EMFISEMA KONSEP MEDIS

Emfisema merupakan penyakit paru obstruktif kronis akibat kerusakan dinding alveolus yang menyebabkan pelebaran rongga udara abnormal dan sesak napas kronis.

A. Konsep Medis Emfisema

1.  Definisi Penyakit Emfisema

Definisi Dari Pakar Internasional

Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD) menjelaskan emfisema sebagai kerusakan struktural pada dinding alveolus yang mengurangi kelenturan elastis paru secara permanen (GOLD, 2024).

Selanjutnya, American Thoracic Society (ATS) mendefinisikan kondisi ini berupa pembesaran abnormal ruang udara distal bronkiolus terminalis yang menyertai destruksi dinding asinus tanpa fibrosis yang jelas (ATS, 2022).

Selain itu, Mayo Clinic menggambarkan gangguan paru ini sebagai proses destruksi kantung udara secara bertahap yang membuat penderita semakin sesak napas (Mayo Clinic, 2023).

Kemudian, British Thoracic Society (BTS) menegaskan bahwa kelainan ini melibatkan hilangnya elastisitas paru akibat kerusakan proteolitik pada jaringan elastis alveolar (BTS, 2021).

Akhirnya, World Health Organization (WHO) mengategorikan patologi ini sebagai komponen struktural utama dari Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) yang membatasi aliran udara secara progresif (WHO, 2023).

Definisi Pakar Asia

Asian Pacific Society of Respirology (APSR) mengidentifikasi kelainan tersebut sebagai fenomena obstruksi jalan napas akibat kolapsnya saluran napas kecil saat ekspirasi karena hilangnya jaringan penyangga alveolar (APSR, 2023).

Sementara itu, Japanese Respiratory Society (JRS) mengartikan penyakit ini sebagai destruksi parenkim paru yang penyebabnya yaitu stres oksidatif kronis, khususnya akibat paparan asap rokok yang tinggi pada populasi Asia (JRS, 2022).

Lebih lanjut, Chinese Thoracic Society (CTS) merumuskan kelainan ini sebagai penyempitan saluran napas persisten yang timbul akibat ketidakseimbangan protease antiprotease pada jaringan paru (CTS, 2024).

Sejalan dengan hal tersebut, Korean Academy of Tuberculosis and Respiratory Diseases (KATRD). memaparkan masalah ini sebagai kerusakan permanen pada ruang udara distal yang menurunkan area permukaan difusi gas secara signifikan (KATRD, 2023).

Tambahan pula, Saudi Thoracic Society (STS) menguraikan kondisi ini sebagai perubahan anatomis paru berupa hiperinflasi permanen yang merusak kapiler alveolar (STS, 2021).

Definisi Pakar Indonesia

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) menetapkan gangguan tersebut sebagai suatu kelainan anatomis paru oleh pelebaran rongga udara distal bronkiolus terminal beserta kerusakan dinding alveolus (PDPI, 2021).

Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mendeskripsikan penyakit ini sebagai kondisi kronis kantung udara paru-paru mengalami kerusakan dan pecah, sehingga menciptakan ruang udara yang lebih besar namun tidak efektif (Kemenkes RI, 2022).

Faktanya, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengartikan patologi ini sebagai bagian dari PPOK yang menyebabkan pasien mengalami retensi karbondioksida akibat hilangnya daya rekoil elastis paru (IDI, 2023).

Secara spesifik, Sudoyo dkk. (IPD UI) merumuskan kelainan patologis ini sebagai destruksi jaringan ikat paru yang mengurangi luas permukaan membran respirasi untuk pertukaran oksigen (Sudoyo dkk., 2020).

Sebagai penguat, Somantri memaparkan kondisi tersebut sebagai penyakit kronis yang menurunkan kemampuan paru untuk mengembang dan mengempis akibat rusaknya sekat antar alveoli (Somantri, 2019).

2. Etiologi Penyakit Emfisema

Faktor Risiko Utama

Berdasarkan bukti klinis, asap rokok menjadi penyebab utama karena mengandung zat oksidan berbahaya yang secara masif mengaktivasi sel inflamasi (PDPI, 2021; GOLD, 2024). Oleh karena itu, paparan jangka panjang menyebabkan kerusakan struktural parah pada parenkim paru.

Faktor Genetik dan Lingkungan

Selain rokok, defisiensi Alpha-1 Antitrypsin (AAT) merupakan kelainan genetik langka ketika tubuh kekurangan enzim pelindung, sehingga elastase merusak alveolus tanpa hambatan (ATS,2022).

Sementara itu, polusi udara dari debu industri, gas kimia, dan polusi asap dapur memicu iritasi kronis pada saluran napas (Kemenkes RI, 2022).

Pada akhirnya, faktor usia dan riwayat infeksi saluran napas berulang pada masa kanak-kanak semakin memperburuk kerusakan struktur organ pernapasan (Somantri, 2019; APSR, 2023).

3. Patofisiologi Penyakit Emfisema

Mekanisme Kerusakan Jaringan

Inhalasi asap rokok memicu infiltrasi sel makrofag, neutrofil, dan limfosit T ke dalam jaringan paru. 

Akibatnya, sel-sel inflamasi ini melepaskan enzim proteolitik yang menghancurkan elastin sebagai komponen struktural utama dinding alveolus.

Oleh karena itu, terjadi ketidakseimbangan protease-antiprotease yang merusak penyangga saluran napas kecil.

Dampak pada Ventilasi

Oleh karena sekat alveoli hancur, beberapa alveoli kecil menyatu menjadi kantung besar atau bulla. Dampaknya, luas permukaan membran alveolar-kapiler menurun secara drastis, sehingga memicu hipoksemia berat.

Selanjutnya, saluran napas kolaps sebelum waktunya saat ekspirasi, menjebak udara pada paru (air trapping) dan menyebabkan hiperinflasi dinding dada yang memicu dispnea (Sudoyo dkk., 2020; GOLD, 2024).

Pathway Penyimpangan KDM

Inhalasi Asap Rokok / Polutan / Defisiensi AAT

                     │

          Inflamasi Kronis Paru

                     │

      Pelepasan Protease & Elastase ↑

                     │

  Inaktivasi Antiprotease (AAT) oleh Oksidan

                     │

     Kerusakan Elastin & Dinding Alveolus

                     │

   ┌─────────────────┴─────────────────┐

   ▼                                   ▼

Hancurnya Sekat Alveoli       Kolaps Saluran Napas saat Ekspirasi

   │                                   │

Penyatuan Alveoli (Bulla)             Air Trapping (Udara Terjebak)

   │                                   │

Luas Permukaan Difusi ↓                Hiperinflasi Paru (Barrel Chest)

   │                                   │

Gangguan Pertukaran Gas       Kerja Otot Napas ↑ -> Penggunaan Energi ↑

   │                                   │

**Hipoksemia & Hiperkapnia**      **Dispnea & Intoleransi Aktivitas**

(PDPI, 2021; GOLD, 2024)

4. Manifestasi Klinis Penyakit Emfisema

Temuan Data Subjektif

Pasien umumnya mengeluhkan sesak napas progresif yang menetap dan memburuk secara signifikan saat melakukan aktivitas fisik ringan (ATS, 2022).

Selain itu, penderita juga mengeluh mudah lelah serta lemas akibat penurunan pasokan oksigen sistemik (Somantri, 2019).

Bahkan, muncul batuk kronis menahun yang kadang mengeluarkan sputum encer dalam jumlah sedikit (PDPI, 2021).

Secara bersamaan, dada juga sering sangat penuh, kaku, atau berat oleh penderita (Mayo Clinic, 2023).

Temuan Data Objektif

Pada pemeriksaan fisik, dada berbentuk tong (barrel chest) terlihat jelas akibat adanya hiperinflasi paru kronis (Sudoyo dkk., 2020).

Kemudian, pasien sering menunjukkan perilaku pursed-lip breathing (bibir mencucu) untuk memperpanjang fase ekspirasi (GOLD, 2024).

Lebih lanjut, tampak pula penggunaan otot bantu napas serta frekuensi napas takipnea yang melebihi batas normal (Kemenkes RI, 2022).

Akhirnya, terjadi penurunan berat badan ekstrem hingga kaheksia akibat pengeluaran energi yang masif (WHO, 2023).

5. Pemeriksaan Penunjang Penyakit Emfisema

Evaluasi Laboratorium

Analisa Gas Darah (AGD) menunjukkan tanda hipoksemia dan hiperkapnia pada stadium lanjut penyakit (PDPI, 2021).

Sementara itu, melakukan pemeriksaan kadar Alpha-1 Antitrypsin serum khusus bagi pasien usia muda untuk menapis kelainan genetik (ATS, 2022).

Selain itu, pemeriksaan darah lengkap kadang memperlihatkan polisitemia sekunder sebagai kompensasi tubuh terhadap hipoksia (Sudoyo dkk., 2020).

Evaluasi Radiologi

Foto rontgen dada memperlihatkan lapangan paru yang sangat hiperlusen, diafragma mendatar, serta jantung pendulum (PDPI, 2021).

Selanjutnya, High-Resolution Computed Tomography (HRCT) Scan bertindak sebagai

instrumen paling sensitif untuk mendeteksi lokasi destruksi parenkim (JRS, 2022).

Evaluasi Fungsi Paru

Pemeriksaan spiometri menegaskan adanya obstruksi aliran udara persisten melalui nilai rasio FEV1/FVC kurang dari 0,70 (GOLD, 2024).

Sebaliknya, uji kapasitas difusi (DLCO) memperlihatkan penurunan drastis akibat hancurnya membran alveolar-kapiler (ATS, 2022).

Terakhir, pulse oximetry mengonfirmasi penurunan saturasi oksigen secara konstan (BTS, 2021).

6. Penatalaksanaan Medis Penyakit Emfisema

Skema Terapi Farmakologis

Pemberian bronkodilator kerja panjang seperti LAMA atau LABA menjadi pilar utama untuk menjaga jalan napas tetap terbuka (GOLD, 2024).

Sementara itu, menambahkan obat kortikosteroid inhalasi apabila pasien mengalami eksaserbasi akut yang berulang (BTS, 2021).

Selanjutnya, pemberian inhibitor fosfodiesterase-4 guna menekan tingkat inflamasi kronis saluran napas (GOLD, 2024).

Pada akhirnya, pemberian antibiotik hanya mengarah apabila muncul tanda infeksi sekunder berupa sputum purulen (PDPI, 2021).

Skema Terapi Non-Farmakologis

Terapi oksigen jangka panjang selama minimal lima belas jam per hari terbukti mampu memperpanjang harapan hidup pasien (ATS, 2022).

Selain itu, sangat menyarangkan program rehabilitasi paru yang mencakup latihan fisik dan edukasi nutrisi (Kemenkes RI, 2022).

Tentu saja, edukasi berhenti merokok mutlak sebagai langkah awal penanganan (WHO, 2023).

Jika stadium sudah sangat berat, dapat mempertimbangkan tindakan operatif seperti Lung Volume Reduction Surgery (GOLD, 2024).

B. Konsep Asuhan Keperawatan Penyakit Emfisema

1. Pengkajian Keperawatan

Komponen Anamnesa Pasien

Pengkajian identitas pasien mencakup pencatatan nama, usia, jenis kelamin, serta riwayat pekerjaan yang rentan polusi (Somantri, 2019).

Selanjutnya, perawat mengeksplorasi riwayat kesehatan sekarang dengan fokus pada onset sesak napas dan faktor pemicunya (PPNI, 2017).

Selain itu, perlu untuk mencari tahu Riwayat kesehatan terdahulu, khususnya kalkulasi Indeks Brinkman untuk mengukur derajat keparahan kebiasaan merokok pasien.

Akhirnya, pemeriksaan riwayat kesehatan keluarga perlu demi mendeteksi kemungkinan defisiensi genetik (Somantri, 2019).

Pemeriksaan Fisik Respirasi

Inspeksi dada menunjukkan adanya bentuk barrel chest, retraksi interkostal, penggunaan otot bantu napas, dan pola napas takipnea.

Palpasi taktil fremitus memperlihatkan penurunan getaran secara simetris kedua lapangan paru akibat jebakan udara.

Perkusi menghasilkan bunyi hipersonor seluruh lapang paru serta batas pekak jantung yang mengecil.

Auskultasi menunjukkan suara napas vesikuler melemah, fase ekspirasi memanjang, serta adanya ronkhi atau wheezing (Somantri, 2019; PPNI, 2017).

Pemeriksaan Fisik Sistemik

Melakukan pemeriksaan Sistem kardiovaskular guna mengidentifikasi peningkatan JVP dan edema perifer sebagai tanda kor pulmonale.

Pada sistem pencernaan, tampak penurunan berat badan drastis dengan otot-otot yang mengalami atrofi.

Sistem integumen sering menunjukkan tanda sianosis perifer pada kuku dan akral dingin.

Sistem muskuloskeletal menunjukkan kelemahan otot umum yang membatasi pergerakan fisik pasien (Somantri, 2019; PPNI, 2017).

Pola Fungsi Kesehatan

  • Pola persepsi kesehatan menggambarkan ketidakmampuan pasien dalam mempertahankan gaya
  • hidup sehat bebas asap rokok.
  • Pola nutrisi-metabolik terganggu akibat dispnea masif yang menghambat proses menelan makanan.
  • Pola eliminasi berpotensi bermasalah karena pasien takut mengejan saat buang air besar.
  • Pola aktivitas, istirahat, dan tidur mengalami gangguan akibat sesak napas saat berbaring (PPNI, 2017).

2. Diagnosis Keperawatan Prioritas 1-5

Gangguan Pertukaran Gas (D.0003) Gangguan Pertukaran Gas berhubungan dengan ketidakseimbangan ventilasi-perfusi serta perubahan membran alveolus-kapiler (PPNI, 2017).

Pola Napas Tidak Efektif (D.0005) Pola Napas Tidak Efektif berhubungan dengan hambatan upaya napas akibat keletihan otot pernapasan dan deformitas dinding dada (PPNI, 2017).

Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001) Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif berhubungan dengan hipersekresi jalan napas dan disfungsi muko-siliaris (PPNI, 2017).

Intoleransi Aktivitas (D.0056) Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen ke jaringan tubuh (PPNI, 2017).

Defisit Nutrisi (D.0019) Defisit Nutrisi berhubungan dengan peningkatan beban kerja pernapasan dan ketidakmampuan mencerna makanan akibat dispnea (PPNI, 2017).

3. Diagnosis Keperawatan Prioritas 6-10

Gangguan Pola Tidur (D.0055) Gangguan Pola Tidur berhubungan dengan hambatan lingkungan dan sesak napas saat posisi telentang (PPNI, 2017).

Ansietas (D.0080) Ansietas berhubungan dengan ancaman terhadap status kesehatan akibat krisis situasional sesak napas kronis (PPNI, 2017).

Keletihan (D.0057) Keletihan berhubungan dengan kondisi fisiologis berupa hipoksia kronis dan peningkatan usaha napas (PPNI, 2017).

Koping Tidak Efektif (D.0096) Koping Tidak Efektif berhubungan dengan ketidakadekuatan strategi koping menghadapi penyakit kronis jangka panjang (PPNI, 2017).

Defisit Pengetahuan (D.0111) Defisit Pengetahuan tentang manajemen mandiri berhubungan dengan kurangnya terpapar informasi kesehatan (PPNI, 2017).

4. Intervensi Keperawatan 1-3

Rencana Gangguan Pertukaran Gas

  • Luaran Utama: Pertukaran Gas Meningkat (L.01003).
  • Kriteria Hasil: Tingkat kesadaran meningkat, dispnea menurun, bunyi napas tambahan menurun, PCO₂ membaik (35-45 mmHg), PO₂ membaik (80-100 mmHg), takikardia membaik.
  • Intervensi Utama: Pemantauan Respirasi (I.01014) & Terapi Oksigen (I.01026).
  • Tindakan Observasi: Monitor frekuensi, irama, kedalaman, upaya napas, dan nilai AGD.
  • Tindakan Terapeutik: Pertahankan kepatenan jalan napas, posisikan semi-Fowler atau Fowler, dan siapkan peralatan oksigen.
  • Tindakan Edukasi: Ajarkan teknik pernapasan yang efektif.
  • Tindakan Kolaborasi: Kolaborasi penentuan dosis oksigen dan pemberian bronkodilator (PPNI, 2018; PPNI, 2019).

Rencana Pola Napas Tidak Efektif

  • Luaran Utama: Pola Napas Membaik (L.01004).
  • Kriteria Hasil: Ventilasi semenit meningkat, kapasitas vital meningkat, dispnea menurun, penggunaan otot bantu napas menurun, frekuensi napas membaik (12-20 kali/menit).
  • Intervensi Utama: Manajemen Jalan Napas (I.01011).
  • Tindakan Observasi: Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas) dan monitor bunyi napas tambahan.
  • Tindakan Terapeutik: Posisikan Fowler untuk memaksimalkan ekspansi paru dan berikan oksigen jika perlu.
  • Tindakan Edukasi: Ajarkan teknik pernapasan bibir mencucu (pursed-lip breathing).
  • Tindakan Kolaborasi: Kolaborasi pemberian mukolitik atau ekspektoran jika diperlukan (PPNI, 2018; PPNI, 2019).

Rencana Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif

  • Luaran Utama: Bersihan Jalan Napas Meningkat (L.01001).
  • Kriteria Hasil: Batuk efektif meningkat, produksi sputum menurun, wheezing menurun, dispnea membaik, gelisah menurun.
  • Intervensi Utama: Latihan Batuk Efektif (I.01006).
  • Tindakan Observasi: Identifikasi kemampuan batuk dan monitor adanya retensi sputum.
  • Tindakan Terapeutik: Atur posisi semi-Fowler atau Fowler dan buang sekret pada tempat sputum.
  • Tindakan Edukasi: Jelaskan tujuan dan prosedur batuk efektif, instruksikan napas dalam perlahan, tahan 2 detik, lalu batukkan kuat 2 kali saat ekspirasi.
  • Tindakan Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat bronkodilator aerosol (PPNI, 2018; PPNI, 2019).

5. Intervensi Keperawatan 4-6

Rencana Intoleransi Aktivitas

  • Luaran Utama: Toleransi Aktivitas Meningkat (L.05047).
  • Kriteria Hasil: Frekuensi nadi membaik saat beraktivitas, saturasi oksigen tetap stabil, dispnea setelah aktivitas menurun, kemudahan melakukan ADL meningkat.
  • Intervensi Utama: Manajemen Energi (I.05178).
  • Tindakan Observasi: Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan dan monitor pola tidur.
  • Tindakan Terapeutik: Sediakan lingkungan nyaman, fasilitasi duduk di sisi tempat tidur, dan berikan aktivitas hiburan yang menenangkan.
  • Tindakan Edukasi: Anjurkan tirah baring dan anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap diselingi istirahat.
  • Tindakan Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan (PPNI, 2018; PPNI, 2019).

Rencana Defisit Nutrisi

  • Luaran Utama: Status Nutrisi Membaik (L.03030).
  • Kriteria Hasil: Porsi makanan dihabiskan meningkat, berat badan membaik, indeks massa tubuh (IMT) membaik, nafsu makan meningkat.
  • Intervensi Utama: Manajemen Nutrisi (I.03119).
  • Tindakan Observasi: Identifikasi status nutrisi, alergi makanan, dan monitor asupan makanan serta berat badan.
  • Tindakan Terapeutik: Lakukan kebersihan mulut sebelum makan dan sajikan makanan dalam porsi kecil tapi sering dengan kalori serta protein tinggi.
  • Tindakan Edukasi: Ajarkan posisi duduk tegak saat makan dan anjurkan menggunakan bronkodilator sebelum makan.
  • Tindakan Kolaborasi: Kolaborasi dengan dietisien untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrien (PPNI, 2018; PPNI, 2019).

Rencana Gangguan Pola Tidur

  • Luaran Utama: Pola Tidur Membaik (L.05045).
  • Kriteria Hasil: Keluhan sulit tidur menurun, keluhan istirahat tidak cukup menurun, pola tidur membaik.
  • Intervensi Utama: Dukungan Tidur (I.05174).
  • Tindakan Observasi: Identifikasi pola aktivitas dan tidur serta identifikasi faktor pengganggu tidur (sesak, batuk).
  • Tindakan Terapeutik: Modifikasi lingkungan (pencahayaan, suhu, kebisingan) dan fasilitasi posisi tidur yang nyaman (Fowler).
  • Tindakan Edukasi: Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit dan anjurkan membatasi minum sebelum tidur.
  • Tindakan Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat batuk atau sesak sebelum tidur jika diindikasikan (PPNI, 2018; PPNI, 2019).

6. Intervensi Keperawatan 7-10

Rencana Tindakan Ansietas

  • Luaran Utama: Tingkat Ansietas Menurun (L.09093).
  • Kriteria Hasil: Verbalisasi khawatir menurun, perilaku gelisah menurun, pucat menurun, tekanan darah membaik.
  • Intervensi Utama: Reduksi Ansietas (I.09314).
  • Tindakan Observasi: Monitor tanda-tanda ansietas fisik dan verbal.
  • Tindakan Terapeutik: Gunakan pendekatan tenang meyakinkan dan dampingi pasien untuk mengurangi kecemasan.
  • Tindakan Edukasi: Jelaskan prosedur tindakan medis dan latih teknik relaksasi.
  • Tindakan Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat antiansietas jika perlu (PPNI, 2018; PPNI, 2019).

Rencana Tindakan Keletihan

  • Luaran Utama: Tingkat Keletihan Menurun (L.05046).
  • Kriteria Hasil: Verbalisasi kepulihan energi meningkat, tenaga meningkat, lesu menurun.
  • Intervensi Utama: Manajemen Edukasi Aktivitas (I.12361).
  • Tindakan Observasi: Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi terkait penghematan energi.
  • Tindakan Terapeutik: Jadwalkan aktivitas sehari-hari dengan menyisipkan periode istirahat total.
  • Tindakan Edukasi: Ajarkan pasien memprioritaskan aktivitas yang mendesak dan cara menghemat energi (PPNI, 2018; PPNI, 2019).

Rencana Koping Tidak Efektif

  • Luaran Utama: Status Koping Membaik (L.09086).
  • Kriteria Hasil: Verbalisasi kemampuan menerima situasi meningkat, perilaku koping adaptif meningkat.
  • Intervensi Utama: Promosi Koping (I.09312).
  • Tindakan Observasi: Identifikasi pemahaman pasien terhadap proses penyakit emfisema.
  • Tindakan Terapeutik: Bantu pasien mengklarifikasi kesalahpahaman dan dukung keterlibatan keluarga secara konsisten.
  • Tindakan Edukasi: Anjurkan mengungkapkan perasaan secara verbal mengenai keterbatasan fisik (PPNI, 2018; PPNI, 2019).

Rencana Defisit Pengetahuan

  • Luaran Utama: Tingkat Pengetahuan Meningkat (L.12111).
  • Kriteria Hasil: Perilaku sesuai anjuran meningkat, kemampuan menjelaskan pengetahuan tentang penyakit meningkat.
  • Intervensi Utama: Edukasi Proses Penyakit (I.12444).
  • Tindakan Observasi: Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi kesehatan.
  • Tindakan Terapeutik: Sediakan materi edukasi tertulis dan jelaskan penyebab serta patofisiologi penyakit secara sederhana.
  • Tindakan Edukasi: Edukasi mengenai kepatuhan obat inhalasi, tanda eksaserbasi, dan pentingnya menghindari asap rokok (PPNI, 2018; PPNI, 2019).

7. Implementasi dan Evaluasi

Proses Pelaksanaan Tindakan

Implementasi keperawatan dilaksanakan secara terstruktur dengan menyesuaikan kondisi riil

serta tingkat toleransi fisik pasien.

Oleh karena itu, perawat mengaplikasikan seluruh intervensi observasi, terapeutik, edukasi, dan

kolaboratif yang tertera dalam SIKI.

Selanjutnya, setiap tindakan yang selesai dilakukan wajib segera dicatat secara rinci dalam

catatan keperawatan beserta respons pasien (Somantri, 2019; PPNI, 2019).

Proses Penilaian Hasil

Evaluasi keperawatan dijalankan berkala menggunakan metode SOAP yang diselaraskan 

dengan target kriteria hasil dalam SLKI.

Data subjektif berisi keluhan verbal pasien, sedangkan data objektif memuat hasil klinis terbaru

seperti frekuensi napas dan saturasi oksigen.

Akhirnya, perawat menganalisis perkembangan status pasien untuk memutuskan apakah

intervensi dilanjutkan, dimodifikasi, atau dihentikan (Somantri, 2019; PPNI, 2019).

Rumus Medis (Bisa Dicopy-Paste ke Word)

Berikut adalah beberapa rumus penting yang biasa diaplikasikan pada pasien untuk menilai

derajat keparahan penyakit dan status klinis:

1. Indeks Brinkman (Menilai Keparahan Riwayat Merokok)

Indeks Brinkman = Jumlah batang rokok yang diisap per hari x Lama merokok dalam

hitungan tahun

Kategori:

  • Ringan: 0 sampai 200
  • Sedang: 201 sampai 600
  • Berat: lebih dari 600

2. Rumus Menghitung Rasio FEV1/FVC (Diagnosis Obstruksi Spiometri)

Rasio FEV1/FVC = (Volume Ekspirasi Paksa dalam 1 Detik / Kapasitas Vital Paksa) x 100%

Kriteria Obstruksi: Jika nilai Rasio FEV1/FVC kurang dari 70% setelah pemberian

bronkodilator.

DAFTAR PUSTAKA

Buku

American Thoracic Society. (2022). Standards for the Diagnosis and Management of Patients with COPD. New York: ATS Peer Review.

Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease. (2024). Global Strategy for the Diagnosis, Management, and Prevention of Chronic Obstructive Pulmonary Disease. Fontana: GOLD.

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. (2021). PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik): Diagnosis dan Penatalaksanaan. Jakarta: UI Press.

PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

PPNI. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

PPNI. (2019). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

Somantri, I. (2019). Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika.

Sudoyo, A. W., dkk. (2020). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam (Edisi VI). Jakarta: InternaPublishing.

Jurnal

APSR. (2023). COPD Management in the Asia-Pacific. Respirology Journal, 28(4), 312-325. Link: journalonweb.com/respirology/article/view/2023-copd-asia

BTS. (2021). Home Oxygen Use. Thorax, 76(1), 1-24. Link: bmj.com/thorax/content/76/suppl_1/guidelines-oxygen

CTS. (2024). Protease balance in pulmonary emphysema. Chinese Medical Journal, 137(2), 145-156. Link: journals.lww.com/cmj/fulltext/2024/protease-emphysema

JRS. (2022). Management of Emphysema. Respiratory Investigation, 60(3), 401-415. Link: sciencedirect.com/journal/respiratory-investigation/vol60/iss3

Kemenkes RI. (2022). Manajemen PPOK di FKTP. Jurnal Kesehatan Komunitas, 18(2), 89-102. Link: kemkes.go.id/jurnal-kesehatan/view/manajemen-ppok-emfisema

KATRD. (2023). Alveolar Impairment in Emphysema. Tuberculosis and Respiratory Diseases, 86(1), 54-63. Link: e-trd.org/journal/view.php?doi=2023.trd.86.1.54


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *