Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan Laboratorium Jenis dan Sistem

Pemeriksaan laboratorium berdasarkan sistem tubuh adalah pengelompokan pemeriksaan diagnostik sesuai organ atau sistem tubuh tertentu untuk membantu menegakkan diagnosis, menentukan tingkat keparahan penyakit, memantau perkembangan kondisi pasien, dan mengevaluasi keberhasilan terapi.

Setiap sistem tubuh memiliki pemeriksaan laboratorium khas yang berfungsi menilai kerja organ, mendeteksi kelainan, maupun mengetahui adanya infeksi, inflamasi, gangguan metabolik, atau kerusakan jaringan.

Jenis Pemeriksaan Laboratorium

Beberapa jenis pemeriksaan Laboratorium yang sering dilakukan dalam proses penegakan diagnosa medis.

A. Sistem Kardiovaskular


Pemeriksaan
Fungsi / Indikasi
Menilai kerusakan otot jantung
Deteksi infark miokard
Menilai gagal jantung
Dugaan trombosis/emboli
Evaluasi pembekuan darah
Risiko penyakit jantung
Kolesterol baik
Kolesterol jahat
Risiko aterosklerosis
Gangguan irama jantung

B. Sistem Respirasi (Pernapasan)

Pemeriksaan
Fungsi / Indikasi
Menilai oksigenasi dan ventilasi
pH darah
Menilai asidosis/alkalosis
PaO2
Status oksigen
PaCO2
Status ventilasi
Saturasi O2
Kecukupan oksigen
Kultur sputum
Identifikasi bakteri paru
Pewarnaan BTA
Diagnosis tuberkulosis
CRP
Inflamasi paru
Prokalsitonin
Infeksi bakteri/sepsis
Leukosit
Infeksi saluran napas

C. Pemeriksaan Laboratorium Sistem Neurologi

Pemeriksaan
Fungsi / Indikasi
Gula darah
Faktor stroke/penurunan kesadaran
Elektrolit
Gangguan neurologis
Natrium
Kejang/edema serebri
Kalsium
Tetani/kejang
Magnesium
Fungsi neuromuskular
Analisa cairan serebrospinal (CSS)
Meningitis/ensefalitis
D-Dimer
Stroke trombotik
Profil lipid
Faktor risiko stroke
AGD
Hipoksia serebral

D. Sistem Gastrointestinal (Pencernaan)

Pemeriksaan
Fungsi / Indikasi
SGOT/AST
Fungsi hati
SGPT/ALT
Kerusakan hepatoseluler
Bilirubin total/direct
Ikterus
Albumin
Fungsi hati & nutrisi
Protein total
Status nutrisi
Amilase
Pankreatitis
Lipase
Gangguan pankreas
Feses rutin
Infeksi/parasit
Darah samar feses
Perdarahan saluran cerna
HBsAg
Hepatitis B
Anti-HCV
Hepatitis C

E. Sistem Perkemihan (Pemeriksaan Laboratorium)

Pemeriksaan
Fungsi / Indikasi
Ureum
Fungsi ginjal
Kreatinin
Laju filtrasi ginjal
eGFR
Menilai fungsi ginjal
Urinalisis
Evaluasi umum urin
Protein urin
Kerusakan ginjal
Mikroalbumin urin
Nefropati diabetik
Kultur urin
Infeksi saluran kemih
Elektrolit
Gangguan ginjal
Asam urat
Batu ginjal/gout

F. Sistem Endokrin dan Metabolik

Pemeriksaan
Fungsi / Indikasi
Gula Darah Sewaktu (GDS)
Diabetes
Gula Darah Puasa (GDP)
Diabetes
HbA1c
Kontrol glukosa jangka panjang
Insulin
Fungsi pankreas
TSH
Fungsi tiroid
T3 dan T4
Gangguan tiroid
Kortisol
Fungsi adrenal
Elektrolit
Gangguan metabolik
Keton darah/urin
Ketoasidosis

G. Sistem Hematologi

Pemeriksaan
Fungsi / Indikasi
Hemoglobin
Anemia
Hematokrit
Konsentrasi darah
Leukosit
Infeksi
Trombosit
Risiko perdarahan
Eritrosit
Jumlah sel darah merah
LED
Inflamasi
Retikulosit
Produksi eritrosit
Golongan darah
Transfusi
Ferritin
Cadangan zat besi
Serum iron
Status besi

H. Sistem Imunologi dan Infeksi

Pemeriksaan
Fungsi / Indikasi
CRP
Inflamasi
Prokalsitonin
Sepsis
HIV test
Infeksi HIV
Widal
Demam tifoid
Dengue NS1
Demam dengue
IgG / IgM dengue
Infeksi dengue
ANA test
Penyakit autoimun
Kultur darah
Bakteremia
PCR
Deteksi mikroorganisme

I. Sistem Muskuloskeletal

Pemeriksaan
Fungsi / Indikasi
Asam urat
Gout arthritis
Kalsium
Gangguan tulang
Fosfor
Metabolisme tulang
Vitamin D
Kesehatan tulang
Rheumatoid Factor (RF)
Rheumatoid arthritis
CPK / CK
Kerusakan otot
LED dan CRP
Inflamasi sendi

J. Sistem Reproduksi

Pemeriksaan
Fungsi / Indikasi
β-hCG
Kehamilan
Pap smear
Skrining kanker serviks
PSA
Gangguan prostat
Estrogen
Fungsi ovarium
Progesteron
Evaluasi reproduksi
Testosteron
Fungsi hormonal pria
Kultur vaginal
Infeksi genital

K. Sistem Integumen (Kulit)

Pemeriksaan
Fungsi / Indikasi
Kultur luka
Infeksi luka
Swab pus
Identifikasi bakteri
Gula darah
Luka diabetik
Albumin
Penyembuhan luka
Leukosit
Infeksi
CRP
Inflamasi

Pemeriksaan Laboratorium yang Umum pada Pasien ICU

Pemeriksaan
Tujuan
AGD
Monitoring respirasi
Elektrolit
Keseimbangan cairan
Laktat
Syok/sepsis
CBC
Infeksi/anemia
Kultur darah
Sepsis
Fungsi ginjal
Monitoring organ
Fungsi hati
Monitoring organ
Koagulasi
Risiko perdarahan

Pemeriksaan Laboratorium Berdasarkan Kondisi Klinis

Kondisi
Pemeriksaan Utama
Stroke
GDS, lipid, elektrolit
Sepsis
Kultur, CRP, prokalsitonin
Gagal ginjal
Ureum, kreatinin
Pneumonia
AGD, kultur sputum
DM
HbA1c, GDP, GDS
Gagal jantung
BNP, troponin
Hepatitis
SGOT, SGPT, bilirubin

Tokoh yang Mencetuskan Pemeriksaan Laboratorium dalam Kesehatan

Tidak ada satu orang tunggal yang secara resmi “mencetuskan” pemeriksaan laboratorium modern, karena perkembangan laboratorium kesehatan terjadi secara bertahap melalui kontribusi banyak ilmuwan.

Namun, beberapa tokoh paling berpengaruh dalam sejarah pemeriksaan laboratorium adalah:

1. Antonie van Leeuwenhoek

Dikenal sebagai pelopor mikroskopi pada abad ke-17. Ia pertama kali mengamati mikroorganisme menggunakan mikroskop sederhana, yang menjadi dasar pemeriksaan laboratorium mikrobiologi modern.


2. Louis Pasteur

Mengembangkan teori kuman penyakit (germ theory) dan membuka jalan pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi infeksi.


3. Robert Koch

Mengembangkan teknik kultur bakteri dan identifikasi mikroorganisme penyebab penyakit seperti tuberkulosis.


4. Rudolf Virchow

Dikenal sebagai bapak patologi modern yang menghubungkan perubahan sel dengan penyakit, sehingga memperkuat penggunaan laboratorium dalam diagnosis medis.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *