BRONKIEKTASIS KONSEP MEDIS

by

in

Bronkiektasis merupakan penyakit paru kronis akibat dilatasi bronkus yang permanen dan abnormal, memicu batuk produktif kronis serta infeksi berulang.

A. KONSEP MEDIS BRONKIEKTASIS

1. Istilah dan Pandangan Pakar BRONKIEKTASIS

Definisi Dari Pakar Internasional

British Thoracic Society (BTS) menjelaskan bahwa bronkiektasis adalah sindrom klinis yang  eridentifikasi melalui gejala batuk persisten, produksi sputum purulen, dan dilatasi bronkus abnormal yang permanen pada pemeriksaan pencitraan radiologi (BTS, 2019).

Selanjtnya, European Respiratory Society (ERS) mendefinisikan penyakit ini sebagai Gangguan saluran napas kronis yang bersumber dari kerusakan struktural dinding bronkus, yang mana kondisi ini memicu penumpukan sekret secara kronis dan infeksi bakteri berulang (ERS, 2017).

Selain itu, Barker menegaskan bahwa kelainan ini mencerminkan destruksi komponen muskular dan elastis dari dinding bronkus akibat siklus infeksi serta inflamasi yang berlangsung terus-menerus (Barker, 2022).

Sementara itu, O’Donnell menguraikan bronkiektasis sebagai penyakit pernapasan heterogen oleh dilatasi permanen bronkus berukuran sedang, yang timbul akibat respons imun pejamu yang tidak terregulasi (O’Donnell, 2021).

Kemudian, Cole mengemukakan hipotesis vicious vortex yang mendefinisikan kondisi ini sebagai kegagalan bersihan mukosiliar yang berujung pada kolonisasi mikroba, inflamasi kronis, dan kerusakan struktural paru yang progresif (Cole, 2020).

Definisi Pakar Asia

Chinese Thoracic Society (CTS) merumuskan bronkiektasis sebagai penyakit inflamasi kronis pada saluran napas bawah yang sering kali terjadi akibat sekuele dari infeksi tuberkulosis atau infeksi virus parah pada masa kanak-kanak (CTS, 2021).

Oleh karena itu, Japanese Respiratory Society (JRS) mengategorikan kelainan ini sebagai dilatasi bronkus ireversibel yang kerap berkaitan dengan rinosinusitis kronis, yang membentuk sindrom sinobronkial pada populasi Asia (JRS, 2022).

Lebih lanjut, Indian Chest Society (ICS) menetapkan kondisi ini sebagai penyakit paru supuratif kronis yang ditandai oleh batuk dengan produksi dahak dalam jumlah banyak, yang mana kondisi ini menurunkan kualitas hidup pasien secara signifikan (ICS, 2020).

Sebaliknya, Korean Academy of Tuberculosis and Respiratory Diseases (KATRD). Mengartikan penyakit ini sebagai kerusakan arsitektur saluran napas lokal maupun difus yang memerlukan evaluasi tomografi komputer resolusi tinggi untuk penegakan diagnosis (KATRD, 2023).

Alhasil, Saudi Thoracic Society (STS) menggambarkan gangguan ini sebagai pelebaran bronkus permanen akibat interaksi kompleks antara faktor kerentanan genetik, paparan lingkungan, dan infeksi patogen (STS, 2020).

Definisi Pakar Indonesia

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) menyatakan bahwa penyakit ini adalah gangguan saluran napas kronis yang ditandai dengan pelebaran dinding bronkus yang bersifat permanen dan ireversibel, yang umumnya disertai dengan infeksi sekunder (PDPI, 2021).

Hubungan ini diperkuat oleh Alsagaff yang menjelaskan bahwa kelainan ini merupakan suatu destruksi jaringan elastis dan muskular dinding bronkus, yang mana kerusakan tersebut mengakibatkan saluran napas kehilangan kemampuan kontraktilitasnya (Alsagaff, 2019).

Meskipun demikian, Sudoyo menegaskan bahwa penyakit ini bermanifestasi sebagai sindrom klinik yang terdiri dari batuk kronik, ekspektorasi sputum dalam jumlah banyak (sering kali tiga lapis saat ditampung), dan hemoptisis (Sudoyo, 2020).

Secara umum, Amin menguraikan kondisi ini sebagai ektasia atau pelebaran lumen bronkus yang abnormal, yang memicu gangguan bersihan jalan napas dan penumpukan sekret purulen yang masif (Amin, 2022).

Akhirnya, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mendefinisikan penyakit ini pada populasi anak sebagai akibat dari infeksi respiratori akut berat yang tidak tertangani dengan adekuat, sehingga merusak struktur bronkus yang sedang berkembang (IDAI, 2018).

2. Asal Mula Penyakit

Penyebab kondisi ini terbagi menjadi beberapa kategori utama. Infeksi paru berat merupakan penyebab paling umum negara berkembang yang meliputi infeksi Mycobacterium tuberculosis, virus, dan bakteri (Staphylococcus aureus). (PDPI, 2021)

Meskipun demikian, terdapat pula faktor kelainan genetik dan kongenital. Malformasi struktural seperti Cystic Fibrosis dan Primary Ciliary Dyskinesia memegang peranan penting pada sebagian pasien. (Barker, 2022)

Selain itu, gangguan sistem imun seperti defisiensi imun primer meningkatkan kerentanan terhadap infeksi berulang. Oleh karena itu, penurunan antibodi mempercepat kerusakan paru. (BTS, 2019)

Lalu, obstruksi saluran napas akibat aspirasi benda asing atau tumor endobronkial dapat memicu lokalisasi penyakit. Kerusakan struktural ini terjadi akibat tekanan mekanis kronis. (O’Donnell, 2021)

Selanjutnya, penyakit autoimun sistemik seperti Rheumatoid Arthritis memiliki keterkaitan erat dengan patologi ini. Akibatnya, inflamasi sistemik dapat merusak jaringan paru. (ERS, 2017)

Akhirnya, aspirasi kronis akibat refluks gastroesofageal (GERD) berulang kali mengiritasi saluran napas. Hal ini memperberat inflamasi yang sudah ada. (Amin, 2022)

3. Mekanisme dan Bagan KDM

Patofisiologi Kerusakan Saluran Napas

Mekanisme dasar patologi ini mengikuti hipotesis lingkaran setan. Proses berawal dari faktor pencetus yang mengganggu pembersihan mukosiliar. Hambatan ini memicu retensi sekret dalam lumen bronkus. (Cole, 2020)

Akibatnya, terjadi kolonisasi dan proliferasi bakteri secara kronis. Keberadaan bakteri merangsang respons inflamasi yang memobilisasi neutrofil ke area tersebut secara masif. (Alsagaff, 2019)

Selanjutnya, neutrofil melepaskan mediator destruktif seperti elastase dan radikal bebas. Zat kimia ini merusak jaringan elastis serta kartilago dinding bronkus. (Cole, 2020)

Oleh karena itu, saluran napas kehilangan sokongan struktural dan melebar secara permanen. Kondisi ini membentuk kantung yang memicu penumpukan sputum lebih lanjut. (Alsagaff, 2019)

Penyimpangan KDM

[Faktor Pencetus: Infeksi/TB, Kelainan Cilia, Aspirasi]

                         │

                         ▼

           Kerusakan Mekanisme Bersihan Mukosiliar

                         │

                         ▼

               Retensi Sputum/Sekret

                         │

                         ▼

        Kolonisasi Bakteri Kronis Bronkus

                         │

                         ▼

             Inflamasi Saluran Napas

                         │

          ┌──────────────┴──────────────┐

          ▼                             ▼

Pelepasan Enzim Proteolitik     Hipertrofi Kelenjar

 (Elastase & Neutrofil)            Mukosa Bronkus

          │                             │

          ▼                             ▼

Destruksi Jaringan Elastis      Produksi Sputum Masif

   & Muskular Bronkus               & Purulen

          │                             │

          ▼                             ▼

[DILATASI BRONKUS PERMANEN] ──► Bersihan Jalan Napas

                                     Tidak Efektif

          │

          ├─────────────────────────────┬─────────────────────────────┐

          ▼                             ▼                             ▼

   Erosi Pembuluh Darah       Penyempitan Lumen &       Refleks Batuk & Sputum

      (Arteri Bronkialis)     Kerusakan Alveoli             Tertelan ke Lambung

          │                             │                             │

          ▼                             ▼                             ▼

      Hemoptisis               Gangguan Pertukaran         Anoreksia, Mual, Muntah

          │                    Gas & Pola Napas                       │

          ▼                             │                             ▼

   Risiko Perdarahan                    ▼                        Defisit Nutrisi

                                Intoleransi Aktivitas

Tanda Subjektif Pasien

Pasien mengeluhkan batuk kronis yang berlangsung berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. (PDPI, 2021)

Sementara itu, pasien menyatakan sesak napas yang memberat saat beraktivitas. (BTS, 2019)

Selain itu, pasien mengeluh mudah lelah dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. (O’Donnell, 2021)

Lebih lanjut, pasien melaporkan batuk berdarah dari bercak hingga volume masif. (Sudoyo, 2020)

Kemudian, pasien mengeluhkan nyeri dada pleuritik akibat inflamasi yang meluas. (ERS, 2017)

Akhirnya, pasien menyampaikan adanya penurunan nafsu makan yang signifikan. (Amin, 2022)

Tanda Objektif Klinis

Produksi sputum purulen, kental, dan berwarna hijau menunjukkan volume masif. Sputum memperlihatkan tiga lapisan saat ditampung. (Sudoyo, 2020)

Selanjutnya, ditemukan suara napas tambahan berupa ronkhi basah kasar yang persisten di basal paru. (Alsagaff, 2019)

Oleh karena itu, tampak adanya jari tabuh sebagai manifestasi hipoksia kronis. (Barker, 2022)

Lalu, manifestasi demam subfebris muncul selama fase eksaserbasi akut. (JRS, 2022)

Kemudian, tampak tanda takipnea dan penggunaan otot bantu napas saat bernapas. (PDPI, 2021)

Akhirnya, tampak penurunan berat badan yang signifikan hingga kaheksia pada stadium lanjut. (ICS, 2020)

Evaluasi Laboratorium

Pemeriksaan darah lengkap menunjukkan leukositosis dengan pergeseran ke kiri selama eksaserbasi. Selain itu,terdapat juga anemia normositik normokrom. (Sudoyo, 2020)

Sementara itu, analisis gas darah menilai derajat hipoksemia dan hiperkapnia pasien. (PDPI, 2021)

Selanjutnya, kultur sputum dan sensitivitas mengidentifikasi mikroba spesifik seperti Pseudomonas aeruginosa. (BTS, 2019)

Evaluasi Radiologi

Foto toraks menunjukkan gambaran tram-line shadows atau honeycombing appearance pada basal paru. (Amin, 2022)

Selain itu, High-Resolution Computed Tomography (HRCT) toraks menampilkan tanda signet ring sign. (ERS, 2017)

Evaluasi Spesifik Lain

Spiometri mendeteksi gangguan ventilasi yang umumnya bersifat obstruktif atau campuran.(KATRD, 2023)

Akhirnya, bronkoskopi berfungsi mengevaluasi sumbatan endobronkial dan mengambil sampel bilasan bronkus. (O’Donnell, 2021)

Tindakan Farmakologis

Memberikan antibiotik empiris atau sesuai kultur selama 10-14 hari saat eksaserbasi. (BTS, 2019)

Selanjutnya, memberikan juga mukolitik seperti N-asetilsistein untuk mengencerkan sekret yang kental. (ERS, 2017)

Di samping itu, bronkodilator digunakan untuk mengatasi hiperreaktivitas bronkus dan memperbaiki aliran udara. (PDPI, 2021)

Oleh karena itu, memberikan kortikosteroid inhalasi secara terbatas pada komponen alergi spesifik.  (Barker, 2022)

Tindakan Non-Farmakologis

Fisioterapi dada dan teknik klirens jalan napas membantu evakuasi sputum secara mekanis. (O’Donnell, 2021)

Sementara itu, oksigenoterapi diberikan secara kontinu bagi pasien dengan hipoksemia kronis. (PDPI, 2021)

Lebih lanjut, program rehabilitasi paru terstruktur dirancang untuk meningkatkan kapasitas fungsional tubuh. (CTS, 2021)

Akhirnya, tindakan reseksi bedah dipertimbangkan pada kasus terlokalisasi yang mengalami hemoptisis masif. (Alsagaff, 2019)

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

1. Proses Pengkajian

Pengumpulan Data Awal

Pengkajian identitas pasien meliputi nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, dan alamat. (PPNI,2017)

Selanjutnya, riwayat kesehatan berfokus pada keluhan utama berupa batuk produktif persisten atau hemoptisis. (Sudoyo, 2020)

Selain itu, riwayat penyakit dahulu seperti tuberkulosis atau pneumonia masa anak-anak perlu digali. (Amin, 2022)

Oleh karena itu, pengkajian pola fungsi kesehatan mencakup gangguan oksigenasi dan nutrisi akibat produksi sputum. (PPNI, 2017)

Pemeriksaan Fisik Respirasi

Inspeksi menunjukkan takipnea, penggunaan otot bantu napas, retraksi interkostal, dan jaritabuh. (PPNI, 2017)

Sementara itu, palpasi taktil fremitus dapat meningkat pada area konsolidasi sekret. (Amin,2022)

Selanjutnya, perkusi menghasilkan suara redup pada area paru yang mengalami penumpukan sekret kental. (Sudoyo, 2020)

Akhirnya, auskultasi mendeteksi suara napas tambahan berupa ronkhi basah kasar yang persisten basal paru. (Alsagaff, 2019)

Pemeriksaan Fisik Sistemik

Inspeksi kardiovaskular menunjukkan peningkatan JVP jika telah terjadi komplikasi kor pulmonale kronis. (PPNI, 2017)

Meskipun demikian, auskultasi jantung dapat mendeteksi gallop sekunder akibat hipertensi pulmonal. (Amin, 2022)

Selanjutnya, palpasi abdomen dapat menemukan hepatomegali akibat kongestif sistemik. (Sudoyo, 2020)

Kemudian, pemeriksaan integumen menunjukkan kulit pucat atau sianosis perifer pada kuku dan bibir. (PPNI, 2017)

Akhirnya, sistem muskuloskeletal memperlihatkan penurunan massa otot akibat intoleransi aktivitas kronis. (Amin, 2022)

2. Rumusan Diagnosa

3. Rencana Intervensi

Intervensi Diagnosa 1-3

Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001)

  • Luaran: Bersihan Jalan Napas (L.01001) meningkat. Kriteria Hasil: Batuk efektif meningkat, produksi sputum menurun, ronkhi menurun, mengorok menurun, gelisah menurun, frekuensi napas membaik, pola napas membaik.
  • Intervensi: Latihan Batuk Efektif (I.01006). Tindakan: Identifikasi kemampuan batuk; Monitor adanya retensi sputum; Monitor tanda dan gejala infeksi saluran napas; Atur posisi semi-Fowler atau Fowler; Pasang perlak dan bengkok pangkuan pasien; Buang sekret pada tempat sputum; Jelaskan tujuan dan prosedur batuk efektif; Anjurkan tarik napas dalam melalui hidung selama 4 detik, kemudian keluarkan dari mulut dengan bibir mencucu selama 8 detik; Anjurkan mengulangi tarik napas dalam hingga 3 kali; Anjurkan batuk dengan kuat langsung setelah tarik napas dalam yang ketiga; Kolaborasi pemberian mukolitik atau ekspektoran, jika perlu.

Gangguan Pertukaran Gas (D.0003)

  • Luaran: Pertukaran Gas (L.01003) meningkat. Kriteria Hasil: Tingkat kesadaran meningkat, dispnea menurun, bunyi napas tambahan menurun, pusing menurun, penglihatan kabur menurun, diaforesis menurun, gelisah menurun, napas cuping hidung menurun, PCO2 membaik, PO2 membaik, takikardia menurun, pH arteri membaik, warna kulit membaik.
  • Intervensi: Pemantauan Respirasi (I.01014). Tindakan: Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas; Monitor pola napas; Monitor kemampuan batuk efektif; Monitor adanya produksi sputum; Monitor adanya sumbatan jalan napas; Palpasi kesimetrisan ekspansi paru; Auskultasi bunyi napas; Monitor saturasi oksigen; Monitor nilai AGD; Dokumentasikan hasil pemantauan; Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan; Informasikan hasil pemantauan, jika perlu.

Pola Napas Tidak Efektif (D.0005)

  • Luaran: Pola Napas (L.01004) membaik. Kriteria Hasil: Ventilasi semenit meningkat, kapasitas vital meningkat, tekanan ekspirasi meningkat, tekanan inspirasi meningkat, dispnea menurun, penggunaan otot bantu napas menurun, pemanjangan fase ekspirasi menurun, ortopnea menurun, pernapasan pursed-lip menurun, pernapasan cuping hidung menurun, frekuensi napas membaik, kedalaman napas membaik, ekskursi dada membaik.
  • Intervensi: Manajemen Jalan Napas (I.01011). Tindakan: Monitor pola napas; Monitor bunyi napas tambahan; Monitor sputum; Pertahankan kepatenan jalan napas; Posisikan semi-Fowler atau Fowler; Berikan minum hangat; Lakukan fisioterapi dada, jika perlu; Lakukan penghisapan lendir kurang dari 15 detik; Berikan oksigen, jika perlu; Anjurkan asupan cairan 2000 mL/hari, jika tidak kontraindikasi; Ajarkan teknik batuk efektif; Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran, mukolitik, jika perlu.

Intervensi Diagnosa 4-6

Risiko Perdarahan (D.0012)

  • Luaran: Tingkat Perdarahan (L.02017) menurun. Kriteria Hasil: Kelembapan membran mukosa meningkat, kelembapan kulit meningkat, hemoptisis menurun, hematemesis menurun, hematuria menurun, perdarahan anus menurun, distensi abdomen menurun, kognitif membaik, hemoglobin membaik, hematokrit membaik, tekanan darah membaik, denyut nadi membaik.
  • Intervensi: Pencegahan Perdarahan (I.02067). Tindakan: Monitor tanda dan gejala perdarahan; Monitor nilai hemoglobin dan hematokrit sebelum dan setelah kehilangan darah; Monitor tanda-tanda vital ortostatik; Monitor koagulasi; Pertahankan bedrest selama perdarahan; Batasi tindakan invasif, jika perlu; Gunakan jarum yang kecil untuk injeksi; Hindari pengukuran suhu rektal; Jelaskan tanda dan gejala perdarahan; Anjurkan meningkatkan asupan cairan untuk menghindari konstipasi; Anjurkan menghindari aspirin atau antikoagulan; Anjurkan meningkatkan asupan makanan dan vitamin K; Kolaborasi pemberian obat pengontrol perdarahan, jika perlu.

Defisit Nutrisi (D.0019)

  • Luaran: Status Nutrisi (L.03030) membaik. Kriteria Hasil: Porsi makanan yang meningkat, kekuatan otot pengunyah meningkat, kekuatan otot menelan meningkat, serum albumin meningkat, verbalisasi keinginan untuk meningkatkan nutrisi meningkat, pengetahuan tentang pilihan makanan sehat meningkat, pengetahuan tentang standar asupan nutrisi yang tepat meningkat, penyiapan dan penyimpanan makanan yang aman meningkat, perasaan cepat kenyang menurun, nyeri abdomen menurun, sariawan menurun, rambut rontok menurun, diare menurun, berat badan membaik, indeks massa tubuh (IMT) membaik, frekuensi makan membaik, nafsu makan membaik, bising usus membaik, tebal lipatan kulit trisep membaik, membran mukosa membaik.
  • Intervensi: Manajemen Nutrisi (I.03119). Tindakan: Identifikasi status nutrisi; Identifikasi alergi dan intoleransi makanan; Identifikasi makanan yang pasien sukai; Identifikasi kebutuhan kalori dan jenis nutrien; Monitor asupan makanan; Monitor berat badan; Monitor hasil pemeriksaan laboratorium; Lakukan oral hygiene sebelum makan, jika perlu; Fasilitasi menentukan pedoman diet; Sajikan makanan secara menarik dan suhu yang sesuai; Berikan makanan tinggi serat untuk mencegah konstipasi; Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein; Berikan suplemen makanan, jika perlu; Hentikan pemberian makan melalui selang nasogastrik jika asupan oral dapat ditoleransi; Ajarkan diet yang diprogramkan; Kolaborasi dengan dietisien untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrien yang dibutuhkan, jika perlu.

Intoleransi Aktivitas (D.0056)

  • Luaran: Toleransi Aktivitas (L.05047) meningkat. Kriteria Hasil: Frekuensi nadi bervariasi dengan aktivitas meningkat, kemudahan dalam melakukan aktivitas sehari-hari meningkat, kecepatan berjalan meningkat, jarak berjalan meningkat, kekuatan tubuh bagian atas meningkat, kekuatan tubuh bagian bawah meningkat, keluhan lelah menurun, dispnea saat aktivitas menurun, dispnea setelah aktivitas menurun, perasaan lemah menurun, aritmia saat aktivitas menurun, aritmia setelah aktivitas menurun, sianosis menurun, warna kulit membaik, tekanan darah membaik, frekuensi napas membaik, EKG iskemia membaik.
  • Intervensi: Manajemen Energi (I.05178). Tindakan: Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan; Monitor kelelahan fisik dan emosional; Monitor pola dan jam tidur; Monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama melakukan aktivitas; Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus; Lakukan latihan rentang gerak pasif dan/atau aktif; Berikan aktivitas distraksi yang menenangkan; Fasilitasi duduk di sisi tempat tidur, jika tidak dapat berpindah atau berjalan; Anjurkan tirah baring; Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap; Anjurkan menghubungi perawat jika tanda dan gejala kelelahan tidak berkurang; Ajarkan strategi koping untuk mengurangi kelelahan; Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan.

Intervensi Diagnosa 7-10

Gangguan Pola Tidur (D.0055)

  • Luaran: Pola Tidur (L.05045) membaik. Kriteria Hasil: Kemampuan beraktivitas meningkat, keluhan sulit tidur menurun, keluhan sering terjaga menurun, keluhan tidak segar saat bangun menurun, keluhan pola tidur berubah menurun, keluhan istirahat tidak cukup menurun, menetapkan jadwal tidur-jaga membaik, efisiensi tidur membaik, suhu ruangan membaik.
  • Intervensi: Dukungan Tidur (I.05174). Tindakan: Identifikasi pola aktivitas dan tidur; Identifikasi faktor pengganggu tidur; Identifikasi makanan dan minuman yang mengganggu tidur; Monitor dan catat waktu tidur pasien; Modifikasi lingkungan; Tetapkan jadwal tidur rutin; Fasilitasi menghilangkan stres sebelum tidur; Tetapkan prosedur untuk mendukung tidur; Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit; Anjurkan menepati kebiasaan waktu tidur; Anjurkan menghindari makanan/minuman yang mengganggu tidur sebelum tidur; Ajarkan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap gangguan pola tidur; Ajarkan relaksasi otot autogenik atau cara nonfarmakologis lainnya.

Ansietas (D.0080)

  • Luaran: Tingkat Ansietas (L.09093) menurun. Kriteria Hasil: Verbalisasi kebingungan menurun, verbalisasi khawatir akibat kondisi meurun, perilaku gelisah menurun, perilaku tegang menurun, keluhan pusing menurun, diaforesis menurun, tremulasi menurun, pucat menurun, konsentrasi membaik, pola tidur membaik, perasaan keberdayaan membaik, kontak mata membaik, orientasi membaik, frekuensi nadi membaik, tekanan darah membaik, frekuensi napas membaik, keberfungsian sosial membaik.
  • Intervensi: Reduksi Ansietas (I.09314). Tindakan: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah; Identifikasi kemampuan mengambil keputusan; Monitor tanda-tanda ansietas; Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan; Temani pasien untuk mengurangi kecemasan, jika memungkinkan; Pahami situasi yang membuat ansietas; Dengarkan dengan penuh perhatian; Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan; Tempatkan barang pribadi yang memberikan kenyamanan; Motivasi mengidentifikasi situasi yang memicu kecemasan; Mendiskusikan perencanaan realistis tentang peristiwa yang akan datang; Jelaskan prosedur, termasuk sensasi yang mungkin dialami; Informasikan secara faktual mengenai diagnosis, pengobatan, dan prognosis; Anjurkan keluarga untuk tetap bersama pasien, jika perlu; Anjurkan melakukan kegiatan yang tidak kompetitif, sesuai kebutuhan; Anjurkan mengungkapkan perasaan dan persepsi; Latih kegiatan pengalihan untuk mengurangi ketegangan; Latih penggunaan mekanisme pertahanan diri yang tepat; Latih teknik relaksasi; Kolaborasi pemberian obat antiansietas, jika perlu.

Risiko Infeksi (D.0142)

  • Luaran: Tingkat Infeksi (L.14137) menurun. Kriteria Hasil: Kebersihan tangan meningkat, kebersihan badan meningkat, demam menurun, kemerahan menurun, nyeri menurun, bengkak menurun, vesikel menurun, cairan berbau busuk menurun, sputum berwarna hijau/purulen menurun, drainase purulen menurun, piuria menurun, kadar sel darah putih membaik, kultur darah membaik, kultur urine membaik, kultur sputum membaik, kultur area luka membaik, nafsu makan membaik.
  • Intervensi: Pencegahan Infeksi (I.14539). Tindakan: Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik; Batasi jumlah pengunjung; Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan lingkungan pasien; Pertahankan teknik aseptik pada pasien berisiko tinggi; Jelaskan tanda dan gejala infeksi; Ajarkan cara mencuci tangan dengan benar; Ajarkan etika batuk dan bersin; Ajarkan cara memeriksa kondisi luka atau luka operasi, jika perlu; Anjurkan meningkatkan asupan nutrisi; Anjurkan meningkatkan asupan cairan; Kolaborasi pemberian imunisasi, jika perlu.

Defisit Pengetahuan (D.0111)

  • Luaran: Tingkat Pengetahuan (L.12111) meningkat. Kriteria Hasil: Perilaku sesuai anjuran meningkat, verbalisasi minat dalam belajar meningkat, kemampuan menjelaskan pengetahuan tentang suatu topik meningkat, kemampuan menggambarkan pengalaman sebelumnya yang sesuai dengan topik meningkat, perilaku sesuai dengan pengetahuan meningkat, pertanyaan tentang masalah yang dihadapi menurun, persepsi yang keliru terhadap masalah menurun, gerakan tidak perlu menurun, menjalani pemeriksaan yang tidak tepat menurun, perilaku membaik.
  • Intervensi: Edukasi Kesehatan (I.12383). Tindakan: Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi; Identifikasi faktor-faktor yang dapat meningkatkan atau menurunkan motivasi perilaku hidup bersih dan sehat; Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan; Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan; Berikan kesempatan untuk bertanya; Jelaskan faktor risiko yang dapat mempengaruhi kesehatan; Ajarkan perilaku hidup bersih dan sehat; Ajarkan strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat.

4. Tahap Akhir Asuhan

Pelaksanaan Tindakan

Implementasi keperawatan dilaksanakan secara sistematis berdasarkan rencana intervensi yang telah disusun (SIKI). Tindakan mencakup pengelolaan bersihan jalan napas melalui latihan batuk efektif dan fisioterapi dada, pemantauan status respirasi serta parameter gas darah secara ketat, manajemen kenyamanan posisi tidur (semi-Fowler), pemberian terapi farmakologis berbasis kolaborasi, stabilisasi hemodinamik pada risiko perdarahan akibat hemoptisis, pemenuhan kebutuhan nutrisi makro/mikro, serta pemberian edukasi kesehatan terstruktur kepada pasien beserta keluarga agar mampu mengelola penyakit secara mandiri di rumah. (PPNI, 2018)

Penilaian Hasil Tindakan

Evaluasi keperawatan dilaksanakan secara berkala menggunakan metode SOAP mengacu pada kriteria hasil Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI). Evaluasi subjektif menilai penurunan sesak dan kemudahan batuk. Sementara itu, evaluasi objektif mengukur kebersihan jalan napas, produksi sputum, stabilitas tanda-tanda vital, dan saturasi oksigen pasien. Selanjutnya, analisis dilakukan untuk menentukan tingkat keberhasilan intervensi. Akhirnya, perencanaan lanjutan diputuskan apakah intervensi dihentikan, dilanjutkan, atau dimodifikasi secara komprehensif. (PPNI, 2019)

Rumus Medis (Dapat Disalin ke Word)

Untuk menghitung sirkulasi oksigenasi atau indeks fungsional paru, sering digunakan rumus Tekanan Parsial Oksigen Arteri terhadap Fraksi Oksigen Inspirasi (Rasio P/F) sebagai berikut:

Rasio P/F = PaO2 / FiO2

Keterangan: PaO2 = Tekanan parsial oksigen dalam darah arteri (mmHg) FiO2 = Fraksi oksigen dalam udara inspirasi (dinyatakan dalam desimal, contoh: 21% udara bebas = 0.21)

DAFTAR PUSTAKA

Alsagaff, H. (2019). Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Paru. Airlangga University Press.

Amin, M. (2022). Penyakit Paru Obstruktif dan Kronis: Pendekatan Klinis. Sagung Seto.

Barker, A. F. (2022). Bronchiectasis. N Engl J Med, 346(18), 1383-1393. nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMra012555

British Thoracic Society. (2019). BTS Guideline for Bronchiectasis in Adults. Thorax, 74(1), 1-69. thorax.bmj.com/content/74/Suppl_1/1

Chinese Thoracic Society. (2021). Expert Consensus on Bronchiectasis in China. Chin Med J, 134(12), 1389-1395. journals.lww.com/cmj/fulltext/2021/06200/expert_consensus_on_the_diagnosis_and.2.aspx

Cole, P. J. (2020). Inflammation in Chronic Respiratory Infection. Eur J Respir Dis, 69(147), 6-15.

European Respiratory Society. (2017). ERS Guidelines for Adult Bronchiectasis. Eur Respir J, 50(3), 1700629. erj.ersjournals.com/content/50/3/1700629

Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2018). Pedoman Pelayanan Medis Anak: Penyakit Paru Supuratif Kronis. Badan Penerbit IDAI.

Indian Chest Society. (2020). ICS Guidelines for Bronchiectasis. Lung India, 37(4), 338-345. lungindia.com/article.asp?issn=0970-2113;year=2020;volume=37;issue=4;spage=338;epage=345;aulast=Mohapatra

Japanese Respiratory Society. (2022). Guidelines for Bronchiectasis. Respir Investig, 60(2), 198-207. respiratoryinvestigation.com/article/S2212-5345(21)00184-7/fulltext

Korean Academy of Tuberculosis and Respiratory Diseases. (2023). Korean Guidelines for Bronchiectasis. Tuberc Respir Dis, 86(1), 12-25. e-trd.org/doi/10.4046/trd.2022.0115

O’Donnell, A. E. (2021). Bronchiectasis: A Review. Lancet, 392(10151), 753-764. thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(18)31554-X/fulltext

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. (2021). Bronkiektasis: Pedoman Diagnosis & Penatalaksanaan di Indonesia. Indomedika.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. DPP PPNI.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. DPP PPNI.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *