GANGGUAN IDENTITAS DISOSIATIF

Gangguan Identitas Disosiatif merupakan kondisi mental kompleks ketika seseorang memiliki dua atau lebih kepribadian yang berbeda dan saling mengendalikan kesadaran secara bergantian.

A. Konsep Medis Gangguan Identitas

1. Definisi Gangguan Identitas

Definisi Dari Pakar Internasional

American Psychiatric Association (2013) mendefinisikan gangguan identitas disosiatif sebagai adanya dua atau lebih identitas yang terpisah secara jelas. Identitas-identitas ini secara konsisten mengambil alih kendali perilaku serta ketidakmampuan mengingat informasi pribadi yang penting. (American Psychiatric Association, 2013)

Kluft (2015) menjelaskan kondisi ini sebagai sebuah gangguan pascatrauma kronis yang berakar dari kegagalan proses integrasi memori, identitas, dan kesadaran. Masalah tersebut biasanya timbul akibat trauma masa kanak-kanak yang parah. (Kluft, 2015)

Brand (2016) menegaskan bahwa gangguan tersebut bermanifestasi sebagai bentuk fragmentasi struktur kepribadian seseorang yang matang secara abnormal. Akibatnya, kondisi ini memicu munculnya status ego yang terisolasi dan mandiri. (Brand, 2016)

Dell (2019) merumuskan penyakit mental ini sebagai gangguan disosiatif yang paling parah. Melalui kondisi tersebut, individu mengalami fenomena intrusi subjektif yang konstan ke dalam fungsi kesadaran normal mereka. (Dell, 2019)

Spiegel (2020) memandang fenomena psikologis tersebut sebagai mekanisme pertahanan neurobiologis yang ekstrem. Oleh karena itu, seseorang memisahkan memori traumatik dari kepribadian utama guna mempertahankan kelangsungan hidup psikisnya. (Spiegel, 2020)

Definisi Pakar Asia

Chiu (2014) mengartikan gangguan ini sebagai kondisi disosiasi kronis yang dipicu oleh konflik budaya interpersonal yang berat. Selanjutnya, disintegrasi tersebut merusak kohesi diri individu secara mendalam. (Chiu, 2014)

Sugiura (2017) mendeskripsikan penyakit tersebut sebagai fragmentasi kesadaran diri (ji-ko) yang termanifestasi melalui kehadiran entitas psikologis alternatif. Kemudian, entitas alternatif tersebut merespons tekanan lingkungan secara otonom. (Sugiura, 2017)

Nathanson (2018) mengidentifikasi gangguan tersebut sebagai kegagalan perkembangan integratif psikis anak. Sehubungan dengan hal itu, kondisi ini timbul akibat pola asuh maladaptif dan trauma fisik dari lingkungan domestik. (Nathanson, 2018)

Kim (2021) mengonseptualisasikan kondisi ini sebagai bentuk gangguan memori episodik dan hilangnya kontinuitas identitas diri. Selain itu, masalah ini berhubungan erat dengan stresor sosial budaya yang ekstrem. (Kim, 2021)

Shah (2023) mendefinisikan patologi psikologis ini sebagai manifestasi klinis yang mana seseorang mengadopsi identitas transisional yang berbeda. Akhirnya, perubahan tersebut berfungsi untuk mengekspresikan distres psikologis yang tidak diterima masyarakat. (Shah, 2023)

Definisi Pakar Indonesia

Maramis (2010) menjelaskan gangguan identitas disosiatif sebagai suatu keadaan pecahnya kepribadian seseorang menjadi beberapa bagian. Sementara itu, masing-masing bagian berfungsi secara mandiri sebagai satu kesatuan yang utuh. (Maramis, 2010)

Suryani (2013) mengemukakan bahwa fenomena ini melibatkan proses pelepasan diri dari realitas tubuh dan lingkungan sekitar. Alhasil, proses tersebut memicu kemunculan manifestasi kepribadian lain yang berbeda. (Suryani, 2013)

Wiguna (2016) merumuskan gangguan tersebut sebagai gangguan perkembangan saraf dan psikososial yang kompleks. Dengan demikian, anak mengembangkan sistem alter-ego sebagai tameng menghadapi kekerasan kronis. (Wiguna, 2016)

Idrus (2019) mengartikan penyakit jiwa tersebut sebagai disregulasi kesadaran berat. Keadaan ini menghalangi integrasi fungsi memori, persepsi, dan identitas diri personal pasien. (Idrus, 2019)

Elvira (2022) menegaskan bahwa kondisi ini merupakan gangguan disosiatif paling kompleks dalam klasifikasi medis. Ciri utamanya yaitu amnesia disosiatif dan pengambilalihan kesadaran oleh identitas alternatif secara periodik. (Elvira, 2022)

2. Etiologi Gangguan Identitas

Etiologi kondisi ini bersifat multifaktorial. Penyebab utama meliputi kekerasan fisik, seksual, atau emosional yang berulang sebelum usia 9 tahun. Kejadian traumatis tersebut merusak struktur pertahanan mental anak. (Brand et al., 2016)

Selain trauma, kegagalan dalam pembentukan hubungan emosional yang aman dengan pengasuh utama juga menjadi pemicu penting. Kondisi patologis ini diperparah oleh kerentanan biologis bawaan berupa kapasitas disosiatif yang tinggi. (Brand et al., 2016)

Selain itu, ketiadaan figur pelindung atau lingkungan yang memvalidasi rasa sakit pascatrauma membuat anak makin terisolasi. Oleh karena itu, stresor neurobiologis tersebut mengganggu aksis hipotalamus-hipofisis-adrenal (HPA) sejak dini. (Brand et al., 2016)

3. Patofisiologi Sistem Gangguan Identitas

Mekanisme Trauma Otak

Secara neurobiologis, trauma kronis pada masa kanak-kanak saat otak sedang berkembang menyebabkan stimulasi berlebih pada sistem limbik. Kondisi ini memicu atrofi pada area hipokampus dan amigdala. (Spiegel et al., 2020)

Kegagalan integrasi antara korteks prefrontal dan struktur limbik ini menghambat otak untuk menyatukan ingatan. Akibatnya, memori traumatik tersebut terisolasi dan membentuk kompartemen psikis yang mandiri. (Spiegel et al., 2020)

Melalui mekanisme pembahanan disosiatif, kompartemen-kompartemen ini berkembang menjadi status ego yang terpisah. Selanjutnya, status ego tersebut bermanifestasi sebagai kepribadian alternatif yang memegang kendali kesadaran secara bergantian. (Spiegel et al., 2020)

Skema Alur KDM

                       Trauma Fisik / Seksual / Emosional Kronis

                                          │

                  Ketidakmampuan Mengatasi Stresor (Koping Tidak Efektif)

                                          │

              Stimulasi Berlebih Sistem Limbik & Atrofi Hipokampus/Amigdala

                                          │

                    Kegagalan Integrasi Memori, Persepsi, & Kesadaran

                                          │

                         Mekanisme Pertahanan Disosiatif Ekstrem

                                          │

                     Terbentuknya Kompartemen Psikis (Alter Ego)

                                          │

    ┌─────────────────────────────────────┴─────────────────────────────────────┐

    ▼                                     ▼                                     ▼

Amnesia Disosiatif                Fragmentasi Identitas                Transisi Antar Kepribadian

    │                                     │                                     │

Gagal Mengingat                       Kebingungan                      Perilaku Maladaptif, Upaya

Informasi Penting                     Identitas Diri                   Bunuh Diri, Perilaku Agresif

    │                                     │                                     │

    ▼                                     ▼                                     ▼

[GANGGUAN MEMORI]              [GANGGUAN IDENTITAS DIRI]              [RISIKO CEDERA DIRI]

4. Manifestasi Klinis Gangguan Identitas

Data Subjektif Pasien

Pasien mengeluhkan kehilangan waktu atau mengalami distorsi waktu yang signifikan. Selain itu, mereka melaporkan mendengar suara-suara dalam kepala yang saling berdebat. (American Psychiatric Association, 2013)

Pasien juga menyatakan merasa asing dengan tubuhnya sendiri serta merasa dunia pada sekitarnya tampak berkabut. Kemudian, mereka mengeluh lupa pada peristiwa penting dalam hidupnya. (American Psychiatric Association, 2013)

Data Objektif Klinis

Pemeriksa menemukan perubahan mendadak pada gaya bicara, nada suara, postur tubuh, dan ekspresi wajah pasien. Tambahan pula, terdapat juga barang-barang yang tidak dikenali dalam tas pasien. (Brand et al., 2016)

Pasien menunjukkan perilaku fugue atau pergi ke suatu tempat tanpa mengingat proses perjalanannya. Terakhir, terdapat luka bekas percobaan melukai diri sendiri tanpa ingatan yang jelas. (Brand et al., 2016)

5. Pemeriksaan Penunjang Gangguan Identitas

Evaluasi Laboratorium

Melakukan pemeriksaan toksikologi urin untuk menyingkirkan kemungkinan gejala akibat pengaruh zat psikoaktif atau alkohol. Sementara itu, pemeriksaan fungsi tiroid mendeteksi adanya gangguan endokrin penyebab instabilitas emosi. (Dell, 2019)

Evaluasi Radiologi

Magnetic Resonance Imaging (MRI) otak mendeteksi struktur anatomi untuk menyingkirkan diagnosis banding berupa tumor. Selain itu, fMRI menunjukkan penurunan volume hipokampus dan amigdala pasien. (Spiegel et al., 2020)

Evaluasi Spesifik Lain

Wawancara klinis menggunakan instrumen Structured Clinical Interview for DSM-5 Dissociative Disorders (SCID-D). Selain itu, kuesioner Dissociative Experiences Scale (DES) mengukur tingkat keparahan gejala, sedangkan EEG menyingkirkan epilepsi. (Dell, 2019)

6. Penatalaksanaan Medis

Metode Farmakologis

Memfokuskan terapi obat pada penanganan komorbiditas. Serta memberikan Antidepresan seperti Sertraline (50 mg- 200 mg) untuk mengatasi gejala depresi dan kecemasan berat. (Kluft, 2015)

Pemberian Quetiapine (25 mg} – 150 mg/hari sebelum tidur) mengendalikan agresi dan hiperarousal. Sebaliknya, dapat menggunakan obat ansiolitik dalam dosis minimal dengan pengawasan ketat. (Kluft, 2015)

Metode Non-Farmakologis

Melaksanakan Psikoterapi Berorientasi Trauma melalui tiga fase, yaitu stabilisasi, pemrosesan memori, dan reintegrasi kepribadian. Kemudian, Cognitive Behavioral Therapy (CBT) membantu mengubah pola pikir maladaptif pasien. (Brand et al., 2016)

Dialectical Behavior Therapy (DBT) melatih regulasi emosi dan toleransi distres. Sementara itu, Eye Movement Desensitization and Reprocessing (EMDR) diaplikasikan secara hati-hati untuk memproses memori trauma. (Brand et al., 2016)

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Klinis

Identitas dan Riwayat

Pengkajian identitas mencakup nama, usia, jenis kelamin, dan nomor rekam medis. Perawat harus memperhatikan nama alter ego yang mungkin muncul saat proses pengkajian berlangsung.

Riwayat kesehatan masa lalu berfokus pada trauma masa kanak-kanak, kekerasan fisik, dan penelantaran. Sementara itu, keluhan utama biasanya berkisar pada kehilangan waktu dan kebingungan identitas diri.

Pemeriksaan Fisik Umum

Pemeriksaan sistem pernapasan menunjukkan inspeksi dada simetris, palpasi taktil fremitus normal, perkusi sonor, dan auskultasi vesikuler. Takipnea dapat terjadi saat pasien mengalami kepanikan ekstrem.

Pemeriksaan kardiovaskular menunjukkan iktus kordis teraba pada ICS V, batas jantung normal, dan bunyi jantung tunggal. Takikardia sering kali terdapat selama fase transisi kepribadian berlangsung.

Pemeriksaan pencernaan meliputi perut datar, bising usus normal, perkusi timpani, dan tidak ada nyeri tekan. Keluhan mual fungsional kadang muncul sebagai manifestasi dari tingkat stres kronis.

Pemeriksaan Fisik Fokus

Pemeriksaan sistem persarafan menunjukkan tingkat kesadaran compos mentis dengan kualitas yang berfluktuasi. Terdapat juga amnesia parsial, gangguan memori jangka pendek, serta perubahan gaya berjalan sesuai alter ego.

Pemeriksaan sistem integumen mendeteksi adanya luka tersembunyi. Inspeksi kulit sering menunjukkan bekas sayatan atau luka bakar akibat perilaku melukai diri sendiri, sedangkan palpasi turgor kulit baik.

Pengkajian Pola Fungsi

Pola persepsi kesehatan menunjukkan kurangnya pemahaman pasien terhadap kondisi mereka. Selain itu, pola nutrisi dan eliminasi dapat berfluktuasi secara ekstrem tergantung pada kepribadian yang sedang aktif.

Pola istirahat tidur terganggu oleh insomnia berat dan mimpi buruk terkait trauma masa lalu. Sementara itu, pola kognitif perseptual ditandai oleh depersonalisasi, derealisasi, serta halusinasi pendengaran internal.

Pola konsep diri menunjukkan gangguan identitas personal yang parah serta harga diri rendah kronis. Akibatnya, pola peran dan hubungan interpersonal pasien mengalami kegagalan pada lingkungan sosial.

Pola seksualitas sering menunjukkan ketakutan terhadap intimasi akibat riwayat kekerasan seksual. Terakhir, pola koping menunjukkan penggunaan mekanisme disosiasi ekstrem untuk menghindari rasa sakit emosional yang mendalam.

2. Klasifikasi Masalah

Diagnosis Keperawatan Prioritas 1-5

Diagnosis Keperawatan Prioritas 6-10

3. Rencana Intervensi

Rencana Intervensi Diagnosis 1-2

Intervensi Gangguan Identitas Diri (D.0084)

  • Luaran Utama: Identitas Diri (L.09070)
    • Kriteria Hasil: Konsistensi identitas diri meningkat, integrasi informasi personal meningkat, penampilan peran efektif meningkat, strategi koping adaptif meningkat.
  • Intervensi Utama: Orientasi Realita (I.09297) & Promosi Koping (I.09312)
    • Observasi: Monitor perubahan identitas, nama, atau perilaku; identifikasi pemicu terjadinya disosiasi.
    • Terapeutik: Panggil pasien menggunakan nama asli; sediakan lingkungan yang aman dan tenang; fasilitasi identifikasi karakteristik bagian diri.
    • Edukasi: Ajarkan teknik membumi (grounding 5-4-3-2-1); anjurkan membuat jurnal harian untuk komunikasi antar kepribadian.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan psikoterapi orientasi fase untuk integrasi identitas.

Intervensi Gangguan Memori (D.0062)

  • Luaran Utama: Memori (L.09079)
    • Kriteria Hasil: Kemampuan mengingat perilaku tertentu meningkat, kemampuan mengingat peristiwa masa lalu meningkat, verbalisasi kehilangan waktu menurun.
  • Intervensi Utama: Latihan Memori (I.06188)
    • Observasi: Identifikasi durasi dan frekuensi episode kehilangan waktu; monitor kemampuan mengingat informasi personal penting.
    • Terapeutik: Sediakan alat bantu orientasi (kalender, jam, catatan); koreksi kekeliruan memori secara lembut.
    • Edukasi: Ajarkan mencatat aktivitas segera setelah dilakukan; anjurkan keluarga membantu menyusun lini masa kehidupan.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan tim medis untuk terapi kognitif behavioral.

Rencana Intervensi Diagnosis 3-5

Intervensi Risiko Bunuh Diri (D.0135)

  • Luaran Utama: Kontrol Diri (L.09076)
    • Kriteria Hasil: Verbalisasi ancaman bunuh diri menurun, perilaku melukai diri sendiri menurun, dorongan bunuh diri menurun, depresi menurun.
  • Intervensi Utama: Pencegahan Bunuh Diri (I.14538)
    • Observasi: Monitor lingkungan dari benda berbahaya; identifikasi adanya alter ego yang memiliki kecenderungan destruktif.
    • Terapeutik: Buat kontrak keselamatan tertulis; lakukan pengawasan ketat tingkat tinggi pada fase krisis.
    • Edukasi: Ajarkan strategi koping adaptif; edukasi keluarga tentang tanda-tanda krisis bunuh diri.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat antidepresan atau antipsikotik sesuai indikasi.

Intervensi Risiko Cedera Diri (D.0134)

  • Luaran Utama: Tingkat Cedera (L.14136)
    • Kriteria Hasil: Luka atau lecet pada tubuh menurun, perilaku melukai diri sendiri menurun, ketegangan otot menurun.
  • Intervensi Utama: Manajemen Keselamatan Lingkungan (I.14513)
    • Observasi: Periksa tubuh pasien secara berkala untuk mendeteksi luka tersembunyi yang dibuat tanpa sadar.
    • Terapeutik: Modifikasi lingkungan untuk meminimalkan risiko cedera fisik yang fatal.
    • Edukasi: Latih menggunakan alternatif pengganti rasa sakit emosional yang aman (menggenggam es batu).
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan psikolog untuk terapi regulasi emosi.

Intervensi Koping Tidak Efektif (D.0096)

  • Luaran Utama: Status Koping (L.09086)
    • Kriteria Hasil: Kemampuan memenuhi peran meningkat, perilaku koping adaptif meningkat, penggunaan mekanisme disosiasi menurun.
  • Intervensi Utama: Promosi Koping (I.09312)
    • Observasi: Identifikasi pemahaman masalah dan metode koping yang biasa digunakan pasien.
    • Terapeutik: Dukung mengekspresikan perasaan cemas, marah, atau sedih secara verbal atau seni.
    • Edukasi: Latih kemampuan pemecahan masalah secara bertahap dan konstruktif.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan konselor trauma untuk pemulihan koping.

Rencana Intervensi Diagnosis 6-7

Intervensi Ansietas (D.0080)

  • Luaran Utama: Tingkat Ansietas (L.09093)
    • Kriteria Hasil: Verbalisasi kebingungan menurun, verbalisasi khawatir menurun, frekuensi nadi menurun, pucat menurun.
  • Intervensi Utama: Reduksi Ansietas (I.09314)
    • Observasi: Monitor tanda-tanda ansietas fisik dan verbal pada pasien secara berkala.
    • Terapeutik: Gunakan pendekatan yang tenang, meyakinkan, dan tidak mengancam selama interaksi.
    • Edukasi: Latih teknik relaksasi napas dalam untuk menurunkan ketegangan fisik.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat ansiolitik jika diperlukan.

Intervensi Gangguan Persepsi Sensori (D.0085)

  • Luaran Utama: Persepsi Sensori (L.09083)
    • Kriteria Hasil: Verbalisasi mendengar bisikan menurun, perilaku halusinasi menurun, respons sesuai stimulus membaik.
  • Intervensi Utama: Manajemen Halusinasi (I.09288)
    • Observasi: Monitor isi dan karakteristik suara yang didengar pasien dari dalam kepalanya.
    • Terapeutik: Bantu pasien menyadari bahwa suara tersebut merupakan representasi dari bagian dirinya yang terluka.
    • Edukasi: Ajarkan metode mengabaikan suara jika suara tersebut bersifat destruktif.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan psikiater untuk evaluasi status mental.

Rencana Intervensi Diagnosis 8-10

Intervensi Gangguan Pola Tidur (D.0055)

  • Luaran Utama: Pola Tidur (L.05045)
    • Kriteria Hasil: Keluhan sulit tidur menurun, keluhan sering terjaga menurun, keluhan mimpi buruk menurun.
  • Intervensi Utama: Dukungan Tidur (I.05174)
    • Observasi: Identifikasi pola tidur, durasi tidur, dan faktor pengganggu tidur pasien.
    • Terapeutik: Tetapkan jadwal tidur yang konsisten; ciptakan suasana kamar yang redup dan nyaman.
    • Edukasi: Anjurkan pasien menghindari aktivitas berat atau memicu trauma sebelum tidur.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian terapi obat tidur dosis rendah jika indikasi.

Intervensi Harga Diri Rendah Kronis (D.0086)

  • Luaran Utama: Harga Diri (L.09069)
    • Kriteria Hasil: Penilaian diri positif meningkat, penerimaan terhadap keterbatasan diri meningkat, perasaan malu menurun.
  • Intervensi Utama: Promosi Harga Diri (I.09308)
    • Observasi: Monitor verbalisasi pasien yang merendahkan diri sendiri secara kronis.
    • Terapeutik: Berikan pujian yang realistis atas pencapaian atau upaya kecil yang dilakukan pasien.
    • Edukasi: Latih berpikir positif dan mengidentifikasi aspek positif pada semua dimensi kepribadian.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan terapi kelompok pendukung.

Intervensi Isolasi Sosial (D.0121)

  • Luaran Utama: Keterlibatan Sosial (L.13115)
    • Kriteria Hasil: Verbalisasi isolasi menurun, minat berinteraksi meningkat, perilaku menarik diri menurun.
  • Intervensi Utama: Promosi Sosialisasi (I.13498)
    • Observasi: Identifikasi hambatan pasien dalam berinteraksi dengan orang lain di lingkungan sosial.
    • Terapeutik: Fasilitasi interaksi pasien dengan teman sejawat secara bertahap.
    • Edukasi: Latih keterampilan sosial dasar seperti memulai percakapan dan mempertahankan kontak mata.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan terapi okupasi sosial.

4. Pelaksanaan Tindakan

Dalam hal ini, dapat melaksanakan implementasi keperawatan berdasarkan rencana intervensi yang telah tersusun secara sistematis. Melakukan tindakan yang meliputi pemantauan status mental pasien, penerapan teknik membumi (grounding), pengelolaan lingkungan yang aman, pemberian edukasi mengenai jurnalisme mandiri, serta pemberian obat-obatan psikotropika sesuai instruksi medis. Mendokumentasikan seluruh tindakan keperawatan secara detail dengan mencantumkan kepribadian mana yang dominan saat melakukan intervensi.

5. Penilaian Asuhan

Menilai evaluasi asuhan keperawatan dengan menggunakan metode SOAP:

  • S (Subjektif): Pasien melaporkan penurunan frekuensi episode kehilangan waktu dan merasa lebih terhubung dengan tubuhnya saat ini.
  • O (Objektif): Kontak mata membaik, tidak ditemukan luka baru akibat perilaku self-harm, serta pasien mampu mempraktikkan teknik membumi secara mandiri.
  • A (Asesmen): Masalah keperawatan teratasi sebagian; integrasi kepribadian masih memerlukan perawatan jangka panjang.
  • P (Planning): Lanjutkan intervensi keperawatan, pertahankan program latihan memori, serta lanjutkan kolaborasi psikoterapi berorientasi trauma.

DAFTAR PUSTAKA

Buku

American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5). Washington DC: American Psychiatric Publishing.

Elvira, S. D., & Hadisukanto, G. (2022). Buku Ajar Psikiatri. Jakarta: Badan Penerbit FKUI.

Maramis, W. F., & Maramis, A. A. (2010). Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga University Press.

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP PPNI.

Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP PPNI.

Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP PPNI.

Jurnal

Brand, B. L., et al. (2016). Separating Fact from Fiction: Myths About DID. Harvard Rev Psychiatry, 24(4), 257-270. pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/27384396

Chiu, C. D., & Shiah, Y. J. (2014). Cultural Aspects of DID in East Asia. Asian J Psychiatr, 12, 145-151. sciencedirect.com/journal/asian-journal-of-psychiatry

Dell, P. F. (2019). The Phenomena of Dissociative Identity Disorder. J Trauma Dissociation, 20(3), 291-306. tandfonline.com/journals/wjtd20

Idrus, F., & Wiguna, T. (2019). Gangguan Disosiatif di Indonesia. J Med Ind, 71(2), 89-96. mki-appi.org

Kim, S. H., & Lee, Y. K. (2021). DID in South Korea. Psychiatry Investig, 18(5), 380-388. psychiatryinvestigation.org

Kluft, R. P. (2015). Treatment of Dissociative Identity Disorder. Psychoanal Inq, 35(3), 244-263. tandfonline.com/journals/hpsi20

Nathanson, A. M. (2018). Child Abuse in Dissociative Identity Disorder. Singapore Med J, 59(8), 412-419. smj.org.sg

Spiegel, D., et al. (2020). Dissociative Disorders in DSM-5. Lancet Psychiatry, 7(8), 701-713. thelancet.com/journals/lanpsy/home

Suryani, L. K. (2013). Trance and Dissociation in Bali. Cult Med Psychiatry, 37(2), 245-259. link.springer.com/journal/11013


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *