Disseminated Intravascular Coagulation adalah kondisi klinis kompleks karena adanya aktivasi sistem pembekuan darah yang berlebihan, memicu trombosis mikrovaskular, konsumsi faktor pembekuan, dan perdarahan masif secara bersamaan. (Cunha, 2023)
- A. Konsep Medis Disseminated Intravascular Coagulation (DIC)
- B. Konsep Asuhan Keperawatan
- Daftar Pustaka
A. Konsep Medis Disseminated Intravascular Coagulation (DIC)
1. Definisi Disseminated Intravascular Coagulation (DIC)
Definisi Dari Pakar Internasional
Robert S. Porter (2022) menjelaskan bahwa generasi trombin dan plasmin sistemik terjadi secara masif dalam pembuluh darah. Selain itu, kondisi tersebut mengakibatkan pembentukan trombus mikrovaskular sekaligus penipisan trombosit serta faktor pembekuan darah.
Jameson et al. (2021) mengemukakan bahwa suatu sindrom dapat ditandai oleh aktivasi intravascular koagulasi yang meluas. Selanjutnya, proses ini berpotensi menyebabkan kerusakan organ multipel dan perdarahan berat akibat kehabisan komponen pembekuan.
Kumar, Abbas, dan Aster (2021) mendefinisikan komplikasi trombohemoragik sistemik yang timbul sekunder akibat berbagai penyakit penyerta berat. Terlebih lagi, keadaan ini dengan deposisi fibrin yang luas pada pembuluh darah kecil.
Hoffman et al. (2020) menjabarkan bahwa proses patologis sistemik terjadi ketika koagulasi intravaskular tidak terkendali. Oleh karena itu, hal ini menyebabkan iskemia organ akhir dan diatesis hemoragik yang parah.
Longo et al. (2022) menyatakan bahwa gangguan hemostasis sistemik yang muncul oleh paparan jaringan faktor ke sirkulasi darah. Pada akhirnya, mekanisme ini memicu pembekuan luas dan perdarahan sekunder akibat konsumsi faktor pembekuan. (Porter, 2022; Jameson et al., 2021; Kumar et al., 2021; Hoffman et al., 2020; Longo et al., 2022)
Definisi Pakar Asia
Wang et al. (2023) merepresentasikan sindrom kegagalan sirkulasi darah akut yang ditandai dengan aktivasi jalur koagulasi. Sebagai tambahan, proses endogen maupun eksogen terjadi secara bersamaan dan berujung pada konsumsi komponen darah.
Tanaka dan Kobayashi (2021) menguraikan kondisi klinis kritis di mana mikrotrombi terbentuk di seluruh jaringan tubuh. Akibatnya, hal tersebut menyebabkan disfungsi organ multipel serta perdarahan sistemik yang sulit dikontrol.
Chen et al. (2022) memandang gangguan koagulasi sekunder sebagai kondisi yang sangat mematikan. Sementara itu, keadaan ini ditandai oleh ketidakseimbangan parah antara aktivitas pembekuan darah dan fibrinolisis sistemik.
Kim et al. (2023) mencatat manifestasi sistemik dari pelepasan sitokin proinflamasi. Di samping itu, sitokin ini memicu pembekuan darah masif di pembuluh darah mikroskopis serta menghabiskan cadangan hemostatik tubuh.
Sato et al. (2021) mengidentifikasi sindrom trombohemoragik didapat yang diakibatkan oleh berbagai pemicu patologis seperti sepsis. Lebih lanjut, kondisi berat tersebut secara langsung mengganggu keseimbangan mekanisme pembekuan darah. (Wang et al., 2023; Tanaka & Kobayashi, 2021; Chen et al., 2022; Kim et al., 2023; Sato et al., 2021)
Definisi Pakar Indonesia
Sudoyo et al. (2019) merumuskan sindrom klinis yang ditandai dengan proses pembekuan darah meluas di pembuluh darah kecil. Selain itu, keadaan ini berakibat pada kekurangan faktor pembekuan dan trombosit sehingga memicu perdarahan hebat.
Rani et al. (2020) menyebutkan gangguan hemostasis generalisata yang melibatkan aktivasi koagulasi intravaskular. Pada waktu yang sama, pembentukan fibrin berlebihan serta fibrinolisis sekunder berujung pada manifestasi trombotik dan hemoragik.
Purnawan et al. (2021) menjelaskan keadaan patologis di mana terjadi pembekuan darah secara berlebihan di dalam sirkulasi. Selanjutnya, hal tersebut menyebabkan konsumsi faktor pembekuan secara total dan berisiko tinggi menimbulkan kematian.
Amin et al. (2022) menguraikan komplikasi sistemik akut yang ditandai oleh koagulasi intravaskular difus. Di samping itu, terjadi pula oklusi mikrovaskular serta destruksi komponen pembekuan darah akibat penyakit dasar.
Dahlan (2020) mendefinisikan kegawatanguratan medis berupa ketidakseimbangan sistem koagulasi dan fibrinolisis. Terlebih lagi, kondisi ini memicu pembentukan trombus mikro dan perdarahan masif secara bersamaan. (Sudoyo et al., 2019; Rani et al., 2020; Purnawan et al., 2021; Amin et al., 2022; Dahlan, 2020)
2. Etiologi dan Pemicu Disseminated Intravascular Coagulation (DIC)
Faktor Utama Pemicu
Sepsis dan infeksi berat (terutama bakteri gram negatif dan gram positif) (Cunha, 2023)
Trauma masif, cedera kepala berat, dan luka bakar luas (Porter, 2022)
Komplikasi obstetrik (seperti solusio plasenta, emboli air ketuban, dan eklamsia) (Jameson et al., 2021)
Keganasan atau kanker stadium lanjut (terutama leukemia promielositik akut dan adenokarsinoma) (Kumar et al., 2021)
Reaksi transfusi darah akut dan reaksi imunohemolitik (Hoffman et al., 2020)
Gigitan ular berbisa dan keracunan toksin berat (Tanaka & Kobayashi, 2021)
Gangguan vaskular berat (seperti aneurisma aorta besar dan hemangioma raksasa sindrom Kasabach-Merritt) (Sudoyo et al., 2019)
3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM
Mekanisme Patofisiologi Sistemik
Kondisi ini bermula dari adanya penyakit atau kondisi dasar yang memicu pelepasan tissue factor (tromboplastin jaringan) ke dalam sirkulasi darah secara berlebihan. Masuknya tissue factor ini mengaktifkan jalur ekstrinsik pembekuan darah melalui interaksi dengan faktor VIIa. Aktivasi ini menghasilkan pembentukan trombin sistemik yang masif.
Trombin yang berlimpah mengubah fibrinogen menjadi fibrin, sehingga terbentuk banyak mikrotrombi (bekuan darah kecil) di dalam sirkulasi pembuluh darah mikro. Mikrotrombi ini menyumbat aliran darah ke berbagai organ penting (seperti ginjal, paru-paru, dan otak), yang berakibat pada iskemia jaringan, hipoksia, dan berujung pada kegagalan fungsi organ multipel (MODS).
Bagan Penyimpangan KDM (Pathway)
Plaintext
[Penyakit Dasar: Sepsis / Trauma / Keganasan / Obstetri]
│
▼
[Pelepasan Tissue Factor ke Sirkulasi]
│
▼
[Aktivasi Berlebihan Jalur Koagulasi Ekstrinsik]
│
▼
[Pembentukan Trombin Sistemik Masif]
│
┌─────────────┴─────────────┐
▼ ▼
[Deposisi Fibrin Mikrovaskular] [Konsumsi Trombosit & Faktor Pembekuan]
│ │
▼ ▼
[Oklusi Kapiler & Iskemia Organ] [Defisiensi Faktor Pembekuan (Konsumtif)]
│ │
├─────────────┐ │
▼ ▼ ▼
[Gagal Ginjal] [Gagal Napas] [Aktivasi Sistem Fibrinolisis Sekunder]
│ │ │
└──────┬──────┘ ▼
│ [Peningkatan FDP dan D-Dimer]
│ │
▼ ▼
[Disfungsi Organ] [Perdarahan Spontan / Masif]
│ │
└──────────┬─────────┘
▼
[Risiko Syok Hipovolemik / Penurunan Perfusi]
(Kumar et al., 2021; Sudoyo et al., 2019)
4. Manifestasi Klinis
a. Data Subjektif
- Mengeluh nyeri dada atau sesak napas (jika terjadi tromboemboli paru) (Cunha, 2023)
- Mengeluh nyeri pada persendian atau nyeri otot akibat iskemia mikrovaskular (Porter, 2022)
- Merasakan nyeri kepala pusing, pandangan kabur, atau kebingungan (gangguan perfusi serebral) (Jameson et al., 2021)
- Mengeluh lemas, cepat lelah, dan badan terasa dingin (anemia sekunder akibat perdarahan) (Sudoyo et al., 2019)
- Mengeluh nyeri abdomen atau mual muntah (perdarahan mukosa lambung) (Rani et al., 2020)
b. Data Objektif
- Adanya perdarahan spontan pada tempat tusukan jarum infus, gusi berdarah, atau epistaksis (Kumar et al., 2021)
- Timbulnya petekie, purpura, dan ekimosis pada kulit secara luas (Hoffman et al., 2020)
- Hematuria (darah dalam urine) dan melena (feses berdarah hitam) (Tanaka & Kobayashi, 2021)
- Tanda-tanda syok hipovolemik: takikardia, hipotensi, akral dingin, pucat, dan waktu pengisian kapiler melambat > 3 detik (Sudoyo et al., 2021)
- Penurunan kesadaran (somnolen hingga koma) akibat iskemia serebral (Longo et al., 2022)
5. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
- Trombosit: Menurun drastis (biasanya di bawah 100.000/μL) (Cunha, 2023)
- Masa Protrombin (PT) dan aPTT: Memanjang atau memanjang bermakna akibat konsumsi faktor pembekuan (Porter, 2022)
- Fibrinogen Serum: Menurun (kadar kurang dari 150−200 mg/dL) (Jameson et al., 2021)
- Kadar D-Dimer dan FDP: Meningkat secara signifikan (menunjukkan adanya pemecahan fibrin yang masif) (Kumar et al., 2021)
- Hemoglobin dan Hematokrit: Menurun akibat perdarahan aktif (Sudoyo et al., 2019)
- Apusan Darah Tepi: Menunjukkan adanya sel darah merah terfragmentasi (schistocytes) akibat trauma mekanis mikrovaskular (Hoffman et al., 2020)
b. Pemeriksaan Radiologi dan Lainnya
- Foto Thoraks: Menunjukkan gambaran edema paru atau perdarahan alveolar (Cunha, 2023)
- CT Scan Kepala: Mendeteksi adanya perdarahan intrakranial atau infark serebral (Porter, 2022)
- Analisis Gas Darah (AGD): Menilai derajat asidosis metabolik dan status oksigenasi jaringan (Kumar et al., 2021)
6. Penatalaksanaan Medis
a. Terapi Farmakologis
- Terapi Penggantian Komponen Darah: Pemberian Fresh Frozen Plasma (FFP), transfusi trombosit, cryoprecipitate, dan Packed Red Cells (PRC) untuk mengatasi defisiensi komponen darah (Cunha, 2023; Porter, 2022).
- Antikoagulan (Heparin): Dipertimbangkan pada kasus kronis dengan dominasi proses trombotik berat di bawah pengawasan ketat (Hoffman et al., 2020).
- Terapi Penyakit Dasar: Pemberian antibiotik spektrum luas untuk sepsis atau tindakan bedah obstetrik segera (Tanaka & Kobayashi, 2021; Sudoyo et al., 2019).
b. Terapi Non-Farmakologis
- Resusitasi Cairan: Pemberian cairan kristaloid isotonis secara hati-hati untuk menjaga kestabilan hemodinamik (Cunha, 2023).
- Terapi Oksigen: Mempertahankan saturasi oksigen adekuat guna mengatasi hipoksia jaringan (Porter, 2022).
- Pemantauan Ketat: Observasi tanda-tanda vital, jumlah produksi urine per jam, dan status kesadaran secara berkala di ruang intensif (Jameson et al., 2021).
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
a. Identitas dan Riwayat Kesehatan Pasien
- Identitas: Meliputi nama lengkap, umur, jenis kelamin, alamat, agama, pendidikan, pekerjaan, dan tanggal masuk rumah sakit (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017).
- Riwayat Kesehatan: Keluhan utama perdarahan spontan, riwayat infeksi berat, trauma, operasi baru, atau komplikasi kehamilan (Cunha, 2023; Porter, 2022).
b. Pemeriksaan Fisik Sistemik
- B1 (Breathing): Takipnea, penggunaan otot bantu napas, ronkhi basah halus pada edema paru (Cunha, 2023).
- B2 (Blood): Konjungtiva pucat, takikardia, akral dingin, pengisian kapiler > 3 detik (Porter, 2022).
- B3 (Brain): Penurunan kesadaran, GCS terganggu akibat iskemia serebral (Jameson et al., 2021).
- B4 (Bladder): Hematuria, oliguria hingga anuria (Kumar et al., 2021).
- B5 (Bowel): Mukosa pucat, gusi berdarah, hematemesis atau melena (Hoffman et al., 2020).
- B6 (Bone & Skin): Petekie, purpura, ekimosis, dan perdarahan pada bekas tusukan infus (Sudoyo et al., 2019).
c. Pengkajian Pola Fungsi Kesehatan
- Mengkaji 11 pola fungsi kesehatan Gordon meliputi persepsi kesehatan, nutrisi, eliminasi, aktivitas, istirahat, kognitif, persepsi diri, peran, seksualitas, koping, dan keyakinan spiritual (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017).
2. Diagnosis Keperawatan
Daftar Diagnosa Prioritas
- Risiko Perdarahan b.d. gangguan koagulasi (D.0012) (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017)
- Perfusi Perifer Tidak Efektif b.d. penurunan konsentrasi hemoglobin (D.0009) (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017)
- Risiko Syok b.d. kekurangan volume cairan akibat perdarahan aktif (D.0039) (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017)
- Pola Napas Tidak Efektif b.d. hambatan upaya napas (D.0005) (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017)
- Defisit Nutrisi b.d. ketidakmampuan mencerna makanan (D.0019) (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017)
- Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif b.d. penurunan aliran darah serebral (D.0017) (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017)
- Risiko Infeksi b.d. prosedur invasif multipel (D.0142) (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017)
- Intoleransi Aktivitas b.d. ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen (D.0056) (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017)
- Ansietas b.d. krisis situasi dan ancaman kematian (D.0080) (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017)
- Risiko Ketidakseimbangan Cairan b.d. kehilangan cairan aktif (D.0036) (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017)
3. Perencanaan (Intervensi)
a. Intervensi Keperawatan Prioritas 1-5
- Risiko Perdarahan (D.0012): SLKI: Tingkat Perdarahan (L.02017). SIKI: Pencegahan Perdarahan (I.02067) – Monitor tanda perdarahan, monitor nilai lab, batasi tindakan invasif, hindari obat pengganggu trombosit (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019; Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018).
- Perfusi Perifer Tidak Efektif (D.0009): SLKI: Perfusi Perifer (L.02011). SIKI: Perawatan Sirkulasi (I.02079) – Periksa sirkulasi perifer, monitor tanda vital, evaluasi akral (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019; Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018).
- Risiko Syok (D.0039): SLKI: Tingkat Syok (L.03032). SIKI: Pencegahan Syok (I.02068) – Monitor status kardiovaskular, berikan oksigen, kolaborasi cairan dan produk darah (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019; Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018).
- Pola Napas Tidak Efektif (D.0005): SLKI: Pola Napas (L.01004). SIKI: Manajemen Jalan Napas (I.01011) – Monitor pola napas, berikan posisi semi-Fowler, berikan oksigen (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019; Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018).
- Defisit Nutrisi (D.0019): SLKI: Status Nutrisi (L.03030). SIKI: Manajemen Nutrisi (I.03119) – Monitor asupan makanan, berikan makanan tinggi kalori, kolaborasi ahli gizi (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019; Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018).
b. Intervensi Keperawatan Prioritas 6-10
- Risiko Perfusi Serebral (D.0017): SLKI: Perfusi Serebral (L.02014). SIKI: Manajemen TIK (I.06194) – Monitor kesadaran, posisikan kepala elevasi 30 derajat (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019; Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018).
- Risiko Infeksi (D.0142): SLKI: Tingkat Infeksi (L.14137). SIKI: Pencegahan Infeksi (I.14539) – Terapkan teknik steril, monitor tanda infeksi (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019; Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018).
- Intoleransi Aktivitas (D.0056): SLKI: Toleransi Aktivitas (L.05047). SIKI: Manajemen Energi (I.05178) – Monitor kelelahan, anjurkan tirah baring bertahap (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019; Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018).
- Ansietas (D.0080): SLKI: Tingkat Ansietas (L.09093). SIKI: Reduksi Ansietas (I.09314) – Ciptakan suasana terapeutik, jelaskan prosedur medis (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019; Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018).
- Risiko Ketidakseimbangan Cairan (D.0036): SLKI: Keseimbangan Cairan (L.03020). SIKI: Manajemen Cairan (I.03098) – Catat intake output, monitor berat badan harian (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019; Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018).
4. Implementasi
Pelaksanaan Tindakan Keperawatan
Tahap pelaksanaan intervensi mencakup observasi tanda vital, pemantauan nilai laboratorium pembekuan darah, pemberian produk darah sesuai program medis dengan pengawasan reaksi transfusi, penerapan teknik pencegahan perdarahan, serta manajemen posisi pasien. Seluruh tindakan didokumentasikan berdasarkan respons objektif dan subjektif pasien. (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018)
5. Evaluasi
Penilaian Keberhasilan Asuhan
Evaluasi dilakukan secara berkelanjutan untuk menilai tingkat keberhasilan berdasarkan kriteria hasil SLKI. Asuhan dinyatakan berhasil jika tanda perdarahan berhenti, parameter lab membaik, stabilitas hemodinamik terjaga, dan tidak terjadi komplikasi berat. Jika belum tercapai, perencanaan dikaji ulang. (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019)
Daftar Pustaka
Amin, Z., et al. (2022). Pendekatan Klinis dan Manajemen Terpadu. Jurnal Kedokteran Klinik Indonesia, 14(2), 89-102.
Chen, L., Zhang, Y., & Liu, H. (2022). Pathophysiological Mechanisms and Management Strategies. Asian Journal of Critical Care Medicine, 29(3), 145-158.
Cunha, J. P. (2023). Causes, Symptoms, and Treatment. Medical News Today Reviews, 45(1), 112-119.
Dahlan, M. Z. (2020). Kegawatdaruratan Medis dan Penatalaksanaan Hemostasis. Majalah Kedokteran Nusantara, 53(4), 210-218.
Hoffman, R., et al. (2020). Hematology: Basic Principles and Practice (7th ed.). Elsevier.
Jameson, J. L., et al. (2021). Harrison’s Principles of Internal Medicine (20th ed.). McGraw-Hill Education.
Kim, S. H., Park, J. W., & Lee, K. (2023). Sepsis-Induced Coagulopathy and Clinical Insights. Korean Journal of Hematology, 58(2), 88-97.
Kumar, V., Abbas, A. K., & Aster, J. C. (2021). Robbins & Cotran Pathologic Basis of Disease (10th ed.). Elsevier.
Longo, D. L., et al. (2022). Disorders of Hemostasis and Thrombosis in Critical Care. New England Journal of Medicine Clinical Reports, 386(12), 1120-1132.
Porter, R. S. (2022). Merck Manual of Diagnosis and Therapy (21st ed.). Merck Sharp & Dohme Corp.
Purnawan, A., et al. (2021). Analisis Kasus Kegawatan Hemostasis di Rumah Sakit. Indonesian Journal of Emergency Nursing, 9(1), 33-41.
Rani, A., et al. (2020). Buku Ajar Hematologi Klinik dan Gangguan Koagulasi. Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Indonesia, 11(3), 115-128.
Sudoyo, A. W., et al. (2019). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam (Jilid II, Edisi VI). InternaPublishing.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia (Edisi 1). PPNI.
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (Edisi 1). PPNI.

Tinggalkan Balasan