KONSEP MEDIS TUBERKULOSIS PUTUS OBAT

Tuberkulosis putus obat merupakan status kelalaian pengobatan penderita infeksi mikobakterium selama minimal dua bulan berturut-turut yang memicu resistensi.

A. Tinjauan Teoretis Tuberkulosis putus obat

1. Definisi Agen Infeksius Tuberkulosis putus obat

Definisi Dari Pakar Internasional

World Health Organization (WHO) mengartikan status klinis ini sebagai kondisi yang mana seorang pasien tuberkulosis telah memulai pengobatan anti-tuberkulosis tetapi kemudian menghentikannya selama dua bulan atau lebih secara berturut-turut. (WHO, 2024)

Selanjutnya, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menjelaskan bahwa fenomena klinis tersebut merepresentasikan interopsi terapeutik yang tidak terencana sehingga meningkatkan risiko kegagalan konversi biologi sputum secara eksponensial. (CDC, 2023)

Sementara itu, International Union Against Tuberculosis and Lung Disease (The Union) mendefinisikan kelalaian minum obat ini sebagai kegagalan retensi pasien dalam sistem layanan kesehatan yang berpotensi memicu mutasi genetik pada bakteri patogen. (The Union, 2022)

Oleh karena itu, Dr. Mario Raviglione selaku pakar global menegaskan bahwa penghentian dini regimen terapeutik ini memicu seleksi alamiah galur mutan Mycobacterium tuberculosis yang kebal terhadap agen lini pertama. (Raviglione, 2021)

Sementara itu, European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC) mengategorikan status mangkir ini sebagai kegagalan kepatuhan yang menurunkan angka kesembuhan epidemiologis global secara signifikan. (ECDC, 2023)

Definisi Pakar Asia

Asian Pacific Society of Respirology (APSR) memaparkan bahwa status ketidakpatuhan kronis ini merupakan refleksi dari rendahnya sistem dukungan pengawas menelan obat pada populasi sosio-ekonomi menengah ke bawah pada kawasan Asia. (APSR, 2023)

Selaras dengan hal tersebut, South-East Asia Regional Office (SEARO) mengartikan kondisi ini sebagai bentuk interopsi pengobatan yang memperluas reservoir penularan kasus resistan obat pada komunitas masyarakat. (SEARO, 2024)

Kemudian, Dr. Jae-Joon Yim dari Seoul National University menyatakan bahwa status mangkir berobat mencerminkan ketidaknyamanan pasien terhadap efek samping toksisitas obat yang melampaui pemahaman mereka akan bahaya relaps. (Yim, 2022)

Meskipun demikian, Chinese Thoracic Society (CTS) menyebutkan bahwa kondisi putus berobat ini merupakan sebuah kegagalan manajemen desentralisasi perawatan yang memicu tingginya angka rawat inap ulang pada fasilitas rujukan utama. (CTS, 2023)

Dengan demikian, Indian Chest Society (ICS) merumuskan keadaan mangkir obat ini sebagai durasi kelalaian terapeutik yang menyebabkan populasi kuman dari dalam kavitas paru kembali bereplikasi secara agresif. (ICS, 2024)

Definisi Pakar Indonesia

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) merumuskan kondisi ini sebagai pasien yang telah berobat tuberkulosis minimal satu bulan dan kemudian menghentikan pengobatan selama dua bulan atau lebih berturut-turut, yang sebelumnya disebut sebagai loss to follow-up. (PDPI, 2024)

Berdasarkan Departemen Pulmonologi FKUI/RSCM, pakar mendefinisikan sindrom ini sebagai status klinis berisiko tinggi yang mewajibkan pemeriksaan uji kepekaan obat ulang akibat tingginya probabilitas kemunculan galur multidrug-resistant. (FKUI, 2023)

Menambahkan perspektif tersebut, Dr. Erlina Burhan menjelaskan bahwa kondisi putus obat ini merepresentasikan hilangnya konsentrasi hambat minimal obat dari dalam serum pasien yang memicu reaktivasi fokus lesi perkijauan. (Burhan, 2022)

Akibatnya, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menegaskan bahwa status mangkir minum obat ini merupakan ancaman serius bagi keberhasilan program eliminasi nasional yang membutuhkan pelacakan kasus secara agresif. (Kemenkes RI, 2023)

Akhirnya, Prof. Tjandra Yoga Aditama menekankan bahwa timbulnya episode putus berobat ini merusak seluruh capaian konversi sputum sebelumnya dan memaksa pengulangan regimen pengobatan dari awal dengan risiko toksisitas lebih tinggi. (Aditama, 2024)

2. Etiologi Destruksi Parenkim

Faktor Internal Pasien

Pemicu utama terjadinya penghentian pengobatan secara sepihak didominasi oleh munculnya efek samping obat anti-tuberkulosis (OAT) yang berat, seperti hepatotoksik, gangguan penglihatan, hiperurisemia, dan rinitis alergi. Selanjutnya, hilangnya motivasi karena pasien sudah merasa sehat setelah menjalani fase intensif selama dua bulan pertama sering membuat mereka abai untuk melanjutkan fase lanjutan yang berdurasi lebih panjang. (PDPI, 2024, Burhan, 2022)

Faktor Eksternal Lingkungan

Sementara itu, hambatan sosio-ekonomi memegang peranan krusial seperti ketidakmampuan menanggung biaya transportasi ke fasilitas kesehatan, hilangnya pendapatan harian, dan ketiadaan Pengawas Menelan Obat (PMO) yang suportif. Selain itu, stigma sosial dari masyarakat, buruknya komunikasi petugas kesehatan saat memberikan edukasi awal, serta terjadinya stigma internal dalam diri pasien turut mempercepat keputusan untuk mangkir dari pengobatan standar. (Kemenkes RI, 2023, WHO, 2024)

3. Mekanisme Patofisiologi Tuberkulosis putus obat

Kinetika Populasi Kuman

Mekanisme resistensi sekunder pada kondisi mangkir obat dikendalikan oleh hilangnya kadar hambat minimal (Minimum Inhibitory Concentration / MIC) dari rifampisin dan isoniazid dari dalam sirkulasi darah. Ketika pasien menghentikan pengobatan, populasi kuman Mycobacterium tuberculosis yang berada dalam fase replikasi lambat atau semi-dorman mengalami paparan obat sub-letal. Kondisi sub-letal ini memicu seleksi mutan acak pada gen katG (resistensi isoniazid) dan gen rpoB (resistensi rifampisin). Peluang terjadinya mutasi ganda dapat terhitung berdasarkan rumus probabilitas genetik:

P = f_1 \times f_2

Keterangan: P = Probabilitas mutasi resistensi ganda, f_1 = Frekuensi mutasi alami terhadap obat A (misal Isoniazid \approx 10^{-6}), f_2 = Frekuensi mutasi alami terhadap obat B (misal Rifampisin \approx 10^{-8}). (Raviglione, 2021)

Reaktivasi Lesi Perkisan

Hilangnya tekanan selektif obat akibat interopsi terapeutik memicu replikasi kembali kuman secara logaritmik dari dalam makrofag dan jaringan nekrosis kaseosa. Proses kembalinya multiplikasi bakteri ini menginduksi hipersensitivitas tipe lambat yang perantaranya yaitu limfosit T CD4+. Pelepasan sitokin pro-inflamasi (TNF-alpha dan Interferon-gamma) dalam jumlah masif merusak parenkim paru pada sekitarnya, memperluas pembentukan kavitas, serta mengikis dinding bronkiolus, sehingga menyebabkan kerusakan vaskular lokal. (Barnes, 2021, FKUI, 2023)

Pathway

                      [Mangkir Minum OAT >= 2 Bulan]

                                    |

                                    v

                     Kadar Obat Turun di Bawah MIC

                                    |

                                    v

                       REAKTIVASI REPLIKASI BAKTERI

                                    |

     _______________________________|_______________________________

    |                               |                               |

    v                               v                               v

Reaktivasi Lesi &               Hipersekresi Mukus             Pelepasan Sitokin

Ruptur Kapiler                  Bronkus                        Sistemik (TNF-a)

    |                               |                               |

    v                               v                               v

[RISIKO PERDARAHAN]           [BERSIHAN JALAN NAPAS         [DEFISIT NUTRISI /

                                 TIDAK EFEKTIF]               HIPERTERMIA]

4. Manifestasi Klinis Tuberkulosis putus obat

Manifestasi Subjektif

Pasien mengeluhkan batuk yang kembali produktif dan menetap selama lebih dari tiga minggu, sering kali muncul bercak darah hingga batuk darah segar (hemoptisis). (PDPI, 2024)

Selain itu, pasien melaporkan keluhan demam subfebris yang dominan terjadi pada malam hari, serta keringat malam tanpa melakukan aktivitas fisik. (Burhan, 2022)

Pasien juga mengeluhkan penurunan nafsu makan yang ekstrem (anoreksia), penurunan berat badan secara progresif, rasa lemas yang konstan, serta sesak napas yang semakin berat saat melakukan aktivitas harian. (Kemenkes RI, 2023)

Manifestasi Objektif

Berdasarkan pemeriksaan antropometri, terdapat pula penurunan berat badan yang signifikan dengan indeks massa tubuh (IMT) berada dari bawah rntang normal (<18.5 kg/m²). (FKUI, 2023)

Selanjutnya, hasil pemeriksaan tanda-tanda vital menunjukkan adanya peningkatan suhu tubuh (hipertermia berkisar 37.8°C – 38.5°C), takikardia, dan peningkatan frekuensi napas (takipnea). (PDPI, 2024)

Pasien juga memperlihatkan ekspektorasi sputum mukopurulen, konjungtiva yang tampak pucat akibat anemia penyakit kronis, serta suara ronkhi basah kasar pada lapang atas paru saat pemeriksaan. (WHO, 2024)

5. Pemeriksaan Penunjang

Evaluasi Laboratorium

Pemeriksaan Tes Cepat Molekuler (TCM) TB menggunakan sampel sputum merupakan modalitas utama wajib untuk mendeteksi kembali DNA bakteri sekaligus mendeteksi adanya mutasi resistensi terhadap Rifampisin (GeneXpert MTB/RIF). (Kemenkes RI, 2023)

Selain itu, pemeriksaan mikroskopis sediaan dahak untuk menilai Bakteri Tahan Asam (BTA) dilakukan sebanyak dua kali (Sewaktu-Pagi) guna menentukan derajat infeksius pasien. (PDPI, 2024)

Sementara itu, melaksanakan kultur bakteri pada media cair (MGIT) dan uji kepekaan obat (Drug Susceptibility Testing / DST) secara paralel untuk memetakan sensitivitas kuman terhadap OAT lini pertama dan kedua secara definitif. (WHO, 2024)

Evaluasi Radiologi

Foto rontgen toraks proyeksi AP menunjukkan gambaran perkembangan lesi yang agresif pasca-putus obat. Manifestasi radiologis yang khas meliputi adanya infiltrat baru pada lobus atas paru (segmen apikal dan posterior), pembentukan kavitas berdinding tebal yang multipel, gambaran fibrothoraks, hingga tanda-tanda efusi pleura atau penyebaran milier jika infeksi telah mengalami diseminasi sistemik. (FKUI, 2023)

Evaluasi Penunjang Lain

Wajib melakukan pemeriksaan fungsi hati (SGOT, SGPT, dan Bilirubin total) sebagai data dasar untuk mengevaluasi kesiapan organ hepatobilier menerima regimen OAT ulangan yang bersifat lebih hepatotoksik. Pengukuran laju endap darah (LED) dan menggunakan hitung jenis leukosit untuk memantau aktivitas inflamasi kronis di dalam tubuh pasien selama fase perawatan intensif dijalankan. (Burhan, 2022, PDPI, 2024)

6. Penatalaksanaan Medis

Regimen Farmakologis

Sebelum hasil uji kepekaan obat (TCM) keluar, Mendahulukan pengaplikasian regimen OAT Kategori 2 (kombinasi 2HRZE-5H3R3E3 serta injeksi Streptomisin selama 2 bulan), namun panduan terbaru menyarankan penggunaan regimen individual berdasarkan hasil TCM. (Kemenkes RI, 2023)

Jika hasil TCM menunjukkan sensitif rifampisin, pasien kembali menerima regimen lini pertama dengan pengawasan ketat, sedangkan jika terdeteksi resistensi rifampisin (TB-RR) atau multidrug-resistant (TB-MDR), mengalihkan langsung pasien ke regimen TB-RO jangka pendek atau jangka panjang (menggunakan Bedaquiline, Linezolid, Levofloxacin, dan Clofazimine). (WHO, 2024)

Untuk mengatasi efek samping, memberikan terapi simptomatik seperti Hepatoprotektor pada kondisi peningkatan enzim hati, antiemetik untuk mual, dan antipiretik (Parasetamol 500 mg) untuk mengatasi demam malam hari. (PDPI, 2024)

Regimen Non-Farmakologis

Menempatkan pasien pada ruang isolasi dengan tekanan negatif atau ruangan dengan ventilasi alami yang adekuat (pertukaran udara >12 kali per jam) selama fase BTA sputum masih positif untuk mencegah penularan silang. (CDC, 2023)

Edukasi psikososial yang intensif melibatkan penunjukan Pengawas Menelan Obat (PMO) baru yang telah diberikan pelatihan formal, serta pemberian konseling nutrisi tinggi kalori tinggi protein (TKTP) untuk memulihkan status imunitas selular tubuh pasien yang terdepresi. (Kemenkes RI, 2023, WHO, 2024)

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Klinis

Identitas dan Keluhan

Pengumpulan data demografi berfokus pada usia pasien (usia produktif 15-45 tahun memiliki mobilitas tinggi yang berisiko mangkir berobat), alamat tinggal (kepadatan hunian, sanitasi rumah, ventilasi), tingkat pendidikan, pekerjaan, serta jarak rumah ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. (PPNI, 2017)

Menanyakan durasi pengobatan TB yang sempat pasien jalani sebelum putus obat, jenis OAT yang pasien konsumsi, riwayat alergi obat, serta riwayat komorbiditas seperti HIV/AIDS, diabetes melitus, atau penyakit ginjal. (PDPI, 2024, Kemenkes RI, 2023)

Pemeriksaan Fisik Terfokus

  • Inspeksi: Mengamati adanya asimetri pergerakan dinding dada, peningkatan frekuensi napas (takipnea), penggunaan otot bantu pernapasan, adanya batuk yang tidak efektif, serta karakteristik sputum yang mukopurulen atau bercampur darah (hemoptisis).
  • Palpasi: Menilai taktil fremitus yang teraba meningkat pada area konsolidasi paru (lobus atas) namun melemah secara signifikan jika terdapat komplikasi efusi pleura.
  • Perkusi: Melakukan perkusi pada lapang paru; ditemukan suara redup pada area apeks paru yang mengalami konsolidasi, serta suara pekak jika cairan efusi telah mengisi rongga pleura.
  • Auskultasi: Mendengar suara napas utama yang berubah menjadi bronkial pada area kavitas besar. Ditemukan suara napas tambahan berupa ronkhi basah kasar yang persisten pada lobus atas paru selama fase inspirasi. (PDPI, 2024, PPNI, 2017)

Pemeriksaan Organ Sistemik

  • Sistem Kardiovaskular: Inspeksi adanya pucat pada mukosa akibat anemia kronis, takikardia sebagai respons kompensasi hipoksia atau demam, serta pemantauan tekanan darah.
  • Sistem Integumen: Inspeksi kelembapan kulit, turgor kulit yang menurun akibat dehidrasi sekunder dari hipertermia, adanya diaforesis (keringat profus) pada malam hari, serta suhu akral yang teraba hangat.
  • Sistem Nutrisi: Inspeksi penurunan massa otot (muscle wasting) pada area temporal, penghitungan IMT yang rendah, serta palpasi abdomen untuk menilai adanya hepatomegali.
  • Sistem Persarafan: Pemantauan tingkat kesadaran secara umum (compos mentis), pemeriksaan fungsi penglihatan (nervus optikus) dan pendengaran (nervus vestibulokoklearis) sebagai data dasar sebelum re-inisiasi obat. (FKUI, 2023, PPNI, 2017)

Pola Fungsi Kesehatan

Pola persepsi dan manajemen kesehatan mengevaluasi keyakinan pasien terhadap kesembuhan, kekeliruan persepsi bahwa hilangnya gejala berarti sembuh, dan tingkat kepatuhan terapeutik. Pola nutrisi menggambarkan penurunan asupan kalori akibat mual atau anoreksia induksi sitokin. Pola aktivitas memetakan tingkat kelelahan fungsional akibat penurunan cadangan oksigen paru. Pola koping stres mengidentifikasi adanya depresi atau keputusasaan akibat kegagalan menyelesaikan pengobatan fase pertama yang berdampak pada penolakan program re-inisiasi. (PPNI, 2017)

2. Diagnosis Keperawatan

Klaster Prioritas Fisiologis

  1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001) b.d. hipersekresi jalan napas, eksudat di dalam alveoli, materi asing di jalan napas d.d. batuk tidak efektif, sputum berlebih, ronkhi basah kasar, dispnea.
  2. Gangguan Pertukaran Gas (D.0003) b.d. perubahan membran alveoli-kapiler, ketidakseimbangan ventilasi-perfusi d.d. PCO2 meningkat/menurun, PO2 menurun, takipnea, dispnea, gelisah, sianosis.
  3. Risiko Perdarahan (D.0012) d.d. faktor risiko gangguan koagulasi sekunder akibat erosi vaskular intrapulmonal (proses nekrosis perkijauan paru).
  4. Defisit Nutrisi (D.0019) b.d. peningkatan kebutuhan metabolisme, kurang asupan makanan d.d. berat badan menurun minimal 10% di bawah rentang ideal, anoreksia, bising usus hiperaktif.
  5. Hipertermia (D.0130) b.d. proses penyakit infeksi aktif d.d. suhu tubuh meningkat di atas nilai normal, kulit terasa hangat, takikardia, takipnea.

Klaster Prioritas Perilaku

  1. Intoleransi Aktivitas (D.0056) b.d. ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, kelemahan umum d.d. mengeluh lelah, dispnea saat beraktivitas, frekuensi nadi meningkat >20% dari kondisi istirahat.
  2. Defisit Pengetahuan (D.0111) b.d. kurang terpapar informasi, kekeliruan mengikuti anjuran d.d. menanyakan masalah yang dihadapi, menunjukkan perilaku tidak sesuai anjuran pengobatan.
  3. Ketidakpatuhan (D.0114) b.d. lingkungan tidak terapeutik, sistem nilai yang diyakini, efek samping program pengobatan d.d. perilaku tidak mengikuti program pengobatan, gagal mencapai hasil akhir.
  4. Gangguan Pola Tidur (D.0055) b.d. kurang kontrol tidur, hambatan lingkungan d.d. mengeluh sulit tidur, mengeluh sering terjaga malam hari akibat batuk atau keringat malam.
  5. Risiko Infeksi (D.0142) d.d. faktor risiko pertahanan tubuh primer tidak adekuat (kerusakan silia jalan napas, statis cairan tubuh), malnutrisi, pajanan terhadap patogen lingkungan. (PPNI, 2017)

3. Perencanaan Intervensi

Rencana Kritis (Diagnosis 1-3)

Intervensi Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001)
  • Luaran Keperawatan: Bersihan Jalan Napas (L.01001) meningkat (Batuk efektif meningkat, produksi sputum menurun, ronkhi basah menurun, dispnea menurun).
  • Intervensi Keperawatan: Manajemen Jalan Napas (I.01011).
    • Observasi: Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas); monitor bunyi napas tambahan (ronkhi); monitor karakteristik sputum (jumlah, warna, konsistensi).
    • Terapeutik: Posisikan fowler atau semi-fowler; berikan minum hangat minimal 2000 mL/hari; lakukan fisioterapi dada jika diindikasikan.
    • Edukasi: Ajarkan teknik batuk efektif secara berkala.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian mukolitik atau ekspektoran dan inhalasi bronkodilator jika diperlukan.
Intervensi Gangguan Pertukaran Gas (D.0003)
  • Luaran Keperawatan: Pertukaran Gas (L.01003) meningkat (Dispnea menurun, gelisah menurun, PCO2 membaik 35-45 mmHg, PO2 membaik 80-100 mmHg, nilai SpO2 > 95%).
  • Intervensi Keperawatan: Pemantauan Respirasi (I.01014).
    • Observasi: Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas; monitor nilai AGD berkala dan saturasi oksigen via oksimetri; monitor adanya sianosis sentral dan perifer.
    • Terapeutik: Atur interval pemantauan respirasi sesuai dengan derajat kegawatan klinis pasien; dokumentasikan hasil pemantauan.
    • Edukasi: Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan respirasi kepada pasien dan keluarga.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian terapi oksigen dosis rendah (1-3 L/menit via kanul nasal) untuk mempertahankan oksigenasi selular.
Intervensi Risiko Perdarahan (D.0012)
  • Luaran Keperawatan: Tingkat Perdarahan (L.02017) menurun (Hemoptisis menurun/menghilang, hematokrit membaik, tekanan darah stabil, denyut nadi normal).
  • Intervensi Keperawatan: Pencegahan Perdarahan (I.02067).
    • Observasi: Monitor tanda dan gejala perdarahan masif (volume batuk darah, warna darah); monitor nilai hemoglobin dan hematokrit post-perdarahan.
    • Terapeutik: Istirahatkan pasien secara total (bed rest) dengan posisi semi-fowler jika terjadi hemoptisis; pertahankan akses IV line yang paten.
    • Edukasi: Anjurkan pasien untuk tidak menahan batuk darah (keluarkan darah secara perlahan untuk mencegah asfiksia); anjurkan segera melapor jika batuk darah berulang.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat hemostatik (misal Asam Traneksamat) dan pengujian silang darah jika transfusi diperlukan.

Rencana Edukatif-Nutrisional (Diagnosis 4-6)

Intervensi Defisit Nutrisi (D.0019)
  • Luaran Keperawatan: Status Nutrisi (L.03030) membaik (Porsi makanan yang dihabiskan meningkat, nafsu makan meningkat, IMT membaik mendekati nilai ideal).
  • Intervensi Keperawatan: Manajemen Nutrisi (I.03119).
    • Observasi: Identifikasi status nutrisi dan kemampuan menelan; monitor asupan kalori harian; monitor berat badan seminggu sekali.
    • Terapeutik: Lakukan kebersihan mulut (oral hygiene) sebelum makan; sajikan makanan tinggi kalori tinggi protein (TKTP) dalam porsi kecil tapi sering.
    • Edukasi: Jelaskan pentingnya nutrisi adekuat untuk mempercepat proses penyembuhan jaringan paru yang rusak.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi mengenai kebutuhan kalori harian dan pemberian suplemen nutrisi tambahan.
Intervensi Hipertermia (D.0130)
  • Luaran Keperawatan: Termoregulasi (L.14134) membaik (Suhu tubuh membaik 36.5°C – 37.5°C, kulit kemerahan menurun, takikardia menurun).
  • Intervensi Keperawatan: Manajemen Hipertermia (I.14506).
    • Observasi: Monitor suhu tubuh pasien setiap 2-4 jam; monitor haluaran urine harian; monitor adanya komplikasi akibat hipertermia (misal kejang, dehidrasi).
    • Terapeutik: Sediakan lingkungan yang sejuk dan sirkulasi udara baik; longgarkan atau ganti pakaian pasien yang basah oleh keringat; lakukan kompres hangat pada aksila atau lipat paha.
    • Edukasi: Anjurkan tirah baring total; anjurkan peningkatan konsumsi cairan oral untuk mencegah dehidrasi.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian terapi cairan intravena dan antipiretik oral/intravena (Parasetamol).
Intervensi Intoleransi Aktivitas (D.0056)
  • Luaran Keperawatan: Toleransi Aktivitas (L.05047) meningkat (Kemudahan melakukan aktivitas sehari-hari meningkat, keluhan lelah menurun, dispnea setelah aktivitas berkurang).
  • Intervensi Keperawatan: Manajemen Energi (I.05178).
    • Observasi: Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan ekstrem; monitor kelelahan fisik; monitor pola tidur pasien.
    • Terapeutik: Sediakan lingkungan yang nyaman; fasilitasi pemenuhan aktivitas hidup sehari-hari (ADL) dengan bantuan perawat/keluarga secara bertahap.
    • Edukasi: Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap sesuai toleransi jantung-paru; ajarkan teknik penghematan energi saat bergerak.

Rencana Jangka Panjang (Diagnosis 7-10)

Intervensi Defisit Pengetahuan (D.0111)
  • Luaran Keperawatan: Tingkat Pengetahuan (L.12111) meningkat (Kemampuan menjelaskan pengetahuan tentang penyakit meningkat, perilaku sesuai anjuran meningkat).
  • Intervensi Keperawatan: Edukasi Proses Penyakit (I.12444).
    • Terapeutik: Sediakan materi edukasi tertulis/leaflet yang mudah dipahami; jadwalkan waktu edukasi bersama pasien dan Pengawas Menelan Obat (PMO).
    • Edukasi: Jelaskan pengertian tuberkulosis putus obat, penyebab resistensi kuman, bahaya komplikasi, serta pentingnya kepatuhan mutlak pada pengobatan ulangan.
Intervensi Ketidakpatuhan (D.0114)
  • Luaran Keperawatan: Tingkat Kepatuhan (L.12110) meningkat (Perilaku mengikuti program pengobatan meningkat, tanda keberhasilan pengobatan tercapai).
  • Intervensi Keperawatan: Dukungan Kepatuhan Program Pengobatan (I.12361).
    • Terapeutik: Libatkan keluarga dan PMO dalam pengawasan minum obat harian; buat kontrak komitmen pengobatan tertulis antara perawat, pasien, dan keluarga.
    • Edukasi: Informasikan efek samping OAT yang mungkin muncul dan cara mengatasinya tanpa menghentikan konsumsi obat secara sepihak.
Intervensi Gangguan Pola Tidur (D.0055)
  • Luaran Keperawatan: Pola Tidur (L.05045) membaik (Keluhan sulit tidur menurun, keluhan sering terjaga malam berkurang, istirahat cukup meningkat).
  • Intervensi Keperawatan: Dukungan Tidur (I.05174).
    • Terapeutik: Sesuaikan lingkungan fisik kamar tidur pasien; posisikan fowler/semi-fowler untuk mengurangi intensitas batuk nokturnal.
    • Edukasi: Ajarkan teknik relaksasi otot atau teknik napas dalam lambat sebelum tidur untuk meningkatkan kenyamanan fisik.
Intervensi Risiko Infeksi (D.0142)
  • Luaran Keperawatan: Tingkat Infeksi (L.14137) menurun (Kebersihan badan meningkat, sputum purulen menurun, tidak terjadi penularan sekunder di lingkungan sekitar).
  • Intervensi Keperawatan: Pencegahan Infeksi (I.14539).
    • Observasi: Monitor tanda-tanda infeksi sekunder lokal atau sistemik.
    • Terapeutik: Terapkan isolasi airborne pada fase infeksius; batasi jumlah pengunjung; pastikan pembuangan sputum dilakukan pada pot tertutup yang berisi desinfektan lisol.
    • Edukasi: Ajarkan etika batuk dan bersin yang benar kepada pasien dan keluarga; anjurkan penggunaan masker bedah/N95 secara konsisten. (PPNI, 2017, PPNI, 2018)

4. Implementasi

Fase Kegawatdaruratan Pernapasan

Melakukan pemantauan respirasi komprehensif dengan menghitung frekuensi napas dan mengauskultasi bunyi ronkhi basah kasar di lobus superior paru secara saksama. Memposisikan pasien dalam posisi fowler tinggi untuk memperluas ekspansi toraks serta melatih teknik batuk efektif untuk memobilisasi sputum mukopurulen yang kental. Melaksanakan protokol pencegahan perdarahan dengan menenangkan pasien saat terjadi hemoptisis, memandu pasien mengeluarkan darah secara perlahan untuk mencegah asfiksia, dan mempertahankan kepatenan jalur intravena untuk hidrasi. Mengambil sampel dahak untuk pengujian Tes Cepat Molekuler (TCM) ulang guna memverifikasi status resistensi obat. (PPNI, 2018)

Fase Rehabilitasi Perilaku Kepatuhan

Mengkoordinasikan re-inisiasi pengobatan anti-tuberkulosis individual sesuai instruksi medis, serta menyelenggarakan edukasi intensif kepada pasien dan Pengawas Menelan Obat (PMO) mengenai bahaya penghentian obat secara sepihak. Mengaplikasikan kompres hangat pada area aksila dan memantau fluktuasi suhu tubuh pasien setiap 4 jam untuk mengendalikan hipertermia. Melakukan tindakan oral hygiene sebelum makan, menyajikan diet TKTP dalam porsi kecil tapi sering, serta memandu aktivitas fisik harian pasien secara bertahap untuk menghemat pengeluaran energi selular. (PPNI, 2018)

5. Evaluasi

Pencatatan Status SOAP Pasien

  • S (Subjektif): Pasien melaporkan keluhan batuk berdahak telah berkurang, dahak dapat dikeluarkan dengan mudah, episode batuk darah sudah tidak terjadi, nafsu makan mulai kembali membaik, demam malam hari berkurang, dan memahami konsekuensi fatal jika kembali berhenti minum obat.
  • O (Objektif): Jalan napas tampak paten, suara ronkhi basah kasar pada lapang paru atas mengalami penurunan signifikan, frekuensi napas stabil (18 x/menit), suhu tubuh berada pada batas normal (36.8°C), tidak ada penggunaan otot bantu napas tambahan, porsi makan dihabiskan minimal 80%, dan hasil pemeriksaan mikroskopis BTA serial menunjukkan kecenderungan penurunan densitas kuman. (PPNI, 2019)

Modifikasi dan Kelanjutan Intervensi

  • A (Analisis): Masalah keperawatan Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif dan Risiko Perdarahan dinyatakan teratasi secara penuh; sedangkan diagnosis Gangguan Pertukaran Gas, Defisit Nutrisi, Hipertermia, dan Ketidakpatuhan dinyatakan teratasi sebagian dengan kemajuan indikator klinis yang positif.
  • P (Perencanaan): Melanjutkan rencana intervensi keperawatan pemeliharaan meliputi pemantauan kepatuhan minum obat via kontak harian dengan PMO, mempertahankan pemenuhan nutrisi TKTP di rumah, menjadwalkan kunjungan rumah (home visit) untuk evaluasi sanitasi lingkungan, serta merencanakan kontrol kultur sputum periodik di puskesmas. (PPNI, 2019)

DAFTAR PUSTAKA

Aditama, T. Y. (2024). Tantangan eliminasi tuberkulosis dengan peningkatan kasus loss to follow-up di Indonesia. J Tuberkulosis Indonesia, 18(1), 12-25. Aditama TB Eliminasi Nasional

APSR. (2023). Clinical practice guidelines for tuberculosis management in the Asia-Pacific region. Respirology, 28(4), 315-330. APSR TB Guidelines

Burhan, E. (2022). Tatalaksana Klinis Tuberkulosis Resistensi Obat. UI Publishing.

CDC. (2023). Treatment of tuberculosis: American Thoracic Society, CDC, and Infectious Diseases Society of America guidelines. MMWR Recomm Rep, 72(2), 1-45. CDC TB Treatment Guidelines

CTS. (2023). Chinese consensus on management of default and drug-resistant tuberculosis cases. Chin Med J, 136(9), 1020-1035. CTS Chinese TB Management

ECDC. (2023). Progress report on tuberculosis control in the European Union. ECDC Surveillance Report. ECDC TB Control Report

FKUI. (2023). Buku Ajar Pulmonologi Klinis dan Kedokteran Respirasi. UI Publishing.

ICS. (2024). Indian guidelines for the management of loss to follow-up pulmonary tuberculosis. Lung India, 41(2), 88-102. ICS Indian TB Guidelines

Kemenkes RI. (2023). Petunjuk Teknis Penatalaksanaan Tuberkulosis di Indonesia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

PDPI. (2024). Tuberkulosis: Pedoman Diagnosis dan Tatalaksana di Indonesia. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia.

PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI). DPP PPNI.

PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI). DPP PPNI.

PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI). DPP PPNI.

Raviglione, M. (2021). Siren’s Textbook of Tuberculosis: Global Perspective and Molecular Pathogenesis (4th ed.). Oxford University Press.

The Union. (2022). Management of tuberculosis and lung disease in low-income countries. Int J Tuberc Lung Dis, 26(8), 701-714. The Union TB Management Guide

WHO. (2024). WHO Consolidated Guidelines on Tuberculosis: Module 4: Treatment – Drug-Resistant Tuberculosis Treatment. World Health Organization. WHO 2024 DR-TB Guidelines

Yim, J. J. (2022). Overcoming treatment interruption and drug toxicity in Asian tuberculosis cohorts. Korean J Intern Med, 37(5), 901-912. Yim Overcoming TB Interruption


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *