Hipertensi pulmonal merupakan kondisi medis serius berupa peningkatan tekanan darah pada arteri paru-paru yang menyebabkan kerja jantung kanan menjadi sangat berat.
- A. KONSEP MEDIS HIPERTENSI PULMONAL
- B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
- DAFTAR PUSTAKA
A. KONSEP MEDIS HIPERTENSI PULMONAL
1. Definisi Penyakit Hipertensi Pulmonal
Definisi Dari Pakar Internasional
World Health Organization (WHO) mengonfirmasi bahwa penyakit ini terjadi ketika tekanan arteri pulmonal rata-rata melebihi batas normal saat istirahat, yang memicu disfungsi ventrikel kanan (WHO, 2022).
Selanjutnya, European Society of Cardiology (ESC) bersama European Respiratory Society (ERS) menetapkan kriteria klinis terbaru yang mengonfirmasi diagnosis jika tekanan arteri pulmonal rata-rata berada pada angka lebih besar dari 20 mmHg melalui pemeriksaan kateterisasi jantung kanan (ESC/ERS, 2022).
Selain itu, American Heart Association (AHA) menjelaskan kondisi ini sebagai sindrom klinis kompleks yang berawal dari remodeling vaskular paru, sehingga menyumbat aliran darah dan menaikkan resistensi pembuluh darah (AHA, 2023).
Kemudian, American College of Chest Physicians (CHEST) menegaskan bahwa kelainan
ini melibatkan proliferasi sel endotel dan otot polos vaskular yang mempersempit lumen arteri secara progresif (CHEST, 2021).
Sebagai tambahan, Pulmonary Hypertension Association (PHA) mendeskripsikan kondisi tersebut sebagai bentuk tekanan darah tinggi spesifik di paru-paru yang merusak struktur jantung secara bertahap dan membatasi kapasitas fungsional tubuh (PHA, 2024).
Definisi Pakar Asia
Asian Pacific Society of Respirology (APSR) mengidentifikasi kelainan sirkulasi ini sebagai komplikasi vaskular paru yang sering menyertai penyakit paru obstruktif kronis dan penyakit jantung bawaan pada populasi Asia (APSR, 2022).
Berikutnya, Japanese Circulation Society (JCS) mendefinisikan gangguan ini sebagai kondisi patologis vaskular paru yang memerlukan deteksi dini lewat ekokardiografi sebelum terjadi gagal jantung kanan stadium akhir (JCS, 2023).
Sementara itu, Chinese Society of Cardiology (CSC) merumuskan kelainan ini sebagai peningkatan resistensi vaskular pulmonal yang memicu hipertrofi ventrikel kanan akibat beban kerja sirkulasi darah yang terlalu tinggi (CSC, 2021).
Lebih lanjut, Korean Academy of Tuberculosis and Respiratory Diseases (KATRD). menandai kelainan ini sebagai sindrom klinis yang menurunkan saturasi oksigen jaringan secara drastis akibat kegagalan perfusi sirkulasi pulmonal (KATRD, 2022).
Oleh karena itu, South Asian Heart Association (SAHA) mengonseptualisasikan masalah ini sebagai penyakit progresif fatal yang membutuhkan tata laksana agresif untuk mencegah mortalitas akibat kegagalan pompa sirkulasi kanan (SAHA, 2023).
Definisi Pakar Indonesia
Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) menetapkan kelainan ini sebagai peningkatan mPAP diatas 20 mmHg berdasarkan hasil kateterisasi jantung kanan yang merujuk pada panduan klinis nasional (PERKI, 2021).
Seterusnya, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) menjelaskan bahwa kondisi ini merupakan gangguan patofisiologi vaskular paru yang dapat timbul akibat komplikasi kronis dari penyakit paru parenkim (PDPI, 2022).
Lalu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengategorikan kondisi ini pada pasien anak sebagai komplikasi mayor dari Penyakit Jantung Bawaan (PJB) pirau kiri ke kanan yang tidak mendapat penanganan segera (IDAI, 2023).
Maka dari itu, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) merumuskan kelainan ini sebagai salah satu jenis penyakit kardiovaskular kronis yang memengaruhi pembuluh darah paru dan membutuhkan pelayanan kesehatan sekunder hingga tersier (Kemenkes RI, 2024).
Secara spesifik, Pakar Kardiologi Indonesia (Prof. Gani dkk.) menegaskan bahwa penyakit ini melibatkan proses vasokonstriksi pembuluh darah paru yang persisten, yang pada akhirnya memicu manifestasi klinis berupa sesak napas berat saat beraktivitas (Gani dkk., 2021).
2. Etiologi dan Pengelompokan Klinis
Klasifikasi Kelompok 1 Sampai 3
Secara klinis, penyebab gangguan ini terbagi menjadi beberapa kelompok besar. Kelompok 1 mencakup jenis idiopatik, herediter akibat mutasi gen BMPR2, induksi obat atau toksin, serta terkait penyakit jaringan ikat maupun infeksi HIV.
Sebaliknya, Kelompok 2 timbul akibat disfungsi jantung kiri seperti gagal jantung sistolik, gagal jantung diastolik, serta penyakit katup mitral atau aorta.
Selanjutnya, Kelompok 3 bermanifestasi akibat penyakit paru parenkim atau hipoksia kronis, yang meliputi Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), penyakit paru restriktif, dan gangguan sirkulasi akibat sleep apnea (ESC/ERS, 2022; PERKI, 2021).
Klasifikasi Kelompok 4 Dan 5
Kemudian, Kelompok 4 disebabkan oleh obstruksi arteri pulmonalis kronis yang umumnya muncul oleh adanya tromboemboli (CTEPH).
Terakhir, Kelompok 5 melibatkan mekanisme multifaktorial yang tidak jelas, seperti gangguan hematologi (anemia hemolitik), penyakit sistemik (sarkoidosis), serta gangguan metabolik kronis (ESC/ERS, 2022; PERKI, 2021).
3. Patofisiologi sirkulasi Hipertensi Pulmonal
Mekanisme Disfungsi Endotel
Pada awalnya, proses penyakit dipicu oleh kerusakan endotel vaskular paru yang mengakibatkan ketidakseimbangan zat vasoaktif lokal. Akibatnya, produksi zat vasokonstriktor seperti endotelin-1 meningkat tajam, sedangkan agen vasodilator seperti nitrit oksida menurun secara signifikan.
Oleh karena itu, terjadi vasokonstriksi kronis, remodeling dinding pembuluh darah, dan fibrosis intima vaskular. Dampaknya, lumen arteri pulmonalis menyempit secara progresif dan meningkatkan resistensi vaskular pulmonal (PVR) (AHA, 2023; PERKI, 2021).
Rumus Hemodinamik Paru
Untuk mengukur tekanan sirkulasi secara objektif, menggunakan rumus matematika yang untuk menghitung Tekanan Arteri Pulmonal Rata-rata (mPAP) adalah sebagai berikut:
mPAP = DPAP + 1/3 x (SPAP – DPAP)
Selain itu, jika didasarkan pada resistensi vaskular paru dan tekanan atrium kiri, penghitungan menggunakan rumus berikut:
mPAP = (CO x PVR) + LAP
(Keterangan: DPAP = Diastolic Pulmonary Artery Pressure, SPAP = Systolic Pulmonary Artery Pressure, CO = Cardiac Output, PVR = Pulmonary Vascular Resistance, LAP = Left Atrial Pressure) (AHA, 2023; PERKI, 2021).
4. Penyimpangan KDM Hipertensi Pulmonal
Skema Alur Pathway
Faktor Risiko/Etiologi (Kelompok 1-5)
│
▼
Disfungsi Endotel Vaskular Paru
│
├─────────────────────────────────────────┐
▼ ▼
Ketidakseimbangan Zat Vasoaktif Trombosis In Situ
(↑ Endotelin-1, ↓ Nitrit Oksida) │
│ │
▼ ▼
Vasokonstriksi Kronis & Remodeling Pembuluh Daru Paru
│
▼
Penyempitan Lumen Arteri Pulmonalis
│
▼
Peningkatan Resistensi Vaskular Pulmonal (PVR) ───► Hambatan Aliran Darah Paru
│ │
▼ ▼
Hipertensi Pulmonal Gangguan Pertukaran Gas
│
▼
Beban Kerja Ventrikel Kanan Meningkat
│
├─────────────────────────────────────────┐
▼ ▼
Hipertrofi & Dilatasi Ventrikel Kanan Penurunan Curah Jantung (Cardiac Output)
│ │
▼ ▼
Gagal Jantung Kanan (Cor Pulmonale) Aliran Darah Sistemik & O2 ↓
│ │
▼ ▼
Kongesti Sistemik (JVP ↑, Hepatomegali, Kelemahan Fisik, Sinkop
Edema Perifer) │
│ ▼
▼ Intoleransi Aktivitas
Hypervolemia
5. Manifestasi Klinis
a. Data Subjektif
Secara umum, pasien mengeluhkan dispnea saat melakukan aktivitas ringan yang makin lama makin memberat. Selain itu, penderita sering merasakan kelelahan ekstrem akibat penurunan curah jantung sistemik.
Kemudian, nyeri dada dapat timbul karena iskemia pada otot ventrikel kanan. Akhirnya, perasaan pusing hingga sinkop juga sering dirasakan penderita, terutama saat melakukan aktivitas fisik yang dipaksakan (ESC/ERS, 2022; PDPI, 2022).
b. Data Objektif
Pada pemeriksaan fisik, perawat menemukan adanya takipnea dan penggunaan otot bantu pernapasan yang jelas. Selain itu, tampak sianosis perifer pada kuku dan bibir akibat kondisi hipoksemia jaringan.
Selanjutnya, tanda sirkulasi kanan terlihat dari peningkatan tekanan vena jugularis (JVP) dan penemuan hepatomegali. Saat melakukan auskultasi jantung, bunyi jantung S2 mengeras pada area pulmonal juga adanya murmur regurgitasi trikuspid serta edema pitting pada kaki (ESC/ERS, 2022; PDPI, 2022).
6. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
Pertama-tama, melakukan analisis gas darah (AGD) untuk menilai tingkat hipoksemia dan hipokapnia sirkulasi. Selanjutnya, melakukan juga pemeriksaan biomarker jantung seperti BNP atau NT proBNP untuk mengukur derajat regangan ventrikel kanan.
Sebagai tambahan, malakukan skrining serologi autoantibodi guna menyingkirkan kemungkinan adanya penyakit jaringan ikat sistemik sebagai penyebab sekunder (PERKI,2021; CHEST, 2021).
b. Pemeriksaan Radiologi
Melalui foto rontgen dada, dapat diidentifikasi adanya kardiomegali dan pelebaran arteri pulmonalis utama. Kemudian, CT Pulmonary Angiography (CTPA) digunakan untuk mendeteksi bukti emboli paru kronis.
Sementara itu, Ventilation-Perfusion Scan (V/Q Scan) menjadi pemeriksaan esensial untuk mendeteksi defek perfusi fokal pada paru-paru (PERKI, 2021; CHEST, 2021).
c. Pemeriksaan Lain
Ekokardiografi Doppler diaplikasikan sebagai modalitas skrining awal untuk mengestimasi tekanan sistolik sirkulasi pulmonal. Selain itu, perekaman elektrokardiografi (EKG) menunjukkan tanda hipertrofi ventrikel kanan (RVH) dan deviasi aksis ke kanan.
Namun demikian, kateterisasi jantung kanan tetap menjadi standar baku emas untuk mengonfirmasi diagnosis secara definitif (PERKI, 2021; CHEST, 2021).
7. Penatalaksanaan Medis
a. Terapi Farmakologis
Secara medis, memberikan obat Penyakit Saluran Kalsium dosis tinggi terbatas pada pasien yang menunjukkan hasil positif saat uji reaktivitas vaskular. Selanjutnya, terapi spesifik target melibatkan jalur prostasiklin inhalasi atau intravena untuk merangsang vasodilatasi.
Selain itu, menggunakan Antagonis Reseptor Endotelin (ERA) seperti Bosentan untuk menghambat vasokonstriksi. Terapi diuretik juga dikombinasikan untuk mengurangi beban cairan (ESC/ERS, 2022; PERKI, 2021).
b. Terapi Non-Farmakologis
Dalam aspek non-farmakologis, menerapkan program rehabilitasi olahraga terstruktur intensitas rendah secara hati-hati untuk menjaga kapasitas otot. Penderita juga menjalani modifikasi diet berupa pembatasan asupan garam di bawah 2 gram per hari.
Sebagai langkah lanjutan, tindakan intervensi bedah berupa Pulmonary Endarterectomy (PEA) direkomendasikan khusus bagi penderita tromboemboli kronis (ESC/ERS, 2022; PERKI, 2021).
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian Keperawatan
a. Identitas dan Riwayat
Langkah awal pengkajian meliputi pencatatan nama, usia, jenis kelamin, dan riwayat kesehatan. Keluhan utama biasanya didominasi sesak napas berat dan kelelahan saat beraktivitas. Perawat harus menggali riwayat penyakit terdahulu seperti adanya penyakit jantung bawaan, riwayat emboli, atau penyakit paru obstruktif kronis yang mendasari munculnya keluhan saat ini (PPNI, 2017; Doenges dkk., 2019).
b. Pemeriksaan Fisik Sistem B1-B3
- Sistem Pernapasan (B1): Inspeksi menunjukkan takipnea, dispnea, penggunaan otot bantu napas. Palpasi taktil fremitus simetris. Perkusi sonor. Auskultasi vesikuler, kadang ditemukan ronkhi basah halus di basal paru.
- Sistem Kardiovaskular (B2): Inspeksi menunjukkan JVP meningkat, iktus kordis bergeser. Palpasi teraba parasternal lift. Perkusi menunjukkan batas jantung kanan melebar. Auskultasi menunjukkan komponen P2 mengeras dan murmur trikuspid.
- Sistem Persarafan (B3): Inspeksi menunjukkan kesadaran komposmentis, pasien tampak gelisah. Palpasi akral teraba dingin.
c. Pemeriksaan Fisik Sistem B4-B6
- Sistem Perkemihan (B4): Inspeksi menunjukkan produksi urine menurun (oliguria) akibat penurunan perfusi ginjal.
- Sistem Pencernaan (B5): Inspeksi perut tampak membuncit. Palpasi menunjukkan hepatomegali juga nyeri tekan. Perkusi menunjukkan shifting dullness positif jika terjadi asites.
- Sistem Integumen & Muskuloskeletal (B6): Inspeksi menunjukkan sianosis perifer pada ujung jari, kelemahan otot ekstremitas, dan pitting edema derajat I-IV pada tungkai bawah.
d. Pola Fungsi Kesehatan
Pengkajian pola aktivitas menunjukkan keterbatasan fungsional yang signifikan (NYHA Kelas II-IV). Pola nutrisi terganggu akibat keluhan mual dan rasa penuh pada perut yang dipicu oleh kongesti organ dalam sirkulasi abdomen. Pasien juga mengalami gangguan pola tidur akibat sesak napas saat posisi telentang (PPNI, 2017; Doenges dkk., 2019).
2. Diagnosis Keperawatan Prioritas 1-5
Kode D.0008 Sampai D.0056
- Penurunan Curah Jantung (D.0008) berhubungan dengan perubahan beban kerja ventrikel kanan (peningkatan afterload ventrikel).
- Gangguan Pertukaran Gas (D.0003) berhubungan dengan ketidakseimbangan ventilasi-perfusi (perubahan membran alveolus-kapiler).
- Intoleransi Aktivitas (D.0056) berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
Kode D.0022 Dan D.0009
- Hipervolemia (D.0022) berhubungan dengan gangguan aliran balik vena (gagal jantung kanan, retensi cairan).
- Perfusi Perifer Tidak Efektif (D.0009) berhubungan dengan penurunan sirkulasi arteri sistemik.
3. Diagnosis Keperawatan Prioritas 6-10
Kode D.0077 Sampai D.0005
- Nyeri Akut (D.0077) berhubungan dengan agen pencedera fisiologis (iskemia miokard ventrikel kanan).
- Pola Napas Tidak Efektif (D.0005) berhubungan dengan hambatan upaya napas (hiperventilasi).
Kode D.0011 Sampai D.0080
- Risiko Penurunan Perfusi Jaringan Jantung (D.0011) dibuktikan dengan faktor risiko hipertrofi ventrikel kanan.
- Defisit Nutrisi (D.0019) berhubungan dengan ketidakmampuan mencerna makanan akibat kongesti gastrointestinal.
- Ansietas (D.0080) berhubungan dengan ancaman terhadap kematian dan kondisi kronis.
4. Intervensi Keperawatan 1-3
Intervensi Penurunan Curah Jantung
- Diagnosis: Penurunan Curah Jantung (D.0008)
- Luaran: Curah Jantung Meningkat (L.02008) dengan kriteria hasil: kekuatan nadi perifer meningkat, ttv dalam batas normal, edema menurun, JVP menurun.
- Intervensi: Perawatan Jantung (I.02075)
- Observasi: Monitor tekanan darah, monitor saturasi oksigen, monitor edema perifer, monitor EKG 12 lead.
- Terapeutik: Posisikan pasien semi-fowler, berikan terapi oksigen, pertahankan tirah baring.
- Edukasi: Anjurkan aktivitas bertahap, ajarkan keluarga mencatat intake-output cairan.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian diuretik dan vasodilator pulmonal.
Intervensi Gangguan Pertukaran Gas
- Diagnosis: Gangguan Pertukaran Gas (D.0003)
- Luaran: Pertukaran Gas Meningkat (L.01003) dengan kriteria hasil: tingkat oksigenasi jaringan membaik, nilai AGD normal, sianosis menurun.
- Intervensi: Pemantauan Respirasi (I.01014)
- Observasi: Monitor frekuensi dan kedalaman napas, monitor pola napas, monitor nilai AGD berkala.
- Terapeutik: Atur interval pemantauan sesuai kondisi pasien, dokumentasikan hasil pemantauan.
- Edukasi: Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan respirasi.
- Kolaborasi: Kolaborasi penentuan dosis oksigen jangka panjang.
Intervensi Intoleransi Aktivitas
- Diagnosis: Intoleransi Aktivitas (D.0056)
- Luaran: Toleransi Aktivitas Meningkat (L.05047) dengan kriteria hasil: kemudahan aktivitas harian meningkat, keluhan lelah menurun, dispnea setelah aktivitas menurun.
- Intervensi: Manajemen Energi (I.05178)
- Observasi: Identifikasi gangguan fungsi tubuh penyebab lelah, monitor kelelahan fisik.
- Terapeutik: Sediakan lingkungan yang nyaman, lakukan latihan rentang gerak pasif/aktif.
- Edukasi: Anjurkan tirah baring, anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi tentang asupan makanan.
5. Intervensi Keperawatan 4-6
Intervensi Hipervolemia
- Diagnosis: Hipervolemia (D.0022)
- Luaran: Keseimbangan Cairan Meningkat (L.03020) dengan kriteria hasil: asupan haluaran cairan seimbang, edema perifer menurun, berat badan stabil.
- Intervensi: Manajemen Hipervolemia (I.03114)
- Observasi: Periksa tanda hipervolemia, monitor intake output cairan, timbang berat badan harian.
- Terapeutik: Batasi asupan cairan dan garam, tinggikan kepala tempat tidur.
- Edukasi: Ajarkan cara mengukur cairan, ajarkan memeriksa edema secara mandiri.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat diuretik loop.
Intervensi Perfusi Perifer Tidak Efektif
- Diagnosis: Perfusi Perifer Tidak Efektif (D.0009)
- Luaran: Perfusi Perifer Meningkat (L.02011) dengan kriteria hasil: denyut nadi perifer teraba kuat, akral hangat, CRT kurang dari 2 detik.
- Intervensi: Perawatan Sirkulasi (I.02079)
- Observasi: Periksa sirkulasi perifer, monitor panas atau bengkak pada ekstremitas.
- Terapeutik: Hindari pemasangan infus di area bengkak, lakukan hidrasi kulit yang tepat.
- Edukasi: Anjurkan olahraga ringan yang diizinkan, informasikan tanda gangguan sirkulasi.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian terapi antikoagulan jika ada indikasi.
Intervensi Nyeri Akut
- Diagnosis: Nyeri Akut (D.0077)
- Luaran: Tingkat Nyeri Menurun (L.08066) dengan kriteria hasil: keluhan nyeri dada berkurang, ekspresi rileks, nadi membaik.
- Intervensi: Manajemen Nyeri (I.08238)
- Observasi: Identifikasi lokasi, karakteristik, dan skala nyeri dada.
- Terapeutik: Berikan teknik non-farmakologis relaksasi napas dalam, fasilitasi istirahat tidur.
- Edukasi: Jelaskan penyebab dan pemicu nyeri, anjurkan memonitor nyeri mandiri.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian analgesik atau vasodilator sesuai indikasi.
6. Intervensi Keperawatan 7-10
Intervensi Pola Napas Tidak Efektif
- Diagnosis: Pola Napas Tidak Efektif (D.0005)
- Luaran: Pola Napas Membaik (L.01004) dengan kriteria hasil: frekuensi napas normal, kedalaman membaik, penggunaan otot bantu menurun.
- Intervensi: Manajemen Jalan Napas (I.01011)
- Observasi: Monitor pola napas dan monitor bunyi napas tambahan.
- Terapeutik: Posisikan fowler atau semi-fowler, berikan minum hangat.
- Edukasi: Ajarkan teknik batuk efektif jika terdapat sekret.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian bronkodilator jika diperlukan.
Intervensi Risiko Penurunan Perfusi Jaringan Jantung
- Diagnosis: Risiko Penurunan Perfusi Jaringan Jantung (D.0011)
- Luaran: Perfusi Myokard Meningkat (L.02010) dengan kriteria hasil: tidak ada nyeri dada, gambaran EKG normal, enzim jantung stabil.
- Intervensi: Manajemen Aritmia (I.02035)
- Observasi: Monitor keluhan nyeri dada, monitor frekuensi dan irama jantung kontinu.
- Terapeutik: Minimalkan stres lingkungan, pertahankan akses IV line yang paten.
- Edukasi: Anjurkan melapor jika merasakan dada berdebar atau sesak tiba-tiba.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemeriksaan enzim jantung troponin berkala.
Intervensi Defisit Nutrisi
- Diagnosis: Defisit Nutrisi (D.0019)
- Luaran: Status Nutrisi Membaik (L.03030) dengan kriteria hasil: porsi makanan habis, nafsu makan membaik, mual menurun.
- Intervensi: Manajemen Nutrisi (I.03119)
- Observasi: Identifikasi status nutrisi, monitor asupan makanan dan berat badan.
- Terapeutik: Sajikan makanan hangat, berikan makanan porsi kecil tapi sering.
- Edukasi: Anjurkan posisi duduk tegak saat makan untuk mengurangi sesak.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori.
Intervensi Ansietas
- Diagnosis: Ansietas (D.0080)
- Luaran: Tingkat Ansietas Menurun (L.09093) dengan kriteria hasil: verbalisasi cemas menurun, gelisah berkurang, otot rileks.
- Intervensi: Reduksi Ansietas (I.09314)
- Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah, monitor tanda ansietas.
- Terapeutik: Ciptakan suasana terapeutik, dengarkan keluhan dengan penuh perhatian.
- Edukasi: Jelaskan semua prosedur tindakan termasuk sensasi yang dialami, latih relaksasi.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat antiansietas dosis rendah bila perlu.
7. Implementasi Tindakan Klinis
Melaksanakan Implementasi keperawatan secara sistematis berdasarkan rencana intervensi. Pada tahap ini, perawat melakukan tindakan nyata seperti memantau parameter hemodinamik secara ketat, memberikan oksigenasi aliran rendah yang konstan, mengatur tata laksana pembatasan cairan dan garam, memberikan obat-obatan spesifik vasodilator pulmonal sesuai instruksi medis, serta memberikan dukungan psikologis bagi pasien guna mereduksi ansietas akibat gangguan pernapasan kronis. Setiap melakukan tindakan atau dilakukan secara mandiri wajib mendokumentasikannya dengan rinci, mencakup waktu pelaksanaan serta respons subyektif dan obyektif dari pasien (Doenges dkk., 2019).
8. Evaluasi Asuhan Keperawatan
Melakukan Evaluasi keperawatan dengan metode SOAP untuk mengukur pencapaian kriteria hasil yang ditetapkan pada setiap diagnosis keperawatan. S (Subjektif) mencatat laporan pasien mengenai penurunan tingkat sesak napas dan kelelahan fisik. O (Objektif) mengukur stabilitas tanda vital, status edema, dan keseimbangan cairan pasien. A (Asesmen) menyimpulkan derajat keberhasilan pemecahan masalah keperawatan, sementara P (Planning) menentukan apakah rencana asuhan dihentikan, dilanjutkan, atau dimodifikasi berdasarkan respon klinis terbaru penderita (PPNI, 2019).
DAFTAR PUSTAKA
AHA. (2023). Guidelines for the Diagnosis and Management of Pulmonary Hypertension. heart.org/en/health-topics/pulmonary-hypertension
CHEST. (2021). Medical Therapy for Pulmonary Arterial Hypertension: CHEST Guideline. journal.chestnet.org/article/S0012-3692(21)00345-7/fulltext
APSR. (2022). Pulmonary Vascular Diseases in the Asia-Pacific Region. apsresp.org/publications/bulletin
Doenges, M. E., Moorhouse, M. F., & Murr, A. C. (2019). Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. EGC.
ESC/ERS. (2022). 2022 ESC/ERS Guidelines for the diagnosis and treatment of pulmonary hypertension. academic.oup.com/eurheartj/article/43/38/3618/6673138
Gani, A., Santoso, A., & Widodo, H. (2021). Buku Ajar Kardiologi Vaskular: Penyakit Sirkulasi Pulmonal. Universitas Indonesia Publishing.
IDAI. (2023). Panduan Praktik Klinis: Hipertensi Pulmonal pada Anak. idai.or.id/publikasi/pedoman-praktek-klinis
JCS. (2023). JCS/JPCS 2023 Guideline on Diagnosis and Treatment of Pulmonary Hypertension. j-circ.or.jp/english/guidelines
Kemenkes RI. (2024). Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Hipertensi Pulmonal. kemkes.go.id
KATRD. (2022). Clinical Practice Guidelines for Pulmonary Hypertension. e-trd.org
PERKI. (2021). Pedoman Diagnosis dan Tatalaksana Hipertensi Pulmonal. jurnal.jki.or.id
PDPI. (2022). Konsensus Nasional Penanganan Hipertensi Pulmonal. klikpdpi.com
PHA. (2024). Understanding Pulmonary Hypertension. phassociation.org
PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI). DPP PPNI.
PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI). DPP PPNI.

Tinggalkan Balasan