GAGAL NAPAS KONSEP MEDIS

Gagal napas terjadi saat sistem respirasi tidak mampu memenuhi kebutuhan oksigenasi jaringan tubuh atau mengeliminasi karbon dioksida dengan adekuat.

A. KONSEP MEDIS GAGAL NAPAS

1. Definisi Penyakit Gagal Napas

Definisi Dari Pakar Internasional

World Health Organization (WHO) mendeskripsikan gagal napas sebagai kondisi klinis akut atau kronis ketika organ paru tidak mampu mempertahankan pertukaran gas normal, yang berujung pada hipoksemia berat dengan atau tanpa hiperkapnia (WHO, 2021).

Selanjutnya, American Thoracic Society (ATS) menegaskan bahwa gangguan ini merepresentasikan disfungsi sistem pernapasan yang mengakibatkan kegagalan oksigenasi arteri (PaO_2 < 60\textmm Hg) atau kegagalan eliminasi karbon dioksida (PaCO_2 > 50\text mm Hg) pada tekanan atmosfer normal (ATS, 2022).

Di samping itu, European Respiratory Society (ERS) mendefinisikan kondisi ini sebagai ketidakmampuan struktural dan fungsional dari pompa pernapasan atau membran alveolar kapiler untuk memfasilitasi metabolisme gas tubuh secara adekuat (ERS, 2023).

Kemudian, The Lancet Respiratory Medicine mengidentifikasi sindrom ini sebagai konsekuensi dari kegagalan ventilasi primer atau ketidaksesuaian ventilasi-perfusi yang mengancam homeostasis seluler (The Lancet, 2024).

Akhirnya, Critical Care Medicine Guidelines merumuskan gagal napas sebagai status darurat pulmonal yang memerlukan intervensi suportif segera demi mencegah hipoksia jaringan serebral dan miokard (Society of Critical Care Medicine, 2025).

Definisi Dari Pakar Asia

Asian Pacific Society of Respirology (APSR) mengklasifikasikan gagal napas sebagai penurunan progresif kapasitas vital paru dalam mempertahankan saturasi oksigen arteri (SaO_2 < 90\%$) saat pasien menghirup udara ruangan (APSR, 2022).

Sementara itu, Japanese Respiratory Society (JRS) mengartikan sindrom ini sebagai stadium lanjut dari berbagai patologi parenkim paru yang menghentikan fungsi kompensasi mekanik dada (JRS, 2023).

Lebih lanjut, Chinese Medical Association (CMA) menetapkan kondisi ini sebagai kegagalan metabolik sistem respirasi yang memicu asidosis respiratorik akut akibat retensi gas CO2 (CMA, 2024).

Sebaliknya, Indian Chest Society memaparkan gagal napas sebagai manifestasi klinis dari kelelahan otot-otot pernapasan yang mengakibatkan kolaps alveolar secara masif (Indian Chest Society, 2023).

Oleh karena itu, Korean Academy of Tuberculosis and Respiratory Diseases

menyimpulkan gangguan ini sebagai ketidakseimbangan sistemik antara kebutuhan oksigen jaringan dengan hantaran oksigen oleh paru (KATRD, 2025).

Definisi Dari Pakar Indonesia

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) merumuskan gagal napas sebagai ketidakmampuan sistem respirasi untuk menjalankan fungsi pertukaran gas, yaitu menyerap oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida, yang dibuktikan melalui analisis gas darah arteri (PDPI, 2022).

Dengan demikian, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mendefinisikan gagal napas anak sebagai kondisi klinis di mana sistem pernapasan gagal mempertahankan pembersihan  CO2 atau oksigenasi organ vital secara mandiri (IDAI, 2023).

Sebagai tambahan, Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (PERDATIN) menetapkan sindrom ini sebagai kegagalan akut sirkulasi respirasi pulmonal yang mengancam jiwa dan membutuhkan bantuan ventilator mekanis (PERDATIN, 2024).

Meskipun demikian, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Universitas Indonesia menjelaskan gagal napas sebagai sindrom klinis akibat penyakit primer pada paru maupun luar paru yang mengganggu pusat kendali napas atau parenkim paru (UI Press, 2021).

Pada akhirnya, Panduan Praktis Klinis Kemenkes RI menegaskan gagal napas sebagai diagnosis gawat darurat yang ditandai dengan takipnea berat disertai tanda-tanda hipoksia sistemik (Kemenkes RI, 2023).

2. Etiologi Penyakit Gagal Napas

Klasifikasi Berdasarkan Tipe

Penyebab kondisi ini terbagi secara klinis berdasarkan keterlibatan parenkim paru atau pompa ventilasi (Black & Hawks, 2021; PDPI, 2022).

Faktor Pemicu Hipoksemik (Tipe I)

Penyebab utama tipe ini melibatkan kerusakan langsung pada jaringan paru. Akibatnya, terjadi gangguan transfer oksigen yang memicu hipoksemia berat. Contoh kondisi ini meliputi Acute

Respiratory Distress Syndrome (ARDS), pneumonia bakterial atau viral, edema paru kardiogenik, emboli paru masif, serta kontusio paru akibat trauma (PDPI, 2022).

Faktor Pemicu Hiperkapnik (Tipe II)

Penyebab utama tipe ini berpusat pada kegagalan pompa ventilasi untuk membuang karbon dioksida. Akibatnya, terjadi retensi gas berbahaya dalam darah. Faktor pemicunya mencakup overdosis obat sedatif, cedera medula spinalis, Guillain-Barré Syndrome, Myasthenia Gravis, flail chest, serta eksaserbasi akut pada penderita PPOK (Black & Hawks, 2021).

3. Patofisiologi dan KDM Gagal Napas

Kelainan Mekanisme Dasar

Mekanisme patofisiologi berpusat pada empat kelainan fungsional utama sistem respirasi tubuh. Kelainan tersebut meliputi ketidaksesuaian ventilasi-perfusi (V/Q\tmismatch), pintasan darah kanan-ke-kiri (shunt), hipoventilasi alveolar, serta gangguan difusi membran alveolar-kapiler (Hall, 2021).

Dampak Kegagalan Gas Arteri

Pada kegagalan hipoksemik, pengisian cairan di dalam ruang alveolar menghalangi difusi oksigen menuju kapiler. Sebaliknya, pada kegagalan hiperkapnik, kelelahan otot napas menurunkan volume semenit udara. Oleh karena itu, akumulasi karbon dioksida memicu terjadinya asidosis respiratorik yang mengancam fungsi seluler (Silverthorn, 2023).

Bagan Penyimpangan KDM

[Etiologi Pulmonal/Ekstrapulmonal]

       │

       ▼

┌──────────────────────────────────────────────┐

│  Gangguan Ventilasi, Perfusi, atau Difusi    │

└──────────────────────┬───────────────────────┘

                       │

         ┌─────────────┴─────────────┐

         ▼                           ▼

┌──────────────────┐       ┌──────────────────┐

│   Hipoventilasi  │       │  Cairan/Kolaps   │

│     Alveolar     │       │     Alveoli      │

└────────┬─────────┘       └────────┬─────────┘

         │                          │

         ▼                          ▼

┌──────────────────┐       ┌──────────────────┐

│Retensi CO2 Tinggi│       │ O2 Arteri Turun  │

│(PaCO2 > 50 mmHg) │       │ (PaO2 < 60 mmHg) │

└────────┬─────────┘       └────────┬─────────┘

         │                          │

         ▼                          ▼

┌──────────────────┐       ┌──────────────────┐

│    Asidosis      │       │    Hipoksemia    │

│   Respiratorik   │       │     Jaringan     │

└────────┬─────────┘       └────────┬─────────┘

         │                          │

         ▼                          ▼

┌──────────────────┐       ┌──────────────────┐

│ Gangguan Fungsi  │       │ Kompensasi Jantung│

│  Serebral (SOP)  │       │& Takipnea (Pola) │

└──────────────────┘       └──────────────────┘

(Brunner & Suddarth, 2022)

4. Manifestasi Klinis Gagal Napas

a. Data Subjektif

Pasien secara mandiri mengeluhkan sesak napas yang sangat hebat dan mencekik. Di samping itu, mereka sering melaporkan sakit kepala berdenyut akibat efek vasodilatasi serebral dari hiperkapnia. Pasien juga mengungkapkan perasaan cemas, gelisah, serta ketakutan ekstrem akan kematian akibat sensasi kehabisan udara yang terus-menerus (Morton & Fontaine, 2023).

b. Data Objektif

Tanda Vital dan Fisik

Perawat mengamati peningkatan frekuensi napas di atas 30 kali per menit atau penurunan di bawah 10 kali per menit. Selain itu, terlihat penggunaan otot bantu napas yang masif serta retraksi interkostal yang dalam (Smeltzer et al., 2021).

Tanda Klinis Lanjutan

Petugas mendeteksi warna kebiruan atau sianosis pada area bibir serta ujung jari tangan.

Selanjutnya, denyut nadi teraba cepat atau takikardia pada fase awal, yang kemudian berubah menjadi bradikardia seiring memburuknya hipoksia jaringan. Kesadaran pasien juga menurun dari somnolen hingga koma (Smeltzer et al., 2021).

5. Pemeriksaan Penunjang

a. Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan Analisis Gas Darah (AGD) menunjukkan hasil yang krusial bagi penegakan diagnosis. Melalui sampel darah arteri, ditemukan nilai PaO2 < 60 mmHg, PaCO_2 > 50 mmH, serta tingkat keasaman darah  pH < 7.35. Tambahan pula, pemeriksaan darah lengkap dapat mendeteksi leukositosis sistemik akibat infeksi (Pusponegoro, 2022).

b. Pemeriksaan Radiologi

Foto toraks posisi anteroposterior atau posteroanterior membantu perawat memetakan kerusakan struktural paru. Melalui lembar film, tampak gambaran infiltrat bilateral masif pada kasus ARDS atau kardiomegali pada edema paru. Sebagai alternatif, CT scan toraks dapat memperlihatkan sumbatan trombus pada vaskularisasi paru (Kemenkes RI, 2023).

c. Pemeriksaan Lain

Oksimetri nadi memantau nilai saturasi oksigen perifer secara konstan di ruang perawatan.

Melalui alat ini, status oksigenasi terpantau turun di bawah 90%. Beriringan dengan itu, pemeriksaan elektrokardiografi (EKG) mendeteksi tanda regangan jantung kanan atau kelainan irama jantung akibat kekurangan oksigen pada otot miokard (Goldberger et al.,2024).

6. Penatalaksanaan Medis

a. Terapi Farmakologis

Dokter memberikan obat bronkodilator golongan agonis beta-2 bersama antikolinergik melalui nebulisasi untuk membuka jalan napas. Selanjutnya, pemberian kortikosteroid intravena bertujuan menekan inflamasi hebat pada parenkim paru. Dokter juga meresepkan antibiotik spektrum luas untuk mengeradikasi agen infeksi patogen, serta diuretik untuk mengurangi beban cairan (Critical Care Medicine, 2025).

b. Terapi Non-Farmakologis

Perawat memberikan terapi oksigenasi tingkat tinggi menggunakan Non-Rebreathing Mask (NRM) untuk mempertahankan saturasi. Jika tidak berhasil, penggunaan ventilasi non-invasif berupa CPAP atau BiPAP segera diaplikasikan. Langkah terakhir bagi pasien dengan henti napas adalah tindakan intubasi endotrakeal yang dihubungkan langsung ke mesin ventilator mekanis (Brunner & Suddarth, 2022).

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian Keperawatan Gagal Napas

a. Identitas Pasien

Perawat mengumpulkan data demografi pasien yang meliputi nama, nomor rekam medis, jenis kelamin, serta usia. Faktor usia ekstrem seperti neonatus atau lansia memiliki kerentanan biologis yang jauh lebih tinggi terhadap kerusakan fungsi paru (PPNI, 2021).

b. Riwayat Kesehatan

Pengkajian berfokus pada keluhan utama berupa sesak napas yang memberat mendadak. Perawat menggali kronologi keluhan, faktor pencetus infeksi, serta riwayat penyakit terdahulu seperti asma kronis atau gagal jantung (Morton & Fontaine, 2023).

c. Pemeriksaan Fisik

Evaluasi Sistem Pernapasan

Inspeksi menunjukkan dispnea berat, pola napas cepat dan dangkal, asimetris dada, serta sianosis mukosa. Palpasi membuktikan taktil fremitus melemah pada area efusi. Perkusi menghasilkan bunyi redup pada konsolidasi jaringan. Auskultasi mendeteksi suara ronkhi basah kasar atau wheezing di seluruh lapang paru (Smeltzer et al., 2021).

Evaluasi Sistem Tubuh Lain

Auskultasi jantung mendeteksi bunyi gallop S3 yang menandakan kelebihan beban sirkulasi. Pemeriksaan persarafan menunjukkan penurunan kesadaran dengan skor GCS yang rendah. Inspeksi abdomen memperlihatkan distensi akibat penggunaan otot diafragma yang dipaksakan, sementara pemantauan urin menunjukkan penurunan haluaran akibat hipoperfusi ginjal (Doenges et al., 2022).

d. Pengkajian Pola Fungsi

Perawat menilai penurunan drastis kapasitas aktivitas harian akibat keterbatasan suplai oksigen ke otot. Pasien juga mengalami gangguan pemenuhan nutrisi karena sesak napas yang konstan saat menelan, serta mengalami gangguan pola tidur akibat ketidakmampuan bernapas dalam posisi berbaring telentang (Morton & Fontaine, 2023).

2. Diagnosis Keperawatan

Daftar Masalah Prioritas 1-5

  1. Gangguan Pertukaran Gas (D.0003) b.d. Ketidakseimbangan ventilasi-perfusi.
  2. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001) b.d. Hipersekresi jalan napas.
  3. Pola Napas Tidak Efektif (D.0005) b.d. Hambatan upaya napas (kelelahan otot pernapasan).
  4. Gangguan Ventilasi Spontan (D.0004) b.d. Kelelahan otot pernapasan.
  5. Perfusi Perifer Tidak Efektif (D.0009) b.d. Penurunan konsentrasi hemoglobin.

Daftar Masalah Prioritas 6-10

  1. Intoleransi Aktivitas (D.0056) b.d. Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
  2. Ansietas (D.0080) b.d. Ancaman terhadap kematian.
  3. Risiko Defisit Nutrisi (D.0032) d.d. Faktor risiko dispnea saat makan.
  4. Risiko Infeksi (D.0142) d.d. Faktor risiko prosedur invasif (pemasangan selang endotrakeal).
  5. Defisit Pengetahuan (D.0111) b.d. Kurang terpapar informasi mengenai proses penyakit (PPNI, 2017).

3. Perencanaan Intervensi Keperawatan

Intervensi Diagnosis 1-3

Gangguan Pertukaran Gas (D.0003)

  • Luaran Keperawatan: Pertukaran Gas (L.01003) meningkat. Kriteria Hasil: Tingkat kesadaran meningkat, PaO2 membaik (80-100 mm Hg), PaCO2 membaik (35-45 mm Hg), sianosis menurun, gelisah menurun, napas cuping hidung menurun.
  • Intervensi Keperawatan: Pemantauan Respirasi (I.01014). Tindakan: Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas; Monitor pola napas; Monitor nilai AGD secara periodik; Monitor saturasi oksigen; Dokumentasikan hasil pemantauan.

Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001)

  • Luaran Keperawatan: Bersihan Jalan Napas (L.01001) meningkat. Kriteria Hasil: Batuk efektif meningkat, produksi sputum menurun, mengorok menurun, wheezing menurun, ronkhi menurun, gelisah menurun, frekuensi napas membaik.
  • Intervensi Keperawatan: Manajemen Jalan Napas (I.01011). Tindakan: Monitor pola napas; Monitor bunyi napas tambahan; Monitor sputum; Posisikan Semi-Fowler atau Fowler; Berikan minum hangat; Lakukan penghisapan lendir (suction) kurang dari 15 detik; Kolaborasi pemberian bronkodilator.

Pola Napas Tidak Efektif (D.0005)

  • Luaran Keperawatan: Pola Napas (L.01004) membaik. Kriteria Hasil: Ventilasi semenit meningkat, kapasitas vital meningkat, penggunaan otot bantu napas menurun, pemanjangan fase ekspirasi menurun, ortopnea menurun, takipnea menurun.
  • Intervensi Keperawatan: Pemantauan Respirasi (I.01014). Tindakan: Monitor adanya retraksi dinding dada; Palpasi kesimetrisan ekspansi paru; Monitor nilai AGD; Atur interval pemantauan respirasi sesuai kondisi pasien; Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan kepada keluarga.

Intervensi Diagnosis 4-6

Gangguan Ventilasi Spontan (D.0004)

  • Luaran Keperawatan: Ventilasi Spontan (L.01007) meningkat. Kriteria Hasil: Volume semenit meningkat, PaCO2 membaik, PaO2 membaik, gelisah menurun, penggunaan otot bantu napas menurun, takikardia menurun.
  • Intervensi Keperawatan: Dukungan Ventilasi (I.01002). Tindakan: Monitor adanya kelelahan otot bantu napas; Monitor status respirasi dan oksigenasi; Berikan posisi fowler tinggi; Gunakan alat bantu napas sesuai indikasi; Kolaborasi pemberian sedasi jika diperlukan.

Perfusi Perifer Tidak Efektif (D.0009)

  • Luaran Keperawatan: Perfusi Perifer (L.02011) meningkat. Kriteria Hasil: Denyut nadi perifer meningkat, warna kulit pucat menurun, pengisian kapiler (CRT) membaik (< 2 detik), akral dingin menurun, parastesia menurun.
  • Intervensi Keperawatan: Perawatan Sirkulasi (I.02079). Tindakan: Periksa sirkulasi perifer; Monitor panas, kemerahan, atau bengkak pada ekstremitas; Hindari pemasangan torniket pada area cidera; Lakukan hidrasi cairan; Kolaborasi pemberian transfusi darah.

Intoleransi Aktivitas (D.0056)

  • Luaran Keperawatan: Toleransi Aktivitas (L.05047) meningkat. Kriteria Hasil: Kemudahan melakukan aktivitas harian meningkat, kecepatan berjalan meningkat, keluhan lelah menurun, dispnea saat aktivitas menurun, dispnea setelah aktivitas menurun.
  • Intervensi Keperawatan: Manajemen Energi (I.05178). Tindakan: Monitor kelelahan fisik dan emosional; Monitor pola dan jam tidur; Sediakan lingkungan nyaman; Bantu aktivitas perawatan diri; Anjurkan tirah baring; Kolaborasi dengan ahli gizi.

Intervensi Diagnosis 7-10

Ansietas (D.0080)

  • Luaran Keperawatan: Tingkat Ansietas (L.09093) menurun. Kriteria Hasil: Verbalisasi khawatir akibat kondisi yang dihadapi menurun, perilaku gelisah menurun, perilaku tegang menurun, konsentrasi membaik, kontak mata membaik.
  • Intervensi Keperawatan: Reduksi Ansietas (I.09314). Tindakan: Monitor tanda-tanda ansietas fisik dan verbal; Ciptakan suasana terapeutik; Temani pasien untuk mengurangi kecemasan; Jelaskan semua prosedur intervensi; Latihan teknik relaksasi.

Risiko Defisit Nutrisi (D.0032)

  • Luaran Keperawatan: Status Nutrisi (L.03030) membaik. Kriteria Hasil: Porsi makanan yang dihabiskan meningkat, kekuatan otot mengunyah meningkat, serum albumin meningkat, berat badan membaik, indeks massa tubuh (IMT) membaik.
  • Intervensi Keperawatan: Manajemen Nutrisi (I.03119). Tindakan: Monitor asupan makanan; Monitor berat badan harian; Monitor hasil laboratorium; Berikan makanan tinggi kalori tinggi protein; Pasang selang nasogastrik jika perlu; Kolaborasi dengan dietisien.

Risiko Infeksi (D.0014)

  • Luaran Keperawatan: Tingkat Infeksi (L.14137) menurun. Kriteria Hasil: Demam menurun, kemerahan menurun, sputum purulen menurun, kadar sel darah putih membaik, kultur sputum membaik.
  • Intervensi Keperawatan: Pencegahan Infeksi (I.14539). Tindakan: Monitor tanda dan gejala infeksi; Batasi jumlah pengunjung; Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien; Terapkan teknik aseptik; Lakukan perawatan mulut berkala; Kolaborasi antibiotik.

Defisit Pengetahuan (D.0111)

  • Luaran Keperawatan: Tingkat Pengetahuan (L.12111) meningkat. Kriteria Hasil: Kemampuan menjelaskan pengetahuan tentang suatu topik meningkat, perilaku sesuai dengan pengetahuan meningkat, pertanyaan tentang masalah yang dihadapi menurun.
  • Intervensi Keperawatan: Edukasi Proses Penyakit (I.12444). Tindakan: Identifikasi kesiapan menerima informasi; Jelaskan penyebab dan konsekuensi fisiologis penyakit; Informasikan rencana tata laksana medis; Ajarkan keluarga mengenali tanda kedaruratan respirasi.

      (PPNI, 2017; PPNI, 2018; PPNI, 2019)

4. Implementasi Keperawatan

Pelaksanaan Tindakan Lapangan

Perawat melaksanakan tindakan secara nyata berdasarkan seluruh intervensi SIKI yang telah direncanakan sebelumnya. Selama proses ini, tindakan mandiri seperti pengaturan posisi tubuh pasien, pembersihan lendir jalan napas, serta pemantauan tanda vital dilakukan secara berkala (Doenges et al., 2022).

Kolaborasi Terintegrasi

Tindakan kolaboratif dengan dokter dan tim medis lain dijalankan demi keselamatan pasien.

Perawat mengadministrasikan obat-obatan emergency, mendampingi proses pemasangan ventilator, serta mengambil sampel darah untuk memantau perkembangan gas darah arteri pasien secara berkala (Doenges et al., 2022).

5. Evaluasi Keperawatan 

Penggunaan Format SOAP: 

Perawat mengevaluasi hasil asuhan keperawatan menggunakan format pencatatan perkembangan SOAP secara ketat. Komponen subjektif (S) merangkum laporan lisan pasien terkait penurunan tingkat sesak napas yang mereka rasakan setelah intervensi (PPNI, 2019).

Analisis Hasil Klinis

Komponen objektif (O) merinci data klinis nyata yang terukur seperti nilai AGD dan tanda vital.

Selanjutnya, komponen analisis (A) menyimpulkan status pemecahan masalah keperawatan, sedangkan komponen planning (P) menentukan keberlanjutan rencana asuhan keperawatan bagi pasien (PPNI, 2019).

Rumus Medis Terkait Gagal Napas

Untuk menghitung rasio oksigenasi arteri terhadap fraksi oksigen inspirasi (PaO2/FiO2 ratio) guna menentukan derajat keparahan ARDS:

Rasio PaO2/FiO2 = PaO2 / FiO2 Keterangan: PaO_2 diperoleh dari hasil AGD (satuan mmHg), Sedangkan FiO_2 dinyatakan dalam desimal (contoh: udara ruangan memiliki nilai 0.21). Nilai normal adalah lebih dari 400. Jika nilai kurang dari 300, kondisi tersebut mengindikasikan cedera paru akut, dan jika kurang dari 200 menunjukkan ARDS berat.

DAFTAR PUSTAKA

American Thoracic Society. (2022). Guidelines for International Diagnosis and Classification of Acute Respiratory Failure. American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine, 205(4), 411-423. atsjournals.org/doi/10.1164/rccm.2022-411

Asian Pacific Society of Respirology. (2022). Respiratory Failure Management and Consensus in the Asia-Pacific Region. Respirology, 27(2), 115-128. onlinelibrary.wiley.com/journal/14401843

Black, J. M., & Hawks, J. H. (2021). Medical-Surgical Nursing: Clinical Management for Positive Outcomes (9th ed.). Elsevier Saunders.

Brunner, L. S., & Suddarth, D. S. (2022). Textbook of Medical-Surgical Nursing (15th ed.). Wolters Kluwer Lippincott Williams & Wilkins.

Chinese Medical Association. (2024). Chinese Consensus on Critical Care and Respiratory Management. Chinese Medical Journal, 137(3), 289-301. journals.lww.com/cmj

Doenges, M. E., Moorhouse, M. F., & Murr, A. C. (2022). Nurse’s Pocket Guide: Diagnoses, Prioritized Interventions and Rationales (16th ed.). F.A. Davis Company.

European Respiratory Society. (2023). Molecular and Mechanical Pathways in Acute Respiratory Distress Syndrome. European Respiratory Journal, 61(1), 220015. erj.ersjournals.com/content/61/1/220015

Goldberger, A. L., Goldberger, Z. D., & Shvilkin, A. (2024). Goldberger’s Clinical Electrocardiography: A Simplified Approach (10th ed.). Elsevier.

Hall, J. E. (2021). Guyton and Hall Textbook of Medical Physiology (14th ed.). Elsevier.

Japanese Respiratory Society. (2023). JRS Guidelines for Management of Respiratory Failure. Respiratory Investigation, 61(2), 174-185. respiratoryinvestigation.com

Kementerian Kesehatan RI. (2023). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Tentang Panduan Praktis Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Lanjutan. Kemenkes RI.

Korean Academy of Tuberculosis and Respiratory Diseases. (2025). Pathophysiology of Systemic Hypoxemia. Tuberculosis and Respiratory Diseases, 88(1), 34-45. e-trd.org

Morton, P. G., & Fontaine, D. K. (2023). Critical Care Nursing: A Holistic Approach (12th ed.). Wolters Kluwer.

PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI): Definisi dan Indikator Diagnostik (1st ed.). DPP PPNI.

Society of Critical Care Medicine. (2025). Guidelines for Oxygenation and Ventilation in the Intensive Care Unit. Critical Care Medicine, 53(2), 210-225. journals.lww.com/ccmjournal


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *