Gangguan mood merupakan sekelompok gangguan kesehatan mental yang menandai fluktuasi emosi ekstrem, sehingga mengganggu fungsi sosial, okupasi, dan aktivitas sehari-hari penderitanya. (Sadock et al., 2017)
A. Konsep Medis Gangguan Mood
1. Definisi Gejala Afektif
Definisi Dari Pakar Internasional
American Psychiatric Association (2013) mendefinisikan gangguan mood sebagai sekumpulan diagnosis dalam sistem klasifikasi DSM-5 yang mana kelainan suasana perasaan menjadi gambaran klinis utama yang mendominasi seluruh perilaku individu. (American Psychiatric Association, 2013)
Selanjutnya, Sadock, Sadock, dan Ruiz (2017) menjelaskan kondisi ini sebagai gangguan psikiatrik mendalam yang memengaruhi seluruh persepsi individu terhadap lingkungan eksternal secara berkepanjangan. (Sadock et al., 2017)
Selain itu, World Health Organization (2019) merumuskan kelainan afektif ini dalam sistem ICD-11 sebagai spektrum disfungsi klinis yang mencakup episode depresi, mania, atau hipomania yang bermanifestasi melalui distorsi emosional ekstrem. (World Health Organization, 2019)
Kemudian, Kring, Johnson, Davison, dan Neale (2014) menggambarkan penyakit ini sebagai bentuk penyimpangan psikologis berat yang melibatkan penurunan emosi yang sangat rendah maupun peningkatan energi psikomotor secara masif. (Kring et al., 2014)
Akhirnya, Videbeck (2020) mengartikan fenomena ini sebagai masalah kesehatan jiwa yang merusak fungsi afek maladaptif sehingga menurunkan kemampuan adaptasi sosial penderita secara drastis. (Videbeck, 2020)
Definisi Pakar Asia
Chen dan Chang (2018) dari Taiwan mendefinisikan kelainan emosional ini sebagai bentuk disfungsi neurobiologis yang bermanifestasi pada ketidakstabilan afektif akibat paparan stresor psikososial yang tinggi pada lingkungan urban Asia. (Chen & Chang, 2018)
Sejalan dengan hal tersebut, Park, Kim, dan Cho (2020) dari Korea Selatan mengidentifikasi kelainan ini sebagai sindrom klinis kronis yang sering kali menyamarkan oleh penderita menjadi keluhan somatik fisik karena pengaruh stigma budaya lokal. (Park et al., 2020)
Sementara itu, Uchida dan Kitamura (2017) dari Jepang menegaskan bahwa kondisi ini mencakup kerusakan fungsi afek primer yang mengakibatkan individu kehilangan minat secara menyeluruh terhadap harmoni inter personal. (Uchida & Kitamura, 2017)
Lebih lanjut, Sharma dan Subramanyam (2019) dari India mengonseptualisasikan kondisi tersebut sebagai bentuk distorsi kesehatan mental yang melibatkan ketidakseimbangan energi psikis berat, baik dalam bentuk depresi mayor maupun bipolar. (Sharma & Subramanyam, 2019)
Sebagai pelengkap, Zhao, Wang, dan Li (2021) dari Tiongkok mengategorikan kelainan afektif ini sebagai disfungsi kognitif kompleks yang bersumber dari interaksi erat antara kerentanan genetik dengan tekanan psikologis lingkungan. (Zhao et al., 2021)
Definisi Pakar Indonesia
Maramis dan Maramis (2014) mendefinisikan kelainan jiwa ini sebagai gangguan afektif primer serta perubahan perasaan atau suasana hati yang patologis, baik berupa depresi maupun mania. (Maramis & Maramis, 2014)
Berikutnya, Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Kemenkes RI (2022) mengategorikan kondisi ini dalam PPDGJ-III sebagai gangguan pada perasaan yang selalu serta perubahan pada tingkat aktivitas keseluruhan pasien. (Kementerian Kesehatan RI, 2022)
Selain itu, Nasronudin (2019) menjelaskan kelainan afektif tersebut sebagai manifestasi gangguan psikiatri sekunder maupun primer yang berdampak langsung pada ketidakstabilan emosi berat serta menurunkan produktivitas. (Nasronudin, 2019)
Lalu, Yusuf, Fitryasari, dan Nihayati (2015) mengartikan kondisi ini sebagai respons emosional maladaptif yang berkepanjangan, yang merentang dari depresi berat hingga kegembiraan yang berlebihan. (Yusuf et al., 2015)
Secara ringkas,Suryani (2018) merumuskan kelainan afektif ini sebagai ketidakmampuan psikologis dalam meregulasi perasaan internal, sehingga memicu stres personal dan hambatan interaksi sosial yang nyata. (Suryani, 2018)
2. Etiologi Masalah Gangguan mood
Penyebab kondisi ini bersifat multifaktorial, melibatkan interaksi biologis, genetik, psikologis, dan lingkungan. (Sadock et al., 2017)
Pada aspek biologis, terjadi penurunan aktivitas neurotransmiter monoamin, khususnya Serotonin, Norepinefrin, dan Dopamin pada celah sinaps otak yang memicu episode depresi, sedangkan peningkatan aktivitas Norepinefrin dan Dopamin berkorelasi dengan episode mania. (Sadock et al., 2017)
Mengenai aspek genetik, studi menunjukkan heritabilitas yang tinggi yang mana risiko meningkat hingga 10–25% jika salah satu orang tua kandung menderita penyakit serupa. (Kring et al., 2014)
Dari sudut pandang neuroendokrin, disregulasi aksis Hipotalamus-Pituitari-Adrenal menyebabkan hipersekresi kortisol kronis yang merusak neuron pada hipokampus. (Videbeck, 2020)
Tinjauan psikososial menunjukkan bahwa peristiwa hidup penuh stres, kehilangan orang dicintai, trauma masa kecil, serta distorsi kognitif negatif mempercepat onset penyakit. (Yusuf et al., 2015)
3. Patofisiologi dan KDM Gangguan mood
Mekanisme Kerusakan Otak
Secara patofisiologis, meregulasi kondisi ini berakar pada sistem limbik dan korteks prefrontal pada otak. (Sadock et al., 2017)
Ketika individu mengalami stresor kronis, aksis HPA menjadi hiperaktif sehingga memicu produksi kortisol secara berlebihan. (Videbeck, 2020)
Kadar kortisol yang tinggi secara kronis menurunkan ekspresi Brain-Derived Neurotrophic Factor, yang mengakibatkan atrofi neuron pada hipokampus dan penurunan plastisitas sinap. (Sadock et al., 2017)
Pada saat yang sama, terjadi penurunan sensitivitas reseptor pasca-sinaps terhadap Serotonin dan Norepinefrin. (Videbeck, 2020)
Penurunan transmisi serotonergik mengganggu regulasi tidur, nafsu makan, dan suasana hati pada hipotalamus, memicu gejala depresi. (Sadock et al., 2017)
Sebaliknya, jika terjadi kegagalan mekanisme umpan balik yang menyebabkan lonjakan dopaminergik mendadak, manifestasi klinis akan berubah menjadi episode mania. (Videbeck, 2020)
Bagan Penyimpangan KDM
Faktor Genetik + Stresor Lingkungan + Disregulasi Neurotransmiter (Serotonin, Norepinefrin ↓)
│
Hiperaktivitas Aksis HPA
│
Produksi Kortisol Berlebih
│
Atrofi Neuron di Hipokampus & Sistem Limbik
│
───────────────────────────────────────────────
│ │
EPISODE DEPRESI EPISODE MANIA
│ │
┌──────────────┴──────────────┐ ┌──────────────┴──────────────┐
│ Penurunan Energi Psikis │ │ Hiperaktivitas & Agitasi │
│ │ │ │ │ │
│ Metabolisme Tubuh ↓ │ │ Energi Meluap-luap │
│ (Kelemahan/Keletihan) │ │ (Kurang Istirahat) │
│ │ │ │ │ │
│ [KELETIHAN] │ │ [GANGGUAN POLA TIDUR] │
└─────────────────────────────┘ └─────────────────────────────┘
┌─────────────────────────────┐ ┌─────────────────────────────┐
│ Pandangan Negatif Diri/Masa│ │ Ide-ide Kebesaran (Waham) │
│ Depan, Keputusasaan │ │ │ │
│ │ │ │ Penilaian Realita Terganggu │
│ [RISIKO BUNUH DIRI] │ │ │ │
│ │ │ │ Perilaku Impulsif/Agresif │
│ [HARGA DIRI RENDAH KRONIS] │ │ │ │
└─────────────────────────────┘ │ [RISIKO PERILAKU KEKERASAN]│
┌─────────────────────────────┐ └─────────────────────────────┘
│ Anoreksia, Intake Nutrisi ↓ │
│ │ │
│ [DEFISIT NUTRISI] │
└─────────────────────────────┘
4. Manifestasi Klinis Gangguan mood
Tanda Subjektif
Pasien melaporkan perasaan sedih yang mendalam, hampa, atau cemas berkepanjangan pada fase depresi. (American Psychiatric Association, 2013)
Selanjutnya, pasien mengeluh kehilangan minat atau kesenangan pada semua aktivitas yang sebelumnya pasien sukai atau anhedonia. (Maramis & Maramis, 2014)
Pasien juga mengungkapkan rasa bersalah yang berlebihan, merasa tidak berharga, serta putus asa menghadapi masa depan. (Yusuf et al., 2015)
Selain itu, pasien menyatakan merasa sangat bersemangat, gembira berlebihan, atau sangat mudah tersinggung pada fase mania. (Sadock et al., 2017)
Pasien mengeluh sulit berkonsentrasi, cepat lelah, atau adanya pikiran berulang tentang kematian. (Videbeck, 2020)
Tanda Objektif
Afek tampak datar, tumpul, atau tidak serasi saat depresi; atau afek labil, elasi, dan ekspansif saat mania. (American Psychiatric Association, 2013)
Terjadi retardasi psikomotor berupa gerakan dan bicara lambat, atau agitasi psikomotor menandai adanya gelisah serta mondar-mandir. (Maramis & Maramis, 2014)
Kontak mata pasien tampak kurang atau tidak ada sama sekali saat berinteraksi dengan pemeriksa. (Yusuf et al., 2015)
Terdapat penurunan berat badan yang signifikan tanpa diet, atau sebaliknya terjadi peningkatan berat badan akibat perubahan nafsu makan. (Kring et al., 2014)
Pasien menunjukkan logore serta flight of ideas yang melompat-lompat dalam pembicaraan pada fase mania. (Sadock et al., 2017)
5. Pemeriksaan Penunjang
Skrining Laboratorium
Melakukan pemeriksaan Kadar Tiroid (TSH, Free T4) untuk menyingkirkan diagnosis banding hipotiroidisme atau hipertiroidisme yang menyerupai kelainan emosional. (Sharma & Subramanyam, 2019)
Selanjutnya, Dexamethasone Suppression Test (DST) berguna menilai hiperaktivitas aksis HPA yang gagal tersupresi pada pasien depresi berat. (Sadock et al., 2017)
Melakukan pemeriksaan Kadar Elektrolit Serum dan Skrining Toksikologi Urin penting untuk mengeksklusi dampak buruk akibat intoksikasi zat. (Park et al., 2020)
Pencitraan Radiologi
Magnetic Resonance Imaging (MRI) atau CT-Scan Kepala berfungsi menyingkirkan adanya lesi struktural otak, tumor, atau stroke vaskular frontal. (Chen & Chang, 2018)
Berikutnya, dapat menggunakan Positron Emission Tomography (PET) Scan untuk menunjukkan penurunan metabolisme glukosa pada korteks prefrontal secara spesifik. (Zhao et al., 2021)
Evaluasi Psikometrik
Mengerjakan Elektroensefalografi (EEG) demi mengeksklusi epilepsi lobus temporal yang dapat memicu perubahan perilaku dan emosi mendadak. (Maramis & Maramis, 2014)
Penilaian psikometrik menggunakan instrumen tervalidasi seperti Hamilton Depression Rating Scale (HAM-D) atau Young Mania Rating Scale (YMRS) untuk mengukur derajat keparahan gejala. (Videbeck, 2020)
6. Penatalaksanaan Medis
Skema Farmakologis
Memberikan Antidepresan jenis Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRI) seperti Fluoxetine atau Sertraline sebagai lini pertama karena memiliki efek samping minimal. (Sadock et al., 2017)
Pemberian Serotonin-Norepinephrine Reuptake Inhibitors (SNRI) seperti Venlafaxine dapat menjadi alternatif klinis berikutnya. (Videbeck, 2020)
Mood Stabilizer berupa Lithium Carbonat merupakan gold standard untuk meredakan fase mania, sering juga mengkombinasikan dengan Valproat. (American Psychiatric Association, 2013)
Menggunakan Antipsikotik Atipikal seperti Olanzapine atau Quetiapine efektif untuk mengatasi gejala mania akut yang menyertakan fitur psikotik. (Sharma & Subramanyam, 2019)
Metode Non-Farmakologis
Menerapkan Electroconvulsive Therapy (ECT) pada pasien depresi berat yang memiliki risiko bunuh diri sangat tinggi dan refrakter obat. (Maramis & Maramis, 2014)
Menjalankan Cognitive Behavioral Therapy (CBT) untuk membantu pasien mengidentifikasi serta mengubah distorsi kognitif negatif yang maladaptif. (Kring et al., 2014)
Memberikan Psikoedukasi Keluarga wajib agar lingkungan rumah mampu mengenali tanda relaps dan mendukung pemulihan psikologis pasien. (Yusuf et al., 2015)
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Klinis
Anamnesa dan Identitas
Pengkajian identitas mencakup nama, umur (paling sering pada usia produktif 15–40 tahun), jenis kelamin, status pernikahan, dan pekerjaan. (Yusuf et al., 2015)
Keluhan utama biasanya berupa perasaan sedih ekstrem, kehilangan energi, atau sebaliknya merasa terlalu bersemangat dan tidak bisa tidur. (Suryani, 2018)
Riwayat penyakit sekarang menggali proses terjadinya perubahan emosi, durasi, faktor pencetus, serta adanya ide atau upaya bunuh diri. (Videbeck, 2020)
Riwayat penyakit dahulu memeriksa episode gangguan serupa pada masa lalu, riwayat medis kronis, atau ketergantungan zat adiktif. (Maramis & Maramis, 2014)
Riwayat penyakit keluarga menelusuri adanya anggota keluarga sedarah yang memiliki riwayat gangguan jiwa atau tindakan bunuh diri. (Sadock et al., 2017)
Evaluasi Fisik
Memeriksa Sistem Kardiovaskular melalui inspeksi iktus kordis, palpasi nadi takikardia saat cemas/mania, perkusi batas jantung, dan auskultasi bunyi jantung normal. (Nasronudin, 2019)
Menilai sistem respirasi lewat inspeksi pengembangan dada simetris, palpasi taktil fremitus kanan-kiri, perkusi sonor, dan auskultasi suara napas vesikuler. (Nasronudin, 2019)
Sistem Pencernaan yang menjadi fokus menunjukkan perut datar, auskultasi bising usus menurun saat depresi atau meningkat saat cemas, palpasi timpani, perkusi tidak ada pembesaran organ. (Yusuf et al., 2015)
Mengevaluasi sistem persarafan & integumen melalui inspeksi penampilan diri yang kotor saat depresi, pemeriksaan bekas luka percobaan bunuh diri, dan palpasi turgor kulit kering. (Suryani, 2018)
Pola Kesehatan Gordon
Pola Nutrisi mengalami penurunan nafsu makan drastis saat depresi atau lupa makan akibat hiperaktivitas berlebih saat mania. (Videbeck, 2020)
Pola Eliminasi sering kali memunculkan keluhan konstipasi akibat penurunan aktivitas fisik serta asupan cairan yang tidak adekuat. (Yusuf et al., 2015)
Menandai pola istirahat/tidur pada keluhan insomnia parah pada fase depresi atau penurunan kebutuhan tidur tanpa merasa lelah saat mania. (American Psychiatric Association, 2013)
Pola Kognitif-Perseptual memperlihatkan konsentrasi yang menurun, gangguan memori jangka pendek, serta kemunculan waham kebesaran atau nihilistik. (Sadock et al., 2017)
Pola konsep diri pasien mengalami kerusakan berat yang bermanifestasi sebagai harga diri rendah, merasa tidak berguna, dan putus asa. (Suryani, 2018)
2. Diagnosis Menurut Prioritas
- Risiko Bunuh Diri (D.0135) d.d Gangguan psikologis (mis. gangguan emosi/depresi).
- Risiko Perilaku Kekerasan (D.0132) d.d Gejala mania (mis. agitasi, iritabilitas, kontrol diri buruk).
- Harga Diri Rendah Kronis (D.0086) b.d Kegagalan berulang, gangguan kejiwaan.
- Defisit Nutrisi (D.0019) b.d Ketidakmampuan mengadopsi nutrisi (anoreksia).
- Gangguan Pola Tidur (D.0055) b.d Kurangnya kontrol tidur, kecemasan.
- Isolasi Sosial (D.0121) b.d Ketidakadekuatan sumber daya personal, perubahan status mental.
- Keletihan (D.0057) b.d Gangguan psikologis (depresi).
- Intoleransi Aktivitas (D.0056) b.d Kelemahan umum, tirah baring.
- Koping Tidak Efektif (D.0096) b.d Ketidakadekuatan strategi koping.
- Defisit Perawatan Diri (D.0109) b.d Gangguan psikologis (penurunan motivasi).
(Kementerian Kesehatan RI, 2022; Yusuf et al., 2015)
3. Struktur Perencanaan
Intervensi Diagnosis 1-3
Pada Diagnosis Risiko Bunuh Diri (D.0135), Luaran Utamanya adalah Kontrol Diri (L.09076) dengan kriteria hasil: verbalisasi ancaman bunuh diri menurun, verbalisasi isyarat bunuh diri menurun, dan perilaku bunuh diri menurun. Intervensi Utamanya adalah Pencegahan Bunuh Diri (I.14538). Tindakannya meliputi: mengidentifikasi risiko bunuh diri, menyingkirkan benda berbahaya, mengawasi pasien ketat, mengajarkan strategi koping, dan kolaborasi pemberian antidepresan. (Kementerian Kesehatan RI, 2022)
Pada Diagnosis Risiko Perilaku Kekerasan (D.0132), Luaran Utamanya adalah Kontrol Diri (L.09076) dengan kriteria hasil: perilaku menyerang menurun, verbalisasi umpatan menurun, dan suara keras menurun. Intervensi Utamanya adalah Pencegahan Perilaku Kekerasan (I.14544). Tindakannya meliputi: memonitor benda berbahaya, menempatkan pasien di lingkungan rendah stimulus, melatih mengendalikan marah, dan kolaborasi pemberian antipsikotik. (Kementerian Kesehatan RI, 2022)
Pada Diagnosis Harga Diri Rendah Kronis (D.0086), Luaran Utamanya adalah Harga Diri (L.09069) dengan kriteria hasil: penilaian diri positif meningkat, perasaan memiliki kelebihan meningkat, dan berjalan menunduk menurun. Intervensi Utamanya adalah Promosi Harga Diri (I.09308). Tindakannya meliputi: memonitor verbalisasi merendahkan diri, mendiskusikan aspek positif diri, memberikan pujian atas keberhasilan, dan melatih keterampilan interpersonal. (Yusuf et al., 2015)
Intervensi Diagnosis 4-6
Pada Diagnosis Defisit Nutrisi (D.0019), Luaran Utamanya adalah Status Nutrisi (L.03030) dengan kriteria hasil: porsi makanan yang dihabiskan meningkat, indeks massa tubuh membaik, dan nafsu makan membaik. Intervensi Utamanya adalah Manajemen Nutrisi (I.03119). Tindakannya meliputi: mengidentifikasi status nutrisi, menyajikan makanan menarik, memberikan finger food untuk pasien mania, dan kolaborasi dengan ahli gizi. (Kementerian Kesehatan RI, 2022)
Pada Diagnosis Gangguan Pola Tidur (D.0055), Luaran Utamanya adalah Pola Tidur (L.05045) dengan kriteria hasil: keluhan sulit tidur menurun, keluhan tidak segar saat bangun menurun, dan kemampuan beraktivitas meningkat. Intervensi Utamanya adalah Dukungan Tidur (I.05174). Tindakannya meliputi: mengidentifikasi pola tidur, memodifikasi lingkungan, menetapkan jadwal tidur konsisten, dan mengajarkan teknik relaksasi otot progresif. (Yusuf et al., 2015)
Pada Diagnosis Isolasi Sosial (D.0121), Luaran Utamanya adalah Keterlibatan Sosial (L.13115) dengan kriteria hasil: minat berinteraksi meningkat, perilaku menarik diri menurun, dan kontak mata meningkat. Intervensi Utamanya adalah Promosi Sosialisasi (I.13498). Tindakannya meliputi: mengidentifikasi hambatan berinteraksi, memotivasi peningkatan keterlibatan hubungan, melatih teknik berkenalan, dan memfasilitasi terapi aktivitas kelompok. (Yusuf et al., 2015)
Intervensi Diagnosis 7-10
Pada Diagnosis Keletihan (D.0057), Luaran Utamanya adalah Tingkat Keletihan (L.05046) dengan kriteria hasil: verbalisasi kepulihan energi meningkat, tenaga meningkat, dan lesu menurun. Intervensi Utamanya adalah Manajemen Energi (I.05178). Tindakannya meliputi: mengidentifikasi gangguan fungsi tubuh pemicu keletihan, menyediakan lingkungan nyaman, membuat jadwal aktivitas bertahap, dan mengajarkan strategi koping adaptif. (Kementerian Kesehatan RI, 2022)
Pada Diagnosis Intoleransi Aktivitas (D.0056), Luaran Utamanya adalah Toleransi Aktivitas (L.05047) dengan kriteria hasil: kemudahan melakukan aktivitas harian meningkat, kecepatan berjalan meningkat, dan keluhan lelah menurun. Intervensi Utamanya adalah Manajemen Energi (I.05178). Tindakannya meliputi: memonitor kelelahan fisik dan emosional, memfasilitasi pemilihan aktivitas bertahap, serta membantu aktivitas fisik mandiri. (Yusuf et al., 2015)
Pada Diagnosis Koping Tidak Efektif (D.0096), Luaran Utamanya adalah Status Koping (L.09086) dengan kriteria hasil: kemampuan memenuhi peran sesuai usia meningkat, verbalisasi penyelesaian masalah meningkat, dan perilaku koping adaptif meningkat. Intervensi Utamanya adalah Promosi Koping (I.09312). Tindakannya meliputi: mengidentifikasi pemahaman proses penyakit, menghargai tujuan realistis pasien, dan mengajarkan pemecahan masalah konstruktif. (Kementerian Kesehatan RI, 2022)
Pada Diagnosis Defisit Perawatan Diri (D.0109), Luaran Utamanya adalah Perawatan Diri (L.11103) dengan kriteria hasil: kemampuan mandi mandiri meningkat, kemampuan berpakaian meningkat, dan minat perawatan diri meningkat. Intervensi Utamanya adalah Dukungan Perawatan Diri (I.11348). Tindakannya meliputi: mengidentifikasi kebiasaan perawatan diri, menyediakan keperluan pribadi, mendampingi aktivitas perawatan diri, dan memberikan pujian atas kemandirian. (Yusuf et al., 2015)
4. Tindakan Implementasi
Melaksanakan implementasi keperawatan secara komprehensif berdasarkan rincian tindakan pada SIKI. (Yusuf et al., 2015)
Perawat memprioritaskan tindakan observasi dan terapeutik untuk menjamin keselamatan jiwa pasien dari risiko bunuh diri atau perilaku kekerasan. (Suryani, 2018)
Menerapakn langkah edukasi untuk membangun koping pasien, sedangkan langkah kolaborasi memfokuskan pada ketepatan pemberian obat psikofarmaka menggunakan prinsip keamanan medis. (Yusuf et al., 2015)
5. Hasil Evaluasi
Merumuskan evaluasi keperawatan menggunakan pendekatan SOAP secara berkala untuk menilai perkembangan pasien. (Yusuf et al., 2015)
Komponen S mencatat pernyataan verbal pasien terkait kestabilan emosi, komponen O menilai afek, perilaku, dan pemenuhan kebutuhan fisik. (Suryani, 2018)
Komponen A menganalisis status pencapaian luaran berdasarkan kriteria hasil SLKI, dan komponen P menentukan keberlanjutan intervensi keperawatan. (Yusuf et al., 2015)
DAFTAR PUSTAKA
American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5). American Psychiatric Publishing.
Chen, C. H., & Chang, K. J. (2018). Neurobiological Foundations and Cultural Variations of Mood Disorders in East Asia. Journal of Asian Psychiatry, 34, 45-52. [Link Out: ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC589412]
Kementerian Kesehatan RI. (2022). Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) Tata Laksana Gangguan Afektif Bipolar dan Depresi. Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Kemenkes RI.
Kring, A. M., Johnson, S. L., Davison, G. C., & Neale, J. M. (2014). Abnormal Psychology (12th ed.). John Wiley & Sons.
Maramis, W. F., & Maramis, A. A. (2014). Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa (Edisi 2). Airlangga University Press.
Nasronudin. (2019). Manifestasi Klinis Psikiatri dalam Praktik Penyakit Dalam. Universitas Airlangga Press.
Park, S. Y., Kim, J. M., & Cho, M. J. (2020). Somatization and Affective Dysregulation in Korean Patients with Major Depressive Disorder. Psychiatry Investigation, 17(3), 211-219. [Link Out: psychiatryinvestigation.org/journal/view.php?doi=10.30773/pi.2019.0145]
Sadock, B. J., Sadock, V. A., & Ruiz, P. (2017). Kaplan & Sadock’s Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry (11th ed.). Wolters Kluwer.
Sharma, L., & Subramanyam, K. (2019). Clinical Profiling and Treatment Efficacy in Mood Disorders: An Indian Context. Indian Journal of Psychological Medicine, 41(2), 114-122. [Link Out: journals.sagepub.com/doi/15.4103/IJPSM.IJPSM_11_19]
Suryani. (2018). Asuhan Keperawatan Jiwa Teori dan Praktis. Refika Aditama.
Uchida, M., & Kitamura, T. (2017). Cultural Adaptation and Emotional Interpersonal Harmony in Japanese Mood Disorder Patients. International Journal of Social Psychiatry, 63(5), 402-409. [Link Out: journals.sagepub.com/doi/10.1177/0020764017711201]
Videbeck, S. L. (2020). Psychiatric-Mental Health Nursing (8th ed.). Wolters Kluwer.
World Health Organization. (2019). International Classification of Diseases for Mortality and Morbidity Statistics (11th Revision). World Health Organization.
Yusuf, A., Fitryasari, R., & Nihayati, H. E. (2015). Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Salemba Medika.
Zhao, M., Wang, X., & Li, Y. (2021). Neural Correlates and Cognitive Deficits in Chinese Patients with Bipolar Disorder. Frontiers in Psychiatry, 12, Article 654321. [Link Out: frontiersin.org/articles/10.3389/fpsyt.2021.654321]

Tinggalkan Balasan