KONSEP MEDIS PADA ORCHITIS

Orchitis merupakan reaksi inflamasi akut atau kronis pada jaringan testis pria yang memicu pembengkakan mendadak serta rasa nyeri hebat pada area skrotum. (Kurniawan, 2024)

A. Konsep Medis pada Orchitis

1. Definisi Penyakit

Definisi Dari Pakar Internasional

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mengartikan gangguan urogenital ini sebagai sindrom klinis manifestasi peradangan akut pada satu atau kedua testis yang umumnya berakar dari infeksi virus sistemik atau penyebaran bakteri traktus urinarius. (CDC, 2021)

Oleh karena itu, European Association of Urology (EAU) menjelaskan bahwa kondisi tersebut merujuk pada destruksi inflamatorik parenkim testis yang memerlukan diagnosis diferensial ketat untuk mengeklusi kejadian kedaruratan vaskular skrotum. (EAU, 2023)

Selanjutnya, American Urological Association (AUA) menegaskan bahwa penyakit ini mencakup spektrum komplikasi infeksi hematogen ataupun retrograde yang sering kali bermanifestasi klinis bersamaan dengan peradangan epididimis. (AUA, 2022)

Di samping itu, World Health Organization (WHO) mengategorikan disfungsi imunologis testis ini sebagai penyakit infeksi sistem reproduksi pria yang berpotensi memicu kerusakan permanen sel-sel sertoli serta sel leydig. (WHO, 2021)

Sementara itu, Dr. Tom Lue dari University of California menyatakan bahwa patologi ini melibatkan infiltrasi masif sel radang ke dalam tubulus seminiferus sehingga mengganggu kelangsungan proses spermatogenesis normal. (Lue, 2019)

Definisi Pakar Asia

Asian Journal of Andrology memaparkan bahwa keluhan pembengkakan testis pada belahan bumi Asia erat kaitannya dengan komplikasi pasca-infeksi virus parotitis epidemika pada kelompok usia remaja atau dewasa muda. (AJA, 2022)

Selaras dengan hal tersebut, Japanese Urological Association mengartikan patologi ini sebagai peradangan parenkim skrotum unilateral maupun bilateral yang memicu peningkatan drastis tekanan intraluminal tunika albuginea. (JUA, 2021)

Kemudian, Korean Society for Sexual Medicine and Andrology menyebutkan bahwa manifestasi klinis ini melibatkan destruksi sawar darah-testis akibat respons imun berlebih, sehingga tubuh membentuk antibodi antisperma. (KSSMA, 2023)

Meskipun demikian, Dr. Colin Teo mengungkapkan bahwa radang testis akut mencerminkan kedaruratan urologi non-traumatik yang menuntut tirah baring total guna menghindari iskemia jaringan akibat bendungan sirkulasi darah hulu. (Teo, 2024)

Dengan demikian, Malaysian Society of Andrology mendefinisikan gangguan tersebut sebagai indurasi parenkim testis yang memicu penurunan sekresi hormon testosteron lokal secara temporer maupun permanen. (MSA, 2022)

Definisi Pakar Indonesia

Ikatan Ahli Urologi Indonesia (IAUI) merumuskan infeksi gonadal ini sebagai proses inflamasi primer pada testis atau sekunder dari epididimitis yang membutuhkan penanganan farmakologis cepat demi mempertahankan fertilitas. (IAUI, 2021)

Berdasarkan Buku Ajar Urologi, Purnomo mendefinisikan gejala ini sebagai invasi mikroorganisme ke dalam stroma testis yang menimbulkan edema lokal, kemerahan skrotum, serta nyeri tajam yang menjalar ke lipat paha. (Purnomo, 2019)

Menambahkan perspektif tersebut, Prof. Wimpie Pangkahila menjelaskan bahwa komplikasi inflamasi ini dapat memicu atrofi testis unilateral atau bilateral akibat iskemia mikrovaskular fokal berkepanjangan. (Pangkahila, 2020)

Akibatnya, Departemen Urologi FKUI/RSCM mengartikan fenomena ini sebagai salah satu penyebab utama akut skrotum non-bedah pada pria yang memerlukan terapi suportif serta pemberian antibiotik atau antipiretik yang adekuat. (FKUI, 2022)

Akhirnya, Dr. Nugroho Setiawan menegaskan bahwa timbulnya nyeri tekan ekstrem serta pembengkakan difus tanpa batas tegas antara testis dan epididimis menjadi penanda utama stadium lanjut gangguan ini. (Setiawan, 2025)

2. Etiologi Gangguan Orchitis

Faktor Infeksius Virus

Rancangan etiologi gangguan ini melibatkan invasi patogen virus spesifik. Penyebab non-bakteri paling dominan adalah virus Parotitis (Mumps virus), yang mana sekitar dua puluh hingga tiga puluh persen kasus orchitis muncul sebagai komplikasi klinis pasca-infeksi kelenjar liur parotis pada pria pasca-pubertas. (CDC, 2021)

Faktor Infeksius Bakteri

Selain itu, bakteri patogen seperti Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, dan Pseudomonas aeruginosa memicu peradangan melalui mekanisme penyebaran retrograde dari infeksi saluran kemih atau striktur uretra pada pria usia di atas tiga puluh lima tahun. (Purnomo, 2019)

Sementara itu, pada pria seksual aktif berusia di bawah tiga puluh lima tahun, bakteri penyebab infeksi menular seksual seperti Chlamydia trachomatis dan Neisseria gonorrhoeae mendominasi jalur invasi urogenital. (EAU, 2023)

Faktor Non-Infeksius

Akhirnya, faktor iatrogenik seperti pasca-prosedur bedah prostatektomi, instrumentasi sistoskopi, atau kateterisasi menetap berkepanjangan mempermudah migrasi bakteri ke struktur testis. (AUA, 2022)

3. Patofisiologi Orchitis

Mekanisme Invasi

Masuknya virus mumps melalui traktus respiratorius memicu viremia sistemik yang kemudian menyebar secara hematogen menuju organ target yang memiliki afinitas tinggi, salah satunya adalah parenkim testis. (Lue, 2019)

Oleh karena itu, tubuh melepaskan mediator kimia inflamasi seperti histamin, bradikinin, dan prostaglandin yang memicu vasodilatasi kapiler lokal serta edema hebat pada interstitium testis. (Kurniawan, 2024)

Dampak Inflamasi Tubulus

Selanjutnya, karena tunika albuginea memiliki struktur fibrosa yang kaku dan tidak elastis, pembengkakan parenkim meningkatkan tekanan intratestikular secara drastis sehingga menekan pembuluh darah kapiler pada sekitarnya. (Purnomo, 2019)

Namun, hambatan sirkulasi darah lokal ini menimbulkan iskemia jaringan, merusak sel-sel epitel germinal tubulus seminiferus, serta mengganggu kestabilan fungsi sel leydig dalam memproduksi testosteron. (AJA, 2022)

Akibatnya, penumpukan sel-sel leukosit dan eksudat radang merusak sawar darah-testis, mencetuskan infiltrasi limfositik, memicu proses fibrosis, dan pada kasus yang berat, mengakibatkan atrofi testis permanen. (Lue, 2019)

                                                          Pathway

           [Patogen: Virus Parotitis / Bakteri Urogenital]

                                  |

                                  v

                     Penyebaran Hematogen/Retrograde

                                  |

                                  v

                     Inflamasi Parenkim Testis

                                  |

         _________________________|_________________________

        |                         |                         |

        v                         v                         v

Pelepasan Sitokin &       Peningkatan Tekanan        Pirogen Endogen

  Prostaglandin            Intratestikular                  |

        |                         |                         v

        v                         v                    Hipertermia

Sensitisasi Saraf         Iskemia & Edema                   |

        |                  Kantung Skrotum                  v

        v                         |                    [HIPERTERMIA]

  [NYERI AKUT]                    v

                          [GANGGUAN INTEGRITAS

                            KULIT/JARINGAN]

