KONSEP MEDIS HIV/AIDS PUTUS TERAPI

HIV/AIDS putus terapi merupakan kondisi kegagalan mempertahankan regimen antiretroviral yang memicu lonjakan viral load dan supresi imun yang fatal.

A. Konsep Medis HIV/AIDS Putus terapi

1. Definisi HIV/AIDS Putus terapi

Definisi Dari Pakar Internasional

World Health Organization (WHO) mengonseptualisasikan kondisi klinis ini sebagai penghentian konsumsi obat antiretroviral selama minimal tiga puluh hari berturut-turut oleh pengidap infeksi retrovirus yang berisiko memicu kegagalan virologis (WHO, 2024).

Selanjutnya, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menegaskan bahwa kelainan manajemen terapi tersebut merepresentasikan suatu diskontinuitas pengobatan formal yang mengakibatkan multiplikasi virus secara agresif dalam sirkulasi darah serta penurunan drastis sel limfosit T CD4+ (CDC, 2021).

Selain itu, Volberding mendefinisikan gangguan kepatuhan ini sebagai interupsi terapeutik sepihak oleh pasien yang merusak supresi replikasi virus dan memicu kemunculan galur virus mutan yang resisten terhadap obat (Volberding, 2020).

Kemudian, Bartlett merumuskan kelainan perilaku klinis tersebut berupa kegagalan mempertahankan retensi dalam perawatan HIV, yang merusak kesinambungan supresi imunologis dan mempercepat progresi menuju stadium AIDS terminal (Bartlett, 2019).

Sementara itu, Fauci menjelaskan fenomena medis ini sebagai hilangnya kontrol virologis akibat penghentian asupan zat inhibitor transkriptase, yang secara instan mengaktivasi kembali reservoir virus laten pada jaringan limfoid pejamu (Fauci, 2022).

Definisi Pakar Asia

Japanese Society for AIDS Research (JSAR) mengategorikan penyakit ini sebagai status hilangnya tindak lanjut klinis (loss to follow-up) pada pasien rawat jalan yang memicu lonjakan viral load plasma pasca-penghentian obat (JSAR, 2021).

Sejalan dengan hal tersebut, Chinese Medical Association (CMA) mendeskripsikan patologi ini berupa penghentian regimen jangka panjang yang berkaitan erat dengan kemunculan kembali gejala infeksi oportunistik dan peningkatan mortalitas pada komunitas (CMA, 2023).

Lebih lanjut, AIDS Society of India (ASI) mengonfirmasikan keadaan tersebut sebagai kegagalan program penanggulangan infeksi akibat putusnya akses obat, yang memicu sindrom wasting mematikan dan pneumonia berat pada populasi rentan (ASI, 2022).

Oleh karena itu, Korean Society for Infectious Diseases (KSID) mengartikan kegagalan retensi obat ini sebagai dampak psikososial dan fisik yang menghentikan supresi enzimatik virus, sehingga mengakibatkan kerusakan seluler mukosa urogenital kembali meluas (KSID, 2020).

Sebagai tambahan, Asia-Pacific Network of People Living with HIV (APN+) menetapkan keluhan putus obat ini sebagai krisis kesehatan sekunder yang memerlukan tindakan penjangkauan komunitas segera guna mencegah resistensi silang antiretroviral tingkat tinggi (APN+, 2022).

Definisi Pakar Indonesia

Djoerban mengidentifikasi kelainan manajemen ini sebagai perilaku penghentian konsumsi obat antiretroviral secara mandiri oleh pasien, sehingga memicu virus HIV berkembang biak kembali secara cepat dan merusak sisa sistem kekebalan tubuh (Djoerban, 2022).

Sama halnya dengan pendapat sebelumnya, Nasronudin menguraikan gangguan ini sebagai kondisi putus obat terapeutik yang muncul dengan penurunan drastis respons imunitas seluler pejamu serta memicu kerentanan masif terhadap infeksi oportunistik (Nasronudin, 2021).

Meskipun demikian, Soelistijo mengartikan gangguan fungsi imun akibat interupsi ini sebagai pemicu utama inflamasi sistemik persisten yang mempercepat kerusakan endotel pembuluh darah dan memicu gangguan metabolik berat (Soelistijo, 2023).

Oleh sebab itu, Merati menyatakan kondisi patologis ini sebagai kegagalan mempertahankan kepatuhan mutlak (adherence) yang memerlukan edukasi ulang mengenai bahaya resistensi obat dan konseling psikososial terstruktur (Merati, 2020).

Akhirnya, Yunihastuti mendedikasikan definisi keluhan putus terapi ini sebagai kegawatdaruratan klinis tersembunyi yang membutuhkan deteksi dini melalui pelacakan aktif pasien mangkir demi menurunkan angka kematian terkait AIDS (Yunihastuti, 2021).

2. Etiologi HIV/AIDS Putus terapi

Faktor Perilaku dan Psikososial

Penyebab utama dari timbulnya kondisi putus obat ini bersifat multifaktorial, yang secara garis besar bersumber dari faktor psikososial, efek samping obat, dan kendala struktural. Kelelahan mengonsumsi obat seumur hidup (pill fatigue), tingkat depresi yang tidak terdiagnosis, serta stigma sosial yang mendalam pada lingkungan keluarga memicu pasien memilih untuk menyembunyikan status kesehatannya dan menghentikan pengobatan (Fauci, 2022; Merati, 2020).

Faktor Klinis dan Akses

Sementara itu, efek samping obat yang mengganggu seperti pusing hebat akibat Efavirenz, gangguan pencernaan kronis, atau ketakutan akan lipodistrofi mendorong pasien melakukan interupsi pengobatan secara mandiri. Kendala struktural berupa kelangkaan stok obat antiretroviral pada fasilitas kesehatan lokal, jarak geografis yang jauh ke pusat layanan penunjang, serta keterbatasan finansial untuk biaya transportasi juga berkontribusi signifikan terhadap status mangkirnya pasien dari regimen terapi (WHO, 2024; Yunihastuti, 2021).

3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM

Mekanisme Rebound Virologis

Mekanisme kerusakan tubuh pasca-putus obat muncul dengan hilangnya tekanan selektif zat aktif antiretroviral terhadap replikasi virus. Zat aktif obat dalam plasma yang menurun drastis dari bawah konsentrasi hambat minimal memicu aktivasi kembali transkripsi DNA provirus yang terintegrasi di dalam reservoir laten (sel limfosit T memori CD4+ yang berumur panjang, makrofag, dan sel mikroglia otak) (Bartlett, 2019; Nasronudin, 2021).

Selanjutnya, virus HIV bebas melakukan replikasi secara eksponensial dari dalam sirkulasi darah yang bermanifestasi sebagai fenomena viral rebound. Replikasi virus yang tidak terkendali ini secara langsung menghancurkan sel T CD4+ baru melalui mekanisme lisis seluler dan merangsang apoptosis massal pada sel imun tetangga yang tidak terinfeksi melalui jalur signaling pro-inflamasi (Volberding, 2020; Djoerban, 2022).

Kegagalan Imunologis Sekunder

Kemudian, penurunan kadar sel CD4+ yang sangat masif dari bawah ambang kritis (<200 sel/µL) memicu keruntuhan total sistem pertahanan tubuh sekunder. Tubuh kehilangan kemampuan memproduksi sitokin instruksional dan mengaktivasi makrofag, yang membuka jalan bagi invasi kuman oportunistik (seperti Mycobacterium tuberculosis dari paru atau Candida albicans pada saluran cerna). Paparan replikasi virus yang tidak terhambat ini juga memicu mutasi genetik pada kodon spesifik enzim reverse transcriptase virus, sehingga menimbulkan resistensi obat tingkat tinggi yang mempersulit keberhasilan regimen terapi lini berikutnya (Fauci, 2022; Yunihastuti, 2021).

Pathway

                      Penghentian Konsumsi Obat Antiretroviral (ART)

                                            │

                    Penurunan Konsentrasi Obat di Bawah Kadar Hambat

                                            │

                     Reaktivasi Replikasi Virus pada Reservoir Laten

                                            │

                     Rebound Viral Load & Lisis Sel T CD4+ yang Masif

                                            │

                         Imunosupresi Berat & Kegagalan Terapi

                                            │

          ┌─────────────────────────────────┼─────────────────────────────────┐

          ▼                                 ▼                                 ▼

Aktivasi Kuman Oportunistik          Proses Inflamasi Sistemik         Stigma & Ketakutan Efek

  Saluran Pernapasan                  pada Saluran Cerna                    Samping Obat

          │                                 │                                 │

          ▼                                 ▼                                 ▼

Infiltrasi Alveoli, Sputum          Malabsorbsi, Diare Kronis &       Ansietas & Penolakan

   Meningkat & Sesak                       Mual-Muntah                        Regimen Obat

          │                                 │                                 │

          ▼                                 ▼                                 ▼

[Bersihan Jalan Napas                     ▼                         [Ketidakpatuhan] (D.0114)

 Tidak Efektif] (D.0001)         [Defisit Nutrisi] (D.0019)

(Fauci, 2022; PPNI, 2017)

4. Manifestasi Klinis HIV/AIDS Putus terapi

a. Data Subjektif

Pasien mengekspresikan keluhan berupa kembalinya gejala-gejala konstitusional seperti demam intermiten yang berlangsung berbulan-bulan, kelelahan fisik yang ekstrem (letargi), dan keringat malam masif. Sementara itu, pasien mengeluhkan batuk produktif kronis dengan sputum purulen, sesak napas yang memberat saat berjalan, mual, muntah, serta nyeri perut difus disertai diare cair berkepanjangan yang memicu kelemahan otot. Pasien juga sering menyatakan perasaan bersalah, takut, dan cemas akan kematian akibat keputusannya menghentikan pengobatan (CDC, 2021; Nasronudin, 2021).

b. Data Objektif

Pemeriksaan fisik menunjukkan kemerosotan kondisi umum berupa penurunan berat badan secara drastis dalam waktu singkat (sindrom wasting nyata), hipertermia, serta takikardia. Perawat mengamati kembalinya limfadenopati generalisata pada daerah leher, aksila, dan inguinal. Pada pemeriksaan objektif mukosa oral, terlihat lapisan plak putih tebal keju yang menandakan kandidiasis esofagus/oral, sementara pemeriksaan integritas kulit memperlihatkan turgor kulit buruk, kulit kering bersisik akibat dermatitis seboroik yang meluas, serta adanya ekskoriasi akibat garukan pada lesi papular pruritik (WHO, 2024; Merati, 2020).

5. Pemeriksaan Penunjang HIV/AIDS Putus terapi

a. Pemeriksaan Laboratorium

Menegakkan diagnosis kegagalan terapi akibat putus obat melalui pemeriksaan kuantifikasi RNA HIV (Viral Load) plasma dengan metode PCR yang menunjukkan hasil melonjak tinggi (>1.000 kopi/mL). Selanjutnya, wajib melaksanakan pemeriksaan hitung sel T CD4+ dan hasilnya sering kali terdapat adanya penurunan drastis hingga <200 sel/µL (imunosupresi berat). Sangat menganjurkan untuk melakukan Uji resistensi genotipik (genotypic drug resistance testing) guna mendeteksi mutasi asam amino pada gen reverse transcriptase atau protease virus. Pemeriksaan hematologi rutin memperlihatkan pansitopenia (anemia, leukopenia berat, dan trombositopenia) akibat supresi sumsum tulang oleh virus (WHO, 2024; Yunihastuti, 2021).

b. Pemeriksaan Radiologi

Wajib melakukan Foto toraks proyeksi Posterior-Anterior (PA) guna mengidentifikasi kembalinya atau memburuknya koinfeksi oportunistik, seperti gambaran infiltrat luas atau kavitas pada Tuberkulosis paru, serta gambaran opasitas retikulonodular bilateral (ground-glass) pada Pneumonia Pneumosistis (PCP). Mengerjakan pula CT-scan atau MRI kepala dengan kontras apabila pasien menunjukkan penurunan kesadaran atau defisit neurologis fokal untuk mendeteksi adanya lesi desak ruang akibat Toksoplasmosis serebral (Bartlett, 2019; Merati, 2020).

c. Pemeriksaan Lain

Pemeriksaan penunjang fungsional mencakup elektrokardiografi (EKG) guna mendeteksi pemanjangan interval QTc yang terinduksi oleh obat-obatan infeksi oportunistik atau kardiomiopati terkait virus. Pemeriksaan biopsi mukosa oral atau endoskopi saluran cerna bagian atas terindikasi untuk memastikan perluasan invasi jamur atau sitomegalovirus pada pasien dengan keluhan disfagia berat (Volberding, 2020; Djoerban, 2022).

6. Penatalaksanaan Medis

a. Terapi Farmakologis

Penatalaksanaan medis mendesak berfokus pada evaluasi resistensi obat sebelum memulai kembali Terapi Antiretroviral (ART). Jika hasil uji genotipik menunjukkan tidak ada mutasi resistensi mayor, dapat menginisiasi kembali regimen lini pertama dengan pengawasan ketat, namun jika terbukti ada resistensi terhadap golongan NRTI/NNRTI, regimen harus mengubah ke lini kedua yang memanfaatkan kombinasi Inhibitor Integrase generasi baru (Dolutegravir) serta mengkombinasikan dengan NRTI fungsional yang belum resisten (Tenofovir Alafenamide). Pemberian terapi profilaksis sekunder dengan Kotrimoksazol (960 mg/hari) serta memberikan terapi pencegahan tuberkulosis (TPT) untuk menurunkan risiko mortalitas akibat kuman oportunistik (WHO, 2024; Yunihastuti, 2021).

b. Terapi Non-Farmakologis

Intervensi non-farmakologis berpusat pada penerapan Directly Observed Therapy (DOT) dengan melibatkan case manager atau anggota keluarga sebagai Pengawas Menelan Obat (PMO) guna menjamin kepatuhan konsumsi obat harian. Wajib melaksanakan konseling intensif dengan pendekatan Motivational Interviewing oleh perawat untuk mengidentifikasi dan mengatasi akar penyebab putus obat, mengurangi hambatan psikososial, serta memulihkan efikasi diri pasien dalam mengelola regimen pengobatan kronis seumur hidup (Merati, 2020; Nasronudin, 2021).

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Keperawatan

a. Identitas Pasien

Pencatatan data identitas mencakup nama, nomor rekam medis, umur, jenis kelamin, pekerjaan, status perkawinan, tingkat pendidikan, dan alamat domisili. Perawat wajib mematuhi protokol penjaminan kerahasiaan identitas (anonymity) pasien demi mencegah potensi diskriminasi sosiokomunitas (Nasronudin, 2021).

b. Riwayat Kesehatan

Keluhan utama biasanya berupa kelemahan badan yang ekstrem, sesak napas, atau diare kronis pasca-berhenti minum obat antiretroviral. Perawat mengeksplorasi riwayat penyakit sekarang terkait durasi putus terapi, alasan mendasar penghentian obat (seperti depresi atau efek samping), jenis regimen obat masa lalu, serta adanya tanda-tanda infeksi oportunistik aktif (Merati, 2020; Yunihastuti, 2021).

c. Pemeriksaan Fisik

Sistem Respirasi dan Kardiovaskular

Inspeksi respirasi memperlihatkan pasien bernapas cepat (takipnea), menggunakan otot sternokleidomastoideus sebagai otot bantu napas, serta tampak sianosis sirkumoral pada kondisi hipoksia berat. Palpasi mendeteksi adanya penurunan ekspansi dinding dada dan peningkatan taktil fremitus pada area konsolidasi paru. Perkusi menghasilkan bunyi pekak pada area yang mengalami efusi pleura atau infiltrat masif. Auskultasi menemukan suara napas tambahan berupa ronkhi basah halus pada basal paru atau wheezing yang menandakan penyempitan jalan napas akibat penumpukan sekret (Bartlett, 2019; Sujayatmo, 2021).

Inspeksi sirkulasi memperlihatkan pengisian kapiler yang melambat (capillary refill time >3 detik) akibat dehidrasi sekunder dari diare kronis. Palpasi denyut nadi perifer teraba cepat dan lemah (takikardia), serta akral teraba dingin. Auskultasi jantung menegaskan bunyi jantung I dan II reguler tanpa adanya murmur atau gallop, meskipun frekuensinya meningkat sebagai respons kompensasi hipertermia (Sujayatmo, 2021).

Sistem Pencernaan dan Integumen

Inspeksi oral menunjukkan adanya pseudomembran putih susu yang menutupi lidah, palatum, dan faring yang mudah berdarah saat dikerok (kandidiasis oral berat). Inspeksi abdomen tampak datar-cekung (scaphoid) akibat malnutrisi berat. Palpasi perut mendeteksi adanya nyeri tekan difus tanpa ada tanda defans muskular, serta teraba pembesaran hati (hepatomegali) sekitar 2-3 cm dari bawah arkus kosta. Perkusi abdomen menghasilkan bunyi hipertimpani akibat distensi gas. Auskultasi mengonfirmasi adanya peningkatan bising usus yang sangat aktif (>35 kali/menit) yang konsisten dengan kondisi diare akut atau kronis (Nasronudin, 2021).

Inspeksi kulit memperlihatkan penurunan elastisitas jaringan, adanya makula atau papula kemerahan yang gatal (PPE), serta adanya skuama halus berminyak pada daerah wajah (dermatitis seboroik). Palpasi kulit menegaskan turgor kulit yang lambat kembali (>2 detik) serta suhu kulit yang terasa sangat hangat akibat proses infeksi oportunistik yang memicu demam sistemik (Volberding, 2020).

Sistem Persarafan dan Muskuloskeletal

Inspeksi persarafan mengamat tingkat kesadaran pasien yang dapat menurun (apatis hingga somnolen) akibat ensefalopati virus atau hipoksia sekunder, adanya ptosis, atau kelemahan motorik fokal. Melakukan palpasi kuduk untuk mengevaluasi tanda kaku kuduk. Pemeriksaan fungsi sensorik sering menunjukkan adanya penurunan sensasi rasa raba (hipestesia) pada telapak kaki berbentuk kaus kaki (glove-stocking distribution) yang menandakan neuropati perifer (Fauci, 2022).

Inspeksi sistem otot menunjukkan adanya atrofi massa otot yang luas pada ekstremitas akibat proses katabolisme protein yang berkepanjangan (sindrom wasting). Palpasi massa otot mengonfirmasi adanya penurunan tonus otot secara umum. Pengukuran kekuatan otot menunjukkan nilai yang menurun (skala 3 atau 4) pada seluruh ekstremitas, sehingga pasien memerlukan bantuan penuh atau sebagian dalam mobilisasi (Volberding, 2020).

d. Pengkajian Pola Fungsi Kesehatan

Analisis Pola Fungsi 1-3

Pasien mengalami gangguan pola nutrisi yang berat, dengan adanya anoreksia, mual, muntah, serta nyeri hebat saat menelan akibat kandidiasis esofagus yang berujung pada penurunan berat badan drastis di bawah rentang ideal. Pola eliminasi mengalami disfungsi nyata berupa defekasi encer dengan frekuensi tinggi (>5 kali/hari) yang berlangsung kronis, memicu gangguan keseimbangan asam basa dan volume cairan (Nasronudin, 2021).

Pola aktivitas dan latihan pasien mengalami penurunan kapasitas fungsional yang signifikan akibat kelemahan umum, keletihan kronis, dan dispnea saat beraktivitas ringan, yang memaksa pasien membatasi kemandirian ADL. Pola tidur terganggu akibat keringat malam yang masif dan nyeri neuropati yang mengganggu kenyamanan istirahat (Volberding, 2020).

Analisis Pola Fungsi 4-5

Pola kognitif pasien dapat mengalami kemunduran berupa penurunan memori jangka pendek dan kesulitan konsentrasi akibat efek neurotropik virus pada SSP. Pola konsep diri dan peran pasien terdominasi oleh perasaan bersalah yang mendalam, ketidakberdayaan, harga diri rendah situasional, serta kecenderungan menarik diri dari interaksi sosial akibat takut dihakimi oleh petugas kesehatan atau keluarga atas keputusannya putus terapi (Djoerban, 2022).

2. Diagnosis Keperawatan

Urutan Prioritas Diagnosis 1-5

  1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001) b.d hipersekresi jalan napas d.d ronkhi, batuk tidak efektif, sesak napas.
  2. Defisit Nutrisi (D.0019) b.d ketidakmampuan mengabsorbsi nutrien d.d berat badan menurun minimal 10% di bawah rentang ideal, diare, kandidiasis oral.
  3. Diare (D.0020) b.d proses infeksi saluran cerna d.d defekasi encer lebih dari tiga kali dalam 24 jam, bising usus hiperaktif.
  4. Ketidakpatuhan (D.0114) b.d ketidakadekuatan pemahaman/stigma sosial d.d perilaku tidak mengikuti program perawatan, kegagalan mencapai hasil terapeutik (viral load melonjak).
  5. Intoleransi Aktivitas (D.0056) b.d kelemahan umum d.d mengeluh lelah, frekuensi jantung meningkat >20% setelah aktivitas.

Urutan Prioritas Diagnosis 6-10

  1. Hipertermia (D.0130) b.d proses penyakit d.d suhu tubuh membaik di atas nilai normal, kulit terasa hangat.
  2. Nyeri Kronis (D.0078) b.d gangguan fungsi imunitas/neuropati perifer d.d mengeluh nyeri menetap >3 bulan, tampak meringis.
  3. Harga Diri Rendah Situasional (D.0087) b.d stigma penyakit/perasaan gagal terapi d.d mengungkapkan perasaan malu/tidak berdaya, menilai diri negatif.
  4. Isolasi Sosial (D.0121) b.d perubahan status kesehatan/stigma d.d merasa ditolak, tidak ada kontak mata, menarik diri.
  5. Risiko Infeksi (D.0142) b.d faktor risiko ketidakadekuatan pertahanan tubuh sekunder (imunosupresi berat pasca-putus obat).

(PPNI, 2017)

3. Perencanaan (Intervensi)

Rencana Intervensi Diagnosis 1-3

Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001)

  • Luaran Utama: Bersihan Jalan Napas (L.01001): Batuk efektif meningkat, produksi sputum menurun, ronkhi menurun, gelisah menurun, frekuensi napas membaik.
  • Intervensi Utama: Manajemen Jalan Napas (I.01011): Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas); Monitor bunyi napas tambahan (mis. gurgling, mengorok, wheezing, ronkhi kering); Monitor sputum (jumlah, warna, aroma); Pertahankan kepatenan jalan napas dengan head-tilt dan chin-lift; Posisikan semi-Fowler atau Fowler; Berikan minum hangat; Lakukan penghisapan lendir kurang dari 15 detik; Ajarkan teknik batuk efektif; Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran, mukolitik, jika perlu.

Defisit Nutrisi (D.0019)

  • Luaran Utama: Status Nutrisi (L.03030): Porsi makanan yang dihabiskan meningkat, verbalisasi keinginan untuk meningkatkan nutrisi meningkat, berat badan membaik, indeks massa tubuh (IMT) membaik, sariawan menurun.
  • Intervensi Utama: Manajemen Nutrisi (I.03119): Identifikasi status nutrisi; Identifikasi alergi dan intoleransi makanan; Identifikasi makanan yang disukai; Monitor asupan makanan; Monitor berat badan; Monitor hasil pemeriksaan laboratorium; Lakukan oral hygiene sebelum makan, jika perlu; Sajikan makanan secara menarik dan suhu yang sesuai; Berikan makanan tinggi serat untuk mencegah konstipasi; Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein; Ajarkan diet yang diprogramkan; Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrien yang dibutuhkan, jika perlu.

Diare (D.0020)

  • Luaran Utama: Eliminasi Fekal (L.04033): Kontrol pengeluaran feses meningkat, konsistensi feses membaik, frekuensi defekasi membaik, peristaltik usus membaik.
  • Intervensi Utama: Manajemen Diare (I.03101): Monitor tanda dan gejala diare (mis. turgor kulit, maserasi anal, demam); Monitor jumlah pengeluaran diare; Monitor keamanan penyiapan makanan; Berikan asupan cairan oral (mis. larutan gula garam, oralit); Pasang jalur intravena dan berikan cairan intravena, jika perlu; Ambil sampel feses untuk kultur, jika perlu; Instruksikan pasien dan keluarga mencatat warna, volume, frekuensi, dan konsistensi feses; Ajarkan makanan selingan yang rendah serat dan tinggi protein; Kolaborasi pemberian obat antimikroba atau antiparasit, jika perlu.

Rencana Intervensi Diagnosis 4-6

Ketidakpatuhan (D.0114)

  • Luaran Utama: Tingkat Kepatuhan (L.12110): Perilaku mengikuti program perawatan/pengobatan meningkat, tanda dan gejala penyakit menurun, perilaku menjalankan anjuran meningkat, pencapaian target emosional membaik.
  • Intervensi Utama: Modifikasi Perilaku (I.12395): Identifikasi kemampuan dan hambatan mengubah perilaku (stigma, ketakutan efek samping); Monitor kejadian kepatuhan minum obat; Sediakan pilihan aktivitas atau jadwal minum obat yang adaptif; Berikan penguatan positif pada perubahan perilaku yang patuh; Diskusikan hambatan menjalankan pengobatan secara terbuka tanpa menghakimi; Jadwalkan tindak lanjut secara teratur; Informasikan keluarga/PMO mengenai konsekuensi mutasi virus jika tidak menyelesaikan regimen obat secara tuntas.

Intoleransi Aktivitas (D.0056)

  • Luaran Utama: Toleransi Aktivitas (L.05047): Kemudahan melakukan aktivitas sehari-hari meningkat, kecepatan berjalan meningkat, keluhan lelah menurun, dispnea setelah aktivitas menurun, warna kulit membaik.
  • Intervensi Utama: Manajemen Energi (I.05178): Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan; Monitor kelelahan fisik dan emosional; Monitor pola dan jam tidur; Monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama melakukan aktivitas; Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus; Lakukan latihan rentang gerak pasif dan/atau aktif; Fasilitasi duduk di sisi tempat tidur, jika tidak dapat berpindah atau berjalan; Anjurkan tirah baring; Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap; Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan. 

Hipertermia (D.0130)

  • Luaran Utama: Termoregulasi (L.14134): Menggigil menurun, kulit merah menurun, kejang menurun, takikardia menurun, suhu tubuh membaik, suhu kulit membaik.
  • Intervensi Utama: Manajemen Hipertermia (I.14506): Identifikasi penyebab hipertermia (mis. dehidrasi, terpapar lingkungan panas, penggunaan inkubator); Monitor suhu tubuh; Monitor kadar elektrolit; Monitor keluaran urine; Monitor komplikasi akibat hipertermia; Longgarkan atau lepaskan pakaian; Basahi dan kipasi permukaan tubuh; Berikan cairan oral; Ganti linen setiap hari atau lebih sering jika mengalami hiperhidrosis; Hindari pemberian antipiretik atau aspirin pada kondisi tertentu; Kolaborasi pemberian cairan dan elektrolit intravena, jika perlu.

Rencana Intervensi Diagnosis 7-10

Nyeri Kronis (D.0078)

  • Luaran Utama: Tingkat Nyeri (L.08066): Keluhan nyeri menurun, meringis menurun, sikap protektif menurun, gelisah menurun, kemampuan menuntaskan aktivitas meningkat.
  • Intervensi Utama: Manajemen Nyeri (I.08238): Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri; Identifikasi skala nyeri; Identifikasi respon nyeri non verbal; Identifikasi faktor yang memperberat dan memperringan nyeri; Monitor keberhasilan terapi komplementer yang sudah diberikan; Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis. TENS, hipnosis, akupresur, terapi musik, biofeedback, terapi pijat, aromaterapi, teknik imajinasi terbimbing, kompres hangat/dingin); Fasilitasi istirahat dan tidur; Jelaskan strategi meredakan nyeri; Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu.

Harga Diri Rendah Situasional (D.0087)

  • Luaran Utama: Harga Diri (L.09069): Penilaian diri positif meningkat, perasaan memiliki kelebihan meningkat, penerimaan penilaian positif terhadap diri sendiri meningkat, verbalisasi perasaan malu menurun, perilaku tidak percaya diri menurun.
  • Intervensi Utama: Promosi Harga Diri (I.09308): Monitor verbalisasi yang merendahkan diri sendiri; Identifikasi budaya, agama, ras, jenis kelamin, dan usia terhadap harga diri; Motivasi terlibat dalam verbalisasi positif untuk diri sendiri; Terbuka terhadap kesedihan atau krisis; Diskusikan pernyataan tentang harga diri; Berikan umpan balik positif atas peningkatan kemampuan; Jelaskan pada keluarga pentingnya dukungan dalam mengubah konsep diri positif; Ajarkan cara mengubah koping destruktif menjadi koping konstruktif.

Isolasi Sosial (D.0121)

  • Luaran Utama: Keterlibatan Sosial (L.13116): Minat berinteraksi meningkat, verbalisasi tujuan yang jelas meningkat, perilaku menarik diri menurun, afek murung/sedih menurun, kontak mata membaik.
  • Intervensi Utama: Promosi Sosialisasi (I.13498): Identifikasi kemampuan melakukan interaksi dengan orang lain; Monitor kemajuan perilaku interaksi; Berikan umpan balik positif pada setiap peningkatan kemampuan; Motivasi meningkatkan keterlibatan dalam suatu hubungan; Motivasi berpartisipasi dalam aktivitas kelompok atau interaksi; Diskusikan kekuatan dan keterbatasan dalam berkomunikasi dengan orang lain; Jelaskan pentingnya berinteraksi dengan orang lain; Ajarkan berinteraksi dengan orang lain secara bertahap.

Risiko Infeksi (D.0142)

  • Luaran Utama: Tingkat Infeksi (L.14137): Demam menurun, kemerahan menurun, nyeri menurun, piuria menurun, kadar sel darah putih membaik, kultur darah/urine membaik.
  • Intervensi Utama: Pencegahan Infeksi (I.14539): Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik; Batasi jumlah pengunjung; Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan lingkungan pasien; Pertahankan teknik aseptik pada pasien berisiko tinggi; Berikan perawatan kulit pada area edema; Ganti linen secara berkala; Jelaskan tanda dan gejala infeksi; Ajarkan cara mencuci tangan dengan benar; Ajarkan cara memeriksa kondisi luka; Kolaborasi pemberian imunisasi atau terapi antimikroba, jika ada indikasi klinis kuat. 

(PPNI, 2017; PPNI, 2018; PPNI, 2019)

4. Implementasi

Prosedur Restorasi Kepatuhan

Pelaksanaan tindakan keperawatan diselenggarakan secara sistematis dan hati-hati berdasarkan SIKI guna merestorasi status kesehatan pasien pasca-putus obat. Perawat memantau kepatenan jalan napas dan melakukan fisioterapi dada, menyajikan formula diet nutrisi TKTP porsi kecil tapi sering disertai oral hygiene pasca-pemberian nystatin topikal, serta mengukur volume cairan intake-output akibat dehidrasi diare (Sujayatmo, 2021).

Manajemen Regimen Baru

Menginisiasi kembali pemberian terapi kombinasi ART lini baru sesuai instruksi medis dengan menerapkan pendekatan tanpa menghakimi (non-judgmental approach), memberikan edukasi intensif mengenai pencegahan resistensi silang kepada pasien dan PMO, melakukan perawatan lesi kulit secara aseptik, serta memfasilitasi sesi konseling motivasional untuk membangun kembali rasa percaya diri pasien dalam program pengobatan seumur hidup (PPNI, 2018; Nasronudin, 2021).

5. Evaluasi

Parameter Pemulihan Virologis

Evaluasi asuhan keperawatan didokumentasikan menggunakan catatan perkembangan SOAP untuk memverifikasi efektivitas intervensi. Kriteria keberhasilan mencakup bersihnya jalan napas tanpa suara ronkhi, peningkatan berat badan pasien menuju rentang ideal tanpa disertai keluhan disfagia, serta pulihnya konsistensi eliminasi fekal menjadi padat teratur (PPNI, 2019).

Parameter Keberhasilan Retensi

Kepatuhan minum obat antiretroviral pasien mencapai tingkat optimal (>95%) tanpa adanya episode dosis terlewat, tingkat harga diri situasional pasien meningkat ditandai dengan kemampuan mengekspresikan penerimaan terhadap regimen pengobatan, pasien aktif kembali berinteraksi dengan sistem pendukungnya, serta hasil laboratorium menunjukkan penurunan kadar viral load plasma secara signifikan menuju status tidak terdeteksi disertai peningkatan hitung sel CD4+ secara bertahap (Djoerban, 2022; Merati, 2020).

DAFTAR PUSTAKA

APN+. (2022). Barriers to retention in care and antiretroviral therapy adherence in Asia-Pacific. Journal of the International AIDS Society, 25(3). jiasociety.org/index.php/jias/article/view/25890

ASI. (2022). Immunological rebound and opportunistic infections following antiretroviral therapy interruption. Indian Journal of Medical Research, 155(2). ijmr.org.in/article.asp?issn=0971-5916

Bartlett, J. G. (2019). Medical Management of HIV Infection (17th ed.). Philadelphia: Knowledge Press.

CDC. (2021). Behavioral and clinical characteristics of persons receiving medical care for HIV. CDC HIV Surveillance Report, 33(1). cdc.gov/hiv/library/reports/hiv-surveillance.html

CMA. (2023). Chinese guidelines for the management of HIV/AIDS treatment interruption. Chinese Medical Journal, 136(8). cmj.org/main/information/content.asp?id=136/8/921

Djoerban, Z. (2022). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam: Kegagalan Terapi Antiretroviral dan Tata Laksana Mangkir Obat (6th ed.). Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI.

Fauci, A. S. (2022). Harrison’s Principles of Internal Medicine: The Consequences of Antiretroviral Therapy Interruption (21st ed.). New York: McGraw-Hill Education.

JSAR. (2021). Risk factors associated with loss to follow-up among HIV-infected patients. The Journal of AIDS Research, 23(4). jaids.jp/journal/view.php?number=23/4/210

KSID. (2020). Clinical impact of treatment interruption in patients with advanced HIV infection. Infection & Chemotherapy, 52(3). icjournal.org/DOIx.php?id=10.3947/ic.2020.52.3.345

Merati, T. P. (2020). Strategi Konseling dan Pendekatan Klinis pada Pasien HIV Putus Obat. Denpasar: Udayana University Press.

Nasronudin. (2021). Penyakit Infeksi di Indonesia: Manajemen Pasien Mangkir dan Resistensi Obat HIV/AIDS. Surabaya: Airlangga University Press.

PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (1st ed.). Jakarta: DPP PPNI. 

PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (1st ed.). Jakarta: DPP PPNI. 

PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan (1st ed.). Jakarta: DPP PPNI. 

Soelistijo, S. A. (2023). Dampak klinis dan inflamasi sistemik akibat putus obat antiretroviral. Jurnal Penyakit Dalam Indonesia, 10(1). jpdi.ui.ac.id/index.php/jpdi/article/view/1012


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *