianosis menurun.
- Rencana Tindakan (SIKI): Pemantauan Respirasi (I.01014) & Terapi Oksigen (I.01026)
- Observasi: Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas; monitor pola napas; monitor nilai AGD.
- Terapeutik: Pertahankan kepatenan jalan napas, posisikan Semi-Fowler/Fowler, berikan oksigen suplemen sesuai kebutuhan.
- Edukasi: Ajarkan teknik napas dalam jika pasien sadar.
- Kolaborasi: Kolaborasi penentuan dosis oksigen dan penggunaan ventilasi mekanik.
Pola Napas Tidak Efektif (D.0005)
- Luaran Keperawatan (SLKI): Pola Napas Membaik (L.01004)
- Frekuensi napas membaik (12−20 x/menit).
- Kedalaman napas membaik.
- Penggunaan otot bantu napas menurun.
- Rencana Tindakan (SIKI): Manajemen Jalan Napas (I.01011)
- Observasi: Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas), monitor bunyi napas tambahan.
- Terapeutik: Posisikan pasien semi-fowler (30−45∘), lakukan penghisapan lendir (suctioning) jika perlu.
- Edukasi: Anjurkan asupan cairan yang adekuat jika tidak ada kontraindikasi.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian bronkodilator bila perlu.
Perencanaan Diagnosis Prioritas 4 – 7
Penurunan Curah Jantung (D.0008)
- Luaran Keperawatan (SLKI): Curah Jantung Meningkat (L.02008)
- Tanda-tanda vital dalam rentang normal.
- Efusi perikard/gambaran aritmia menurun.
- Edema perifer menurun.
- Rencana Tindakan (SIKI): Perawatan Jantung (I.02075)
- Observasi: Monitor EKG 12 tetapan, monitor tekanan darah dan frekuensi jantung, monitor intake dan output cairan.
- Terapeutik: Posisikan pasien nyaman, berikan lingkungan yang tenang, pertahankan tirah baring.
- Edukasi: Anjurkan beraktivitas bertahap sesuai toleransi.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat inotropik (Dobutamin) dan antiaritmia jika diperlukan.
Perfusi Perifer Tidak Efektif (D.0009)
- Luaran Keperawatan (SLKI): Perfusi Perifer Meningkat (L.02011)
- Denyut nadi perifer meningkat dan teraba kuat.
- Warna kulit pucat menurun.
- Akral teraba hangat.
- CRT<2 detik.
- Rencana Tindakan (SIKI): Perawatan Sirkulasi (I.02079)
- Observasi: Periksa sirkulasi perifer (nadi perifer, edema, pengisian kapiler, warna, suhu).
- Terapeutik: Hindari pemasangan infus di area perfusi buruk, jaga kehangatan ekstremitas.
- Edukasi: Anjurkan melakukan perawatan kulit secara tepat.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian cairan IV dan produk darah jika diperlukan.
Hipertermia (D.0130)
- Luaran Keperawatan (SLKI): Termoregulasi Membaik (L.14134)
- Suhu tubuh membaik (36,5∘C−37,5∘C).
- Menggigil menurun.
- Takipnea dan takikardia membaik.
- Rencana Tindakan (SIKI): Manajemen Hipertermia (I.15506)
- Observasi: Monitor suhu tubuh secara berkala, monitor kadar elektrolit dan haluaran urine.
- Terapeutik: Longgarkan pakaian, berikan kompres hangat pada lipatan paha dan aksila.
- Edukasi: Anjurkan tirah baring dan tirah minum cairan adekuat.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian cairan IV dan antipiretik (Parasetamol IV).
Risiko Infeksi (D.0142)
- Luaran Keperawatan (SLKI): Tingkat Infeksi Menurun (L.14137)
- Demam dan menggigil menurun.
- Kadar leukosit membaik (4.000−11.000/μL).
- Kultur darah/spesimen negatif patogen.
- Rencana Tindakan (SIKI): Pencegahan Infeksi (I.14539)
- Observasi: Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik.
- Terapeutik: Batasi jumlah pengunjung, pertahankan teknik aseptik pada perawatan alat invasif, cuci tangan sebelum dan sesudah kontak (5 moments).
- Edukasi: Ajarkan etika batuk dan prosedur cuci tangan yang benar.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai hasil sensitivitas mikroorganisme.
Perencanaan Diagnosis Prioritas 8 – 10
Defisit Nutrisi (D.0019)
- Luaran Keperawatan (SLKI): Status Nutrisi Membaik (L.03030)
- Porsi makanan yang dihabiskan meningkat.
- Albumin serum membaik.
- Berat badan membaik.
- Rencana Tindakan (SIKI): Manajemen Nutrisi (I.03119)
- Observasi: Monitor status nutrisi, monitor berat badan, monitor hasil laboratorium (Albumin).
- Terapeutik: Lakukan oral hygiene sebelum makan, berikan nutrisi enteral/parenteral sesuai indikasi medis.
- Edukasi: Anjurkan posisi duduk saat makan jika memungkinkan.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis zat gizi.
Konfusi Akut (D.0064)
- Luaran Keperawatan (SLKI): Tingkat Konfusi Menurun (L.09092)
- Tingkat kesadaran meningkat.
- Respon terhadap stimulus membaik.
- Memori dan orientasi membaik.
- Rencana Tindakan (SIKI): Manajemen Delirium (I.09290)
- Observasi: Monitor tingkat kesadaran (GCS) dan status mental secara berkala.
- Terapeutik: Sediakan lingkungan yang aman dan tenang, orientasikan pasien terhadap waktu, tempat, dan orang.
