Kesepian kronis merupakan kondisi distres psikososial berkepanjangan akibat ketidaksesuaian antara hubungan sosial yang diinginkan dan kenyataan.
- A. Konsep Medis Kesepian Kronis
- B. Konsep Asuhan Keperawatan
- Daftar Pustaka
A. Konsep Medis Kesepian Kronis
1. Definisi Kesepian Kronis
Definisi Dari Pakar Internasional
Peplau dan Perlman mendefinisikan kondisi ini sebagai persepsi subjektif individu mengenai defisit hubungan sosial yang berlangsung dalam jangka panjang dan menimbulkan penderitaan emosional berat (1981).
Selanjutnya, Cacioppo dan Hawkley mengartikan keadaan ini sebagai bentuk isolasi sosial yang dirasakan secara persisten hingga memicu persepsi ancaman sosial serta gangguan fungsi psikobiologis (2009).
Selain itu, Weiss menjelaskan fenomena ini sebagai kombinasi dari isolasi emosional akibat hilangnya figur lekat dan isolasi sosial akibat ketiadaan jaringan komunitas (1973).
Sementara itu, Rokach menegaskan bahwa perasaan ini mencakup pengalaman menyakitkan yang pervasif, mencakup penarikan diri, krisis eksistensial, serta perasaan tidak berharga secara berkelanjutan (2000).
Akhirnya, Qualter et al. merumuskan masalah ini sebagai sinyal adaptif yang gagal terselesaikan, sehingga berubah menjadi keadaan afektif negatif berkepanjangan yang merusak kesejahteraan psikologis (2015). (Peplau & Perlman, 1981, Weiss, 1973, Rokach, 2000, Cacioppo & Hawkley, 2009, Qualter et al., 2015)
Definisi Pakar Asia
Kim dan Lee mengartikan keadaan ini sebagai perasaan terisolasi secara terus-menerus yang diperberat oleh norma budaya kolektif saat harapan keterikatan sosial gagal terpenuhi (2014).
Berikutnya, Saito dan Shinfuku mendeskripsikan kondisi tersebut sebagai keadaan penarikan diri sosial tingkat lanjut yang berkaitan erat dengan fenomena hikikomori dan pengasingan diri emosional (2008).
Sementara itu, Chen dan Feeley mendefinisikan fenomena ini sebagai persepsi kekurangan dukungan sosial afektif yang menetap pada lansia pada lingkungan perkotaan Asia (2014).
Lebih lanjut, Teo et al. menekankan bahwa ketiadaan interaksi sosial bermakna jangka panjang menyebabkan distres psikologis berat pada kelompok usia produktif maupun lanjut (2013).
Kemudian, Wong et al. memaparkan masalah tersebut sebagai persepsi pengabaian sosial yang memicu penurunan kualitas hidup secara klinis pada populasi pascastrok (2017). (Saito & Shinfuku, 2008, Teo et al., 2013, Chen & Feeley, 2014, Kim & Lee, 2014, Wong et al., 2017)
Definisi Pakar Indonesia
Hawari menjelaskan fenomena tersebut sebagai gangguan perasaan terisolasi dan tidak diperhatikan yang berlangsung berbulan-bulan serta memicu depresi atau kecemasan pada individu (2011).
Oleh karena itu, Nihayati dan Febriani merumuskan keadaan ini sebagai persepsi keasingan sosial yang bertahan lama akibat ketiadaan sistem pendukung dari keluarga dan lingkungan sekitar (2017).
Dengan demikian, Setyoadi dan Kushariyadi mengartikan kondisi ini sebagai bentuk kegagalan pemenuhan kebutuhan psikososial lansia yang berdampak negatif pada kesehatan fisik dan mental (2011).
Sebagai tambahan, Sunaryo mendefinisikan gangguan ini sebagai stres emosional berkelanjutan yang bersumber dari ketidakmampuan individu membina hubungan antarpribadi secara memuaskan (2014).
Pada akhirnya, Yusuf, Fitryasari, dan Nihayati menegaskan keadaan tersebut sebagai fenomena distres emosional menetap yang sering menyertai hambatan interaksi sosial dan isolasi sosial (2015). (Hawari, 2011, Setyoadi & Kushariyadi, 2011, Sunaryo, 2014, Yusuf, Fitryasari, & Nihayati, 2015, Nihayati & Febriani, 2017)
2. Etiologi Kesepian Kronis
Faktor pemicu masalah ini bersifat multifaktorial, meliputi aspek psikologis, sosial, biologis, dan lingkungan.
Faktor Psikologis dan Sosiodemografi
Secara psikologis, riwayat trauma interpersonal, depresi berat, gangguan kepribadian, dan low self-esteem menjadi pemicu utama. Selain itu, aspek sosiodemografi seperti status janda/duda, hidup sendirian, kemiskinan, serta tingkat pendidikan yang rendah turut memperberat kondisi. (Courtin & Knapp, 2017)
Faktor Biologis dan Lingkungan
Di samping itu, keterbatasan fisik seperti gangguan mobilitas, penyakit kronis, dan penurunan fungsi sensorik membatasi interaksi sosial. Kendala lingkungan seperti stigma sosial, migrasi, dan isolasi geografis semakin memperburuk keadaan. (Cacioppo & Cacioppo, 2018)
3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM
Mekanisme Biologis
Stres psikososial persisten mengaktivasi aksis Hypothalamic-Pituitary-Adrenal (HPA) dan Sistem Saraf Simpatis (SNS), yang memicu peningkatan hormon kortisol dan katekolamin. Akibatnya, timbul Glucocorticoid Receptor Resistance (GCR) yang mengganggu regulasi inflamasi. Oleh sebab itu, peningkatan sitokin pro-inflamasi (IL-6 dan TNF-α) memicu inflamasi sistemik derajat rendah yang meningkatkan risiko kardiovaskular. (Cole et al., 2015)
Penyimpangan KDM
Penurunan dukungan sosial → Hambatan interaksi sosial → Terganggunya kebutuhan rasa memiliki dan dicintai → Persepsi isolasi menetap → Aktivasi aksis HPA → Peningkatan kortisol & inflamasi → Masalah Emosional Kronis → Penurunan kualitas hidup. (Potter & Perry, 2020)
Skema Pathway
Plaintext
Faktor Predisposisi (Trauma Interpersonal, Kehilangan, Penyakit Kronis)
│
▼
Penurunan Interaksi Sosial
│
▼
Persepsi Ketidaksesuaian Hubungan Sosial
│
▼
PROSES GANGGUAN EMOSE
┌──────────────────────────┴──────────────────────────┐
▼ ▼
Aktivasi Aksis HPA & SNS Perilaku Menarik Diri
│ │
▼ ▼
Peningkatan Kortisol & Sitokin Isolasi Sosial & Penurunan
Pro-inflamasi (IL-6, TNF-α) Aktivitas Fisik/Kognitif
│ │
▼ ▼
Resiko Penyakit Kardiovaskular, Depresi, Ide Bunuh Diri,
Gagal Imun, Gangguan Tidur Penurunan Kualitas Hidup
(Cacioppo & Hawkley, 2009, Cole et al., 2015)
4. Manifestasi Klinis Kesepian Kronis
a. Data Subjektif
Pasien mengeluhkan perasaan hampa, tidak dihargai, serta kesulitan memulai interaksi sosial. Masing-masing mengeluhkan gangguan tidur dan rasa lelah emosional konstan. (Russell et al., 1980)
b. Data Objektif
Tampak perilaku menarik diri dari lingkungan, kontak mata minim, afek datar, serta skor tinggi pada skala UCLA Loneliness Scale. (Hughes et al., 2004)
5. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan mencakup pengukuran kadar kortisol serum/saliva untuk menilai aksis HPA, serta marker inflamasi (hs-CRP, IL-6, TNF-α). (Cole et al., 2015)
b. Pemeriksaan Radiologi dan Lainnya
fMRI menunjukkan hiperaktivitas pada amygdala. Selain itu, instrumen UCLA Loneliness Scale Version 3 dan Polisomnografi digunakan untuk evaluasi obyektif. (Russell, 1996)
6. Penatalaksanaan Medis
a. Terapi Farmakologis
Pemberian Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRI) seperti Sertraline atau Escitalopram dilakukan jika kondisi disertai depresi mayor atau gangguan kecemasan. (O’Rourke et al., 2018)
b. Terapi Non-Farmakologis
Pendekatan mencakup Cognitive Behavioral Therapy (CBT), Social Skills Training (SST), terapi preskripsi sosial, dan Mindfulness-Based Stress Reduction (MBSR). (Masi et al., 2011)
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
a. Identitas Pasien dan Riwayat Kesehatan
Pengkajian mencakup usia, jenis kelamin, status pernikahan, dan pekerjaan. Riwayat kesehatan berfokus pada keluhan perasaan hampa, omset timbulnya masalah, serta riwayat penyakit kronis atau kehilangan. (Potter & Perry, 2020)
b. Pemeriksaan Fisik Terkait
Pemeriksaan fisik difokuskan pada sistem persarafan dan neurobehavior (kontak mata berkurang, afek datar, postur menunduk) serta sistem kardiovaskular (peningkatan tekanan darah dan frekuensi nadi akibat kecemasan). (Potter & Perry, 2020)
c. Pengkajian Pola Fungsi Kesehatan (Gordon)
Pengkajian meliputi pola persepsi diri (harga diri rendah), pola peran dan hubungan (isolasi sosial), pola tidur-istirahat (insomnia), serta pola koping (penarikan diri). (Nanda International, 2021)
2. Diagnosis Keperawatan Prioritas 1-5
Kelompok Diagnosa Psikososial Utama
- Isolasi Sosial (D.0121) b.d perubahan status mental, ketidakmampuan menjalin hubungan yang memuaskan.
- Hambatan Interaksi Sosial (D.0118) b.d defisit keterampilan sosial, kognisi sosial maladaptif.
- Harga Diri Rendah Kronis (D.0086) b.d riwayat penolakan, ketiadaan penguatan positif. (PPNI, 2017)
Kelompok Diagnosa Risiko dan Stres Emosional
- Risiko Bunuh Diri (D.0135) d.d perasaan terisolasi, kesepian mendalam, keputusasaan.
- Keputusasaan (D.0088) b.d isolasi sosial jangka panjang, ketiadaan sistem pendukung. (PPNI, 2017)
3. Diagnosis Keperawatan Prioritas 6-10
Kelompok Diagnosa Fisik dan Pola Fungsi
- Ansietas (D.0080) b.d ancaman terhadap konsep diri, ketiadaan interaksi sosial.
- Gangguan Pola Tidur (D.0055) b.d kecemasan, ketakutan, isolasi emosional.
- Defisit Perawatan Diri (D.0109) b.d penurunan motivasi/energi sekunder akibat distres emosional. (PPNI, 2017)
Kelompok Diagnosa Komunitas dan Perkembangan
- Koping Komunitas Tidak Efektif (D.0095) b.d ketiadaan rekreasi dan dukungan lingkungan.
- Risiko Sindrom Penuaan Lemah (D.0140) d.d isolasi sosial kronis dan penurunan fungsi fisik. (PPNI, 2017)
4. Perencanaan Intervensi 1-5
Rencana Intervensi Diagnosa 1-3
- Isolasi Sosial (D.0121)
- Luaran: Keterlibatan Sosial (L.13116) meningkat (minat interaksi meningkat, perilaku menarik diri menurun).
- Intervensi: Promosi Sosialisasi (I.13498) — Identifikasi hambatan berinteraksi, anjurkan berinteraksi secara bertahap, latih keterampilan sosialisasi.
- Hambatan Interaksi Sosial (D.0118)
- Luaran: Interaksi Sosial (L.13115) meningkat (perasaan nyaman dalam situasi sosial meningkat).
- Intervensi: Modifikasi Perilaku Keterampilan Sosial (I.13484) — Latih komunikasi asertif, berikan umpan balik positif atas keberhasilan interaksi.
- Harga Diri Rendah Kronis (D.0086)
- Luaran: Harga Diri (L.09069) meningkat (penilaian diri positif meningkat, perasaan tidak berharga menurun).
- Intervensi: Promosi Harga Diri (I.09308) — Identifikasi nilai diri dan aspek positif, fasilitasi lingkungan yang mendukung harga diri. (PPNI, 2018, PPNI, 2019)
Rencana Intervensi Diagnosa 4-5
- Risiko Bunuh Diri (D.0135)
- Luaran: Kontrol Diri (L.09076) meningkat (verbalisasi keinginan bunuh diri menurun).
- Intervensi: Pencegahan Bunuh Diri (I.14538) — Lakukan pengawasan ketat, amankan benda berbahaya, buat kontrak keselamatan sosial.
- Keputusasaan (D.0088)
- Luaran: Harapan (L.09068) meningkat (verbalisasi keputusasaan menurun, keterlibatan aktivitas meningkat).
- Intervensi: Dukungan Emosional (I.09256) — Dengarkan keluhan secara aktif, bantu mengidentifikasi sumber harapan dan makna hidup. (PPNI, 2018, PPNI, 2019)
5. Perencanaan Intervensi 6-10
Rencana Intervensi Diagnosa 6-8
- Anxietas (D.0080)
- Luaran: Tingkat Anxietas (L.09093) menurun (verbalisasi kebingungan dan kekhawatiran menurun).
- Intervensi: Reduksi Anxietas (I.09314) — Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan, latih teknik relaksasi napas dalam.
- Gangguan Pola Tidur (D.0055)
- Luaran: Pola Tidur (L.05045) membaik (keluhan sulit tidur dan sering terbangun menurun).
- Intervensi: Dukungan Tidur (I.05174) — Identifikasi pola dan pengganggu tidur, fasilitasi mempertahankan jadwal tidur teratur.
- Defisit Perawatan Diri (D.0109)
- Luaran: Perawatan Diri (L.11103) meningkat (kemampuan mandi, berhias, dan berpakaian meningkat).
- Intervensi: Dukungan Perawatan Diri (I.11348) — Identifikasi kebutuhan kebersihan diri, dampingi dan dorong kemandirian bertahap. (PPNI, 2018, PPNI, 2019)
Rencana Intervensi Diagnosa 9-10
- Ketidakmampuan Koping Komunitas (D.0095)
- Luaran: Koping Komunitas (L.09072) membaik (partisipasi masyarakat meningkat).
- Intervensi: Promosi Keutuhan Keluarga/Komunitas (I.13490) — Anjurkan keterlibatan dalam kelompok pendukung lokal.
- Risiko Sindrom Penuaan Lemah (D.0140)
- Luaran: Status Nutrisi & Aktivitas (L.03030) membaik (toleransi aktivitas meningkat).
- Intervensi: Manajemen Lingkungan: Lansia (I.14514) — Ciptakan lingkungan yang ramah dan aman bagi partisipasi lansia. (PPNI, 2018, PPNI, 2019)
6. Implementasi
Implementasi dilakukan berdasarkan rencana intervensi SIKI yang telah dibuat. Tindakan mencakup pemberian dukungan emosional, pelatihan keterampilan sosial, modifikasi kognitif maladaptif, kolaborasi pemberian farmakoterapi, serta fasilitasi rujukan ke kelompok pendukung (support group). (Potter & Perry, 2020)
7. Evaluasi
Evaluasi keperawatan dilakukan dengan mengukur pencapaian kriteria hasil pada SLKI melalui format SOAP:
- S (Subjektif): Pasien mengungkapkan merasa lebih nyaman, tidak lagi merasa hampa, serta mampu membina hubungan sosial yang bermakna.
- O (Objektif): Pasien aktif berinteraksi, kontak mata membaik, skor UCLA Loneliness Scale menurun, serta menunjukkan pemenuhan aktivitas harian secara mandiri.
- A (Analisis): Masalah keperawatan teratasi atau teratasi sebagian.
- P (Planning): Lanjutkan intervensi pemeliharaan sosialisasi, modifikasi kognitif, dan dukungan komunitas. (Potter & Perry, 2020)
Daftar Pustaka
Cacioppo, J. T., & Cacioppo, S. (2018). The growing problem of loneliness. The Lancet, 391(10119), 426. doi.org/10.1016/S0140-6736(18)30142-9
Cacioppo, J. T., & Hawkley, L. C. (2009). Perceived social isolation and cognition. Trends Cogn Sci, 13(10), 447-454. doi.org/10.1016/j.tics.2009.06.005
Cole, S. W., et al. (2015). Myeloid differentiation architecture of leukocyte transcriptome dynamics in perceived social isolation. Genome Biol, 16(1), 209. doi.org/10.1186/s13059-015-0767-x
Courtin, E., & Knapp, M. (2017). Social isolation, loneliness and health in old age: a scoping review. Health Soc Care Community, 25(3), 799-812. doi.org/10.1111/hsc.12311
Hawari, D. (2011). Manajemen Stres, Cemas, dan Depresi. Jakarta: BP FKUI.
Hughes, M. E., et al. (2004). A short scale for measuring loneliness in large surveys. Res Aging, 26(6), 655-672. doi.org/10.1177/0164027504268574
Kim, O., & Lee, J. (2014). Loneliness, social support, and health status among Asian older adults. J Transcult Nurs, 25(3), 241-249. doi.org/10.1177/1043659613515721
Masi, C. M., et al. (2011). A meta-analysis of interventions to reduce loneliness. Pers Soc Psychol Rev, 15(3), 219-266. doi.org/10.1177/1088868310377394
Nihayati, H. E., & Febriani, A. (2017). Hubungan dukungan keluarga dengan tingkat kesepian pada lansia. Jurnal Keperawatan Jiwa, 5(2), 112-118. jurnal.unimus.ac.id/index.php/JKJ/article/view/3012
Potter, P. A., & Perry, A. G. (2020). Fundamentals of Nursing (10th ed.). Elsevier.
PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (1st ed.). DPP PPNI.
PPNI. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan (1st ed.). DPP PPNI.
PPNI. (2019). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (1st ed.). DPP PPNI.
Russell, D. W. (1996). UCLA Loneliness Scale (Version 3): Reliability, validity, and factor structure. J Pers Assess, 66(1), 20-40. doi.org/10.1207/s15327752jpa6601_2
Setyoadi, & Kushariyadi. (2011). Terapi Modalitas Keperawatan pada Klien Gerontik. Salemba Medika.

Tinggalkan Balasan