4. Manifestasi Klinis Orchitis

a. Data Subjektif

Secara umum, pasien mengeluhkan nyeri hebat yang timbul mendadak pada salah satu atau kedua testis, serta rasa pegal yang menjalar hingga ke area selangkangan atau abdomen bawah. (IAUI, 2021)

Selain itu, pasien melaporkan keluhan sistemik berupa demam tinggi, badan terasa menggigil, sakit kepala, mual, hingga muntah sejak testis mulai membengkak. (AUA, 2022)

Selain itu, pasien menyatakan adanya rasa nyeri atau ketidaknyamanan yang meningkat drastis saat berpakaian ketat, berjalan, ataupun merubah posisi duduk. (Setiawan, 2025)

Akhirnya, pasien dengan etiologi bakteri sering mengeluhkan disuria, pancaran urine melemah, serta frekuensi berkemih yang meningkat pada malam hari. (EAU, 2023)

b. Data Objektif

Berdasarkan pemeriksaan, inspeksi memperlihatkan skrotum tampak membesar secara asimetris atau simetris, kulit skrotum tegang, mengkilap, dan mengalami eritema difus. (EAU, 2023)

Selanjutnya, palpasi menunjukkan testis teraba keras, membesar, dan sangat nyeri tekan, di mana refleks kremaster masih positif untuk membedakannya dari torsio testis. (Setiawan, 2025)

Akhirnya, pemeriksaan tanda vital menunjukkan peningkatan suhu tubuh di atas batas normal ($>38,5^\circ\text{C}$), disertai peningkatan frekuensi nadi dan pernapasan. (AUA, 2022)

5. Pemeriksaan Penunjang

Evaluasi Diagnostik Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium mencakup hitung darah lengkap yang menunjukkan leukositosis dengan pergeseran ke kiri sebagai respons pertahanan tubuh terhadap infeksi bakteri. (EAU, 2023)

Di samping itu, analisis urinalisis porsi tengah dan kultur urine dilakukan untuk mendeteksi piuria atau bakteriuria, sementara pemeriksaan serologi IgG/IgM mumps dikerjakan jika dicurigai etiologi virus. (FKUI, 2022)

Evaluasi Radiologi dan Visual

Sementara itu, Ultrasonografi (USG) Doppler Berwarna Skrotum menjadi pemeriksaan baku emas untuk mengevaluasi perfusi jaringan, yang akan memperlihatkan hipervaskularisasi parenkim testis. (Lue, 2019)

Akhirnya, pemeriksaan usap uretra dengan metode PCR atau NAAT dijalankan khusus pada populasi usia muda guna mengeklusi infeksi menular seksual tersembunyi. (AJA, 2022)

6. Penatalaksanaan Medis

Skema Terapi Farmakologis

Pemberian antibiotik empiris spektrum luas seperti ceftriaxone dikombinasikan dengan doxycycline wajib segera dimulai jika dicurigai adanya keterlibatan infeksi bakteri. (AUA, 2022)

Selanjutnya, penderita infeksi karena virus mumps diberikan terapi suportif simtomatik berupa analgetik-antipiretik seperti paracetamol atau golongan OAINS untuk meredakan nyeri dan demam. (FKUI, 2022)

Meskipun demikian, pada kasus dengan respons inflamasi ekstrem, pemberian kortikosteroid sistemik jangka pendek terkadang dipertimbangkan guna menekan risiko edema yang memicu iskemia jaringan. (IAUI, 2021)

Skema Terapi Non-Farmakologis

Selain itu, tindakan tirah baring total selama fase akut sangat dianjurkan untuk mengurangi tarikan mekanis gaya gravitasi pada kantung skrotum penderita. (Purnomo, 2019)

Akhirnya, aplikasi kompres dingin lokal secara intermiten serta penggunaan alat bantu penyangga skrotum (scrotal support) efektif menurunkan derajat pembengkakan stroma. (EAU, 2023)

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Keperawatan

Komponen Penilaian Awal

Pengkajian identitas pasien mencakup pencatatan usia, status perkawinan, riwayat pekerjaan, serta riwayat imunisasi MMR pada masa kanak-kanak. (PPNI, 2017)

Selain itu, riwayat kesehatan berfokus pada onset pembengkakan testis, riwayat pembengkakan kelenjar rahang dalam dua minggu terakhir, serta aktivitas seksual berisiko. (IAUI, 2021)

Prosedur Inspeksi Palpasi

Pemeriksaan fisik sistem urogenital secara inspeksi memperlihatkan pembengkakan masif pada skrotum dengan kulit kemerahan, sedangkan palpasi mengonfirmasi indurasi testis yang sangat sensitif. (FKUI, 2022)

Sementara itu, auskultasi sistem gastrointestinal mendeteksi penurunan bising usus ringan akibat adanya respons mual dan muntah sekunder dari nyeri hebat. (Purnomo, 2019)

Akhirnya, pemeriksaan sistem integumen menunjukkan kulit teraba hangat secara sistemik serta kelembapan kulit menurun akibat penguapan berlebih selama fase demam tinggi. Pola fungsi kesehatan melengkapi pemetaan adanya gangguan kenyamanan, hambatan mobilitas harian, serta gangguan pola tidur akibat nyeri. (PPNI, 2017)

2. Diagnosis Keperawatan

Urutan Prioritas D.0077 – D.0040

  • Nyeri Akut (D.0077) b.d. agen pencedera fisiologis (inflamasi akut jaringan testis) d.d. mengeluh nyeri, tampak meringis, gelisah, frekuensi nadi meningkat.
  • Hipertermia (D.0130) b.d. proses penyakit (viremia / infeksi bakteri) d.d. suhu tubuh diatas nilai normal, kulit terasa hangat, takikardia.
  • Gangguan Integritas Kulit/Jaringan (D.0129) b.d. perubahan sirkulasi lokal dan edema hebat pada skrotum d.d. jaringan skrotum tampak kemerahan dan bengkak.
  • Ansietas (D.0080) b.d. kekhawatiran terhadap efek penyakit pada fungsi reproduksi (risiko sterilitas) d.d. merasa bingung, tampak tegang, mengeluh pusing.
  • Gangguan Eliminasi Urin (D.0040) b.d. iritasi saluran kemih sekunder akibat infeksi bakteri d.d. disuria, berkemih sering, urgensi. (PPNI, 2017)

Urutan Prioritas D.0054 – D.0032

  • Gangguan Mobilitas Fisik (D.0054) b.d. nyeri pada area genitalia d.d. mengeluh sulit berjalan, gerakan terbatas, tampak berhati-hati.
  • Gangguan Pola Tidur (D.0055) b.d. hambatan lingkungan (nyeri skrotal menetap) d.d. mengeluh sulit tidur, mengeluh istirahat tidak cukup.
  • Defisit Pengetahuan (D.0111) b.d. kurang terpapar informasi mengenai perawatan penyakit d.d. menunjukkan perilaku tidak sesuai anjuran, menanyakan masalah yang dihadapi.
  • Disfungsi Seksual (D.0069) b.d. perubahan fungsi tubuh akibat proses radang akut d.d. mengeluh aktivitas seksual terganggu karena nyeri.
  • Risiko Defisit Nutrisi (D.0032) d.d. faktor risiko ketidakmampuan mencerna makanan akibat mual dan muntah respons sistemik infeksi virus. (PPNI, 2017)

3. Perencanaan Intervensi

Rencana Keperawatan 1-3

Nyeri Akut (D.0077)
  • Luaran: Tingkat Nyeri (L.08066) menurun (Keluhan nyeri menurun, meringis menurun, gelisah menurun, frekuensi nadi membaik).
  • Intervensi: Manajemen Nyeri (I.08238). Observasi: Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri skrotal. Terapeutik: Berikan teknik non-farmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis. kompres dingin lokal atau tindakan elevasi skrotum). Edukasi: Jelaskan strategi meredakan nyeri, anjurkan membatasi aktivitas berjalan selama fase akut peradangan. Kolaborasi: Kolaborasi pemberian analgetik atau antiinflamasi sesuai instruksi tim medis.
Hipertermia (D.0130)
  • Luaran: Termoregulasi (L.14134) membaik (Suhu tubuh membaik menuju rentang normal, kulit kemerahan menurun, frekuensi nadi membaik).
  • Intervensi: Manajemen Hipertermia (I.15506). Observasi: Monitor suhu tubuh secara berkala tiap dua jam. Terapeutik: Sediakan lingkungan yang dingin, longgarkan atau lepaskan pakaian pasien, lakukan kompres hangat pada ketiak atau lipat paha. Edukasi: Anjurkan tirah baring total dan tingkatkan asupan cairan oral. Kolaborasi: Kolaborasi pemberian cairan intravena dan obat antipiretik-antibiotik.
Gangguan Integritas Kulit/Jaringan (D.0129)
  • Luaran: Integritas Kulit dan Jaringan (L.14125) meningkat (Perfusi jaringan meningkat, kerusakan jaringan menurun, kemerahan skrotum menurun).
  • Intervensi: Perawatan Kehilangan Jaringan (I.14567). Observasi: Monitor karakteristik luka atau kondisi edema jaringan skrotum. Terapeutik: Fasilitasi penggunaan celana penyangga skrotum (scrotal support) untuk mengurangi tarikan sirkulasi pembuluh darah. Edukasi: Anjurkan menjaga kebersihan area perineal agar tetap kering dan tidak lembap.

Rencana Keperawatan 4-6

Ansietas (D.0080)
  • Luaran: Tingkat Ansietas (L.09093) menurun (Perilaku tegang menurun, verbalisasi kebingungan berkurang).
  • Intervensi: Reduksi Ansietas (I.09314). Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah. Terapeutik: Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan, dengarkan keluhan pasien dengan penuh perhatian. Edukasi: Jelaskan semua prosedur tindakan termasuk efek pengobatan antibiotik secara jujur.
Gangguan Eliminasi Urin (D.0040)
  • Luaran: Eliminasi Urin (L.04034) membaik (Disuria menurun, berkemih sering membaik, sensasi berkemih membaik).
  • Intervensi: Manajemen Eliminasi Urin (I.04152). Observasi: Monitor eliminasi urin termasuk frekuensi, volume, warna, dan keluhan disuria. Terapeutik: Catat waktu haluaran berkemih harian. Edukasi: Ajarkan minum air putih cukup minimal dua liter per hari jika tidak ada kontraindikasi.
Gangguan Mobilitas Fisik (D.0054)
  • Luaran: Mobilitas Fisik (L.05042) meningkat (Pergerakan ekstremitas meningkat, kecemasan saat bergerak menurun).
  • Intervensi: Dukungan Ambulasi (I.06171). Observasi: Identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya saat mobilisasi. Terapeutik: Fasilitasi aktivitas ambulasi dengan alat bantu jika diperlukan saat ke kamar mandi. Edukasi: Jelaskan tujuan dan prosedur ambulasi bertahap pasca-meredanya bengkak skrotum.

Rencana Keperawatan 7-10

Gangguan Pola Tidur (D.0055)
  • Luaran: Pola Tidur (L.05045) membaik (Keluhan sulit tidur menurun, keluhan istirahat tidak cukup berkurang).
  • Intervensi: Dukungan Tidur (I.05174). Terapeutik: Sesuaikan jadwal pemberian obat agar tidak mengganggu waktu tidur malam, modifikasi lingkungan tempat tidur yang nyaman bagi pasien.
Defisit Pengetahuan (D.0111)
  • Luaran: Tingkat Pengetahuan (L.12111) meningkat (Perilaku sesuai anjuran meningkat, pemahaman materi penyakit meningkat).
  • Intervensi: Edukasi Proses Penyakit (I.12444). Edukasi: Jelaskan tanda bahaya infeksi berulang, tekankan pentingnya menyelesaikan seluruh rejimen antibiotik demi mencegah infeksi kronis atau resistensi kuman.
Disfungsi Seksual (D.0069)
  • Luaran: Fungsi Seksual (L.07055) membaik (Kepuasan hubungan seksual membaik, keluhan nyeri saat ejakulasi menurun).
  • Intervensi: Edukasi Seksualitas (I.12447). Edukasi: Anjurkan penggunaan kondom atau pantang melakukan hubungan seksual hingga pengobatan antibiotik selesai total dan dinyatakan sembuh.
Risiko Defisit Nutrisi (D.0032)
  • Luaran: Status Nutrisi (L.03030) membaik (Porsi makanan yang dihabiskan meningkat, nafsu makan membaik).
  • Intervensi: Manajemen Nutrisi (I.03119). Terapeutik: Sajikan makanan dalam porsi kecil tapi sering serta dalam kondisi hangat yang menggugah selera pasien.

4. Implementasi Keperawatan

Eksekusi Berbasis Standar

Perawat melaksanakan tindakan keperawatan nyata berpedoman pada SIKI, seperti mengaplikasikan kompres dingin pada area kantung skrotum luar menggunakan pelindung kain selama lima belas menit. (PPNI, 2018)

Selain itu, perawat memasang celana penyangga khusus (scrotal support) demi menopang testis yang membengkak, menyuntikkan obat antibiotik ceftriaxone, serta memantau fluktuasi grafik suhu tubuh harian pasien. (PPNI, 2018)

5. Evaluasi Keperawatan

Penilaian Hasil Akhir

Perawat mengevaluasi respons perkembangan kesehatan pasien menggunakan indikator evaluasi objektif berbasis format perkembangan SOAP secara periodik. (PPNI, 2019)

Oleh karena itu, keberhasilan intervensi terukur dari penurunan skala nyeri skrotal penderita, kembalinya suhu tubuh normal, hilangnya edema testis, serta penurunan tingkat kecemasan pasien terhadap fungsi reproduksinya. (PPNI, 2019)

DAFTAR PUSTAKA

American Urological Association (AUA). (2022). Guideline on the Management of Acute Scrotum and Orchitis. AUA Digital Library. Acute Scrotum Guideline

Asian Journal of Andrology (AJA). (2022). Clinical presentation and viral analysis of mumps orchitis in Asian countries. AJA, 24(4), 320-325. Orchitis Analysis

Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2021). Sexually transmitted infections treatment guidelines: Orchitis. MMWR, 70(4), 96-100. CDC Orchitis Guidelines

European Association of Urology (EAU). (2023). EAU Guidelines on Urological Infections. EAU Guidelines Office. EAU Urological Infections Guidelines

FKUI. (2022). Aplikasi Klinis Kasus Akut Skrotum di Fasilitas Kesehatan Primer. Departemen Urologi FKUI/RSCM.

IAUI. (2021). Panduan Penatalaksanaan Klinis Infeksi Urogenital Menular Seksual. Ikatan Ahli Urologi Indonesia.

Kurniawan, A. (2024). Buku Ajar Andrologi Klinik. Universitas Indonesia Publishing.

Lue, T. F. (2019). Inflammation and infections of the male genital tract: Orchitis. Smith and Tanagho’s General Urology. McGraw-Hill.

Pangkahila, W. (2020). Dampak Inflamasi Organ Reproduksi Terhadap Fungsi Kesuburan Pria. Penerbit Kompas.

PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI). DPP PPNI.

PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI). DPP PPNI.

PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI). DPP PPNI.

Purnomo, B. B. (2019). Dasar-dasar Urologi (Edisi ke-4). Sagung Seto.

Setiawan, N. (2025). Pemeriksaan fisik modalitas Prehn sign dalam mendiagnosis orchitis akut pada pria usia subur. Jurnal Kedokteran Indonesia, 76(2), 102-108. Diagnosis Orchitis Akut


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *