Hipertensi tidak terkontrol merupakan suatu kondisi kronis yang mana tekanan darah seseorang tetap berada di atas target terapeutik meskipun telah mendapatkan terapi. (Perhi, 2021)
- A. Konsep Medis Hipertensi Tidak Terkontrol
- B. Konsep Asuhan Keperawatan
- DAFTAR PUSTAKA
A. Konsep Medis Hipertensi Tidak Terkontrol
1. Definisi Hipertensi Tidak Terkontrol
Definisi Dari Pakar Internasional
World Health Organization (WHO) mengartikan sindrom klinis ini sebagai peningkatan tekanan darah persisten pada atas rentang target klinis normal yang timbul akibat kegagalan regulasi vaskular sistemik tubuh. (WHO, 2023)
Oleh karena itu, American Heart Association (AHA) menjelaskan bahwa gangguan sirkulasi tersebut mencakup kondisi kegagalan pencapaian target tekanan darah di bawah 130/80 mmHg walaupun pasien telah mengonsumsi kombinasi obat antihipertensi secara optimal. (AHA, 2024)
Selanjutnya, European Society of Cardiology (ESC) menegaskan bahwa penyakit ini melibatkan resistensi vaskular sistemik yang menetap tinggi akibat interaksi disfungsi endotel dan ketidakpatuhan terapi jangka panjang. (ESC, 2024)
Selain itu, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mengategorikan disfungsi hemodinamik ini sebagai ancaman kardiovaskular utama yang mempercepat kerusakan organ target seperti jantung, otak, dan ginjal secara progesif. (CDC, 2023)
Sementara itu, Dr. Eugene Braunwald dari Harvard Medical School menyatakan bahwa patogenesis utama kondisi ini berakar dari remodeling struktural pembuluh darah serta peningkatan tonus simpatis yang gagal merespons terapi konvensional. (Braunwald, 2022)
Definisi Pakar Asia
Asian Pacific Society of Cardiology (APSC) memaparkan bahwa keluhan tekanan darah tinggi pada belahan bumi Asia erat kaitannya dengan sensitivitas natrium yang tinggi serta peningkatan prevalensi stroke hemoragik akibat fluktuasi hemodinamik. (APSC, 2023)
Selaras dengan hal tersebut, Japanese Society of Hypertension (JSH) mengartikan patologi ini sebagai elevasi tekanan darah nokturnal maupun diurnal yang memerlukan evaluasi ketat melalui pemantauan mandiri dari rumah guna mendeteksi fenomena krisis vaskular. (JSH, 2024)
Kemudian, Korean Society of Hypertension (KSH) menyebutkan bahwa manifestasi klinis ini melibatkan percepatan kekakuan dinding arteri besar akibat proses kalsifikasi dan fibrosis yang tidak terkendali oleh agen farmakologis standar. (KSH, 2023)
Meskipun demikian, Dr. Colin Teo mengungkapkan bahwa sindrom klinis kronis ini mencerminkan bentuk disfungsi vaskular sistemis pemicu beban kerja ventrikel kiri secara berlebihan yang mengganggu kualitas sirkulasi perfusi jaringan pada Asia. (Teo, 2025)
Dengan demikian, Malaysian Society of Hypertension (MSH) mendefinisikan gangguan tersebut sebagai bentuk kegagalan kendali hemodinamik yang berpotensi meningkatkan risiko mortalitas prematur akibat komplikasi infark miokard akut pada usia produktif. (MSH, 2024)
Definisi Pakar Indonesia
Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) merumuskan kondisi vaskular ini sebagai kegagalan penurunan tekanan darah sistolik di atas 140 mmHg atau diastolik di atas 90 mmHg meskipun telah menggunakan intervensi terapi. (PERKI, 2022)
Berdasarkan Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, PAPDI mendefinisikan gejala ini sebagai suatu manifestasi disregulasi neurohormonal masif yang merusak homeostasis sirkulasi dan memicu hipertrofi otot polos pembuluh darah. (PAPDI, 2020)
Menambahkan perspektif tersebut, Perhimpunan Hipertensi Indonesia (PERHI) menjelaskan bahwa komplikasi tekanan darah tinggi ini mampu memicu serangan stroke iskemik maupun hemoragik akibat pecahnya mikroaneurisma Charcot-Bouchard pada otak. (PERHI, 2021)
Akibatnya, Departemen Kardiologi FKUI/RSCM mengartikan fenomena ini sebagai manifestasi klinis krisis hemodinamik sekunder atau esensial yang menuntut penegakan diagnosis berbasis pemantauan tekanan darah ambulatori 24 jam penuh. (FKUI, 2023)
Akhirnya, Prof. Jose Roesma menegaskan bahwa timbulnya ensefalopati hipertensif serta penurunan laju filtrasi glomerulus ginjal menjadi indikator klinis utama kerusakan organ akibat tekanan darah yang tidak terkendali. (Roesma, 2024)
2. Etiologi Hipertensi Tidak Terkontrol
Faktor Kepatuhan dan Klinis
Rancangan etiologi gangguan ini melibatkan berbagai mekanisme patofisiologis. Penyebab paling dominan dari sisi klinis adalah ketidakpatuhan pasien dalam mengonsumsi obat antihipertensi, regimen dosis yang tidak adekuat (underdosing), serta fenomena white-coat effect atau vaskulopati resisten sejati yang muncul oleh hiperaldosteronisme primer maupun stenosis arteri renalis. (AHA, 2024, PERHI, 2021)
Selain itu, interaksi obat penunjang seperti penggunaan antiinflamasi nonsteroid (OAINS) jangka panjang, kortikosteroid, dan obat flu yang mengandung dekongestan dapat menaikkan tekanan darah melalui mekanisme retensi natrium pada ginjal. (PERKI, 2022)
Faktor Endokrin dan Sekunder
Sementara itu, kelainan endokrin tersembunyi seperti sindrom Cushing, feokromositoma, dan gangguan tidur berupa Obstructive Sleep Apnea (OSA) secara konstan menstimulasi sistem saraf simpatis sehingga menggagalkan efikasi agen farmakologis. (ESC, 2024)
Akhirnya, faktor non-medis meliputi gaya hidup yang buruk seperti konsumsi natrium yang sangat tinggi, obesitas transonal, kurangnya aktivitas fisik, stres psikologis kronis, serta konsumsi alkohol berlebih yang memicu vasokontriksi pembuluh darah sistemik. (WHO, 2023, PAPDI, 2020)
3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM Hipertensi Tidak Terkontrol
Fisiologi Regulasi Vaskular
Mekanisme pemeliharaan sirkulasi tubuh normal diatur oleh interaksi curah jantung (cardiac output) dan resistensi vaskular sistemik. Proses biologis ini dikontrol ketat oleh sistem saraf simpatis dan Renin-Angiotensin-Aldosterone System (RAAS).
Ketika ginjal mendeteksi penurunan perfusi, sel juxtaglomerulus melepaskan renin untuk mengubah angiotensinogen menjadi angiotensin I, yang kemudian terubah oleh ACE menjadi angiotensin II (vasokonstriktor kuat). Rumus dasar perhitungan tekanan darah sistemik dinyatakan melalui persamaan berikut:
BP = CO x SVR
Keterangan: BP = Blood Pressure (Tekanan Darah), CO = Cardiac Output (Curah Jantung), SVR = Systemic Vascular Resistance (Resistensi Vaskular Sistemik). (Braunwald, 2022)
Mekanisme Resistensi Kronis
Pada kondisi hemodinamik yang memburuk, terjadi hiperaktivitas RAAS persisten atau stimulasi simpatis yang konstan. Hal ini mengakibatkan vasokonstriksi arteriol yang berkepanjangan (peningkatan SVR) serta retensi air dan natrium oleh aldosteron (peningkatan CO). Kegagalan autoregulasi ini mempercepat proses arteriosklerosis dan kekakuan dinding pembuluh darah. (Braunwald, 2022, PAPDI, 2020)
Peningkatan beban tekanan (pressure overload) yang tinggi secara kronis memaksa ventrikel kiri melakukan kompensasi berupa hipertrofi konsentrik (LVH) untuk mempertahankan ejeksi darah. Seiring waktu, kondisi ini menurunkan kompleans jantung, mengganggu perfusi arteri koroner, serta memicu iskemia jaringan otak maupun penurunan filtrasi glomerulus ginjal. (ESC, 2024, PERHI, 2021)
Pathway
[Faktor Risiko: Ketidakpatuhan / Hiperaktivitas RAAS]
|
v
Peningkatan Resistensi Vaskular Sistemik
|
v
Beban Kerja Jantung Meningkat
|
_________________________________|_________________________________
| | |
v v v
Beban Tekanan Serebral Kontraktilitas Ventrikel Vasokonstriksi Arteri
Meningkat Kiri Menurun Renalis
| | |
v v v
[NYERI AKUT] [PENURUNAN CURAH JANTUNG] [HIPERVOLEMIA]
4. Manifestasi Klinis Hipertensi Tidak Terkontrol
a. Data Subjektif
Pasien mengeluhkan sakit kepala hebat (seperti berdenyut), terutama pada area tengkuk atau oksipital pada pagi hari saat bangun tidur. (PERHI, 2021)
Selain itu, pasien melaporkan keluhan penglihatan kabur (blurred vision), pusing berputar (vertigo), serta telinga berdenging (tinitus) secara konstan. (PAPDI, 2020)
Sementara itu, pasien sering merasakan nyeri dada yang hilang timbul (angina pectoris), sesak napas saat beraktivitas ringan (dyspnea on exertion), serta jantung berdebar-debar (palpitasi). (PERKI, 2022)
Akhirnya, pasien mengungkapkan rasa cepat lelah, kelemahan ekstremitas, kram otot, serta sering terbangun malam hari untuk buang air kecil (nokturia). (AHA, 2024)
b. Data Objektif
Berdasarkan pemeriksaan fisik, pengukuran tekanan darah arterial menunjukkan angka sistolik ≥ 140 mmHg atau diastolik ≥ 90 mmHg pada tiga kali pengukuran berbeda, bahkan sering kali mencapai fase krisis (TD> 180/120 mmHg). (PERHI, 2021)
Selanjutnya, auskultasi jantung dapat memperlihatkan adanya bunyi jantung S4 (gallop atrial) akibat penurunan komplians ventrikel kiri serta pergeseran iktus kordis ke lateral-inferior pada palpasi dada. (FKUI, 2023)
Akhirnya, pemeriksaan fisik area perifer menunjukkan adanya edema dependen pada ekstremitas bawah, pulsasi arteri perifer yang kuat (bounding pulse), serta tanda-tanda kemerahan pada wajah (flushing). (PERKI, 2022)
5. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium mencakup penilaian panel fungsi ginjal melalui pengukuran kadar ureum darah, kreatinin serum, dan perhitungan Estimated Glomerular Filtration Rate (eGFR) untuk memantau organ target. (ESC, 2024)
Selain itu, pemeriksaan urinalisis dikerjakan demi mendeteksi adanya mikroalbuminuria atau proteinuria kuantitatif sebagai indikator awal kerusakan endotel vaskular renal. (Roesma, 2024)
Sementara itu, pemeriksaan profil lipid lengkap (kolesterol total, HDL, LDL, trigliserida) serta wajib memeriksa gula darah sewaktu untuk menilai indeks risiko kardiovaskular total pasien. (PERHI, 2021)
b. Pemeriksaan Radiologi
Melakukan Foto rontgen toraks (Chest X-Ray) secara rutin untuk memvisualisasikan adanya pembesaran siluet jantung (kardiomegali) serta tanda-tanda kongesti vaskular paru atau edema pulmonal. (PAPDI, 2020)
c. Pemeriksaan Lain
Mengerjakan pula Elektrokardiografi (EKG) 12-lead untuk mendeteksi kriteria voltase hipertrofi ventrikel kiri (Left Ventricular Hypertrophy / LVH) seperti kriteria Sokolow-Lyon:
SV1 + RV5 atau RV6 > 35 mm
Selain itu, menggunakan Ambulatory Blood Pressure Monitoring (ABPM) 24 jam untuk mengevaluasi variabilitas tekanan darah riil selama aktivitas dan tidur. (AHA, 2024, PERKI, 2022)
6. Penatalaksanaan Medis
a. Terapi Farmakologis
Pemberian terapi kombinasi dua atau tiga kelas obat dosis optimal (seperti golongan ACE-inhibitor/ARB ditambah Calcium Channel Blocker dan Diuretik Thiazide) menjadi lini pertama wajib bagi pasien. (AHA, 2024)
Selanjutnya, menerapkan penambahan antagonis reseptor aldosteron seperti Spironolactone 25 mg sehari secara khusus jika pasien terkonfirmasi mengalami resistensi vaskular sistemik atau aldosteronisme sekunder. (ESC, 2024)
Meskipun demikian, jika pasien mengalami krisis emergensi dengan kerusakan organ akut, pemberian obat intravena kontinu seperti Nicardipine, Nitroprusid, atau Labetalol dosis titrasi harus segera dimulai pada ruang intensif. (PERHI, 2021)
b. Terapi Non-Farmakologis
Menginstruksikan pasien untuk membatasi asupan natrium harian maksimal 2000 miligram (setara dengan satu sendok teh garam dapur) melalui penerapan pola diet DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension). (WHO, 2023)
Akhirnya, penurunan berat badan hingga mencapai indeks massa tubuh ideal, olahraga aerobik intensitas sedang selama 150 menit per minggu, serta wajib mengimplementasikan penghentian konsumsi rokok dan alkohol secara ketat. (PERKI, 2022)
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
a. Identitas Pasien
Pencatatan data dasar pasien yang meliputi nama, usia (risiko meningkat seiring pertambahan usia di atas 45 tahun), jenis kelamin, status pernikahan, riwayat pekerjaan (terkait tingkat stres), tingkat pendidikan, dan alamat rumah. (PPNI, 2017)
b. Riwayat Kesehatan
- Keluhan Utama: Pasien mengeluhkan pusing hebat, tengkuk terasa kaku, nyeri dada, atau tekanan vaskularnya tetap tinggi saat diukur mandiri.
- Riwayat Kesehatan Sekarang: Mengidentifikasi onset nyeri kepala, lokasinya (oksipital), faktor pemicu (stres, kelelahan), kualitas nyeri (berdenyut), serta mengevaluasi tingkat kepatuhan minum obat antihipertensi akhir-akhir ini.
- Riwayat Kesehatan Dahulu: Menanyakan durasi menderita tekanan darah tinggi, riwayat penyakit stroke sebelumnya, penyakit jantung koroner, diabetes melitus, penyakit ginjal kronis, atau asma (terkait kontraindikasi obat beta-blocker).
- Riwayat Keluarga & Gaya Hidup: Menanyakan riwayat penyakit pada orang tua, pola konsumsi makanan tinggi garam/lemak harian, kebiasaan merokok, tingkat konsumsi kopi, dan tingkat aktivitas fisik harian. (PERHI, 2021)
c. Pemeriksaan Fisik
Penilaian Kardiovaskular dan Toraks
Inspeksi dinding dada untuk melihat pulsasi iktus kordis. Palpasi kekuatan nadi perifer pada keempat ekstremitas (bounding pulse), raba lokasi iktus kordis yang bergeser ke arah kiri bawah akibat kardiomegali. Perkusi batas jantung untuk menilai pembesaran organ jantung. Auskultasi bunyi jantung S1-S2, dengarkan adanya bunyi jantung tambahan S3 atau S4, serta hitung frekuensi denyut jantung. Auskultasi paru untuk memastikan tidak ada ronkhi basah di basal paru akibat komplikasi gagal jantung kiri. (PERKI, 2022, PAPDI, 2020)
Penilaian Neurologis dan Sistem Perifer
Inspeksi pupil, fungsi motorik ekstremitas untuk mendeteksi tanda awal stroke iskemia/hemoragik sekunder. Palpasi area tengkuk yang kaku. Pemeriksaan fungsi sensorik perifer, uji ketajaman penglihatan (kasus retinopati vaskular menyebabkan pandangan kabur). Palpasi area abdomen untuk mendeteksi adanya massa pulsatif (aneurisma aorta abdomen) atau bruit arteri renalis melalui auskultasi abdomen kuadran atas. Inspeksi adanya pitting edema pada area pretibial dan pergelangan kaki. Catat volume haluaran urin 24 jam untuk memantau penurunan fungsi ekskresi ginjal. (PPNI, 2017)
d. Pengkajian Pola Fungsi Kesehatan
Pola persepsi dan manajemen kesehatan menilai pemahaman pasien tentang bahaya penyakit tanpa gejala (silent killer) serta kepatuhan minum obat. Pola nutrisi mengevaluasi preferensi makanan tinggi natrium dan lemak jenuh. Pola aktivitas dan latihan memetakan keterbatasan fisik akibat keluhan pusing atau sesak saat beraktivitas. Pola istirahat tidur menilai adanya insomnia akibat nyeri kepala nocturnal atau nokturia. Pola koping dan toleransi stres mengidentifikasi adanya stresor psikososial yang memicu fluktuasi tekanan darah tinggi. (PPNI, 2017)
2. Diagnosis Keperawatan
Diagnosis Prioritas 1-5
- Nyeri Akut (D.0077) b.d. agen pencedera fisiologis (peningkatan tekanan vaskular serebral) d.d. mengeluh pusing/sakit kepala, tampak meringis, gelisah, tekanan darah meningkat.
- Penurunan Curah Jantung (D.0008) b.d. peningkatan afterload (resistensi vaskular sistemik tinggi menetap) d.d. tekanan darah tinggi, lelah, adanya bunyi jantung S4, kardiomegali.
- Hipervolemia (D.0022) b.d. gangguan mekanisme regulasi (retensi cairan dan natrium sekunder akibat disfungsi renal) d.d. edema perifer, nokturia, asupan cairan melebihi haluaran.
- Intoleransi Aktivitas (D.0056) b.d. ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen d.d. mengeluh lelah, dispnea saat/setelah beraktivitas, frekuensi nadi meningkat >20% dari nilai basal.
- Kepatuhan Meningkat / Risiko Ketidakpatuhan (D.0114) b.d. kompleksitas regimen pengobatan / kurangnya sistem pendukung d.d. perilaku tidak mengikuti program perawatan/pengobatan. (PPNI, 2017)
Diagnosis Prioritas 6-10
- Ansietas (D.0080) b.d. kekhawatiran terhadap akibat kondisi yang dihadapi d.d. merasa bingung, tampak tegang, gelisah.
- Defisit Pengetahuan (D.0111) b.d. kurang terpapar informasi mengenai manajemen vaskular d.d. menunjukkan perilaku tidak sesuai anjuran, salah persepsi obat.
- Gangguan Pola Tidur (D.0055) b.d. kurang kontrol tidur d.d. mengeluh sulit tidur karena nyeri kepala atau terbangun akibat nokturia.
- Gangguan Rasa Nyaman (D.0074) b.d. gejala penyakit d.d. mengeluh tidak nyaman, mual, merasa kaku di area leher belakang.
- Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif (D.0017) d.d. faktor risiko hemodinamik tidak terkendali (tekanan darah sistolik >180 mmHg). (PPNI, 2017)
3. Perencanaan
Intervensi Nyeri Akut (D.0077)
- Luaran: Tingkat Nyeri (L.08066) menurun (Keluhan pusing menurun, meringis menurun, gelisah menurun, ketegangan otot leher berkurang).
- Intervensi: Manajemen Nyeri (I.08238). Observasi: Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri kepala. Terapeutik: Berikan teknik non-farmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis. teknik relaksasi napas dalam, kompres dingin pada dahi/tengkuk, batasi kunjungan/suasana tenang). Edukasi: Jelaskan strategi meredakan nyeri, anjurkan istirahat baring saat pusing timbul. Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat antihipertensi dan analgetik sesuai program medis.
Intervensi Penurunan Curah Jantung (D.0008)
- Luaran: Curah Jantung (L.02008) meningkat (Tekanan darah membaik mendekati target, lelah menurun, bunyi jantung S3/S4 tidak ada, edema menurun).
- Intervensi: Perawatan Jantung (I.02075). Observasi: Monitor tekanan darah secara berkala (tiap 1-4 jam pada fase akut), monitor adanya bunyi jantung tambahan, monitor status hidrasi. Terapeutik: Posisikan pasien semi-fowler atau fowler, sediakan lingkungan yang mendukung untuk istirahat (bed rest). Edukasi: Anjurkan beraktivitas fisik secara bertahap sesuai toleransi jantung. Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat inotropik negatif, vasodilator, atau beta-blocker sesuai protokol klinis.
Intervensi Hipervolemia (D.0022)
- Luaran: Status Cairan (L.03028) membaik (Edema perifer menurun, balans cairan seimbang, turgor kulit membaik).
- Intervensi: Manajemen Hipervolemia (I.03114). Observasi: Periksa tanda hipervolemia (edema, JVP), monitor intake dan output cairan harian, monitor berat badan harian pada waktu yang sama. Terapeutik: Batasi asupan cairan dan natrium sesuai instruksi. Edukasi: Ajarkan cara mengukur dan mencatat asupan serta haluaran cairan secara mandiri. Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat diuretik (mis. Furosemide) sesuai advis medis.
Intervensi Intoleransi Aktivitas (D.0056)
- Luaran: Toleransi Aktivitas (L.05047) meningkat (Kemudahan melakukan aktivitas sehari-hari meningkat, keluhan lelah menurun, dispnea setelah aktivitas menurun).
- Intervensi: Manajemen Energi (I.05178). Observasi: Monitor kelelahan fisik dan emosional, monitor respons kardiorespirasi terhadap aktivitas (nadi, TD). Terapeutik: Fasilitasi duduk di tempat tidur atau ambulasi dini secara bertahap. Edukasi: Anjurkan melakukan aktivitas secara terstruktur dan selingi dengan periode istirahat yang adekuat.
Intervensi Kepatuhan / Risiko Ketidakpatuhan (D.0114)
- Luaran: Tingkat Kepatuhan (L.12110) meningkat (Perilaku mengikuti program perawatan/pengobatan meningkat, tanda dan gejala penyakit menurun).
- Intervensi: Modifikasi Perilaku Kepatuhan (I.12463). Observasi: Identifikasi faktor penyebab ketidakpatuhan (mis. efek samping obat, biaya, lupa). Terapeutik: Libatkan keluarga dalam pengawasan minum obat (PMO), sediakan kotak obat harian (pill box). Edukasi: Informasikan konsekuensi jika tidak patuh minum obat (risiko stroke/gagal ginjal).
Intervensi Ansietas (D.0080)
- Luaran: Tingkat Ansietas (L.09093) menurun (Verbalisasi kebingungan menurun, perilaku tegang berkurang, gelisah menurun).
- Intervensi: Reduksi Ansietas (I.09314). Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah, monitor tanda-tanda ansietas. Terapeutik: Temani pasien untuk mengurangi kecemasan, gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan. Edukasi: Jelaskan semua prosedur pemeriksaan klinis secara sederhana dan jelas.
Intervensi Defisit Pengetahuan (D.0111)
- Luaran: Tingkat Pengetahuan (L.12111) meningkat (Kemampuan menjelaskan pengetahuan tentang manajemen vaskular meningkat, perilaku sesuai anjuran).
- Intervensi: Edukasi Proses Penyakit (I.12444). Edukasi: Jelaskan target tekanan darah yang ingin dicapai, ajarkan diet rendah garam (DASH), jelaskan perbedaan obat pengendali harian dan obat darurat.
Intervensi Gangguan Pola Tidur (D.0055)
- Luaran: Pola Tidur (L.05045) membaik (Keluhan sulit tidur menurun, keluhan istirahat tidak cukup berkurang).
- Intervensi: Dukungan Tidur (I.05174). Terapeutik: Atur jadwal prosedur keperawatan dan pemberian obat diuretik di pagi/siang hari (hindari malam hari untuk mencegah nokturia).
Intervensi Gangguan Rasa Nyaman (D.0074)
- Luaran: Status Kenyamanan (L.08064) meningkat (Keluhan tidak nyaman menurun, rileks meningkat, gejala gelisah menurun).
- Intervensi: Terapi Relaksasi (I.09326). Terapeutik: Ciptakan lingkungan yang tenang tanpa distraksi, demonstrasikan teknik relaksasi otot progresif atau bimbingan imajinasi (guided imagery).
Intervensi Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif (D.0017)
- Luaran: Perfusi Serebral (L.02014) meningkat (Sakit kepala menurun, tekanan darah membaik, tingkat kesadaran kognitif penuh).
- Intervensi: Pemantauan TIK (I.06198). Observasi: Monitor tanda dan gejala neurologis mendadak (mis. kelemahan sesisi, pelo, muntah proyektil). Terapeutik: Pertahankan posisi kepala tempat tidur elevasi 30 derajat untuk memfasilitasi sirkulasi balik vena serebral.
4. Implementasi
Pelaksanaan Intervensi Akut
Mengidentifikasi karakteristik nyeri kepala, mengukur parameter tanda vital, serta mengukur tingkat variabilitas tekanan darah arterial pasien menggunakan alat sfigmomanometer secara berkala. Mengaplikasikan tindakan non-farmakologis berupa teknik kompres dingin pada tengkuk belakang serta memposisikan kepala tempat tidur elevasi 30 derajat untuk mereduksi kongesti vaskular serebral. (PPNI, 2018)
Pelaksanaan Kardiovaskular dan Edukasi
Melakukan restriksi asupan natrium harian pada menu diet pasien sesuai prinsip DASH, serta menghitung balans cairan masuk dan keluar per shift untuk memantau retensi volume darah. Memfasilitasi pemberian obat antihipertensi kombinasi oral (seperti Amlodipine dan Candesartan) serta mengedukasi keluarga mengenai pentingnya kepatuhan minum obat seumur hidup guna mencegah krisis vaskular sekunder. (PPNI, 2018)
5. Evaluasi
Pencatatan SOAP Subjektif dan Objektif
S (Subjektif): Pasien melaporkan keluhan pusing berdenyut dan kaku pada leher belakang telah berkurang banyak, serta menyatakan sudah paham cara menyusun jadwal minum obat mandiri di rumah. O (Objektif): Nilai tekanan darah terukur menunjukkan penurunan stabil menuju angka target (TD = 132/82 mmHg), tidak didapatkan tanda edema pretibial baru, denyut nadi teratur (82 kali per menit), dan pasien mampu mempraktikkan teknik relaksasi napas dalam secara mandiri. (PPNI, 2019)
Pencatatan SOAP Analisis dan Perencanaan
A (Analisis): Masalah keperawatan Nyeri Akut, Penurunan Curah Jantung, dan Defisit Pengetahuan dinyatakan telah teratasi, sedangkan diagnosis Kepatuhan Meningkat teratasi sebagian. P (Perencanaan): Memutuskan untuk menghentikan intervensi fase akut di rumah sakit, menginstruksikan pasien untuk melanjutkan regimen terapi obat rumahan, serta memfasilitasi transisi rujukan pemantauan berkala ke fasilitas kesehatan tingkat pertama. (PPNI, 2019)
DAFTAR PUSTAKA
American Heart Association (AHA). (2024). Guidelines for the management of high blood pressure in adults. AHA Journals. Hypertension Management Guidelines
Asian Pacific Society of Cardiology (APSC). (2023). Consensus recommendations for uncontrolled hypertension management in Asian populations. APSC Journal, 12(1), 34-41. APSC Uncontrolled Hypertension Consensus
Braunwald, E. (2022). Braunwald’s Heart Disease: A Textbook of Cardiovascular Medicine (12th ed.). Elsevier.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2023). Hypertension control rate and target organs complications. MMWR, 72(2), 45-51. CDC Hypertension Control Data
European Society of Cardiology (ESC). (2024). ESC Guidelines for the management of elevated blood pressure and hypertension. European Heart Journal, 45(9), 812-825. ESC Hypertension Guidelines
FKUI. (2023). Buku Panduan Pelayanan Klinis Kardiologi preventif dan Hipertensi. Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI/RSCM.
Japanese Society of Hypertension (JSH). (2024). Guidelines for the management of hypertension. Hypertension Research, 47(4), 211-230. JSH Hypertension Guidelines
Korean Society of Hypertension (KSH). (2023). Clinical practice guidelines for hypertension control in Korea. Clinical Hypertension, 29(2), 14-22. KSH Practice Guidelines
Malaysian Society of Hypertension (MSH). (2024). Clinical practice guidelines on management of hypertension (6th ed.). MSH Ministry of Health. Malaysian Hypertension Guidelines
PAPDI. (2020). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam (Edisi ke-7). InternaPublishing.
PERHI. (2021). Konsensus Penatalaksanaan Hipertensi 2021: Pemutakhiran dari PERHI. Perhimpunan Hipertensi Indonesia.
PERKI. (2022). Pedoman Diagnosis dan Tatalaksana Hipertensi pada Penyakit Kardiovaskular. Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia.
PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI). DPP PPNI.
PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI). DPP PPNI.
PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI). DPP PPNI.
Roesma, J. (2024). Patofisiologi kerusakan glomerulus pada penderita hipertensi essensial tidak terkontrol. Jurnal Nefrologi Indonesia, 41(2), 102-109. Patofisiologi Nefropati Hipertensif

Tinggalkan Balasan