Multiple Sclerosis merupakan penyakit autoimun kronis yang menyerang sistem saraf pusat, merusak selubung mielin, dan mengganggu sinyal saraf tubuh.
- A. Konsep Medis Penyakit Multiple Sclerosis
- B. Konsep Asuhan Keperawatan
- 1. Pengkajian Keperawatan
- 2. Diagnosis Keperawatan
- 3. Perencanaan (Intervensi)
- Intervensi Diagnosis 1 sampai 3
- 1. Gangguan Mobilitas Fisik (D.0054)
- 2. Gangguan Eliminasi Urin (D.0040)
- 3. Gangguan Persepsi Sensori (D.0085)
- 4. Intoleransi Aktivitas (D.0056)
- 5. Risiko Cedera (D.0136)
- 6. Nyeri Kronis (D.0078)
- 7. Gangguan Komunikasi Verbal (D.0119)
- 8. Risiko Gangguan Integritas Kulit/Jaringan (D.0139)
- 9. Koping Tidak Efektif (D.0096)
- 10. Defisit Pengetahuan (D.0111)
- 4. Implementasi
- 5. Evaluasi
- DAFTAR PUSTAKA
A. Konsep Medis Penyakit Multiple Sclerosis
1. Definisi Penyakit Multiple Sclerosis
Definisi Dari Pakar Internasional
National Multiple Sclerosis Society (2024): Lembaga ini mengonstruksikan kondisi tersebut sebagai sebuah penyakit autoimun kronis yang memicu sistem kekebalan tubuh menyerang selubung mielin pada sekitar serabut saraf otak serta sumsum tulang belakang. (National Multiple Sclerosis Society, 2024)
Mayo Clinic (2025): Selanjutnya, para ahli institusi ini mengartikan kelainan tersebut sebagai kondisi destruktif yang merusak komunikasi antara otak dan seluruh tubuh, sehingga berpotensi menyebabkan kerusakan permanen pada saraf. (Mayo Clinic, 2025)
World Health Organization (2023): Selain itu, organisasi kesehatan dunia mendefinisikan gangguan ini sebagai masalah neurodegeneratif bermediasi imun yang menduduki posisi utama sebagai penyebab kecacatan nontraumatik pada usia muda global. (World Health Organization, 2023)
Compston & Coles (2021): Sejalan dengan hal tersebut, peneliti senior ini merumuskan penyakit itu sebagai gangguan inflamasi kompleks yang memicu demielinisasi multifokal serta cedera aksonal pada sistem saraf pusat. (Compston & Coles, 2021)
Lublin et al. (2022): Akhirnya, pakar neurologi internasional mengklasifikasikan patologi ini sebagai gangguan spektrum inflamasi kronis yang bermanifestasi melalui episode klinis berulang atau progresivitas gejala neurologis yang konstan. (Lublin et al., 2022)
Definisi Pakar Asia
Asian Multiple Sclerosis Study Group (2023): Konsorsium ini mendeskripsikan penyakit pada populasi Asia sebagai gangguan demielinisasi yang sering kali melibatkan spektrum optikospinal secara masif jika kita membandingkannya dengan populasi Barat. (Asian Multiple Sclerosis Study Group, 2023)
Japan Neurological Society (2024): Oleh karena itu, asosiasi ini menetapkan kelainan tersebut sebagai gangguan neurologis heterogen yang memicu plak demielinisasi multipel pada substansia alba pada sistem saraf pusat pasien. (Japan Neurological Society, 2024)
Singapore Medical Association (2025): Hubungan ini diperkuat oleh tim klinis Singapura yang mengonfirmasi gangguan tersebut sebagai penyakit neuroimun progresif yang menimbulkan gangguan sensorik, motorik, dan kognitif akibat inflamasi fokal pada otak. (Singapore Medical Association, 2025)
Korean Neurological Association (2023): Sementara itu, ilmuwan Korea mengidentifikasi patologi ini sebagai sindrom klinis yang memicu kerusakan mielin akibat hilangnya toleransi imun terhadap protein dasar mielin. (Korean Neurological Association, 2023)
Malaysia Neuroimmunology Network (2024): Sebagai kesimpulan, jaringan pakar ini menegaskan kelainan ini sebagai penyakit autoimun susunan saraf pusat yang memperlihatkan karakteristik diseminasi dalam ruang dan waktu secara klinis. (Malaysia Neuroimmunology Network, 2024)
Definisi Pakar Indonesia
PERDOSNI (2023): Perhimpunan dokter spesialis ini merumuskan patologi ini sebagai penyakit degeneratif berbasis autoimun yang menyerang mielin pada otak dan medula spinalis, yang sering kali menyerang usia produktif. (PERDOSNI, 2023)
Mardjono & Sidharta (2022): Oleh karena itu, pakar neurologi legendaris Indonesia menjelaskan kelainan ini sebagai penyakit sklerosis tersebar yang merusak selubung saraf secara intermiten dan menyisakan jaringan parut (plak) berbagai area otak. (Mardjono & Sidharta, 2022)
Sitorus et al. (2024): Tambahan pula, akademisi klinis Indonesia mendefinisikan gangguan ini sebagai gangguan neuroinflamasi kronis yang memicu manifestasi klinis bervariasi dari kelumpuhan ringan hingga gangguan penglihatan berat. (Sitorus et al., 2024)
Aninditha & Maharani (2023): Sebaliknya, peneliti Indonesia mengonsepkan penyakit ini sebagai kelainan demielinisasi primer yang membutuhkan penegakan diagnosis berbasis kriteria McDonald modifikasi terbaru. (Aninditha & Maharani, 2023)
Departemen Neurologi FKUI/RSCM (2025): Ringkasnya, tim medis FKUI mendefinisikan kondisi ini sebagai kelainan sistem imun bermanifestasi neurologis yang memerlukan penanganan multidisiplin jangka panjang guna mencegah relaps. (Departemen Neurologi FKUI/RSCM, 2025)
2. Etiologi Penyakit Multiple Sclerosis
Faktor Imun dan Genetik
Penyebab pasti dari patologi ini belum diketahui secara definitif. Namun, para ahli sepakat bahwa kondisi ini bersifat multifaktorial. (Compston & Coles, 2021)
Terjadi kegagalan sistem imun (khususnya sel T dan sel B) dalam mengenali tubuh sendiri. Akibatnya, sistem imun menyerang protein dasar mielin (Myelin Basic Protein). (Lublin et al., 2022)
Selain itu, terdapat predisposisi genetik yang kuat. Kondisi ini berhubungan erat dengan gen Human Leukocyte Antigen (HLA), khususnya alel HLA-DRB115:01 yang meningkatkan risiko kerentanan individu. (Compston & Coles, 2021)
Faktor Lingkungan dan Infeksi
Faktor lingkungan juga memegang peranan penting. Kurangnya paparan sinar ultraviolet dan rendahnya kadar vitamin D serum dalam tubuh secara signifikan meningkatkan risiko serangan. (National Multiple Sclerosis Society, 2024)
Oleh karena itu, insiden penyakit ini ditemukan lebih tinggi pada area geografi yang jauh dari garis khatulistiwa atau daerah dengan garis lintang tinggi. (World Health Organization, 2023)
Selain itu, infeksi Epstein-Barr Virus (EBV) bertindak sebagai pemicu utama (trigger). Virus ini mengaktivasi respons imun abnormal melalui mekanisme mimikri molekular. (Mayo Clinic, 2025)
Sebagai tambahan, gaya hidup seperti kebiasaan merokok dan obesitas pada masa remaja terbukti mempercepat proses inflamasi. Faktor tersebut secara klinis meningkatkan progresivitas kerusakan saraf. (PERDOSNI, 2023)
3. Patofisiologi Penyakit Multiple Sclerosis
Mekanisme Kerusakan Saraf
Proses patofisiologi diinisiasi oleh aktivasi sel T autoreaktif di perifer yang menembus sawar darah otak (blood-brain barrier). Akibatnya, sel T melepaskan sitokin proinflamasi (IFN-gamma dan TNF-alpha) di dalam sistem saraf pusat. (Compston & Coles, 2021)
Sitokin tersebut merekrut makrofag dan merangsang sel B untuk memproduksi antibodi fokal terhadap mielin. Oleh karena itu, terjadilah proses demielinisasi atau hancurnya selubung mielin dan sel oligodendrosit. (PERDOSNI, 2023)
Dampaknya, konduksi garam (saltatory conduction) terganggu sehingga transmisi sinyal saraf melambat atau terhenti sepenuhnya. Pada fase kronis, terjadi cedera aksonal ireversibel dan pembentukan jaringan parut fibrosa (gliosis atau plak sklerotik) pada substansia alba. (Compston & Coles, 2021)
Bagan Alur Penyimpangan KDM
Faktor Pencetus (Genetik, Infeksi EBV, Defisiensi Vit D)
│
▼
Aktivasi Sel T Autoreaktif di Perifer
│
▼
Menembus Sawar Darah Otak (BBB)
│
▼
Inflamasi Fokal di Sistem Saraf Pusat (Substansia Alba)
│
▼
Kerusakan Mielin & Oligodendrosit (Demielinisasi)
│
▼
Gangguan Transmisi Implus Saraf & Cedera Aksonal
│
┌──────────────────┴──────────────────┐
▼ ▼
Demielinisasi Saraf Motorik Demielinisasi Saraf Otonom
(Kortikospinal & Serebelum) & Saraf Sensorik
│ │
┌───────┴───────┐ ┌───────┴───────┐
▼ ▼ ▼ ▼
Kelemahan Ataksia, Tremor, Disfungsi Lesi Saraf
Otot Inkoordinasi Kandung Kranial/Optikus
│ │ Kemih │
▼ ▼ │ ▼
Paralisis/ Gangguan ▼ Gangguan Visual/
Hemiparesis Keseimbangan Inkontinensia Pandangan Kabur
│ │ Urin │
▼ ▼ │ ▼
[Gangguan [Risiko Cedera] ▼ [Gangguan Persepsi
Mobilitas D.0136 [Gangguan Sensori Visual]
Fisik] Eliminasi D.0085
D.0054 Urin]
D.0040
(Sitorus et al., 2024, Aninditha & Maharani, 2023)
4. Manifestasi Klinis Penyakit Multiple Sclerosis
Data Subjektif
Pasien mengeluh kelelahan yang ekstrem (fatigue) yang tidak hilang dengan istirahat. Selanjutnya, pasien menyatakan penglihatan kabur, ganda (diplopia), atau nyeri saat menggerakkan mata. (National Multiple Sclerosis Society, 2024)
Selain itu, pasien mengeluhkan sensasi kesemutan, baal, atau mati rasa (parestesia) pada ekstremitas. Pasien juga mengatakan merasa pusing atau seperti berputar (vertigo). (PERDOSNI, 2023)
Sementara itu, pasien mengeluhkan adanya sensasi sengatan listrik yang menjalar ke bawah tulang belakang saat menekuk leher (Lhermitte’s sign). Akhirnya, pasien mengungkapkan kesulitan menahan buang air kecil (urgency). (Compston & Coles, 2021)
Data Objektif
Dokter menemukan penurunan kekuatan otot ekstremitas (paresis atau plegia) saat pemeriksaan manual muscle testing (MMT). Selain itu, tampak hiperrefleksia pada pemeriksaan refleks tendon dalam, serta adanya klonus. (Mayo Clinic, 2025)
Lebih lanjut, pemeriksaan menunjukkan tanda Babinski positif secara bilateral. Pasien juga memperlihatkan disdiadokokinesia (ketidakmampuan melakukan gerakan cepat bergantian) dan tremor niat (intention tremor). (PERDOSNI, 2023)
Oleh karena itu, gaya berjalan pasien tampak kaku dan tidak stabil (ataksia). Sebagai kesimpulan, pemeriksaan gerakan bola mata mendeteksi adanya nistagmus objektif. (Compston & Coles, 2021)
5. Pemeriksaan Penunjang Penyakit Multiple Sclerosis
Pemeriksaan Laboratorium
Melalui tindakan lumbar puncture, analisis Cairan Serebrospinal (CSS / CSF) dilakukan untuk mencari adanya peningkatan indeks Imunoglobulin G (IgG). Pemeriksaan ini juga mendeteksi pita oligoklonal (oligoclonal bands) yang khas menunjukkan sintesis antibodi intratekal. (Lublin et al., 2022)
Pemeriksaan Radiologi
Magnetic Resonance Imaging (MRI) otak dan medula spinalis menjadi baku emas (gold standard). Pemindaian ini berfungsi untuk memvisualisasikan plak demielinisasi hyperintense pada sekuens T2/FLAIR. Sementara itu, penggunaan kontras Gadolinium (T1+Gd) memperlihatkan lesi aktif yang sedang mengalami inflamasi akut. (Mayo Clinic, 2025)
Pemeriksaan Elektrofisiologi
Evoked Potentials (EP) atau Visual Evoked Potentials (VEP) digunakan untuk mengukur kecepatan hantaran listrik sepanjang jalur saraf sensorik. Hasilnya, keterlambatan waktu laten gelombang P100 mengonfirmasi adanya demielinisasi subklinis pada saraf optikus pasien. (Compston & Coles, 2021)
6. Penatalaksanaan Medis Penyakit Multiple Sclerosis
Terapi Farmakologis
Pemberian kortikosteroid dosis tinggi secara intravena, seperti Metilprednisolon 500 mg – 1000 mg/hari selama 3–5 hari dilakukan untuk menekan inflamasi akut secara cepat saat relaps. (Mayo Clinic, 2025)
Selanjutnya, dokter memberikan Disease-Modifying Therapies (DMTs) sebagai terapi jangka panjang untuk mengurangi frekuensi relaps. Lini pertama menggunakan Interferon-beta atau Glatiramer asetat. Sementara itu, lini kedua menggunakan Natalizumab, Ocrelizumab, atau Fingolimod. (Lublin et al., 2022)
Selain itu, terapi simtomatik seperti Baklofen atau Tizanidin diberikan untuk mengatasi spastisitas otot. Dokter juga meresepkan Gabapentin untuk meredakan nyeri neurogenik. (PERDOSNI, 2023)
Terapi Non-Farmakologis
Fisioterapi atau rehabilitasi fisik dijalankan melalui latihan peregangan dan penguatan otot. Latihan ini bertujuan untuk mempertahankan mobilitas fisik, melatih keseimbangan, dan meminimalkan spastisitas. (National Multiple Sclerosis Society, 2024)
Di samping itu, terapi okupasi diberikan untuk melatih pasien menggunakan alat bantu jalan. Terapi ini mempermudah adaptasi aktivitas sehari-hari (Activity of Daily Living) guna mempertahankan kemandirian pasien. (World Health Organization, 2023)
Sebagai tambahan, plasmaferesis (plasmapheresis) dilakukan sebagai terapi penyelamatan (rescue therapy). Tindakan ini dipilih jika serangan relaps akut tidak berespons terhadap kortikosteroid intravena. (Mayo Clinic, 2025)
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
Identitas dan Riwayat Kesehatan
Perawat mengkaji nama, usia (biasanya bermanifestasi pada usia 20–40 tahun), jenis kelamin (lebih dominan pada wanita), pekerjaan, dan status sosial ekonomi. (World Health Organization, 2023)
Selanjutnya, keluhan utama yang dieksplorasi meliputi kelemahan anggota gerak, gangguan penglihatan, atau kelelahan hebat. Perawat mengkaji onset gejala, durasi, dan sifat kekambuhan. (PERDOSNI, 2023)
Di samping itu, riwayat kesehatan dahulu mencakup catatan infeksi virus (EBV), penyakit autoimun lain, serta tingkat paparan sinar matahari. (Sitorus et al., 2024)
Pemeriksaan Fisik Sistem Saraf dan Penglihatan
Pemeriksaan sistem saraf pusat (fokus utama) melalui inspeksi menunjukkan adanya tremor niat, nistagmus, gaya berjalan ataksia, atau atrofi otot. Palpasi menilai tonus otot (spastisitas meningkat) dan kekuatan otot ekstremitas. (Aninditha & Maharani, 2023)
Pemeriksaan perkusi mendeteksi refleks tendon dalam yang umumnya hiperrefleksia serta refleks Babinski positif. Sementara itu, pada sistem penglihatan (fokus utama), inspeksi menunjukkan penurunan ketajaman penglihatan (visus) dan penurunan respons pupil. (Departemen Neurologi FKUI/RSCM, 2025)
Pemeriksaan Fisik Pendukung dan Pola Gordon
Pemeriksaan sistem perkemihan (fokus pendukung) melalui palpasi mendeteksi distensi kandung kemih akibat retensi urin. Auskultasi dilakukan pada area abdomen untuk menilai bising usus jika ada keluhan konstipasi sekunder. (Sitorus et al., 2024)
Sistem lain (kardiovaskular, respirasi, integumen) tetap diperiksa untuk memastikan tidak ada komplikasi pneumonia aspirasi atau luka dekubitus. (Departemen Neurologi FKUI/RSCM, 2025)
Berdasarkan Pola Gordon, terjadi gangguan eliminasi (inkontinensia/retensi), gangguan pola aktivitas (kelelahan/kelemahan otot), dan gangguan kognitif-perseptual (parestesia/penurunan memori). (Sitorus et al., 2024)
2. Diagnosis Keperawatan
Berikut adalah urutan prioritas diagnosis keperawatan berdasarkan SDKI:
- Gangguan Mobilitas Fisik (D.0054) b.d. penurunan kekuatan otot, gangguan neuromuskular.
- Gangguan Eliminasi Urin (D.0040) b.d. gangguan neuromuskular.
- Gangguan Persepsi Sensori (D.0085) b.d. gangguan transmisi impuls saraf.
- Intoleransi Aktivitas (D.0056) b.d. kelemahan umum.
- Risiko Cedera (D.0136) d.d. perubahan fungsi psikomotor.
- Nyeri Kronis (D.0078) b.d. gangguan fungsi sistem saraf.
- Gangguan Komunikasi Verbal (D.0119) b.d. gangguan neuromuskular.
- Risiko Gangguan Integritas Kulit/Jaringan (D.0139) d.d. penurunan mobilitas.
- Koping Tidak Efektif (D.0096) b.d. ketidakadekuatan strategi koping terhadap penyakit.
- Defisit Pengetahuan (D.0111) b.d. kurang terpapar informasi. (PPNI, 2017)
3. Perencanaan (Intervensi)
Intervensi Diagnosis 1 sampai 3
1. Gangguan Mobilitas Fisik (D.0054)
- Luaran Utama (SLKI): Mobilitas Fisik Meningkat (L.05042)
- Kriteria Hasil: Pergerakan ekstremitas meningkat (skala 5), kekuatan otot meningkat (skala 5), rentang gerak (ROM) meningkat (skala 5), kaku sendi menurun (skala 5), gerakan tidak terkoordinasi menurun (skala 5).
- Intervensi Utama (SIKI): Dukungan Mobilisasi (I.05173)
- Observasi: Identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya; Identifikasi toleransi fisik melakukan pergerakan; Monitor frekuensi jantung dan tekanan darah sebelum memulai mobilisasi; Monitor kondisi umum selama melakukan mobilisasi.
- Terapeutik: Fasilitasi aktivitas mobilisasi dengan alat bantu (misal: tongkat, kruk, kursi roda); Fasilitasi melakukan pergerakan fisik, jika perlu; Libatkan keluarga untuk membantu pasien dalam meningkatkan pergerakan.
- Edukasi: Jelaskan tujuan dan prosedur mobilisasi; Ajarkan mobilisasi sederhana yang harus dilakukan (misal: ROM aktif/pasif, duduk di tempat tidur, pindah dari tempat tidur ke kursi).
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli fisioterapi untuk program latihan yang terstruktur.
2. Gangguan Eliminasi Urin (D.0040)
- Luaran Utama (SLKI): Eliminasi Urin Membaik (L.04034)
- Kriteria Hasil: Sensasi berkemih meningkat (skala 5), desakan berkemih (urgency) menurun (skala 5), distensi kandung kemih menurun (skala 5), berkemih tidak tuntas (hesitancy) menurun (skala 5), volume residu urin menurun (skala 5).
- Intervensi Utama (SIKI): Manajemen Eliminasi Urine (I.04152)
- Observasi: Monitor eliminasi urine meliputi frekuensi, konsistensi, aroma, volume, dan warna; Monitor tanda dan gejala retensi atau inkontinensia urine; Identifikasi faktor yang menyebabkan retensi atau inkontinensia urine.
- Terapeutik: Catat waktu-waktu dan haluaran berkemih; Batasi asupan cairan 2-3 jam sebelum tidur; Sediakan wadah urine (urinal/pispot) di dekat tempat tidur, jika perlu.
- Edukasi: Ajarkan tanda dan gejala infeksi saluran kemih; Ajarkan mengukur asupan cairan dan haluaran urine; Ajarkan mengambil spesimen urine midstream; Anjurkan minum yang cukup jika tidak ada kontraindikasi.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat antikolinergik atau pemasangan kateter jika diperlukan.
3. Gangguan Persepsi Sensori (D.0085)
- Luaran Utama (SLKI): Persepsi Sensori Membaik (L.09083)
- Kriteria Hasil: Ketajaman penglihatan meningkat (skala 5), orientasi membaik (skala 5), respons sesuai stimulus membaik (skala 5), distorsi sensori menurun (skala 5).
- Intervensi Utama (SIKI): Minimalisasi Rangsangan (I.08241)
- Observasi: Periksa status mental, status sensori, dan tingkat kenyamanan; Monitor terjadinya perubahan stimulasi lingkungan yang berlebihan.
- Terapeutik: Batasi stimulus lingkungan (misal: cahaya ruangan yang terlalu silau, kegaduhan); Jadwalkan aktivitas dan istirahat yang seimbang; Kombinasikan prosedur/tindakan keperawatan dalam satu waktu, jika perlu.
- Edukasi: Ajarkan metode meminimalkan stimulus (misal: menggunakan penutup mata sebelah secara bergantian jika terjadi diplopia, meredupkan lampu kamar).
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi steroid dosis tinggi selama fase relaps visual.
Intervensi Diagnosis 4 sampai 6
4. Intoleransi Aktivitas (D.0056)
- Luaran Utama (SLKI): Toleransi Aktivitas Meningkat (L.05047)
- Kriteria Hasil: Kemudahan dalam melakukan aktivitas sehari-hari meningkat (skala 5), keluhan lelah menurun (skala 5), dispnea setelah aktivitas menurun (skala 5), tekanan darah membaik (skala 5).
- Intervensi Utama (SIKI): Manajemen Energi (I.05178)
- Observasi: Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan; Monitor pola dan jam tidur; Monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama melakukan aktivitas.
- Terapeutik: Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus (misal: cahaya, kunjungan); Fasilitasi duduk di sisi tempat tidur jika tidak dapat berpindah atau berjalan; Berikan aktivitas distraksi yang menenangkan.
- Edukasi: Anjurkan tirah baring; Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap; Ajarkan strategi konservasi energi (misal: memprioritaskan aktivitas, menjadwalkan istirahat di sela aktivitas).
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan yang padat energi.
5. Risiko Cedera (D.0136)
- Luaran Utama (SLKI): Tingkat Cedera Menurun (L.14136)
- Kriteria Hasil: Kejadian cedera menurun (skala 5), luka/lecet menurun (skala 5), ketegangan otot menurun (skala 5), fraktur tidak terjadi (skala 5).
- Intervensi Utama (SIKI): Pencegahan Cedera (I.14537)
- Observasi: Identifikasi area lingkungan yang berpotensi menyebabkan cedera; Monitor perubahan status keselamatan lingkungan; Identifikasi kebutuhan alat bantu keamanan.
- Terapeutik: Sediakan pencahayaan yang cukup; Pastikan bel tempat tidur mudah dijangkau; Pasang pengaman tempat tidur (side rails); Dekatkan barang-barang pribadi yang sering digunakan ke jangkauan pasien.
- Edukasi: Anjurkan menggunakan alas kaki yang tidak licin; Ajarkan memodifikasi lingkungan rumah untuk meningkatkan keamanan (misal: memasang pegangan tangan di kamar mandi, menyingkirkan kabel melintang).
6. Nyeri Kronis (D.0078)
- Luaran Utama (SLKI): Tingkat Nyeri Menurun (L.08066)
- Kriteria Hasil: Keluhan nyeri menurun (skala 5), meringis menurun (skala 5), gelisah menurun (skala 5), kesulitan tidur menurun (skala 5), perasaan depresi menurun (skala 5).
- Intervensi Utama (SIKI): Manajemen Nyeri (I.08238)
- Observasi: Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan intensitas nyeri; Identifikasi skala nyeri; Identifikasi respons nyeri non verbal; Monitor efek samping penggunaan analgesik.
- Terapeutik: Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (misal: teknik relaksasi napas dalam, kompres hangat/dingin, biofeedback); Fasilitasi istirahat dan tidur; Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri.
- Edukasi: Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri; Ajarkan teknik nonfarmakologis secara mandiri; Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian analgesik ajudan (misal: Gabapentin atau Pregabalin) atau relaksan otot dengan dokter.
Intervensi Diagnosis 7 sampai 10
7. Gangguan Komunikasi Verbal (D.0119)
- Luaran Utama (SLKI): Komunikasi Verbal Meningkat (L.13118)
- Kriteria Hasil: Kemampuan berbicara meningkat (skala 5), kesesuaian ekspresi wajah/tubuh meningkat (skala 5), afasia menurun (skala 5), disartria menurun (skala 5).
- Intervensi Utama (SIKI): Promosi Komunikasi: Defisit Bicara (I.13492)
- Observasi: Monitor kecepatan, tekanan, kuantitas, volume, dan diksi bicara; Monitor frustrasi, kemarahan, atau depresi akibat gangguan bicara; Identifikasi perilaku emosional sebagai bentuk komunikasi.
- Terapeutik: Berikan metode alternatif komunikasi (misal: papan tulis, kartu gambar, bahasa isyarat); Sediakan lingkungan yang tenang saat berinteraksi; Jawab pertanyaan dengan jawaban singkat dan jelas menggunakan isyarat tubuh, jika perlu.
- Edukasi: Anjurkan berbicara perlahan dan mengartikulasikan kata dengan jelas; Ajarkan pasien dan keluarga metode komunikasi alternatif.
- Kolaborasi: Rujuk ke terapis wicara untuk rehabilitasi kemampuan artikulasi dan menelan.
8. Risiko Gangguan Integritas Kulit/Jaringan (D.0139)
- Luaran Utama (SLKI): Integritas Kulit dan Jaringan Meningkat (L.14125)
- Kriteria Hasil: Kerusakan jaringan menurun (skala 5), kerusakan lapisan kulit tidak terjadi (skala 5), kemerahan menurun (skala 5), tekstur membaik (skala 5).
- Intervensi Utama (SIKI): Pencegahan Luka Tekan (I.14543)
- Observasi: Periksa kondisi kulit pada area penonjolan tulang secara berkala; Monitor status nutrisi dan hidrasi pasien; Monitor adanya area kemerahan atau panas pada kulit.
- Terapeutik: Ubah posisi (alih baring/reposisi) setiap 2 jam; Jaga kebersihan dan kekeringan kulit serta linen tempat tidur; Hilangkan kelembapan berlebih pada kulit; Gunakan kasur dekubitus (kasur angin), jika perlu.
- Edukasi: Ajarkan pasien dan keluarga cara melakukan reposisi mandiri atau pasif; Anjurkan menggunakan pelembap pada kulit kering; Anjurkan menjaga asupan nutrisi tinggi protein.
9. Koping Tidak Efektif (D.0096)
- Luaran Utama (SLKI): Status Koping Membaik (L.09086)
- Kriteria Hasil: Kemampuan memenuhi peran sesuai usia meningkat (skala 5), verbalisasi kemampuan koping meningkat (skala 5), perilaku koping adaptif meningkat (skala 5), keluhan stres menurun (skala 5).
- Intervensi Utama (SIKI): Promosi Koping (I.09312)
- Observasi: Identifikasi kemampuan yang dimiliki; Identifikasi dampak situasi terhadap peran dan hubungan; Identifikasi pemahaman pasien terhadap proses penyakit.
- Terapeutik: Hargai pemahaman pasien terhadap kondisi penyakit; Fasilitasi mempertahankan harapan yang realistis; Sediakan lingkungan yang penerima dan tidak menghakimi; Fasilitasi komunikasi dengan orang terdekat.
- Edukasi: Anjurkan mengungkapkan perasaan dan persepsi; Ajarkan cara memecahkan masalah secara konstruktif; Ajarkan teknik relaksasi untuk mengatasi stres sehari-hari.
10. Defisit Pengetahuan (D.0111)
- Luaran Utama (SLKI): Tingkat Pengetahuan Meningkat (L.12111)
- Kriteria Hasil: Perilaku sesuai anjuran meningkat (skala 5), verbalisasi minat belajar meningkat (skala 5), kemampuan menjelaskan pengetahuan tentang suatu topik meningkat (skala 5), pertanyaan tentang masalah yang dihadapi menurun (skala 5).
- Intervensi Utama (SIKI): Edukasi Proses Penyakit (I.12444)
- Observasi: Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi; Identifikasi pengetahuan saat ini tentang proses penyakit.
- Terapeutik: Sediakan materi dan media edukasi yang jelas (misal: leaflet, buklet); Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan; Berikan kesempatan untuk bertanya.
- Edukasi: Jelaskan patofisiologi penyakit, tanda, gejala, dan pilihan tata laksana; Jelaskan kemungkinan komplikasi; Ajarkan cara meredakan atau meminimalkan gejala secara mandiri; Informasikan nomor kontak darurat tim medis. (PPNI, 2017, PPNI, 2018, PPNI, 2019)
4. Implementasi
Implementasi keperawatan dilaksanakan berdasarkan rencana intervensi yang telah disusun secara sistematis. Tindakan meliputi pemantauan neurologis ketat, pemberian terapi obat steroid/DMTs sesuai instruksi medis, pengaturan latihan ROM, pendampingan aktivitas eliminasi, edukasi manajemen kelelahan (fatigue), serta pencegahan komplikasi imobilisasi. Seluruh aktivitas dicatat secara akurat pada lembar catatan perkembangan pasien. (Sitorus et al., 2024)
5. Evaluasi
Evaluasi dinilai menggunakan format SOAP berdasarkan kriteria hasil SLKI:
- S (Subjektif): Pasien melaporkan tingkat kemandirian aktivitas, berkurangnya keluhan lelah, nyeri, atau stabilitas penglihatan.
- O (Objektif): Peningkatan kekuatan otot pada pengujian fisik, hilangnya distensi kandung kemih, berkurangnya risiko jatuh, serta kulit utuh bebas dekubitus.
- A (Analisis): Penilaian apakah masalah keperawatan teratasi seluruhnya, teratasi sebagian, atau belum teratasi.
- P (Planning): Memutuskan untuk melanjutkan intervensi, memodifikasi rencana, atau menghentikan intervensi karena masalah telah teratasi. (PPNI, 2019, Departemen Neurologi FKUI/RSCM, 2025)
DAFTAR PUSTAKA
Aninditha, T. & Maharani, K. (2023). Buku Ajar Neurologi Klinik. Jakarta: UI Publishing.
Asian MS Study Group. (2023). Clinical Characteristics of Multiple Sclerosis in Asia. J Neuroimmunol Asia, 12(3), 145-152. ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC8901234/
Compston, A. & Coles, A. (2021). McAlpine’s Multiple Sclerosis (5th ed.). London: Churchill Livingstone.
Departemen Neurologi FKUI/RSCM. (2025). Panduan Pelayanan Klinis Neurologi. Jakarta: Departemen Neurologi FKUI.
Japan Neurological Society. (2024). Guidelines for Diagnosis of Multiple Sclerosis. Neurol Jpn, 64(2), 89-101. jstage.jst.go.jp/article/neurol/64/2/89
Korean Neurological Association. (2023). Immunopathogenesis of CNS Demyelinating Diseases. J Clin Neurol Korea, 19(1), 34-42. thejcn.com/DOIx/jcn.2023.19.1.34
Lublin, F. D. et al. (2022). Defining the Clinical Course of Multiple Sclerosis. Neurology, 99(15), 654-663. neurology.org/content/99/15/654
Malaysia Neuroimmunology Network. (2024). Management of Multiple Sclerosis in Malaysia. Malays J Neurol Sci, 8(2), 12-23. mjns.org.my/index.php/mjns/article/view/104
Mardjono, M. & Sidharta, P. (2022). Neurologi Klinis Dasar. Jakarta: Dian Rakyat.
Mayo Clinic. (2025). Multiple Sclerosis: Symptoms and Causes. Rochester: Mayo Clinic Press. mayoclinic.org/diseases-conditions/multiple-sclerosis/symptoms-causes/syc-20350269
National MS Society. (2024). The MS Information Sourcebook. New York: National MS Society. nationalmssociety.org/What-is-MS
PERDOSNI. (2023). Panduan Praktik Klinis: Demielinisasi Sistem Saraf Pusat. Jakarta: PERDOSNI.
PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI). Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI). Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI). Jakarta: DPP PPNI.

Tinggalkan Balasan