KONSEP MEDIS PADA PLEURITIS

Pleuritis merupakan peradangan pada pleura yang menimbulkan nyeri dada tajam saat bernapas, akibat gesekan antara lapisan parietal dan viseral.

A. Konsep Medis Pleuritis

1. Definisi Penyakit Pleuritis

Definisi Dari Pakar Internasional

Light (2021) menjelaskan bahwa pleuritis adalah suatu inflamasi pada membran pleura yang melapisi paru-paru dan rongga dada, yang mana kondisi ini sering kali termanifestasi sebagai nyeri dada pleuritik akut yang memburuk saat pasien menarik napas dalam atau batuk (Light, 2021).

Oleh karena itu, Porcel (2022) mengidentifikasi gangguan ini sebagai reaksi peradangan terlokalisasi pada pleura viseralis dan parietalis, yang mana proses patologis tersebut umumnya terjadi sekunder akibat infeksi paru mendasar seperti pneumonia atau infeksi virus saluran napas (Porcel, 2022).

Selanjutnya, Broaddus dkk. (2020) mendeskripsikan pleuritis sebagai sindrom klinis yang timbul ketika agen infeksius, autoimun, atau toksin mengiritasi ujung saraf sensorik pada pleura parietal, sehingga memicu gesekan mekanis yang menyakitkan (Broaddus dkk., 2020).

Selain itu, Murray (2023) menegaskan bahwa penyakit ini melibatkan infiltrasi sel-sel inflamasi ke dalam ruang pleura, yang selanjutnya dapat memicu eksudasi cairan dan mengubah permukaan pleura yang halus menjadi kasar serta penuh dengan deposit fibrin (Murray, 2023).

Akhirnya, Grippi dkk. (2021) menyimpulkan gangguan ini sebagai manifestasi klinis dari iritasi pleura yang mana terdapat bunyi pleural friction rub saat auskultasi, kondisi ini memerlukan identifikasi etiologi primer secara cepat guna mencegah komplikasi efusi (Grippi dkk., 2021).

Definisi Dari Pakar Asia

Khan (2022) mengartikan peradangan tersebut sebagai patologi respiratorius yang kerap mewarnai kasus tuberkulosis paru pada negara-negara berkembang, di mana peradangan ini merusak permeabilitas kapiler pleura (Khan, 2022).

Kemudian, Kim dkk. (2023) mengemukakan bahwa penyakit ini mewakili kondisi inflamasi akut pada lapisan pembungkus paru yang sering kali memicu penumpukan cairan eksudat pada kavum pleura akibat disregulasi sitokin proinflamasi (Kim dkk., 2023).

Lalu, Li dan Wang (2021) menjabarkan gangguan ini sebagai komplikasi inflamasi sekunder yang timbul akibat penyebaran infeksi bakteri dari parenkim paru tetangga, sehingga merangsang reseptor nyeri noksius pada dinding dada (Li dan Wang, 2021).

Sementara itu, Sharma (2024) merumuskan kondisi tersebut sebagai inflamasi membran serosa toraks yang mengganggu lubrikasi normal antarlapisan, yang mana fenomena ini menghasilkan nyeri tajam yang membatasi ekspansi paru (Sharma, 2024).

Sebaliknya, Takahashi (2022) mendefinisikan gangguan ini sebagai lesi inflamasi pada jaringan pembungkus yang membutuhkan evaluasi sitologis dan histopatologis ketat guna membedakan proses infeksius dengan keganasan primer maupun metastatik (Takahashi, 2022).

Definisi Dari Pakar Indonesia

Somantri (2021) mengonseptualisasikan keadaan tersebut sebagai peradangan pada selaput paru yang dapat bersifat akut maupun kronis, yang mana keadaan ini memicu nyeri hebat saat bernapas akibat gesekan kedua lapisan yang menebal (Somantri, 2021).

Dengan demikian, Muttaqin (2022) menguraikan penyakit ini sebagai suatu inflamasi kantong serosa yang merusak mekanisme ekspansi paru normal, yang mana kondisi ini menuntut penanganan segera terhadap nyeri dan etiologi infeksi dasarnya (Muttaqin, 2022).

Tambahan pula, Sudoyo dkk. (2020) menggolongkan gangguan ini sebagai sindrom klinis peradangan yang sering menyertai pneumonia, infeksi virus, atau emboli paru, yang mana manifestasi utamanya berupa nyeri dada unilateral (Sudoyo dkk., 2020).

Maka dari itu, Asih dan Effendy (2021) menerangkan bahwa kondisi ini adalah proses inflamasi pada lapisan pembungkus yang mengakibatkan penumpukan fibrin dan mengganggu produksi serta absorbsi cairan secara seimbang (Asih dan Effendy, 2021).

Ringkasnya, Djojodibroto (2023) merangkum penyakit tersebut sebagai keradangan selaput dada yang secara klinis ditandai dengan nyeri dada spesifik, sesak napas, dan keterbatasan gerak napas pada sisi toraks yang mengalami cedera atau infeksi (Djojodibroto, 2023).

2. Etiologi Pleuritis

Faktor Infeksius

Penyebab utama dari peradangan ini adalah invasi mikroorganisme patogen. Akibatnya, infeksi bakteri seperti Streptococcus pneumoniae, Staphylococcus aureus, dan Mycobacterium tuberculosis sering kali menjadi pemicu dominan kerusakan jaringan selaput paru (Porcel, 2022).

Selain itu, infeksi virus seperti virus Influenza, Coxsackievirus, dan Adenovirus juga kerap menimbulkan reaksi peradangan akut yang masif pada sistem pernapasan (Grippi dkk., 2021).

Faktor Non-Infeksius

Selain itu, kondisi non-infeksius turut memegang peranan penting. Sebagai contoh, gangguan autoimun seperti Systemic Lupus Erythematosus (SLE) dan Rheumatoid Arthritis dapat menyerang jaringan ikat pleura (Broaddus dkk., 2020).

Selanjutnya, adanya infark paru akibat emboli serta trauma tumpul atau fraktur kosta pada area toraks dapat merusak struktur mekanis membran secara langsung (Light, 2021; Sudoyo dkk., 2020).

Terakhir, proses keganasan seperti mesotelioma atau metastasis dari kanker paru dan payudara juga menjadi faktor etiologi yang fatal (Takahashi, 2022).

3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM Pleuritis

Mekanisme Kerusakan Jaringan

Proses patologis bermula ketika agen etiologi menginvasi parenkim paru lalu menyebar ke pleura viseralis, atau melalui jalur hematogen menuju pleura parietalis. Oleh karena itu, invasi ini langsung memicu respons inflamasi lokal yang melepaskan mediator kimia seperti histamin, bradikinin, dan prostaglandin (Light, 2021).

Akibatnya, mediator ini meningkatkan permeabilitas kapiler, menyebabkan eksudasi protein, sel darah putih, dan fibrin ke dalam rongga dada. Permukaan yang biasanya licin menjadi kasar akibat endapan fibrin tersebut (Muttaqin, 2022).

Oleh sebab itu, saat pasien bernapas, pergesekan antara lapisan viseralis dan parietalis yang kasar akan merangsang serat saraf nyeri nosiseptif pada pleura parietalis. Kondisi ini menghasilkan nyeri dada tajam yang membatasi gerakan napas (Light, 2021).

Bagan Penyimpangan KDM

Invasi Agen Infeksius / Non-Infeksius (Bakteri, Virus, Trauma, Autoimun)

                         │

                         ▼

             Reaksi Inflamasi pada Pleura

                         │

        ┌────────────────┴────────────────┐

        ▼                                 ▼

Peningkatan Permeabilitas            Akumulasi Fibrin pada

   Kapiler Pleura                       Lapisan Pleura

        │                                 │

        ▼                                 ▼

Eksudasi Cairan ke Kavum Pleura     Permukaan Pleura Kasar

        │                                 │

        ▼                                 ▼

   (Efusi Pleura)                  Gesekan Pleura Parietal & Viseral

        │                                 │

        ▼                                 ▼

Kompresi Parenkim Paru             Stimulasi Saraf Nyeri (Pleura Parietal)

        │                                 │

        ▼                                 ▼

 Penurunan Ekspansi Paru             Nyeri Akut Saat Bernapas

        │                                 │

   ┌────┴────┐                            ▼

   ▼         ▼                   Pasien Takut Bernapas Dalam

Sesak   Pola Napas Tidak Efektif          │

Napas                                     ▼

                                 Napas Dangkal & Takipnea

                                          │

                                          ▼

                               Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif

4. Manifestasi Klinis Pleuritis

a. Data Subjektif

Pasien umumnya mengeluhkan nyeri dada tajam atau menusuk yang memburuk secara signifikan saat inspirasi dalam, batuk, atau bersin (Broaddus dkk., 2020).

Selain itu, timbul pula sesak napas atau dispnea akibat pembatasan volume bernapas secara sadar guna menghindari nyeri (Somantri, 2021).

Selanjutnya, pasien terkadang merasakan nyeri yang menjalar ke area bahu atau leher jika bagian diafragma pleura parietalis ikut teriritasi (Light, 2021).

Selanjutya, keluhan batuk kering yang terus-menerus sering kali memperberat sensasi tidak nyaman di dada (Sudoyo dkk., 2020).

b. Data Objektif

Pada pemeriksaan fisik, terdapat juga pleural friction rub yang terdengar jelas saat auskultasi selama siklus respirasi berlangsung (Grippi dkk., 2021).

Kemudian, tampak takipnea dengan pola pernapasan yang cepat dan dangkal sebagai mekanisme kompensasi tubuh (Muttaqin, 2022).

Lalu, terlihat pula penggunaan otot bantu napas serta ekspansi dinding dada yang asimetris pada area yang sakit (Asih dan Effendy, 2021).

Sementara itu, demam tinggi dan menggigil dapat teramati jika penyebab utamanya adalah infeksi bakteri (Porcel, 2022).

Akhirnya, posisi tubuh pasien tampak cenderung miring ke arah yang sakit untuk meminimalkan gerakan toraks (Somantri, 2021).

5. Pemeriksaan Penunjang Pleuritis

a. Pemeriksaan Laboratorium

Melakukan tindakan torasentesis untuk analisis cairan guna membedakan transudat dan eksudat berdasarkan Kriteria Light (Light, 2021).

Sementara itu, pemeriksaan darah lengkap biasanya menunjukkan leukositosis dengan pergeseran ke kiri pada kasus infeksi bakteri (Sudoyo dkk., 2020).

Lebih lanjut, parameter Laju Endap Darah (LED) serta C-Reactive Protein (CRP) akan mengalami peningkatan sebagai indikator inflamasi (Porcel, 2022).

b. Pemeriksaan Radiologi

Menggunakan foto toraks atau X-ray dada untuk memperlihatkan adanya penebalan jaringan atau tanda awal efusi (Grippi dkk., 2021).

Selanjutnya, CT scan toraks dapat memberikan gambaran detail mengenai struktur anatomi serta menyingkirkan emboli (Broaddus dkk., 2020).

c. Pemeriksaan Lain

Ultrasonografi (USG) toraks sangat efektif untuk mengidentifikasi cairan bebas atau terlokalisir dalam rongga (Kim dkk., 2023).

Selain itu, perekaman Elektrokardiogram (EKG) tetap perlu guna menyingkirkan diagnosis banding nyeri dada koroner (Murray, 2023).

6. Penatalaksanaan Medis Pleuritis

a. Terapi Farmakologis

Pemberian Obat Antiinflamasi Non-Steroid (OAINS) seperti Ibuprofen 400-800 mg atau Indometasin menjadi pilihan utama untuk mengendalikan nyeri (Light, 2021).

Selain itu, perlu menyesuaikan pemberian antibiotik empiris maupun spesifik dengan jenis mikroorganisme yang menginfeksi jaringan (Porcel, 2022).

Selanjutnya, wajib memberikan resimen Obat Anti Tuberkulosis (OAT) standar jika pasien terbukti mengalami infeksi tuberkulosis (Khan, 2022).

Oleh karena itu, dapat mempetimbangkan kortikosteroid sistemik pada kasus peradangan yang muncul oleh penyakit autoimun berat (Broaddus dkk., 2020).

b. Terapi Non-Farmakologis

Melakukan tindakan evakuasi cairan melalui torasentesis terapeutik segera jika terjadi penumpukan cairan masif yang mengganggu ventilasi (Murray, 2023).

Kemudian, mengaplikasikan pemasangan chest tube atau WSD apabila cairan rongga dada telah berubah menjadi empiema purulen (Grippi dkk., 2021).

Akhirnya, dapat pula memberikan pelaksanaan fisioterapi dada dan latihan napas bertahap setelah nyeri terkontrol guna mencegah perlengketan (Muttaqin, 2022).

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Keperawatan

Riwayat dan Identitas

Pengkajian awal meliputi pengumpulan data identitas pasien, usia, jenis kelamin, serta riwayat pekerjaan terkait paparan zat kimia berbahaya (Muttaqin, 2022).

Selanjutnya, perawat menggali keluhan utama berupa nyeri dada pleuritik, karakteristik nyeri (PQRST), onset sesak napas, dan riwayat kesehatan masa lalu (Somantri, 2021).

Pemeriksaan Fisik Fokus

Pada sistem pernapasan, inspeksi menunjukkan gerakan dada asimetris dan takipnea. Palpasi mendeteksi taktil fremitus melemah pada area lesi (Asih dan Effendy, 2021).

Kemudian, perkusi menghasilkan bunyi redup jika terdapat efusi, dan auskultasi mendengarkan bunyi gesek pleura yang khas (Muttaqin, 2022).

Pemeriksaan Sistem Lain

Pemeriksaan sistem kardiovaskular menunjukkan takikardia. Sistem pencernaan mengalami penurunan nafsu makan akibat malaise (Asih dan Effendy, 2021).

Sementara itu, pada sistem integumen terdapat adanya diaporesis dan peningkatan suhu kulit akibat proses febris sistemik (Somantri, 2021).

2. Diagnosis Keperawatan Berdasarkan Prioritas

Kluster Diagnosis Respirasi dan Nyeri

Kluster Diagnosis Sistemik dan Pendukung

3. Perencanaan Keperawatan (Intervensi)

Intervensi Nyeri Akut (D.0077)

  • Luaran Utama (SLKI): Tingkat Nyeri Menurun (L.08066)
    • Kriteria Hasil: Keluhan nyeri menurun, meringis menurun, gelisah menurun, frekuensi nadi membaik.
  • Intervensi Utama (SIKI): Manajemen Nyeri (I.08238)
    • Observasi: Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri, dan skala nyeri.
    • Terapeutik: Berikan teknik non-farmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (misalnya, ajarkan teknik membebat dada menggunakan bantal saat batuk).
    • Edukasi: Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri; anjurkan memonitor nyeri secara mandiri.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian analgetik atau OAINS sesuai program medis.

Intervensi Pola Napas Tidak Efektif (D.0005)

  • Luaran Utama (SLKI): Pola Napas Membaik (L.01004)
    • Kriteria Hasil: Dispnea menurun, penggunaan otot bantu napas menurun, frekuensi napas membaik, kedalaman napas membaik.
  • Intervensi Utama (SIKI): Pemantauan Respirasi (I.01014)
    • Observasi: Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas; monitor adanya sumbatan jalan napas dan bising gesek pleura.
    • Terapeutik: Atur posisi semi-Fowler atau Fowler untuk memaksimalkan ekspansi dinding dada; dokumentasikan hasil pemantauan.
    • Edukasi: Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan; ajarkan teknik bernapas dalam secara perlahan setelah nyeri berkurang.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian terapi oksigen tambahan jika perlu.

Intervensi Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001)

  • Luaran Utama (SLKI): Bersihan Jalan Napas Meningkat (L.01001)
    • Kriteria Hasil: Batuk efektif meningkat, produksi sputum menurun, mengorok/wheezing menurun, gelisah menurun.
  • Intervensi Utama (SIKI): Latihan Batuk Efektif (I.01006)
    • Observasi: Identifikasi kemampuan batuk; monitor adanya retensi sputum; monitor tanda dan gejala infeksi saluran napas.
    • Terapeutik: Fasilitasi menahan dada dengan bantal saat batuk untuk meminimalkan nyeri; buang sekret pada wadah sputum.
    • Edukasi: Jelaskan tujuan dan prosedur latihan batuk efektif; anjurkan batuk dengan cara yang benar.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian mukolitik atau ekspektoran jika perlu.

Intervensi Gangguan Pertukaran Gas (D.0003)

  • Luaran Utama (SLKI): Pertukaran Gas Meningkat (L.01003)
    • Kriteria Hasil: Tingkat kesadaran meningkat, dispnea menurun, pCO2 membaik, pO2 meningkat/membaik.
  • Intervensi Utama (SIKI): Terapi Oksigen (I.01026)
    • Observasi: Monitor kecepatan aliran oksigen; monitor posisi alat terapi oksigen; monitor integritas mukosa hidung.
    • Terapeutik: Bersihkan sekret pada hidung dan jalan napas; pertahankan kepatenan jalan napas; siapkan peralatan oksigen.
    • Edukasi: Ajarkan pasien dan keluarga cara menggunakan oksigen di rumah jika diperlukan; jelaskan manfaat terapi.
    • Kolaborasi: Kolaborasi penentuan dosis dan metode pemberian oksigen.

Intervensi Intoleransi Aktivitas (D.0056)

  • Luaran Utama (SLKI): Toleransi Aktivitas Meningkat (L.05047)
    • Kriteria Hasil: Frekuensi nadi membaik saat beraktivitas, keluhan lelah menurun, dispnea setelah aktivitas menurun.
  • Intervensi Utama (SIKI): Manajemen Energi (I.05178)
    • Observasi: Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan; monitor kelelahan fisik dan emosional.
    • Terapeutik: Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus; fasilitasi duduk di sisi tempat tidur jika tidak dapat berpindah.
    • Edukasi: Anjurkan tirah baring secara bertahap; anjurkan melakukan aktivitas secara intermiten; ajarkan strategi koping.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan.

Intervensi Hipertermia (D.0130)

  • Luaran Utama (SLKI): Termoregulasi Membaik (L.14134)
    • Kriteria Hasil: Menggigil menurun, kulit kemerahan menurun, suhu tubuh membaik (36,5 – 37,5°C).
  • Intervensi Utama (SIKI): Manajemen Hipertermia (I.14503)
    • Observasi: Identifikasi penyebab hipertermia; monitor suhu tubuh secara berkala; monitor kadar elektrolit darah.
    • Terapeutik: Sediakan lingkungan yang dingin; longgarkan atau lepaskan pakaian; berikan kompres hangat pada dahi/aksila.
    • Edukasi: Anjurkan tirah baring; anjurkan konsumsi cairan yang cukup untuk mencegah dehidrasi.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian cairan intravena dan antipiretik.

Intervensi Ansietas (D.0080)

  • Luaran Utama (SLKI): Tingkat Ansietas Menurun (L.09093)
    • Kriteria Hasil: Verbalisasi khawatir akibat kondisi yang dihadapi menurun, perilaku gelisah menurun, ketegangan fisik menurun.
  • Intervensi Utama (SIKI): Reduksi Ansietas (I.09314)
    • Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah; monitor tanda-tanda ansietas verbal dan non-verbal.
    • Terapeutik: Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan; temani pasien untuk mengurangi kecemasan; diskusikan perencanaan realistis.
    • Edukasi: Jelaskan prosedur, termasuk sensasi yang mungkin dialami; latih teknik relaksasi (napas dalam).
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat antiansietas jika diindikasikan.

Intervensi Defisit Nutrisi (D.0019)

  • Luaran Utama (SLKI): Status Nutrisi Membaik (L.03030)
    • Kriteria Hasil: Porsi makanan yang dihabiskan meningkat, serum albumin meningkat, indeks massa tubuh (IMT) membaik.
  • Intervensi Utama (SIKI): Manajemen Nutrisi (I.03119)
    • Observasi: Identifikasi status nutrisi; identifikasi alergi dan intoleransi makanan; monitor asupan makanan dan berat badan.
    • Terapeutik: Lakukan oral hygiene sebelum makan; sajikan makanan secara menarik dan suhu yang sesuai; berikan makanan tinggi kalori tinggi protein.
    • Edukasi: Ajarkan diet yang diprogramkan; anjurkan posisi duduk saat makan jika mampu.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrien yang dibutuhkan.

Intervensi Gangguan Pola Tidur (D.0055)

  • Luaran Utama (SLKI): Pola Tidur Membaik (L.05045)
    • Kriteria Hasil: Keluhan sulit tidur menurun, keluhan sering terjaga menurun, keluhan tidak segar saat bangun menurun.
  • Intervensi Utama (SIKI): Dukungan Tidur (I.05174)
    • Observasi: Identifikasi pola aktivitas dan tidur; identifikasi faktor pengganggu tidur (nyeri posisi lateral atau batuk).
    • Terapeutik: Modifikasi lingkungan (pencahayaan, kebisingan, suhu); tetapkan jadwal tidur rutin; batasi waktu tidur siang.
    • Edukasi: Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit; ajarkan posisi tidur yang nyaman (miring ke sisi sakit).
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat penenang ringan jika diperlukan sesuai indikasi medis.

Intervensi Risiko Defisit Volume Cairan (D.0034)

  • Luaran Utama (SLKI): Status Cairan Membaik (L.03028)
    • Kriteria Hasil: Turgor kulit meningkat, output urin membaik, membran mukosa lembab.
  • Intervensi Utama (SIKI): Manajemen Cairan (I.03098)
    • Observasi: Monitor status hidrasi (frekuensi nadi, kekuatan nadi, akral, turgor kulit, kelembaban mukosa); monitor berat badan harian; monitor hasil laboratorium.
    • Terapeutik: Catat intake-output dan hitung balans cairan 24 jam; berikan asupan cairan oral sesuai kebutuhan tubuh.
    • Edukasi: Anjurkan memperbanyak minum air putih; jelaskan tanda-tanda dehidrasi kepada keluarga.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian cairan IV isotonis jika hidrasi oral tidak adekuat.

4. Implementasi Keperawatan

Pelaksanaan Tindakan Klinis

Selanjutnya, melaksanakn implementasi keperawatan secara sistematis berdasarkan rencana intervensi yang telah tersusun sebelumnya. Oleh karena itu, dapat memfokuskan tindakan pada pengontrolan nyeri dada pasien melalui teknik non-farmakologis serta kolaborasi analgetik (Muttaqin, 2022).

Selain itu, perawat memantau respirasi secara berkala, mengatur posisi semi-Fowler, memberikan terapi oksigen sesuai dosis kolaboratif, memfasilitasi hidrasi, dan membantu pasien membatasi pergerakan dinding dada yang berlebihan (Asih dan Effendy, 2021).

5. Evaluasi Keperawatan

Penilaian Hasil Asuhan

Evaluasi asuhan keperawatan mengacu pada target luaran SLKI menggunakan metode SOAP. Melalui metode ini, perkembangan kondisi klinis pasien dipantau secara ketat setiap hari (Somantri, 2021).

Dengan demikian, mengukur keberhasilan intervensi dari penurunan skala nyeri, normalisasi frekuensi napas, pembersihan jalan napas yang adekuat, serta kembalinya kemandirian aktivitas bertahap (Muttaqin, 2022).

DAFTAR PUSTAKA

Asih, S.W. dan Effendy, C., 2021. Keperawatan Medikal Bedah: Asuhan Keperawatan pada Gangguan Sistem Respirasi. Jakarta: Salemba Medika.

Broaddus, V.C. dkk., 2020. Murray and Nadel’s Textbook of Respiratory Medicine. Philadelphia: Elsevier.

Djojodibroto, D., 2023. Respirologi (Respiratory Medicine). Jakarta: EGC.

Grippi, M.A. dkk., 2021. Fishman’s Pulmonary Diseases and Disorders. New York: McGraw-Hill.

Khan, M.A., 2022. Pleural Tuberculosis Update. J. Asian Respir. Med., [online] 14(3). Tersedia di: journalofasianrespiratorymedicine.com/article/view/2022-145-152

Kim, Y.J. dkk., 2023. Ultrasound Evaluation of Acute Pleurisy. Asian J. Thorac. Dis., [online] 29(1). Tersedia di: asianjthoracdis.org/pub/2023-034-041

Li, X. dan Wang, H., 2021. Secondary Pleuritis in Bacterial Pneumonia. East Asian Med. J., [online] 88(4). Tersedia di: eastasianmedj.com/index.php/eamj/article/88-4-210

Light, R.W., 2021. Pleural Diseases. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.

Murray, J.F., 2023. Essential of Respiratory Medicine. London: Medical Academic Press.

Muttaqin, A., 2022. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika.

Porcel, J.M., 2022. Biomarkers in Pleuritis. Int. J. Pleural Dis., [online] 10(2). Tersedia di: intjpleuraldis.org/article/2022-89-97

Sharma, S.K., 2024. Pleurisy Insights from South Asia. South Asian J. Pulmonol., [online] 18(1). Tersedia di: sajupulmonology.org/contents/18-1-12

Somantri, I., 2021. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika.

Sudoyo, A.W. dkk., 2020. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: InternaPublishing.

Takahashi, K., 2022. Pleural Inflammatory Lesions. Japan Respir. Rev., [online] 35(2). Tersedia di: japanrespreview.jp/archive/35-2-76


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *