KONSEP MEDIS ASMA TIDAK TERKONTROL

Asma tidak terkontrol merupakan gangguan inflamasi kronis saluran napas yang ditandai dengan gejala persisten meskipun telah mendapat terapi optimal. (GINA, 2024)

A. Konsep Medis Asma Tidak Terkontrol

1. Definisi Asma Tidak Terkontrol

Definisi Dari Pakar Internasional

Global Initiative for Asthma (GINA) mengartikan sindrom respiratorik ini sebagai gangguan inflamasi kronis saluran napas yang ditandai dengan riwayat gejala pernapasan seperti mengorok, sesak napas, dada terasa berat, dan batuk yang bervariasi dari waktu ke waktu bersama dengan keterbatasan aliran udara ekspirasi yang bervariasi. (GINA, 2024)

Selanjutnya, National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI) menjelaskan bahwa penyakit obstruksi paru kronis ini melibatkan interaksi kompleks antara sel-sel inflamasi dan elemen struktural saluran napas yang menyebabkan hiperesponsif bronkus terhadap berbagai pemicu lingkungan. (NHLBI, 2023)

Oleh karena itu, World Health Organization (WHO) mengategorikan disfungsi ventilasi ini sebagai penyakit tidak menular utama yang menyerang anak-anak dan orang dewasa, yang mana penyempitan saluran napas secara berulang mengganggu aliran oksigen ke dalam paru-paru. (WHO, 2023)

Sementara itu, American Thoracic Society (ATS) menegaskan bahwa manifestasi klinis ini mencerminkan kegagalan pencapaian kendali klinis yang adekuat, ditandai dengan eksaserbasi sering yang membutuhkan kortikosteroid sistemik atau menyebabkan rawat inap. (ATS, 2022)

Selain itu, Dr. Peter Barnes dari National Heart and Lung Institute mengemukakan bahwa patogenesis asma resisten ini berakar pada peradangan tipe 2 (T-helper 2) yang persisten dan remodeling saluran napas yang tidak responsif terhadap dosis standar kortikosteroid inhalasi. (Barnes, 2021)

Definisi Pakar Asia

Asian Pacific Society of Respirology (APSR) memaparkan bahwa fenotipe kondisi respirasi tak terkendali pada wilayah Asia Pasifik kerap berkaitan dengan paparan polusi udara perkotaan yang tinggi serta tingginya prevalensi sensitivitas terhadap tungau debu rumah. (APSR, 2023)

Selaras dengan hal tersebut, Japanese Society of Allergology (JSA) mengartikan patologi ini sebagai kondisi ketidakstabilan jalan napas yang memicu fluktuasi fungsi paru diurnal yang besar, membutuhkan pemantauan arus puncak ekspirasi secara mandiri dari rumah. (JSA, 2024)

Kemudian, Chinese Thoracic Society (CTS) menyebutkan bahwa sindrom klinis ini melibatkan hipersekresi mukus yang parah dan sumbatan lumen bronkus oleh sumbat lendir selular, memicu penurunan volume ekspirasi paksa yang progresif pada populasi Asia. (CTS, 2023)

Meskipun demikian, Dr. Shigeo Muro mengungkapkan bahwa manifestasi klinis patologi refrakter ini mencerminkan interaksi antara kecenderungan genetik etnis Asia dan infeksi virus berulang yang memperburuk sensitivitas reseptor sensorik pulmonal. (Muro, 2025)

Dengan demikian, Malaysian Thoracic Society (MTS) mendefinisikan gangguan pernapasan kronis tersebut sebagai kegagalan pemeliharaan fungsi paru normal yang meningkatkan risiko morbiditas jangka panjang akibat ketergantungan berlebih pada agonis beta-2 kerja pendek. (MTS, 2024)

Definisi Pakar Indonesia

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) merumuskan kondisi respirasi ini sebagai keadaan patologis yang tidak memenuhi kriteria terkontrol, yang mana pasien mengalami gejala siang hari lebih dari dua kali seminggu, terbangun malam hari, atau membutuhkan obat pelega secara sering. (PDPI, 2022)

Berdasarkan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), pakar mendefinisikan gejala ini pada populasi pediatrik sebagai serangan mengorok berulang serta batuk kronis yang gagal merespons regimen kendali tingkat dasar, sehingga mengganggu aktivitas fisik dan kualitas tidur anak. (IDAI, 2021)

Menambahkan perspektif tersebut, Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia menjelaskan bahwa komplikasi respirasi ini melibatkan disregulasi sistem imun masif dengan peningkatan kadar imunoglobulin E (IgE) spesifik yang memicu degranulasi sel mast secara persisten. (PERGIZI, 2023)

Akibatnya, Departemen Pulmonologi FKUI/RSCM mengartikan fenomena ini sebagai manifestasi klinis obstruksi saluran napas difus yang menuntut penegakan diagnosis berbasis spiometri serial guna mengukur derajat reversibilitas pasca-bronkodilator. (FKUI, 2023)

Akhirnya, Prof. Wiwien Supriyati menegaskan bahwa timbulnya perubahan struktural dinding bronkus berupa fibrosis subepitelial dan hipertrofi otot polos menjadi indikator patologis utama dari kegagalan kontrol respirasi jangka panjang. (Supriyati, 2024)

2. Etiologi Asma Tidak Terkontrol

Faktor Pejamu (Intrinsik)

Rancangan etiologi gangguan ini melibatkan interaksi antara faktor pejamu dan faktor lingkungan. Faktor pejamu yang paling dominan adalah predisposisi genetik terhadap atopi (produksi IgE berlebih), hiperesponsif jalan napas, serta variasi genetik pada reseptor beta-2 adrenergik yang memengaruhi respons terapi. Selain itu, obesitas dan jenis kelamin juga memengaruhi kerentanan, yang mana hormon seks pemicu inflamasi memperberat derajat keparahan pada wanita dewasa. (GINA, 2024, PDPI, 2022)

Faktor Lingkungan (Ekstrinsik)

Sementara itu, faktor lingkungan bertindak sebagai pemicu (trigger) maupun penyebab peradangan persisten. Alergen dalam ruangan (tungau debu rumah, bulu binatang, jamur) dan alergen luar ruangan (serbuk sari) secara konstan memicu kaskade imunologis. Selanjutnya, paparan asap rokok (perokok aktif maupun pasif), polusi udara partikulat, infeksi virus saluran napas (seperti Rhinovirus dan RSV), perubahan cuaca ekstrem, stres emosional, serta ketidakpatuhan penggunaan kortikosteroid inhalasi menjadi penyebab utama paru tetap berada dalam status tidak terkontrol. (NHLBI, 2023, APSR, 2023)

3. Patofisiologi dan KDM

Fisiologi Regulasi Saluran Napas

Mekanisme pemeliharaan patensi jalan napas normal diatur oleh keseimbangan antara sistem saraf otonom simpatis (menyebabkan bronkodilasi via reseptor beta-2) dan parasimpatis (menyebabkan bronkokonstriksi via reseptor muskarinik M3). Pada kondisi normal, resistensi aliran udara minimal sehingga udara dapat mengalir lancar. Volume udara yang dialirkan dapat dihitung menggunakan modifikasi hukum Poiseuille untuk resistensi saluran napas:

R = 8ηL / πr^4

Keterangan: R = Resistensi saluran napas, η = Viskositas udara, L = Panjang saluran napas, r = Jari-jari saluran napas. (Barnes, 2021)

Mekanisme Obstruksi Persisten

Pada gangguan respirasi kronis ini, paparan alergen kronis memicu aktivasi sel Th2 yang melepaskan sitokin (IL-4, IL-5, IL-13). Proses biologis ini merangsang sel B memproduksi IgE yang berikatan dengan sel mast. Ketika terjadi paparan ulang, degranulasi sel mast melepaskan mediator kimia (histamin, leukotrien, prostaglandin) yang menyebabkan kontraksi otot polos bronkus mendadak, edema mukosa, dan hipersekresi mukus yang kental. Akibatnya, jari-jari jalan napas (r) mengecil secara drastis, menyebabkan resistensi (R) meningkat secara eksponensial, memicu jebakan udara (air trapping) dan hiperinflasi paru. (GINA, 2024, PDPI, 2022)

Pathway

                      [Faktor Pemicu: Alergen / Infeksi / Atopi]

                                        |

                                        v

                    Aktivasi Sel Th2 & Degranulasi Sel Mast

                                        |

                                        v

                    Inflamasi Kronis & Hiperesponsif Bronkus

                                        |

       _________________________________|_________________________________

      |                                 |                                 |

      v                                 v                                 v

   Bronkospasme                 Hipersekresi Mukus              Jebakan Udara Alveoli

      |                                 |                                 |

      v                                 v                                 v

[POLA NAPAS TIDAK             [BERSIHAN JALAN NAPAS             [GANGGUAN PERTUKARAN

    EFEKTIF]                     TIDAK EFEKTIF]                         GAS]

4. Manifestasi Klinis Asma Tidak Terkontrol

a. Data Subjektif

Pasien mengeluhkan sesak napas (dyspnea) yang berat, terutama memburuk pada malam atau dini hari sehingga menyebabkan terbangun dari tidur. (GINA, 2024)

Selain itu, pasien melaporkan dada terasa sangat berat atau seperti terikat (chest tightness) disertai batuk kronis yang kering atau berdahak kental. (PDPI, 2022)

Pasien juga mengungkapkan rasa cepat lelah saat melakukan aktivitas fisik ringan serta perasaan cemas atau panik akibat kesulitan bernapas. (NHLBI, 2023)

b. Data Objektif

Berdasarkan pemeriksaan fisik, ditemukan suara napas tambahan berupa mengorok (wheezing) yang terdengar jelas pada fase ekspirasi, bahkan kadang tanpa stetoskop. (PDPI, 2022)

Selanjutnya, tampak penggunaan otot bantu napas (m. sternokleidomastoideus, interkostal), adanya retraksi dinding dada, serta napas cuping hidung. (IDAI, 2021)

Pasien juga menunjukkan takipnea (frekuensi napas >24 x/menit), takikardia, gelisah, berbicara terputus-putus per kata karena sesak, dan penurunan nilai Peak Expiratory Flow (PEF) <60% dari nilai prediksi. (GINA, 2024)

5. Pemeriksaan Penunjang

a. Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan darah tepi dapat menunjukkan adanya eosinofilia (peningkatan jumlah eosinofil >4% atau >300 sel/µL) yang menandakan jalur inflamasi alergi aktif. (PERGIZI, 2023)

Di samping itu, pemeriksaan kadar Imunoglobulin E (IgE) total dan IgE spesifik serum (RAST) dilakukan untuk mengonfirmasi status atopi atau alergi terhadap pemicu spesifik. (FKUI, 2023)

Sementara itu, Analisis Gas Darah (AGD) wajib diperiksa pada kondisi eksaserbasi berat untuk mendeteksi hipoksemia (PaO2 <60 mmHg) atau hiperkapnia awal yang mengindikasikan gagal napas. (ATS, 2022)

b. Pemeriksaan Radiologi

Foto rontgen toraks (AP/Lateral) dilakukan terutama untuk menyingkirkan diagnosis banding atau mendeteksi komplikasi seperti pneumotoraks, pneumomediastinum, atau infiltrat pneumonia. Pada gangguan respirasi kronis ini tanpa komplikasi, rontgen biasanya menunjukkan tanda hiperinflasi paru berupa diafragma mendatar dan pelebaran ruang interkostal. (CTS, 2023)

c. Pemeriksaan Lain

Spirometri dilakukan untuk menilai derajat obstruksi jalan napas melalui pengukuran Forced Expiratory Volume in 1 Second (FEV1) dan Forced Vital Capacity (FVC). Uji reversibilitas dinilai positif jika terdapat peningkatan FEV1 sebesar rumus berikut setelah inhalasi bronkodilator:

ΔFEV1 ≥ 12% dan ≥ 200 mL

Selain itu, pemantauan variabilitas harian Peak Expiratory Flow (PEF) menggunakan peak flow meter selama 2 minggu menunjukkan variabilitas >10% pada orang dewasa. (GINA, 2024, PDPI, 2022)

6. Penatalaksanaan Medis

a. Terapi Farmakologis

Pemberian kombinasi Kortikosteroid Inhalasi (ICS) dosis medium-tinggi dengan Agonis Beta-2 Kerja Panjang (LABA) seperti Formoterol/Budesonid sebagai terapi rumatan dan pelega (MART) menjadi lini utama. (GINA, 2024)

Selanjutnya, penambahan LAMA (Long-Acting Muscarinic Antagonist) seperti Tiotropium atau golongan leukotriene receptor antagonist (Montelukast) dipertimbangkan jika gejala belum terkontrol dengan ICS-LABA. (APSR, 2023)

Meskipun demikian, pada eksaserbasi akut, pemberian kortikosteroid sistemik (Oral/Intravena) jangka pendek, nebulisasi agonis beta-2 kerja pendek (SABA) ditambah antikolinergik (Ipratropium Bromida), serta terapi oksigen target saturasi 93-95% harus segera diimplementasikan. (PDPI, 2022)

b. Terapi Non-Farmakologis

Pasien diinstruksikan untuk mengidentifikasi dan menghindari pemicu spesifik seperti debu rumah, bulu hewan, polutan asap rokok, serta modifikasi diet untuk menurunkan berat badan pada pasien obesitas. (WHO, 2023)

Akhirnya, edukasi teknik penggunaan inhaler yang benar (inhaler technique), pembuatan Asthma Action Plan (Rencana Aksi Asma) tertulis, serta latihan rehabilitasi paru (senam asma) wajib diberikan guna meningkatkan kemandirian kontrol gejala. (PDPI, 2022)

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Keperawatan

a. Identitas Pasien

Pencatatan data demografi meliputi nama, usia (status klinis kronis ini dapat terjadi pada semua usia, namun puncak eksaserbasi sering pada anak dan lansia), jenis kelamin, pekerjaan (terkait paparan alergen okupasional seperti debu pabrik atau bahan kimia), dan riwayat rawat inap berulang. (PPNI, 2017)

b. Riwayat Kesehatan

  • Keluhan Utama: Pasien mengeluhkan sesak napas hebat disertai batuk berdahak dan suara mengorok yang memburuk.
  • Riwayat Kesehatan Sekarang: Mengidentifikasi onset serangan sesak, frekuensi terbangun malam hari dalam 4 minggu terakhir, frekuensi penggunaan inhaler pelega, serta adanya faktor pencetus mendadak (mis. perubahan cuaca atau paparan asap).
  • Riwayat Kesehatan Dahulu: Menanyakan riwayat intubasi atau perawatan di ICU karena gangguan respirasi, riwayat penyakit atopi lain (rhinitis alergi, dermatitis atopik), serta kepatuhan penggunaan obat kontroler harian.
  • Riwayat Keluarga & Gaya Lifestyle: Menanyakan riwayat gangguan respirasi atau alergi dalam keluarga, kebiasaan merokok di lingkungan rumah, kepemilikan hewan peliharaan berbulu, dan tingkat stres psikologis. (GINA, 2024, PDPI, 2022)

c. Pemeriksaan Fisik

Penilaian Sistem Pernapasan (Fokus Utama)
  • Inspeksi: Amati bentuk dada (barrel chest pada kondisi kronis), frekuensi napas (takipnea), pola napas, adanya retraksi interkostal, suprasternal, penggunaan otot bantu napas m. sternokleidomastoideus, adanya napas cuping hidung, serta amati warna kulit (sianosis perioral pada kondisi hipoksemia berat).
  • Palpasi: Periksa kesimetrisan ekspansi dinding dada. Palpasi taktil fremitus yang biasanya menurun secara simetris akibat hiperinflasi paru.
  • Perkusi: Lakukan perkusi pada seluruh lapang paru; ditemukan suara hipersonor akibat adanya udara yang terjebak (air trapping) di alveoli. Diafragma cenderung letak rendah dan pergerakannya terbatas.
  • Auskultasi: Dengarkan suara napas utama (vesikuler melemah atau memanjang pada fase ekspirasi). Temukan suara napas tambahan berupa mengorok (wheezing) difus, terutama menonjol pada fase ekspirasi, namun pada obstruksi total dapat terjadi silent chest (suara napas menghilang yang menandakan kondisi fatal). (PDPI, 2022, PPNI, 2017)
Penilaian Sistem Tubuh Lain
  • Sistem Kardiovaskular: Inspeksi adanya pulsasi iktus kordis. Palpasi nadi (takikardia, adanya pulsus paradoksus yaitu penurunan tekanan darah sistolik >10 mmHg saat inspirasi). Auskultasi bunyi jantung S1-S2 normal, tidak ada murmur.
  • Sistem Persarafan: Inspeksi tingkat kesadaran (gelisah, ansietas tinggi; jika terjadi retensi CO2 berat kesadaran dapat menurun menjadi somnolen).
  • Sistem Integumen: Inspeksi adanya diaforesis (keringat dingin berlebih) dan turgor kulit. Palpasi suhu akral (dingin pada syok respirasi).
  • Sistem Pencernaan & Eliminasi: Inspeksi adanya distensi abdomen akibat aerofagia (tertelannya udara saat sesak napas), bising usus normal. Evaluasi pola eliminasi (apakah terganggu akibat sesak). (FKUI, 2023, PPNI, 2017)

d. Pengkajian Pola Fungsi Kesehatan

Pola persepsi dan manajemen kesehatan mengevaluasi pemahaman pasien tentang penyakit sebagai masalah inflamasi kronis, bukan sekadar penyempitan bronkus sesaat, serta menilai ketidakpatuhan atau kesalahan teknik inhaler. Pola nutrisi menilai penurunan asupan makanan akibat sesak napas atau mual. Pola aktivitas dan latihan memetakan gangguan dalam mobilitas fisik, ketidakmampuan berolahraga, atau keterbatasan aktivitas sehari-hari (ADL). Pola istirahat tidur mengkaji gangguan tidur akibat batuk dan sesak malam hari (nocturnal manifestations). Pola koping mengidentifikasi kecemasan atau depresi akibat sifat penyakit yang kambuhan dan tidak terprediksi. (PPNI, 2017)

2. Diagnosis Keperawatan

Diagnosis Prioritas 1-5

  • Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001) b.d. hiperplasi dinding jalan napas, spasme jalan napas, hipersekresi jalan napas d.d. mengorok (wheezing), sputum berlebih dan kental, batuk tidak efektif, dispnea.
  • Pola Napas Tidak Efektif (D.0005) b.d. hambatan upaya napas, deformitas dinding dada d.d. dispnea, penggunaan otot bantu napas, fase ekspirasi memanjang, takipnea, pola napas abnormal.
  • Gangguan Pertukaran Gas (D.0003) b.d. ketidakseimbangan ventilasi-perfusi d.d. PCO2 meningkat/menurun, PO2 menurun, takikardia, mengorok, gelisah, warna kulit abnormal (sianosis).
  • Intoleransi Aktivitas (D.0056) b.d. ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen d.d. mengeluh lelah, dispnea saat/setelah beraktivitas, frekuensi jantung meningkat >20% dari posisi istirahat.
  • Ansietas (D.0080) b.d. ancaman terhadap kematian (rasa tercekik/gagal napas) d.d. merasa bingung, tampak tegang, gelisah, sulit tidur, frekuensi napas dan nadi meningkat.

Diagnosis Prioritas 6-10

  • Defisit Pengetahuan (D.0111) b.d. kurang terpapar informasi (mengenai teknik inhaler dan penghindaran pemicu) d.d. menanyakan masalah yang dihadapi, menunjukkan perilaku tidak sesuai anjuran.
  • Gangguan Pola Tidur (D.0055) b.d. hambatan lingkungan (gejala respirasi malam hari) d.d. mengeluh sulit tidur, mengeluh tidak puas tidur, mengeluh istirahat tidak cukup.
  • Risiko Ketidakpatuhan (D.0114) d.d. faktor risiko kompleksitas regimen pengobatan, durasi terapi jangka panjang, kurangnya motivasi.
  • Keletihan (D.0057) b.d. kondisi fisiologis (peningkatan kerja napas kronis) d.d. mengeluh lelah, tidak mampu mempertahankan aktivitas fisik, tampak lesu.
  • Risiko Defisit Nutrisi (D.0032) d.d. faktor risiko faktor psikologis (keengganan makan akibat sesak napas/dispnea saat mengunyah). (PPNI, 2017)

3. Perencanaan

Perencanaan Diagnosis 1-3 (SDKI SIKI SLKI)

Intervensi Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001)
  • Luaran: Bersihan Jalan Napas (L.01001) meningkat (Mengi/mengorok menurun, produksi sputum menurun, batuk efektif meningkat, dispnea menurun).
  • Intervensi: Manajemen Jalan Napas (I.01011). Observasi: Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas), monitor bunyi napas tambahan (mengi/mengorok), monitor sputum (jumlah, warna, aroma). Terapeutik: Posisikan fowler atau semi-fowler, berikan minum hangat, lakukan penghisapan lendir kurang dari 15 detik jika perlu. Edukasi: Ajarkan teknik batuk efektif. Kolaborasi: Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran, atau mukolitik melalui nebulisasi sesuai program medis.
Intervensi Pola Napas Tidak Efektif (D.0005)
  • Luaran: Pola Napas (L.01004) membaik (Dispnea menurun, penggunaan otot bantu napas menurun, pemanjangan fase ekspirasi menurun, frekuensi napas membaik).
  • Intervensi: Pemantauan Respirasi (I.01014). Observasi: Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas; monitor adanya adanya retraksi dinding dada; monitor nilai PEF. Terapeutik: Atur interval pemantauan respirasi sesuai kondisi pasien, dokumentasikan hasil pemantauan. Edukasi: Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan, ajarkan teknik pernapasan pursed-lip breathing.
Intervensi Gangguan Pertukaran Gas (D.0003)
  • Luaran: Pertukaran Gas (L.01003) meningkat (PCO2 membaik, PO2 membaik, tingkat gelisah menurun, sianosis menghilang).
  • Intervensi: Terapi Oksigen (I.01026). Observasi: Monitor kecepatan aliran oksigen, monitor posisi alat terapi oksigen, monitor integritas mukosa hidung; monitor hasil analisis gas darah (AGD) dan oksimetri nadi. Terapeutik: Bersihkan rahas hidung atau mulut berkala, pertahankan kepatenan jalan napas, siapkan peralatan oksigen dan jalankan sistem humidifikasi. Edukasi: Ajarkan pasien dan keluarga cara meletakkan alat oksigen secara mandiri. Kolaborasi: Kolaborasi penentuan dosis dan perubahan modalitas terapi oksigen.

Perencanaan Diagnosis 4-6 (SDKI SIKI SLKI)

Intervensi Intoleransi Aktivitas (D.0056)
  • Luaran: Toleransi Aktivitas (L.05047) meningkat (Kemudahan dalam melakukan aktivitas sehari-hari meningkat, keluhan lelah menurun, dispnea setelah aktivitas menurun).
  • Intervensi: Manajemen Energi (I.05178). Observasi: Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan, monitor kelelahan fisik dan emosional, monitor pola dan jam tidur. Terapeutik: Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus, lakukan latihan rentang gerak pasif/aktif, fasilitasi duduk di sisi tempat tidur. Edukasi: Anjurkan tirah baring, anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap, ajarkan strategi koping untuk mengurangi kelelahan.
Intervensi Ansietas (D.0080)
  • Luaran: Tingkat Ansietas (L.09093) menurun (Verbalisasi khawatir berkurang, perilaku gelisah menurun, ketegangan fisik menurun).
  • Intervensi: Reduksi Ansietas (I.09314). Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah, monitor tanda-tanda ansietas (verbal dan non-verbal). Terapeutik: Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan, temani pasien untuk mengurangi kecemasan, gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan. Edukasi: Jelaskan semua prosedur, termasuk sensasi yang mungkin dialami; anjurkan keluarga untuk tetap bersama pasien; ajarkan teknik relaksasi (distraksi, napas dalam).
Intervensi Defisit Pengetahuan (D.0111)
  • Luaran: Tingkat Pengetahuan (L.12111) meningkat (Kemampuan menjelaskan pengetahuan tentang tata laksana meningkat, perilaku sesuai anjuran, kesalahan persepsi menurun).
  • Intervensi: Edukasi Proses Penyakit (I.12444). Observasi: Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi. Terapeutik: Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan, jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan, berikan kesempatan untuk bertanya. Edukasi: Jelaskan penyebab dan pemicu penyakit, jelaskan tanda dan gejala eksaserbasi, ajarkan cara meminimalkan efek samping obat kontroler, demonstrasikan teknik penggunaan inhaler yang benar dengan spacer.

Perencanaan Diagnosis 7-10 (SDKI SIKI SLKI)

Intervensi Gangguan Pola Tidur (D.0055)
  • Luaran: Pola Tidur (L.05045) membaik (Keluhan sulit tidur menurun, keluhan istirahat tidak cukup berkurang, efisiensi tidur meningkat).
  • Intervensi: Dukungan Tidur (I.05174). Observasi: Identifikasi pola aktivitas dan tidur, identifikasi faktor pengganggu tidur (nyeri atau sesak). Terapeutik: Modifikasi lingkungan (mis. pencahayaan, suhu, kebisingan tempat tidur), tetapkan jadwal tidur rutin, hindari makanan/minuman yang mengganggu tidur sebelum tidur. Edukasi: Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit, ajarkan relaksasi autogenik sebelum tidur.
Intervensi Risiko Ketidakpatuhan (D.0114)
  • Luaran: Tingkat Kepatuhan (L.12110) meningkat (Perilaku mengikuti program perawatan meningkat, tanda gejala penyakit menurun).
  • Intervensi: Modifikasi Perilaku Kepatuhan (I.12463). Observasi: Identifikasi faktor penyebab ketidakpatuhan (mis. ketakutan efek samping steroid inhalasi, masalah finansial). Terapeutik: Berikan penguatan positif terhadap perilaku patuh, libatkan keluarga sebagai Pengawas Minum Obat (PMO). Edukasi: Informasikan konsekuensi ketidakpatuhan terhadap risiko remodeling paru permanen.
Intervensi Keletihan (D.0057)
  • Luaran: Tingkat Keletihan (L.05046) menurun (Keluhan lelah menurun, lesu menurun, kemampuan melakukan aktivitas meningkat).
  • Intervensi: Edukasi Aktivitas/Istirahat (I.12362). Terapeutik: Menyusun jadwal aktivitas harian yang seimbang antara aktivitas fisik dan periode istirahat panjang. Edukasi: Ajarkan penyusunan energi (energy conservation) saat mandi atau berpakaian untuk meminimalkan dispnea.
Intervensi Risiko Defisit Nutrisi (D.0032)
  • Luaran: Status Nutrisi (L.03030) membaik (Porsi makanan yang dihabiskan meningkat, nafsu makan membaik, indeks massa tubuh membaik).
  • Intervensi: Manajemen Nutrisi (I.03119). Observasi: Monitor asupan makanan, monitor berat badan berkala. Terapeutik: Berikan makanan tinggi kalori tinggi protein (TKTP) dalam porsi kecil tapi sering, lakukan kebersihan mulut sebelum makan jika perlu. Edukasi: Ajarkan diet yang diprogramkan (hindari makanan pemicu alergi).

4. Implementasi

Pelaksanaan Tindakan Akut dan Respirasi

Melakukan pemantauan pola napas dan auskultasi bunyi mengorok secara berkala, mengukur nilai arus puncak ekspirasi dengan peak flow meter, serta memposisikan pasien pada posisi fowler tinggi untuk memaksimalkan ekspansi paru. Memberikan terapi oksigen sesuai dosis program via nasal kanul atau simple mask, serta mengadministrasikan nebulisasi kombinasi agonis beta-2 (SABA) dan antikolinergik untuk mengatasi bronkospasme akut. (PPNI, 2018)

Pelaksanaan Edukasi dan Pencegahan Kambuhan

Melakukan kebersihan jalan napas dengan melatih teknik batuk efektif, memberikan air minum hangat untuk membantu mengencerkan sekret yang kental, serta melatih teknik relaksasi napas dalam untuk mereduksi ansietas akibat sesak. Mendemonstrasikan ulang teknik penggunaan metered-dose inhaler (MDI) yang tepat, membantu pasien menyusun Asthma Action Plan, serta memfasilitasi keluarga untuk mengidentifikasi dan menyingkirkan alergen pemicu di lingkungan kamar tidur pasien. (PPNI, 2018)

5. Evaluasi

Pencatatan SOAP Subjektif dan Objektif

S (Subjektif): Pasien mengungkapkan bahwa sesak napasnya telah berkurang signifikan, dada tidak lagi terasa terikat, dan ia menyatakan tidak lagi terbangun malam hari karena batuk. O (Objektif): Suara mengorok (wheezing) pada auskultasi paru menghilang bilateral, frekuensi napas stabil (18 x/menit) tanpa penggunaan otot bantu napas, nilai saturasi oksigen menunjukkan angka membaik (97% pada udara ruangan), dan nilai PEF meningkat mencapai zona hijau (>80% prediksi). (PPNI, 2019)

Pencatatan SOAP Analisis dan Perencanaan

A (Analisis): Masalah keperawatan Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif, Pola Napas Tidak Efektif, dan Gangguan Pertukaran Gas dinyatakan teratasi sepenuhnya, sedangkan diagnosis Defisit Pengetahuan dan Risiko Ketidakpatuhan teratasi sebagian. P (Perencanaan): Memutuskan untuk menghentikan intervensi kegawatdaruratan, menginstruksikan pasien untuk melanjutkan terapi inhaler rumatan (ICS-LABA) harian sesuai jadwal, serta menjadwalkan kontrol evaluasi fungsi paru (spiometri) ulang di poliklinik spesialis paru dalam satu minggu mendatang. (PPNI, 2019)

DAFTAR PUSTAKA

American Thoracic Society (ATS). (2022). International formal consensus on definition and management of severe asthma. Am J Respir Crit Care Med, 205(3), 321-335. ATS Severe Asthma Consensus Statement

Asian Pacific Society of Respirology (APSR). (2023). Clinical practice guidelines for uncontrolled asthma in the Asia-Pacific region. Respirology, 28(5), 412-426. APSR Uncontrolled Asthma Guidelines

Barnes, P. (2021). Asthma and COPD: Basic Mechanisms and Clinical Management (5th ed.). Academic Press.

Chinese Thoracic Society (CTS). (2023). Chinese national guidelines for asthma prevention and management. Chin Med J, 136(11), 1261-1275. CTS National Asthma Guidelines

FKUI. (2023). Buku Ajar Pulmonologi Klinis dan Kedokteran Respirasi. Ui Publishing.

Global Initiative for Asthma (GINA). (2024). Global Strategy for Asthma Management and Prevention. GINA Science. GINA 2024 Strategy Report

IDAI. (2021). Pedoman Nasional Asma Anak (Edisi ke-3). Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia.

Japanese Society of Allergology (JSA). (2024). Japanese guidelines for adult asthma 2024. Allergol Int, 73(2), 185-201. JSA Adult Asthma Guidelines

Malaysian Thoracic Society (MTS). (2024). Clinical practice guidelines on the management of adult asthma. MTS Publication. Malaysian Asthma Management Guidelines

Muro, S. (2025). Pathophysiological variants of uncontrolled asthma phenotype among Asian populations. Respir Med Asia, 19(1), 54-61. Pathophysiological Variants of Asian Asthma

National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI). (2023). Focused updates to the asthma management guidelines. NIH Publication. NHLBI Asthma Guidelines Update

PDPI. (2022). Asma: Pedoman Diagnosis & Penatalaksanaan Di Indonesia. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia.

PERGIZI. (2023). Peran imunoglobulin E dan eosinofil pada patomekanisme asma alergi refrakter. J Alergi Imunol Indo, 15(2), 88-95. Patomekanisme Asma Alergi Refrakter

PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI). DPP PPNI.

PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI). DPP PPNI.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *