KONSEP MEDIS PADA KOLIK RENAL

Kolik renal adalah nyeri hebat akibat obstruksi akut pada saluran kemih, utamanya disebabkan oleh batu ginjal yang menyumbat ureter.

A. Konsep Medis Kolik Renal

1. Definisi Kolik Renal

Definisi Dari Pakar Internasional

Campbell-Walsh-Wein Urology (2020) menjelaskan bahwa kolik renal merupakan suatu manifestasi klinis akut berupa nyeri pinggang hebat yang terjadi ketika batu urine menyumbat aliran kemih pada area ureteropelvik junction hingga kandung kemih. (Campbell-Walsh-Wein Urology, 2020)

European Association of Urology (2023) secara mendalam mendefinisikan kondisi ini sebagai sensasi nyeri spasmodik parah pada regio flank yang timbul secara mendadak akibat peningkatan tekanan hidrostatik di dalam sistem pelvikalises ginjal karena sumbatan mekanis. (EAU, 2023)

American Urological Association (2019) mengartikan gangguan ini sebagai sindrom nyeri akut abdomen posterior yang berakar dari peregangan kapsul ginjal akibat obstruksi traktus urinarius ureteral oleh kalkulus. (AUA, 2019)

Smith & Tanagho’s General Urology (2020) menegaskan bahwa kolik renal mencakup kedaruratan urologi yang ditandai oleh nyeri kolik intermiten akibat gerak peristaltik paksa ureter dalam upaya mengatasi hambatan lumen. (Smith & Tanagho’s General Urology, 2020)

Oxford Handbook of Urology (2019) menggambarkan penyakit ini sebagai nyeri alih dari dermatom T10 hingga L2 yang terpicu oleh distensi mendadak traktus urinarius bagian atas. (Oxford Handbook of Urology, 2019)

Definisi Pakar Asia

Asian Journal of Urology (2021) mengidentifikasi patologi ini sebagai krisis nyeri pinggang unilateral akut yang sering menyerang populasi Asia akibat tingginya prevalensi dehidrasi dan pembentukan kristal kalsium oksalat. (Asian Journal of Urology, 2021)

Japanese Urological Association (2020) menyatakan keadaan ini sebagai nyeri parah paroksismal pada area costovertebral angle yang memerlukan penanganan analgesik segera guna mencegah cedera ginjal permanen akibat obstruksi. (JUA, 2020)

Chinese Medical Association (2022) merumuskan masalah tersebut sebagai gangguan klinis akut dengan karakteristik nyeri menjalar ke selangkangan akibat spasme otot polos ureter yang merespons gesekan material kalkulus. (Chinese Medical Association, 2022)

Indian Journal of Urology (2019) menjabarkan fenomena ini sebagai serangan nyeri pinggang hebat berulang yang berkorelasi kuat dengan sindrom metabolik dan deposisi batu asam urat pada saluran kemih. (Indian Journal of Urology, 2019)

Korean Urological Association (2021) memahami penyakit ini sebagai kegawatdaruratan non traumatik pada sistem urinarius bawah yang memicu respons vasovagal berat akibat peregangan dinding ureter. (Korean Urological Association, 2021)

Definisi Pakar Indonesia

Ikatan Ahli Urologi Indonesia (2018) menetapkan keluhan tersebut sebagai nyeri pinggang akut yang timbul akibat sumbatan akut pada saluran ureter oleh batu, yang memicu hidronefrosis akut dan peregangan kapsul ginjal. (IAUI, 2018)

Purnomo (2019) mendeskripsikan sindrom ini sebagai nyeri yang berasal dari organ ginjal akibat spasme otot polos transisional ureter dalam usaha mengalirkan urine yang terhambat oleh batu atau bekuan darah. (Purnomo, 2019)

Sjamsuhidajat & De Jong (2017) menjelaskan istilah ini sebagai rasa sakit yang sangat hebat, bersifat hilang timbul, menyerang area pinggang hingga lipat paha akibat regangan dinding ureter yang tersumbat benda asing. (Sjamsuhidajat & De Jong, 2017)

Suharyanto & Madjid (2018) mengategorikan gangguan tersebut sebagai nyeri visceral hebat pada area sudut kostovertebra akibat gangguan mekanis aliran urine yang memicu tekanan balik tinggi ke parenkim ginjal. (Suharyanto & Madjid, 2018)

Muttaqin & Sari (2021) mengartikan gejala ini sebagai manifestasi klinis utama dari urolitiasis yang mengakibatkan iskemia lokal pada dinding ureter dan merangsang nosiseptor afferen serabut saraf simpatis. (Muttaqin & Sari, 2021)

2. Etiologi Obstruksi Aliran Kolik Renal

Oleh karena itu, penyumbatan akut pada saluran kemih menjadi penyebab utama munculnya sindrom ini.

Selanjutnya, beberapa faktor pemicu mekanis di bawah ini meliputi:

  • Urolitiasis: Penyebab utama (>90% kasus), berupa batu kalsium oksalat, asam urat, struvit, atau sistin.
  • Bekuan Darah: Hematuria berat akibat trauma atau tumor ginjal yang membentuk sumbatan lumen.
  • Sloughed Renal Papillae: Pelepasan jaringan papila ginjal pada pasien diabetes melitus atau nekrosis papiler.
  • Striktur Ureter: Penyempitan lumen akibat jaringan parut pasca-infeksi atau tindakan bedah urologi.
  • Kompresi Ekstrinsik: Penekanan saluran dari luar oleh tumor retroperitoneal maupun keganasan ginekologi. (IAUI, 2018, Campbell-Walsh-Wein Urology, 2020)

3. Patofisiologi Obstruksi Akut Kolik Renal

Sebagai konsekuensinya, proses pembentukan batu (nukleasi, pertumbuhan, dan agregasi kristal) diinduksi oleh supersaturasi urine. Ketika batu tersebut terlepas dan bermigrasi ke dalam lumen ureter yang sempit, maka terjadilah obstruksi akut.

Akibatnya, terjadi peningkatan tekanan hidrostatik intrarenal secara mendadak di bagian proksimal sumbatan. Kondisi tersebut memicu peregangan dinding ureter dan kapsul ginjal, yang selanjutnya mengaktifkan sintesis prostaglandin (terutama PGE2). Prostaglandin menyebabkan vasodilatasi arteriol aferen ginjal, meningkatkan laju filtrasi glomerulus, dan memperparah tekanan hidronefrosis. Peregangan mekanis ini menstimulasi nosiseptor serabut saraf sensorik A-delta dan C (T11-L2), yang menghantarkan sinyal nyeri hebat menuju sistem saraf pusat. Spasme otot polos ureter terjadi sebagai upaya peristaltik untuk mendorong batu, yang memperhebat iskemia lokal dan sensasi nyeri. (EAU, 2023, Purnomo, 2019)

Bagan Alur KDM

Faktor Risiko (Dehidrasi, Diet, Genetik, Gangguan Metabolik)

                         │

         Supersaturasi Zat Terlarut dalam Urine

                         │

             Presipitasi & Nukleasi Kristal

                         │

               Pembentukan Batu Ginjal

                         │

             Batu Turun & Menyumbat Ureter

                         │

             ┌───────────┴─────────────────────────┐

             ▼                                     ▼

      Obstruksi Ureter                     Gesekan Batu pada Dinding Ureter

             │                                     │

Tekanan Hidrostatik Proksimal ↑              Iritasi Mukosa & Cedera Vaskular

             │                                     │

Distensi Saluran Kemih & Pelvikalises              ▼

             │                              **Hematuria**

Peregangan Kapsul Ginjal                           │

             │                                     ▼

  Pelepasan Prostaglandin &                    [D.0012] Risiko Hipovolemia

  Spasme Otot Polos Ureter

             │

             ├─────────────────────────────────────┐

             ▼                                     ▼

Merangsang Serabut Saraf Simpatis (T11-L2)   Impuls ke Pusat Muntah (Medula)

             │                                     │

             ▼                                     ▼

    Nyeri Hebat (Kolik)                      Mual & Muntah

             │                                     │

             ├──────────────────────┐              ▼

             ▼                      ▼       [D.0076] Nausea

    [D.0077] Nyeri Akut      Anoreksia             │

                            (Asupan ↓)             ▼

                                    │       [D.0019] Defisit Nutrisi

                                    └──────────────┘

4. Manifestasi Klinis Kolik Renal

a. Data Subjektif

  • Pasien mengeluh nyeri pinggang hebat mendadak, bersifat tajam, dan hilang timbul.
  • Pasien melaporkan penjalaran nyeri dari area kostovertebra menuju ke perut bagian bawah, lipat paha, hingga ke genitalia luar.
  • Pasien mengeluhkan mual dan muntah yang menyertai serangan nyeri.
  • Pasien menyatakan rasa ingin berkemih yang sering, nyeri saat berkemih, atau rasa tidak puas setelah berkemih. (AUA, 2019, Muttaqin & Sari, 2021)

b. Data Objektif

  • Pasien tampak meringis, gelisah, dan tidak dapat menemukan posisi yang nyaman.
  • Diaphoresis (keringat dingin berlebih pada kulit).
  • Peningkatan tanda-tanda vital: Takikardia (denyut nadi > 100 x/menit) dan Hipertensi akibat respons stres tubuh.
  • Adanya nyeri tekan atau nyeri ketok pada sudut kostovertebra yang sakit.
  • Urine tampak keruh atau kemerahan (gross hematuria). (Campbell-Walsh-Wein Urology, 2020, Suharyanto & Madjid, 2018)

5. Pemeriksaan Penunjang Kolik Renal

a. Pemeriksaan Laboratorium

  • Urinalisis Makroskopis dan Mikroskopis: Menilai adanya hematuria mikroskopis (sel darah merah > 3/lpb), piuria, dan kristaluria.
  • Kadar Kreatinin dan Ureum Darah: Mengevaluasi fungsi filtrasi ginjal akibat dampak obstruksi akut.
  • Darah Lengkap: Menilai kadar leukosit untuk mendeteksi tanda-tanda infeksi sekunder atau urosepsis. (IAUI, 2018, EAU, 2023)

b. Pemeriksaan Radiologi

  • Non-Contrast Computed Tomography (NCCT) Abdomen-Pelvis: Merupakan gold standard dengan sensitivitas (95-100%) untuk mengidentifikasi ukuran dan lokasi batu.
  • Ultrasonografi (USG) Ginjal: Menjadi pilihan utama pada wanita hamil; efektif menilai tingkat hidronefrosis.
  • Foto Polos Abdomen (BNO): Mengidentifikasi batu radioopak dan memantau migrasi batu saluran kemih. (AUA, 2019, Campbell-Walsh-Wein Urology, 2020)

c. Pemeriksaan Lain

  • Analisis Batu: Memakai metode X-ray diffraction pasca-batu keluar untuk menentukan komposisi kimia spesifik guna pencegahan rekurensi. (EAU, 2023)

6. Penatalaksanaan Medis Kolik Renal

a. Terapi Farmakologis

  • Analgesik (Lini Pertama): Obat Anti-Inflamasi Non-Steroid (OAINS) seperti Ketorolac (30 mg IV) atau Natrium Diklofenak (75 mg IM).
  • Analgesik Opioid: Morfin (2-5 mg IV) digunakan apabila OAINS dikontraindikasikan atau gagal meredakan nyeri hebat.
  • Medical Expulsive Therapy (MET): Alfa-blocker seperti Tamsulosin (0,4 mg per oral) untuk merelaksasi otot polos ureter distal.
  • Antiemetik: Metoklopramid (10 mg IV) atau Ondansetron (4 mg IV) untuk mengatasi mual-muntah akut. (EAU, 2023, IAUI, 2018)

b. Terapi Non-Farmakologis

  • Hidrasi Adekuat: Mempertahankan asupan cairan seimbang (tidak berlebihan pada fase akut guna mencegah peningkatan tekanan intrarenal).
  • Aplikasi Panas Lokal: Kompres hangat pada area pinggang yang sakit untuk meredakan spasme otot polos ureter.
  • Tindakan Bedah Minimal Invasif: Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL), Ureteroscopy (URS), atau pemasangan Dj Stent untuk dekompresi darurat. (AUA, 2019, Campbell-Walsh-Wein Urology, 2020)

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Keperawatan

a. Identitas Dan Riwayat Pasien

Oleh karena itu, perawat perlu mengumpulkan data demografi pasien yang meliputi nama, umur (sering pada usia produktif 20-50 tahun), jenis kelamin (lebih dominan pada laki-laki), dan pekerjaan.

Selanjutnya, pengkajian riwayat kesehatan dilakukan secara komprehensif:

  • Keluhan Utama: Nyeri hebat mendadak pada pinggang menjalar ke perut bawah atau selangkangan.
  • Riwayat Kesehatan Sekarang: Menggali karakteristik nyeri dengan metode PQRST. Riwayat mual, muntah, serta gangguan eliminasi urine.
  • Riwayat Kesehatan Dahulu: Riwayat menderita urolitiasis sebelumnya, gout, hiperparatiroidisme, atau ISK berulang.
  • Riwayat Kesehatan Keluarga: Adanya anggota keluarga kandung yang memiliki riwayat penyakit serupa. (Suharyanto & Madjid, 2018, Purnomo, 2019)

b. Pemeriksaan Fisik Sistemik

Dengan demikian, perawat melakukan pemeriksaan head-to-toe dengan fokus utama pada sistem perkemihan yang terganggu:

  • Sistem Perkemihan (Fokus): Inspeksi menunjukkan tidak ada massa flank, namun ada distensi suprapubik jika retensi urine terjadi. Palpasi menunjukkan nyeri tekan pada flank sisi yang sakit. Perkusi menunjukkan nyeri ketok sudut kostovertebra positif (CVAT (+)). Auskultasi arteri renalis normal.
  • Sistem Pencernaan: Inspeksi abdomen datar, palpasi supel dengan nyeri tekan alih, perkusi timpani, auskultasi bising usus hipoaktif akibat refleks ileus paralitik sekunder.
  • Sistem Kardiovaskular: Inspeksi iktus kordis tak tampak, palpasi iktus kordis teraba di ICS V, perkusi batas jantung normal, auskultasi bunyi jantung I-II tunggal, nadi meningkat (takikardia).
  • Sistem Pernapasan: Inspeksi dada simetris, takipnea akibat nyeri, palpasi taktil fremitus normal, perkusi sonor, auskultasi suara napas vesikuler tanpa ronkhi.
  • Sistem Integumen: Inspeksi kulit pucat, diaphoresis (teraba basah dan dingin karena respon neurogenik). (Muttaqin & Sari, 2021, Suharyanto & Madjid, 2018)

c. Pola Fungsi Kesehatan

  • Pola Eliminasi: Terjadi penurunan frekuensi miksi, disuria, anuria/oliguria, atau gross hematuria.
  • Pola Nutrisi: Penurunan nafsu makan (anoreksia), mual, dan muntah berulang menyebabkan penurunan intake nutrisi.
  • Pola Aktivitas: Aktivitas harian terganggu total karena keterbatasan posisi akibat nyeri pinggang yang melilit.
  • Pola Istirahat: Gangguan pola tidur berat karena serangan nyeri yang timbul mendadak. (Suharyanto & Madjid, 2018)

2. Diagnosis Keperawatan Sesuai Prioritas

Secara umum, perumusan diagnosis keperawatan merujuk pada buku panduan SDKI PPNI (2017). Berikut adalah daftar diagnosis keperawatan yang ditemukan pada pasien dengan kondisi ini, disusun berdasarkan tingkat kegawatdaruratan dan prioritas masalah:

3. Perencanaan Intervensi Keperawatan

Rencana Tindakan Diagnosis 1-3

  • Nyeri Akut (D.0077)
    • Luaran Utama: Tingkat Nyeri (L.08066) – Keluhan nyeri menurun, meringis menurun, gelisah menurun, nadi membaik.
    • Intervensi: Manajemen Nyeri (I.08238)
      • Observasi: Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, dan skala nyeri.
      • Terapeutik: Berikan teknik nonfarmakologis kompres hangat pada pinggang; fasilitasi istirahat tidur.
      • Edukasi: Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri.
      • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian analgesik OAINS (Ketorolac 30 mg IV).
  • Nausea (D.0076)
    • Luaran Utama: Tingkat Nausea (L.08065) – Perasaan mual menurun, frekuensi muntah menurun, nafsu makan meningkat.
    • Intervensi: Manajemen Mual (I.03117)
      • Observasi: Monitor asupan nutrisi, cairan, dan frekuensi muntah.
      • Terapeutik: Kendalikan faktor lingkungan penyebab mual; berikan makanan dalam porsi kecil tapi sering.
      • Edukasi: Anjurkan istirahat dan tidur yang cukup.
      • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian antiemetik (Ondansetron 4 mg IV).
  • Gangguan Eliminasi Urine (D.0040)
    • Luaran Utama: Eliminasi Urine (L.04034) – Sensasi berkemih meningkat, urgensi menurun, hematuria menurun.
    • Intervensi: Manajemen Eliminasi Urine (I.04148)
      • Observasi: Monitor eliminasi urine meliputi frekuensi, konsistensi, aroma, volume, dan warna.
      • Terapeutik: Catat waktu-waktu dan haluaran berkemih.
      • Edukasi: Ajarkan tanda dan gejala infeksi saluran kemih.
      • Kolaborasi: Kolaborasi dengan tim urologi untuk pemantauan radiologis pasase batu.

Rencana Tindakan Diagnosis 4-6

  • Retensi Urine (D.0050)
    • Luaran Utama: Eliminasi Urine (L.04034) – Volume residu urine menurun, distensi kandung kemih menurun.
    • Intervensi: Kateterisasi Urine (I.04153)
      • Observasi: Periksa kondisi pasien (distensi kandung kemih, TTV).
      • Terapeutik: Siapkan peralatan kateter steril; pasang kateter urine dengan teknik aseptik.
      • Edukasi: Jelaskan tujuan dan prosedur pemasangan kateter.
  • Defisit Nutrisi (D.0019)
    • Luaran Utama: Status Nutrisi (L.03030) – Porsi makanan dihabiskan meningkat, IMT membaik.
    • Intervensi: Manajemen Nutrisi (I.03119)
      • Observasi: Identifikasi status nutrisi dan monitor asupan makanan.
      • Terapeutik: Sajikan makanan secara menarik dan pada suhu hangat.
      • Edukasi: Ajarkan diet yang diprogramkan (rendah oksalat/purin).
      • Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi untuk penentuan kalori.
  • Risiko Hipovolemia (D.0012)
    • Luaran Utama: Status Cairan (L.03028) – Turgor kulit membaik, membran mukosa lembap, balans cairan seimbang.
    • Intervensi: Manajemen Cairan (I.03098)
      • Observasi: Monitor status hidrasi (nadi, turgor kulit, kelembapan mukosa) dan balance cairan 24 jam.
      • Terapeutik: Berikan asupan cairan intravena sesuai program medis.
      • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian cairan infus kristaloid (NaCl 0.9%).

Rencana Tindakan Diagnosis 7-10

  • Gangguan Pola Tidur (D.0055)
    • Luaran Utama: Pola Tidur (L.05045) – Keluhan kurang tidur menurun, keluhan tidak segar menurun.
    • Intervensi: Dukungan Tidur (I.05174)
      • Observasi: Identifikasi faktor pengganggu tidur (nyeri, kecemasan).
      • Terapeutik: Modifikasi lingkungan yang nyaman (pencahayaan minimal, kurangi kebisingan).
      • Edukasi: Jelaskan pentingnya tidur adekuat selama fase sakit.
  • Ansietas (D.0080)
    • Luaran Utama: Tingkat Ansietas (L.09093) – Perilaku gelisah menurun, verbalisasi khawatir menurun.
    • Intervensi: Reduksi Ansietas (I.09314)
      • Observasi: Monitor tanda-tanda ansietas verbal dan nonverbal.
      • Terapeutik: Ciptakan suasana terapeutik; dengarkan keluhan dengan penuh perhatian.
      • Edukasi: Informasikan secara faktual mengenai diagnosis dan pengobatan.
  • Intoleransi Aktivitas (D.0056)
    • Luaran Utama: Toleransi Aktivitas (L.05047) – Kemampuan melakukan aktivitas rutin meningkat, lelah menurun.
    • Intervensi: Manajemen Energi (I.05178)
      • Observasi: Monitor kelelahan fisik dan emosional.
      • Terapeutik: Sediakan lingkungan nyaman; fasilitasi aktivitas bertahap.
      • Edukasi: Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap sesuai kemampuan.
  • Defisit Pengetahuan (D.0111)
    • Luaran Utama: Tingkat Pengetahuan (L.12111) – Perilaku sesuai anjuran meningkat, pertanyaan menurun.
    • Intervensi: Edukasi Kesehatan (I.12383)
      • Observasi: Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi.
      • Terapeutik: Sediakan materi edukasi pencegahan batu (leaflet hidrasi).
      • Edukasi: Jelaskan faktor risiko (konsumsi air putih > 2.5 L/hari, kurangi garam). (PPNI, 2018a, PPNI, 2018b)

4. Implementasi

Oleh karena itu, implementasi keperawatan melaksanakan serangkaian tindakan nyata yang telah disusun secara terperinci dalam rencana intervensi.

Selanjutnya, kegiatan ini mencakup tindakan mandiri perawat maupun tindakan kolaboratif dengan tim medis:

  • Melakukan pengkajian nyeri komprehensif dan memantau skala nyeri secara berkala.
  • Memberikan kompres hangat pada area sudut kostovertebra untuk mengurangi spasme otot.
  • Mengatur posisi pasien dan memodifikasi lingkungan ruang rawat guna mendukung eliminasi.
  • Memberikan obat analgesik golongan OAINS dan antiemetik melalui jalur intravena sesuai kolaborasi.
  • Memasang kateter urine dengan teknik steril untuk mengatasi retensi urine akut.
  • Melakukan edukasi mengenai pentingnya pembatasan diet tinggi garam serta pemenuhan hidrasi cairan. (Muttaqin & Sari, 2021)

5. Evaluasi Hasil Tindakan

Sesuai dengan rencana, evaluasi keperawatan menilai efektivitas intervensi dengan membandingkan perkembangan kondisi objektif dan subjektif pasien menggunakan format SOAP:

  • S (Subjektif): Pasien melaporkan keluhan nyeri pinggang berkurang drastis dan rasa mual hilang.
  • O (Objektif): Wajah pasien tampak rileks, TTV dalam batas normal, CVAT negatif, urine jernih tanpa hematuria.
  • A (Analisis): Masalah keperawatan seperti Nyeri Akut, Nausea, dan Retensi Urine teratasi sepenuhnya.
  • P (Perencanaan): Hentikan intervensi di rumah sakit, siapkan instruksi pemulangan, dan edukasi hidrasi mandiri. (PPNI, 2018a, Muttaqin & Sari, 2021)

DAFTAR PUSTAKA

American Urological Association. (2019). Surgical Management of Stones Guideline. urologyhealth.org/guidelines/stone-disease-surgical-management

Asian Journal of Urology. (2021). Epidemiology of renal colic in Asian populations. Ajur, 8(2), 15-22. doi.org/10.1016/j.ajur.2021.05.003

Campbell-Walsh-Wein Urology. (2020). Campbell-Walsh-Wein Urology (12th ed.). Elsevier.

Chinese Medical Association. (2022). Guidelines for the management of acute renal colic in China. ChinMedJ, 135(4), 410-418. medjournal.cma.org.cn/details/guideline14256

European Association of Urology. (2023). EAU Guidelines on Urolithiasis. uroweb.org/guidelines/urolithiasis

Ikatan Ahli Urologi Indonesia. (2018). Panduan Penatalaksanaan Klinis Urolitiasis. iaui.or.id/guidelines/urolitiasis2018

Indian Journal of Urology. (2019). Medical management of renal colic: An Indian perspective. IndJUrol, 35(1), 24-31. indianjurol.com/article.asp?issn=0970-1591;year=2019

Japanese Urological Association. (2020). Clinical practice guidelines for urolithiasis. JpnJUrol, 111(2), 88-95. jstage.jst.go.jp/article/juaj/111/2

Korean Urological Association. (2021). Emergency department management of acute renal colic in South Korea. KoreanJUrol, 62(3), 201-209. icurology.org/DOIx.php?id=10.4111/kju.2021.62.3

Muttaqin, A., & Sari, K. (2021). Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Perkemihan. Salemba Medika.

Oxford Handbook of Urology. (2019). Oxford Handbook of Urology (4th ed.). Oxford University Press.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI). DPP PPNI.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2018a). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI). DPP PPNI.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2018b). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI). DPP PPNI.

Purnomo, B. B. (2019). Dasar-Dasar Urologi (4th ed.). Sagung Seto.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *