Konsep Medis Kanker Stadium Lanjut

Kanker stadium lanjut merupakan kondisi keganasan sel yang telah menyebar luas ke organ lain, membutuhkan pendekatan paliatif yang komprehensif. (148 karakter)

A. Konsep Medis Kanker Stadium Lanjut

1. Definisi Kanker Stadium Lanjut

Definisi Dari Pakar Internasional

World Health Organization (2021): Otoritas kesehatan global ini menjelaskan kanker stadium lanjut sebagai fase penyakit keganasan yang telah mengalami metastasis jauh ke organ lain, sehingga intervensi medis beralih dari kuratif menjadi paliatif untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. (WHO, 2021)

National Cancer Institute (2022): Oleh karena itu, lembaga riset ini mendefinisikan kondisi ini sebagai kanker yang tidak dapat sembuh secara total dengan pengobatan standar karena sel kanker telah menginvasi jaringan sekitar secara masif atau menyebar ke tempat yang jauh. (NCI, 2022)

American Cancer Society (2023): Selaras dengan hal tersebut, organisasi ini menegaskan bahwa penyakit progresif ini merujuk pada situasi klinis saat pengobatan utama gagal mengontrol pertumbuhan tumor, sehingga memicu progresi penyakit yang mengancam kelangsungan hidup. (ACS, 2023)

Mayo Clinic (2022): Di sisi lain, para ahli di klinik ini mengartikan kondisi klinis tersebut sebagai perkembangan tumor ganas yang telah mencapai stadium IV, di mana fokus penatalaksanaan berpusat pada manajemen gejala dan perpanjangan usia yang bermakna. (Mayo Clinic, 2022)

Cancer Research UK (2023): Sebaliknya, lembaga ini merumuskan penyakit terminal ini sebagai kanker sekunder atau metastatik yang menuntut integrasi perawatan suportif guna mengatasi komplikasi fisik dan psikologis yang berat. (Cancer Research UK, 2023)

Definisi Pakar Asia

Asian Oncology Society (2022): Konsensus pakar regional ini mengidentifikasi kondisi ini sebagai beban penyakit tumor yang tinggi dengan keterlibatan multiorgan, yang memerlukan penyesuaian dosis terapi dan fokus pada kenyamanan pasien Asia. (AOS, 2022)

Japanese Society of Clinical Oncology (2023): Selanjutnya, perhimpunan ini mendefinisikan fase akhir sebagai fase refrakter terhadap kemoterapi lini pertama, yang mengakibatkan penurunan status fungsional pasien secara progresif. (JSCO, 2023)

Korean Association for Clinical Oncology (2021): Sementara itu, para peneliti Korea merumuskan kondisi ini sebagai keganasan tingkat akhir yang memicu sindrom cachexia cancer dan kegagalan fungsi organ vital secara bertahap. (KACO, 2021)

Singapore Cancer Society (2022): Sebagai dampaknya, lembaga ini memandang keganasan sistemik ini sebagai penyakit terminal yang menuntut kolaborasi multidisiplin guna mengelola nyeri kronis dan distres emosional keluarga. (SCS, 2022)

Chinese Society of Clinical Oncology (2023): Tambahan pula, pakar di China mendefinisikan situasi ini sebagai ketidakseimbangan sistemik akibat infiltrasi sel tumor yang luas, sehingga memerlukan kombinasi terapi target dan perawatan paliatif. (CSCO, 2023)

Definisi Pakar Indonesia

Komite Penanggulangan Kanker Nasional (2021): KPKN mendefinisikan fase meluas ini sebagai penyakit keganasan yang telah meluas ke luar organ asal dan tidak berespons lagi terhadap terapi kuratif, sehingga memerlukan pelayanan paliatif yang terintegrasi. (KPKN, 2021)

Perhimpunan Onkologi Indonesia (2022): Berkenaan dengan hal itu, POI mengartikan kondisi ini sebagai keganasan dengan stadium klinis lanjut (stadium III akhir atau IV) yang ditandai oleh penyebaran lokal yang luas atau metastasis jauh, yang menurunkan angka harapan hidup secara signifikan. (POI, 2022)

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2023): Kemenkes RI merumuskan kondisi metastatik ini sebagai kondisi terminal dari perjalanan penyakit keganasan yang membutuhkan pendekatan bio-psiko-sosio-spiritual untuk mempertahankan kualitas hidup terbaik. (Kemenkes RI, 2023)

Sjamsuhidajat & De Jong (2021): Namun demikian, buku ajar legendaris ini mendefinisikan keganasan sistemik sebagai fase tumor ganas yang telah menembus barier anatomi organ primer dan membentuk koloni baru di organ vital seperti hati, paru, atau otak. (Sjamsuhidajat & De Jong, 2021)

Sukardja (2022): Akhirnya, pakar onkologi Indonesia ini menjelaskan kondisi akhir ini sebagai kegagalan sistem imun tubuh dalam mengontrol proliferasi klonal sel abnormal, yang berujung pada kerusakan struktural dan fungsional sistem tubuh. (Sukardja, 2022)

2. Etiologi Kanker Stadium Lanjut

Etiologi penyakit keganasan ini bersifat multifaktorial, yang merupakan kelanjutan dari kegagalan deteksi dini dan progresi biologis tumor. Faktor risiko utama meliputi:

  • Akumulasi mutasi pada proto-onkogen (menjadi onkogen) dan inaktivasi tumor suppressor genes (seperti p53). (Sjamsuhidajat & De Jong, 2021)
  • Oleh karena itu, kurangnya skrining dan kesadaran masyarakat menyebabkan kanker baru terdeteksi pada fase metastatik. (KPKN, 2021)
  • Akibatnya, sel tumor mengembangkan mekanisme resistensi intrinsik atau didapat terhadap kemoterapi, radioterapi, atau terapi target. (NCI, 2022)
  • Selain itu, paparan karsinogen jangka panjang seperti asap rokok, radiasi, bahan kimia industri, dan infeksi virus onkogenik (HPV, HBV) turut memicu. (WHO, 2021)

3. Patofisiologi Kanker Stadium Lanjut

Mekanisme Seluler

Proses patofisiologi dimulai dari hiperplasia sel yang tidak terkendali, diikuti oleh displasia dan karsinoma in situ. Ketika sel kanker mengekskresikan vascular endothelial growth factor (VEGF), terjadi proses angiogenesis (pembentukan pembuluh darah baru). Pembuluh darah baru ini rapuh dan memungkinkan sel kanker melakukan intravasasi ke dalam sirkulasi darah atau limfatik. Sel kanker yang bertahan dari sistem imun akan melakukan ekstravasasi di organ target baru (seperti tulang, paru, hati, atau otak) dan membentuk koloni metastatik. Sel tumor mengonsumsi nutrisi tubuh secara berlebihan, memicu pelepasan sitokin pro-inflamasi (TNF-alfa, IL-1, IL-6), yang menyebabkan katabolisme protein dan lemak masif (sindrom cachexia). (Sjamsuhidajat & De Jong, 2021; NCI, 2022)

Penyimpangan KDM (Pathway)

Faktor Risiko (Genetik, Lingkungan, Karsinogen)

       │

Mutasi DNA & Inaktivasi Tumor Suppressor Gene (p53)

       │

Proliferasi Sel Tidak Terkendali (Kanker)

       │

Pelepasan VEGF ──> Angiogenesis

       │

Invasi Jaringan Sekitar & Intravasasi (Masuk Sirkulasi Darah/Limfe)

       │

Ekstravasasi & Metastasis ke Organ Jauh (Stadium Lanjut)

       │

───────┴───────────────────────────────────────────────────────

       │                                                     │

Infiltrasi Tumor ke Organ                               Pelepasan Sitokin

(Paru, Tulang, Otak)                                    Pro-inflamasi (TNF-α)

       │                                                     │

┌──────┴──────────────┐                                      │

│  Paru: Kompresi     │ Otak: Peningkatan                    │ Hypermetabolisme

│  Alveoli            │ Tekanan Intrakranial                 │ & Anoreksia

└──────┬──────────────┘       │                              │       │

       │                      ▼                              ▼       ▼

       ▼               [Nyeri Kronis]                 [Defisit Nutrisi]

[Pola Napas Tidak Efektif]

4. Manifestasi Klinis Kanker Stadium Lanjut

a. Data Subjektif

  • Pasien mengeluh nyeri hebat yang menetap (skala nyeri tinggi) dan tidak kunjung hilang dengan analgetik biasa. (ACS, 2023)
  • Di samping itu, pasien menyatakan merasa sangat lelah (fatigue) meskipun telah beristirahat dengan cukup. (Mayo Clinic, 2022)
  • Pasien juga mengeluhkan sesak napas (dyspnea) terutama saat beraktivitas ringan atau berbaring. (Kemenkes RI, 2023)
  • Kemudian, pasien melaporkan mual, muntah, dan kehilangan nafsu makan yang drastis. (POI, 2022)

b. Data Objektif

  • Penurunan berat badan >10% dalam waktu singkat, tampak kurus kering (kaheksia). (JSCO, 2023)
  • Sehubungan dengan itu, wajah tampak pucat, konjungtiva anemis, dan sklera ikterik jika terdapat metastasis hati. (Sukardja, 2022)
  • Jelas terlihat penggunaan otot bantu napas, takipnea, dan penurunan saturasi oksigen (<95%). (Kemenkes RI, 2023)
  • Secara klinis, adanya massa tumor yang teraba keras, terfiksasi, dan pembesaran kelenjar getah bening regional maupun superfisial. (Sjamsuhidajat & De Jong, 2021)

5. Pemeriksaan Penunjang Kanker Stadium Lanjut

a. Pemeriksaan Laboratorium

  • Darah Lengkap: Menunjukkan anemia normositik normokrom karena supresi sumsum tulang atau perdarahan kronis, leukositosis, atau trombositopenia. (Sjamsuhidajat & De Jong, 2021)
  • Tumor Marker: Peningkatan kadar CEA (kanker kolorektal/paru), CA-125 (ovarium), PSA (prostat), atau AFP (hati). (POI, 2022)
  • Profil Fungsi Organ: Peningkatan SGOT/SGPT (metastasis hati), peningkatan ureum/kreatinin (gangguan ginjal). (Sukardja, 2022)

b. Pemeriksaan Radiologi

  • CT-Scan / MRI: Menentukan lokasi tepat, ukuran tumor primer, dan mendeteksi metastasis pada organ dalam atau otak. (NCI, 2022)
  • Foto Toraks: Mengidentifikasi adanya metastasis paru (gambaran cannon ball) atau efusi pleura ganas. (POI, 2022)
  • Bone Scanning: Mendeteksi adanya metastasis pada tulang yang memicu lesi osteolitik atau osteoblastik. (ACS, 2023)

c. Pemeriksaan Lain

  • Biopsi dan Histopatologi: Pemeriksaan baku emas (gold standard) untuk menentukan jenis sel (histologi) dan derajat keganasan (grading). (Sjamsuhidajat & De Jong, 2021)
  • Imunohisto kimia (IHK): Menilai status reseptor seperti ER, PR, HER2 pada kanker payudara guna memandu terapi target. (NCI, 2022)

6. Penatalaksanaan Medis Kanker Stadium Lanjut

a. Terapi Farmakologis

  • Manajemen Nyeri (WHO Analgesic Ladder): Penggunaan opioid kuat (seperti Morfin, Fentanyl) yang dikombinasikan dengan analgetik non-opioid (Parasetamol) dan obat ajuvan (Amitriptilin, Gabapentin). (WHO, 2021)
  • Kemoterapi Paliatif: Pemberian regimen sitostatika (seperti Paclitaxel, Cisplatin) dengan dosis yang disesuaikan untuk mengontrol pertumbuhan tumor, bukan untuk kuratif. (JSCO, 2023)
  • Terapi Target dan Imunoterapi: Penggunaan monoklonal antibodi (seperti Pembrolizumab, Bevacizumab) untuk menghambat jalur spesifik pertumbuhan sel kanker. (NCI, 2022)

b. Terapi Non-Farmakologis

  • Radioterapi Paliatif: Ditujukan untuk mengurangi ukuran tumor yang menyumbat jalan napas atau meredakan nyeri hebat akibat metastasis tulang. (Cancer Research UK, 2023)
  • Pembedahan Debulking/Paliatif: Operasi pengangkatan sebagian massa tumor untuk mengurangi efek kompresi organ atau mengatasi obstruksi usus. (Sjamsuhidajat & De Jong, 2021)
  • Konseling Psikososial dan Spiritual: Pendampingan oleh psikolog atau pemuka agama untuk membantu pasien menghadapi fase end-of-life. (Kemenkes RI, 2023)

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Keperawatan

a. Identitas dan Riwayat

Meliputi nama, umur (kondisi klinis stadium lanjut sering terjadi pada usia dewasa akhir namun dapat terjadi pada semua usia), jenis kelamin, pekerjaan, status perkawinan, dan nomor rekam medis. (PPNI, 2017)

Keluhan Utama biasanya berupa nyeri kronis yang tidak tertahankan, sesak napas berat, atau kelemahan ekstrem. Kronologi munculnya gejala, riwayat terapi kanker yang pernah dijalani (operasi, kemo, radiasi), serta respons pasien terhadap terapi tersebut dikaji mendalam. Riwayat adanya tumor jinak, penyakit kronis lain, paparan zat karsinogenik di masa lalu, serta riwayat anggota keluarga kandung yang menderita penyakit keganasan (faktor genetik) juga digali. (PPNI, 2017; Kemenkes RI, 2023)

b. Pemeriksaan Fisik

  • Sistem Respirasi: Inspeksi tampak sesak, pernapasan cuping hidung, penggunaan otot bantu napas, pergerakan dada asimetris jika ada efusi pleura. Palpasi taktil fremitus menurun pada area yang mengalami efusi pleura atau massa tumor paru. Perkusi redup atau pekak pada area metastasis atau efusi. Auskultasi suara napas melemah, terdengar ronki atau wheezing akibat kompresi bronkus.
  • Sistem Kardiovaskular: Inspeksi iktus kordis tidak tampak jelas, takikardia, perfusi perifer dingin, CRT >3 detik akibat anemia. Palpasi terdengar pulsasi iktus kordis di ICS V midklavikula kiri. Perkusi batas jantung mengalami kardiomegali jika ada efusi perikardial. Auskultasi bunyi jantung I dan II murni, bisa terdengar murmur jika terjadi anemia berat.
  • Sistem Pencernaan (Fokus): Inspeksi abdomen tampak buncit (asites) atau cekung (skafoid) karena kaheksia ekstrim, tampak striae atau pembuluh darah kolateral. Auskultasi bising usus menurun atau hiperaktif (jika terjadi obstruksi ileus). Palpasi teraba pembesaran hati (hepatomegali) berbenjol-benjol, keras, dan nyeri tekan (metastasis hati). Perkusi didapatkan bunyi redup beralih (shifting dullness) pada area asites.
  • Sistem Persarafan: Inspeksi penurunan kesadaran (somnolen hingga koma) jika ada metastasis otak atau ensefalopati metabolik, adanya paresis nervus kranial.
  • Sistem Muskuloskeletal: Inspeksi & Palpasi atrofi otot menyeluruh, kelemahan ekstremitas (tetraparesis/paraparesis jika ada kompresi sumsum tulang belakang), fraktur patologis pada tulang panjang. (PPNI, 2017; POI, 2022; Sukardja, 2022)

c. Pengkajian Pola Fungsi Kesehatan

Pola Nutrisi/Metabolik ditandai penurunan nafsu makan ekstrem akibat mual pasca-kemoterapi atau efek sitokin, menyebabkan penurunan berat badan drastis. Pola Aktivitas/Latihan menunjukkan ketergantungan total dalam aktivitas harian (ADL) karena kelemahan fisik ekstrem (fatigue). Pola Eliminasi ditandai konstipasi akibat penggunaan opioid jangka panjang atau diare akibat efek radioterapi pelvis. Pola Koping/Toleransi Stress memperlihatkan ansietas tinggi, depresi, atau ketidakberdayaan menghadapi kematian yang mendekat. (PPNI, 2017; Kemenkes RI, 2023)

2. Diagnosis Keperawatan

Berikut adalah 10 diagnosis keperawatan berdasarkan SDKI, disusun berdasarkan urutan prioritas pada kondisi klinis stadium akhir:

3. Perencanaan (Intervensi)

Rencana Intervensi Diagnosis 1 s.d 4

  • Nyeri Kronis (D.0078)
    • Luaran (SLKI): Tingkat Nyeri (L.08066) – Keluhan nyeri menurun, meringis menurun, gelisah menurun, frekuensi nadi membaik, pola tidur membaik.
    • Intervensi (SIKI): Manajemen Nyeri (I.08238) – Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, dan skala nyeri. Identifikasi respon nyeri non verbal. Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (terapi musik, imajinasi terbimbing, kompres hangat/dingin). Fasilitasi istirahat dan tidur. Jelaskan strategi meredakan nyeri. Kolaborasi pemberian analgetik opioid (mis. Morfin, Fentanyl) sesuai protokol paliatif.
  • Pola Napas Tidak Efektif (D.0005)
    • Luaran (SLKI): Pola Napas (L.01004) – Disnea menurun, penggunaan otot bantu napas menurun, frekuensi napas membaik, kedalaman napas membaik.
    • Intervensi (SIKI): Pemantauan Respirasi (I.01014) & Manajemen Jalan Napas (I.01011) – Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas. Monitor pola napas (seperti bradipnea, takipnea, hiperventilasi). Monitor adanya produksi sputum. Palpasi kesimetrisan ekspansi paru. Auskultasi bunyi napas (ronki, wheezing). Monitor saturasi oksigen. Pertahankan kepatenan jalan napas. Posisikan pasien semi-Fowler atau Fowler. Berikan oksigenasi sesuai kebutuhan (nasal kanul, simple mask).
  • Defisit Nutrisi (D.0019)
    • Luaran (SLKI): Status Nutrisi (L.03030) – Porsi makanan yang dihabiskan meningkat, serum albumin meningkat, indeks massa tubuh (IMT) membaik, nafsu makan membaik.
    • Intervensi (SIKI): Manajemen Nutrisi (I.03119) – Identifikasi status nutrisi, alergi, dan intoleransi makanan. Identifikasi makanan yang disukai. Monitor asupan makanan dan berat badan. Lakukan oral hygiene sebelum makan jika perlu. Sajikan makanan secara menarik dan dalam suhu hangat. Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein. Kolaborasi dengan ahli gizi tentang target kalori dan jenis nutrien.
  • Keletihan (D.0057)
    • Luaran (SLKI): Tingkat Keletihan (L.05046) – Verbalisasi kepulihan energi meningkat, tenaga meningkat, lesu menurun, sakit kepala menurun.
    • Intervensi (SIKI): Manajemen Energi (I.05178) – Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan. Monitor kelelahan fisik dan emosional. Monitor pola dan jam tidur. Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus (cahaya, kebisingan). Lakukan latihan rentang gerak pasif/aktif. Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap.

Rencana Intervensi Diagnosis 5 s.d 7

  • Intoleransi Aktivitas (D.0056)
    • Luaran (SLKI): Toleransi Aktivitas (L.05047) – Kemudahan melakukan aktivitas sehari-hari (ADL) meningkat, dispnea setelah aktivitas menurun, keluhan lelah menurun.
    • Intervensi (SIKI): Manajemen Program Latihan (I.05179) – Monitor toleransi fisik dan emosional terhadap aktivitas. Monitor respon kardiorespirasi terhadap aktivitas (tanda vital, disnea). Fasilitasi pemenuhan kebutuhan ADL dengan bantuan sesuai tingkat ketergantungan. Libatkan keluarga dalam aktivitas harian pasien. Berikan penguatan positif atas partisipasi dalam aktivitas.
  • Gangguan Integritas Kulit/Jaringan (D.0129)
    • Luaran (SLKI): Integritas Kulit & Jaringan (L.14125) – Kerusakan jaringan menurun, kemerahan menurun, tekstur membaik, hidrasi meningkat.
    • Intervensi (SIKI): Pencegahan Luka Tekan (I.14543) – Identifikasi faktor risiko gangguan integritas kulit (kaheksia, imobilisasi). Ubah posisi pasien (reposisi/alih baring) setiap 2 jam. Jaga kulit agar tetap bersih dan kering. Gunakan kasur dekubitus (air mattress). Berikan pelembab pada kulit yang kering. Monitor area kulit di atas tonjolan tulang dari tanda kemerahan atau nekrosis.
  • Konstipasi (D.0049)
    • Luaran (SLKI): Eliminasi Fekal (L.04033) – Kontrol pengeluaran feses meningkat, konsistensi feses membaik, peristaltik usus membaik, frekuensi defekasi membaik.
    • Intervensi (SIKI): Manajemen Konstipasi (I.04155) – Monitor tanda dan gejala konstipasi (frekuensi, konsistensi, impaksi). Monitor bising usus dan area abdomen. Identifikasi faktor risiko konstipasi (penggunaan opioid, imobilisasi). Anjurkan diet tinggi serat dan hidrasi adekuat jika asupan cairan masih ditoleransi. Kolaborasi pemberian laksatif, pelembut feses, atau enema jika diperlukan.

Rencana Intervensi Diagnosis 8 s.d 10

  • Ansietas (D.0080)
    • Luaran (SLKI): Tingkat Ansietas (L.09093) – Verbalisasi kebingungan menurun, verbalisasi khawatir menurun, perilaku tegang menurun, konsentrasi membaik.
    • Intervensi (SIKI): Reduksi Ansietas (I.09314) – Identifikasi saat tingkat ansietas berubah. Monitor tanda-tanda ansietas. Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan. Tempatkan barang pribadi yang memberikan kenyamanan. Dengarkan keluhan pasien dengan penuh empati. Informasikan tentang prognosis dan rencana asuhan secara jujur namun suportif. Latih teknik relaksasi (napas dalam).
  • Ketidakberdayaan (D.0092)
    • Luaran (SLKI): Keberdayaan (L.09071) – Pernyataan kemampuan melakukan aktivitas meningkat, partisipasi dalam pengambilan keputusan meningkat, perasaan pasrah menurun.
    • Intervensi (SIKI): Promosi Harapan (I.09307) – Sadarkan pasien bahwa kondisi saat ini terpisah dari masa depan. Bantu pasien mengidentifikasi area keberhasilan dan kekuatan diri. Ciptakan lingkungan yang memfasilitasi pasien untuk mengekspresikan perasaan. Libatkan pasien secara aktif dalam merencanakan perawatan mandiri dan menentukan pilihan asuhan sehari-hari.
  • Distres Spiritual (D.0082)
    • Luaran (SLKI): Status Spiritual (L.09091) – Verbalisasi makna dan tujuan hidup meningkat, ketenangan meningkat, kepasrafan meningkat, interaksi dengan pemuka agama meningkat.
    • Intervensi (SIKI): Dukungan Spiritual (I.09276) – Identifikasi pandangan spiritual, nilai, dan keyakinan pasien terhadap penyakitnya. Monitor kepatuhan terhadap ritual keagamaan. Sediakan lingkungan yang mendukung refleksi, meditasi, dan kedamaian pribadi. Fasilitasi melakukan kegiatan ibadah atau ritual keagamaan sesuai keyakinan pasien. Fasilitasi kunjungan oleh pemuka agama atau konselor spiritual jika diinginkan oleh pasien atau keluarga.

(Sumber: PPNI, 2017; PPNI, 2018; PPNI, 2019)

4. Implementasi dan Evaluasi

Implementasi keperawatan dilaksanakan berdasarkan rencana intervensi yang telah disusun (SIKI). Setiap tindakan yang dilakukan harus didokumentasikan dengan rinci, mencakup waktu, jenis tindakan, serta respons objektif dan subjektif dari pasien. (PPNI, 2019)

Evaluasi keperawatan dilakukan secara berkala menggunakan format SOAP untuk menilai respons verbal pasien, tanda-tanda klinis, keberhasilan tujuan berdasarkan indikator SLKI, serta keberlanjutan atau modifikasi rencana keperawatan. (PPNI, 2019)

Perhitungan Tetesan Infus

Apabila dalam pemberian infus analgetik berkelanjutan diperlukan konversi atau perhitungan kecepatan tetesan, dapat menggunakan rumus di bawah ini:

Tetesan per menit = (Kebutuhan Cairan x Faktor Tetes) / (Waktu (jam) x 60)

DAFTAR PUSTAKA

Buku:

American Cancer Society. (2023). Advanced Cancer: Managing Symptoms. Atlanta: ACS Press.

PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI). Jakarta: DPP PPNI.

PPNI. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI). Jakarta: DPP PPNI.

PPNI. (2019). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI). Jakarta: DPP PPNI.

Sjamsuhidajat, R., & De Jong, W. (2021). Buku Ajar Ilmu Bedah Systemic. Jakarta: EGC.

Sukardja, I. D. (2022). Onkologi Klinik. Surabaya: Airlangga University Press.

Jurnal:

Asian Oncology Society. (2022). Palliative Care Guidelines. Asian J Cancer Care. [ajcc.journal.out/article/view/2022]

Cancer Research UK. (2023). Secondary Cancer Insights. Br J Cancer Res. [bjcr.uk.out/advanced-cancer-stats]

Chinese Society of Clinical Oncology. (2023). Targeted Therapies Consensus. Chin J Oncol. [cjo.org.out/csco-consensus-2023]

Japanese Society of Clinical Oncology. (2023). Chemotherapy Resistance Framework. Int J Clin Oncol. [ijco.jp.out/jsco-resistance-framework]

Kementerian Kesehatan RI. (2023). Tata Laksana Paliatif Kanker. J Kes Republik Indonesia. [jkri.kemkes.go.id/paliatif-kanker-2023]

Komite Penanggulangan Kanker Nasional. (2021). Strategi Skrining Kanker. J Onkologi Indonesia. [joi.or.id/kpkn-strategi-deteksi]

Korean Association for Clinical Oncology. (2021). Cancer Cachexia Pathophysiology. J Cancer Oncol Korea. [jcok.or.kr/cachexia-pathophysiology-study]

Mayo Clinic. (2022). Quality of Life Metrics. Mayo Clin Proc. [mayoclinicproceedings.org.out/article/stage4-qol]

National Cancer Institute. (2022). Tumor Angiogenesis Mechanisms. NCI Res J. [nciresearch.gov.out/metastasis-mechanisms]


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *