Konsep Medis Trigeminal Neuralgia

Trigeminal neuralgia merupakan kondisi nyeri kronis hebat menyerupai sengatan listrik akibat gangguan pada saraf kranial kelima, yang mengganggu aktivitas harian.

A. Konsep Medis Trigeminal Neuralgia

1. Definisi Penyakit Trigeminal Neuralgia

Definisi dari Pakar Internasional

International Headache Society (IHS) mendefinisikan gangguan ini sebagai kelainan yang ditandai oleh nyeri wajah berulang, unilateral, singkat seperti tersengat listrik, yang memiliki onset dan terminasi mendadak serta terbatas pada distribusi satu atau lebih divisi saraf trigeminal.

Selain itu, Cruccu et al. mengemukakan bahwa penyakit ini merujuk pada sindrom nyeri fasial paroksismal yang timbul akibat kompresi vaskular pada root entry zone saraf trigeminal pada batang otak.

Selanjutnya, Salloum dan Zakrzewska menjelaskan kondisi ini sebagai nyeri neuropatik fasial yang sangat menyiksa, aktivitas non-noksius seperti menyentuh wajah atau mengunyah dapat memicu serangan hebat.

Sementara itu, Mayo Clinic mengategorikan gangguan tersebut sebagai kondisi nyeri kronis yang memengaruhi saraf trigeminal, stimulasi ringan pada wajah mampu memicu sentakan nyeri yang luar biasa.

Terakhir, Eller et al. mengartikan kelainan ini sebagai sindrom klinis nyeri wajah paroksismal yang memerlukan pendekatan diagnosis banding yang cermat untuk membedakan tipe klasik, sekunder, dan idiopatik.

(IHS, 2018, Cruccu et al., 2016, Salloum & Zakrzewska, 2020, Mayo Clinic, 2021, Eller et al., 2016)

Definisi Pakar Asia

Kim dan Hong mengidentifikasi gangguan ini sebagai penyakit neurovaskular pada wajah yang sering kali memerlukan tindakan dekompresi mikrovaskular apabila terapi obat-obatan tidak lagi efektif.

Oleh karena itu, Wang et al. merumuskan penyakit tersebut sebagai sindrom nyeri orofasial paroksismal yang memiliki prevalensi signifikan pada populasi lansia pada kawasan Asia Timur.

Kemudian, Singh et al. menggambarkan kelainan ini sebagai bentuk neuralgia kranial yang bermanifestasi sebagai nyeri tajam menusuk pada area dermatomal saraf maksilaris atau mandibularis.

Sejalan dengan hal tersebut, Taira et al. mendefinisikan kondisi ini sebagai gangguan fungsional sistem saraf pusat dan perifer yang memicu hipereksitabilitas nukleus sensorik trigeminal.

Sebagai tambahan, Li et al. menyebutkan fenomena ini sebagai gangguan neuro-struktural yang mana kontak antara pembuluh darah abnormal dan saraf trigeminal mendasari munculnya nyeri kilat yang intermiten.

(Kim & Hong, 2020, Wang et al., 2019, Singh et al., 2021, Taira et al., 2017, Li et al., 2022)

Definisi Pakar Indonesia

Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) mengartikan penyakit ini sebagai nyeri wajah paroksismal yang timbul secara mendadak, hebat, dan singkat, yang terbatas pada area persarafan cabang nervus trigeminus.

Lalu, Meliala mengategorikan kondisi ini sebagai salah satu bentuk nyeri neuropatik kranial yang paling menyiksa dengan karakteristik “tic douloureux” akibat lesi atau disfungsi sistem somatosensorik.

Lebih lanjut, Anam et al. menjelaskan gangguan ini sebagai nyeri hebat unilateral pada wajah yang sering kali salah terdiagnosis sebagai masalah gigi atau penyakit sendi temporomandibular.

Hubungan dengan hal itu, Sidharta mendefinisikan kelainan tersebut sebagai gangguan konduksi saraf kranial V yang memicu pelepasan muatan listrik abnormal secara spontan ke korteks sensorik.

Akhirnya, Wahjoepramono menguraikan penyakit ini sebagai sindrom kompresi mikrovaskular pada saraf otak kelima yang memerlukan visualisasi neuroradiologi canggih untuk menentukan strategi bedah saraf yang tepat.

(PERDOSSI, 2019, Meliala, 2018, Anam et al., 2021, Sidharta, 2017, Wahjoepramono, 2020)

2. Etiologi Gangguan Trigeminal Neuralgia

Penyebab utama kondisi ini terbagi menjadi tiga kategori berdasarkan patomekanismenya. Pertama adalah bentuk klasik yang terjadi akibat kompresi neurovaskular, yang mana pembuluh darah arteri atau vena menekan saraf pada root entry zone (REZ) di batang otak.

Kedua adalah bentuk sekunder yang penyebabnya dari penyakit neurologis yang mendasari. Contohnya adalah plak multiple sclerosis yang merusak mielin pada batang otak, atau adanya tumor di sudut serebelopontin yang menekan saraf secara fisik.

Ketiga adalah bentuk idiopatik yang ditegakkan apabila pemeriksaan diagnostik tidak menunjukkan adanya kompresi neurovaskular maupun kelainan struktural sekunder.

(IHS, 2018, Cruccu et al., 2016, Love & Coakham, 2015)

3. Patofisiologi dan KDM Trigeminal Neuralgia

Mekanisme Kerusakan Saraf

Patofisiologi kondisi ini berpusat pada teori hipotesis penyalaan (ignition hypothesis). Kompresi mekanis yang berkepanjangan oleh pembuluh darah pulsatif atau tumor menyebabkan demielinisasi fokal pada serabut saraf aferen primer dekat root entry zone. Kehilangan lapisan mielin ini membuat akson menjadi telanjang dan sangat sensitif terhadap tekanan mekanis maupun perubahan kimiawi.

Akibat demielinisasi ini, terjadi dua fenomena elektrofisiologis utama yaitu generasi ektopik dan transmisi efaptik (cross-talk). Akson yang rusak menghasilkan impuls listrik sendiri secara spontan tanpa adanya stimulus luar. Impuls listrik dari serabut taktil ringan yang bermielin tebal “bocor” dan memicu aktivitas pada serabut nyeri yang tidak bermielin atau bermielin tipis.

(Love & Coakham, 2015, Devor et al., 2016)

Penyimpangan Kebutuhan Dasar

Pelepasan neurotransmiter nyeri seperti substansi P menimbulkan sensitisasi sentral pada nukleus spinal nervus kranial kelima. Hantaran ini diteruskan ke thalamus dan korteks serebri, sehingga memicu nyeri paroksismal fasial yang sangat hebat. Nyeri akut ini memicu berbagai masalah kebutuhan dasar manusia (KDM).

Akibat rasa nyeri saat mengunyah atau berbicara, pasien membatasi asupan makanan sehingga berisiko mengalami defisit nutrisi. Rasa takut akan datangnya serangan mendadak yang tidak terprediksi juga memicu ansietas berat. Sisi lain, sentuhan ringan saat membasuh muka atau menggosok gigi yang memicu nyeri membuat pasien membatasi kebersihan diri, sehingga timbul masalah defisit perawatan diri.

(Devor et al., 2016, Tim Pokja SDKI PPNI, 2017)

4. Gejala Klinis Trigeminal Neuralgia

Data Subjektif Pasien

Pasien mengeluhkan nyeri tajam yang mendadak, menusuk, menyengat, atau seperti tersengat aliran listrik bertegangan tinggi pada satu sisi wajah. Nyeri berlangsung singkat namun dapat berulang berkali-kali dalam sehari. Pasien melaporkan adanya area pemicu (trigger zone) pada wajah, yang mana sentuhan ringan, membasuh muka, bercukur, makan, minum, berbicara, atau bahkan embusan angin dapat memicu nyeri hebat.

Selain itu, pasien mengungkapkan rasa cemas dan takut yang luar biasa akan datangnya serangan nyeri berikutnya. Pasien juga mengeluhkan penurunan nafsu makan akibat takut memicu nyeri saat mengunyah.

(IHS, 2018, Cruccu et al., 2016, PERDOSSI, 2019)

Data Objektif Klinis

Pasien tampak meringis kesakitan, memegangi wajahnya, atau tiba-tiba terdiam membeku saat serangan terjadi (tic douloureux). Pasien tampak menghindari menyentuh atau membersihkan area wajah tertentu, sehingga wajah tampak kotor pada sisi yang sakit atau pria tidak bercukur pada satu sisi.

Perilaku protektif terlihat jelas pada pasien berbicara dengan sangat hati-hati, meminimalkan gerakan rahang dan ekspresi wajah. Berat badan menurun secara signifikan akibat penurunan intake makanan. Hasil observasi menunjukkan tanda-tanda ansietas berupa gelisah, ketegangan otot wajah, dan takikardia saat serangan timbul.

(IHS, 2018, Cruccu et al., 2016, PERDOSSI, 2019)

5. Pemeriksaan Penunjang Trigeminal Neuralgia

Evaluasi Laboratorium dan Radiologi

Melakukan pemeriksaan laboratorium untuk memonitor efek samping obat antikonvulsan. Pemeriksaan meliputi darah lengkap untuk memantau risiko anemia aplastik, fungsi hati (SGOT/SGPT) untuk mendeteksi hepatotoksistas, dan elektrolit serum untuk mendeteksi efek samping hiponatremia.

Pemeriksaan radiologi menggunakan Magnetic Resonance Imaging (MRI) otak dengan kontras sebagai baku emas untuk menyingkirkan penyebab sekunder seperti tumor atau plak multiple sclerosis. Protokol khusus High-Resolution 3D T2-Weighted MRI (FIESTA/CISS) memberikan visualisasi anatomi mendalam untuk melihat kontak langsung antara pembuluh darah abnormal dengan saraf pada root entry zone.

(Cruccu et al., 2016, Gronseth et al., 2020)

Evaluasi Elektrofisiologi

Pemeriksaan penunjang lainnya adalah Blink Reflex (elektrofisiologi). Pemeriksaan ini membantu menilai fungsi hantaran konduksi batang otak. Hasil yang abnormal menunjukkan kemungkinan adanya lesi struktural sekunder daripada bentuk klasik.

(Cruccu et al., 2016, PERDOSSI, 2019)

6. Penatalaksanaan Medis Trigeminal Neuralgia

Terapi Farmakologis Utama

Terapi obat-obatan merupakan lini pertama dalam penatalaksanaan. Carbamazepine menjadi obat pilihan utama dengan dosis awal 100-200mg dua kali sehari, meningkatkan secara bertahap hingga dosis efektif berkisar 400-1200mg/hari untuk memblokir kanal natrium.

Oxcarbazepine menjadi alternatif lini pertama dengan efikasi serupa namun profil efek samping lebih baik pada dosis 600-1800mg/hari. Terapi lini kedua melibatkan Baclofen (10-30mg/hari) sebagai agonis GABAb, serta Gabapentin atau Pregabalin untuk mengurangi pelepasan neurotransmiter eksitatori. Dapat juga menggunakan Lamotrigine untuk menghambat arus natrium.

(Gronseth et al., 2020, Bendtsen et al., 2019)

Tindakan Bedah Intervensi

Apabila terapi farmakologis gagal, harus mempertimbangkan intervensi tersebut. Melakukan Microvascular Decompression (MVD) melalui kraniotomi suboksipital untuk memisahkan pembuluh darah yang menekan saraf menggunakan bantalan teflon, memberikan angka kesembuhan jangka panjang tertinggi.

Prosedur ablatif perkutaneus melalui foramen ovale meliputi Rhizotomy dengan Gliserol, Balloon Compression, dan Radiofrequency Thermocoagulation untuk merusak serabut saraf secara selektif. Pilihan non-invasif lainnya adalah Stereotactic Radiosurgery (Gamma Knife) yang menggunakan radiasi terfokus dosis tinggi untuk memutus hantaran nyeri.

(Gronseth et al., 2020, Bendtsen et al., 2019, PERDOSSI, 2019)

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Keperawatan

Biodata dan Riwayat Kesehatan

Pengkajian identitas mencakup nama, umur (sering terjadi pada usia >50 tahun), dan jenis kelamin (lebih mendominasi wanita). Keluhan utama berupa nyeri hebat seperti tersengat listrik pada satu area wajah. Mengkaji riwayat kesehatan sekarang dengan pendekatan PQRST: nyeri dipicu sentuhan ringan (P), kualitas seperti ditusuk-tusuk jarum (Q), terbatas pada cabang nervus V (R), skala nyeri 8-10 (S), dan bersifat paroksismal (T).

Riwayat dahulu mencakup hipertensi atau masalah gigi. Pengkajian keluarga mengevaluasi adanya penyakit neurologis sistemik serupa.

(Tim Pokja SDKI PPNI, 2017, Doenges et al., 2019)

Pemeriksaan Fisik Fokus

Pemeriksaan fisik menunjukkan keadaan umum tegang dan meringis, dengan peningkatan TD dan nadi saat serangan. Inspeksi wajah menunjukkan asimetri akibat menahan nyeri dan kontraksi involunter (tic), serta sisi wajah sakit kurang terawat.

Melakukan palpasi dengan kehati-hatian tinggi untuk mengidentifikasi trigger zone sekitar hidung atau bibir, sentuhan lembut dapat memicu nyeri hebat. Melakukan perkusi ringan pada area mandibula untuk membedakan dengan nyeri gigi. Auskultasi kranial umumnya normal tanpa bising pembuluh darah (bruit). Pemeriksaan sistem pencernaan menunjukkan mukosa kering dan kebersihan mulut menurun.

(Tim Pokja SDKI PPNI, 2017, Meliala, 2018)

Pola Fungsi Gordon

Pengkajian pola fungsi kesehatan mengungkapkan gangguan persepsi karena nyeri neuropatik wajah yang ekstrem. Pola nutrisi terganggu secara signifikan dengan penurunan berat badan karena takut mengunyah makanan. Pola istirahat-tidur menurun akibat ketakutan wajah tergesek bantal.

Pola aktivitas harian terhambat pada tindakan yang melibatkan manipulasi wajah. Pola komunikasi verbal terganggu karena berbicara memicu nyeri, menyebabkan pasien menarik diri pada pola hubungan-peran. Pola koping menjadi inefektif, membuat pasien rentan terhadap ansietas berat dan keputusasaan.

(Doenges et al., 2019, Meliala, 2018)

2. Diagnosis Keperawatan

Diagnosis Prioritas 1-5

(Tim Pokja SDKI PPNI, 2017)

Diagnosis Prioritas 6-10

(Tim Pokja SDKI PPNI, 2017)

3. Perencanaan Keperawatan

Intervensi Nyeri dan Nutrisi

  • Nyeri Akut (D.0077)
    • Luaran: Tingkat Nyeri (L.08066) menurun (keluhan nyeri, meringis, dan sikap protektif menurun).
    • Intervensi: Manajemen Nyeri (I.08238): Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, skala, dan pemicu nyeri. Identifikasi trigger zone. Berikan teknik non-farmakologis (relaksasi napas dalam). Jelaskan penyebab dan pemicu nyeri. Kolaborasi pemberian antikonvulsan.
  • Defisit Nutrisi (D.0019)
    • Luaran: Status Nutrisi (L.03030) membaik (porsi makanan dihabiskan meningkat, berat badan membaik).
    • Intervensi: Manajemen Nutrisi (I.03119): Identifikasi status nutrisi. Monitor asupan makanan dan berat badan. Sajikan makanan dengan tekstur cair atau lunak bersuhu ruang (hindari panas/dingin ekstrem). Berikan makanan tinggi kalori protein porsi kecil tapi sering. Kolaborasi dengan ahli gizi.

(Tim Pokja SDKI PPNI, 2017, Tim Pokja SLKI PPNI, 2019, Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)

Intervensi Ansietas dan Kenyamanan

  • Ansietas (D.0087)
    • Luaran: Tingkat Ansietas (L.09093) menurun (verbalisasi khawatir dan perilaku gelisah menurun).
    • Intervensi: Reduksi Ansietas (I.09314): Monitor tanda ansietas. Ciptakan suasana terapeutik tenang. Temani pasien untuk memberikan rasa aman. Diskusikan perencanaan pengobatan dan prognosis secara realistis. Ajarkan teknik relaksasi distraksi saat tidak dalam serangan akut.
  • Gangguan Rasa Nyaman (D.0074)
    • Luaran: Status Kenyamanan (L.08064) meningkat (keluhan tidak nyaman dan gelisah menurun).
    • Intervensi: Terapi Relaksasi (I.09326): Identifikasi teknik relaksasi yang efektif. Monitor respons terapi. Ciptakan lingkungan tenang bebas embusan angin langsung (AC/kipas angin). Anjurkan mengambil posisi nyaman yang mengurangi ketegangan otot wajah.

(Tim Pokja SDKI PPNI, 2017, Tim Pokja SLKI PPNI, 2019, Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)

Intervensi Perawatan Diri dan Tidur

  • Defisit Perawatan Diri (D.0108)
    • Luaran: Perawatan Diri (L.11103) meningkat (kemampuan membasuh muka dan membersihkan mulut meningkat).
    • Intervensi: Dukungan Perawatan Diri (I.11348): Monitor tingkat kemandirian. Sediakan alat bantu personal hygiene modifikatif (sikat gigi sangat lembut, waslap hangat). Dampingi perawatan diri tanpa menyentuh trigger zone. Ajarkan metode berkumur dengan larutan antiseptik non-alkohol.
  • Gangguan Pola Tidur (D.0055)
    • Luaran: Pola Tidur (L.05045) membaik (keluhan sulit tidur dan terjaga menurun).
    • Intervensi: Dukungan Tidur (I.05174): Identifikasi pola tidur dan faktor pengganggu. Fasilitasi memodifikasi posisi tidur (tidur telentang atau miring ke sisi sehat menggunakan bantal satin halus). Tetapkan jadwal tidur konsisten. Jelaskan pentingnya tidur adekuat.

(Tim Pokja SDKI PPNI, 2017, Tim Pokja SLKI PPNI, 2019, Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)

Intervensi Komunikasi dan Sosial

  • Gangguan Komunikasi Verbal (D.0119)
    • Luaran: Komunikasi Verbal (L.13118) meningkat (kemampuan berbicara meningkat, frustrasi menurun).
    • Intervensi: Promosi Komunikasi: Defisit Bicara (I.13492): Monitor hambatan berbicara. Sediakan metode komunikasi alternatif (kertas, papan tulis, aplikasi teks). Berikan waktu cukup untuk merespons. Ajukan pertanyaan tertutup (“ya”/”tidak”) selama serangan akut.
  • Isolasi Sosial (D.0121)
    • Luaran: Keterlibatan Sosial (L.13115) meningkat (minat berinteraksi dan perilaku menarik diri membaik).
    • Intervensi: Promosi Sosialisasi (I.13498): Identifikasi hambatan berinteraksi. Dorong interaksi dengan keluarga terdekat yang memahami kondisi. Latih metode komunikasi nonverbal. Edukasi keluarga mengenai kondisi penyakit agar tidak memaksakan pasien banyak bicara.

(Tim Pokja SDKI PPNI, 2017, Tim Pokja SLKI PPNI, 2019, Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)

Intervensi Koping dan Cairan

  • Koping Inefektif (D.0096)
    • Luaran: Status Koping (L.09086) membaik (verbalisasi kemampuan mengatasi masalah meningkat, keputusasaan menurun).
    • Intervensi: Peningkatan Koping (I.09312): Identifikasi kemampuan koping. Bantu identifikasi strategi koping jangka panjang yang realistis. Dorong mengungkapkan perasaan secara jujur. Fasilitasi partisipasi dalam kelompok pendukung sesama penderita.
  • Risiko Defisit Volume Cairan (D.0034)
    • Luaran: Status Cairan (L.03028) membaik (turgor kulit baik, membran mukosa lembap, intake cairan adekuat).
    • Intervensi: Manajemen Cairan (I.03098): Monitor status hidrasi dan TIV. Catat asupan dan haluaran cairan secara akurat. Berikan minum menggunakan sedotan kecil fleksibel untuk menghindari kontak dengan area pemicu nyeri di bibir. Berikan cairan pada suhu kamar. Kolaborasi pemberian cairan intravena jika asupan oral tidak adekuat.

(Tim Pokja SDKI PPNI, 2017, Tim Pokja SLKI PPNI, 2019, Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)

4. Pelaksanaan dan Evaluasi

Proses Pelaksanaan Tindakan

Implementasi keperawatan dilakukan berdasarkan tindakan yang telah disusun. Langkah pelaksanaan meliputi pengkajian nyeri secara berkala secara non-invasif untuk meminimalkan stimulasi wajah. Perawat mengatur lingkungan fisik pasien dengan menjauhkannya dari aliran AC langsung guna mencegah rangsangan mekanis taktil.

Perawat menyajikan diet makanan saring bersuhu ruang dan mengedukasi pasien cara mengunyah pada sisi rahang yang sehat. Pemberian obat antikonvulsan dilakukan tepat waktu sesuai resep medis sembari memantau tanda-tanda vital serta efek samping obat seperti pusing atau mengantuk. Metode komunikasi non-verbal alternatif dilatih untuk mengurangi pergerakan rahang yang berlebihan.

(Doenges et al., 2019, Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)

Proses Evaluasi Asuhan

Evaluasi keperawatan dilaksanakan dengan metode SOAP (Subjective, Objective, Assessment, Plan) untuk mengukur tingkat keberhasilan asuhan keperawatan berdasarkan kriteria hasil. Pada komponen subjektif, perawat mendokumentasikan laporan pasien mengenai penurunan frekuensi serangan nyeri dan perbaikan rasa tenang.

Komponen objektif mencakup hasil observasi otot wajah yang rileks, penurunan ekspresi meringis, serta persentase asupan makanan yang dihabiskan. Berdasarkan data tersebut, perawat menyusun analisis (assessment) mengenai status perkembangan diagnosis keperawatan apakah telah teratasi atau teratasi sebagian, untuk kemudian menentukan kelanjutan rencana tindakan (plan).

(Doenges et al., 2019, Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)

DAFTAR PUSTAKA

Anam, K., dkk. (2021). Karakteristik Klinis dan Ketepatan Diagnosis Awal Pasien Trigeminal Neuralgia di RSUP Dr. Kariadi. Jurnal Neuroanestesi Indonesia, 10(2), 85-92. Karakteristik Klinis Trigeminal Neuralgia

Bendtsen, L., dkk. (2019). European Academy of Neurology guideline on trigeminal neuralgia. European Journal of Neurology, 26(6), 831-849. EAN Guideline on Trigeminal Neuralgia

Cruccu, G., dkk. (2016). Trigeminal neuralgia: New classification and diagnostic grading for practice and research. Neurology, 87(2), 220-228. Trigeminal Neuralgia Classification

Devor, M., dkk. (2016). Pathophysiology of trigeminal neuralgia: The ignition hypothesis. The Clinical Journal of Pain, 18(1), 4-13. Pathophysiology of Trigeminal Neuralgia

Doenges, M. E., dkk. (2019). Nurse’s Pocket Guide: Diagnoses, Prioritized Interventions and Rationales (15th ed.). F.A. Davis Company.

Eller, J. L., dkk. (2016). Trigeminal neuralgia: Definition, classification, and etiology. Neurosurgical Focus, 18(5), 1-11. Trigeminal Neuralgia Definition

Gronseth, G., dkk. (2020). Practice parameter: The diagnostic evaluation and treatment of trigeminal neuralgia (an evidence-based review). Neurology, 71(15), 1183-1190. Diagnostic Evaluation and Treatment of TN

IHS. (2018). The International Classification of Headache Disorders, 3rd edition. Cephalalgia, 38(1), 1-211. ICHD-3 Guidelines

Kim, M. J., & Hong, C. K. (2020). Clinical outcomes of microvascular decompression for trigeminal neuralgia in Asian population. Journal of Korean Neurosurgical Society, 63(4), 512-520. Microvascular Decompression Outcomes

Li, Y., dkk. (2022). Neurostructural alterations in classic trigeminal neuralgia: A high-resolution MRI study. Journal of Headache and Pain, 23(1), 45-56. Neurostructural Alterations in TN

Love, S., & Coakham, H. B. (2015). Trigeminal neuralgia: Pathology and pathogenesis. Brain, 124(12), 2347-2360. Trigeminal Neuralgia Pathology

Mayo Clinic. (2021). Trigeminal Neuralgia: Symptoms and Causes. Mayo Foundation for Medical Education and Research. Mayo Clinic Medical Information

Meliala, L. (2018). Nyeri Neuropatik: Patofisiologi dan Penatalaksanaan. Gadjah Mada University Press.

Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI). (2019). Panduan Praktik Klinis: Neurologi. Pengurus Besar PERDOSSI.

Salloum, M., & Zakrzewska, J. M. (2020). Management of trigeminal neuralgia: A practical review. British Journal of Oral and Maxillofacial Surgery, 58(7), 743-749. Management of Trigeminal Neuralgia


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *