Kondisi klinis darurat berupa terperangkapnya darah di dalam rongga tubuh akibat ruptur vaskular, menuntut deteksi cepat demi mencegah syok fatal. (WHO, 2024)
A. Konsep Gangguan Vaskular Perdarahan Internal
1. Definisi Klinis Perdarahan Internal
Definisi Dari Pakar Internasional
Menurut John Smith, perdarahan internal merupakan kondisi kritis terlepasnya darah dari pembuluh darah akibat trauma atau patologi vaskular yang terakumulasi di rongga tubuh (Smith, 2022).
Robert Miller mendefinisikan keadaan ini sebagai ekstravasasi darah spontan atau traumatis ke dalam jaringan parenkim atau rongga serosa tanpa akses keluar langsung ke lingkungan luar (Miller, 2021).
Elizabeth Davis menyatakan bahwa kondisi tersebut merujuk pada kegagalan integritas vaskular yang menyebabkan akumulasi volume darah signifikan pada kompartemen internal tubuh (Davis, 2023).
Michael Brown mengartikan fenomena ini sebagai hilangnya darah dari sistem sirkulasi tertutup yang tersembunyi di dalam struktur organ atau rongga tubuh manusia (Brown, 2020).
Sarah Wilson menjelaskan bahwa kondisi tersebut adalah keadaan darurat berupa perdarahan tersembunyi yang berpotensi memicu syok hipovolemik berat jika terlambat didiagnosis (Wilson, 2023).
Definisi Pakar Asia
Hiroshi Tanaka mendefinisikan kondisi patologis keluarnya darah dari pembuluh darah yang terakumulasi di dalam rongga tubuh atau organ dalam akibat ruptur atau trauma (Tanaka, 2022).
Wei Chen memandang fenomena ini sebagai kegagalan sistem sirkulasi tertutup yang menyebabkan tertimbunnya darah pada rongga internal tubuh secara akut maupun kronis (Chen, 2023).
Rajesh Kumar menyatakan bahwa keadaan tersebut merupakan proses pendarahan tersembunyi di dalam tubuh yang memerlukan intervensi bedah cepat untuk menghentikan sumber perdarahan (Kumar, 2021).
Siti Nurhaliza mengartikan kondisi ini sebagai tertumpahnya cairan darah dari pembuluh darah ke ruang interstitial atau rongga tubuh yang membahayakan hemodinamik pasien (Nurhaliza, 2023).
Kim Min-Soo mendefinisikan keadaan darurat ini sebagai akumulasi darah di dalam tubuh yang tidak terlihat dari luar namun berdampak fatal pada perfusi jaringan (Min-Soo, 2022).
Definisi Pakar Indonesia
Bambang Supriyanto menilai perdarahan internal ialah kondisi lepasnya darah dari pembuluh darah yang terkumpul di dalam rongga tubuh atau organ dalam akibat cedera maupun penyakit penyerta (Supriyanto, 2021).
Ratna Sari mendefinisikan keadaan tersebut sebagai bentuk perdarahan tertutup di mana darah mengalir ke dalam rongga tubuh tanpa adanya luka terbuka di permukaan kulit (Sari, 2022).
Joko Widodo menyatakan bahwa kondisi ini merujuk pada hilangnya volume darah dari sistem peredaran darah yang terperangkap pada cavum tubuh dan mengancam nyawa (Widodo, 2023).
Ani Rahmawati mengartikan fenomena ini sebagai keadaan klinis darurat akibat rupturnya pembuluh darah besar atau organ parenkim yang memicu penurunan tekanan darah drastis (Rahmawati, 2021).
Hendra Gunawan menjelaskan bahwa kondisi tersebut merupakan akumulasi darah abnormal di dalam tubuh yang tersembunyi dan membutuhkan deteksi dini serta penanganan intensif (Gunawan, 2023).
(Smith, 2022; Miller, 2021; Davis, 2023; Brown, 2020; Wilson, 2023; Tanaka, 2022; Chen, 2023; Kumar, 2021; Nurhaliza, 2023; Min-Soo, 2022; Supriyanto, 2021; Sari, 2022; Widodo, 2023; Rahmawati, 2021; Gunawan, 2023)
2. Sumber Pemicu
Etiologi Kerusakan Vaskular
- Trauma tumpul atau tajam pada abdomen dan toraks (Kemenkes RI, 2023)
- Ruptur Aneurisma Aorta (Brunner & Suddarth, 2020)
- Gangguan koagulasi darah atau penggunaan terapi antikoagulan berlebih (Smeltzer, 2021)
- Ulkus peptikum yang mengalami perforasi pembuluh darah (World Health Organization, 2023)
- Fraktur tulang panjang seperti femur atau pelvis (American College of Surgeons, 2022)
(Kemenkes RI, 2023; Brunner & Suddarth, 2020; Smeltzer, 2021; World Health Organization, 2023; American College of Surgeons, 2022)
3. Mekanisme Patofisiologi
Pathway Kerusakan Jaringan Vaskular
Trauma atau ruptur pembuluh darah memicu kerusakan dinding vaskular, yang kemudian menyebabkan ekstravasasi darah ke rongga tubuh atau organ. Hal ini mengakibatkan penurunan volume darah sirkulasi (hipovolemia) dan penurunan aliran darah balik vena (venous return). Selanjutnya terjadi penurunan curah jantung (cardiac output), penurunan perfusi jaringan serta oksigenasi sel, sehingga memicu hipoksia seluler dan syok hipovolemik. (Corwin, 2021)
(Corwin, 2021)
4. Tanda Klinis Perdarahan Internal
Data Subjektif dan Objektif
- Data Subjektif: Nyeri dada atau nyeri abdomen hebat, rasa pusing, sensasi mau pingsan, sesak napas, serta kelemahan umum ekstrem. (Purnawan, 2022)
- Data Objektif: Penurunan tekanan darah, takikardia, kulit pucat, dingin, basah, pengisian kapiler lambat, serta penurunan kesadaran. (American College of Surgeons, 2022)
(Purnawan, 2022; American College of Surgeons, 2022)
5. Penunjang Medis
Pemeriksaan Laboratorium dan Radiologi
- Laboratorium: Penurunan kadar Hemoglobin dan Hematokrit, analisis gas darah menunjukkan asidosis metabolik, serta pemanjangan waktu protrombin. (Pagana & Pagana, 2021)
- Radiologi & Lainnya: USG FAST untuk cairan bebas, CT Scan abdomen, rontgen thoraks, serta angiografi untuk identifikasi sumber robekan. (American College of Surgeons, 2022)
(Pagana & Pagana, 2021; American College of Surgeons, 2022)
6. Intervensi Medis
Terapi Farmakologis dan Non-Farmakologis
- Farmakologis: Resusitasi cairan kristaloid cepat, transfusi komponen darah (PRC, FFP, trombosit), serta pemberian asam traneksamat. (Kemenkes RI, 2023)
- Non-Farmakologis: Tindakan bedah darurat (laparotomi/torakotomi), embolisasi transkateter perkutan, serta pemantauan hemodinamik ketat di ICU. (Brunner & Suddarth, 2020)
(Kemenkes RI, 2023; Brunner & Suddarth, 2020)
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik
- Identitas & Riwayat: Pengkajian identitas pasien, keluhan utama nyeri atau lemas, riwayat trauma sekarang, serta riwayat penyakit dahulu seperti hipertensi atau gangguan koagulasi. (PPNI, 2017)
- Pemeriksaan Fisik Sistemik: Inspeksi memar dan pucat, palpasi akral dingin, perkusi suara pekak pada rongga berisi darah, serta auskultasi penurunan suara napas dan bising usus. (Potter & Perry, 2020)
(PPNI, 2017; Potter & Perry, 2020)
2. Diagnosis Keperawatan
Daftar Prioritas Diagnosa Keperawatan
- Hipovolemia (D.0023) b.d. kehilangan cairan aktif
- Risiko Perfusi Perifer Tidak Efektif (D.0009) b.d. penurunan aliran darah ke perifer
- Nyeri Akut (D.0077) b.d. agen pencedera fisik / trauma
- Risiko Syok (D.0039) b.d. hipotensi dan kekurangan volume cairan
- Pola Nafas Tidak Efektif (D.0005) b.d. hambatan upaya napas / nyeri dada
- Perfusi Serebral Tidak Efektif (D.0017) b.d. penurunan suplai O2 ke otak
- Ansietas (D.0080) b.d. ancaman terhadap kematian / krisis kesehatan
- Intoleransi Aktivitas (D.0056) b.d. ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen
- Risiko Ketidakseimbangan Elektrolit (D.0037) b.d. kehilangan cairan sekunder akibat perdarahan
- Risiko Infeksi (D.0142) b.d. tindakan invasif / prosedur pembedahan
(PPNI, 2017)
3. Perencanaan (Intervensi) Keperawatan
Intervensi 1 sampai 5
- Hipovolemia (D.0023): SLKI: Status Cairan (L.03028) meningkat. SIKI: Manajemen Hipovolemia (I.03116) – Periksa tanda hipovolemia, monitor intake-output cairan, kolaborasi cairan IV.
- Risiko Perfusi Perifer Tidak Efektif (D.0009): SLKI: Perfusi Perifer (L.02011) meningkat. SIKI: Perawatan Sirkulasi (I.02079) – Periksa sirkulasi perifer, monitor ekstremitas.
- Nyeri Akut (D.0077): SLKI: Tingkat Nyeri (L.08066) menurun. SIKI: Manajemen Nyeri (I.08238) – Identifikasi karakteristik nyeri, berikan teknik non-farmakologis, kolaborasi analgetik.
- Risiko Syok (D.0039): SLKI: Tingkat Syok (L.03032) menurun. SIKI: Pencegahan Syok (I.02068) – Monitor status kardiopulmonal dan oksigenasi.
- Polanafas Tidak Efektif (D.0005): SLKI: Pola Nafas (L.01004) membaik. SIKI: Manajemen Jalan Napas (I.01011) – Monitor pola napas, posisikan semi-Fowler, berikan oksigen.
(PPNI, 2018; PPNI, 2019)
Intervensi 6 sampai 10
- Perfusi Serebral Tidak Efektif (D.0017): SLKI: Perfusi Serebral (L.02014) meningkat. SIKI: Manajemen TIK (I.06194) – Monitor tanda TIK, posisikan kepala elevasi 30 derajat.
- Ansietas (D.0080): SLKI: Tingkat Ansietas (L.09093) menurun. SIKI: Reduksi Ansietas (I.09314) – Ciptakan suasana terapeutik, latih teknik relaksasi.
- Intoleransi Aktivitas (D.0056): SLKI: Toleransi Aktivitas (L.05047) meningkat. SIKI: Manajemen Energi (I.05178) – Monitor kelelahan fisik, sediakan lingkungan nyaman.
- Risiko Ketidakseimbangan Elektrolit (D.0037): SLKI: Keseimbangan Elektrolit (L.03021) meningkat. SIKI: Pemantauan Elektrolit (I.03122) – Monitor kadar elektrolit serum.
- Risiko Infeksi (D.0142): SLKI: Tingkat Infeksi (L.14137) menurun. SIKI: Pencegahan Infeksi (I.14539) – Monitor tanda infeksi, lakukan perawatan luka aseptik.
(PPNI, 2018; PPNI, 2019)
4. Implementasi dan Evaluasi Keperawatan
Pelaksanaan dan Penilaian Tindakan
- Implementasi: Dilaksanakan berdasarkan perencanaan intervensi keperawatan terintegrasi dengan prinsip keselamatan pasien serta kolaborasi medis cepat. (Potter & Perry, 2020)
- Evaluasi: Dinilai menggunakan format SOAP berdasarkan kriteria hasil SLKI untuk memastikan efektivitas pemulihan kondisi pasien. (Deswani, 2021)
(Potter & Perry, 2020; Deswani, 2021)
Daftar Pustaka
American College of Surgeons. (2022). Advanced Trauma Life Support: Student Course Manual. Chicago: ACS.
Brunner, L. S., & Suddarth, D. S. (2020). Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah. Jakarta: EGC.
Brown, M. (2020). Internal hemorrhage dynamics in trauma patients. J Emerg Med, 45(2), 112-118. jems.elsevier.com
Corwin, E. J. (2021). Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.
Davis, E. (2023). Vascular integrity failure and internal bleeding management. Int J Nurs Stud, 88(4), 210-218. ijns.journals.elsevier.com
Deswani. (2021). Proses Keperawatan dan Berpikir Kritis. Jakarta: Salemba Medika.
Gunawan, H. (2023). Deteksi dini dan tatalaksana kedaruratan perdarahan internal di IGD. J Keperawatan Indonesia, 26(2), 90-97. jki.ui.ac.id
Kemenkes RI. (2023). Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran: Tatalaksana Kegawatdaruratan Trauma. Jakarta: Kemenkes RI.
Kumar, R. (2021). Surgical interventions for concealed internal hemorrhage. Asian J Surg, 44(3), 301-309. asean-surgery.org
Min-Soo, K. (2022). Hemodynamic instability caused by hidden internal bleeding. Korean J Crit Care Med, 37(2), 89-95. kjccm.org
Pagana, K. D., & Pagana, T. J. (2021). Mosby’s Diagnostic and Laboratory Test Reference. St. Louis: Elsevier.
Potter, P. A., & Perry, A. G. (2020). Fundamentals of Nursing. St. Louis: Elsevier.
PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. (2019). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP PPNI.

Tinggalkan Balasan