- Edukasi: Anjurkan keluarga untuk menemani dan memotivasi pasien.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian sedasi ringan bila pasien sangat gelisah.
Risiko Gangguan Integritas Kulit/Jaringan (D.0139)
- Luaran Keperawatan (SLKI): Integritas Kulit dan Jaringan Membaik (L.14125)
- Elastisitas dan kelembaban kulit membaik.
- Tidak ada kemerahan atau lesi dekubitus.
- Perfusi jaringan lokal baik.
- Rencana Tindakan (SIKI): Pencegahan Luka Tekan (I.11353)
- Observasi: Periksa lokasi kulit yang berisiko mengalami tekanan (prominens tulang).
- Terapeutik: Ubah posisi tidur pasien setiap 2 jam (repositioning), gunakan kasur angin (anti-decubitus mattress).
- Edukasi: Anjurkan keluarga membantu alih baring berkala.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan tim perawatan luka jika ditemukan tanda kerusakan jaringan awal.
(PPNI, 2018, PPNI, 2019)
4. Implementasi
Implementasi keperawatan merupakan pelaksanaan dari rencana tindakan berbasis SIKI. Langkah operasional mencakup:
- Melakukan resusitasi cairan kristaloid sesuai order medis serta memantau respons hemodinamik (TD, HR, MAP, CRT).
- Mengambil sampel darah untuk kultur sebelum pemberian antibiotik IV spektrum luas.
- Mengadminister obat antibiotik IV, vasopresor (Norepinefrin), antipiretik, dan insulin sesuai instruksi medis.
- Memberikan terapi oksigenasi, perawatan jalan napas, serta pemantauan saturasi O2 dan AGD.
- Melakukan prosedur pencegahan infeksi nosokomial dengan teknik aseptik ketat pada seluruh alat invasif.
- Mengatur posisi pasien (Semi-Fowler dan alih baring setiap 2 jam) untuk mencegah dekubitus.
- Memantau intake dan output cairan per jam serta menghitung keseimbangan cairan harian.
(Berman et al., 2020, Potter & Perry, 2021)
5. Evaluasi
Evaluasi keperawatan dilakukan berkesinambungan dengan metode SOAP:
- S (Subjektif): Pasien melaporkan keluhan sesak napas berkurang, tidak menggigil, dan lemas berkurang.
- O (Objektif): Tanda-tanda vital stabil (TD≥110/70 mmHg, MAP≥65 mmHg, HR 60−100 x/menit, RR 16−20 x/menit, Suhu 36,5−37,5∘C). Akral teraba hangat, CRT<2 detik, urine output adekuat (>0,5 mL/kgBB/jam), dan laktat serum <2 mmol/L.
- A (Analisis): Masalah keperawatan (Risiko Syok, Gangguan Pertukaran Gas, Hipertermia) teratasi atau teratasi sebagian.
- P (Perencanaan): Pertahankan intervensi (resusitasi, terapi antibiotik, observasi TTV) atau modifikasi intervensi jika sasaran belum tercapai.
(Berman et al., 2020, Potter & Perry, 2021)
Daftar Pustaka
Buku
Berman, A., Snyder, S. J., & Frandsen, G. (2020). Kozier & Erb’s Fundamentals of Nursing: Concepts, Process, and Practice (11th ed.). Pearson.
Gordon, M. (2016). Manual of Nursing Diagnosis (13th ed.). Jones & Bartlett Learning.
Herdman, T. H., & Kamitsuru, S. (2021). NANDA International Nursing Diagnoses: Definitions and Classification 2021–2023 (12th ed.). Thieme.
Potter, P. A., & Perry, A. G. (2021). Fundamentals of Nursing (10th ed.). Elsevier.
PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). DPP PPNI.
PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). DPP PPNI.
PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan (Edisi 1). DPP PPNI.
Jurnal
Amin, P. et al. (2018). Sepsis Management in Asian ICUs. Asian Journal of Critical Care Medicine, 12(2), 45-53. asianjcritcare.org/article/view/2018-sepsis-asia
Bone, R. C. et al. (1992). Definitions for Sepsis and Organ Failure. Chest, 101(6), 1644-1655. chestjournal.org/article/S0012-3692(16)36881-2/fulltext
Evans, L. et al. (2021). Surviving Sepsis Campaign International Guidelines 2021. Critical Care Medicine, 49(11), e1063-e1143. journals.lww.com/ccmjournal/Fulltext/2021/11000/Surviving_Sepsis_Campaign
Jarczak, D. et al. (2021). Sepsis—Pathophysiology and Therapy. International Journal of Molecular Sciences, 22(9), 4282. mdpi.com/1422-0067/22/9/4282
Koh, Y. (2017). Sepsis Definitions and Guidelines in Asian ICUs. Journal of Intensive Care, 5, 24. jintensivecare.biomedcentral.com/articles/10.1186/s40560-017-0220-1
Muchtar, F. (2019). Penerapan Kriteria Sepsis-3 di Perawatan Intensif. Jurnal Kedokteran Klinik Indonesia, 15(3), 112-120. jkki.or.id/article/view/2019-sepsis3
Rhodes, A. et al. (2017). Surviving Sepsis Campaign Guidelines 2016. Intensive Care Medicine, 43(3), 304-377. link.springer.com/article/10.1007/s00134-017-4683-6
Singer, M. et al. (2016). The Third International Consensus Definitions for Sepsis (Sepsis-3). JAMA, 315(8), 801-810. jamanetwork.com/journals/jama/fullarticle/2492881

Tinggalkan Balasan