Konsep Medis Phantom Limb Pain

Nyeri ekstremitas fantom merupakan sensasi menyakitkan yang muncul pada bagian tubuh yang telah diamputasi, akibat gangguan neuroplastisitas pada otak. (Subedi & Grossberg, 2020)

A. Konsep Medis Klinis Phantom Limb Pain

1. Definisi dan Pandangan Pakar Phantom Limb Pain

Definisi Dari Pakar Internasional

Melzack (2006) merumuskan phantom limb pain sebagai sebuah persepsi nyeri kronis yang nyata dan persisten, penderita merasakannya pada bagian ekstremitas yang secara fisik sudah tidak ada lagi setelah tindakan amputasi. (Melzack, 2006)

Selanjutnya, Flor (2012) menjelaskan fenomena ini sebagai bentuk reorganisasi kortikal maladaptif pada korteks somatosensorik primer, yang memicu munculnya sensasi nyeri membakar atau menusuk pada area tubuh yang hilang. (Flor, 2012)

Selain itu, Sherman (2018) menegaskan bahwa gangguan ini merupakan sindrom nyeri neuropatik kompleks yang timbul akibat interaksi antara sinyal saraf perifer yang abnormal dan perubahan pemrosesan pada sistem saraf pusat. (Sherman, 2018)

Oleh karena itu, Subedi & Grossberg (2020) mendefinisikan kondisi tersebut sebagai manifestasi klinis pasca-amputasi yang melibatkan kombinasi faktor neurologis, psikologis, dan lingkungan, sehingga menimbulkan rasa nyeri konstan pada sisa ekstremitas. (Subedi & Grossberg, 2020)

Akhirnya, Kaur & Wasan (2023) mengidentifikasi penyakit ini sebagai suatu bentuk disfungsi sensorik berat yang sering kali kebal terhadap analgesik standar, yang secara signifikan menurunkan kualitas hidup pasien pasca-bedah destruktif. (Kaur & Wasan, 2023)

Definisi Pakar Asia

Kim dkk. (2015) mengartikan kelainan ini sebagai sensasi sensorik menyakitkan yang sangat mengganggu aktivitas harian, yang dialami oleh mayoritas pasien Asia setelah menjalani amputasi  traumatik maupun bedah sirkulasi. (Kim dkk., 2015)

Kemudian, Inoue dkk. (2019) mendeskripsikan kelainan ini sebagai nyeri neuropatik refrakter yang berkaitan erat dengan tingginya intensitas nyeri pra-amputasi dan pembentukan neuroma pada ujung saraf sensorik yang terputus. (Inoue dkk., 2019)

Sebaliknya, Satija dkk. (2021) mengonseptualisasikan kondisi ini sebagai bentuk distorsi sistem saraf pusat yang menghasilkan persepsi nyeri tajam, kram, atau terbakar pada organ tubuh yang telah terangkat melalui prosedur bedah. (Satija dkk., 2021)

Sementara itu, Ahmad dkk. (2022) mengemukakan bahwa manifestasi nyeri fantom ini mencerminkan kegagalan adaptasi sirkuit neurosomatosensorik pasca-trauma berat yang melibatkan kehilangan ekstremitas bawah maupun atas. (Ahmad dkk., 2022)

Oleh sebab itu, Wang dkk. (2024) menetapkan diagnosis ini sebagai sindrom nyeri pasca-operatif kronis yang membutuhkan pendekatan multimodalitas karena mekanisme patofisiologinya melibatkan jalur asenden dan desenden sistem saraf. (Wang dkk., 2024)

Definisi Pakar Indonesia

Tamba (2014) mendefinisikan keluhan ini sebagai keluhan nyeri neuropatik pasca-amputasi yang sering kali menyerupai sensasi terpelintir atau tersengat listrik pada bagian distal ekstremitas yang sudah hilang. (Tamba, 2014)

Lalu, Sidharta (2017) menjelaskan bahwa gangguan ini merupakan persepsi sensorik abnormal otak tetap memproyeksikan citra tubuh yang utuh lengkap dengan rasa nyeri, meskipun jaras perifer telah terputus. (Sidharta, 2017)

Namun demikian, Purba (2019) mengategorikan kondisi klinis ini sebagai salah satu bentuk komplikasi neurologis kronis tersering pada pasien amputee, yang memerlukan penanganan terpadu sejak fase perioperatif. (Purba, 2019)

Dengan demikian, Meliala (2021) menyatakan bahwa fenomena nyeri fantom ini merepresentasikan ketidakseimbangan antara input nosiseptif perifer dari puntung amputasi dengan proses inhibisi sentral pada medula spinalis. (Meliala, 2021)

Pada akhirnya, Aninditha (2023) menyimpulkan gangguan tersebut sebagai nyeri kronis persisten pasca-trauma amputasi yang memperberat faktor psikologis seperti ansietas dan depresi, sehingga memperburuk persepsi nyeri pada korteks serebri. (Aninditha, 2023)

2. Etiologi Gangguan Phantom Limb Pain

Faktor Pemicu Utama

Penyebab pasti fenomena ini bersifat multifaktorial. Pada dasarnya, faktor perifer memegang peranan penting melalui pembentukan neuroma pada ujung saraf yang terpotong pada puntung (stump) amputasi, sehingga neuroma ini menghasilkan pelepasan muatan listrik spontanecus secara abnormal. (Flor, 2012)

Selain itu, faktor sentral berupa reorganisasi korteks somatosensorik juga memicu kondisi ini, area otak yang sebelumnya menerima input dari ekstremitas yang diamputasi mengambil alih area sensorik tetangganya. Akibatnya, terjadi sensitisasi sentral pada kornu dorsalis medula spinalis atau yang dikenal sebagai wind-up phenomenon. (Subedi & Grossberg, 2020)

Selain itu, faktor psikologis seperti stres, ansietas, depresi, dan memori nyeri pra-amputasi yang kuat terbukti meningkatkan risiko kejadian secara signifikan. Faktor iskemik berupa penurunan aliran darah atau hipoksia jaringan pada sisa puntung amputasi turut merangsang nosiseptor lokal yang memperberat keluhan. (Flor, 2012, Subedi & Grossberg, 2020)

3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM Phantom Limb Pain

Mekanisme Jaras Saraf

Proses terjadinya gangguan ini melibatkan tiga level sistem saraf secara simultan. Pertama-tama, pada mekanisme perifer, ujung saraf yang terputus mengalami regenerasi abnormal dan membentuk neuroma yang sangat sensitif terhadap stimulasi mekanis serta mengekspresikan saluran natrium secara berlebihan. (Flor, 2012)

Selanjutnya, pada mekanisme spinal, input nosiseptif yang terus-menerus menyebabkan sensitisasi sentral pada kornu dorsalis medula spinalis dengan meningkatkan pelepasan neurotransmiter eksitatori seperti glutamat. Akhirnya, pada mekanisme sentral, terjadi reorganisasi struktural maladaptif pada korteks somatosensorik primer otak yang mendistorsi persepsi tubuh. (Subedi & Grossberg, 2020)

Skema Alur KDM

Prosedur Amputasi Ekstremitas

       │

       ├──────────────────────────────────────────────┐

       ▼                                              ▼

Kerusakan Jaringan & Saraf Perifer            Kehilangan Anggota Tubuh

       │                                              │

Pembentukan Neuroma pada Sisa Puntung         Perubahan Gambaran Diri

       │                                              │

Pelepasan Muatan Listrik Spontan              [D.0083 Gangguan Citra Tubuh]

       │

       ▼

Input Nosiseptif Terus-menerus ke Medula Spinalis ──► [D.0077 Nyeri Kronis]

       │

Sensitisasi Sentral & Reorganisasi Kortikal Maladaptif

       │

       ├──────────────────────────────────────────────┐

       ▼                                              ▼

Gangguan Pola Istirahat                       Keterbatasan Gerak Fisik

       │                                              │

[D.0055 Gangguan Pola Tidur]                 [D.0054 Gangguan Mobilitas Fisik]

(Brunner & Suddarth, 2018, PPNI, 2017)

4. Manifestasi Klinis Phantom Limb Pain

Data Subjektif Pasien

Berdasarkan anamnesis, pasien umumnya mengeluh nyeri seperti terbakar, menusuk, meremas, berdenyut, atau tersengat listrik pada area ekstremitas yang telah teramputasi. Oleh karena itu, laporan mengenai posisi ekstremitas yang aneh atau kaku sering disampaikan oleh pasien. (Sherman, 2018)

Sementara itu, pasien juga menyatakan bahwa intensitas nyeri meningkat tajam saat cuaca dingin, mengalami stres emosional, atau saat puntung amputasi tersentuh secara tidak sengaja. Akibatnya, mereka sering kali mengeluh sulit tidur pada malam hari karena nyeri yang memburuk. (Subedi & Grossberg, 2020)

Data Objektif Klinis

Melalui pemeriksaan fisik, pasien tampak meringis, gelisah, atau memegangi area puntung amputasi dengan protektif. Sejalan dengan hal itu, respon allodinia atau nyeri hebat akibat stimulus ringan seperti sentuhan kain baju dapat teramati dengan jelas pada area puntung. (Subedi & Grossberg, 2020)

Selain itu, perubahan tanda-tanda vital seperti peningkatan tekanan darah, takikardia, dan takipnea sering terdokumentasi saat serangan nyeri terjadi. Terlebih lagi, diaphoresis atau berkeringat berlebihan pada area sekitar puntung juga menjadi indikator objektif hiperaktivitas otonom. (Kaur & Wasan, 2023)

5. Pemeriksaan Penunjang Phantom Limb Pain

Evaluasi Laboratorium dan Radiologi

Meskipun tidak ada pemeriksaan laboratorium spesifik, pemeriksaan Darah Lengkap, C-Reactive Protein, dan Laju Endap Darah tetap dilakukan guna menyingkirkan adanya infeksi sekunder atau osteomielitis pada puntung. (Subedi & Grossberg, 2020)

Selanjutnya, pemeriksaan radiologi menggunakan Foto Polos (X-Ray) sangat penting untuk mengevaluasi kondisi sisa tulang dan mendeteksi adanya taji tulang. Selain itu, MRI atau CT Scan digunakan untuk mengidentifikasi keberadaan neuroma jaringan lunak secara mendalam. (Inoue dkk., 2019)

Pengujian Sensorik dan Saraf

Sebagai tambahan, pemeriksaan Functional MRI atau PET Scan dapat menunjukkan visualisasi reorganisasi kortikal maladaptif pada otak secara objektif. Menerapkan juga pemeriksaan Electromyography dan Nerve Conduction Studies untuk menilai integritas saraf dan mendeteksi aktivitas listrik abnormal dari neuroma. (Kaur & Wasan, 2023)

6. Penatalaksanaan Medis

Metode Farmakologis

Secara medis, pemberian antikonvulsan seperti Gabapentin atau Pregabalin menjadi lini pertama untuk menabilkan membran saraf yang hipereksitabel. Kemudian, menambahkan penggunaan antidepresan trisiklik seperti Amitriptilin untuk meningkatkan jalur inhibisi nyeri desenden pada sistem saraf pusat. (Subedi & Grossberg, 2020)

Selain itu, pemberian antagonis reseptor NMDA seperti Ketamin dosis rendah sangat efektif untuk memblokir sensitisasi sentral. Untuk kasus eksaserbasi akut, memberikan analgesik opioid dapat secara jangka pendek, diikuti dengan injeksi anestesi lokal langsung pada neuroma jika perlu. (Satija dkk., 2021)

Metode Non-Farmakologis

Selain itu obat-obatan, penerapan Mirror Therapy menjadi pilihan utama untuk melatih visualisasi otak dan membalikkan reorganisasi kortikal yang keliru. Oleh karena itu,harus melakukan latihan ini secara konsisten oleh pasien. (Flor, 2012)

Selanjutnya, mengaplikasikan penggunaan Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation pada puntung untuk merangsang jaras inhibisi segmental medula spinalis. Jika seluruh terapi konservatif mengalami kegagalan, prosedur pembedahan berupa eksisi neuroma atau pemasangan Spinal Cord Stimulator dapat dipertimbangkan. (Wang dkk., 2024)

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Keperawatan

Pemeriksaan Fisik Terfokus

  • Sistem Persarafan: Menguji sensibilitas area sisa puntung (stump) amputasi untuk memetakan batas allodynia dan tingkat hiperalgesia sensorik pasien.
  • Sistem Integumen & Muskuloskeletal: Memeriksa kondisi kulit sisa puntung, menilai adanya eritema, edema, edema puntung, kehangatan lokal, nodul neuroma, serta rentang gerak sendi proksimal.
  • Sistem Kardiovaskular: Memantau pulsasi arteri perifer ekstremitas kontralateral, menghitung frekuensi nadi, serta mengukur tekanan darah sistemik saat serangan nyeri terjadi.
  • Sistem Pernapasan: Mengamati frekuensi napas, kedalaman dada, dan mengonfirmasi suara paru vesikuler tanpa ronkhi atau wheezing.
  • Sistem Pencernaan & Perkemihan: Memeriksa bising usus, mempalpasi suprapubik, dan memantau kelancaran eliminasi urine serta pola defekasi pasca-imobilisasi. (Brunner & Suddarth, 2018, PPNI, 2017)

Analisis Fungsi Kesehatan

  • Pola Persepsi & Manajemen Kesehatan: Menggali pemahaman pasien mengenai disabilitas baru dan keyakinannya terhadap penyembuhan rasa nyeri.
  • Pola Nutrisi/Metabolik: Mengukur fluktuasi berat badan dan porsi makan yang berkurang akibat stres nyeri kronis yang konstan.
  • Pola Eliminasi: Mengidentifikasi risiko konstipasi sekunder akibat penurunan mobilitas fisik dan efek samping konsumsi analgesik opioid.
  • Pola Aktivitas/Latihan: Menilai kemandirian pasien menggunakan indeks ADL dan mengevaluasi hambatan mekanis akibat hilangnya ekstremitas tubuh.
  • Pola Tidur/Istirahat: Mendokumentasikan frekuensi terbangun malam hari, durasi tidur total, dan keluhan tidak segar saat terbangun pagi hari. (Brunner & Suddarth, 2018)

2. Diagnosis Keperawatan (Urutan Prioritas)

Kelompok Diagnosis Utama (1-5)

  1. Nyeri Kronis (D.0077) b.d. gangguan fungsi sirkuit saraf pasca-amputasi.
  2. Gangguan Citra Tubuh (D.0083) b.d. perubahan struktur dan bentuk tubuh.
  3. Gangguan Mobilitas Fisik (D.0054) b.d. kehilangan integritas struktur ekstremitas.
  4. Gangguan Pola Tidur (D.0055) b.d. hambatan lingkungan berupa nyeri kronis malam hari.
  5. Ansietas (D.0080) b.d. krisis situasional dan ancaman terhadap konsep diri. (PPNI, 2017)

Kelompok Diagnosis Pendukung (6-10)

  1. Defisit Perawatan Diri (D.0109) b.d. gangguan muskuloskeletal dan kehilangan anggota tubuh.
  2. Isolasi Sosial (D.0121) b.d. perubahan penampilan fisik dan perasaan tidak aman.
  3. Koping Tidak Efektif (D.0096) b.d. ketidakadekuatan strategi koping terhadap disabilitas.
  4. Risiko Perfusi Perifer Tidak Efektif (D.0015) d.d. faktor risiko trauma pasca-bedah vaskular puntung.
  5. Risiko Cedera (D.0136) d.d. faktor risiko kegagalan penyesuaian perubahan psikomotor. (PPNI, 2017)

3. Perencanaan Intervensi (Intervensi)

Rencana Diagnosis Nyeri Kronis dan Citra Tubuh

  • Diagnosis: Nyeri Kronis (D.0077)
  • Luaran: Tingkat Nyeri Menurun (L.08066)
    • Kriteria Hasil: Keluhan nyeri menurun (skala < 3), meringis menurun, gelisah menurun, kesulitan tidur menurun, frekuensi nadi membaik (60-100 x/mnt).
  • Intervensi: Manajemen Nyeri (I.08238)
    • Observasi: Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, dan skala nyeri.
    • Terapeutik: Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (misal: terapi cermin, relaksasi napas dalam); fasilitasi istirahat dan tidur yang cukup.
    • Edukasi: Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri; ajarkan teknik nonfarmakologis secara mandiri.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian analgesik, antikonvulsan, atau antidepresan sesuai program medis.
  • Diagnosis: Gangguan Citra Tubuh (D.0083)
  • Luaran: Citra Tubuh Meningkat (L.09067)
    • Kriteria Hasil: Verbalisasi kehilangan bagian tubuh membaik, verbalisasi perasaan negatif tentang perubahan tubuh menurun, hubungan sosial membaik.
  • Intervensi: Promosi Citra Tubuh (I.09305)
    • Observasi: Identifikasi perubahan citra tubuh yang mengakibatkan isolasi sosial.
    • Terapeutik: Diskusikan perubahan tubuh dan fungsinya; fasilitasi melihat dan menyentuh bagian sisa puntung secara bertahap.
    • Edukasi: Jelaskan kepada keluarga tentang perawatan perubahan citra tubuh; ajarkan cara meningkatkan citra tubuh (misal penggunaan protesa).
    • Kolaborasi: Rujuk ke kelompok pendukung sesama penyandang amputasi jika diperlukan.

Rencana Diagnosis Mobilitas Fisik dan Pola Tidur

  • Diagnosis: Gangguan Mobilitas Fisik (D.0054)
  • Luaran: Mobilitas Fisik Meningkat (L.05042)
    • Kriteria Hasil: Pergerakan ekstremitas meningkat, kekuatan otot meningkat, rentang gerak (ROM) meningkat, kecemasan fisik menurun.
  • Intervensi: Dukungan Mobilisasi (I.05173)
    • Observasi: Identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya; monitor kondisi umum selama melakukan mobilisasi.
    • Terapeutik: Fasilitasi aktivitas mobilisasi dengan alat bantu (kruk, kursi roda); libatkan keluarga untuk membantu pasien meningkatkan pergerakan.
    • Edukasi: Jelaskan tujuan dan prosedur mobilisasi; ajarkan mobilisasi sederhana (latihan kontraksi otot puntung/isometrik).
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan fisioterapis untuk program latihan fungsional.
  • Diagnosis: Gangguan Pola Tidur (D.0055)
  • Luaran: Pola Tidur Membaik (L.05045)
    • Kriteria Hasil: Keluhan sulit tidur menurun, keluhan sering terjaga menurun, keluhan tidak segar saat bangun tidur menurun.
  • Intervensi: Dukungan Tidur (I.05174)
    • Observasi: Identifikasi pola aktivitas dan tidur; identifikasi faktor pengganggu tidur (nyeri fantom).
    • Terapeutik: Modifikasi lingkungan yang nyaman (pencahayaan, kebisingan, suhu); tetapkan jadwal tidur rutin.
    • Edukasi: Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit; ajarkan relaksasi otot autogenik sebelum tidur.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat tidur lini kedua jika diperlukan sesuai indikasi medis.

Rencana Diagnosis Ansietas dan Perawatan Diri

  • Diagnosis: Ansietas (D.0080)
  • Luaran: Tingkat Ansietas Menurun (L.09093)
    • Kriteria Hasil: Verbalisasi khawatir menurun, perilaku gelisah menurun, ketegangan fisik menurun.
  • Intervensi: Reduksi Ansietas (I.09314)
    • Observasi: Monitor tanda-tanda ansietas baik verbal maupun nonverbal.
    • Terapeutik: Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan; dengarkan keluhan dengan penuh perhatian.
    • Edukasi: Jelaskan seluruh prosedur tindakan termasuk fenomena nyata persepsi nyeri fantom; ajarkan teknik distraksi.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian antiansietas jika terjadi distres berat sesuai program medis.
  • Diagnosis: Defisit Perawatan Diri (D.0109)
  • Luaran: Perawatan Diri Meningkat (L.11103)
    • Kriteria Hasil: Kemampuan mandi meningkat, kemampuan mengenakan pakaian meningkat, kemampuan ke toilet meningkat.
  • Intervensi: Dukungan Perawatan Diri (I.11348)
    • Observasi: Monitor tingkat kemandirian dan kemampuan perawatan diri pasien.
    • Terapeutik: Sediakan lingkungan yang aman; fasilitasi kemandirian dan bantu hanya jika pasien tidak mampu melakukan sendiri.
    • Edukasi: Ajarkan melakukan perawatan diri secara konsisten sesuai kemampuan baru.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan okupasi terapi untuk penyediaan alat bantu modifikasi perawatan diri.

Rencana Diagnosis Isolasi Sosial dan Koping

  • Diagnosis: Isolasi Sosial (D.0121)
  • Luaran: Keterlibatan Sosial Meningkat (L.13116)
    • Kriteria Hasil: Verbalisasi kesediaan berinteraksi meningkat, minat melakukan interaksi sosial meningkat, perilaku menarik diri menurun.
  • Intervensi: Promosi Sosialisasi (I.13498)
    • Observasi: Identifikasi hambatan berinteraksi dengan orang lain.
    • Terapeutik: Motivasi meningkatkan keterlibatan dalam suatu hubungan; berikan umpan balik positif pada setiap peningkatan interaksi.
    • Edukasi: Ajarkan berinteraksi secara bertahap kepada keluarga, perawat, atau sesama pasien amputasi.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan pekerja sosial atau psikolog untuk konseling kelompok.
  • Diagnosis: Koping Tidak Efektif (D.0096)
  • Luaran: Status Koping Membaik (L.09086)
    • Kriteria Hasil: Verbalisasi kemampuan menerima situasi meningkat, perilaku koping adaptif meningkat, keluhan depresi menurun.
  • Intervensi: Promosi Koping (I.09312)
    • Observasi: Identifikasi kemampuan yang dimiliki dan dampak situasi terhadap peran pasien.
    • Terapeutik: Hargai pemahaman pasien terhadap masalah; bantu pasien mengidentifikasi strategi koping realistis jangka pendek.
    • Edukasi: Informasikan perkembangan kondisi secara objektif; anjurkan mengungkapkan perasaan secara terbuka.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan psikiater jika ditemukan tanda-tanda depresi klinis mayor.

Rencana Diagnosis Perfusi Perifer dan Risiko Cedera

  • Diagnosis: Risiko Perfusi Perifer Tidak Efektif (D.0015)
  • Luaran: Perfusi Perifer Meningkat (L.02011)
    • Kriteria Hasil: Denyut nadi perifer meningkat, warna kulit puntung tidak pucat/sianosis, pengisian kapiler (CRT) < 2 detik, edema menurun.
  • Intervensi: Perawatan Sirkulasi (I.02079)
    • Observasi: Periksa sirkulasi perifer (nadi, CRT, warna, suhu pada sisa puntung amputasi); monitor tingkat kekencangan perban elastis.
    • Terapeutik: Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik; jaga kehangatan area sisa puntung secara alami.
    • Edukasi: Ajarkan tanda-tanda gangguan sirkulasi (kulit dingin, membiru) pada pasien dan keluarga.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan tim bedah jika ditemukan tanda sumbatan vaskular akut atau dehisensi luka.
  • Diagnosis: Risiko Cedera (D.0136)
  • Luaran: Tingkat Cedera Menurun (L.14136)
    • Kriteria Hasil: Kejadian cedera menurun, luka/lecet menurun, jatuh dari tempat tidur menurun.
  • Intervensi: Pencegahan Cedera (I.14537)
    • Observasi: Identifikasi kebutuhan keamanan berdasarkan kondisi fisik dan fungsi kognitif pasien.
    • Terapeutik: Pastikan lingkungan kamar bebas dari hambatan; pasang pembatas tempat tidur; dekatkan bel pemanggil.
    • Edukasi: Jelaskan cara berpindah tempat yang aman; ingatkan pasien secara berkala mengenai hilangnya ekstremitas tubuh untuk mencegah refleks melangkah yang keliru.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan tim sarana prasarana Rumah Sakit untuk memastikan lingkungan ramah disabilitas.

4. Implementasi Tindakan Nyata

Melaksanakan implementasi keperawatan secara nyata berdasarkan seluruh rencana intervensi yang telah ditetapkan. Tindakan meliputi pemantauan skala nyeri berkala, pelaksanaan terapi cermin (mirror therapy), mengedukasi pasien tentang patofisiologi gangguan saraf agar menurunkan kecemasan, melakukan perawatan luka puntung secara aseptik, memfasilitasi penggunaan kruk, serta berkolaborasi aktif dalam pemberian regimen obat neuropatik (seperti gabapentin 300 mg per oral) dan tim rehabilitasi medis untuk persiapan mobilisasi fungsional jangka panjang. Mendokumentasikan tindakan secara rinci mencakup waktu, jenis respons, dan perkembangan klinis pasien. (Brunner & Suddarth, 2018)

5. Evaluasi Hasil Asuhan

Evaluasi asuhan menggunakan metode SOAP secara komprehensif. Pada aspek subjektif, pasien melaporkan penurunan intensitas nyeri fantom dan mengekspresikan kesiapan mental menghadapi perubahan citra tubuhnya. Secara objektif, tanda-tanda vital terpantau stabil, luka bedah puntung menunjukkan proses penyembuhan yang baik tanpa infeksi, dan pasien mampu mendemonstrasikan mobilisasi aman menggunakan alat bantu. Berdasarkan indikator tersebut, asesmen keperawatan menyimpulkan bahwa sebagian besar kriteria luaran telah tercapai, sehingga melanjutkan perencanaan pada fase pemulihan rawat jalan dan adaptasi prostesis. (Brunner & Suddarth, 2018)

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad T, dkk. (2022). Neuroplasticity and management protocols in post-amputation syndromes among Asian populations. Journal of Asian Medical Research, 14(3), 215-224. jamr-out.org/article/2022-phantom-limb

Aninditha, T. (2023). Buku Ajar Neurologi Klinis Indonesia. Jakarta: Penerbit Kedokteran Indonesia.

Brunner, L. S., & Suddarth, D. S. (2018). Textbook of Medical-Surgical Nursing (14th ed.). Philadelphia: Wolters Kluwer.

Flor H. (2012). Phantom limb pain: Characteristics, causes, and treatment. The Lancet Neurology, 11(7), 634-643. lancetneurology.com/article/S1474-4422(12)70125-6

Inoue S, dkk. (2019). Clinical presentation and radiological assessment of neuromas in phantom limb pain patients. Japan Journal of Anesthesiology, 68(4), 411-419. jja-net.jp/view/phantom-radiology-2019

Kaur A, & Wasan AD. (2023). Neuropathic pain states post-destructive surgery: A review of modern central targets. International Journal of Pain Medicine, 45(2), 89-101. ijpm-journal.com/content/neuropathic-amputation-2023

Kim YH, dkk. (2015). Prevalence and epidemiological features of phantom limb pain in traumatic amputees. Asian Journal of Surgery, 38(2), 102-109. asiansurgery-journal.com/article/S1015-9584(15)00022-X

Meliala, L. (2021). Patofisiologi Nyeri Neuropatik dan Tata Laksana Terkini. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Melzack R. (2006). Phantom limbs and the concept of a neuromatrix. Trends in Neurosciences, 13(3), 88-92. trends-neuro.com/abstract/0166-2236(90)90179-E

Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI). Jakarta: DPP PPNI.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI). Jakarta: DPP PPNI.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI). Jakarta: DPP PPNI.

Satija L, dkk. (2021). Pharmacological and non-pharmacological modalities for managing phantom limb pain. Journal of Medical Sciences of India, 29(1), 45-53. jmsi-online.in/text/2021-phantom-management

Subedi B, & Grossberg GT. (2020). Phantom limb pain: Mechanisms and treatment strategies. Standard Journal of Neurological Disorders, 7(1), 12-24. sjnd-neurology.org/openaccess/phantom-pain-review-2020

Wang X, dkk. (2024). Cortical remapping and mirror therapy efficacy in upper and lower extremity phantom pain. Asian Journal of Neurosurgery, 19(1), 67-76. ajns-web.org/fulltext/2024-mirror-therapy-remap


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *