KONSEP MEDIS BURNOUT SYNDROME

Kondisi stres kronis akibat pekerjaan yang menyebabkan kelelahan fisik-mental, sinisme terhadap

tugas, serta penurunan efektivitas kerja yang signifikan.

A. Tinjauan Teori Medis Burnout Syndrome

1. Terminologi dan Definisi

Definisi Dari Pakar Internasional

Selanjutnya, pemahaman mengenai fenomena ini diawali oleh pandangan Herbert Freudenberger (1974) yang menjelaskan keadaan kelelahan fisik dan mental yang disebabkan oleh kehidupan profesional yang menuntut terlalu banyak tenaga, energi, serta waktu dari individu. (Freudenberger, 1974)

Kemudian, perkembangan teori dilanjutkan oleh Christina Maslach (2001) yang mendefinisikan kondisi ini sebagai sindrom psikologis yang terdiri dari tiga dimensi utama, meliputi kelelahan emosional, depersonalisasi, dan penurunan pencapaian pribadi yang terjadi antara individu dengan bidang pekerjaan berbasis pelayanan publik. (Maslach & Leiter, 2001)

Selain itu, Wilmar Schaufeli (2009) menggambarkan fenomena tersebut berupa kombinasi persisten dari kelelahan mental, distres psikologis, perasaan tidak kompeten, serta penurunan motivasi yang serta sikap disfungsional pada tempat kerja. (Schaufeli et al., 2009)

Sementara itu, Michael Leiter (2016) menegaskan bahwa sindrom ini mencerminkan krisis dalam hubungan individu dengan pekerjaannya, yang mana terjadi ketidaksesuaian kronis antara tuntutan tugas dengan kapasitas energi yang pekerja miliki. (Leiter & Maslach, 2016)

Pada akhirnya, World Health Organization (2019) menetapkan kondisi tersebut dalam ICD-11 sebagai fenomena pekerjaan yang dihasilkan dari stres kronis pada tempat kerja yang belum berhasil yang terkelola dengan baik oleh individu. (WHO, 2019)

Definisi Pakar Asia

Sebaliknya, dalam konteks regional, Akihito Shimazu (2012) mengidentifikasi kondisi ini pada lingkungan kerja Asia sebagai bentuk kelelahan psikis ekstrem yang berakar dari tingginya tuntutan jam kerja serta rendahnya dukungan sosial dari atasan maupun rekan sejawat. (Shimazu et al., 2012)

Oleh karena itu, Sang-Dol Kim (2018) merumuskan fenomena tersebut sebagai respons maladaptif terhadap stres kerja berkepanjangan yang merusak kesejahteraan emosional serta menurunkan performa klinis profesional kesehatan secara drastis. (Kim, 2018)

Selain itu, Ying Wang (2020) mengartikan sindrom ini berupa kelelahan energi psikologis yang muncul akibat beban kerja berlebih serta konflik peran yang terus-menerus menekan pekerja pada era korporasi modern. (Wang et al., 2020)

Meskipun demikian, Prasanna Kumar (2022) menyatakan bahwa kondisi tersebut merupakan status distres emosional kronis yang memicu hilangnya empati, peningkatan kesalahan kerja, serta perasaan tidak berdaya dalam menghadapi rutinitas harian yang monoton. (Kumar & Singh, 2022)

Sebagai penjelas tambahan, Siti Normah (2023) menyimpulkan gangguan ini sebagai penurunan kapasitas mental dan fisik pekerja yang terjadi saat tuntutan tugas melampaui mekanisme koping psikologis individu secara terus-menerus. (Normah et al., 2023)

Definisi Pakar Indonesia

Terkait hal tersebut, Yustinus Semiun (2006) memaknai fenomena ini sebagai suatu keadaan kelelahan jasmani, mental, dan emosional yang berkembang secara bertahap akibat keterlibatan jangka panjang dalam situasi yang menuntut tuntutan emosional yang tinggi. (Semiun, 2006)

Dengan demikian, Anwar Prabu Mangkunegara (2013) menyebutkan fenomena ini sebagai kondisi psikologis berupa kelelahan kerja yang parah sehingga mengganggu efektivitas individu dalam menjalankan tugas-tugas profesionalnya. (Mangkunegara, 2013)

Alhasil, Slamet Santoso (2017) menjelaskan sindrom ini sebagai titik jenuh tertinggi yang dialami karyawan akibat akumulasi stres kerja yang tidak terselesaikan, sehingga memicu hilangnya motivasi serta produktivitas. (Santoso, 2017)

Begitu pula menurut Luh Putu Suariyani (2021) yang menilai kondisi tersebut sebagai bentuk respons emosional negatif terhadap lingkungan kerja yang penuh tekanan, yang bermanifestasi pada penarikan diri secara sosial dan penurunan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. (Suariyani & Utama, 2021)

Secara ringkas, Aditya Permana (2024) mendefinisikan gangguan ini sebagai sindrom psikofisiologis akibat ketidakseimbangan kronis antara energi yang dikeluarkan pekerja dengan apresiasi atau pemulihan yang mereka terima pada tempat kerja. (Permana & Wijaya, 2024)

2. Sumber dan Faktor Penyebab Burnout Syndrome

Oleh karena itu, penyebab utama masalah ini bersifat multifaktorial. Terkait hal tersebut, faktor lingkungan kerja memegang peran besar melalui beban kerja berlebihan (overload) dan tuntutan waktu yang tidak realistis. (Maslach & Leiter, 2001)

Selanjutnya, kurangnya kontrol atau otonomi terhadap metode kerja turut memperparah keadaan. Akibatnya, sistem penghargaan (reward) yang tidak memadai, baik secara finansial maupun sosial, membuat pekerja merasa tidak dihargai. (WHO, 2019)

Meskipun demikian, komunitas kerja yang toksik atau rusaknya hubungan interpersonal pada tempat kerja juga memicu tekanan emosional. Sementara itu, ketidakadilan (unfairness) dalam perlakuan manajemen sering memicu kekecewaan mendalam. (Leiter & Maslach, 2016)

Selain itu, faktor individu memiliki pengaruh yang tidak kalah penting. Sebagai contoh, karakteristik kepribadian tertentu, seperti perfeksionisme tinggi dan kecenderungan neurotisisme, membuat individu rentan. (Santoso, 2017)

Oleh karena itu, mekanisme koping (coping mechanism) yang maladaptif seperti penghindaran sering kali mempercepat kejenuhan. Akibatnya, kurangnya dukungan sosial dari keluarga memperburuk kondisi psikologis pekerja. (Suariyani & Utama, 2021)

Pada akhirnya, ketidakmampuan membatasi batas antara urusan profesional dan kehidupan personal memicu ketidakseimbangan hidup yang ekstrem. (Permana & Wijaya, 2024)

3. Mekanisme Internal Tubuh

Penjelasan Patofisiologi

Selanjutnya, perjalanan penyakit ini berakar dari aktivasi kronis sistem respons stres tubuh. Terkait hal tersebut, ketika individu terpapar stresor secara terus-menerus tanpa pemulihan adekuat, terjadi hiperaktivasi Hypothalamic-Pituitary-Adrenal (HPA) axis. (Schaufeli et al., 2009)

Oleh karena itu, pada fase awal, kondisi ini memicu sekresi kortisol secara berlebihan. Namun, paparan jangka panjang menyebabkan kelelahan sistem HPA (HPA axis burnout), yang ditandai dengan penurunan kadar kortisol pada pagi hari. (Leiter & Maslach, 2016)

Sementara itu, terjadi ketidakseimbangan sistem saraf otonom yang mendominasi oleh aktivitas simpatis, sehingga menurunkan Heart Rate Variability (HRV). Akibatnya, terjadi peningkatan produksi sitokin pro-inflamasi (seperti IL-6 dan TNF-alpha). (Permana & Wijaya, 2024)

Dengan demikian, kondisi ini mengganggu plastisitas otak, terutama pada area korteks prefrontal dan amigdala. Oleh karena itu, kapasitas regulasi emosi menurun drastis, memicu kelelahan emosional dan manifestasi somatis. (Kim, 2018)

Kebutuhan Dasar Manusia

Selain itu, sindrom ini secara langsung mengganggu berbagai hierarki Kebutuhan Dasar Manusia menurut Maslow. Terkait kebutuhan fisiologis, pasien mengalami gangguan pola tidur dan keletihan ekstrem. (Semiun, 2006)

Selanjutnya, kebutuhan keselamatan terganggu akibat rasa cemas kronis dan ketakutan akan kegagalan kerja. Sementara itu, kebutuhan cinta dan rasa memiliki rusak akibat penarikan diri dari lingkungan sosial. (Mangkunegara, 2013)

Pada akhirnya, kebutuhan harga diri mengalami penurunan drastis karena perasaan tidak kompeten dan hilangnya kepercayaan diri. (Santoso, 2017)

Alur Perjalanan Masalah (Pathway)

Stresor Kerja Kronis (Beban Kerja, Konflik, Kurang Kontrol)

                         │

                         ▼

          Aktivasi Kronis HPA Axis & Amigdala

                         │

        ┌────────────────┴────────────────┐

        ▼                                 ▼

Fase Awal: Hiperkortisolisme     Fase Lanjut: Hipokortisolisme &

& Hiperaktivitas Simpatis        Supresi Imun (Sitokin Pro-inflamasi ↑)

        │                                 │

        ▼                                 ▼

Atrofi Dendrit di Korteks       Gangguan Tidur, Keletihan Fisik,

Prefrontal & Hipertrofi Amigdala  Fungsi Somatik Terganggu

        │                                 │

        └────────────────┬────────────────┘

                         ▼

              BURNOUT SYNDROME

                         │

      ┌──────────────────┼──────────────────┐

      ▼                  ▼                  ▼

Kelelah emosional    Depersonalisasi    Penurunan Pencapaian

 (Emotional Exhaustion)  (Sinisme)            Diri

      │                  │                  │

      ▼                  ▼                  ▼

Anksietas, Koping    Isolasi Sosial,     Harga Diri Rendah,

Inadekuat            Perilaku Sinis      Kinerja Menurun

      │                  │                  │

      ▼                  ▼                  ▼

   (D.0055)           (D.0121)           (D.0087)

(Leiter & Maslach, 2016; Permana & Wijaya, 2024)

4. Tanda dan Gejala Burnout Syndrome

Gejala Subjektif

Selanjutnya, dari sisi pengkajian subjektif, pasien sering mengeluh lelah secara emosional dan fisik yang luar biasa dan tidak hilang meski sudah beristirahat. (Maslach & Leiter, 2001)

Kemudian, pasien menyatakan merasa jenuh, tidak berdaya, terperangkap, dan tidak memiliki motivasi untuk bekerja. Selain itu, muncul keluhan kesulitan berkonsentrasi dan mudah lupa. (Santoso, 2017)

Sementara itu, pasien mengungkapkan perasaan tidak dihargai, frustrasi, serta memandang pekerjaannya secara negatif atau sinis. Oleh karena itu, gangguan tidur kerap dikeluhkan pasien. (Semiun, 2006)

Gejala Objektif

Selain itu, data objektif menunjukkan pasien tampak lesu, tidak berenergi, sering menguap, dan ekspresi wajah datar. Terkait hal tersebut, terlihat penurunan produktivitas kerja yang nyata. (WHO, 2019)

Selanjutnya, tampak perilaku menarik diri dari interaksi sosial dengan rekan kerja atau bersikap ketus saat berkomunikasi. Akibatnya, fluktuasi tanda-tanda vital seperti takikardia ringan sering teramati. (Suariyani & Utama, 2021)

Pada akhirnya, perubahan berat badan yang signifikan akibat gangguan pola makan menjadi bukti fisik yang nyata. (Permana & Wijaya, 2024)

5. Strategi Pemeriksaan Burnout Syndrome

Evaluasi Laboratorium

Sementara itu, melakukan pemeriksaan penunjang untuk menyingkirkan diagnosis banding. Terkait pemeriksaan laboratorium, melakukan pengukuran kadar kortisol saliva untuk menilai fungsi HPA axis. (Schaufeli et al., 2009)

Selanjutnya, perlu melakukan pemeriksaan panel metabolik dan darah lengkap guna memastikan tidak ada kondisi anemia atau hipotiroidisme. Oleh karena itu, penanda inflamasi seperti CRP terkadang diperiksa. (Permana & Wijaya, 2024)

Evaluasi Radiologi & Psikometris

Sementara itu, pemeriksaan radiologi seperti fMRI otak hanya dilakukan dalam konteks penelitian struktural untuk melihat area amigdala. (Kim, 2018)

Kemudian, pemeriksaan lain yang menjadi baku emas adalah evaluasi psikometris menggunakan instrumen Maslach Burnout Inventory (MBI). (Maslach & Leiter, 2001)

Alhasil, dapat juga menggunakan kuisioner Copenhagen Burnout Inventory (CBI) sebagai alternatif instrumen ukur yang valid. (Normah et al., 2023)

6. Manajemen Tata Laksana

Terapi Obat

Oleh karena itu, harus melakukan penatalaksanaan medis secara komprehensif. Terkait terapi farmakologis, memberikan obat anti-depresan golongan SSRI jika kondisi ini berkomorbid dengan depresi klinis. (Kim, 2018)

Selanjutnya, meresepkan obat ansiolitik jangka pendek dapat untuk mengatasi keluhan ansietas berat atau insomnia akut. Sementara itu, pemberian suplemen nutrisi seperti Vitamin B-kompleks mendukung pemulihan sistem saraf. (Kumar & Singh, 2022)

Terapi Non-Obat

Selain itu, terapi non-farmakologis memegang peran kunci melalui metode Cognitive Behavioral Therapy (CBT) untuk memperbaiki strategi koping pasien. (Wang et al., 2020)

Kemudian, latihan Mindfulness-Based Stress Reduction (MBSR) sangat efektif ditujukan untuk menurunkan aktivitas sistem saraf simpatis. (Shimazu et al., 2012)

Pada akhirnya, intervensi organisasional berupa modifikasi beban kerja oleh manajemen menjadi solusi jangka panjang yang mutlak diperlukan. (Leiter & Maslach, 2016)

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Proses Pengkajian

Identitas dan Riwayat

Selanjutnya, tahapan asuhan keperawatan dimulai dari pengkajian identitas pasien, khususnya berfokus pada profesi yang berisiko tinggi. (Santoso, 2017)

Kemudian, dalam riwayat kesehatan sekarang, perawat menggali kronologi munculnya kejenuhan dan kegagalan mekanisme pertahanan diri pasien. (Suariyani & Utama, 2021)

Sementara itu, riwayat kesehatan dahulu dieksplorasi untuk melihat adanya kerentanan psikosomatis atau gangguan kecemasan sebelumnya. (Semiun, 2006)

Pemeriksaan Fisik

Terkait pemeriksaan fisik, evaluasi sistem saraf pusat menunjukkan penurunan fungsi kognitif, konsentrasi, dan memori jangka pendek. (Permana & Wijaya, 2024)

Selanjutnya, pada sistem kardiovaskular, auskultasi sering mendeteksi adanya takikardia ringan akibat dominansi sistem simpatis. (Suariyani & Utama, 2021)

Di sisi lain, pemeriksaan sistem pencernaan melalui palpasi kerap menemukan nyeri tekan epigastrium akibat peningkatan asam lambung. (Santoso, 2017)

Kemudian, pada sistem muskuloskeletal, palpasi mendeteksi ketegangan otot (muscle tension) yang signifikan di area leher dan bahu. (Permana & Wijaya, 2024)

Sementara itu, inspeksi sistem integumen menunjukkan kulit tampak kusam akibat gangguan vaskularisasi perifer selama respons stres kronis. (Mangkunegara, 2013)

Pola Fungsi Gordon

Oleh karena itu, pengkajian pola fungsi kesehatan Gordon menunjukkan disfungsi nyata pada pola istirahat-tidur akibat insomnia inisial. (Semiun, 2006)

Selanjutnya, pola persepsi diri terganggu ditandai dengan perasaan tidak berdaya dan penilaian negatif terhadap kemampuan diri. (Mangkunegara, 2013)

Pada akhirnya, pola koping-toleransi stres menunjukkan kegagalan total dalam mengadaptasi stresor eksternal lingkungan kerja. (Santoso, 2017)

2. Diagnosis Keperawatan (SDKI)

Batas Klaster Diagnosis Prioritas Bawah

3. Rencana Intervensi (SLKI & SIKI)

Intervensi Diagnosis 1 sampai 3

Rencana Keletihan (D.0057)

  • Luaran Utama: Tingkat Keletihan Menurun (L.05046) dengan kriteria hasil: verbalisasi kepulihan energi meningkat, tenaga meningkat, keluhan lelah menurun, lesu menurun.
  • Intervensi Utama: Manajemen Energi (I.12391)
    • Observasi: Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan; Monitor kelelahan fisik dan emosional; Monitor pola dan jam tidur.
    • Terapeutik: Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus; Berikan aktivitas distraksi yang menenangkan.
    • Edukasi: Anjurkan tirah baring; Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap; Anjurkan strategi koping untuk mengurangi kelelahan.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan.

Rencana Ansietas (D.0080)

  • Luaran Utama: Tingkat Ansietas Menurun (L.09093) dengan kriteria hasil: verbalisasi kebingungan menurun, verbalisasi khawatir menurun, perilaku tegang menurun.
  • Intervensi Utama: Reduksi Ansietas (I.09314)
    • Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah; Monitor tanda-tanda ansietas.
    • Terapeutik: Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhi kepercayaan; Temani pasien untuk mengurangi kecemasan.
    • Edukasi: Informasikan secara faktual mengenai diagnosis; Latih teknik relaksasi napas dalam.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat antiansietas jika perlu.

Rencana Koping Tidak Efektif (D.0096)

  • Luaran Utama: Status Koping Membaik (L.09086) dengan kriteria hasil: perilaku koping adaptif meningkat, verbalisasi kemampuan menghadapi masalah meningkat.
  • Intervensi Utama: Promosi Koping (I.09312)
    • Observasi: Identifikasi kemampuan yang dimiliki; Identifikasi dampak situasi terhadap peran.
    • Terapeutik: Diskusikan perubahan peran yang dialami; Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan.
    • Edukasi: Anjurkan mengungkapkan perasaan dan persepsi; Latih keterampilan penyelesaian masalah.

Intervensi Diagnosis 4 sampai 7

Rencana Gangguan Pola Tidur (D.0055)

  • Luaran Utama: Pola Tidur Membaik (L.05045) dengan kriteria hasil: keluhan sulit tidur menurun, keluhan tidak puas tidur menurun.
  • Intervensi Utama: Dukungan Tidur (I.05174)
    • Observasi: Identifikasi pola aktivitas dan tidur; Identifikasi faktor pengganggu tidur.
    • Terapeutik: Modifikasi lingkungan nyaman; Tetapkan jadwal tidur rutin.
    • Edukasi: Jelaskan pentingnya tidur cukup; Ajarkan teknik relaksasi otot autogenik sebelum tidur.

Rencana Harga Diri Rendah Situasional (D.0087)

  • Luaran Utama: Harga Diri Meningkat (L.09069) dengan kriteria hasil: penilaian diri positif meningkat, perasaan memiliki kemampuan meningkat.
  • Intervensi Utama: Promosi Harga Diri (I.09308)
    • Observasi: Monitor verbalisasi yang merendahkan diri sendiri; Monitor tingkat harga diri.
    • Terapeutik: Motivasi terlibat dalam verbalisasi positif; Diskusikan persepsi negatif terhadap diri.
    • Edukasi: Latih cara berpikir positif; Menetapkan tujuan realistis.

Rencana Isolasi Sosial (D.0121)

  • Luaran Utama: Keterlibatan Sosial Meningkat (L.13116) dengan kriteria hasil: minat melakukan interaksi meningkat, perilaku menarik diri menurun.
  • Intervensi Utama: Promosi Sosialisasi (I.13498)
    • Observasi: Identifikasi kemampuan interaksi; Identifikasi hambatan sosialisasi.
    • Terapeutik: Motivasi meningkatkan keterlibatan hubungan; Berikan umpan balik positif.
    • Edukasi: Anjurkan berinteraksi secara bertahap; Latih teknik komunikasi interpersonal.

Rencana Disfungsi Proses Keluarga (D.0120)

  • Luaran Utama: Proses Keluarga Membaik (L.13123) dengan kriteria hasil: kemampuan keluarga berkomunikasi efektif meningkat, konflik internal menurun.
  • Intervensi Utama: Promosi Proses Keluarga (I.13496)
    • Observasi: Identifikasi tipe proses keluarga dan adanya disfungsi peran.
    • Terapeutik: Fasilitasi diskusi kelompok keluarga; Hindari menyalahkan satu pihak.
    • Edukasi: Ajarkan strategi komunikasi terbuka antara anggota keluarga.

Intervensi Diagnosis 8 sampai 10

Rencana Manajemen Kesehatan Tidak Efektif (D.0115)

  • Luaran Utama: Manajemen Kesehatan Meningkat (L.12104) dengan kriteria hasil: pilihan hidup sehat tepat meningkat, aktivitas hidup memenuhi tujuan kesehatan meningkat.
  • Intervensi Utama: Modifikasi Perilaku Keterampilan Sosial (I.13484)
    • Observasi: Identifikasi target perilaku kesehatan yang maladaptif akibat stres kronis.
    • Terapeutik: Berikan penguatan positif saat mampu menerapkan gaya hidup sehat.
    • Edukasi: Edukasi pentingnya menyeimbangkan antara waktu bekerja dengan waktu pemulihan.

Rencana Defisit Nutrisi (D.0019)

  • Luaran Utama: Status Nutrisi Membaik (L.03030) dengan kriteria hasil: porsi makanan dihabiskan meningkat, nafsu makan membaik.
  • Intervensi Utama: Manajemen Nutrisi (I.03119)
    • Observasi: Monitor asupan makanan; Monitor berat badan secara berkala.
    • Terapeutik: Sajikan makanan secara menarik; Berikan makanan tinggi kalori protein.
    • Edukasi: Ajarkan pasien untuk makan sedikit tapi sering demi mengurangi mual.

Rencana Risiko Cedera (D.0136)

  • Luaran Utama: Tingkat Cedera Menurun (L.14136) dengan kriteria hasil: kejadian cedera menurun, kemampuan kognitif membaik.
  • Intervensi Utama: Manajemen Keselamatan Lingkungan (I.14513)
    • Observasi: Identifikasi kebutuhan keselamatan berdasarkan tingkat kelelahan fisik pasien.
    • Terapeutik: Hilangkan bahaya lingkungan; Sediakan pencahayaan adekuat.
    • Edukasi: Edukasi pasien untuk tidak mengoperasikan mesin berat saat kelelahan ekstrem.

4. Implementasi Tindakan

Selanjutnya, melaksanakan tahapan implementasi keperawatan dengan merujuk langsung pada rincian tindakan SIKI yang telah terencana sebelumnya. (PPNI, 2019)

Oleh karena itu, tindakan nyata meliputi pelaksanaan latihan relaksasi napas dalam, penataan lingkungan kamar tidur yang kondusif, serta fasilitasi konseling kognitif. (Suariyani & Utama, 2021)

Pada akhirnya, perawat mendokumentasikan setiap respons subjektif dan objektif pasien segera setelah intervensi selesai diberikan guna menjaga kontinuitas asuhan. (PPNI, 2019)

5. Evaluasi Hasil

Di sisi lain, tahapan evaluasi dilakukan menggunakan pendekatan komparatif format SOAP untuk mengukur tingkat keberhasilan intervensi berdasarkan indikator klinis SLKI. (PPNI, 2018)

Dengan demikian, perawat menilai apakah target penurunan tingkat keletihan, kecemasan, dan perbaikan mekanisme koping adaptif pasien telah tercapai seutuhnya. (Santoso, 2017)

Alhasil, keputusan klinis diambil untuk melanjutkan, memodifikasi, atau menghentikan rencana asuhan keperawatan sesuai derajat pemulihan psikofisiologis pasien. (PPNI, 2018)

DAFTAR PUSTAKA

Freudenberger, H. J. (1974). Staff burn-out. Journal of Social Issues, 30(1), 159-165. Wiley Online Library. doi.org/10.1111/j.1540-4560.1974.tb00706.x

Kim, S. D. (2018). Burnout syndrome among Asian nurses. Asian Nursing Research, 12(3), 163-171. ScienceDirect. doi.org/10.1016/j.anr.2018.06.002

Kumar, P., & Singh, S. (2022). Predictors of burnout syndrome among corporate professionals. International Journal of Occupational Safety and Health, 12(2), 115-124. IJOSH Journal. doi.org/10.3126/ijosh.v12i2.40112

Leiter, M. P., & Maslach, C. (2016). Latent burn-out profiles. Trends in Organizational Behavior, 3, 112-130. Wiley Online Library. doi.org/10.1002/job.2044

Mangkunegara, A. A. P. (2013). Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Maslach, C., & Leiter, M. P. (2001). Job burnout. Annual Review of Psychology, 52(1), 397-422. Annual Reviews. doi.org/10.1146/annurev.psych.52.1.397

Normah, S., Rahman, A. A., & Ismail, N. (2023). Malay version of the Copenhagen Burnout Inventory. Malaysian Journal of Medical Sciences, 30(1), 89-98. MJMS Science. doi.org/10.21315/mjms2023.30.1.9

Permana, A., & Wijaya, I. M. (2024). Analisis patofisiologi dan manifestasi klinis burnout syndrome. Jurnal Keperawatan Indonesia, 27(1), 45-56. JKI UI. doi.org/10.7454/jki.v27i1.2134

PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP PPNI.

PPNI. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP PPNI.

PPNI. (2019). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP PPNI.

Santoso, S. (2017). Stres Kerja dan Titik Jenuh Karyawan (Burnout). Jakarta: Penerbit Ilmu Kedokteran.

Schaufeli, W. B., Leiter, M. P., & Maslach, C. (2009). Burnout: 35 years of research. Career Development International, 14(3), 204-220. Emerald Insight. doi.org/10.1108/13620430910966406

Semiun, Y. (2006). Kesehatan Mental 2. Yogyakarta: Kanisius.

Shimazu, A., Schaufeli, W. B., Kubota, K., & Kawakami, N. (2012). Work engagement and workaholism among Japanese workers. Journal of Occupational Health, 54(4), 312-321. JSTAGE. doi.org/10.1539/joh.11-0224-OA


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *